Indonesia
NovelToon NovelToon

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

1. Ketika Warisan Bukan Lagi Jaminan.

Suara dentuman musik menggema memekakkan gendang telinga, memenuhi sebuah klub malam eksklusif.

Di salah satu sofa VIP, Aksa Wicaksono bersandar santai. Sebotol minuman mahal berada di tangannya, sementara beberapa wanita cantik mengelilinginya. Tawa Aksa terdengar paling keras di antara mereka.

Malam itu seharusnya berlangsung menyenangkan. Harusnya. Namun saat pintu area VIP tiba-tiba terbuka, suasana langsung berubah.

Seorang pria tua melangkah masuk dengan tongkat di tangan. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih tajam dan berwibawa. Di belakangnya berdiri beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam.

Wicaksono.

Aksa yang semula tertawa langsung terdiam. "Kakek?"

Wicaksono tidak menjawab. Pandangannya menyapu meja penuh botol, lalu berhenti pada wanita-wanita yang mengelilingi cucunya.

"Bangun."

Aksa mengerutkan kening. "Aku belum selesai."

Tok!

Ujung tongkat Wicaksono menghantam meja. "Jangan membuat Kakek mengulang."

Aksa mendengkus. "Ini masih sore, Kek. Aku bukan anak kecil yang gak boleh keluar malem."

"Kau memang bukan anak kecil." Wicaksono menatapnya dingin. "Itulah masalahnya. Usiamu sudah cukup untuk menjadi pewaris keluarga Wicaksono, tetapi kelakuanmu masih seperti anak yang tidak tahu arti tanggung jawab."

Aksa bangkit dengan malas. "Kakek datang jauh-jauh cuma buat ngomel?"

"Aku datang untuk membawamu pulang," tegas Wicaksono.

"Aku gak mau." Ia masih kukuh dengan pendiriannya.

Hingga tanpa aba-aba, Wicaksono mengayunkan tongkat kayunya.

Buk! Buk! Buk!

Pukulan berturut-turut mendarat telak di bahu, punggung, hingga pinggul Aksa.

"Astaga! Sakit, Kek!" Aksa refleks berusaha menghindari pukulan kakeknya, menangkis dengan tangannya.

"Kalau begitu, anggap ini perintah." Wicaksono berkata dengan tegas. "Pulang."

Para wanita yang tadi menemani Aksa satu per satu beringsut meninggalkan tempat itu.

Aksa menatap kakeknya dengan kesal. "Ngapain sih Kakek selalu mempermasalahkan aku? Toh, pada akhirnya aku juga yang bakal mewarisi semuanya."

Senyum tipis muncul di wajah Wicaksono, tapi tak membawa kehangatan. "Jangan terlalu yakin."

Aksa terdiam, masih meringis mengusap bahunya yang terkena pukulan.

"Selama kau masih hidup kayak gini, bukan tidak mungkin Kakek nyari orang lain."

Aksa tertawa sinis. "Siapa? Anak-anak mereka?" Tatapannya dengan nada suara yang berubah meremehkan. "Mereka hanya anak gundik."

Wicaksono tidak menyukai kata itu, tetapi juga tidak membantah. Justru itulah alasan Aksa begitu percaya diri.

Aksa tahu satu hal. Seburuk apa pun kelakuannya, pasti akan ditolerir oleh kakeknya.

"Aku pewaris satu-satunya keluarga Wicaksono yang sah," katanya percaya diri. "Kakek gak bakal nyerahin perusahaan sama anak-anak dari para gundik itu."

Wicaksono menatap cucunya lama. "Kau benar."

Aksa tersenyum puas.

"Tapi jangan salah mengartikan kebencian Kakek kepada mereka sebagai alasan untuk membiarkanmu menghancurkan keluarga ini."

Aksa belum sempat menjawab ketika dua bodyguard mendekat.

"Hei!"

Salah seorang langsung memegang lengannya.

"Lepasin!"

"Paksa dia pulang," perintah Wicaksono.

"Aku bisa pulang sendiri!" teriak Aksa.

"Jalan," titah Wicaksono tanpa peduli protes dari cucunya.

Aksa memberontak, tetapi kedua bodyguard tetap menyeretnya keluar dari klub.

