Indonesia
NovelToon NovelToon

Dari Sampah Jadi Dewa: Sistem Daur Ulang Multiverse

Bab 1

Panas terik matahari siang ini benar-benar terasa membakar kulit kepala.

Bara Pratama mengusap keringat yang membasahi dahi dan lehernya dengan ujung kaosnya yang sudah kusam.

Tangan kanannya mencengkeram erat tali karung goni yang berisi penuh botol plastik bekas dan potongan besi.

Sementara tangan kirinya memeluk sebuah tungku logam kotor yang sangat berat.

Tungku itu dia temukan di tumpukan sampah pembuangan pabrik tua di ujung jalan.

Tungku ini warnanya hitam penuh karat dan sama sekali tidak terlihat berharga.

"Barang rongsok ini berat sekali, pasti timbangannya lumayan nanti sore," batin Bara mencoba menyemangati dirinya sendiri.

"Kalau uangnya lumayan, aku bisa beli ayam bakar kesukaan Dela hari ini."

Membayangkan senyum kekasihnya itu membuat rasa lelah di tubuh Bara sedikit berkurang.

Dia rela memulung barang bekas dari pagi buta sampai siang bolong begini demi memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.

Bara mempercepat langkah kakinya menuju rumah kontrakan sempit yang selama ini dia sewa.

Namun langkah Bara tiba-tiba terhenti saat dia berbelok masuk ke dalam gang rumahnya.

Sebuah mobil sedan hitam mewah yang mengkilap terparkir tepat di depan pintu kontrakannya.

Bara mengerutkan keningnya karena mobil seperti itu sangat tidak cocok berada di lingkungan kumuh ini.

"Mobil siapa ini?" gumam Bara penuh tanda tanya.

"Apa ada bos pengepul besar dari kota yang datang karena butuh banyak stok besi tua?"

Pikiran tentang pelanggan besar langsung membuat wajah Bara cerah dan penuh harap.

Dengan tergesa-gesa Bara meletakkan karung goni dan tungku logam itu tepat di samping pintu depan.

Tangannya langsung meraih gagang pintu kayu yang memang sudah agak rusak dan tidak pernah dikunci rapat itu.

Cklek!

Pintu terbuka dan Bara langsung melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sempit.

"Dela, apa di dalam ada tam..."

Kalimat Bara langsung terputus dan berhenti di tenggorokannya.

Tidak ada bos pengepul yang sedang menunggunya untuk membeli barang rongsokan.

Di atas sofa berwarna hijau itu, Dela sedang duduk di pangkuan seorang pria asing.

Pakaian kekasihnya itu terlihat berantakan dengan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka.

Tangan pria asing itu memeluk pinggang Dela dengan sangat mesra.

Bara mematung di tempatnya berdiri dengan mata yang melebar sempurna.

Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat pemandangan menjijikkan di depan matanya sendiri.

Mendengar suara pintu terbuka, Dela dan pria itu menoleh ke arah Bara.

"Bara?" panggil Dela tanpa ada rasa panik sedikit pun di wajah cantiknya.

Wanita itu sama sekali tidak berteriak atau langsung melompat menjauh dari pria tersebut.

Dela hanya merapikan pakaiannya dengan santai dan perlahan berdiri dari pangkuan pria itu.

Sikap Dela seolah-olah Bara hanyalah tukang pos yang kebetulan lewat, bukan pacar yang sudah hidup bersamanya.

Pria asing di sebelah Dela ikut berdiri sambil merapikan kemeja mahalnya.

Pria itu menatap penampilan Bara dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan yang sangat merendahkan.

"Dela, apa-apaan semua ini?" suara Bara bergetar menahan luapan emosi.

Kedua tangan Bara kini sudah mengepal sangat kuat di sisi tubuhnya.

"Siapa pria brengsek ini, Dela?!" teriak Bara dengan mata yang mulai memerah.

Dela membuang nafas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah jengah.

"Baguslah kalau kamu pulang sekarang, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari waktu untuk bicara," ucap Dela sangat dingin.

Dela menunjuk pria berpenampilan mewah di sebelahnya itu dengan bangga.

"Kenalkan, namanya Aris."

