Indonesia
NovelToon NovelToon

Benih Jenius Sang Miliarder

Episode 1 Malam terkutuk

​Cahaya keemasan dari lampu kristal raksasa yang menggantung angkuh di langit-langit Hotel Royal Bellevue terasa menyilaukan, seolah mengejek penderitaan yang tengah merayap di tubuh Clara.

Di sepanjang koridor berkarpet tebal salah satu penginapan paling bergengsi di Jenewa, Swiss itu, langkah seorang wanita muda tampak terhuyung-huyung, berat menyeret kakinya yang terasa seperti kepingan timah.

​Wajah cantiknya pias tak berdarah. Keringat dingin mengucur membasahi pelipisnya.

​Ia adalah Clara Jasmine, gadis berusia dua puluh tahun yang dikenal publik sebagai putri angkat keluarga Smith, sebuah dinasti bisnis yang menduduki posisi ke-100 dalam deretan konglomerat teratas negara itu.

​Namun, publik tidak pernah tahu bahwa di balik kemewahan dan nama besar Smith, kehidupan Clara jauh dari kata bahagia. Di kediaman megah itu, ia tak lebih dari properti usang; orang asing yang kerap direndahkan dan hanya dikeluarkan dari sarangnya saat sedang dimanfaatkan.

​Termasuk malam ini.

​Semuanya berawal dari sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya satu jam yang lalu dari ibu angkatnya: "Clara, Mommy minta tolong kamu temui dulu anak klien Daddy yang baru tiba dari luar negeri. Mommy, Daddy, dan Kak Sofia masih ada urusan lain. Setelah menyusul, kita akan makan malam bersama di sana."

​Sebagai putri angkat yang berusaha mencari validasi dan kasih sayang, Clara mengiyakan tanpa sedikit pun rasa curiga. Ia tiba lebih awal sesuai permintaan.

Namun, saat melangkah masuk ke ruangan privat VVIP yang ditentukan, atmosfer di sana terasa lengang dan hampa. Berusaha menekan firasat buruknya, Clara membatin bahwa tamu yang ditunggunya mungkin belum turun dari kamar.

​Tak lama berselang, seorang pelayan berseragam rapi masuk mendorong troli. “Ini kiriman khusus dari Tuan Alfonso untuk Nona,” ucap pelayan itu sopan seraya meletakkan segelas jus, sebelum menunduk dan berlalu pergi.

​Clara tersenyum lega, mengira itu adalah tanda keramahan dari rekan bisnis ayahnya. Tanpa ragu, dahaganya membuat ia meminum jus segar itu hingga tandas.

​Namun, itu adalah awal dari nerakanya.

​Hanya dalam hitungan menit, rasa nyaman dari minuman dingin itu menguap tak bersisa. Kepalanya mendadak berputar hebat bak dihantam godam, sementara sekujur tubuhnya terasa terbakar oleh gejolak panas asing yang abnormal.

​“Kenapa … tiba-tiba panas sekali?” gumamnya parau. Jemari kecilnya yang mulai gemetar bergerak mengibas udara di depan wajahnya yang kini bersemu semerah mawar.

​Belum sempat ia menguasai kewarasannya yang kian menipis, pintu ruangan terbuka lebar.

​Seorang pria paruh baya bertubuh tambun melangkah masuk dengan gaya santai. Senyum serakah dan menjijikkan terukir di bibirnya saat matanya yang rakus menelusuri lekuk tubuh Clara dari ujung kepala hingga kaki.

​“Maaf membuatmu menunggu lama, Nona cantik. Jangan buang waktu lagi, ayo kita langsung ke kamar saja,” ucapnya serak, mengedipkan mata dengan sorot penuh nafsu yang tak ditutupi.

​Clara terkesiap, mundur bergegas hingga punggungnya nyaris menabrak meja. Dahinya berkerut waspada. Sensasi terbakar di nadinya kian merayap cepat, mengikis akal sehatnya secara brutal.

“Maaf, Tuan. Anda pasti salah orang. Saya di sini menunggu kedatangan Tuan Alfonso, anak dari klien Daddy saya.”

​Pria tambun itu meledak dalam tawa yang serak dan menggema di ruangan sunyi itu. “Ha ha ha! Kamu sungguh polos, Manis. Akulah Alfonso yang kamu tunggu! Dan dengar baik-baik: Ibumu dan kakakmu sendiri yang telah menyerahkanmu padaku. Malam ini, kau sudah dibeli untuk menjadi milikku!”

