Indonesia
NovelToon NovelToon

Menantu Tak Terkalahkan

Bab 1: Akhir dari Tiga Tahun Kehinaan

​Air sabun yang dingin menetes dari sela-sela jari Lin Fan yang kasar dan memerah. Di luar jendela dapur yang terbuat dari kaca patri mahal, awan abu-abu menggantung rendah di atas langit Kota Jiangzhou, seolah mencerminkan kehidupan monoton dan menyedihkan yang ia jalani selama tiga tahun terakhir. Menjadi menantu yang menumpang hidup di Keluarga Su—sebuah keluarga pebisnis kelas dua yang sedang merangkak naik—bukanlah hal yang bisa dibanggakan. Bagi dunia luar, ia hanyalah sebuah lelucon. Bagi Keluarga Su, ia adalah benalu yang menempel pada pohon besar.

​"Lin Fan! Dasar sampah tidak berguna! Sampai kapan kau mau menggosok panci itu?"

​Suara melengking Nyonya Wang, ibu mertuanya, memecah kesunyian rumah sore itu. Wanita paruh baya dengan perhiasan giok berlebihan di leher dan pergelangan tangannya tersebut melangkah masuk ke dapur. Ia menatap Lin Fan dengan raut wajah seolah sedang melihat hama kotor. Tanpa ragu, Nyonya Wang menendang ember pel di dekat kaki Lin Fan hingga genangan air kotornya memercik ke celana kain usang pria itu.

​"Kau ini benar-benar lamban dan tidak bisa diandalkan! Hari ini Tuan Muda Zhao dari Grup Zhao akan datang menemui Yuhan. Dia adalah tamu VVIP, pewaris masa depan, bukan gembel jalanan sepertimu!" Nyonya Wang meludah di lantai yang baru saja dibersihkan. "Dengarkan baik-baik, sebelum mobil mewahnya memasuki gerbang depan, aku ingin kau menyelesaikan tugas-tugas ini:"

​Mengepel seluruh lantai aula utama hingga tidak ada setitik debu pun yang tersisa.

​Menyingkirkan mantel dan sepatu rongsokanmu dari lemari tamu agar tidak merusak pemandangan.

​Membeli anggur merah impor di toko ujung jalan menggunakan sisa uang sakumu sendiri.

​Mengunci dirimu di kamar belakang, dan jangan pernah berani menampakkan wajah miskinmu di hadapan Tuan Muda Zhao!

​Lin Fan hanya mengangguk pelan. Ia menyeka percikan air kotor dari pergelangan kakinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun bantahan. Ia sudah terbiasa; hinaan adalah makanan sehari-harinya. Tiga tahun lalu, Tuan Besar Su menyelamatkan nyawanya ketika ia sedang dalam kondisi terburuk. Demi membalas budi dan menuruti permintaan terakhir pria tua itu sebelum wafat, Lin Fan setuju untuk menikahi cucu kesayangannya, Su Yuhan.

​Tepat ketika Nyonya Wang menarik napas untuk melontarkan makian berikutnya, suara ketukan ritmis langkah sepatu hak tinggi terdengar menuruni tangga pualam utama.

​Su Yuhan muncul di ambang pintu dapur. Wajahnya bak pualam berharga, diukir dengan kesempurnaan seorang dewi, namun memancarkan aura es yang membekukan siapa saja yang berani menatapnya terlalu lama. Sebagai CEO Su Group yang masih muda, ia menanggung beban berat perusahaan keluarganya yang sedang berada di ambang krisis finansial. Matanya yang indah tampak sayu karena kurang tidur, namun posturnya tetap tegak, elegan, dan penuh wibawa.

​"Ibu, cukup," suara Yuhan terdengar sedingin angin musim salju. "Zhao Tian datang hanya untuk membahas proposal investasi proyek properti. Ini urusan bisnis murni, tidak lebih. Ibu tidak perlu bersikap berlebihan dan menyiksa Lin Fan seperti itu di rumah kita sendiri."

