Indonesia
NovelToon NovelToon

Ketika Donatur Memilih Mundur

01

Raisya Prameswari, wanita cantik yang sudah rapi dengan setelah kantor nya, berjalan menuruni tangga dari lantai atas. Dia langsung pergi ke meja makan, di sana Bi Lilis sudah menyiapkan sarapan untuk semua orang.

"Selamat pagi bi Lilis!" Sapa Raisya.

"Selamat pagi Nyonya!" Jawab Bi Lilis sambil tersenyum ramah.

Raisya langsung duduk di meja makan, dia mengoles roti tawar dengan selai coklat. Lalu mulai menyuap kan potongan demi potongan roti itu ke dalam mulut nya.

"Iya sayang, nanti kita minta uang nya sama Tante Raisya, kamu tenang saja!" Tiba - tiba Raisya mendengar ucapan dari Cika, istri dari Alvin, kakak ipar nya Raisya.

Di meja makan semua orang mulai berkumpul, Dimas suami nya Raisya sudah duduk di samping nya. Mama Rika dan Neta pun duduk di seberang Raisa, begitu pun dengan Cika dan Alvin serta putri mereka.

"Sya, minggu depan sekolah nya Bela mau ngadain acara di luar. Kamu transfer uang ya sama mbak, gak banyak kok cuma 5 juta!" Cika berkata dengan enteng nya.

"5 juta?" Raisya mengernyitkan dahi nya.

"Iya Sya, transfer nya hari ini ya. Masalah nya harus di bayar nanti siang!" Ujar Cika lagi.

"Iya mbak!" Jawab Raisya sambil meneruskan sarapan nya.

"Mbak, aku juga minta uang dong. Uang Jajan aku udah habis!" Neta berkata pada kakak ipar nya.

"Net, kan baru minggu kemarin mbak transfer uang nya sama kamu. Masa udah habis aja?" Tanya Raisya tidak percaya.

"Mbak, memang nya mbak fikir aku gak punya kebutuhan apa? Aku ini masih muda dan aku tuh harus have fun sama teman - teman!" Jawab Neta dengan kesal.

"Udah lah Raisya, kamu kasih saja uang nya. Mereka itu udah jadi tanggung jawab kamu!" Mama Rika membela putri nya.

"Mas,,,!" Raisya menyenggol lengan Dimas yang ada di samping nya.

"Kamu kasih aja Sya, aku gak punya uang. Gaji aku udah habis buat bayar cicilan mobil, tinggal uang bensin dan makan siang aja!" Jawab Dimas yang mengerti maksud istri nya.

Raisya menghembus kan nafas kasar, sudah satu tahun ini semua kebutuhan keluarga suami nya menjadi tanggungan Raisya sepenuh nya.

"Mas Alvin, memang nya sampai kapan mas Alvin akan tetap seperti ini. Apa tidak berniat mencari pekerjaan sama sekali?" Tanya Raisya.

"Kamu apaan sih Sya, pake nanya gitu masa ms Alvin?" Cika tampak sangat marah mendengar pertanyaan Raisya.

"Bukan gitu mbak, tapi kan udah satu tahun ini mas Alvin di pecat. Masa mau di rumah terus, kan dia kepala keluarga!" Raisa berkata dengan nada lembut.

"Mas Alvin itu suami aku Sya, dan kamu tidak berhak mengatur nya!" Cika tampak semakin kesal dengan Raisa.

"Tapi sampai kapan mau terus seperti ini mbak? Bela udah kelas 5 loh, sebentar lagi mau lulus SD dan butuh biaya yang besar!" Ujar Raisya.

"Raisya, berani nya kamu mengatur kehidupan putra ku! Kamu cuma menantu di sini!" Bentak bu Rika tidak terima.

"Tap Ma,,,!"

"Cukup Raisya, kamu jangan ikut campur yang bukan urusan mu!" Bentak Dimas.

"Gak usah banyak tanya deh, kamu Raisya! Berikan saja uang nya!" Cika berkata dengan nada sinis.

