Panas memantul dari beton sampai udara di atas jalan tampak bergetar. Tidak ada pohon yang cukup besar untuk memberi keteduhan. Yang tersisa di antara bangunan hanyalah semak kering, batang besi berkarat, dan rumput pucat yang tumbuh dari retakan aspal. Angin membawa debu halus melewati jalan, lalu membiarkannya menempel pada kulit yang basah oleh keringat.
Aiden Pierce bergerak di sisi kiri jalan dengan tubuh sedikit membungkuk. Rambut cokelatnya dipotong pendek, tetapi bagian depan sudah lengket pada dahi. Ia berjalan dekat dengan dinding agar tidak terlalu lama berada di tempat terbuka. Setiap beberapa langkah, matanya berpindah dari jendela pecah di lantai atas menuju pintu toko yang menganga, kemudian ke atap bangunan di seberang jalan.
Ia baru berusia sepuluh tahun, tetapi sudah tahu bahwa ancaman tidak selalu datang dengan suara. Orang yang sedang menunggu mangsa tidak akan berdiri di tengah jalan. Mereka memilih jendela gelap, tangga darurat, atau celah sempit di antara bangunan. Kadang yang terlihat lebih dahulu hanya ujung laras senapan. Kadang hanya bayangan yang bergerak ketika seharusnya tidak ada apa pun di sana.
Tas selempang tergantung rapat pada dada Aiden. Tas itu dibuat dari potongan kanvas tua dengan tali bekas sabuk pengaman yang sudah berbulu di bagian tepinya. Isinya terasa semakin berat sejak mereka meninggalkan bangunan terakhir. Ada gulungan kawat tembaga, sebuah kotak logam berisi jarum jahit, dua gagang pintu kuningan, beberapa baut yang belum terlalu berkarat, dan tiga baterai kecil yang belum mereka ketahui masih memiliki daya atau tidak.
Benda-benda itu beradu pelan setiap kali Aiden melangkah. Bunyi kecilnya membuat rahangnya mengeras. Ia merapatkan tas dengan lengan kiri, menahan bagian bawahnya agar tidak bergerak, lalu mempercepat langkah menuju bayangan sebuah toko yang bagian depannya telah runtuh.
Robin McNamara mengikuti beberapa langkah di belakang. Rambut pirangnya diikat di tengkuk dengan sepotong kain biru. Debu menempel sampai ke akar rambut dan membuat warnanya terlihat kusam. Wajahnya memerah oleh panas. Ia berjalan sambil sesekali mengangkat kaki kiri lebih tinggi karena bagian depan sepatunya telah terbuka. Solnya hanya bertahan berkat dua lilitan tali tipis yang diikat Aiden pagi tadi.
Mereka bukan saudara. Tidak ada hubungan darah di antara mereka, tetapi hampir semua ingatan Aiden tentang Haven selalu menyertakan Robin. Mereka pernah berbagi tempat tidur ketika salah satu atap tempat tinggal bocor. Mereka belajar membaca dari buku yang sama, mengantre makanan bersama, dan menjalani hukuman membersihkan kandang karena pernah melepaskan tiga ekor ayam. Di tempat seperti Haven, tumbuh bersama sering kali sudah cukup untuk membuat seseorang terasa seperti keluarga.
“Aku sudah bilang ini ide buruk.”
Suara Robin terdengar lebih keras daripada yang diinginkan Aiden. Ia menoleh cepat dan mengangkat satu jari ke bibir. Robin membalas tatapannya dengan alis berkerut, tetapi menurunkan suara saat melanjutkan.
“Anak-anak dilarang keluar dari Haven tanpa orang tua. Itu bukan aturan yang bisa kau pura-pura lupa hanya karena kau sedang menginginkan sesuatu.”
“Jangan bicara keras.” Aiden kembali mengawasi jalan di depan. “Kita sudah selesai mencari. Sekarang kita hanya perlu pulang.”
“Kau mengatakan hal yang sama dua bangunan lalu.”
“Karena kau terus berhenti.”
“Sepatuku rusak.”
Aiden melirik kaki kiri Robin. Tali yang membungkus sol masih terpasang, meskipun ujungnya mulai longgar dan menyeret debu. Ia memalingkan wajah sebelum Robin melihatnya terlalu lama memperhatikan.
“Karavan datang besok,” katanya. “Kalau baterai ini masih bagus, kita bisa menukarnya. Kalau tidak, kawat dan jarum jahit pasti tetap ada harganya.”
“Aku memang ingin sepatu baru.” Robin mengusap keringat di bawah hidung dengan punggung tangan. “Aku hanya tidak ingin mati sebelum sempat memakainya.”
“Kita tidak akan mati.”
Cara Aiden mengatakannya terdengar lebih yakin daripada yang ia rasakan. Ia tidak tahu siapa yang sedang berpatroli di luar tembok siang itu. Ia juga tidak tahu apakah para pencari barang dari permukiman lain telah memasuki bagian kota tersebut. Namun tas di dadanya sudah penuh, Haven tidak terlalu jauh, dan berbalik menuju tempat persembunyian lain hanya akan membuat mereka pulang semakin sore.
Robin kembali melihat ke belakang. Jalan yang baru mereka lewati kosong, tetapi itu tidak membuat langkahnya lebih tenang.
“Dad akan menghukumku kalau tahu.”
“Kalau begitu jangan sampai dia tahu.”
Robin mengeluarkan bunyi pendek dari hidung. “Kita hampir tertangkap ketika keluar tadi pagi. Kau menjatuhkan batu tepat di dekat kaki penjaga.”
“Itu karena kau menarik bajuku.”
“Aku menarik bajumu karena ada penjaga.”
Aiden mengembuskan napas melalui hidung dan terus berjalan. Panas membuat bagian dalam mulutnya kering. Air di dalam botol mereka tinggal sedikit, tetapi ia belum ingin berhenti. Semakin lama mereka berada di luar, semakin besar kemungkinan seseorang melihat mereka.
Mereka melewati bangkai kendaraan yang telah kehilangan ban, pintu, dan sebagian besar rangka mesinnya. Cat biru masih terlihat pada bagian atap yang tidak terbakar matahari. Aiden mendekati kendaraan itu perlahan, menunduk untuk melihat melalui jendela yang kosong, lalu bergerak setelah memastikan tidak ada orang bersembunyi di baliknya.
Robin menyusul sambil menekan tas kain kecil yang dibawanya ke dada. Isinya tidak sebanyak barang milik Aiden. Ia hanya menemukan dua gulung benang, sebuah sisir dengan beberapa gigi patah, dan potongan kain bersih yang dapat dipakai untuk menambal pakaian. Namun sejak mereka meninggalkan bangunan, Robin memperlakukan tas itu seperti sesuatu yang sangat berharga.
“Siang hari pasti lebih banyak patroli,” katanya.