​Nyonya Wang mendengus kasar, wajahnya merah padam. "Yuhan, kau masih saja membela si sampah ini! Jika kau segera menceraikannya dan menerima cinta Tuan Muda Zhao, keluarga kita akan langsung masuk ke lingkaran elit Jiangzhou! Pria miskin ini hanya memberimu rasa malu dan menghancurkan masa depanmu!"

​Yuhan tidak membalas perkataan ibunya. Ia menoleh perlahan pada Lin Fan, matanya menyapu pakaian usang suaminya dengan perasaan campur aduk antara rasa kasihan, frustrasi, dan kekecewaan. Pernikahan ini adalah ikatan tanpa cinta, namun Yuhan adalah wanita yang memegang teguh moral dan harga diri. Ia tidak akan pernah membiarkan suaminya diinjak-injak di depan matanya, meski ia sendiri tidak pernah bisa membanggakan pria itu.

​"Tinggalkan dapur sekarang, Lin Fan," ucap Yuhan pelan namun tegas. "Kembalilah ke kamarmu di belakang. Biar pelayan yang menyelesaikan sisanya hari ini. Tolong jangan keluar sampai tamu kita pulang."

​"Baik," jawab Lin Fan dengan suara tenang. Ia meletakkan lap kotornya di wastafel dan berjalan melewati mereka. Saat ia berpapasan dengan Yuhan, ia bisa mencium aroma mawar samar dari parfum istrinya—satu-satunya hal yang mampu menenangkannya selama hidup di neraka ini.

​Lin Fan melangkah keluar menuju halaman belakang vila yang sepi dan ditumbuhi ilalang. Angin sore berhembus, meniup rambutnya yang sedikit berantakan. Tiba-tiba, sebuah benda di saku celananya bergetar dengan intensitas tinggi. Itu bukanlah ponsel pintar murahan yang biasa ia letakkan di meja, melainkan komunikator satelit hitam berlapis titanium yang selama tiga tahun ini tertidur pulas tanpa daya.

​Mata Lin Fan menyipit. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat. Ia mengeluarkan alat itu dan melihat layar enkripsi tingkat militer terbuka dengan sendirinya, menampilkan deretan pesan rahasia yang nilainya melebihi gabungan seluruh kekayaan di Kota Jiangzhou.

​"Laporan darurat untuk Tuan Muda Lin. Masa ujian pewaris Anda telah resmi berakhir pada pukul 17:00 waktu setempat hari ini. Evaluasi ketahanan mental, kesabaran, dan pengasingan Anda: Sempurna."

​Ingatan Lin Fan seketika ditarik mundur ke tiga tahun silam. Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat absolut nomor satu yang mengendalikan separuh urat nadi ekonomi negara, memiliki tradisi turun-temurun yang sangat brutal. Sang pewaris tunggal wajib menjalani hidup di titik terendah piramida masyarakat selama tiga tahun untuk membentuk mental baja dan kebijaksanaan.

​Aturan Ujian Pertama: Dilarang keras menggunakan nama dan identitas Keluarga Lin.

​Aturan Ujian Kedua: Dilarang mengakses dana perwalian maupun aset jaringan keluarga.

​Aturan Ujian Ketiga: Dilarang menggunakan kekuasaan untuk melawan, membalas dendam, atau menghancurkan musuh selama masa ujian berlangsung.

​Kini, jarum jam telah berputar. Ketiga belenggu raksasa itu akhirnya hancur berkeping-keping.

​Pesan kedua masuk, menyala hijau terang di layar hitam yang elegan.

​"Blokir pada Kartu Naga Hitam Anda telah dicabut secara permanen. Saldo saat ini: 500 Miliar Yuan tanpa limit transaksi. Kepala Pelayan Keluarga Lin, sepuluh ribu bawahan setia Anda, dan seluruh armada bayangan bersiap menerima perintah pertama Anda."

​Lin Fan meremas komunikator itu perlahan, meresapi dinginnya logam di telapak tangannya. Bahunya yang selama ini selalu membungkuk untuk menyembunyikan identitasnya, perlahan ditarik tegap lurus ke belakang. Tubuhnya memancarkan aura dominasi absolut yang menakutkan, seolah seekor naga kuno baru saja merobek rantai yang membelenggunya di dasar bumi. Tatapan matanya yang selama tiga tahun ini sayu dan tidak bernyawa, kini berubah sangat tajam bagai pedang kekaisaran yang baru ditarik dari sarungnya.