Raisya langsung diam, padahal apa yang di katakan oleh Raisya tadi semua nya memang benar.

"Aku berangkat dulu mas!" Raisya pamit pada Dimas, suami nya.

Raisya malas untuk berdebat dengan keluarga suami nya, dia juga telah kehilangan nafsu makan nya karena keluarga suami nya. Dia lebih memilih berangkat ke kantor saja, dari pada berlama - lama kumpul bersama mereka.

"Mbak, jangan lupa transfer uang aku ya!" Teriak Neta ketika Raisya mulai berdiri dari kursi nya.

Raisya langsung berjalan keluar rumah, di dalam fikiran nya sedang tidak karuan seperti benang kusut.

Usia pernikahan Raisya dan Dimas baru 2 tahun, tapi semenjak mereka menikah Mama Rika dan Neta memilih untuk ikut tinggal di rumah ini. Rumah ini adalah rumah warisan dari orang tua nya Raisya, dan kini di kuasai oleh semua keluarga suami nya.

Satu tahun yang lalu, Alvin di pecat karena kasus korupsi. Alvin lalu membawa anak dan istri nya untuk tinggal bersama di rumah ini, Alvin adalah kakak nya Dimas. Sejak saat itu, smeua kebutuhan keluarga Alvin menjadi tanggung jawab nya Raisya.

'Aku sudah lelah dengan semua ini!' Bisik Raisya di dalam hati.

Semenjak tinggal di rumah nya, yang di lakukan oleh Alvin adalah main game, makan dan tidur saja setiap hari nya. Semua kebutuhan nya dan keluarga nya dia minta pada Raisya.

Sementara di meja makan, mereka masih asyik dengan sarapan nya masing- masing.

"Dimas, istri kamu kenapa sih? Suka banget ngurusin urusan orang lain!" Cika berkata pada Dimas.

"Udah la mbak, gak usah di pikirin. Yang penting kan, dia mau kasih uang nya!" Jawab Dimas.

"Dimas benar Cik, terserah Raisya mau bilang apa, yang terpentingkan uang nya saja!" Mama Rika ikut menimpali.

"Dimas, kamu harus bilangin sama istri kamu. Aku tidak suka ya dia ngatur - ngatur kehidupan aku!" Alvin berkata pada adik nya.

"Iya mas!" Jawab Dimas.

"Memang nya dia siapa berani - berani nya ngatur kehidupan kami!" Ucap Alvin lagi masih dengan nada kesal.

"Oh ya, Mama lupa hari ini Mama ada arisan. Tadi Mama lupa minta uang sama Raisya!" Tiba - tiba Mama Rika ingat bahwa hari ini dia ada arisan.

"Ya udah Ma, minta saja sama Raisya!" Ucap Dimas.

Dimas yang sudah selesai sarapan pun segera bangun dari tempat duduk nya, dia langsung pergi ke kantor. Sedangkan Mama Rika langsung pergi dari meja makan, dia pergi ka kamar nya buat mengambil ponsel nya yang berada di sana.

"Hari ini ibu aku juga pengen belanja, jadi aku minta uang sama Raisya saja!" Guman Mama Rika sambil mencari nomor sang menantu di ponsel nya.

Tut, tut, tut.

Panggilan tersambung, tapi tidak di jawab oleh Raisya.

"Kemana sih Raisya? Di telepon kok tidak di jawab!" Ujar Mama Rika dengan kesal.

Kembali dia menghubungi sang menantu, tapi tetap saja panggilan nya tidak di jawab oleh Raisya. Sehingga Mama Rika semakin kesal di buat nya, dia kembali menghubungi Raisya. Tapi sial nya, kali ini bukan hanya tidak di jawab tapi ponsel Raisya tidak biaa di hubungi lagi.

"Raisya, berani nya kamu mematikan ponsel mu!" Guman Mama Rika sambil menggenggam erat ponsel di tangan nya.

Saking geram bercampur marah dan kesal, Mama Rika pun meremas ponsel nya dengan kuat.