Aiden tidak menjawab. Ia sedang melihat ujung jalan yang berbelok di antara dua bangunan tinggi. Dinding bangunan sebelah kanan dipenuhi lubang hitam bekas jendela. Sebagian lantainya telah ambruk dan menggantung di balik rangka beton. Di sisi kiri berdiri bekas gedung parkir dengan jalur naik yang terputus di lantai ketiga.
Tidak ada gerakan.
Seekor burung kecil hinggap di tiang lampu, menundukkan kepala, lalu terbang menuju atap. Aiden mengikuti arah terbangnya sampai burung itu menghilang. Setelah itu ia melangkah lagi.
“Robin.”
“Aku tahu. Jangan bicara. Jangan berhenti. Jangan mengaturmu.” Robin berjalan lebih cepat untuk mendekat. “Kau boleh mengatakan semua itu kepadaku, tetapi aku tidak boleh mengingatkan bahwa kita sedang melanggar aturan.”
“Robin.”
“Aku juga tahu jalan pulang. Kau tidak perlu berjalan di depan terus.”
Aiden berhenti.
Robin tidak sempat menahan langkah. Dahinya membentur bagian belakang bahu Aiden, membuat tas selempang itu bergeser dan gagang kuningan di dalamnya berdenting. Aiden menangkap bagian bawah tas sebelum bunyinya menjadi lebih keras.
Robin mengusap dahinya. Mulutnya sudah terbuka untuk mengeluh ketika Aiden menoleh dan menatapnya.
“Diam,” bisiknya.
Sesuatu pada wajah Aiden membuat Robin menutup mulut. Ia bergerak mendekat sampai bahunya hampir menyentuh lengan Aiden.
Di sebelah kanan mereka terdapat lorong sempit yang memisahkan dua bangunan. Matahari hanya mencapai bagian depan lorong. Lebih jauh ke dalam, cahaya tertahan oleh lantai beton yang miring dari bangunan sebelah kiri. Tumpukan pipa, lemari logam, dan pecahan dinding memenuhi sebagian jalan. Ujung lorong tidak terlihat dari tempat mereka berdiri.
Aiden mengamati jendela di atasnya lebih dahulu. Semua gelap. Beberapa masih memiliki tirai yang kaku oleh debu. Ia menurunkan pandangan menuju lorong, menunggu matanya menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya.
“Aiden?” Suara Robin hanya sedikit lebih keras daripada napas.
Aiden mengangkat tangan tanpa melihatnya. Keringat mengalir dari pelipis menuju rahang. Ia dapat mendengar napas Robin di dekat bahunya, cepat dan dangkal. Di tempat lain, sepotong seng bergerak diterpa angin dan menimbulkan bunyi ketukan malas.
Lalu terdengar gesekan dari dalam lorong.
Sreek.
Bunyinya tidak keras. Sesuatu menyeret di atas beton, berhenti, kemudian bergerak lagi.
Sreek.
Aiden menahan napas. Ia mencoba menentukan jaraknya, tetapi dinding di kedua sisi lorong memantulkan suara dan membuatnya datang dari beberapa arah. Tangannya turun menuju tanah. Jari-jarinya menemukan pecahan beton sebesar kepalan tangan. Ia mengangkatnya perlahan, merasakan permukaan kasar menekan telapak.
Robin meraih tangan kirinya.
Pegangannya begitu kuat sampai kuku Robin menekan kulit. Aiden ingin menyuruhnya mundur, tetapi lidahnya terasa tebal di dalam mulut. Ia tidak tahu apa yang ada di lorong. Bisa saja seseorang sedang menarik karung. Bisa juga seekor hewan menyeret bangkai. Bagian paling gelap di antara pipa dan lemari logam terlihat cukup besar untuk menyembunyikan orang dewasa.
“Aiden...” Robin menelan ludah. “Aku takut.”
“Jangan bergerak.”
Gesekan itu kembali terdengar.
Sreek.
Sreek.
Kali ini lebih dekat.
Aiden mengangkat pecahan beton sampai sejajar dengan dada. Siku kanannya gemetar. Ia mengencangkan genggaman, tetapi pasir dari benda itu rontok di antara jarinya. Robin menempel pada lengannya. Aiden dapat merasakan tarikan kecil dari tubuh Robin setiap kali ia bernapas.
Sebuah bayangan bergerak di balik lemari logam.
Robin menarik tangan Aiden dan hampir membuat batu itu terlepas. Aiden menahan tubuhnya, menanam kedua kaki di atas aspal, lalu menatap lorong tanpa berkedip. Dari bagian gelap muncul kepala kurus dengan telinga tegak. Hidung hitam bergerak mengendus udara.
Seekor anjing keluar menuju cahaya.
Tubuhnya tinggi tetapi sangat kurus. Tulang rusuk terlihat di balik bulu cokelat kotor. Salah satu telinganya robek di ujung. Sebuah kalung masih terpasang di lehernya dengan rantai pendek yang menyeret beton setiap kali kaki depannya bergerak.
Sreek.
Anjing itu berhenti beberapa meter dari mereka. Mulutnya terbuka dan lidah merah menggantung di antara gigi. Tidak ada geraman. Hewan itu hanya memandang Aiden, lalu Robin, seolah sedang memutuskan apakah mereka membawa makanan.
Aiden tetap mengangkat batu. Bahunya mulai sakit, tetapi ia tidak berani menurunkannya.
Anjing itu mengendus sekali lagi. Setelah tidak menemukan sesuatu yang menarik, kepalanya beralih ke jalan. Ia berjalan melewati mereka dengan langkah lesu. Ujung rantai menggores aspal, menghasilkan bunyi yang sejak tadi membuat dada Aiden terasa sempit. Hewan itu tidak menoleh lagi. Ia menyeberangi jalan, masuk melalui pintu sebuah rumah, lalu menghilang.
Robin melepaskan tangan Aiden. Bekas kuku tertinggal pucat pada kulitnya.
“Sial.” Ia menekan telapak pada dada. “Jantungku hampir copot.”
Aiden menurunkan pecahan beton. Lengannya terasa lemah mendadak. Ia melemparkan benda itu ke tanah tanpa tenaga, lalu merapatkan tas selempangnya untuk menyembunyikan tangan yang masih bergetar.
“Aku tahu itu cuma anjing,” katanya.
Robin memandang tangannya, kemudian batu di tanah. “Tentu saja.”
Aiden tidak membalas. Ia memeriksa lorong sekali lagi sebelum melanjutkan perjalanan. Kali ini Robin tidak mengeluh ketika ia berjalan di depan.
Mereka bergerak lebih cepat setelah kejadian itu. Jarak di antara mereka menyusut sampai Robin hampir menginjak tumit Aiden. Setiap bunyi dari bangunan membuat kepala mereka menoleh. Retakan kayu, jatuhnya batu kecil, dan kepakan burung terdengar lebih besar dalam panas yang sepi.
