Indonesia
NovelToon NovelToon

Legenda Teratai Es Abadi

Bab 1: Kebangkitan di Dasar Jurang

​Hujan badai mengguyur Gunung Puncak Hijau tanpa ampun. Kilatan petir membelah langit malam, menyinari sesosok tubuh remaja yang tergeletak bersimbah darah di atas bebatuan tajam di dasar Jurang Kematian.

​Pemuda itu adalah Ye Chen. Pakaian putihnya kini compang-camping dan berubah warna menjadi merah pekat. Seluruh tubuhnya remuk, tulang rusuknya patah, dan napasnya hanya tersisa seutas benang. Udara dingin yang menusuk tulang perlahan-lahan mulai merenggut kesadarannya.

​"Apakah semuanya akan berakhir di sini...?" batin Ye Chen pahit.

​Ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Senyum kejam sepupunya, Ye Feng, tergambar jelas di benaknya. Ye Feng tidak hanya merampas Pil Pengumpul Qi peninggalan ayahnya, tetapi juga menginjak dada Ye Chen sambil tertawa meremehkan.

​"Dasar sampah cacat! Selama meridianmu hancur, kau hanya akan menjadi noda bagi Klan Ye. Mati saja kau di dasar jurang!"

​Kata-kata itu terngiang, membakar hati Ye Chen dengan rasa tidak terima. Selama enam belas tahun ia dihina, diludahi, dan diinjak-injak hanya karena terlahir dengan meridian yang tersumbat, membuatnya tidak bisa menyerap energi spiritual (Qi) dari alam.

​Tanpa ia sadari, darah segar yang terus mengalir dari luka di dadanya merembes ke sebuah liontin batu giok hitam kusam yang selalu ia kalungkan. Itu adalah satu-satunya benda peninggalan ibunya yang hilang misterius sepuluh tahun lalu.

​Tiba-tiba, saat kesadarannya hampir sepenuhnya tertelan kegelapan, giok hitam itu bergetar hebat. Panas yang luar biasa meledak dari dadanya, seolah-olah ada matahari kecil yang ditanam di sana.

​Sebuah suara purba, berat, dan dipenuhi dengan tekanan aura yang menakutkan, bergema langsung di dalam tengkoraknya, mengalahkan suara guntur di langit.

​"Bocah, darahmu dipenuhi dengan amarah dan keengganan yang sangat besar. Beritahu kursi ini... apakah kau ingin mati membusuk sebagai serangga pengemis, atau hidup untuk menginjak-injak langit dan bumi?"

​Mata Ye Chen terbelalak lemah. Di tengah pandangannya yang kabur, cahaya keemasan bermanifestasi menjadi bayangan naga ilusi raksasa yang melayang di atas tubuhnya. Sisik naga itu memancarkan aura kuno yang membuat udara di sekitar jurang seakan membeku.

​"Si... siapa kau?" bisik Ye Chen, darah menetes dari sudut bibirnya.

​"Aku adalah Ao Tian, Penguasa Naga dari Era Kehancuran yang tersegel di dalam giok itu," dengus naga itu arogan. "Jawab pertanyaanku, Semut Kecil. Jika kau ingin hidup dan membalas dendam, serahkan tubuh dan jiwamu pada bimbinganku!"

​Mendengar kata "balas dendam", secercah cahaya kehidupan kembali menyala di mata redup Ye Chen. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mengepalkan tangannya yang bergetar hebat.

​"Aku tidak ingin mati. Aku ingin mereka semua... berlutut dan membayar darah ini!"

​Bayangan naga itu tertawa keras hingga membuat bebatuan jurang berguguran. "Bagus! Tekad yang keras kepala! Kalau begitu, bersiaplah. Untuk berlatih Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi, aku harus menghancurkan sisa meridianmu yang cacat dan membangunnya kembali dari awal. Rasanya akan sepuluh kali lebih menyakitkan daripada kematian!"

​"Lakukan!" geram Ye Chen tanpa ragu.

​Cahaya keemasan tiba-tiba melesat masuk ke tengah dahi Ye Chen. Energi spiritual yang sangat masif membanjiri tubuhnya. Suara tulang yang patah dan diremukkan secara paksa terdengar mengerikan, disusul oleh jeritan kesakitan Ye Chen yang membelah keheningan malam di Jurang Kematian.

Bab 2: Kelahiran Kembali Sang Naga

​Sinar matahari pagi perlahan menyusup ke dasar Jurang Kematian, mengusir sisa-sisa badai semalam. Di atas sebuah batu datar raksasa, Ye Chen perlahan membuka matanya.