​Darah Clara serasa ditarik paksa dari ujung kakinya. Jantungnya berpacu liar, diiringi rasa sakit luar biasa yang menusuk ulu hati, jauh melebihi panasnya obat di tubuhnya. Ia tahu keluarga angkatnya dingin dan tak acuh, tetapi ia tak pernah membayangkan mereka bisa sekeji ini. Menjualnya layaknya barang murahan!

​“Tidak mungkin … itu mustahil! Anda pasti salah paham!” bantah Clara dengan suara bergetar, mati-matian mempertahankan kewarasannya yang mulai kabur.

"​Sial! Kenapa aku sebodoh ini? Ayo, Clara, cepat berpikir sebelum kamu benar-benar jadi korban pria menjijikkan ini!" jerit batinnya panik.

​“Tenang saja, Gadis Manis. Aku takkan menyakitimu asalkan kamu menurut,” gumam Alfonso menjilat bibirnya, melangkah memangkas jarak. Tangan gemuknya terulur, berniat menyentuh pipi Clara yang memerah.

​BUGK!

​Adrenalin dan insting bertahan hidup mengambil alih. Dengan sisa tenaga yang masih bisa ia kumpulkan, Clara mengayunkan kakinya sekuat tenaga, menendang keras tepat di titik vital pria hidung belang tersebut.

​“Awwgh!!”

Alfonso menjerit tertahan, wajahnya seketika memucat. Tubuhnya membungkuk parah, kedua tangannya memegangi bagian bawah tubuhnya yang berdenyut nyeri luar biasa.

​"Rasakan itu, dasar tua bangka mesum!" desis Clara tajam, matanya menyalang penuh amarah.

​Tak membuang satu detik pun, Clara berbalik dan berlari sekuat tenaga menerobos keluar dari ruangan. Napasnya tersengal, ia menyeret kakinya yang kian terasa berat seolah tertanam di lantai akibat pengaruh obat perangsang dosis tinggi yang mulai bekerja brutal memompa darahnya.

​“Bocah jalang sialan! Awas kamu, ya!” pekik Alfonso murka dari dalam ruangan, suaranya teredam rasa sakit.

"Apa yang kalian lihat, bodoh?! Cepat tangkap gadis itu! Seret dia ke kamarku sekarang juga!"

teriaknya pada dua pengawal berbadan kekar yang baru saja tiba di ambang pintu.

​“Siap, Bos!”

​Kedua pengawal itu langsung merangsek maju, melesat mengejar bayangan Clara yang baru saja menghilang di tikungan koridor.

****

****

​Di sisi lain gedung yang sama, kekacauan yang tak kalah mematikan sedang terjadi.

​Alexio Van Der Berg melangkah menyusuri lorong VVIP dengan rahang mengetat keras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Pria yang dikenal sebagai penguasa mutlak lingkaran organisasi bawah tanah sekaligus pembisnis berdarah dingin ini berjalan dengan wajah memerah padam.

​Napasnya memburu kasar. Sorot mata abu-abunya yang biasanya sedingin es kutub, kini menyiratkan rasa sakit dan panas yang membakar dari dalam pembuluh darahnya.

​“Sial … aku kecolongan!” desisnya penuh kemarahan tertahan.

​Tangan kekarnya menyibakkan kancing jas mahalnya dengan kasar, merobek kancing kemeja putihnya di bagian atas demi mencari pasokan udara yang rasanya kian menipis.

Dengan jemari yang bergetar menahan gairah mematikan, ia meraih ponselnya untuk memanggil asisten kepercayaannya, Reno.

​Namun, layar layar ponselnya hanya menampilkan ikon silang tanpa sinyal. Seseorang telah memblokir sinyal di area ini. Panggilannya gagal total.

​“Sialan! Kenapa sinyal mendadak hilang?! Reno, kau di mana?!” geram Alexio tertahan. Kepalanya berdenyut nyeri, pertahanan akal sehat dan kendali dirinya benar-benar berada di ambang batas. Ia mempercepat langkah kakinya yang panjang menuju kamar suite pribadinya.

​“Xio! Ternyata kamu ada di sini!”