02

Raisya yang sedang menyetir mobil nya mendengar ponsel nya berbunyi, setelah melihat nama yang tertera di layar benda pipih itu, Raisya memutuskan untuk menekan tombol off di ponsel nya.

"Pasti tidak akan jauh - jauh dari urusan uang!" Guman Raisya lagi.

Raisya sedang tidak ingin berdebat dengan mereka lagi, dan hal itu lah yang membuat Raisya mematikan ponsel nya.

"Sampai kapan semua nya akan terus seperti ini?" Raisya bertanya pada diri nya sendiri.

Semua kebutuhan mereka di beban kan di pundak Raisya, sedangkan Dimas tidak bisa di andalkan sama sekali. Selama menikah pun Dimas tidak pernah memberikan uang nafkah untuk Raisya, Dimas terlena karena gaji Raisya yang sangat besar.

"Untuk hari ini, biarkan saja dulu mereka. Aku juga stres setiap hari harus menghadapi mereka, yang urusan nya pasti tidak akan jauh - jauh dari uang!" Guman Raisya.

Raisya sengaja menonaktifkan ponsel nya, agar mereka semua tidak bisa lagi menghubungi nya. Raisya fokus pada pekerjaan nya, pekerjaan yang memberikan dia gaji hingga milyaran pertahun nya.

Saat jam istirahat dan makan siang tiba, Raisya pergi keluar buat makan siang. Dia keluar bersama Kayla, sahabat nya yang bekerja di kantor yang sama.

"Sya, kok muka kamu murung gitu? Kamu lagi ada masalah ya? Cerita dong sama aku, jangan di pendam sendiri!" Kayla bertanya pada Raisya.

"Enggak kok Kai, cuma lagi capek aja!" Jawab Raisya berbohong.

"Raisya, kita udah temenan sajak lama. Aku tanu saat ini kamu pasti sedang ada masalah!" Tebak Kayla.

"Gak papa kok Kay, cuma masalah rumah tangga aja!" Jawab Raisya sambil tersenyum.

"Sya, ipar mu dan keluarga nya masih tinggal di rumah mu?" Tanya Kayla.

"Iya!" Jawab Raisya sambil mengangguk kan kepala nya.

"Sya, sampai kapan kamu akan menampung mereka di sana? Toh kakak ipar mu itu memang udah seneng banget tinggal di rumah kamu, makan tinggal makan, semua kebutuhan mereka kamu yang penuhi. Mereka sengaja manfaatin kamu Sya!" Kayla mengingatkan Raisya.

"Kay, biar bagaimana pun mereka adalah keluarga ku!" Jawab Raisya membela mereka.

"Raisya, coba saja kalau situasi nya di balik. Keluarga mu yang tinggal di rumah suami mu, apa kau yakin Dimas mau menampung mereka di rumah nya?" Tanya Kayla pada Raisya.

Raisya terdiam mendengar ucapan Kayla, dia teringat bulan lalu kedua orang tua nya datang dari Bandung dan menginap 2 malam di rumah nya. Tapi malah Dimas menunjuk kan wajah masam, dia tidak suka melihat orang tua nya Raisya tinggal di rumah mereka.

"Sya, coba sesekali kamu gak usah turutin keinginan mereka. Coba deh kamu lihat, apa yang bakal mereka lakukan sama kamu!" Kayla memberi saran pada Raisya.

Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan kedua nya, sehingga percakapan mereka berdua pun langsung terhenti. Kedua nya langsung menikmati makan siang nya, sejenak melupakan hal yang sedang mereka bahas tadi.

Setelah selesai makan, Raisya pun menghidupkan kembali ponsel nya. Notifikasi di ponsel nya terdengar begitu ramai, ketika Risya mengaktifkan benda pintar tersebut.

Ada ratusan panggilan tak terjawab yang di lakukan oleh Mama Rika, Neta dan juga Cika. Raisya tahu mereka menagih apa yang mereka minta tadi pagi.

Dreetttt, dreettt, dreettt.