"Aris ini adalah pacarku."

Ucapan Dela barusan bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menghantam kepala Bara.

"Pacarmu?" Bara melangkah maju dengan napas yang mulai memburu.

"Kalau pria brengsek ini pacarmu, lalu selama ini aku ini apa, Dela?!"

"Setiap hari aku banting tulang mencari rongsokan dari pagi sampai malam buat menuruti semua maumu!"

"Aku yang bayar sewa kontrakan ini, aku yang belikan kamu makan, terus posisiku ini apa?!" teriak Bara meledak-ledak.

Dela mendecakkan lidahnya dan menatap Bara dengan tatapan penuh rasa jijik.

"Posisi kamu? Kamu itu cuma cadangan, Bara."

"Kamu itu cuma ban serep di hidupku saat aku sedang susah."

"Cadangan..." Bara mengulang kata itu dengan suara lirih dan tatapan kosong.

Otaknya tidak sanggup mencerna betapa kejamnya kata-kata yang keluar dari mulut wanita yang dia cintai.

"Iya, cadangan, tolong realistis sedikit jadi laki-laki," lanjut Dela dengan senyum sinisnya.

"Kamu pikir aku mau selamanya hidup melarat sama tukang rongsok miskin sepertimu?"

"Aku ini perempuan, aku butuh baju bagus, butuh perawatan, butuh jalan-jalan ke tempat mewah."

"Kamu pikir uang hasil jual botol bekasmu itu bisa menghidupiku?"

"Aku cuma memanfaatkan kebodohanmu selama ini karena aku butuh tempat tinggal gratis."

"Tapi sekarang aku sudah punya Aris yang bisa memberikan semua gaya hidup yang aku mau."

"Mobil mewah yang ada di depan rumahmu itu adalah mobil miliknya."

Aris tertawa kecil mendengar penjelasan Dela yang begitu menyakitkan.

Pria kaya itu maju satu langkah seolah ingin menantang Bara secara langsung.

"Jadi ini tukang pungut sampah yang sering kamu ceritakan itu, Sayang?" ucap Aris dengan nada mengejek.

"Kasihan sekali hidupmu ini, sudah miskin, bodoh, bau sampah lagi."

"Seharusnya kamu sadar diri kalau wanita secantik Dela itu tidak pantas bersanding dengan gembel."

Darah Bara mendidih mendengar semua hinaan itu.

Harga dirinya sebagai seorang laki-laki benar-benar diinjak-injak sampai hancur berkeping-keping.

Amarah yang membuta langsung menguasai seluruh kewarasan Bara saat itu juga.

"Tutup mulut busukmu, Bangsat!" teriak Bara dengan sangat keras.

Bara langsung mengangkat kepalan tangan nya dan siap untuk metinju dan menerjang ke arah wajah sombong Aris.

Namun Aris ternyata jauh lebih siap dan sudah membaca pergerakan amatir Bara.

Sebelum tinju Bara mendarat, Aris dengan cepat memiringkan tubuhnya untuk menghindar.

Bugh!

Aris melontarkan pukulan balik yang sangat keras tepat menghantam ulu hati Bara.

"Ugh!"

Nafas Bara seketika putus dan matanya melotot menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.

Bara terhuyung mundur, tapi Aris tidak memberikan kesempatan padanya untuk bernafas.

Brak!

Aris mendaratkan satu tendangan keras ke arah lutut Bara hingga menimbulkan suara patahan yang ngilu.

Bara langsung kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai dengan suara berdebum.

"Aris, sudah cukup!" pekik Dela tiba-tiba.

"Jangan pukuli dia di dalam sini, nanti darah kotornya menodai lantai dan sepatumu."

Bara yang sedang meringkuk menahan sakit di lantai hanya bisa meneteskan air mata mendengar ucapan Dela.

Wanita itu sama sekali tidak mengkhawatirkannya, dia justru lebih peduli pada lantai dan sepatu pria lain.

Aris merapikan kerah kemejanya dan menatap Bara yang sedang terbatuk-batuk mencari udara.

"Dengar baik-baik, Sampah," ancam Aris dengan nada suara yang sangat dingin.

"Jangan pernah berani muncul lagi di hadapan Dela mulai detik ini."