Jalan mulai menurun setelah mereka melewati sebuah persimpangan yang tertutup kendaraan terbakar. Dari sana, dua jalur jalan layang terlihat membelah kawasan di kejauhan. Pilar-pilar betonnya berdiri tebal dan kusam, sebagian dibalut tanaman rambat. Potongan pagar pengaman masih menempel di atas meskipun permukaan jalannya telah retak dan tidak pernah lagi dilewati kendaraan.
Haven berada di bawah kedua jalan layang itu.
Atap seng dan kain peneduh memenuhi ruang di antara pilar. Asap tipis keluar dari pipa dapur lalu tertahan di bawah beton sebelum terbawa angin. Pada bagian yang tidak tertutup jalan layang, petak tanah dibagi menjadi lahan tanam. Barisan jagung, kacang, dan sayuran tumbuh di bawah matahari. Kandang kambing berdiri dekat sisi timur, sedangkan kandang ayam dibuat lebih dekat dengan dinding agar mudah diawasi.
Dinding seng mengelilingi seluruh komunitas. Tingginya hampir tiga kali tubuh orang dewasa dan disusun dari lembaran dengan warna berbeda. Ada bagian yang masih menunjukkan cat putih, biru, atau merah dari bangunan lama. Bagian lain telah berubah cokelat oleh karat. Tiang kayu dan rangka kendaraan digunakan untuk menopangnya dari dalam.
Aiden dapat melihat dua penjaga di atas menara dekat gerbang utama. Seorang berdiri menghadap jalan masuk. Yang lain berada di bawah kain peneduh dengan senapan melintang di pangkuan. Tidak ada karavan di luar gerbang. Tanah lapang yang akan digunakan para pedagang besok masih kosong.
Robin mempercepat langkah ketika melihat Haven. Wajahnya belum kehilangan tegang, tetapi napasnya mulai teratur. Aiden juga merasakan sebagian beban di dadanya terangkat. Mereka hanya perlu mencapai celah tanpa terlihat. Setelah itu mereka dapat menyembunyikan barang, membersihkan debu dari pakaian, dan kembali ke tempat tugas sebelum seseorang memeriksa.
Mereka tidak mendekati gerbang.
Aiden membawa Robin memutar melalui parit kering yang dipenuhi rumput liar dan potongan kawat. Dinding seng menutup pandangan para penjaga. Di dekat pilar jalan layang paling selatan, beberapa bongkah beton ditumpuk di depan selembar seng yang bagian bawahnya terangkat. Semak berduri tumbuh di sekelilingnya dan membuat celah itu sulit terlihat dari kejauhan.
Itulah jalan yang mereka gunakan pagi tadi.
Aiden berlutut di belakang bongkah beton. Lututnya menekan tanah panas. Ia menarik salah satu cabang berduri ke samping, lalu meraba bagian bawah seng sampai menemukan potongan kayu yang mereka selipkan untuk menahannya tetap terangkat.
“Berikan tasmu,” bisiknya.
Robin menyerahkan tas kain miliknya. Aiden mendorong kedua tas melalui celah lebih dahulu, kemudian menahan lembaran seng dengan punggung. Tepi logam menekan kaus dan terasa panas sampai ke kulit.
Robin berbaring tengkurap lalu merangkak masuk. Debu menempel pada siku dan bagian depan pakaiannya. Sepatu kirinya tersangkut akar. Ia menarik kaki terlalu keras dan ikatan pada sol terlepas.
Robin menahan umpatan, mengambil tali yang jatuh, lalu melanjutkan sampai tubuhnya menghilang di balik dinding.
Aiden memeriksa parit sekali lagi. Tidak ada orang yang datang. Ia menurunkan tubuh, memasukkan kepala lebih dahulu, lalu menyeret dirinya melalui celah. Tas selempangnya menunggu di sisi dalam. Ia meraihnya, menarik kedua lutut, dan berdiri sambil menepuk debu dari pakaian.
Robin berdiri beberapa langkah di depannya.
Ia tidak mengambil tas. Ia juga tidak sedang memperbaiki sepatu. Tubuhnya kaku dengan kedua lengan rapat di sisi pinggang.
Aiden mengikuti arah pandangannya.
Seorang pria berdiri di antara mereka dan deretan tempat tinggal. Tubuhnya tinggi dan kekar, dengan bahu lebar yang memenuhi jalan sempit di bawah jembatan. Rambut pirangnya dipotong pendek. Lengan kemeja digulung sampai siku, memperlihatkan kulit yang memerah oleh matahari dan otot yang menegang ketika kedua tangannya mengepal.
Ewan McNamara tidak bergerak. Wajahnya tidak menunjukkan kelegaan ketika melihat Robin selamat. Rahangnya rapat. Matanya turun ke sepatu Robin yang rusak, beralih pada debu di pakaian mereka, lalu berhenti pada tas penuh di dekat kaki Aiden.
Mulut Aiden mengering.
Robin menarik napas kecil. “Dad... aku bisa menjelaskan.”
Ewan memandang keduanya beberapa saat sebelum berbicara. Suaranya rendah, tidak cukup keras untuk menarik perhatian orang lain, tetapi membuat bahu Robin terangkat.
“Kalian berdua. Ikut aku.”
“Tapi, Dad...”
“Tidak ada tapi.”
Ewan membawa Aiden dan Robin menuju pusat Haven tanpa memberi mereka kesempatan berhenti. Ia berjalan cepat di depan, sementara Robin mengikuti tepat di belakangnya dengan sol sepatu kiri yang terus menggesek tanah.
Aiden berada paling belakang sambil merapatkan tas selempang ke dada. Barang-barang di dalamnya beradu setiap kali ia melangkah, mengeluarkan denting kecil yang membuat beberapa warga menoleh dari pekerjaan mereka.
Jalur tanah di dalam Haven berkelok di antara rumah-rumah dari papan, seng bekas, kain tebal, dan rangka kendaraan yang telah dibongkar. Dua jalan layang menaungi sebagian besar permukiman, tetapi hawa siang tetap terjebak di bawah beton bersama bau asap kayu, masakan, tanah basah, keringat, serta kandang ternak.
Seorang perempuan yang sedang membersihkan kacang berhenti menggerakkan tangannya ketika Ewan lewat. Dua lelaki di dekat pompa air juga mengangkat kepala, lalu mengikuti rombongan kecil itu dengan pandangan mereka.
Aiden terus menunduk. Ia dapat merasakan tatapan orang-orang berpindah dari wajah garang Ewan menuju pakaian mereka yang penuh debu.
Bangunan pusat komunitas berada di bagian tengah Haven. Struktur itu lebih besar daripada rumah-rumah di sekelilingnya, walaupun dindingnya tetap dibuat dari papan dengan ukuran berbeda dan lembaran seng yang telah berubah cokelat oleh karat.