Ponsel Raisya kembali berdering, dia sana terpampang nama sang mertua di layar nya. Raisya langsung menggeser lambang telepon ke bagian atas, dan dia menempelkan benda pipih tersebut ke telinga nya.

"Raisya, kamu kemana saja? Kenapa sejak tadi ponsel mu tidak bisa di hubungi?" Terdengar suara bentakan yang di penuhi dengan emosi dari seberang sana.

"Tadi aku ada meeting Ma, jadi gak bisa pegang ponsel sama sekali!" Jawab Raisya sambil berbohong.

"Bohong, kamu pasti sengaja kan gak mau kirim uang sama Neta dan juga Cika. Jadi kamu sengaja mematikan ponsel mu, dasar menantu durhaka!" Umpat Mama Rika dari seberang sana.

Nyessss.

Seketika hati Raisya sakit mendengar umpatan mertua nya, hanya karena hari ini dia telat memenuhi keinginan mereka. Mama Rika malah mengatakan hal yang tidak baik.

"Raisya, sore ini Mama mau Arisan dan setelah pulang dari arisan, Mama mau belanja. Cepat ku kirim uang sama Mama sekarang juga, jangan lupa kirim uang sama Neta dan juga Cika!" Mama Rika memberi perintah pada Raisya.

"Ma, uang bulanan Mama kan udah aku kasih. Ini belum satu bulan loh, Ma!" Raisya mengingatkan Mama mertua nya.

"Heh Raisya, uang nya udah habis. Sekarang cepat kamu transfer lagi, cepat!" Hardik Mama Rika dari seberang sana.

"Ma, gaji Raisya bulan kemarin udah habis Ma. Gak tersisa lagi, Raisya tidak punya uang!" Raisya menolak keinginan Mama mertua nya.

"Jangan bohong kamu Raisya, cepat kasih uang nya. Aku ini mertua kamu, apa kamu mau menjadi menantu yang durhaka?" Ancam Mama Rika.

"Ma, untuk kali ini Raisya benar - benar minta maaf. Raisya tidak punya uang lagi, tolong Mama mengerti!" Raisya berkata dengan nada putus asa.

"Raisya, kamu mau Mama adukan sama Dimas ya. Berani nya kamu menolak keinginan Mama!" Bentak Mama Rika.

Raisya yang tidak mau lagi mendengar ucapan Mama Rika, langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dia lalu kembali mematikan ponsel nya, agar untuk sementara ini Mama Rika tidak bisa menghubungi nya.

"Raisya, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Ingat Raisya, mereka semua bukan lah tanggung jawab mu. Mereka cuma mau memanfaatkan kamu, kamu harus sadar Raisya!" Kembali Kayla mengingatkan Raisya.

"Sya, aku tidak berniat menghasut mu. Tapi coba lah kali ini saja kau jangan turuti keinginan mereka, maka kau akan melihat sendiri seperti apa orang - orang yang kau anggap sebagai keluarga itu!" Kembali Kayla berkata dengan nada lembut.

"Baik lah Kay, kali ini aku tidak akan menuruti keinginan mereka. Lagi pula, baru 10 hari yang lalu aku memberikan mereka uang bulanan mereka masing - masing! Mungkin memang sudah saat nya aku tidak bisa lagi menuruti semua keinginan mereka!" Jawab Raisya.

"Bagus Raisya, jika tidak sekarang maka kapan lagi!" Kayla tersenyum puas mendengar ucapan sahabat nya.

Raisya ingin tahu apa yang akan mereka lakukan, ini adalah pertama kali nya bagi Raisya tidak menuruti keinginan mereka. Mama Rika bahkan sudah bicara dengan bahasa yang sangat kasar tadi, padahal dia dan keluarga nya hidup dari uang nya Raisa.

'Maaf Ma, untuk kali ini aku tidak akan menuruti ucapan kalian dulu. Aku ingin lihat seperti apa sikap kalian pada ku, saat aku sekali saja membantah!' Guman Raisya di dalam hati nya.