​Sebuah suara wanita yang sengaja dibuat menggoda mendadak terdengar dari arah belakang.

Alexio menghentikan langkahnya, berbalik perlahan dengan tatapan membunuh. Di sana, berjarak beberapa langkah, berdiri Jessie, mantan tunangannya.

Wanita itu mengenakan gaun merah berpotongan sangat rendah, memamerkan lekuk tubuhnya tanpa malu.

​“Jessie …” gumam Alexio dengan nada suara yang membekukan udara di sekitarnya.

​Mengabaikan peringatan mematikan dari pria itu, Jessie tersenyum penuh kemenangan lalu berjalan mendekat. Ia berusaha melingkarkan tangannya yang berhias kuku merah menyala ke lengan kekar Alexio.

“Aku sangat merindukanmu, tahu? Sudah lama kita tidak bertemu.”

​Alexio mendengus sinis, penuh rasa jijik. Ia menepis kasar tangan wanita itu tanpa ragu sedikit pun.

“Hubungan kita sudah usai. Jaga jarakmu dan pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran untuk membunuhmu!” usirnya tanpa ampun sebelum berbalik kembali pergi.

​Jessie tak tinggal diam. Ia sudah merencanakan malam ini dengan matang, bersekongkol dengan musuh Alexio untuk menjebak pria ini ke dalam ranjangnya demi mengikat takdir mereka kembali.

​“Xio! Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja! Obat itu sudah bekerja, kan? Biarkan aku membantumu melepas rasa panas itu!” seru Jessie tanpa malu, mempercepat langkah mengejarnya dari belakang.

​Alexio mengabaikannya total. Ia mengerahkan seluruh sisa daya tahan dan arogansinya untuk tetap berjalan tegak, menyembunyikan fakta bahwa dadanya kian bergemuruh hebat dan pandangannya mulai mengabur.

​Namun, takdir memiliki rencana yang jauh lebih gila malam itu.

​Tepat saat Alexio membelok di ujung tikungan lorong yang remang, sebuah tangan kecil dan gemetar mendadak mencengkeram pergelangan tangannya yang kokoh.

​Sebelum Alexio sempat menepis atau bereaksi, sisa tenaga terakhir dari pemilik tangan kecil itu menarik tubuh besarnya dengan paksa, menyeret sang tiran masuk ke dalam sebuah kamar gelap di sisi lorong, dan detik berikutnya...

​Klik!

​Pintu otomatis itu terkunci rapat dari dalam. Alexio lenyap seketika, menghilang seolah ditelan udara.

​Jessie yang baru saja memutari tikungan terbelalak panik. Napasnya tersengal melihat lorong panjang yang mendadak kosong melompong.

​“Sialan! Ke mana dia menghilang?!” geram Jessie kesal, menghentakkan kaki dengan hak tingginya sambil memindai koridor yang tak lagi menyisakan jejak sang penguasa.

​Bersambung ....

Episode 2

Udara sejuk dari air conditioner sama sekali tak mampu meredam gelombang panas yang membakar tubuh Clara dan Alexio. Suasana di dalam kamar mewah nomor 408 itu mendadak terasa sesak dan mendesak. Reaksi obat perangsang yang mengalir di pembuluh darah Clara bekerja jauh lebih ganas dari perkiraan.

Kesadarannya perlahan hanyut, membuat seluruh benteng pertahanan diri yang ia bangun runtuh tanpa sisa.

Di hadapannya berdiri Alexio, pria asing bergaris wajah tegas yang sama-sama tersudut oleh jebakan licik. Bagi Clara yang penglihatannya mulai kabur, pria ini adalah satu-satunya pelampiasan yang nyata, satu-satunya penawar untuk memadamkan api yang membakar habis akal sehatnya.

Tanpa membuang waktu, jemari mungil Clara yang gemetar terulur, mencengkeram kuat tengkuk Alexio. Ia menarik tubuh tinggi tegap itu hingga tak ada lagi jarak yang tersisa, lalu mendaratkan bibirnya secara mendadak di atas bibir Alexio. Ciuman itu liar, terburu-buru, dan sarat akan permohonan pertolongan yang amat sangat.