Atapnya miring tidak rata, ditopang tiang-tiang kayu tebal yang berdiri di atas pondasi batu. Salah satu sudut bangunan sedikit turun sehingga pintu depannya harus diangkat setiap kali hendak ditutup.
Di tempat itulah Tetua Joseph dan para petinggi Haven membicarakan pembagian air, jatah pangan, penjagaan tembok, hasil panen, dan berbagai perkara yang melibatkan seluruh komunitas. Warga juga datang ke sana untuk menyampaikan keluhan, meminta bantuan, atau menentang keputusan yang mereka anggap merugikan.
Pada waktu-waktu tertentu, bangku-bangku di ruang utama akan dipindahkan dan bangunan itu dipakai untuk festival. Potongan kain dari perayaan terakhir masih tergantung di antara balok atap, kusam oleh debu dan berayun pelan tertiup udara panas.
Ewan menaiki dua anak tangga di depan pintu. Robin sempat menoleh kepada Aiden sebelum masuk, tetapi ayahnya terus berjalan dan membuatnya segera mengikuti.
Aiden menarik napas panjang sebelum melewati ambang. Udara di dalam lebih gelap, tetapi bau kayu panas dan seng berkarat membuat ruangan itu terasa pengap.
Bangku-bangku panjang disusun merapat ke dinding ruang utama. Di dekat pintu berdiri sebuah papan pengumuman yang dipenuhi daftar pembagian air, jadwal penjaga, kebutuhan klinik, dan nama warga yang harus membantu memperbaiki bagian tembok sebelah utara.
Ewan membawa mereka menuju salah satu ruangan di belakang aula. Dinding pemisahnya hanya terbuat dari papan tipis yang tidak mencapai atap, sehingga suara palu, langkah kaki, dan percakapan warga di luar masih dapat terdengar.
Tetua Joseph duduk di sebuah kursi bersandaran tinggi di balik meja. Gulungan kain diletakkan di belakang pinggangnya, sementara sebuah tongkat kayu bersandar pada sisi kursi yang dapat dijangkau tangannya.
Usia Joseph telah melewati tujuh puluh tahun. Rambut putihnya tinggal sedikit dan kulit pada wajahnya dipenuhi garis-garis dalam yang semakin jelas ketika cahaya dari jendela jatuh dari samping.
Ia termasuk sedikit orang di Haven yang pernah mengalami kehidupan sebelum Red Winter. Aiden pernah mendengarnya bercerita tentang rumah yang memperoleh air hanya dengan memutar keran, jalan raya yang dipenuhi kendaraan, dan kota-kota besar yang tetap terang sepanjang malam.
Nadia McNamara telah menunggu di dekat jendela. Begitu Robin masuk, perempuan itu segera menarik putrinya ke dalam pelukan.
Robin sempat membuka mulut, tetapi wajahnya keburu terbenam di bahu ibunya. Kedua tangan Nadia bergerak memeriksa belakang kepala, lengan, dan punggungnya, mencari luka di balik pakaian yang dipenuhi debu.
Setelah memastikan Robin tidak terluka, Nadia memandang Aiden. Tatapannya berhenti lama pada wajah Aiden sebelum turun menuju tas penuh barang yang masih dirapatkannya ke dada.
Aiden merasakan perutnya mengeras. Ia melihat ke arah pintu, tetapi ayahnya belum datang.
Tidak ada seorang pun yang berdiri di sisinya. Keluarga McNamara memenuhi satu bagian ruangan, sedangkan ia berdiri sendiri dekat ujung meja dengan debu dari luar masih menempel pada kulit.
“Apa yang terjadi di sini?”
Joseph tidak meninggikan suara. Ia memandang Ewan lebih dahulu, kemudian kedua anak yang dibawanya masuk.
“Ini tidak bisa dibiarkan, Tetua. Bocah Pierce ini membawa putriku keluar gerbang.”
Ewan berdiri dengan kedua kaki terbuka selebar bahu. Tangannya masih mengepal di sisi tubuh, dan wajahnya memerah sampai ke leher.
Aiden menunduk kembali. Ujung tali tas menggali sela-sela jarinya ketika genggamannya semakin erat.
“Dad, dia tidak memaksaku. Aku sendiri yang mau ikut.”
Robin berbicara dari dalam pelukan ibunya. Suaranya kecil, tetapi seluruh ruangan tetap dapat mendengarnya.
“Diam.”
Bahu Robin tersentak. Nadia segera mengusap belakang kepalanya, tetapi Ewan tetap menatap putrinya.
“Memaksa atau tidak, dia membawa pengaruh buruk untukmu. Kau tidak pernah mencoba meninggalkan Haven sebelum mulai mengikuti apa pun yang dia katakan.”
Air menggenang di sepanjang kelopak bawah Robin. Gadis itu mengangkat dagu dan berkedip cepat, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.
Aiden ingin membantah bahwa Robin tidak sekadar mengikuti. Ia juga membantu mencari barang dan masuk melalui celah atas kemauannya sendiri, tetapi ucapan itu hanya akan membuat Robin semakin dimarahi.
“Aiden.”
Suara Joseph membuat Aiden mengangkat pandangan sedikit. Ia belum berani menatap wajah lelaki tua itu.
“Lihat aku, Nak.”
Aiden mengangkat kepala. Joseph menunggunya sampai mata mereka benar-benar bertemu.
“Apa yang dikatakan Ewan benar?”
Aiden mengangguk. Gerakan kecil itu membuat rambut yang basah oleh keringat jatuh ke dahinya.
Joseph tetap memandangnya. Kesunyian yang muncul membuat bunyi lembaran seng di luar terdengar semakin jelas.
“Aku yang mengajak Robin.”
Suara Aiden terasa serak di tenggorokannya. Ia harus menarik napas sebelum dapat melanjutkan.
“Aku cuma ingin mencari barang-barang untuk ditukar dengan karavan besok.”
Joseph melihat tas di dada Aiden. Gulungan kawat tembaga menyembul dari bawah penutup, sedangkan salah satu gagang kuningan menekan kanvas hingga membentuk tonjolan.
Aiden menurunkan tas itu sedikit. Bibirnya menonjol tanpa dapat ditahannya, dan matanya sempat beralih kepada sepatu Robin yang rusak.
Joseph mengembuskan napas panjang. Kedua tangannya yang semula berada di atas meja berpindah ke lengan kursi.
“Kau tahu perbuatanmu sangat berbahaya?”
Aiden mengangguk kembali. Bayangan lorong gelap yang baru mereka lewati muncul di dalam kepalanya bersama bunyi rantai yang menggesek beton.
“Bukan hanya berbahaya untukmu. Kau juga membawa Robin bersamamu.”
Aiden tidak menjawab. Jarinya menggaruk bagian tali tas yang telah berbulu.