03

Raisya langsung pulang ke rumah saat jam kantor nya berakhir, tubuh nya yang terasa lelah ingin segera beristirahat. Raisya baru saja tiba di rumah, tapi saat mendorong daun pintu, dia melihat pemandangan yang sangat mengejutkan di depan mata nya.

Semua orang sedang berkumpul di ruang tamu, tapi pandangan mereka tertuju pada Raisya. Pandangan mereka begitu tajam, seolah - olah ingin menelan Raisya hidup - hidup.

"Pulang juga kamu!" Mama Rika berkata dengan ketus.

"Raisya, mana uang yang aku minta?" Cika langsung menolong Raisya dengan menadahkan tangan nya pada Raisya.

"Iya mbak, uang ku juga gak mbak kirim kan!" Neta berkata pada Raisya.

Raisya hanya diam, dia sedang malas untuk berdebat dengan mereka.

"Aku sedang tidak punya uang!" Jawab Raisya dengan suara lirih.

"Apa maksud mu, Raisya? Kau sengaja tidak mau memberikan uang pada kami?" Mama Rika bertanya sambil memelototkan mata nya.

"Benar Ma, gaji aku bulan ini memang sudah habis!" Jawab Raisya dengan suara lirih.

Hoeeekkk.

Tiba - tiba Neta merasa mual, mendadak dia ingin muntah. Neta berlari ke kamar mandi, di sana dia memuntahkan semua isi perut nya. Mama Rika bergegas menyusul anak nya, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Neta.

"Neta, kamu kenapa?" Tanya Mama Rika.

"Mungkin Neta masuk angin Ma, kan Neta sering hang out malam - malam sama teman - teman!" Jawab Neta.

Hoeeek,

Kembali Neta memuntah kan isi perut nya, Mama Rika semakin cemas melihat keadaan putri nya.

"Kita ke rumah sakit sekarang juga!" Ajak Mama Rika.

Setelah berkata seperti itu, Mama Rika bergegas keluar menemui Cika dan Raisya yang masih berada di ruang tamu.

"Raisya, Mama mau bawa Neta ke rumah sakit. Cepat berikan uang nya!" Mama Rika berkata pada Raisya.

"Tapi, Ma,,!"

"Tidak ada tapi - tapian, Net sedang sakit dan harus di bawa ke rumah sakit. Kamu sebagai ipar kok gak ada peduli nya sama sekali!" Bentak Mama Rika.

Dengan cepat Mama Rika merebut tas yang ada di tangan Raisya, dia mengambil dompet dan mengambil semua uang tunai yang ada di dalam nya.

"Ma, jangan di ambil Ma!" Raisya berusaha mempertahankan milik nya dari Mama Rika.

"Jangan kurang ajar kamu Raisya, adik ipar kamu lebih sakit. Kamu malah mempertahankan uang kamu saja, dasar tidak punya hati!" Semprot Mama Rika.

"Ayo Cika, kamu temenin Mama bawa Neta ke rumah sakit!" Pinta Mama Rika pada menantu tertua nya.

"Iya Ma!" Jawab Cika sambil tersenyum.

Tanpa basa - basi, Cika langsung merebut kunci mobil yang ada di tangan Raisya. Mama Rika berjalan keluar sambil mendampingi Neta yang tampak pucat, mereka berjalan melewati Raisya.

Ketiga nya pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil nya Raisya, Cika yang mengemudi. Mereka menuju ke rumah sakit terdekat, Mama Rika sangat khawatir dengan keadaan putri bungsu nya.

"Sus, tolong putri saya. Dia muntah- muntah terus sejak tadi!" Mama Rika berkata pada seorang suster ketika mereka tiba di rumah sakit.

"Baik bu, kami akan segera memeriksa nya!" sesorang suster membantu Neta untuk duduk di atas kursi roda.