Alexio tersentak hebat, tubuhnya membeku seketika. Sisa naluri mewaspadai ancaman berteriak agar ia mendorong wanita ini menjauh. Namun, aroma manis alami tubuh Clara serta kehangatan kulit halusnya bagaikan bensin yang menyiram gejolak hawa nafsu Alexio yang sejak tadi ditahannya.

Di luar kendali logika, bukannya menjauh, cengkeraman tangan Alexio justru mengencang. Jantungnya bergemuruh hebat, ikut terhanyut menelusuri setiap sentuhan impulsif wanita asing di pelukannya.

Di balik sisa kesadarannya yang kian menipis, batin Clara menjerit histeris. "Sialan … Clara, kau tidak tahu malu! Bagaimana bisa kau melakukan hal semurah ini pada pria asing?! Sadar, Clara … sadar!"

Ciuman itu terlepas sejenak. Napas keduanya memburu, bersahut-sahutan di udara yang kian panas. Kelopak mata Clara terasa seberat timah, pipinya memerah merona. Dengan sorot mata basah yang berkaca-kaca, ia menatap kabur paras tampan di depannya sebelum bersuara parau memecah keheningan.

"Bantu aku … kumohon bantu aku … aku sudah tidak tahan lagi … rasanya seperti ada api yang membakar tubuhku …" keluh Clara di sela desahan napas yang terputus-putus, berusaha sekuat tenaga menggenggam sisa kewarasannya yang tinggal seutas benang rapuh.

Alexio terdiam sepersekian detik. Tatapan mata abu-abunya menelusuri wajah Clara, begitu polos, namun tampak amat menggoda di bawah pengaruh zat kimia itu. Di dalam dirinya sendiri, tatanan kendali diri Alexio sudah hancur total.

Seulas senyum miring, penuh pesona sekaligus bahaya, terukir di bibirnya. Tangan kekarnya yang hangat terangkat, mengusap lembut helai rambut yang menutupi dahi Clara.

"Baiklah, Nona. Aku akan membantumu melewati malam ini," bisik Alexio tepat di ceruk telinga Clara dengan suara berat yang dalam. "Tapi ingat baik-baik... jangan pernah menyesali apa pun yang terjadi setelah ini."

Tanpa membuang detik, Alexio melingkarkan satu tangannya ke balik lutut Clara dan satu lagi di pinggang rampingnya. Ia mengangkat tubuh ringan itu ke udara seolah tak berbeban, lalu melangkah lebar menuju ranjang berukuran king-size beralaskan seprai sutra putih. Dengan gerakan lembut namun sarat gairah yang meluap, ia menjatuhkan tubuh mereka bersamaan.

Suara gesekan kain terdengar samar, lalu perlahan tenggelam dalam keheningan malam yang panjang, di mana dua orang asing terikat erat oleh takdir tak terduga, hingga fajar perlahan menyelinap di celah tirai.

****

****

Cahaya pagi yang lembut menerobos masuk, menyinari seluruh sudut kamar. Clara menjadi orang pertama yang terbangun. Kepalanya berdenyut pening, namun sensasi terbakar yang menyiksanya semalam telah sirna sepenuhnya—berganti dengan rasa ngilu ringan yang menjalar di persendian tubuh.

Gerakan kecilnya terhenti seketika saat menyadari sebuah lengan kokoh melingkari perutnya erat dari belakang, menahannya agar tak beranjak.

Jantung Clara berdesir hebat. Tubuhnya menegang kaku. Kilasan memori semalam berputar cepat bagai rekaman ulang yang menghantam kesadarannya. Wajah Clara seketika memerah padam hingga ke leher. Rasa malu yang membuncah bersatu dengan kekecewaan mendalam pada dirinya sendiri. Ia telah menyerahkan mahkota terberharganya pada pria yang bahkan tak ia ketahui namanya.

Dengan gerakan yang sangat pelan dan berhati-hati, Clara menggeser lengan kekar yang memeluknya. Ia memundurkan tubuh, melangkah dengan telanjang kaki ke atas lantai marmer yang dingin, lalu bergegas mengumpulkan sisa-sisa pakaiannya yang berserakan.

Dengan tangan gemetar, ia mengenakan kembali pakaian itu untuk menutupi jejak malam kelamnya. Ia bahkan tak berani menoleh sedikit pun ke arah pria yang masih terlelap di atas kasur, rasa malunya terlalu besar untuk sekadar menatap wajah sang pemuda.