"Kalau aku sampai melihat mukamu lagi, aku pastikan bukan cuma perutmu yang hancur."

Aris lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Dela dengan lembut.

"Ayo kita pergi dari tempat kumuh ini, Sayang, udara di sini membuatku mual," ajak Aris.

Dela mengangguk setuju dan langsung berjalan melangkah melewati tubuh Bara begitu saja.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Bara.

Bab 2

Sesaat kemudian terdengar suara mesin mobil dihidupkan dari luar rumah.

Diikuti dengan suara decitan ban mobil mewah itu yang melaju pergi meninggalkan pekarangan.

Kini suasana rumah kontrakan itu menjadi sangat sunyi dan sepi.

Bara masih tengkurap di lantai sambil memegangi perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk.

Dia berusaha merangkak keluar pintu dengan susah payah untuk mencari udara segar.

Mata Bara menatap ke arah jalanan gang yang sudah kosong melompong.

Dela benar-benar pergi meninggalkannya begitu saja setelah semua yang dia lakukan.

Tiba-tiba rasa sakit di dada dan perutnya terasa semakin parah.

Sesuatu yang hangat dan berbau amis perlahan naik dari perut menuju tenggorokannya.

"Uhuk! Uhuk!"

Bara terbatuk dengan sangat keras hingga dadanya terguncang.

Darah segar langsung menyembur keluar dari mulut Bara dan jatuh memercik ke tanah.

Sebagian besar cipratan darah segar itu mengenai permukaan tungku logam berkarat yang tadi dia letakkan di depan pintu.

Bara mengusap kasar sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar hebat.

"Dela... Aris... kalian berdua benar-benar iblis," rutuk Bara dengan suara serak yang penuh dendam.

"Aku bersumpah akan membalas semua perbuatan kalian ini."

Saat Bara mencoba memaksakan dirinya untuk duduk, matanya menangkap sebuah keanehan.

Darah segar yang tadi menyiprat ke permukaan tungku logam itu tidak menetes jatuh ke tanah.

Darah merah itu justru perlahan meresap ke dalam pori-pori tungku logam seolah-olah sedang diserap.

Detik berikutnya, lapisan karat tebal di seluruh permukaan tungku itu mulai mengelupas dengan sendirinya.

Serpihan karat itu rontok dan menampakkan kilau logam biru keperakan yang sangat bersih dan futuristik.

Sebuah pendar cahaya berwarna biru redup mulai memancar keluar dari dalam lubang tungku tersebut.

Bara mematung di tempatnya dan rasa sakit di tubuhnya sejenak terlupakan karena kaget.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada benda rongsokan ini?" batin Bara kebingungan.

Tiba-tiba saja, sebuah suara mekanis yang sangat dingin dan tanpa emosi bergema jelas di dalam kepalanya.

Suara aneh itu tidak masuk melalui telinga, melainkan langsung berbicara di dalam pusat otaknya.

[DNA terdeteksi.]

[Otentikasi garis keturunan Tuan berhasil dilakukan.]

[Memulai proses inisiasi Sistem Daur Ulang Multiverse.]

[10 persen... 50 persen... 100 persen.]

[Sistem berhasil diaktifkan dengan sempurna.]

Bara tersentak kaget dan langsung jatuh terduduk di tanah.

Matanya menatap liar ke sekeliling halaman rumahnya yang kosong untuk mencari sumber suara itu.

"Siapa itu?! Siapa yang baru saja bicara?!" teriak Bara panik dan waspada.

Tepat setelah Bara berteriak, sebuah layar semi transparan berwarna biru tiba-tiba muncul di udara.

Layar biru itu mengambang tepat di depan wajah Bara dan memunculkan beberapa baris tulisan berwarna putih bercahaya.

[Selamat datang, Tuan Bara Pratama.]

[Anda telah secara resmi terikat dengan Sistem Daur Ulang Multiverse.]

Bara mengucek kedua matanya dengan kasar karena mengira dirinya sedang berhalusinasi akibat pukulan keras Aris.

Namun saat dia kembali membuka mata, layar biru itu masih tetap ada di sana dan bergerak mengikuti arah pandangannya.