Wicaksono berjalan di belakang mereka dengan wajah dingin. "Aku memang gak akan membiarkan anak-anak dari garis lain mengambil alih keluarga Wicaksono. Namun bukan berarti aku akan terus membiarkan kamu hidup sesuka hati."

Rahangnya mengeras. "Karena suatu hari nanti, kamu harus jadi kepala keluarga. Dan jika sifat buruk itu tidak berubah... Aku sendiri yang akan memastikan kamu kehilangan hak itu."

 

Begitu tiba di rumah, Aksa langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga. "Dasar kakek tua!"

Ia mengusap beberapa bagian tubuhnya yang masih terasa sakit akibat pukulan tongkat tadi. "Sudah tahu aku udah dewasa, masih aja diperlakukan kayak anak kecil."

Wicaksono yang baru masuk bersama beberapa bodyguard tidak menanggapi keluhannya. Ia hanya berjalan menuju kursi di seberang Aksa, lalu duduk dengan tenang.

Aksa masih mengomel. "Kalau Kakek gak suka aku ke klub, tinggal bilang. Gak perlu sampai nyamperin sambil bawa bodyguard segala. Malu aku dilihat orang."

"Kau sudah selesai?"

Aksa mendengkus. "Belum."

Wicaksono menatapnya datar. "Kalau begitu lanjutkan."

Aksa langsung terdiam, tetapi dalam hati dongkol setengah mati.

Wicaksono menumpukan kedua tangannya di atas kepala tongkatnya. Beberapa detik kemudian ia berkata, "Lusa kamu nikah."

Aksa mengira dirinya salah dengar. "Apa?"

"Lusa kau nikah," ulang Wicaksono.

Aksa langsung bangkit dari sofa. "Lusa?"

"Ya."

"Sama siapa?"

"Perempuan yang sudah dijodohkan denganmu sejak lama," jawab Wicaksono.

Aksa tertawa tidak percaya. "Kakek bercanda?"

"Apa wajah Kakek kelihatan kayak sedang bercanda?" kata Wicaksono sambil menunjuk mukanya sendiri.

Senyum Aksa seketika menghilang. "Aku gak mau."

"Baik." Wicaksono berdiri. "Kalau begitu, mulai malam ini kau keluar dari rumah."

Aksa terdiam, mencerna ulang perkataan kakeknya, meyakinkan dirinya bahwa ia tak salah dengar.

"Semua kartu kreditmu diblokir," kata Wicaksono dengan ekspresi serius. "Mobil yang kau gunakan dikembalikan. Apartemen, klub, rekening yang selama ini Kakek biayai, semuanya dihentikan."

"Kek..."

"Dan mulai bulan depan, lanjut Wicaksono. "kau tidak akan menerima satu rupiah pun."

Aksa menatap kakeknya tidak percaya. "Kakek gak bisa ngelakuin itu."

"Kakek bisa," tegas Wicaksono

"Itu gak adil!" protes Aksa.

"Warisan ini milik keluarga, bukan milikmu."

Aksa mengepalkan tangan. "Aku masih muda! Aku belum mau nikah!"

"Kau sudah cukup tua untuk menikah."

"Aku masih ingin menikmati hidup!"

Wicaksono mendengkus. "Kau sudah menikmati hidup terlalu lama."

Aksa mondar-mandir dengan wajah kesal. "Aku gak kenal perempuan itu. Gimana mungkin aku nikah sama dia?"

"Kau akan mengenalnya setelah menikah." Wicaksono bicara dengan nada enteng.

Aksa spontan berbalik menghadap kakeknya sambil berkata dengan nada tinggi. "Itu gila!"

"Yang gila itu kamu." Wicaksono menunjuk Aksa dengan tongkatnya. "Umur sudah dua puluh lima tahun, tapi otakmu cuma isi pesta dan wanita!"

Aksa menggeleng keras. "Gak. Aku gak mau."

Wicaksono tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangan memberi isyarat. Salah seorang bodyguard langsung maju dan melepaskan paksa jam tangan Aksa.

"Hei!" Belum sempat Aska bereaksi, bodyguard kedua maju, mengambil dompet dari saku celananya.

"Balikin!" Aksa mencoba merebutnya, tetapi kedua benda itu sudah berpindah ke tangan Wicaksono.

Wicaksono memasukkan dompet dan jam tangan itu ke sakunya dengan wajah datar.

"Kakek!" Mata Aksa dipenuhi kekesalan dan amarah.

