"Don Rion!" pinta seorang gadis pada
bartender yang ada di depannya, di dalam sebuah bar.
Dialah Anne, Anne Avantie Anderson gadis muda berusia 20 tahun yang anggun dan mempesona.
"Kau yakin kak akan memesan Absinthe
mahal ini?" tanya Selina dengan nada berbisik di sebelah gadis itu, sambil memapah tubuhnya yang sempoyongan.
"Ya. Aku akan membayarnya kau fikir aku
tidak mampu membayarnya hanya karena berita keluarga ku bangkrut, uangku masih cukup jika hanya untuk membeli satu botol minuman ini!" balas Anne ketika di remehkan oleh adik sepupunya itu, persetan jika uangnya akan habis dia gunakan hanya untuk membeli minuman ini, yang jelas dia ingin menyalurkan semua persoalan hidupnya malam ini.
Selina menyembunyikan senyum misteriusnya mendengar perkataan saudara nya itu, namun ia segera mengelak, "tidak begitu maksudku, kak. Kau belum pernah minum minuman ini, ku takut kau akan semakin mabuk."
"Aku tidak peduli, ayo cepat berikan aku
minuman itu. Lagi pula ini semakin bagus, supaya Davin marah jika tahu aku sedang mabuk dan menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli minuman ini." Anne tampak tak peduli dengan nasehat adik sepupunya itu, dia tetap memaksa bartender pria di depannya untuk tetap memberikan minuman itu meski kini kondisinya sudah setengah mabuk oleh minuman pertamanya tadi.
Dalam hati Selina, dia bersorak setuju jika Anne akan mabuk berat malam ini.
Ya, mulanya adalah Selina yang mengajak Anne ke bar, ia mempunyai ide konyol supaya Anne mabuk supaya Davin datang menyelamatkan nya dan meminta maaf lalu kembali membahas pernikahan mereka setelah keluarganya membatalkan pernikahan itu hanya karena ayah Anne bangkrut.
Bartender itu pun tak mau melewatkan kesempatan ini saat menerima pesanan
minuman mahal karena ia akan mendapat bonus banyak setelah ini, lagipula pembeli adalah raja dan ia harus melayaninya dengan senang hati.
Gadis itu meraih gelas kecil itu dan menenggaknya dalam satu kali tegukan, dia memejamkan mata dan menggeleng pelan saat sensasi pahit bercampur hangat mengairi tenggorokannya.
Ia tak peduli alkohol akan membuatnya
kehilangan akal sehatnya malam ini, untuk semalam ini saja ia ingin meluapkan semua hal yang menggelayut di otaknya.
Tubuhnya semakin sempoyongan, Selina
yang tak kuasa menahan tubuh gadis itu pun memapahnya ke sebuah sofa dengan susah payah.
Saat melihat gadis itu sudah tidak berdaya, Selina segera berkata, "aku akan pergi sebentar, jangan kemana-mana. Setelah ini aku akan menghubungi kak Davin, jika kamu sedang ada disini dan mabuk. Dia pasti akan kemari dan memohon padamu lalu membicarakan lagi pernikahan kalian."
Anne mengangguk, bibirnya tersenyum,
begitu besar harapannya saat ini, "kamu
memang saudaraku yang sangat baik,".
Selina tersenyum, "jika nanti ada pria yang mendekati mu jangan menyuruhnya pergi, dia adalah temanku, bagian dari rencana ku untuk membuat Davin kembali melanjutkan pernikahan kalian."
Anne yang telah kehilangan akal sehatnya hanya mengangguk.
"Baiklah, baik. Jangan lama-lama meninggalkan ku." Anne pikir dengan berbuat seperti itu akan menjadi ancaman untuk Davin yang memang masih mencintainya.
"Ya, aku hanya sebentar." setelah itu Selina langsung menjauh, dan menuju ke tempat yang tidak terjangkau orang lain.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, apa gigolo yang aku pesan sudah
kamu siapkan?" tanya Selina menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang mendengar pembicaraannya.
"Ya, sudah aku siapkan. Dia meminta DP
sebesar €350 dan aku sudah membayarnya." Balas suara dari seberang telepon itu.
"Bagus, suruh dia cepat kemari aku akan
mengganti uangmu nanti."
"Kamu tenang saja, dia akan datang tepat waktu."
Setelah mendapat balasan itu, Selina pun menutup panggilan itu.
Sambil melihat ke arah Anne lagi dari jarak aman untuk memastikan gigolo yang dia pesan telah datang.
Sungguh dia tidak akan menelepon Davin saat ini seperti yang dia katakan pada Anne, dia akan menghubungi Davin setelah gigolo itu mengirimi foto-foto telanjang Anne nanti, supaya Davin semakin yakin dengan keputusan orang tuanya jika Anne bukanlah gadis baik-baik.
Dia tersenyum puas dengan idenya.
Dia begitu senang setelah pernikahan Anne batal, karena menurutnya Anne selalu menjadi penghalang untuk dirinya menjadi wanita nomor satu.
Anne elalu mendapat pujian di kampus, di keluarganya dan di manapun.
Bahkan laki-laki lebih sering mendekati nya dari pada ia, ia iri dan ingin membuat Anne benar-benar hancur malam ini.
Anne terlihat duduk dengan gelisah di
atas sofa itu.