Suster mendorong kursi roda memasuki ruangan pemeriksaan, Mama Rika dan Cika di minta untuk menunggu di luar. Setelah menunggu tidak berapa lama, pintu ruangan tempat pemeriksaan Neta terbuka. Seorang perempuan dengan mengenakan seragam dokter keluar dari ruangan itu, dengan cepat Mama Rika menghampiri nya.

"Dok, bagai mana dengan anak saya? Apa yang sebenar nya terjadi?" Tanya bu Rika dengan tidak sabar.

"Semua nya baik - baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hal itu biasa terjadi pada seorang ibu yang tengah hamil muda!" Jelas dokter itu sambil tersenyum.

"Apa? Apa dokter tidak salah?" Tanya Mama Rika.

"Tidak bu, anak ibu memang sedang hamil muda. Usia kandungan nya baru berjalan 3 bulan!" Jelas dokter itu lagi.

Seketika Mama Rika merasa lemas di setiap persendian nya, dia tidak percaya bahwa putri nya kini tengah hamil muda.

"Tidak mungkin!" Mama Rika berkata dengan suara lirih.

Hampir saja dia jatuh ke lantai, jika Cika tidak menahan tubuh nya. Mama Rika merasa lemas, mendengar apa yang baru saja di katakan oleh dokter itu.

"Ma, ayo kita temui Neta!" Ajak Cika.

Cika mengantarkan Mama mertua nya pergi ke ruangan tadi tempat Neta di periksa, tampak Neta sudah duduk di ranjang sambil memijit pelipis nya sendiri.

"Neta, kau sudah membuat Mama malu!" Bentak Mama Rika.

"Ma, aku,,,,!" Jawab Neta dengan gugup.

"Neta, Mama sudah melakukan apa saja untuk mu. Tapi kau malah mempermalukan Mama seperti ini!" Mama Rika berkata sambil menangis.

"Sudah lah Ma, ayo kita pulang saja. Nanti kita bicarakan saja semua nya di rumah, malu di dengar orang lain jika kita bicara di sini!" Cika berbisik pada mertua nya tersebut.

Mama Rika mengangguk kan kepala nya dengan lemah, benar sekali apa yang di katakan olej menantu nya. Lebih baik bicara di rumah saja, dari pada di rumah sakit. Lagi pula saat ini Alvin dan Dimas ada di rumah, mereka harus tahu apa yang menimpa adik mereka satu - satu nya.

Ketiga nya langsung pulang ke rumah, sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan asyik dengan fikiran masing - masing. Tidak ada dari mereka yang berniat untuk membuka suara, wajah Neta terlihat sangat kusut dan menyedihkan.

Ketika tiba di rumah, ketiga nya langsung masuk ke dalam rumah dengan wajah murung. Raisya yang baru saja turun dari lantai atas melihat mereka dengan heran.

"Ada apa Ma? Apa yang terjadi pada Neta?" Tanya Raisya heran.

Mama Rika tidak menjawab, tapi dia malah menjatuhkan pantat nya di sofa ruang tamu.

"Alvin, Dimas, cepat kalian kemari!" Teriak Mama Rika dengan suara lantang.

Kedua bersaudara itu datang ke ruang tamu, Dimas turun dari lantai atas sedangkan Alvin muncul dari dalam kamar nya. Di tangan Alvin ada sebuah ponsel, permainan game yang baru saja dia main kan tampak masih berjalan di sana.

"Ada apa Ma?" Tanya Dimas heran.

Dimas lalu menjatuhkan pantat nya di samping sang Mama, dia sendiri heran kenapa seperti nya wajah mereka sangat menegangkan.

"Kenapa sih Ma? Datang - datang malah marah?" Tanya Alvin tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel nya.

"Adik mu hamil!" Mama Rika berkata dengan suara lantang.

"Apa?" Tanya keduanya dengan nada terkejut.

Ponsel yang ada di tangan Alvin hampir saja jatuh, saking terkejut nya dia mendengar ucapan Mama nya. Mata nya menatap sang ibu dengan perasan tidak percaya, kedua nya masih belum percaya dengan ucapan wanita yang melahirkan mereka ke dunia ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!