​Ia memutar tubuhnya, menoleh ke arah jendela ruang tamu vila Keluarga Su. Ia membayangkan wajah lelah istrinya yang terus-menerus berjuang sendirian melawan kejamnya dunia bisnis, dan bagaimana mertuanya yang tamak terus berusaha menjual Yuhan kepada Zhao Tian demi secuil kekuasaan semu.

​"Tiga tahun lamanya kau melindungiku dengan caramu sendiri yang dingin, Yuhan," gumam Lin Fan di bawah langit sore, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi oleh sebuah janji yang mengikat jiwa. "Kau tidak pernah meninggalkanku saat aku dianggap bukan siapa-siapa oleh dunia. Mulai detik ini, aku pastikan seluruh dunia akan bertekuk lutut di bawah kakimu."

Bab 2: Harga Diri yang Tak Ternilai

​Deru mesin V8 yang memekakkan telinga memecah ketenangan sore di pelataran vila Keluarga Su. Sebuah Ferrari Roma berwarna merah menyala berhenti tepat di depan teras utama, bannya berdecit menggesek paving blok yang baru saja dibersihkan. Dari kursi pengemudi, melangkah keluar seorang pria muda dengan balutan setelan jas Armani pesanan khusus. Rambutnya disisir klimis ke belakang, dan senyum arogan terukir jelas di wajahnya. Ia adalah Zhao Tian, pewaris tunggal Grup Zhao yang terkenal dengan kekayaan dan reputasinya sebagai penakluk wanita di Kota Jiangzhou.

​Nyonya Wang, yang sudah menunggu di depan pintu dengan gaun sutra terbaiknya, langsung berlari menyambut bak seorang pelayan yang melihat rajanya.

​"Oh, Astaga! Tuan Muda Zhao! Suatu kehormatan besar Anda sudi mampir ke kediaman kami yang sederhana ini," sapa Nyonya Wang dengan nada menjilat yang luar biasa kental. Matanya berbinar menatap buket mawar biru Ecuador berukuran besar di tangan pria itu.

​"Bibi Wang, Anda terlalu sungkan," balas Zhao Tian dengan tawa basa-basi, meski matanya langsung melirik melewati bahu wanita tua itu, mencari target utamanya. "Di mana Yuhan? Aku sengaja membatalkan pertemuanku dengan Wali Kota hari ini hanya untuk membahas investasi dengan putri Anda."

​Su Yuhan akhirnya melangkah keluar dari balik pintu ganda ruang tamu. Ia telah mengganti pakaian kerjanya dengan gaun malam sederhana berwarna hitam yang justru semakin menonjolkan lekuk tubuh dan kulit pualamnya. Wajahnya tetap datar dan profesional, sangat kontras dengan antusiasme ibunya.

​"Selamat sore, Tuan Zhao. Silakan masuk," ucap Yuhan sopan namun berjarak.

​Syarat Licik Sebuah Investasi

​Mereka bertiga duduk di sofa kulit ruang tamu. Udara di ruangan itu terasa tegang, setidaknya bagi Su Yuhan. Grup Su saat ini sedang menghadapi krisis likuiditas parah. Rantai pasokan mereka terputus, dan bank menolak memberikan pinjaman tambahan. Satu-satunya jalan keluar adalah suntikan dana darurat sebesar 50 juta Yuan, dan Grup Zhao adalah satu-satunya pihak yang bersedia memberikan dana tersebut di saat-saat kritis ini.

​Zhao Tian menyilangkan kakinya, menatap Yuhan dengan tatapan lapar yang tidak berusaha ia sembunyikan.

​"Yuhan, aku sudah membaca proposalmu. Proyek properti di pinggiran barat itu cukup berisiko, tapi demi dirimu, Grup Zhao bersedia mengucurkan 50 juta Yuan besok pagi," kata Zhao Tian sambil tersenyum licik. "Namun, dewan direksiku meminta beberapa jaminan khusus."