Sejak tadi orang-orang yang melihatnya tampak menatap dengan penuh cibiran, berita pernikahan nya yang gagal sudah beredar, tapi dia malah terlihat mabuk di tempat ini.
Namun ada juga yang menatapnya dengan kasihan, sebab ia terlihat begitu hancur.
Namun tak jarang juga pria-pria dewasa
disini menatap liar saat melihat kecantikan dan kemolekan yang di miliki Anne.
Kondisinya yang mabuk serta pakainya yang seksi malam ini telah mengundang hasrat liar mereka.
Pria-pria itu tampak tersenyum ke arahnya, mengedipkan mata, bahkan membasahi bibir mereka untuk menggoda.
Tapi Anne tak peduli, dia fokus pada
ponselnya.
Menatap layar ponsel yang sejak tadi dia pegang, dia menunggu-nunggu kehadiran Davin.
Namun sejak tadi ponselnya tak juga menyala, apakah Selina sudah menghubungi Davin? Mengapa juga dia tak segera kembali.
Sebenarnya dia bisa menghubungi pria itu sendiri, tapi pria itu akan lebih percaya jika orang lain yang memberi tahu.
Lagi pula ia tak ingin menurunkan harga dirinya ketika mengatakan terang-terangan jika ia mabuk karenanya.
Akhirnya ia melangkah kembali ke meja bar, barangkali ia harus menunggu teman Selina datang untuk menyempurnakan rencana itu.
Mungkin nanti Davin akan datang, lalu
menyelamatkannya disini.
Dan memohon sehingga dia akan membujuk orang tuanya untuk melanjutkan pernikahan mereka.
Sebab ayah Anne sangat kecewa setelah
pernikahan putrinya batal, dia tidak mau
membuat orang satu-satunya yang paling dia sayangi berkecil hati.
"Berikan aku satu gelas Absinthe lagi"
pinta Anne pada bartender pria didepannya.
Pria di depannya itu tampak ragu memberikan minuman karena melihat Anne sudah benar-benar mabuk, bahkan wajahnya sudah memerah dengan mata meredup.
Namun karena paksaan darinya, pria itu
memberikan apa yang Anne mau.
Anne pun meneguk lagi minuman itu.
Tawa pun lalu membuncah dari bibir ranumnya saat ia teringat ketika dia sudah bertahan dalam hubungan yang berakhir sia-sia, mencintai pria yang dikendalikan sepenuhnya oleh keluarganya.
Bahkan bayangan indah yang telah dia
rancang sedemikian itu kini harus terkubur sia-sia.
Dia harus menelan kenyataan pahit, jika
keinginannya untuk bahagia di tolak mentah-mentah oleh dunia, dia harus terpental dan kembali ke dasar terdalam.
"Aku ingin bertanya padamu," seru Anne
pada wanita di depannya.
"Ya, silahkan. Aku akan mendengar apapun yang kamu keluhkan nona." bartender itu membalas dengan suara datar lebih ke profesional.
"Apa aku ini terlalu jelek sampai membuat dia meninggalkanku? Kenapa semua orang hanya menghargai si cantik yang kaya?" kesal Anne dengan gerakan tangan didepan tubuhnya, ia benar-benar meluapkan seluruh kekesalannya saat ini.
Bartender itu pun menyimak, dan melihat ada banyak kekecewaan yang terpancar dari matanya.
la seperti orang frustasi akibat patah hati, dia juga tahu berita yang tengah beredar saat ini, Anne adalah putri pengusaha kaya yang kini bangkrut dan batal menikah.
Dia mencoba mengerti bagaimana perasaan nya.
Selain itu juga dia tak menampakkan pertanyaan yang dilayangkan darinya, jika Anne adalah gadis yang cantik, dia mengakui itu.
Bahkan ia sendiri mengalami sesuatu yang aneh pada tubuhnya sendiri walaupun ia berhasil menyembunyikan hasrat dibalik keprofesionalnya dengan baik.
"Tidak, kau cantik, nona. Aku rasa kekasihmu sudah salah menyia-nyiakan orang tulus seperti mu,"
Seketika tawa Anne pun pecah, "orang
yang tulus akan kalah dengan orang yang kaya, lihatlah! Dan aku adalah korbannya" ketika keluarganya masih berjaya banyak orang mendekat untuk menjadi saudara, tapi ketika dia terjatuh mereka malah menjauh.
Bartender itu tak menyela dengan ucapan apapun lagi meski yang di katakan Anne benar, tapi melayani orang mabuk hanya akan membuat ia kewalahan.
Anne tampak begitu kacau dia menggumam sendiri seperti orang gila, "kau memang benar-benar bajingan Davin, kau memilih menyerah dengan keputusan orang tuamu. Fuck! Apa kau benar-benar tidak mencintai ku?" murka Anne dengan tatapan mata tajam seraya menunjuk wanita yang sedang sibuk meracik minuman itu.
Pria itu terkesiap melihat kemarahan Anne tapi dia tetap profesional bekerja.
"Brengsek! Pasti Davin juga tidak di bolehkan orang tuanya untuk pergi malam ini!" racau Anne semakin frustasi.
Dia meremas rambut nya.
Di saat yang sama, seorang pria bertubuh ramping datang mendekatinya. "Hi."