[Informasi Sistem Dasar]

[Fungsi Utama: Sistem ini memungkinkan Tuan untuk mendaur ulang segala jenis barang rongsokan dari dunia nyata melalui Stasiun Daur Ulang Multiverse yang berlokasi di Sekte Harmoni pada Dimensi Kultivasi Level 3.]

[Mekanisme Kerja: Barang rongsokan yang berhasil didaur ulang akan diproses dan diubah menjadi pil kultivasi, material langka, atau artefak magis yang bernilai sangat tinggi di dimensi asal Tuan.]

Bara membaca rentetan kalimat penjelasan di layar itu dengan napas yang tertahan.

Dia memang sering membaca novel fantasi saat sedang istirahat siang, tapi mengalami hal mustahil seperti ini di dunia nyata terasa sangat gila.

Namun cahaya layar di depannya ini sangat nyata dan suara mekanis di kepalanya juga bukan ilusi.

"Barang rongsokan... bisa diubah menjadi barang bernilai sangat tinggi?" gumam Bara pelan.

Mata Bara perlahan beralih menatap karung goni miliknya yang berisi tumpukan botol plastik dan besi rongsok.

Kalau apa yang dikatakan sistem ini benar, berarti semua sampah ini adalah tambang emas yang tak ternilai harganya.

Rasa sakit di sekujur tubuhnya perlahan menghilang digantikan oleh pacuan adrenalin yang sangat kencang.

Bara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

Wajah sombong Aris dan tatapan penuh jijik dari Dela kembali terlintas dengan jelas di benaknya.

Mereka berani menghinanya habis-habisan hari ini hanya karena dia miskin dan tidak berdaya.

"Kalian menyebutku cadangan dan sampah, kan?" bisik Bara dengan tatapan mata yang kini berubah tajam menatap layar sistem.

"Biar kita buktikan sebentar lagi siapa yang akan benar-benar menjadi sampah di bawah kakiku."

Bara perlahan bangkit berdiri dengan tatapan penuh tekad.

Mulai hari ini nasibnya sebagai pemulung rendahan sudah berakhir.

Dia akan menggunakan kekuatan tungku sistem ini untuk menjadi orang yang berkuasa.

Dia akan membalas semua rasa sakit hatinya dan membuktikan bahwa tidak ada yang berhak menginjak-injak dirinya lagi.

"Sistem," panggil Bara dengan suara yang sangat mantap dan tenang.

"Beritahu aku bagaimana cara memulai proses daur ulang pertama ini."

Bab 3

Layar biru semi transparan itu masih mengambang dengan tenang di udara tepat di depan wajah Bara.

Cahaya birunya sedikit menerangi area teras rumah kontrakan yang mulai gelap karena matahari sore sudah mulai turun.

Bara masih berdiri mematung menunggu instruksi lebih lanjut dari sistem aneh yang baru saja terikat pada jiwanya ini.

[Menjawab Tuan.]

[Untuk memulai proses daur ulang, Tuan hanya perlu memasukkan barang rongsokan jenis apa saja ke dalam lubang Tungku Ajaib.]

Suara mekanis itu kembali bergema di dalam kepala Bara dengan nada yang datar dan sama sekali tanpa emosi.

Bara menelan ludahnya dengan susah payah sambil menatap ke arah tungku logam yang kini sudah mengkilap bersih dari karat.

Lubang di bagian atas tungku itu memancarkan cahaya biru redup yang berputar pelan seperti pusaran air kecil.

"Jadi aku cuma perlu membuang sampah milikku ke dalam pusaran cahaya itu?" tanya Bara memastikan kembali.

Dia merasa sedikit ragu karena cara kerjanya terdengar terlalu mudah dan sangat tidak masuk akal untuk diterima nalar.

[Benar, Tuan.]

[Sistem akan secara otomatis menganalisis struktur materi dari barang rongsokan yang dimasukkan tersebut.]

[Kemudian materi itu akan langsung dikirim ke Stasiun Daur Ulang Multiverse di Sekte Harmoni untuk ditukar dengan barang bernilai setara dari dimensi kultivasi tersebut.]