Namun Wicaksono sedikitpun tak peduli dan kembali memberi perintah. "Seret dia keluar."

Aksa membelalak. "Apa? Kek?"

Dua bodyguard langsung memegang kedua lengannya.

"Lepasin!" Aksa berusaha melepaskan diri. "Kakek! Aku belum selesai bicara!"

"Kalau begitu bicara di luar." Wicaksono bicara tanpa menatap cucunya.

"Kakek!"

Aksa diseret menuju pintu. Pada saat itulah Asti yang baru keluar dari arah tangga terkejut melihat putranya diseret dua pria berbadan besar.

"Aksa!" Asti segera berlari menghampiri. "Ayah, apa yang terjadi?"

Wicaksono menoleh ke arah menantunya. "Anakmu gak mau nikah."

Kening Asti berkerut. "Nikah?"

Aksa langsung berteriak. "Ma! Tolongin aku!"

Asti panik. "Ayah, lepasin Aksa!"

Tetapi Wicaksono malah berkata, "Justru kau yang harus membujuknya."

"Tapi..." Asti tak sempat melanjutkan kalimatnya saat suara datar. Wicaksono terdengar.

"Kalau kau terus melindungi dan memanjakannya, kasih sayangmu justru akan semakin menjerumuskannya."

Asti langsung terdiam.

Aksa memandang ibunya tidak percaya. "Ma?"

Wicaksono berjalan mendekati Asti. "Besok pernikahan itu tetap berlangsung. Aku gak peduli gimana caranya kau buat anakmu sadar." Setelah mengatakan itu, Wicaksono berbalik.

Aksa masih berusaha memberontak. "Kakek! Aku gak mau nikah!"

Wicaksono berhenti di depan pintu. "Kalau begitu, hidup sendiri tanpa uang Kakek."

Aksa semakin frustrasi dan bodyguard kembali menariknya.

"Hei! Tunggu!" Aksa memutar kepalanya ke arah ibunya, wajahnya memelas penuh permohonan. "Ma!"

Asti tak mengatakan apapun, wajah terlihat serba salah.

Aksa akhirnya berhenti melawan. Wajahnya kusut masai. "Oke!"

Wicaksono menaikan sebelah alisnya. "Apa?"

"Aku nikah!" Aksa menggeram penuh frustrasi. "Tapi setelah itu jangan ganggu hidupku!"

Wicaksono tersenyum tipis. "Itu urusan nanti."

 

...🔸🔸🔸...

..."Menjadi pewaris bukan tentang seberapa banyak yang akan kau terima, tetapi seberapa besar kau mampu bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadamu."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

2. Janji untuk Pergi

Di sebuah rumah yang terletak di pinggir kota, terdengar suara musik dari sebuah ponsel. Dentuman musik itu berasal dari ruang keluarga, tempat seorang gadis sibuk berjoget di depan kamera.

Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi juga tidak bisa disebut sederhana. Di sanalah Jayadi tinggal bersama Cepi, istri keduanya, serta kedua putrinya. Aynara Ayu Puspita (Nara), anak dari pernikahan pertamanya, dan Carissa Cahyani Puspita (Caca), putri Cepi dan Jayadi.

Jayadi merupakan pemilik toko sembako grosir yang cukup besar. Usaha itu merupakan peninggalan keluarga mendiang istri pertamanya dan kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga mereka.

Sore itu, suara Cepi terdengar mulai meninggi. Wanita itu mendengus kesal ketika melihat lantai ruang keluarga yang belum disapu dan tumpukan piring kotor memenuhi wastafel.

"Nara!" seru Cepi.

Aynara yang duduk di meja makan hanya mengangkat wajah sebentar.

"Kamu ngapain aja sih seharian?" Cepi berkacak pinggang. "Lantai kotor, cucian piring numpuk. Cepetan disapu sama dicuci!"

Aynara kembali menatap layar ponselnya. "Aku lagi ngelamar kerja, Bu."

"Kerja?" Nada suara Cepi terdengar mencibir. "Kerja, kerja, kerja. Dari tadi yang kamu pegang cuma HP. Rumah berantakan begini masih sempat-sempatnya main HP."

"Aku bukan main HP, Bu." Suara Aynara tetap tenang. "Aku lagi ngisi formulir lamaran."