​Hal pertama yang ia rasakan adalah bau busuk yang menyengat. Ia menunduk dan menyadari seluruh kulitnya tertutup lapisan lumpur hitam pekat yang lengket. Ini adalah kotoran dan racun yang dikeluarkan dari dalam tubuhnya selama proses pembentukan ulang meridian semalaman.

​Namun, di balik bau busuk itu, Ye Chen merasakan sensasi yang belum pernah ia alami seumur hidupnya: kekuatan.

​Rasa sakit dari tulang rusuknya yang patah telah lenyap tanpa bekas. Ia bangkit berdiri dan melompat ke arah sungai kecil yang mengalir di dasar jurang untuk membersihkan diri. Saat kotoran hitam itu luruh, tampaklah kulit yang kini sekeras tembaga namun sehalus batu giok. Otot-ototnya terbentuk sempurna, memancarkan vitalitas yang luar biasa.

​"Jangan terlalu cepat berpuas diri, Bocah." Suara Ao Tian tiba-tiba bergema kembali di benaknya, kali ini terdengar lebih rileks. "Lumpur hitam itu hanya sebagian kecil dari kotoran fana di tubuhmu. Namun, meridian cacatmu kini telah digantikan oleh Meridian Naga Kuno."

​Ye Chen memejamkan mata dan mencoba merasakan aliran di dalam tubuhnya. Benar saja, jika dulu ia tidak bisa merasakan energi spiritual (Qi) sama sekali, kini ia bisa merasakan untaian Qi mengalir deras di pembuluh darahnya seperti sungai yang bergemuruh.

​"Kekuatan ini... Tahap Pengumpul Qi tingkat ketiga?!" Ye Chen terkesiap. Dalam satu malam, ia tidak hanya sembuh, tetapi langsung melompati tiga tahap kultivasi awal. Sepupunya, Ye Feng, yang dianggap berbakat, butuh waktu tiga tahun untuk mencapai tahap ini.

​"Hmph, itu hanya permulaan dari Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi," dengus Ao Tian bangga. "Kekuatan fisikmu sekarang setara dengan banteng iblis. Cobalah pukul batu di depanmu itu."

​Tanpa ragu, Ye Chen memusatkan Qi ke tangan kanannya. Ia menarik napas dalam, memutar pinggulnya, dan melontarkan pukulan keras ke arah batu besar setinggi manusia di tepi sungai.

​BAM!

​Batu raksasa itu bergetar hebat sebelum akhirnya retak dan hancur berkeping-keping, meledak menjadi debu di udara. Mata Ye Chen bergetar melihat tangannya sendiri. Tidak ada luka gores sedikit pun di buku-buku jarinya.

​"Luar biasa..." gumamnya.

​"Sekarang, berhentilah bermain-main," perintah Ao Tian. "Dasar jurang ini memiliki energi spiritual yang terlalu tipis. Gunakan kekuatan barumu untuk memanjat tebing itu. Sudah waktunya kau menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya pantas disebut sampah."

​Mendengar itu, kilatan dingin melintas di mata Ye Chen. Bayangan wajah meremehkan Ye Feng dan para tetua klan yang membuangnya kembali muncul. Ia mendongak, menatap dinding tebing curam yang menjulang tinggi ke arah awan.

​"Ye Feng, Klan Ye... bersiaplah. Ye Chen yang kalian kenal sudah mati semalam," bisik Ye Chen dengan nada sedingin es.

​Ia mengambil napas panjang, mengerahkan Qi ke kedua kakinya, dan melompat setinggi tiga meter ke arah tebing, menancapkan jari-jarinya ke dinding batu layaknya cakar naga.

​Matahari mulai terbenam saat jari-jari Ye Chen akhirnya mencengkeram tepi tebing. Dengan satu tarikan napas, ia melontarkan tubuhnya ke atas dan mendarat dengan kokoh di tanah. Angin malam berhembus, menerbangkan rambut hitamnya yang sedikit panjang.

​Di kejauhan, kemegahan kediaman Klan Ye tampak bercahaya di bawah sinar lampion. Tempat itu dulunya adalah rumah, namun bagi Ye Chen sekarang, itu hanyalah sarang serigala. Berkat pandangan matanya yang tajam akibat Meridian Naga, ia menghindari para penjaga dengan mudah dan menyelinap ke area pelayan tempat halaman kecilnya berada.

​Halamannya sangat kumuh, terletak di sudut paling terpencil dari kediaman klan. Namun, saat ia mendekati pintunya yang reyot, langkah Ye Chen terhenti. Telinganya menangkap suara pecahan barang dan tawa kasar dari dalam kamarnya.

​"Cari yang benar! Tuan Muda Feng bilang si sampah itu pasti menyembunyikan sisa kepingan Batu Spiritual milik ayahnya di suatu tempat!" suara serak seorang pria terdengar dari dalam.