“Kalau salah satu dari kalian terluka, yang lain belum tentu mampu membawanya pulang. Di luar dinding tidak ada penjaga Haven yang akan datang ketika kalian berteriak.”
Pecahan beton yang tadi digenggam Aiden terasa berat kembali di dalam ingatannya. Tangannya sempat gemetar hanya karena seekor anjing, dan ia tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi jika yang muncul dari lorong itu adalah orang dewasa bersenjata.
“Aku mengerti, Tetua.”
Ewan maju satu langkah. Papan lantai mengerang di bawah berat tubuhnya.
“Aku meminta dia diberi hukuman.”
Joseph memindahkan pandangan kepada Ewan. Jari-jarinya saling mengunci di atas perut.
“Dia baru berusia sepuluh tahun, Ewan.”
“Tidak peduli dia anak-anak atau bukan. Semua warga Haven harus menaati peraturan.”
Ewan menunjuk Aiden dengan satu tangan. Ujung jarinya bergerak sedikit karena otot pada lengannya masih menegang.
“Kalau pelanggaran ini dimaklumi karena dia masih anak-anak, yang lain akan menganggap mereka juga dapat melakukannya. Kita tidak bisa menunggu sampai ada anak yang tidak pulang.”
Nadia memeluk Robin semakin erat. Wajah Robin kembali terbenam pada sisi leher ibunya.
“Aku yakin Aiden muda kita telah memahami apa yang baru saja dia lakukan. Bukankah begitu, Aiden?”
“Ya, Tetua.”
Aiden menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari Joseph. Suaranya masih kecil, tetapi kali ini tidak tertahan di tenggorokan.
“Memahami saja tidak cukup.”
Ewan tidak kembali ke tempatnya semula. Ia tetap berdiri lebih dekat kepada Aiden daripada sebelumnya.
Joseph mengusap mulut dengan satu tangan. Setelah itu, ia menyandarkan tubuh pada kursinya.
“Lalu apa yang kauinginkan aku lakukan kepada Aiden?”
Ewan menoleh kepada Aiden dan berjalan mendekat. Bayangan tubuhnya menutup cahaya yang masuk melalui jendela.
Tangannya menutup bahu Aiden sebelum bocah itu sempat mundur. Jari-jarinya mencengkeram tepat di atas tulang, lalu mendorong tubuh Aiden setengah langkah ke depan.
“Aku ingin dia diberi tugas membantu para petani memanen jagung selama seminggu.”
Tas selempang Aiden menghantam pinggangnya. Baterai dan potongan logam di dalamnya beradu keras, sementara tekanan pada bahunya membuat wajahnya mengernyit.
“Sentuh anakku sekali lagi, dan kau akan menyesal.”
Suara itu datang dari pintu. Cengkeraman Ewan terhenti ketika semua orang di ruangan menoleh.
Marcus Pierce berdiri di ambang dengan dada yang masih naik turun. Debu menutupi sepatu dan bagian bawah celananya, sementara kemejanya basah oleh keringat pada dada serta punggung.
Lengan kemeja Marcus digulung sampai siku, memperlihatkan kedua lengan yang kekar dan penuh kapalan. Rambut cokelat pendeknya menempel pada dahi, sama gelapnya dengan rambut Aiden ketika basah.
Tatapan Marcus turun menuju tangan Ewan di bahu putranya. Ewan melepaskan cengkeramannya, tetapi kedua pria itu terus saling memandang.
Aiden menjatuhkan tas selempangnya dan berlari. Barang-barang di dalamnya beradu ketika tas itu menghantam lantai, tetapi ia sudah memeluk pinggang ayahnya sebelum bunyinya berhenti.
Ia membenamkan wajah ke perut Marcus dan mencengkeram bagian belakang kemejanya. Bau keringat, debu, dan asap yang menempel pada pakaian itu langsung dikenalnya.
Lima tahun telah berlalu sejak ibunya meninggal. Selama itu, Marcus membesarkan Aiden seorang diri di rumah kecil mereka dekat dinding barat.
Marcus yang membangunkannya pada pagi hari, menyiapkan makanan, menambal pakaiannya, dan duduk di samping tempat tidur jika Aiden jatuh sakit. Aiden tidak pernah meragukan bahwa ayahnya akan datang, tetapi melihatnya berdiri di pintu membuat pertahanan yang sejak tadi ditahannya mulai runtuh.
Aiden menekan wajah lebih dalam dan mengatupkan gigi. Dadanya bergerak cepat ketika ia berusaha menahan tangis agar tidak terdengar oleh keluarga McNamara.
Marcus meletakkan satu tangan di belakang kepala putranya. Telapak tangannya menetap di sana, lebar dan hangat, sebelum turun melindungi tengkuk Aiden.
Ewan berdiri beberapa langkah dari mereka dengan rahang masih mengeras. Marcus membawa Aiden sedikit bergeser hingga tubuh bocah itu berada rapat di sisinya.
Joseph mengetukkan dua jarinya pada meja. Bunyi itu kecil, tetapi cukup untuk menarik perhatian semua orang kembali kepadanya.
“Baiklah. Karena kita sudah berada di sini, mari kita buat kesepakatan.”
Joseph memandang Marcus sebelum mulai berbicara. Ia memberi tahu bahwa Aiden telah membawa Robin keluar dari Haven tanpa pendamping orang dewasa.
Marcus mendengarkan tanpa menyela. Matanya tetap tertuju kepada putra semata wayangnya, sementara tangannya bertahan di bahu Aiden.
Aiden tidak sanggup menebak apa yang akan dikatakan ayahnya. Wajah Marcus tampak lelah, dengan debu menempel di sepanjang alis dan garis pucat bekas keringat pada pelipis.
Marcus tidak membantah ucapan Joseph. Ia juga tidak melepaskan tangan dari bahu Aiden.
“Ewan, aku tidak mengizinkan anak-anak bekerja sebelum mereka dewasa.”
Joseph mengarahkan wajah kepada Ewan. Suaranya tetap datar dan tidak berubah meskipun pria itu masih berdiri dengan kedua tangan mengepal.
“Tugas mereka adalah belajar. Bekerja adalah tugas orang tua mereka.”
Ewan menarik napas melalui hidung. Dadanya naik perlahan sebelum kembali turun.
“Jadi dia dibiarkan pulang begitu saja?”
“Aku belum selesai.”
Ewan menutup mulutnya kembali. Nadia menunduk kepada Robin dan merapikan rambut yang menempel pada pipi putrinya.
Joseph kemudian memandang Marcus. Aiden ikut mengangkat kepala ketika tangan di bahunya mengencang sedikit.
“Marcus, anakmu terbukti dapat membahayakan dirinya dan putri keluarga McNamara. Karena itu, aku memintamu membawa Aiden ketika kau bekerja.”
Marcus tidak menyela. Ia hanya mengangguk kecil agar Joseph melanjutkan.