Cepi langsung menoleh ke arah Jayadi yang sedang duduk santai menikmati kopi. "Yah!"

Jayadi tersentak kecil hingga hampir menumpahkan air putih di tangannya. "Apa sih, Bu?"

"Lihat anakmu itu," Cepi menunjuk Aynara. "Disuruh beres-beres malah banyak alesan. Dibilangin juga gak didengar. Rumah berantakan gini malah mantengin HP mulu." Cepi beralih menatap Aynara. "Kamu pikir Ibu tidak capek seharian jagain oko?"

Jayadi menghela napas panjang sebelum menoleh kepada Aynara. "Nara, cuci piring sama nyapu sana."

Aynara mendesah pelan. "Yah, aku benar-benar lagi ngelamar kerja."

"Nanti lagi juga bisa." Jayadi meletakkan gelasnya. "Kalau kuotanya habis, nanti Ayah beliin."

Aynara terdiam beberapa saat. "Yah... Kuota paket data memang bisa dibeli lagi. Tapi kuota lamaran kerja belum tentu."

Jayadi mengernyit. "Maksudnya?"

"Lowongan ini cuma nerima sejumlah pelamar. Kalau kuotanya sudah penuh, aku gak bisa ngirim lamaran lagi."

Aynara menunjukkan layar ponselnya. "Ini tinggal beberapa orang lagi."

Cepi mendengus. "Halah. Itu cuma alesan biar kamu bisa malas-malasan."

Aynara menggeleng. "Aku benar-benar sedang nyari kerja, Bu."

Ia kemudian menoleh ke arah Caca. Adiknya itu masih sibuk berjoget di depan ponsel yang diletakkan di atas tripod kecil. Musik terdengar cukup keras hingga memenuhi ruangan.

"Itu Caca dari tadi juga gak ada kerjaan. Kenapa gak suruh dia dulu?"

Caca yang mendengar namanya disebut langsung menghentikan gerakan. "Aku?"

Cepi menoleh kepada putrinya. "Caca, matiin dulu musiknya."

Caca langsung mengerucutkan bibir. "Kenapa aku?"

"Bantu kakakmu," ujar Jayadi.

"Aku lagi bikin video, Yah." Caca menunjuk ponselnya dengan kesal. "Ini bukan main HP."

Cepi mengerutkan kening. "Video apa?"

"Konten TikTok." Caca kembali berdiri di depan kamera. "Kalau videoku viral, aku bisa dapet uang banyak."

Aynara menatapnya beberapa detik. "Kamu sudah punya berapa penghasilan dari TikTok?"

Caca langsung menoleh tajam. "Belum ada. Memangnya kenapa?"

"Berarti sekarang bantu dulu," ujar Aynara.

"Aku bukan pembantu!" Caca membuang muka. "Aku punya cita-cita jadi content creator."

Aynara menahan napas.

Sementara itu, Jayadi hanya diam. Ia tahu Aynara sedang berjuang mendapatkan pekerjaan. Ia juga tahu putrinya itu membiayai sekolah hingga kuliah dengan beasiswa dan hasil kerja sambilan.

Tetapi seperti biasa, Jayadi memilih tidak memperpanjang masalah. "Nara," katanya akhirnya, "bantu Ibu dulu. Lamaran kerja itu bisa kamu lanjutkan nanti malam."

Aynara menatap ayahnya. "Tapi..."

"Nara." Nada suara Jayadi kali ini lebih tegas.

Aynara terdiam. Ia melihat kembali layar ponselnya, waktu pendaftaran tinggal beberapa menit. Dengan berat hati, ia menyimpan ponselnya.

"Ya sudah." Aynara berdiri.

Namun sebelum berjalan menuju dapur, matanya kembali jatuh pada Caca yang sudah melanjutkan joget di depan kamera. Ia hanya bisa menghela napas.

Ada hal-hal yang tidak pernah berubah di rumah ini. Ketika Caca melakukan apa yang dia suka, semua orang harus memakluminya. Ketika Aynara berusaha membangun masa depannya, ia selalu dianggap sedang mencari alasan untuk bermalas-malasan.

Aynara mengambil penyapu dari sudut ruangan. Dalam hati, ia kembali berjanji pada dirinya sendiri.

"Suatu hari nanti, aku akan pergi dari rumah ini."