Penjelasan sistem itu memang terdengar masuk akal dalam teori, tapi tetap saja sulit dipercaya oleh akal sehat manusia biasa.

Bara perlahan menoleh ke arah karung goni miliknya yang tergeletak berdebu di lantai tanah.

Dia berjongkok pelan sambil meringis menahan sakit di perutnya yang masih berdenyut tajam akibat pukulan telak dari Aris tadi.

Tangan kanan Bara merogoh ke dalam karung goni dan mengeluarkan sebuah botol air mineral plastik yang bentuknya sudah penyok.

"Botol plastik bekas ini harganya paling cuma dua ribu perak sekilo kalau aku timbang ke pengepul," gumam Bara sambil memandangi botol kotor di tangannya.

"Apa barang murahan dan kotor seperti ini benar-benar bisa ditukar dengan sesuatu yang berharga dari dunia lain?"

Bara masih merasa sedikit skeptis, tapi di sisi lain dia juga tidak punya pilihan apa-apa lagi saat ini.

Hidupnya sudah hancur lebur dan harga dirinya sebagai laki-laki baru saja diinjak-injak sampai rata dengan tanah oleh Dela.

Dia tidak punya uang simpanan, tidak punya kekasih lagi, dan kini sekujur tubuhnya babak belur.

"Persetan dengan logika, toh aku juga tidak akan rugi apa-apa kalau cuma membuang satu botol plastik," ucap Bara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Bara mendekatkan botol plastik penyok itu tepat ke atas lubang tungku.

Begitu ujung botol plastik itu menyentuh cahaya biru, sebuah gaya tarik tak kasat mata langsung menyedot botol tersebut ke dalam.

Slup!

Botol plastik kotor itu langsung menghilang ditelan pusaran cahaya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Bara tersentak kaget dan buru-buru menarik tangannya menjauh dari mulut tungku agar tidak ikut tersedot.

"Benar-benar tersedot ke dalam..." gumam Bara dengan kedua mata yang terbelalak lebar.

Karena merasa penasaran dengan apa yang barusan terjadi, Bara kembali merogoh karung goninya dalam-dalam.

Kali ini dia mengambil sebuah gir sepeda motor bekas yang sudah berkarat parah dan terasa sangat berat di tangannya.

Bara langsung menjatuhkan bongkahan besi tua berkarat itu ke dalam pusaran cahaya biru di tungku.

Slup!

Sama seperti botol plastik yang sebelumnya, bongkahan besi berat itu langsung tertelan dan lenyap seketika.

[Mendeteksi material masuk ke dalam sistem.]

[Material 1: Plastik sintetis tingkat rendah dengan sisa air liur manusia biasa.]

[Material 2: Logam besi berkarat kelas sangat rendah dengan struktur molekul yang sudah mulai rapuh termakan waktu.]

Suara sistem kembali berbunyi di kepala Bara membacakan laporan analisis material yang baru saja dia masukkan.

Bara hanya bisa tersenyum kecut mendengar sistem menyebut barang hasil keringatnya sebagai materi tingkat sangat rendah.

"Ya namanya juga rongsokan dari tempat sampah pabrik, masa kau berharap aku memasukkan bongkahan berlian ke dalam sana," protes Bara pelan.

[Memulai proses sinkronisasi saluran dengan Stasiun Daur Ulang Multiverse di Sekte Harmoni.]

[Mencari barang buangan atau residu sampah dari Sekte Harmoni yang memiliki nilai energi setara dengan material milik Tuan.]

[Proses pertukaran antar dimensi sedang berlangsung... 10 persen... 50 persen... 100 persen.]

[Pertukaran berhasil dilakukan tanpa hambatan.]

Pusaran cahaya biru di dalam lubang tungku tiba-tiba bersinar menjadi sedikit lebih terang dari sebelumnya.

Dari dalam pusaran cahaya itu, dua buah benda perlahan melayang naik dan keluar menembus mulut tungku.

Benda pertama adalah sebuah pil bundar seukuran kelereng kecil yang memancarkan cahaya hijau yang sangat lembut.

Benda kedua adalah sebuah bongkahan logam kecil berwarna kuning keemasan yang berkilau tajam di bawah cahaya senja.