“Bukan agar dia bekerja. Kau membawanya supaya dia tetap berada dalam pengawasanmu.”
Joseph berhenti sebentar dan menatap Aiden. Lelaki tua itu kemudian mengangkat tiga jari dari atas meja.
“Waktunya tiga hari. Selama itu, Aiden tidak boleh lepas dari pengawasanmu.”
“Saya mengerti, Tetua.”
Marcus menjawab tanpa menawar. Tangannya meremas bahu Aiden satu kali sebelum kembali mengendur.
“Bagus. Itu hukuman yang kuberikan.”
Joseph menurunkan ketiga jarinya. Ia mengambil lembaran kertas dari sisi meja dan meletakkannya di hadapan kursi.
“Pertemuan kita hari ini selesai. Kalian boleh kembali pada kegiatan masing-masing.”
Ewan menatap Marcus dengan tajam. Marcus membalas tatapannya tanpa bergerak dari sisi Aiden.
Nadia mengajak Robin menuju pintu. Ewan menunggu sampai istri dan putrinya melewatinya, kemudian mengikuti mereka keluar.
Robin sempat menoleh sebelum meninggalkan ruangan. Matanya bertemu dengan Aiden, tetapi tangan Nadia tetap berada di bahunya dan membawanya terus berjalan.
Suara langkah keluarga McNamara melintasi ruang utama lalu menuruni tangga. Beberapa saat kemudian, bunyinya hilang di antara percakapan dan pekerjaan warga Haven.
Marcus membungkuk untuk mengambil tas selempang Aiden. Ia mengangkatnya dengan satu tangan, tetapi tidak membuka atau memeriksa isinya.
Joseph memandang Marcus, kemudian beralih kepada Aiden yang masih berdiri rapat di sisi ayahnya. Senyum kecil perlahan muncul pada wajah tuanya.
“Aiden benar-benar mirip denganmu saat masih kecil.”
Marcus tidak menjawab ucapan terakhir Tetua Joseph. Ia hanya menundukkan kepala sedikit, meletakkan telapak tangannya pada tengkuk Aiden, lalu membawa putranya keluar dari ruang belakang itu.
Marcus tetap membawa tas selempang Aiden ketika mereka melewati ruang utama. Tali kanvasnya tergenggam dalam satu tangan, sementara gulungan kawat, baterai, serta benda-benda logam di dalamnya saling berbenturan pelan di sisi pahanya.
Mereka menuruni dua anak tangga tanpa mengucapkan apa pun. Beberapa warga yang tadi memperhatikan Ewan membawa Aiden dan Robin kini kembali menoleh, tetapi tatapan Marcus membuat sebagian besar dari mereka segera mengurus pekerjaan masing-masing.
Aiden berjalan setengah langkah di belakang ayahnya. Bayangan tubuh Marcus bergerak panjang di atas tanah, terpotong oleh roda gerobak, tumpukan kayu, dan kaki orang-orang yang menepi dari jalan mereka.
Panas masih tertahan di bawah kedua jalan layang. Udara berbau seng yang dipanggang matahari, asap dapur, kotoran ternak, dan debu yang terangkat oleh setiap telapak kaki.
Biasanya Aiden menyukai perjalanan pulang bersama Marcus. Ia akan menyesuaikan langkah dengan kaki panjang ayahnya, menginjak bayangan kepala Marcus, atau menunjuk benda aneh yang terselip di antara rumah-rumah warga.
Sore itu ia hanya memandang tumit sepatu ayahnya. Debu yang menempel di kulit sepatu tersebut retak setiap kali Marcus melangkah, lalu rontok sedikit demi sedikit ke tanah.
Marcus tidak berjalan cepat, tetapi ia juga tidak pernah menoleh. Kedua lengannya tetap berada di sisi tubuh, dengan jari-jari tangan kanan membuka dan menutup seolah masih menyimpan sisa tenaga dari pekerjaan yang ditinggalkannya.
Aiden beberapa kali memandang tas yang berayun di tangan ayahnya. Setiap kali benda-benda di dalamnya berdenting, perutnya mengeras dan keinginan untuk merebut kembali tas itu muncul sebelum segera ia tekan.
Mereka meninggalkan bagian tengah Haven dan bergerak menuju sisi barat. Rumah-rumah menjadi lebih renggang di sana, sedangkan tanah di antara bangunan dipenuhi serpihan kayu, paku bengkok, potongan tali, dan lembaran seng yang ditindih batu agar tidak terangkat angin.
Salah satu tiang penyangga jalan layang berdiri tidak jauh dari dinding luar. Beton kelabunya begitu besar sehingga empat orang dewasa yang merentangkan tangan belum tentu dapat mengelilinginya, dan permukaannya dipenuhi retakan tipis serta bekas jelaga dari api yang pernah dinyalakan warga saat musim dingin.
Gubuk mereka berdiri dekat sisi tiang itu. Bangunannya lebih kecil daripada sebagian besar rumah di Haven dan tampak seperti potongan-potongan berbeda yang dipaksa saling menahan, dengan dinding bawah dari papan kayu tua, bagian atas dari seng kusam, dan atap rendah yang miring ke belakang.
Beberapa batu berat diletakkan di atas atap agar lembaran seng tidak terangkat ketika angin masuk dari sela jalan layang. Pada sisi yang menghadap dinding Haven, sepotong papan telah terlepas dari rangkanya dan meninggalkan lubang tidak beraturan yang untuk sementara disumpal dengan kain goni.
Marcus membuka pintu dan masuk lebih dahulu. Engselnya mengeluarkan bunyi panjang yang kasar, lalu berhenti ketika bagian bawah daun pintu menggesek lantai.
Aiden mengikutinya ke dalam. Setelah terik di jalan, gubuk itu terasa gelap selama beberapa kedipan, walaupun cahaya masih menyusup melalui sambungan papan, lubang paku, serta kain goni pada dinding sebelah barat.
Udara di sana lebih hangat daripada di luar. Bau kayu tua, kain kering, minyak perkakas, dan abu dari tungku kecil melekat di ruangan yang sempit, bercampur dengan keringat pada tubuh mereka.
Marcus menunggu sampai Aiden melewati ambang. Ia kemudian menarik pintu sampai tertutup dan memasang palang kayu pendek pada dua kait besi di belakangnya.
Bunyi dari Haven langsung meredup. Suara palu, teriakan anak-anak, lenguh ternak, dan percakapan warga masih terdengar dari balik dinding tipis, tetapi semuanya menjadi jauh seolah berasal dari sisi lain tumpukan kain.
Marcus berdiri membelakangi pintu selama beberapa saat. Bahunya naik ketika ia menarik napas, lalu turun perlahan tanpa membuat ketegangan pada tengkuknya menghilang.
Aiden berhenti dekat meja kecil yang menempel pada dinding. Kedua tangannya menggantung kaku di sisi tubuh, tetapi jari-jarinya terus bergerak seolah masih meremas tali tas yang dibawa Marcus.