Bukan karena diusir, tetapi karena ia sudah mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

 

Cepi sedang duduk santai di ruang keluarga. Ia mengerutkan kening ketika melihat mobil mengilap berhenti.

"Yah," panggilnya kepada sang suami yang sedang menyeruput kopi. "Ada mobil mewah berhenti di depan rumah kita."

Jayadi mengambil sepotong pisang goreng dari piring. "Ya biarin saja, Bu. Asal jangan berhenti tepat di depan gerbang sampai menghalangi jalan."

Cepi hendak menjawab, tetapi perhatiannya teralihkan ketika pintu pengemudi mobil itu terbuka.

Seorang pria keluar dari balik kemudi, lalu buru-buru berjalan ke sisi lain dan membukakan pintu penumpang. Dari dalam mobil, seorang pria tua turun dengan tenang.

Kemeja sederhana dan celana panjang yang dikenakannya sama sekali tidak terlihat mencolok, namun pembawaannya berbeda. Tubuhnya masih tegap dan terlihat bugar meski usianya telah lanjut. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat yang lebih tampak seperti kebiasaan daripada alat bantu berjalan. Tangan kirinya memegang sebuah map berwarna coklat.

Langkahnya mantap. Ia bahkan tidak terlihat bertumpu pada tongkat tersebut. Sesekali ujung tongkat itu hanya mengetuk permukaan jalan, menghasilkan bunyi kecil yang justru membuat kehadirannya terasa semakin berwibawa. Pria tua itu kemudian berjalan menuju pekarangan rumah Jayadi.

Cepi kembali memanggil suaminya. "Yah."

Jayadi masih sibuk dengan pisang gorengnya. "Apalagi?"

"Pria tua yang tadi turun dari mobil itu menuju rumah kita." Perhatian Cepi tak beralih dari pria itu.

Jayadi akhirnya menoleh ke arah jendela. Gerakannya terhenti, ia bahkan tidak jadi mengunyah pisang goreng yang masih berada di mulutnya. Matanya menyipit ketika mengenali sosok yang kini hanya berjarak beberapa meter dari pintu rumahnya.

"Pak Wicaksono..." gumamnya.

Cepi langsung menoleh. "Wicaksono? Siapa?"

"Beliau sahabat ayah mertuaku." Jayadi bangkit dari duduknya.

Cepi kembali menatap ke arah pria tua yang semakin mendekati pintu. "Mau apa dia datang ke sini, Yah?"

Jayadi tidak menjawab. Wajahnya yang semula santai berubah serius. Ia segera meletakkan pisang goreng di atas piring, kemudian beranjak menuju ruang tamu.

"Ada urusan apa Pak Wicaksono ke sini?" batin Jayadi. "Datang tanpa ngabarin dulu. Kok aku ngerasa beliau gak sekadar datang buat bertamu, ya?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Terkadang, keinginan untuk pergi bukan karena kita membenci rumah, tetapi karena kita terlalu lama merasa tidak dihargai di dalamnya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

3. Janji yang Tak Bisa Dibatalkan

Pintu rumah Jayadi sudah lebih dulu terbuka, sebelum Wicaksono sempat mengangkat tangan untuk mengetuk atau menekan bel.

Jayadi berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah. "Eh, Pak Wicaksono. Mari, Pak. Silakan masuk."

"Terima kasih." Wicaksono melangkah masuk dengan tenang. Tongkat kayu yang berada di tangan kanannya sesekali mengetuk lantai, menghasilkan bunyi pelan yang justru membuat kehadirannya terasa semakin berwibawa.

Jayadi mempersilakannya duduk di ruang tamu. Setelah keduanya duduk berhadapan, Jayadi membuka percakapan. "Bagaimana kabarnya, Pak? Sudah lama sekali kita tidak bertemu."

"Seperti yang kamu lihat," ujar Wicaksono. "Saya baik-baik saja."

"Syukurlah." Jayadi tersenyum. "Kalau boleh tahu, ada apa kiranya Bapak yang super sibuk ini datang ke gubuk saya?"

Wicaksono belum sempat menjawab ketika Cepi muncul dari arah dapur sambil membawa nampan.

"Permisi, Pak." Cepi meletakkan secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng yang masih hangat di atas meja.

Namun, mata Cepi sempat mengamati pria tua di hadapannya. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Wicaksono tampak sederhana, tetapi desain dan materialnya terlihat bukan sesuatu yang biasa ia lihat.