​Zhao Tian mengeluarkan sebuah dokumen kontrak dan melemparkannya ke atas meja kaca. "Tandatangani ini. Ada tiga syarat kecil:"

​Hak Veto Eksklusif: Grup Zhao memiliki hak suara absolut dalam setiap keputusan proyek.

​Perjalanan Bisnis: Su Yuhan harus mendampingi Zhao Tian dalam survei lapangan ke luar kota selama tiga hari dua malam, hanya berdua.

​Status Perkawinan: Su Yuhan harus menceraikan benalu di rumah ini dalam waktu 24 jam.

​Mendengar syarat tersebut, wajah Yuhan memucat. Syarat pertama adalah perampokan bisnis, syarat kedua adalah pelecehan terang-terangan, dan syarat ketiga... adalah penghinaan mutlak.

​"Tuan Zhao, ini bukan kontrak bisnis, ini pemerasan," desis Yuhan, tangannya mengepal erat di atas lutut.

​Nyonya Wang langsung memotong dengan panik, "Yuhan! Apa yang kau katakan?! Tuan Muda Zhao hanya ingin melindungimu. Lagipula, menceraikan si sampah Lin Fan itu memang sudah seharusnya kau lakukan sejak dulu!"

​Tepat ketika Yuhan hendak berdiri untuk mengusir tamunya, pintu dapur berderit terbuka. Lin Fan melangkah masuk ke ruang tamu dengan tenang. Ia tidak bersembunyi di kamar belakang seperti yang diperintahkan Nyonya Wang. Di tangannya, ia membawa nampan kayu berisi tiga cangkir teh hijau murahan.

​"Maaf mengganggu pembicaraan bisnis kalian," suara Lin Fan terdengar datar dan dalam, memecah ketegangan di ruangan itu. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu di meja, tepat di samping dokumen kontrak yang menghina istrinya.

​Nyonya Wang terbelalak. Wajahnya seketika merah padam menahan amarah. "Lin Fan! Siapa yang menyuruhmu keluar?! Beraninya kau menampakkan wajah miskinmu di depan Tuan Muda Zhao! Cepat kembali ke kamarmu!"

​Zhao Tian tertawa terbahak-bahak, menatap pakaian usang Lin Fan dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Jadi ini menantu legendaris Keluarga Su yang sering dibicarakan orang-orang? Pantas saja Yuhan selalu terlihat stres. Memelihara anjing liar jauh lebih berguna daripada memberinya makan."

​Lin Fan tidak marah. Ia membalas tatapan Zhao Tian dengan ketenangan yang justru membuat bulu kuduk berdiri, seolah ia sedang menatap seekor semut yang merangkak di ujung sepatunya.

​Merasa tertantang oleh tatapan mata Lin Fan yang tajam, Zhao Tian mendengus sinis. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan buku cek eksklusif, dan menuliskan sederet angka dengan pena emasnya. Ia merobek cek itu dan melemparkannya hingga melayang jatuh tepat di ujung kaki Lin Fan.

​"Lima juta Yuan," ucap Zhao Tian arogan. "Ambil uang receh itu, tandatangani surat cerai malam ini, dan enyahlah dari Kota Jiangzhou. Uang itu lebih dari cukup untuk membuat gembel sepertimu hidup enak sampai mati. Jangan menghalangi kebahagiaan Yuhan bersamaku."

​Kehancuran yang Dimulai dari Pesan Singkat

​Nyonya Wang menatap cek di lantai dengan mata berbinar rakus. "Kau dengar itu, Lin Fan?! Lima juta! Tuan Muda Zhao terlalu bermurah hati padamu. Cepat ambil uang itu dan sujud berterima kasih padanya!"

​Su Yuhan menggigit bibir bawahnya, merasa dadanya sesak oleh rasa malu yang ditimpakan ibunya dan pria arogan di depannya. Ia menatap Lin Fan, berharap suaminya itu akan menunduk dan pergi seperti biasanya, menghindari konflik.