Marcus berbalik dan meletakkan tas itu di atas meja. Benda-benda di dalamnya beradu ketika dasar tas menyentuh kayu.
Tangannya bergerak menuju penutup tas. Aiden maju satu langkah sebelum sempat memikirkan apakah dirinya berani menghalangi.
“Dad, jangan dibuka.”
Marcus berhenti dengan ujung jari berada di bawah lipatan kanvas. Ia memandang Aiden, lalu kembali melihat tas tersebut.
“Tolong. Jangan dibuka.”
Suara Aiden mengecil pada kata terakhir. Ia mendekat setengah langkah lagi dan mengangkat satu tangan, tetapi tidak berani menyentuh lengan ayahnya.
Marcus menatapnya cukup lama hingga Aiden menurunkan tangan. Napas pria itu keluar perlahan melalui hidung, sementara ketegangan pada rahangnya kembali terlihat.
“Apa pun yang ada di dalam tas ini membuatmu melanggar aturan dan membawa Robin keluar dari Haven. Kau tidak akan menyembunyikannya dariku.”
Aiden menelan ludah. Tenggorokannya masih kering sejak berada di ruang pertemuan, dan gerakan kecil itu terasa seperti mendorong pasir ke bawah lehernya.
“Bukan begitu. Aku cuma tidak ingin kau melihatnya.”
Marcus tidak menjawab. Ia membawa tas itu ke dekat cahaya yang masuk dari celah dinding, mengangkat penutup kanvas, lalu memasukkan tangan dan menggeser isinya satu demi satu tanpa mengeluarkannya.
Gulungan kawat menggores bagian dalam tas. Jarum-jarum di dalam kotaknya berdesis halus, sementara tiga baterai kecil menggelinding dan membentur kedua gagang pintu kuningan.
Aiden memperhatikan wajah ayahnya. Mata Marcus bergerak mengikuti setiap benda yang disentuhnya, tetapi tidak ada rasa kagum atau bangga seperti yang diam-diam dibayangkan Aiden selama mencari semuanya.
Marcus menutup tas itu dengan satu gerakan pendek. Rahangnya mengeras, kemudian ia melemparkannya ke sudut ruangan.
Tas tersebut menghantam dinding seng sebelum jatuh ke lantai. Logam di dalamnya beradu keras, dan salah satu baterai terdengar menggelinding sampai tertahan pada kaki bangku.
Aiden tersentak. Kedua tangannya yang telah kosong segera mengepal di depan perut, seolah tubuhnya masih berusaha memegang sesuatu yang sudah tidak ada.
“Apa yang kau pikirkan, Aiden?”
Marcus maju satu langkah. Lantai papan berbunyi di bawah berat tubuhnya, sementara cahaya dari dinding jatuh melintang pada kemeja yang masih basah oleh keringat.
“Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali. Dunia di luar dinding bukan tempat untuk anak-anak.”
Aiden menunduk. Ia memandangi ibu jari kakinya yang menekan bagian dalam sepatu dan menunggu kemarahan itu lewat, tetapi napas Marcus justru menjadi semakin berat.
“Kau tidak tahu siapa yang bisa menemukanmu di sana. Raider akan merampas apa pun yang kaubawa, dan slaver tidak memerlukan alasan selain melihat dua anak berjalan tanpa orang dewasa.”
Marcus mengangkat tangan, lalu menunjuk ke arah dinding luar yang tersembunyi di balik seng gubuk mereka. Gerakannya begitu tajam sehingga Aiden kembali mengangkat bahu.
“Mereka bisa mengikat tangan kalian dan membawa kalian pergi sebelum seorang penjaga mendengar teriakan. Belum lagi remnant, mayat-mayat hidup yang berkeliaran di antara reruntuhan, serta makhluk-makhluk mutasi yang dapat mencabik kalian sebelum sempat berlari pulang.”
Kata-kata terakhir itu menghantam ruangan lebih keras daripada tas tadi. Dingin tipis merambat pada punggung Aiden meskipun udara di dalam gubuk masih panas.
Ia teringat betapa cepat suara Haven menghilang setelah mereka berada di balik dinding. Jika mereka tidak kembali, tidak seorang pun akan tahu ke arah mana harus mencari sebelum hari menjadi gelap.
Marcus menatapnya dari seberang ruangan. Kemarahan pada suaranya membuat otot di sekitar mulutnya menegang, tetapi ada sesuatu pada cara dadanya naik terlalu cepat yang membuat Aiden semakin sulit melihat wajahnya.
“Kau sudah tahu semua itu.”
Aiden mengangguk kecil. Panas yang sejak tadi berkumpul di belakang matanya mulai menyengat sampai bentuk sepatu di lantai menjadi kabur.
“Kalau kau tahu, mengapa kau tetap melanggarnya?”
Aiden membuka mulut, tetapi napasnya tersangkut. Ia mengusap hidung dengan punggung tangan dan mencoba sekali lagi, sementara pandangannya tetap menempel pada lantai.
“Aku hanya...”
Kata berikutnya tidak keluar. Bibirnya bergetar, dan ia harus menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan suara yang mulai memenuhi tenggorokan.
Marcus tidak memotongnya. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, dengan kedua tangan kini mengepal di sisi tubuh.
“Aku hanya ingin menukar barang-barang itu dengan belati dari karavan besok.”
Aiden memaksa kepalanya terangkat. Wajah Marcus tampak berlapis di balik air yang memenuhi matanya, sehingga ia berkedip keras dan membuat tetes pertama jatuh melewati pipi.
“Belatimu sudah rusak. Aku ingin memberimu yang baru.”
Kalimat itu pecah pada kata terakhir. Aiden segera menutup mulut dengan satu tangan, tetapi isak kecil telah lebih dahulu lolos di antara jarinya.
Marcus tidak bergerak. Ketegangan pada rahangnya masih ada, namun tangan yang tadi mengepal perlahan terbuka.
Aiden menyeka pipinya dengan cepat. Air mata lain turun menggantikan yang pertama, lalu melewati sudut bibir dan meninggalkan rasa asin pada kulit.
Ia tidak ingin menangis di depan Marcus. Ayahnya sudah meninggalkan pekerjaannya karena dia, datang ke pusat komunitas dengan pakaian kotor, berdiri menghadapi Ewan, dan sekarang harus mengawasinya selama tiga hari.
Aiden ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah bermaksud membahayakan Robin. Sejak awal ia hanya memikirkan karavan, belati Marcus yang rusak, dan wajah ayahnya ketika menerima sesuatu yang tidak mungkin mereka beli dengan jatah biasa.
Semua alasan itu terdengar kecil bahkan sebelum mencapai mulutnya. Niat memberikan hadiah tidak mengubah kenyataan bahwa ia telah membawa Robin melewati dinding tanpa seorang pun yang mampu menolong mereka.