Saat itu juga mata Anne berbinar. "Hi," dia membalasnya tanpa merasa curiga. Berfikir ini adalah teman Selina, Pria itu tersenyum lalu duduk di sebelahnya, "Kamu sangat cantik sekali malam ini." pujinya lalu mengulurkan tangannya membelai lengan mulusnya yang terekspos.
Sebenarnya Anne tidak nyaman, namun karena alkohol telah membuat dia hilang
kesadaran dia tak memperdulikannya, yang dia ingin hanya Davin datang kesini setelah ini.
Pria itu terus menggodanya.
Bahkan tak sungkan menyentuh tangannya.
Mereka ngobrol cukup lama, Anne sudah tidak bisa terkontrol lagi, dia terus meladen pria itu.
Bartender di depannya yang melihat
mereka pun sedikit khawatir, apalagi tampang pria itu seperti tidak asing, dia terlihat sudah biasa berbaur di tempat ini, hingga ia akhirnya menyuruh mereka pergi.
Setelah itu bertender itu melayani pelanggan yang lain sementara Anne dibiarkan teler di tempatnya.
Hingga pria itu datang kembali lalu memapah Anne, dan malah membawanya ke sebuah kamar.
Dari kejauhan Selina tersenyum puas
melihat gadis itu tidak berdaya.
Dia pun segera memotretnya, lalu pergi
dari bar itu.
Dan tak sabar ingin melihat reaksi Davin nantinya.
Sementara dari arah lain, di sudut ruangan itu, sepasang mata tajam bagaikan elang telah memperhatikannya dengan seksama, sejak gadis itu pertama kali minum disini.
Dia terus mengawasinya, sampai akhirnya ia membangkitkan tubuhnya dan menyusul keduanya yang semakin hilang dari pandangan nya.
"Kau akan kemana tuan?" tanya Vin sang asisten yang menemaninya malam ini.
Pria itu tak menjawab dia segera membuang rokok di tangannya setelah
menghisapnya dengan dalam untuk yang
terakhir kali.
Vin menatap penuh keheranan, sejak
tadi banyak sekali wanita yang datang dan menggodanya, bahkan menawarinya kehangatan secara cuma-cuma, tapi dia hanya mengabaikan nya.
Namun saat melihat wanita mabuk itu dia malah mengejarnya, sungguh aneh.
Viktor melangkah dengan tegas, sapapun yang melihatnya dan menghalangi jalannya akan buru-buru bergeser.
Mereka tahu siapa Viktor, pria itu sangat berkuasa dari siapapun disini, bahkan dari pemilik bar ini sendiri.
Dia mewarisi Montesano Corporation perusahaan terbesar di Eropa yang juga
berkembang di sejumlah wilayah lainnya,
selain sukses menguasai dunia bisnis atas dia juga menguasai dunia bawah, menjadi pemimpin juga pengendali klan Lucchesi.
Dia tidak akan segan mematahkan leher
siapapun yang menghalanginya.
Pria itu sangat mengerikan namun begitu
tampan, memiliki kesempurnaan yang sangat di idam-idamkan banyak wanita, tubuhnya kekar memiliki otot yang liat di tiap tubuh nya.
Hidungnya mancung, bibirnya tebal sensual, dengan alis hitam tegas, serta bola mata hitam yang jernih dan tajam sedalam lautan.
Segelap malam tanpa bulan.
Brak!
Satu tendangan kuat darinya, berhasil
membuka pintu itu.
Suara teriakan Anne dari dalam juga terdengar.
Gigolo itu terbelalak melihat seseorang
yang berdiri di belakangnya ketika ia tengah mencoba melucuti pakaian gadis itu.
Saat itu, saat melihat sorot matanya yang tajam dia langsung mengenalinya dan merasa cemas.
Tubuh nya bergetar dengan keringat dingin yang mengucur.
"Davin! Kamu sungguh datang?" Anne yang benar-benar mabuk berfikir sosok itu ialah Davin, dia tidak bisa melihat sosok itu ketika tertutup pria di depannya dan hanya bergumam sesuai nalurinya.
"Davin! Kamu sungguh datang?"
Gigolo itu tidak memperdulikan celotehan Anne lagi, melihat sepasang mata tajam di tengah cahaya remang yang kian mendekat itu jauh lebih mengerikan.
Suara sepatu mahalnya yang beradu
dengan keramik terdengar makin mendekat, membuat seluruh keberaniannya runtuh seketika.
Darahnya terasa seperti mengalir bagaikan di tikam. Aura pria itu begitu mengerikan dari apapun saat ini.
"Tinggalkan tempat ini, sebelum aku membuat jiwa mu terpisah dari ragamu!" serunya dengan suara dingin, namun aura nya begitu mematikan.
Akhirnya gigolo itu melangkah mundur
dengan kaki bergetar, dengan hasrat yang dia tahan.
Menahan semua ini jauh lebih baik dari
pada ia mati dengan cepat.
Ia berlari terbirit-birit keluar dari kamar itu.
Viktor pun mendekati Anne, ia melihat wanita itu terbaring dengan kondisi yang
memprihatinkan.
Gaun yang di robek oleh pria tadi membuat separuh dadanya terlihat, begitu menonjol dan mulus sempurna.
Siapapun yang melihatnya sudah pasti akan tergoda, termasuk ia.