Saat hendak melangkah keluar, mata Clara menangkap sebuah notebook kecil dan pena di sudut meja. Ia melangkah mendekat, menggoreskan pesan singkat dengan tulisan tangan yang rapi namun tergesa. Setelah selesai, ia melipatnya dan meletakkannya tepat di atas nakas.

Di ambang pintu, langkah Clara terhenti. Pandangannya jatuh pada jas hitam mahal yang tergeletak di lantai, jas yang terlepas saat ia menarik pria itu masuk secara paksa semalam.

Sebuah ide melintas cepat. Clara memungut jas tersebut, memakaikannya ke tubuh mungilnya, lalu menarik kerah tinggi jas itu hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Ini adalah langkah cerdik untuk menyamarkan identitas dari pantauan kamera CCTV di koridor hotel. Tak lama kemudian, sosoknya lenyap di balik pintu lift yang tertutup rapat.

****

****

Beberapa saat setelah kepergian Clara, kelopak mata Alexio perlahan terbuka. Kesadarannya pulih sepenuhnya dengan cepat. Ia langsung duduk tegak di tepi kasur, memijat pangkal hidungnya untuk mengusir sisa kantuk. Rekaman kejadian semalam berputar jernih di kepalanya: pertemuan kacau di koridor, keberanian gadis itu, dan kehangatan yang menguasai mereka.

Matanya yang tajam memindai sekeliling. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.

"Ke mana gadis kecil itu?" gumam Alexio pelan, suaranya berat dan bergema di kamar yang sepi. Ia bangkit dan memeriksa kamar mandi, namun ruangan itu pun hampa.

Alexio mendengkus pelan, mengibaskan bahunya santai. "Apa yang kau harapkan, Xio? Biarkan saja dia pergi, toh dia sendiri yang menyodorkan dirinya," gumamnya menetralkan pikiran, lalu melangkah masuk ke kamar mandi untuk segar kembali.

Sepuluh menit kemudian, Alexio keluar dengan rambut basah yang tersisir rapi dan pakaian yang telah terpasang sempurna. Saat hendak meraih ponsel pintar di atas nakas, pandangannya terhenti pada kain seprai putih yang tersingkap kusut. Di tengah-tengahnya, terdapat bercak merah kering yang samar namun jelas.

Seulas senyum tipis yang penuh arti terukir di bibir Alexio. Sorot mata abu-abunya menyiratkan rasa puas yang mendalam. Gadis asing yang menghabiskan malam dengannya ternyata benar-benar masih suci dan belum tersentuh siapa pun. Tanpa ragu, Alexio menarik seprai itu hingga terlepas, meremasnya menjadi gulungan, dan membuangnya ke tempat sampah—memastikan tidak ada bukti pribadi yang bisa diakses orang lain.

Saat kembali mengambil ponselnya, jemarinya tak sengaja menyentuh selembar kertas terlipat rapi di sebelah benda pipih tersebut. Alexio mengambilnya, membuka lipatan kertas itu, dan membaca baris demi baris tulisan di dalamnya:

> *Selamat pagi! Siapa pun kamu, terima kasih sudah menolongku keluar dari siksaan obat sialan itu. Aku janji, aku tidak akan menuntut atau meminta pertanggungjawaban apa pun darimu setelah ini. Anggap saja apa yang terjadi antara kita semalam tidak pernah terjadi, dan kita adalah dua orang asing yang berjalan berlawanan arah. Selamat tinggal.* >

Alexio membaca pesan itu berulang kali. Bukannya kesal, seringai di wajah tampannya justru terukir makin lebar. Ia melipat kembali kertas itu dengan rapi, lalu menyelipkannya ke dalam saku dalam jasnya.

"Orang asing, katamu?" gumam Alexio pelan, sorot mata abu-abunya mendadak berkilat tajam dan penuh obsesi. "Kau pikir semudah itu menghapus jejak setelah memberikan segalanya padaku, Nona?"

Alexio melangkah menuju jendela glass-wall yang menampilkan pemandangan kota Jenewa di pagi hari.

"Berlarilah sejauh yang kau bisa. Tapi ingat satu hal ... dengan seluruh kekuasaan yang kupunya, menemukanmu hanyalah masalah waktu. Dan saat hari itu tiba, kupastikan kau tidak akan pernah bisa lari lagi."