Marcus mengembuskan napas panjang. Suaranya kasar ketika keluar, seperti udara yang dipaksa melewati kain tebal.
Ia mengusap wajah dari dahi sampai dagu dengan kedua tangan. Ketika tangannya turun, kemarahan yang tadi mengeraskan wajahnya telah berubah menjadi kelelahan yang membuat garis di sekitar mata tampak lebih dalam.
Aiden mengenali wajah itu. Marcus pernah memasangnya ketika Aiden demam terlalu tinggi, dan kadang wajah yang sama muncul saat nama Miranda disebut pada malam-malam tertentu.
Aiden hanya tahu ibunya meninggal karena sakit keras lima tahun lalu. Marcus tidak pernah bercerita panjang tentang hari-hari terakhirnya, dan Aiden telah belajar bahwa terlalu banyak pertanyaan hanya akan membuat ayahnya duduk diam sambil memandangi tangannya sendiri.
Marcus menatap pintu yang baru saja dipalang. Pandangannya bertahan di sana selama satu tarikan napas sebelum kembali kepada Aiden.
Ia berjalan mendekat, lalu berlutut. Lututnya menghantam papan dengan bunyi tumpul, membuat wajah mereka kini berada pada ketinggian yang hampir sama.
“Kemari, Nak.”
Aiden masih ragu. Bahunya bergerak kecil setiap kali ia mencoba menahan isak, sedangkan kedua tangannya tetap mengepal di depan perut.
Marcus membuka lengannya. Jari-jari besarnya tidak lagi tegang, dan telapak tangannya bergetar tipis sebelum berhenti di udara.
“Kemari.”
Aiden melangkah perlahan. Langkah pertama terasa berat, tetapi pada langkah kedua tubuhnya sudah jatuh ke depan dan kedua lengannya melingkari leher Marcus.
Marcus menangkapnya erat. Satu lengan menahan punggung Aiden, sedangkan tangan lainnya menutup belakang kepalanya dan menarik wajah anak itu ke bahunya.
Tangis yang sejak tadi ditahan Aiden pecah sekaligus. Dadanya tersentak berkali-kali, napasnya masuk pendek dan patah, sementara air mata serta ingus membasahi bagian bahu kemeja Marcus yang sudah lembap oleh keringat.
Ia tidak lagi mencoba menyembunyikannya. Jemarinya mencengkeram kain di belakang leher ayahnya sampai buku-buku jarinya sakit, dan seluruh tubuhnya menempel pada dada Marcus seolah ruangan itu masih dipenuhi orang yang hendak menarik mereka terpisah.
Marcus mengusap rambut pendeknya dari belakang kepala menuju tengkuk. Gerakannya lambat dan berulang, sesekali tersangkut pada rambut yang kaku oleh keringat serta debu.
“Maafkan aku.”
Suara Marcus berada sangat dekat dengan telinganya. Getarannya terasa melalui dada dan bahu yang dipeluk Aiden.
“Aku tidak seharusnya membentakmu seperti itu. Maafkan aku, Nak.”
Aiden menggeleng di bahunya. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar hanya suara kecil yang terputus oleh isak.
Marcus tidak memaksanya bicara. Ia mengencangkan pelukan dan menempelkan pipinya pada puncak kepala Aiden, sementara napasnya sendiri masuk lebih dalam daripada sebelumnya.
Mereka tetap seperti itu cukup lama. Cahaya yang masuk dari lubang dinding bergerak perlahan di atas lantai, dan suara Haven kembali merembes ke dalam kesadaran Aiden sedikit demi sedikit.
Seseorang memukul logam dari kejauhan. Seekor kambing mengembik di dekat kandang, lalu suara dua anak berlari melewati bagian belakang gubuk sebelum menghilang menuju deretan rumah lain.
Tangis Aiden akhirnya mengecil menjadi cegukan yang jarang. Kepalanya terasa berat, kelopak matanya panas, dan napas melalui hidung menjadi sulit karena tersumbat.
Marcus melonggarkan lengannya. Ia tidak langsung melepaskan Aiden sepenuhnya, melainkan memegang kedua bahunya dan menarik tubuh anak itu cukup jauh agar dapat melihat wajahnya.
Ibu jari Marcus menyeka jejak air mata pada salah satu pipi. Sentuhannya kasar karena kapalan, tetapi bergerak hati-hati di bawah mata Aiden yang memerah.
“Lihat aku.”
Aiden mengangkat wajah. Ia masih harus menarik napas melalui mulut, dan sebuah cegukan kecil membuat bahunya terangkat ketika mata mereka bertemu.
Marcus menunggu sampai Aiden berhenti mengusap hidung. Kedua tangannya tetap berada pada bahu putranya, lebar dan hangat tanpa menekan bagian yang tadi dicengkeram Ewan.
“Berjanjilah padaku kau tidak akan mengulanginya lagi. Jangan keluar dari Haven tanpa aku atau orang dewasa yang kupercaya.”
Aiden memandang mata ayahnya. Tidak ada lagi kemarahan di sana, tetapi kesungguhan Marcus membuatnya tidak mungkin menganggap janji itu sebagai sesuatu yang dapat diucapkan lalu dilupakan.
“Aku berjanji, Dad.”
Marcus tetap menatapnya selama beberapa detik. Setelah itu, ia mengangguk dan menarik napas yang seolah baru dapat memenuhi seluruh dadanya.
Ia berdiri perlahan. Salah satu lututnya berbunyi ketika diluruskan, lalu tangannya berpindah ke kepala Aiden dan mengacak rambut pendeknya sampai beberapa helai jatuh ke dahi.
Aiden tidak menghindar. Ia hanya menyeka kedua pipinya dengan lengan baju dan membiarkan tangan ayahnya berada di sana beberapa saat lebih lama.
Marcus melirik ke sudut tempat tas tadi jatuh. Pandangannya kemudian berpindah pada cahaya yang menembus kain goni di dinding barat.
Angin kecil masuk melalui lubang itu dan membuat ujung kain bergerak. Setiap kali kain terangkat, garis terang menyentuh lantai bersama butiran debu halus yang berputar di udara.
Marcus kembali memandang Aiden. Wajahnya masih lelah, tetapi suaranya telah turun menjadi suara yang biasa dipakainya di rumah.
“Baiklah. Sekarang bantu aku memperbaiki dinding yang bolong itu.”
Aiden mengikuti arah pandang ayahnya. Ia mengenali potongan papan yang harus diangkat, lembar seng kecil yang sejak pagi tergeletak di dekat dinding, dan kotak perkakas Marcus di bawah bangku.
“Kau masih mau membantuku?”
Aiden mengangguk beberapa kali. Ia menarik napas melalui mulut, mengusap sisa air pada dagunya, lalu memandang lubang dinding itu bersama ayahnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!