"Davin! Kamu datang tepat waktu, kamu
pasti kesini karena kamu tidak ingin melepaskan ku kan. Kamu masih mencintai ku kan!" ujar Anne masih berfikir jika pria itu adalah Davin.
Dia tersenyum, meski matanya memejam.
Tubuhnya meliuk seperti cacing kepanasan, membuat dress pendek berwarna gold yang di kenakan nya tertarik ke atas hingga memperlihatkan pahanya yang mulus.
Pandangan Viktor tertarik kesana.
Dia berdecih melihat kebodohan wanita itu.
Ada rasa iba yang tiba-tiba dia rasakan.
Namun fokusnya pudar saat wanita itu terus saja meliuk-liukan tubuhnya seperti cacing kepanasan yang sangat kehausan.
Tepat ketika itu Viktor mengeluarkan
sebuah topeng dari sakunya dan memasang ke wajahnya.
Bagaimana pun ia tak mau orang lain akan mengenalinya.
Lalu mendekat ke tempat gadis itu terbaring, dia ingin menjelaskan bahwa ia bukan Davin, pria yang sejak tadi di sebut-sebut olehnya.
Namun ketika berada di dekatnya, wanita itu menarik tangannya.
Dan berkata seolah-olah ia memanglah Davin.
"Sungguh, kau tidak sejahat itu kan m membatalkan pernikahan kita? Aku tidak mau semua itu terjadi." ucapnya.
"Siapa Davin?" suara berat Viktor terdengar, mendominasi di tengah keheningan itu.
Anne tampak terhenyak sesaat, namun
kemudian dia terkekeh, lalu membangkitkan tubuhnya memperhatikan seseorang tinggi
berdiri di depannya.
Ruangan yang gelap dan mata yang tertutup topeng membuat Anne tidak bisa melihat jelas sosok itu, ia langsung mengalungkan tangannya ke leher Viktor,
memeluknya begitu erat juga mencium
pipinya seolah dia memang Davin.
Viktor terdiam mendapat serangan seperti ini.
Ia bahkan tak bereaksi seperti ketika wanita malam di luar tadi menggodanya yang langsung dia usir.
Ini aneh memang.
Dia yang tidak bisa di sentuh oleh sembarang orang, kini merasa biasa saja
ketika di sentuh nya.
"Mari ku antar pulang." ucap Viktor.
Wanita itu malah menggeleng dan semakin menempel erat di tubuh pria itu, bermanja seolah-olah menumpahkan kerinduan padanya.
Dengan ini ia menjadi tahu jika wanita ini memang benar-benar mabuk.
Anne menggerakan tubuhnya meliuk-liuk
dalam pelukan itu, membuat Viktor malah makin gelisah, seperti memprovokasi macan yang sedang terlelap, ini bisa berbahaya tanpa wanita itu sadari.
la tak ingin memanfaatkan wanita ini, apalagi ketika ia di anggap pria lain olehnya.
"Jangan bergerak atau kau dalam bahaya!" ucapnya dia lalu menggendong wanita itu membawanya pergi.
Tak memperdulikan celotehannya di sepanjang jalan.
***
Mobil Viktor berhenti di depan sebuah
hotel mewah malam itu, dia langsung menuju kamarnya.
Sebuah President Suite dengan ranjang berukuran king size yang nyaman, dia
langsung merebahkan tubuh gadis itu ke sana, berfikir akan mengantarnya esok pagi.
Namun ketika ia hendak pergi, tangan wanita itu tak melepasnya sama sekali.
Dia tetap mengalungkan tangan nya ke belakang leher pria itu.
"Jangan pergi, aku ingin kamu disini." Racaunya.
"Aku harus pergi, aku bukan pria yang
kamu sebut. Aku bukan Davin!" balasnya, dia tak mau wanita itu akan terus salah paham.
Tapi setelah mendengar nya, dia seperti
merasakan kecewa.
Manik mata teduhnya terlihat bersedih, namun tak lama dia juga terkekeh.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu
pasti hanya ingin menyelamatkan ku dari pria tadi dan pergi begitu saja kan? Huh,"
"Padahal aku masih kangen." lanjutnya, tangannya lalu terulur membelai pipi pria itu.
Mengusap dengan lembut, Viktor memejam, merasakan kelembutan sentuhan dari gadis itu.
Betapa mampu membangkitkan gairah yang sedang tertidur dalam dirinya.
Dia masih menahan dirinya membungkuk di hadapan wanita yang enggan melepasnya itu.
Wanita seksi yang sedang mabuk ini memang terlihat begitu menarik.
"Aku bukan Davin! Kau akan menyesal jika ingin mempertahankan ku disini." seru Viktor dengan suara dingin dan berat, memberi peringatan.
Anne menggeleng, bola matanya mengerling terang, sangat indah di tengah remang malam itu.
"Aku tidak peduli siapapun kamu," pada akhirnya ia pasrah, dan tak ingin merasakan kesepian.
Hari-hari nya sudah cukup membuat ia sunyi setelah kepergian Davin hingga membuat ia tak ingin malam ini merasakan kesepian.
Viktor terdiam, semakin lama ia menahan dirinya, malah semakin sesak yang dia rasakan.
Begitupun rasa sesak itu harus di tuntaskan.