​"Tenang saja, Kak Wang. Lagipula orangnya sudah jadi makanan gagak di dasar jurang. Kita punya banyak waktu untuk membongkar tempat rongsokan ini," timpal suara lain yang lebih cempreng.

​Mata Ye Chen menyipit. Mereka adalah Wang Ba dan Li Si, dua pelayan tingkat tinggi yang sering menjadi anjing pelacak Ye Feng. Keduanya berada di Tahap Pengumpul Qi tingkat kedua dan sering menyiksa Ye Chen di masa lalu.

​Dengan satu tendangan pelan, pintu kayu reyot itu terbuka. KRAK!

​Kedua pelayan itu berputar serentak. Saat mereka melihat sosok pemuda jangkung dengan pakaian putih usang yang berlumuran noda darah kering berdiri di ambang pintu, wajah mereka pucat pasi.

​"Hii! H-hantu!" Li Si menjerit, kakinya gemetar hebat hingga ia menjatuhkan kotak kayu milik Ye Chen.

​"Tutup mulutmu!" bentak Wang Ba, meski suaranya ikut bergetar. Ia menghunus belati dari pinggangnya. "Siapa kau?! Jangan berpura-pura menjadi hantu di depanku! Si sampah Ye Chen sudah mati semalam!"

​Ye Chen melangkah masuk, auranya sedingin es. "Kalian mencariku?"

​Mendengar suara yang sangat familiar itu, mata Wang Ba terbelalak. Namun, menyadari bahwa sosok di depannya bernapas dan memiliki bayangan, ketakutannya perlahan berubah menjadi kemarahan.

​"Ternyata kau belum mati! Entah keberuntungan anjing apa yang membuatmu selamat dari tebing, tapi karena kau berani menampakkan diri, aku akan mematahkan kedua kakimu dan menyerahkanmu pada Tuan Muda Feng!"

​Wang Ba menerjang maju. Belatinya menusuk langsung ke arah dada Ye Chen, membawa hembusan angin spiritual yang cukup tajam. Di masa lalu, serangan ini pasti akan menembus tubuh Ye Chen tanpa perlawanan.

​Namun sekarang, di mata Ye Chen, gerakan Wang Ba terlihat sangat lambat.

​Tepat sebelum belati itu mengenainya, tangan kanan Ye Chen melesat seperti kilat. Jari-jarinya mencengkeram pergelangan tangan Wang Ba bagaikan catut besi.

​"A-apa?!" Wang Ba tersentak. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi cengkeraman Ye Chen tidak bergeser satu milimeter pun.

​"Dulu, kau menggunakan tangan ini untuk mencuri jatah makanku, kan?" bisik Ye Chen di telinga Wang Ba.

​KRAK!

​"AAAAAARRRGH!" Wang Ba menjerit histeris saat tulang pergelangannya remuk di bawah tekanan jari Ye Chen. Belatinya jatuh berdenting ke lantai. Tanpa memberi ampun, Ye Chen melontarkan tendangan lutut tepat ke perut Wang Ba, membuat pria itu terlempar menabrak dinding dan langsung pingsan dengan mulut memuntahkan darah.

​Melihat pimpinannya dikalahkan hanya dalam satu tarikan napas, Li Si jatuh terduduk. Air seni merembes dari celananya. "T-Tuan Muda Chen... a-ampuni saya! Saya hanya disuruh oleh Tuan Muda Feng!"

​Ye Chen berjalan perlahan mendekati Li Si, menatapnya dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah.

​"Dengar baik-baik," ucap Ye Chen dingin. "Bawa si cacat itu dan sampaikan pesanku pada majikan anjingmu. Katakan padanya: Lehernya sudah ku-pesan. Sebentar lagi, aku sendiri yang akan datang untuk memotongnya."

​Li Si mengangguk panik seperti ayam mematuk beras, lalu menyeret tubuh Wang Ba keluar dari kamar dengan susah payah, berlari terbirit-birit menghilang ke dalam kegelapan malam.

​"Hahaha! Bagus! Naga sejati tidak pernah menunjukkan belas kasihan pada semut yang menghalangi jalannya," tawa Ao Tian bergema di benak Ye Chen. "Tapi Bocah, membuat keributan ini artinya kau butuh kekuatan yang lebih besar secepatnya. Jika kau tidak ingin mati saat bertemu petinggi klan, besok kita harus pergi ke Hutan Binatang Buas untuk mencari sumber daya!"

​Ye Chen menatap tangannya sendiri, merasakan darahnya mendidih karena antisipasi.