​Namun, kali ini berbeda.

​Lin Fan membungkuk perlahan, mengambil cek senilai lima juta Yuan tersebut. Ia memandangi deretan angka nol di kertas itu sejenak, lalu ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman dingin yang mengerikan.

​Sreett! Sreett!

​Di depan mata Nyonya Wang yang membelalak dan Zhao Tian yang tertegun, Lin Fan merobek cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti, lalu membiarkannya berjatuhan kembali ke lantai seperti rintik salju kotor.

​"Lima juta Yuan?" Lin Fan akhirnya bersuara, nadanya begitu berat dan penuh otoritas hingga membuat udara di ruangan itu terasa membeku. "Bahkan jika kau menjual seluruh Grup Zhao milik keluargamu, beserta nyawa seluruh leluhurmu, kau tidak akan pernah mampu membeli satu senyum pun dari istriku."

​"Kau... beraninya kau!" Zhao Tian berdiri menggebrak meja, wajahnya memerah karena amarah yang meledak. "Dasar sampah! Aku bisa membuatmu lenyap dari kota ini dalam hitungan detik! Dan Grup Su akan hancur malam ini juga!"

​Lin Fan sama sekali tidak bergeming. Ia merogoh komunikator hitam dari sakunya, jemarinya mengetik sebuah pesan singkat yang dikirimkan ke jaringan intelijen finansial Keluarga Lin di ibu kota.

​"Tarik seluruh jalur kredit, hancurkan saham, dan putus semua rantai pasokan Grup Zhao di Jiangzhou. Aku ingin mereka bangkrut dalam waktu lima menit."

​Lin Fan memasukkan kembali komunikatornya, menatap lurus ke mata Zhao Tian yang sedang murka. "Simpan ancamanmu, Zhao Tian. Sebaiknya kau periksa ponselmu sekarang. Waktumu sebagai Tuan Muda yang kaya raya hanya tersisa kurang dari tiga ratus detik."

Bab 3: Tiga Ratus Detik Menuju Kehancuran

​Tawa merendahkan Zhao Tian meledak, menggema ke seluruh penjuru ruang tamu beralas karpet Persia tersebut. Ia memegangi perutnya seolah baru saja mendengar lelucon terbaik abad ini. Di sampingnya, Nyonya Wang ikut tertawa sumbang sambil menatap Lin Fan dengan tatapan penuh kebencian.

​"Bangkrut dalam lima menit?" cibir Zhao Tian seraya menyeka ujung matanya yang berair karena tertawa terlalu keras. "Lin Fan, kau pasti sudah gila karena terlalu lama menjadi babu. Kau pikir kau ini siapa? Dewa Kekayaan? Presdir Bank Sentral? Grup Zhao memiliki aset triliunan Yuan! Bahkan badai krisis ekonomi global pun tidak bisa menyentuh sehelai rambut keluarga kami!"

​Nyonya Wang menunjuk wajah Lin Fan dengan jari gemetar menahan amarah. "Dasar gembel pemimpi! Beraninya kau melantur di depan Tuan Muda Zhao! Yuhan, kau lihat sendiri kan kelakuan suamimu? Dia benar-benar sudah kehilangan akal!"

​Su Yuhan tidak ikut tertawa maupun menghina. Matanya yang indah menatap punggung Lin Fan yang berdiri tegak. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, bahu pria itu tidak membungkuk. Ada aura dominasi absolut yang memancar dari suaminya, sesuatu yang membuat jantung Yuhan berdebar tanpa alasan yang jelas.

​Lin Fan tetap diam. Ia hanya melirik jam dinding antik yang berdetak memecah kesunyian jeda. "Waktumu tersisa dua ratus detik."

​Tepat ketika Zhao Tian hendak maju untuk melayangkan tamparan ke wajah Lin Fan, ponsel di saku jas mahalnya bergetar hebat. Nada dering eksklusif bernada tinggi itu tiba-tiba terdengar seperti alarm kematian.

​Melihat nama "Ayah (Presdir Zhao)" berkedip di layar, Zhao Tian tersenyum angkuh pada Lin Fan.