Wanita itu menarik tubuh Viktor hingga
terjatuh di atas tubuh nya, kedua wajah itu kini semakin mendekat tak berjarak.
Melihat bibir ranum dengan warna merah alami dan leher jenjang yang menggairahkan membuat ia makin tergoda. Ia mendekati wajah itu lalu menempelkan bibirnya ke bibir ranum itu dan mencumbunya sesaat.
Gadis itu terpejam menikmati sentuhan
itu, begitupun juga Viktor, meski ia tidak
mabuk namun gadis itu hampir membuat ia kehilangan akal sehatnya, tangannya menarik belakang kepala gadis itu menahan cumbuan itu.
Betapa tubuhnya kini telah bereaksi, ia merasakan darahnya berdesir menghangat, pendingin di dalam hotel ini sepert tidak lagi berfungsi, saat yang dia rasakan adalah panas, kulit mereka saling bersentuhan, semakin menaikan suhu di ruangan itu.
Sesuatu di bawah sana telah menegang, keperkasaan miliknya yang selalu dia banggakan.
Tatapan matanya kian meremang, ia merasakan tubuh di bawahnya terus bergerak gelisah.
Saat cumbuan itu ia akhiri, dia berfikir
sejenak, dan ingin menghentikan semuanya, marena tak mau memberi luka yang makin mendalam pada gadis yang sedang patah hati ini, ia tahu dan mendengar semua celotehannya ketika di depan meja bar tadi, ia tak akan mungkin merusaknya bukan? Apalagi setelah ini dia harus pergi ke luar negeri.
Viktor menarik tubuhnya, hendak pergi,
dia harus menuntaskannya dengan cara lain.
Tapi sial, Anne menahannya.
"Lakukanlah," bisik Anne tentu di luar akal sehat juga kesadarannya. Dia menarik tangan Viktor dan mendekap erat tubuh kekar pria itu tak mau melepasnya.
"Aku tidak ingin menyakitimu setelah ini." Viktor berbisik di depan telinganya.
"Tidak, kamu tidak akan menyakitiku.
Marilah kita bersenang-senang dan saling memuaskan," entah Anne sendiri tak bisa mengontrol dirinya, ia begitu gila, dia menatap pria itu memohon bahkan tidak malu untuk menciumnya dahulu, sesuatu hal yang tak pernah dia lakukan pada siapapun, dia mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir pria itu dan melumatnya, menyecap bibir tebal milik pria itu dengan gerakan amatir.
Anne bahkan tak peduli jika malam ini dia akan melakukannya dan kehilangan apa yang sudah dia jaga selama ini, lagi pula hidupnya sudah benar-benar tak karuan, tak ada lagi yang menarik, untuk sekali ini saja dia ingin merasakan apa yang telah di lakukan kebanyakan pasangan, meski harus berakhir dengan pria asing sekalipun.
Viktor terkesiap, pria itu merasakan bibir lembut dan manis bak cream melumatnya dengan sensual.
Dia memejamkan mata mengepalkan tangannya, semakin dia menahan, sesuatu di bawah sana malah makin memberontak.
Ia makin sesak.
"Jangan salahkan aku jika setelah ini kau
akan menyesal," bisik Viktor lalu menarik
dress itu dan menambah lagi robekannya, gaun itu telah koyak, sebagian tubuhnya bisa ia lihat, tak hanya cantik parasnya saja, apa yang ia sembunyikan bahkan juga cantik.
Pria itu melepas seluruh gaun yang telah robek itu dari tubuhnya.
Gerakan kasar yang dia lakukan itu membuat Anne melenguh.
"Engh," tangannya sambil terulur meraba
pipi dengan jambang yang tercukur habis itu, namun hal itu menimbulkan sensasi sensual yang menggelitik di tangannya.
Anne tersenyum tak menyadari reaksi
tubuhnya, "mengapa kamu harus mengenakan topeng?"
Viktor mendongak, melihat gadis itu dan
tak menanggapi racaunya.
la melepaskan satu persatu kancing kemejanya, juga kait celananya dan melemparnya ke lantai hingga berserakan.
Keduanya sudah sama-sama tak berbusana, Viktor kembali menuruni tubuhnya memberi ciuman-ciuman.
Beberapa detik kemudian, tubuh gadis itu terdorong kuat dan memejam dengan bibir yang tertarik menahan jeritan.
Tangannya mencengkram bahu pria itu dengan kuat.
Wajahnya mengernyit mendefinisikan
perasaan yang tak terucap saat tubuhnya telah menyatu.
Ruangan itu kini menjadi terasa panas saat keduanya menyatu dan membara, siluet mereka terlukis di dinding.
Dengan nafas lembut yang menjadi nada merdu pengiring malam itu.
Anne benar-benar kehilangan kesadarannya, hanya aroma tubuh dan detak jantung pria itu yang mudah ia hafal, terlebih aroma sandal Wood miliknya mendominasi semakin memacu hasratnya.
Malam semakin larut, menghanyutkan mereka berdua dalam getaran yang saling menghanyutkan.
Pagi itu Anne mengerjapkan matanya yang terasa berat, terbangun dari tidurnya semalam, dia menggeliatkan tubuhnya dan merasakan seluruh badannya remuk, seperti telah di tumbuk.