Jalan Terjal Sang Naga

​Keheningan kembali menyelimuti kamar reyot itu setelah kepergian Li Si. Ye Chen menatap tangannya, merasakan aliran Qi yang bergelora di dalam tubuhnya. Mengalahkan seorang kultivator Tahap Pengumpul Qi tingkat kedua yang dulu selalu menyiksanya terasa seperti mimpi.

​Namun, sebelum senyum puas sempat terkembang di wajahnya, suara dingin Ao Tian menyiramnya bagaikan air es.

​"Bocah, jika kau merasa sudah hebat hanya karena mengalahkan seekor anjing penjaga, kau benar-benar mengecewakanku."

​Ye Chen mengerutkan kening, senyumnya menghilang. "Aku tahu ini baru permulaan, Senior Ao Tian. Tapi lompatan kekuatanku dalam satu malam membuktikan bahwa Seni Transformasi Sembilan Naga Ilahi tidak tertandingi."

​"Hmph, dasar bodoh!" omel Ao Tian dari dalam giok hitam. "Kau bisa langsung melompat ke tingkat ketiga semata-mata karena energi pil obat yang kau konsumsi selama enam belas tahun lalu tertahan di tubuhmu yang cacat. Saat aku membuka Meridian Nagamu semalam, energi yang menumpuk belasan tahun itu meledak sekaligus. Itu adalah keberuntungan satu kali seumur hidup!"

​Ye Chen tertegun. "Maksud Senior, kultivasiku selanjutnya tidak akan secepat ini?"

​"Bukan hanya tidak secepat ini, tapi akan jauh lebih sulit dari manusia biasa!" nada suara Ao Tian menjadi sangat serius. "Meridian manusia biasa ibarat sebuah sungai kecil. Mudah untuk dipenuhi dengan air. Tapi Meridian Naga yang kini kau miliki ibarat lautan tak bertepi! Untuk menerobos satu tingkat saja, kau membutuhkan energi spiritual dan sumber daya sepuluh kali—bahkan dua puluh kali—lipat lebih banyak dari jenius manapun di benua ini!"

​Fakta ini menghantam Ye Chen dengan keras. Pantas saja ia merasa tubuhnya masih sangat "lapar" akan energi spiritual meskipun ia sudah mencapai tingkat ketiga. Jika sepupunya, Ye Feng, yang kini berada di Tahap Pengumpul Qi tingkat kelima didukung oleh seluruh kekayaan Klan Ye, bagaimana Ye Chen bisa menyusulnya dengan tangan kosong?

​"Sepuluh kali lipat sumber daya..." gumam Ye Chen sambil tersenyum pahit. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya yang kumuh. Ia bahkan tidak punya satu keping koin emas pun, apalagi Batu Spiritual atau Pil Pengumpul Qi.

​"Kultivasi adalah jalan menentang langit, merampas kekayaan alam," lanjut Ao Tian, suaranya kini sedikit melembut melihat raut wajah Ye Chen. "Kau tidak memiliki klan yang mendukungmu, maka kau harus merebutnya sendiri. Alam liar, bahaya, dan pertarungan hidup mati adalah satu-satunya guru yang bisa mempercepat jalanmu."

​Mata Ye Chen kembali memancarkan tekad yang membara. Benar. Selama enam belas tahun ia bisa bertahan hidup sebagai sampah yang dihina, masa ia harus menyerah sekarang saat ia sudah memiliki harapan?

​"Aku mengerti," kata Ye Chen mantap. Ia berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah papan kayu longgar di bawah tempat tidurnya, dan mengeluarkan sebilah belati besi berkarat peninggalan ayahnya yang sengaja ia sembunyikan selama ini. Senjatanya sangat menyedihkan, tapi hanya ini yang ia miliki.

​"Hutan Binatang Buas terletak seratus mil di utara Kota Puncak Hijau," ucap Ye Chen sambil menyelipkan belati itu ke pinggangnya, lalu mengambil sebuah jubah hitam berkerudung untuk menutupi identitasnya. "Di sana ada banyak tanaman herbal spiritual dan monster tingkat rendah. Kita akan mulai dari sana."

​"Pilihan yang tepat. Di dalam pertarungan berdarah, fondasi kultivasimu akan semakin kokoh. Bersiaplah, Bocah. Mulai besok, aku akan melatihmu hingga kau berharap kau tidak pernah selamat dari dasar jurang itu!"

​Malam itu, tanpa menunggu pagi datang, sosok berkerudung hitam menyelinap keluar dari gerbang belakang Klan Ye bagaikan bayangan. Ye Chen melangkah meninggalkan zona nyamannya, memulai perjalanan panjang dan lambat di jalan kultivasi yang dipenuhi tulang belulang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!