Kedua benda aneh itu melayang pelan lalu jatuh dengan suara dentingan kecil di atas tanah, tepat di depan lutut Bara yang sedang berjongkok.

[Selamat, Tuan berhasil mendaur ulang material tingkat rendah untuk pertama kalinya.]

[Sistem mendeteksi bahwa residu plastik dari botol bekas telah ditukar dengan sisa ampas penyulingan alkimia dari seorang murid luar di Sekte Harmoni.]

[Mendapatkan: 1 Pil Pemulihan Fisik Tingkat Rendah.]

[Sistem juga mendeteksi bahwa logam besi berkarat milik Tuan telah ditukar dengan serpihan tungku peleburan logam milik pandai besi Sekte Harmoni.]

[Mendapatkan: 1 Keping Emas Murni dengan berat 50 gram.]

Bara terdiam membisu menatap kedua barang yang tergeletak berjejer di atas tanah berdebu itu.

Nafasnya terasa tertahan di tenggorokan saat otaknya berusaha keras memproses ucapan sistem barusan.

"Pil pemulihan fisik dan... emas murni?" suara Bara bergetar hebat saat mengucapkannya.

Tangan kanannya yang ikut gemetar perlahan terulur untuk mengambil kepingan berwarna kuning mengkilap tersebut.

Saat jari-jarinya menyentuh permukaan benda itu, Bara bisa merasakan tekstur logam yang padat namun entah kenapa terasa sedikit lunak.

Bara langsung mendekatkan kepingan logam itu ke matanya, menelitinya dengan saksama di bawah sisa-sisa cahaya matahari sore.

Warnanya sangat kuning pekat dan khas, sama sekali tidak ada bintik karat atau kotoran hitam di permukaannya.

Ini benar-benar terlihat seperti emas murni.

Bara sering melihat emas di toko perhiasan pinggir jalan saat dia sedang membawa gerobak rongsokan, jadi dia hafal betul bagaimana warna emas asli.

Untuk lebih memastikannya, Bara mendekatkan emas itu ke mulutnya dan menggigit pelan ujung kepingan logam tersebut.

Gigi serinya langsung meninggalkan bekas lekukan kecil yang lumayan jelas di permukaan logam kuning itu.

"Ini asli... benda ini benar-benar emas asli!" seru Bara setengah berteriak menahan kegirangan di dadanya.

Jantungnya berdebar sangat kencang hingga rasanya mau melompat keluar mendobrak tulang rusuknya.

Otak Bara mulai menghitung cepat nominal uang di dalam kepalanya.

"Harga pasaran emas batangan murni saat ini sekitar satu juta rupiah lebih untuk setiap gramnya."

"Kalau sistem bilang kepingan ini beratnya lima puluh gram, berarti nilainya sekitar lima puluh juta rupiah tunai!"

Bara menatap emas di tangannya dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan rasa euforia yang meluap-luap.

Hanya dengan membuang satu gir motor rongsok yang harganya tidak sampai lima ribu perak di tempat loak, dia baru saja mendapatkan lima puluh juta rupiah!

Keuntungan gila yang dia dapatkan ini sangat tidak masuk akal, ini murni sebuah keajaiban dari langit yang jatuh ke pangkuannya.

Dengan lima puluh juta rupiah di tangannya saat ini, dia bukan lagi seorang pemulung miskin yang harus pusing memikirkan uang makan besok pagi.

"Dela... Aris... kalian berdua pasti akan sangat terkejut saat melihatku nanti," gertak Bara dengan senyum miring yang sangat dingin di wajahnya.

Bara lalu segera menyimpan kepingan emas mahal itu ke dalam saku celananya dalam-dalam, memastikan barang berharga itu aman dari incaran orang.

Pandangannya kini beralih fokus pada sebuah pil seukuran kelereng yang masih memancarkan cahaya hijau lembut di tanah.

Bara memungut pil aneh itu dan membawanya mendekat ke depan hidungnya untuk mengendusnya.

Ada aroma herbal yang sangat menyegarkan dan wangi alam yang menyerbak kuat dari pil kecil ini.

Hanya dengan mencium aromanya saja selama beberapa detik, rasa sesak di dada Bara terasa sedikit berkurang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!