Ototnya seakan menegang, seperti telah melakukan olahraga berat yang jarang dia lakukan di sepanjang malam tadi.
Dia seperti telah melakukan sesuatu dalam mimpinya, sesuatu yang sulit ia jelaskan, dia menggerakkan tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.
Saat itu pula Anne merasakan keanehan pada tubuhnya, dia membuka selimut yang membungkus tubuhnya dan terkejut ketika mendapati dirinya tidak mengenakan apapun, bahkan ada banyak sekali bercak kemerahan yang menghiasi dadanya.
Degup jantungnya pun berdebar amat kencang setelah menyadari jika ia telah menghabiskan malam yang panas dengan seorang pria asing.
Saat itu pula ingatan semalam mengulang lagi di kepalanya tentang awal mula ia berakhir disini.
Anne memejamkan matanya menahan resah yang membalut dirinya, dia telah mabuk setelah menenggak alkohol dalam jumlah tak terukur dan di bawa ke kamar oleh seorang gigolo.
Namun setelah itu ia tak mengingat apapun lagi, ia tak ingat seluruh kejadian itu, ia hanya merasa seperti ada yang menggendongnya dan membawanya kesini.
Hingga malam panas yang tidak ia ingin kan itu pun terjadi.
"Oh, ya ampun," Ia berteriak dalam hati dengan bulir bening yang menetes dari sudut matanya.
Lalu dimana Davin?
Dia mengedarkan pandangannya kesana
kemari tapi tak menemukan siapapun, hanya ada cahaya kuning yang menyala redup dari sudut ruangan, pakaian miliknya pun berceceran di atas lantai, telah koyak dan bersatu dengan milik pria itu semalam.
Sekarang baru terasa penyesalan itu, ia
menyesal telah mengikuti saran Selina, dia yang meminta dirinya untuk datang ke bar dan membeli minuman, setelah itu ia akan mabuk dan Selina akan memberi tahu Davin lalu menyelamatkannya dan membicarakan lagi pernikahan mereka.
Namun, rencana tinggallah rencana.
Semua tak berjalan seperti yang sudah dia harapkan, kini tinggal penyesalan, bagaimana dengan nasibnya, bagaimana dengan masa depannya.
Apakah Selina sudah sengaja melakukan ini? Menjebaknya agar bermalam dengan pria itu? Tapi untuk apa? Selina tak sejahat itu, selama ini dia mengenalnya dengan baik.
Tapi jika dia baik kenapa dia tidak kembali semalam? Bukankah dia hanya ingin pergi sebentar namun malah meninggalkan nya sangat lama.
Anne menggelengkan kepalanya yang terasa berat, dia harus segera kembali dan pergi meninggalkan tempat ini.
Namun, ketika ia memandang ke depan ia melihat bayangan seorang pria dari cermin sedang melenggang keluar sambil mengenakan kemejanya yang baru, pria itu membelakanginya dengan punggung kekarnya yang terdapat sebuah simbol singa bersayap dengan sebuah tulisan di bawahnya 'Lucchesi'.
Dia mengingat-ingat tatto itu, dan dadanya berdebar sangat kencang saat merasa tak asing dengan nama yang dia lihat tadi.
"Aku seperti pernah mendengar nama itu
tapi dimana?" kepalanya terlalu pusing hingga ia tak menemukan apapun dalam ingatannya, hanya kejadian semalam yang terus memutar membuat nya makin kesal, mungkin terlalu kacau hidupnya hingga ia memikirkan nama asing itu seolah pernah dia lihat.
"Aku harus segera pergi," dia menyibak selimut yang membalut tubuhnya dan
menuruni ranjang.
Setelah pria itu pergi, ia tak ingin bertemu dengannya lagi.
Tapi, saat melihat ke lantai gaunnya
semalam telah robek, Anne semakin bingung, ia tak bisa berlama-lama lagi, sebab ia sudah meninggalkan rumah sejak semalam.
Ia tak mau ayahnya mencarinya.
Saat melihat kemeja putih milik pria itu
yang tergeletak di bawah kakinya, ia langsung meraihnya dan mengenakannya.
Seketika saja wangi sandal Wood milik pria itu tercium, sehingga adegan demi adegan semalam berputar di kepalanya, saat dia menciumnya, mengukungnya, meremas halus dadanya hingga penyatuan itu terjadi.
Anne menggeram makin kesal, namun ia tak bisa mengingat sama sekali wajah dari sosok itu.
Dia benar-benar bodoh, bahkan sudah melepas keperawanannya untuk pria asing itu.
Satu persatu kancing kemeja itu ia pasangkan.
Setelah mengaitkan seluruh kancing
kemeja itu, Anne melangkahkan kakinya
pergi dari kamar ini.
Kemeja pria itu cukup besar hingga bisa menutup tubuhnya sampai ke lutut, dia buru-buru mencari taksi untuk kembali ke rumahnya.
***
Di rumahnya, ia tertegun menatap dengan bulir bening matanya.
Mobil Davin ada disana, rumah itu bahkan ramai. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi disini.
Jantungnya berdebar kencang, ia pun bergegas melangkah kesana.
Perasaan nya sedikit ragu, namun ia harus berani.
la akan menutupi kejadian malam ini, dan berbicara baik-baik pada Davin.
Jika memang keluarganya tidak bisa menerimanya kembali, ia ingin mencoba ikhlas.