Bersambung ....

Episode 3

Di dalam kamar suite mewah nomor 408, keheningan kembali merajai. Namun, jejak kehangatan dan aroma manis yang menguar semalam seolah masih menggantung tebal di udara, menolak untuk lenyap.

Alexio berdiri tegak di depan cermin besar. Tatapan mata abu-abunya jatuh pada pantulan dirinya sendiri, terlihat sama seperti biasanya: dingin, penuh kuasa, dan tak tersentuh. Namun, jauh di sudut dadanya, ada gejolak asing yang memukul-mukul pelan. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tangannya kembali membuka secarik kertas berisikan pesan perpisahan dari Clara. Ujung jarinya menelusuri setiap goresan tinta yang tampak terburu-buru di atas kertas itu.

“Dua orang asing yang berjalan berlawanan arah,” gumamnya pelan, mengeja kalimat terakhir sang gadis. Senyum miring terukir di bibirnya, menampakkan kilatan obsesi yang gelap dan membara.

“Kau pikir garis takdir semudah itu diputuskan hanya dengan selembar kertas, Nona?” bisiknya tajam pada udara kosong. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke dalam dompet pribadinya, tempat paling aman yang tak boleh disentuh oleh siapa pun.

Langkah lebarnya membawa Alexio keluar dari kamar. Sepatu kulitnya mengetuk lantai marmer, memecah keheningan lorong hotel yang mulai dipadati tamu. Tanpa perlu aba-aba, percakapan orang-orang di sekitarnya terhenti. Seolah menyadari ada predator yang tengah lewat, mereka secara refleks menepi, merapatkan tubuh ke dinding, dan menundukkan pandangan. Alexio berjalan membelah kerumunan itu tanpa sudi menoleh sedikit pun.

Begitu ia menginjakkan kaki di lobi utama, Reno, asisten kepercayaannya, langsung menghampiri dengan langkah cepat dan menunduk hormat.

“Maafkan kelalaian saya, Tuan Muda. Jaringan komunikasi di kawasan ini sengaja diacak sejak semalam. Saya baru berhasil menembus sistemnya pagi ini,” lapor Reno, suaranya tertahan oleh rasa bersalah yang kentara.

Alexio hanya mengangguk pelan. Ia tahu kapasitas Reno. “Lupakan yang sudah berlalu. Siapa dalang dibalik jebakan ini?”

"Nona Jessie, Tapi sudah meninggalkan Jenewa sejak dini hari. Namun, saya sudah menanamkan pelacak di kendaraannya. Saat ini, posisinya bergerak melintasi perbatasan menuju Zurich," jawab Reno seraya menyodorkan tablet digital yang menampilkan titik merah berkedip di atas peta.

Alexio menghentikan langkah tepat di depan pintu kaca utama. Sinar matahari pagi memantul dari kacamata hitam yang baru saja ia kenakan. “Sudah kuduga. Biarkan wanita itu merasa aman sejenak. Dia hanya pion kecil murahan yang dikirim untuk membaca pergerakanku."

“Apa instruksi Anda selanjutnya, Tuan?” Reno menunggu dengan siaga.

Pikiran Alexio justru melayang kembali pada sosok gadis yang dengan gemetar dan nekat menariknya ke dalam kamar semalam. Wajah pucatnya yang memerah, napasnya yang memburu, serta fakta bahwa gadis itu menyerahkan kesuciannya di sana, sebuah kepolosan langka yang terasa seperti anomali di tengah lingkaran dunia malam yang kotor ini.

"Cari tahu segalanya tentang wanita yang bersamaku di kamar 408 semalam. Semuanya. Tanpa celah."

Meski terkejut, Reno dengan cepat menguasai diri. “Baik, Tuan Muda. Segera saya proses.”

Sebuah sedan hitam mengilap telah menanti di pelataran. Saat pintu dibukakan, Alexio melirik sekilas ke arah kemegahan Hotel Royal Bellevue.

"Kau pikir kita bisa berpisah begitu saja setelah kau menyerahkan dirimu padaku? Di mana pun kau bersembunyi, kau milikku."

Pintu tertutup rapat. Mesin menderu buas, membawa sang penguasa Van Der Berg Group membelah arus lalu lintas Jenewa.