Lalu matanya beralih pada cincin akik besar yang menghiasi salah satu jari pria itu. Batunya tampak jernih dengan serat alami yang indah, terpasang pada rangka yang kokoh dan berkelas. Cepi memang tidak tahu berapa harganya, tetapi dari tampilannya saja ia yakin cincin itu bukan barang sembarangan.

Belum lagi tongkat kayu di tangannya yang terlihat dibuat dengan sangat baik serta mobil hitam mengilap yang terparkir di depan rumah.

Dari penampilannya saja, Cepi sudah bisa menyimpulkan satu hal. Orang kaya.

Cepi tersenyum ramah. "Silakan diminum, Pak. Saya tidak tahu Bapak suka apa, jadi saya buatkan teh manis."

"Terima kasih," ucap Wicaksono singkat.

Cepi kemudian memilih duduk di sebelah Jayadi. Nampan yang tadi dibawanya diletakkan di pangkuan. "Kalau boleh tahu, Pak Wicaksono datang ke gubuk kami ada urusan apa ya?" tanyanya, berpura-pura santai.

Jayadi melirik istrinya. "Bu..."

Cepi tersenyum. "Kan Ibu juga pengen tahu, Yah. Jarang-jarang ada tamu kayak Pak Wicaksono datang ke rumah kita."

Wicaksono menatap Cepi sekilas, tidak lebih dari beberapa detik. Namun dalam waktu sesingkat itu, ia sudah menangkap sesuatu dari sorot mata wanita tersebut.

Terlalu banyak rasa ingin tahu, terlalu cepat menunjukkan keramahan. Dan tatapannya beberapa kali berpindah dari dirinya ke mobil yang terparkir di luar.

Wicaksono tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengalihkan pandangan kepada Jayadi. "Saya datang untuk membicarakan sebuah janji."

"Janji?" ulang Jayadi.

"Janji yang dibuat ayah mertuamu," jelas Wicaksono.

Jayadi mengernyit. "Ayah mertua saya?"

Wicaksono mengangguk. "Beberapa tahun lalu, beliau dan saya membuat sebuah kesepakatan." Ia mengangkat map yang sejak tadi dipegangnya. "Saya rasa sudah waktunya kesepakatan itu dilaksanakan." Wicaksono meletakkan map itu di atas meja.

Jayadi menatap map itu. "Apa ini?"

"Silakan buka," ucap Wicaksono.

Dengan sedikit ragu, Jayadi mengambil map tersebut, lalu membuka dan mulai membaca halaman pertama. Semakin lama membaca, wajahnya semakin berubah.

Cepi ikut mendekat. "Ada apa, Yah?"

Jayadi tidak menjawab, matanya bergerak cepat membaca isi dokumen. Tentang sebuah perjanjian perjodohan, tentang cucu mereka. Dan tentang pernikahan yang harus dilaksanakan setelah kedua pihak mencapai usia yang telah ditentukan.

Dan pada bagian akhir terdapat sebuah klausul yang membuat tenggorokan Jayadi mendadak terasa kering.

Pihak keluarga yang membatalkan kesepakatan secara sepihak diwajibkan membayar denda sebesar lima miliar rupiah.

Jayadi menelan ludah. "Lima miliar?"

Wicaksono mengangguk. "Itu kesepakatan yang dibuat ayah mertuamu."

Jayadi menatap dokumen itu sekali lagi. "Tapi saya tidak pernah tahu soal ini."

"Saya tahu," sahut Wicaksono tenang.

"Kalau begitu..." Jayadi mengusap wajahnya. "Kenapa baru sekarang?"

"Karena sebelumnya saya menunggu waktu yang tepat." Wicaksono menyandarkan punggungnya. "Dan sekarang waktunya sudah tiba."

Cepi yang sejak tadi membaca dokumen itu tiba-tiba mengangkat wajah. "Kalau begitu sebenarnya masalahnya mudah, Yah."

Jayadi menoleh. "Maksudmu?"

Cepi tersenyum. "Kalau yang dijodohkan itu cucu Bapak dengan anak dari keluarga kami, berarti tidak harus Aynara, 'kan?"

Ruangan seketika hening.

Jayadi langsung menatap istrinya. "Bu..."