Karena dengan kejadian semalam ia jadi mengerti jika Davin sudah tidak mengharapkan nya lagi, dengan tidak datang kesana.
"'Ayah!" seru Anne di ambang pintu.
Pandangan semua orang langsung tertuju padanya, namun ketika itu ia tak mendapati ayahnya di sana, selain paman, bibi dan Selina yang duduk bersebelahan dengan Davin dan menatapnya kecewa.
"Anne! Kenapa baru pulang? Ayahmu mu
kecelakaan! Kamu malah asyik-asyik di bar!" suara dari bibinya terdengar, saat itu Anne menutup bibirnya dengan telapak tangan, ia tak menyangka akan mendengar berita buruk seperti ini di pagi hari.
Beberapa waktu lalu perusahaan ayahnya
pailit, hingga beberapa aset miliknya di tarik oleh bank.
Keluarga Davin membatalkan rencana pernikahan mereka, lalu pagi ini ayahnya
mengalami kecelakaan.
Mengapa nasibnya sesial ini? Kenapa dunia tidak lelah untuk terus menyiksanya. Padahal ia hanya memiliki ayahnya, ibunya tidak di ketahui kabarnya sejak ia kecil, ia sangat benci pada ibunya tapi ayahnya yang selalu menanamkan rasa cinta itu wanita yang telah melahirkannya.
Air matanya jatuh menetes dia ingin menemui ayahnya saat ini juga, namun kedua orang bibi dan pamannya mencegahnya dan menarik dirinya untuk tetap disana.
"Jelaskan dulu kepada kami, apa maksud
dari semua foto ini?" Bibi Evelyn melempar puluhan lembar foto ke atas meja, semua berisi fotonya yang setengah telanjang semalam tadi.
Anne membulatkan matanya terkejut, dia menggeleng tak percaya mengapa bisa bibinya mendapatkan foto itu.
Dari mana asalnya? Siapa yang sudah
mengambil foto itu? Dia begitu malu, betapa hina dirinya saat ini di hadapan orang lain.
Dia melihat dirinya yang terbaring mabuk dengan dada setengah telanjang setelah gigolo semalam merobek gaunnya.
la lalu menatap ke arah Selina dan gadis itu tertunduk seolah tak mau tahu semua ini.
"Selina tolong jelaskan pada bibi, bahwa
kamu yang sudah merencanakan semua ini padaku!" seru Anne memohon.
Namun bibi Evelyn menyangkal dengan tegas, "apa maksudmu meminta penjelasan dari Selina? Kamu menyalahkan Selina?!"
"Bibi, aku tidak menyalahkan Selina, tapi Selina yang mempunyai semua ide ini." balasnya.
Saat itu Selina mendongakan wajahnya,
dan menatap ibunya, "tidak ma! Kak Anne yang mengajakku ke bar, dia yang bilang ingin melakukan itu untuk mengancam kak Davin supaya kak Davin mau melanjutkan pernikahan itu. Tapi saat kak Anne mabuk aku ingin mengajaknya pulang, dia malah mendorongku." ucapnya dengan bersungguh-sungguh penuh kepalsuan.
Saat itu Anne mengerjapkan matanya tak
percaya, bagaimana bisa Selina malah bersandiwara seolah ini semua salahnya,
bahkan semua ini adalah rencananya termasuk mendatangkan seorang pria yang katanya adalah temannya.
Namun ia tak menyangka jika pria itu adalah seorang gigolo yang malah menodainya.
Tangannya terkepal di bawah sana setelah tahu jika Selina tak sebaik yang dia fikirkan.
Jangan ia fikir karena ia mabuk semalam dan tak mengingat rencananya, bahkan ia masih ingat saat pertama kali datang ke bar, dan Selina sendiri yang menyuruhnya minum.
"Kenapa kamu tega menjebakku Selina?
Kenapa kamu tega melakukan semua ini
padaku? Sudah jelas kamu yang merencanakan semua ini dan mengajak ku ke bar tapi kamu malah berdalih seolah-olah kau tidak terlibat!"
"Anne! Berhentilah menuduh!" suara Davin terdengar menyahuti.
Saat itu pandangan berlinang Anne langsung tertuju kesana, dia semakin sakit hati ketika Davin tidak lagi percaya padanya.
Air matanya meluncur, tidak bisa ia sembunyikan.
Harga dirinya kini sudah hancur, tidak ada lagi yang bisa ia pertahankan ia tidakpunya bukti apapun untuk menyangkal, bahkan foto-foto vulgar dirinya telah menjadi bukti jika dirinya yang sudah bersalah.
"Selina tidak mungkin menjebakmu, dia
saudara mu. Kenapa kamu malah menuduhnya seperti ini?" Davin terlihat
menghela nafasnya sangat kecewa, pandangannya lalu berpindah ke foto-foto yang terpampang di atas meja itu.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika
kamu semurahan ini, Anne. Aku masih bisa membujuk orang tua ku untuk tetap melanjutkan pernikahan itu, tapi setelah tahu kamu bermalam dengan pria lain, aku tidak lagi tertarik. Kamu sudah kotor Anne, bahkan kamu mengenakan pakaian pria itu!" ucap Davin terdengar begitu emosi.