​"Lihat ini, sampah. Ayahku pasti menelepon untuk memastikan dana investasi 50 juta Yuan itu sudah ditransfer. Bersiaplah mengemas barang-barang rongsokanmu," ucap Zhao Tian bangga sebelum menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ayah? Aku sedang berada di rumah Keluarga Su untuk—"

​"Dasar anak sialan! Bencana apa yang baru saja kau datangkan pada keluarga kita?!"

​Suara lengkingan penuh kepanikan dan keputusasaan dari seberang telepon begitu keras hingga bocor ke luar speaker. Zhao Tian tersentak mundur, wajahnya yang tadi sombong perlahan membeku.

​"Ayah... ada apa? Bencana apa maksudmu?" suara Zhao Tian mulai bergetar.

​"Habis! Semuanya habis! Seseorang di ibu kota baru saja menjatuhkan hukuman mati pada Grup Zhao! Kita hancur dalam sekejap mata!"

​Runtuhnya Kekaisaran Zhao

​Melalui sambungan telepon yang tidak dimatikan itu, Nyonya Wang dan Su Yuhan bisa mendengar dengan jelas laporan kehancuran yang diteriakkan oleh ayah Zhao Tian dengan napas terengah-engah:

​Saham Terjun Bebas: Serangan short-selling masif dari belasan lembaga keuangan anonim telah menghancurkan nilai saham Grup Zhao hingga menyentuh batas bawah (ARB) hanya dalam hitungan detik.

​Pembekuan Aset Total: Empat bank terbesar secara sepihak membatalkan seluruh jalur kredit dan membekukan rekening perusahaan karena "pelanggaran risiko sistemik tingkat tinggi".

​Pemutusan Rantai Pasokan: Seluruh mitra bisnis, dari pemasok material hingga distributor ritel, membatalkan kontrak mereka serentak seolah Grup Zhao adalah wabah penyakit menular.

​Penyegelan Pemerintah: Tim kejaksaan dan lembaga anti-korupsi baru saja menerobos masuk ke kantor pusat untuk menyita seluruh dokumen terkait penggelapan pajak.

​"Kita punya utang dua ratus miliar Yuan yang jatuh tempo besok pagi, dan saldo bank kita sekarang adalah nol! Kau anak haram, siapa yang kau singgung di luar sana?! Kau telah membunuh seluruh keluarga kita!" Telepon terputus, menyisakan nada tut panjang yang terdengar seperti suara monitor detak jantung yang mendatar.

​Ponsel berlapis emas itu terlepas dari genggaman Zhao Tian, jatuh menghantam lantai marmer hingga layarnya retak. Kaki pria arogan itu tiba-tiba kehilangan tulang. Ia jatuh berlutut dengan suara berdebum keras. Wajahnya pucat pasi tanpa setetes darah pun, keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya.

​Ia perlahan mendongak, menatap pria berpakaian usang yang berdiri dengan tenang di hadapannya.

​"Kau..." Bibir Zhao Tian bergetar hebat. Matanya memancarkan horor yang absolut, seolah ia baru saja melihat malaikat maut mencabut nyawa keluarganya secara langsung. "S-siapa kau sebenarnya...?"

​Lin Fan menatapnya dengan tatapan kosong yang membekukan tulang. "Aku sudah memperingatkanmu. Lima juta Yuan milikmu bahkan tidak cukup untuk membeli senyum istriku."

​Sadar bahwa ia berhadapan dengan eksistensi monster yang bisa menghancurkan triliunan aset hanya dengan satu pesan singkat, kewarasan Zhao Tian hancur lebur. Sambil menjerit ketakutan, ia merangkak mundur, bangkit dengan susah payah, dan lari terbirit-birit keluar dari pintu utama tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan mobil Ferrarinya yang menyala di halaman.

​Di ruang tamu, keheningan mematikan turun menyelimuti. Nyonya Wang berdiri mematung dengan rahang menganga lebur, sementara Su Yuhan menatap suaminya dengan mata terbelalak, napasnya tertahan oleh keterkejutan yang luar biasa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!