"Apa?" Cepi mengangkat bahu. "Aynara memang anak Ayah dari istri pertama. Tapi Caca juga anak Ayah."

Wicaksono tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Ia mengambil cangkir tehnya dengan gerakan terukur.

Cepi semakin bersemangat. "Kalau memang harus menikah dengan keluarga Bapak, bukankah Caca bisa menggantikannya?"

"Jangan bicara sembarangan," ujar Jayadi pelan.

Namun Cepi tidak berhenti. "Aku hanya ngasih solusi." Ia menatap Wicaksono dengan senyum penuh harap. "Caca itu anak baik, Pak. Penurut, tidak banyak tingkah. Dia juga lebih cocok menjadi istri dari keluarga besar seperti keluarga Bapak."

Jayadi terdiam, sedangkan Wicaksono menyeruput tehnya perlahan.

Cepi mulai menjual putrinya sendiri. "Kalau Aynara..." Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-kata. "Dia agak keras kepala, sering membantah, kadang juga malas kalau disuruh. Saya khawatir kalau nanti masuk keluarga besar malah membuat masalah."

Jayadi melirik istrinya. "Bu, cukup."

Cepi mengabaikannya. "Berbeda dengan Caca. Anak saya itu tahu bagaimana menghormati orang tua. Dia juga pandai membawa diri."

Wicaksono akhirnya meletakkan cangkir tehnya.

Tak.

Suara kecil itu membuat Cepi otomatis berhenti berbicara.

Wicaksono menatap wanita itu. "Saya datang untuk menagih janji." Nada suaranya tenang. "Tidak untuk menawar."

Senyum Cepi perlahan menghilang. "Tapi, Pak..."

Pandangan Wicaksono beralih pada Jayadi. "Perjanjian itu dibuat oleh saya dan ayah mertuamu." Ia menunjuk dokumen di atas meja. "Yang dimaksud dalam perjanjian adalah cucunya. Dan saya tahu siapa cucu yang dimaksud."

Jayadi menundukkan kepala. "Aynara."

"Benar," sahut Wicaksono.

Cepi mencoba tersenyum lagi. "Tapi Caca juga putri Jayadi."

Wicaksono mengalihkan pandangan kepadanya. "Saya tidak pernah mengatakan putri Jayadi tidak cukup baik."

Cepi menggenggam erat nampan di pangkuannya.

"Tetapi saya tidak datang mencari putri Jayadi." Sorot mata Wicaksono berubah semakin tajam. "Saya datang untuk memenuhi janji kepada sahabat saya."

Tidak ada nada tinggi dalam suaranya. Namun kalimat itu cukup untuk membuat Cepi tidak berani melanjutkan.

Fokus Wicaksono kemudian kembali kepada Jayadi. "Besok saya akan membawa keluarga saya. Pernikahan mereka akan dilaksanakan."

Jayadi membulatkan mata. "Besok?"

"Ya," jawab Wicaksono tanpa ragu.

"Secepat itu?" tanya Jayadi sedikit panik.

"Kesepakatan ini sudah menunggu bertahun-tahun." Wicaksono berdiri. "Menurut saya, justru sudah terlalu lama."

"Tapi, Pak..." Jayadi menghela napas. "Pernikahan tidak bisa disiapkan dalam semalam."

Wicaksono memandangnya dengan sorot mata tenang. "Saya sudah menyiapkan semuanya."

Jayadi terdiam.

Wicaksono melanjutkan dengan nada datar, seolah semua yang dikatakannya adalah hal biasa. "Penghulu sudah siap. Administrasi pencatatan pernikahan juga sudah diurus. Tempat akad sudah disiapkan."

Tok.

Tongkat Wicaksono mengetuk lantai sekali. "Besok mereka menikah. Tidak ada alasan untuk menundanya lagi."

Cepi hanya bisa diam, wanita itu kehilangan kata-kata. Harapannya untuk memasukkan Caca ke dalam keluarga kaya tersebut runtuh hanya dalam beberapa menit.

Sementara Jayadi masih menatap dokumen di tangannya. Lima miliar rupiah. Ia tidak mungkin membayar denda sebesar itu.

Artinya...

Suka atau tidak suka, Aynara harus menikah dengan cucu Wicaksono.

 

...🔸🔸🔸...

..."Jangan menjadikan orang lain sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan, sebab manusia bukan barang yang bisa ditukar sesuka hati."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!