***

***

***

Di sisi lain kota, Clara duduk memeluk lututnya erat-erat di sudut kamar paling gelap di kediaman keluarga Smith. Ia baru saja menyelinap masuk melalui pintu dapur. Tubuhnya kini berbalut sweter kebesaran berlapis kerah tinggi, berusaha keras menyembunyikan jejak-jejak kemerahan di tubuhnya.

Bahu gadis itu bergetar. Air mata meluncur tanpa suara membasahi pipinya yang pucat. Hatinya perih; ia baru saja dikhianati oleh keluarga tempatnya bernaung, dan malam tadi, mahkota berharganya terenggut secara paksa oleh keadaan. Namun, di balik rasa hancur itu, sebersit rasa lega diam-diam menyusup. Jika ia tidak nekat menarik pria asing itu, nasibnya pasti jauh lebih menjijikkan di bawah tindihan Tuan Alfonso.

“Setidaknya … dia tidak menyiksaku,” gumam Clara lirih, mengusap kasar air matanya.

Ia ingat cengkeraman tangan pria bermata abu-abu itu, menuntut, namun anehnya memberi rasa aman. Paras tampan yang dingin namun samar masih membekas di pelupuk mata.

Clara buru-buru menggeleng, berusaha menepis bayangan itu. Mereka hidup di dunia yang berbeda. Malam itu adalah mimpi buruk yang harus ia kubur dalam-dalam.

BRAK!

Gedoran kasar yang disusul bantingan pintu membuat jantung Clara nyaris melompat. Nyonya Smith berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan sedingin es. Di belakangnya, Sofia menyeringai, menatap Clara layaknya melihat sampah.

"Menyelinap masuk lewat dapur seperti pencuri di rumahku?" suara Nyonya Smith mengalun sinis, memecah keheningan. "Tuan Alfonso nyaris menghancurkan kesepakatan bisnis kita pagi ini. Apa kau sadar berapa juta dolar yang melayang karena kebodohanmu semalam, Clara?"

Clara menelan ludah. Ia bertumpu pada dinding, perlahan memaksakan diri untuk berdiri. Meski kedua lututnya gemetar, ia menegakkan punggungnya. “Kalian tidak berhak menjual ku seperti barang dagangan.”

Sofia mendecih, melangkah maju sambil mengamati penampilan Clara dari atas ke bawah. "Menjual? Jangan naif. Kami sedang memberimu fungsi di rumah ini. Lagipula, melihat keadaanmu yang berantakan ..." Mata Sofia menyipit licik, menangkap kerah sweter Clara yang sedikit tersingkap.

"...sepertinya kau sangat menikmati pelarianmu semalam. Siapa yang menampungmu di jalanan? Jangan bilang kau memberikannya secara gratis setelah kami memberimu makan bertahun-tahun."

Dada Clara naik turun, napasnya memburu menahan amarah yang meledak di kepalanya. "Aku tahu posisiku! Aku diam dan menahan diri atas semua perlakuan buruk kalian selama ini! Tapi aku bukan pelacur yang bisa kalian serahkan pada lintah darat brengsek itu demi uang!"

Nyonya Smith tidak terpancing amarah. Wanita paruh baya itu justru tersenyum miring, lalu melemparkan sebuah map tipis. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan, menghantam dada Clara sebelum jatuh berserakan di lantai.

“Karena kau merusak rencana dengan Tuan Alfonso, kau yang harus menutup kerugiannya,” ucap Nyonya Smith dengan nada datar yang mengerikan. “Minggu depan, kau akan menebus kesalahanmu itu. Kali ini, penjagaannya tidak akan longgar. Kau milik keluarga ini sampai kami memutuskan kau tak lagi berguna.”

Nyonya Smith berbalik pergi, diikuti tawa pelan Sofia yang terasa merobek telinga.

BAM!

Pintu kembali ditutup rapat, dikunci dari luar. Clara merosot luruh ke lantai. Napasnya tersengal. Tangannya yang gemetar meraih salah satu kertas perjanjian itu, meremasnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

Ia menoleh ke jendela, menatap langit Jenewa yang muram dan tertutup awan kelabu.

“Tidak …,” gumam Clara, sorot matanya yang semula redup kini berkilat oleh keberanian yang baru lahir. “Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan hidupku lagi.”

Bersambung ....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!