Betapa, hati Anne kini menggelegar seperti telah tersambar petir.
Langit di luar tampak terang, namun ia merasakan badai deras mengguyur dadanya, hatinya perih seperti teriris, luka terasa menganga lebar.
Bibi Evelyn dan pamannya menatap dengan penuh menghina, sementara Selina tersenyum puas saat mendengar Davin telah menolaknya dengan tegas.
Itu artinya Davin tidak menginginkan lagi
pernikahan itu, ia benar-benar puas saat rencananya berjalan sesuai dengan keinginannya.
'Gigolo itu bekerja dengan baik, meski foto yang di ambil tidak seperti yang aku harapkan. Tapi tidak apa, karena hasilnya memuaskan. Dan aku yakin mereka pasti sudah melakukan malam panas itu, Anne pasti akan mengandung anak haram dari Gigolo itu, kelak jika dia melahirkan anak itu maka akan menjadi aib keluarga Anderson, jika ayahnya tahu, Anne pasti akan di usir dari rumah ini.' Selina tersenyum puas dalam hati.
"Sekarang dimana ayah? Cepat katakan bi." tidak ada yang pantas ia pedulikan lagi selain ayahnya, menyesal pun sudah tidak berguna.
la sudah tidak ingin menangis Davin lagi, ketika terang-terangan Davin menolaknya saat itu juga pintu hatinya sudah ditutup untuknya.
"Jangan temui ayahmu, Anne! Yang membuat dia kecelakaan adalah dirimu
sendiri,"
"Aku? Bagaimana bisa aku?" serunya
menyahuti perkataan sang bibi.
"Ya, karena foto-fotomu itu tersebar ke
semua media, ayahmu frustasi setelah
mengetahuinya." jawab sang paman.
Anne kembali tercengang, ia menahan dadanya yang berdenyut nyeri.
Ia tak menyangka kejadian semalam akan menjadi masalah sebesar ini.
Dan saat itu tatapannya di penuhi kemurkaan pada Selina, karena semua akar permasalahan ada padanya, tanpa ia sadari wanita itu lah yang menyebabkan ayahnya seperti ini.
Ia bahkan yakin jika Selina yang sudah menyebarkan potretnya ke seluruh media.
"Kalian semua, pergilah dari rumah ku!"
serunya dengan lantang.
la adalah pemilik rumah ini, namun mereka membuat keadaan seolah ia adalah sampah di rumah nya sendiri.
Setelah kemarahan Anne terdengar mereka menyadari jika mereka tidak sedang di rumah sendiri.
'huh, menyebalkan padahal aku masih ingin berlama-lama di rumah ini. Lihat saja, nanti aku pasti akan bisa menguasai seluruh rumah ini,' batin bibi Evelyn.
Dia segera membangkitkan tubuhnya
menggandeng suaminya, Davin juga tampak melangkah pergi.
Namun dia sama sekali tak mau menatap lagi wajahnya.
Bahkan ia pergi tak meninggalkan kalimat apapun lagi.
Kini tinggal Selina, dia baru mulai akan membangkitkan tubuhnya.
Saat itu Anne mendekat dengan tangan mencengkram siap mencekiknya.
Namun saat ia sudah di depan Selina, Selina melipat tangannya, senyum puasnya menghentikan tindakan Anne.
"Kamu mau apa?" tanyanya sambil menatap punggung Davin yang masih terlihat.
Saat itu Anne tersadar, jika ia mencekiknya saat ini maka ia sama saja menggali kuburan nya sendiri, Selina pasti akan diam supaya ia terlihat tengah mencelakainya dan Davin serta paman dan bibinya akan langsung menghakiminya.
"Kamu jahat, Selina! Aku tidak menyangka hatimu sebusuk ini!" umpat Anne terlalu kecewa.
Tangannya menunjuk ke wajah yang
bagaikan ulat bulu itu.
Sebenarnya ia bisa menyerangnya, hanya saja ia tak mau memperkeruh keadaan, menambah masalah saat ayahnya masih di rumah sakit.
"Karena aku tidak ingin memiliki saingan
lagi."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Selina
pun tersenyum sinis dan menjauh pergi.
Anne tercengang jika Selina hanya ingin
menyingkirkan dirinya.
Selina meraih ponselnya dan mengetikan
sesuatu sambil berjalan keluar dari rumah besar itu.
"Terimakasih atas pekerjaan mu semalam. Aku puas dengan hasilnya, dan aku akan mengirim sisa bayarannya sesuai yang aku janjikan kemarin."Selina lalu mengirim pesan itu ke nomor gigolo yang ia pesan semalam.
Tak lama kemudian terlihat balasan darinya, "terimakasih nyonya."
Selina tersenyum puas, namun di dalam
hati gigolo itu kini merasa gelisah.
Ia tak tenang, sebab ia telah menerima gaji buta. Ya, meski seharusnya ia senang karena tak perlu mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan uang ribuan dolar tapi tetap saja hatinya tak tenang.
Bagaimana jika semua ini terbongkar
dengan cepat oleh Selina, jika Anne telah di selamatkan orang lain hingga ia tak jadi menyentuhnya.
'Ah, ia kacau',Beruntungnya, ia sudah mengambil beberapa foto darinya sebelum Anne di selamatkan.
la bertekad untuk menyembunyikan semua rahasia ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!