Di sebuah pulau di lautan Blue tepatnya di South Blue bernama pulau Wings.
Seorang anak muda berusia 19 tahun bernama Draven Aleric sedang berjalan dengan wajah tenang dan santai di sebuah desa di pulau itu,
Seorang laki-laki tua yang sedang bersantai bertanya kepada nya
"hei..Draven, jadi kapan kau akan berlayar" tanya orang tua tersebut,
Draven lalu menghentikan langkah nya dan menghadap ke orang tua itu
"mungkin besok ,pak tua" senyum Draven ke arah nya
"saya harap besok anda datang ke pelabuhan pagi hari untuk mengantar saya berlayar" ujar Draven sopan
Orang tua itu tertawa
"tentu saja Draven..semua orang akan mengantarkan kalian besok, kau lebih baik mempersiapkan keberangkatan mu" jelas orang tua tersebut.
Lalu Draven berjalan lagi
"ya pak tua, saya ingin menuju pelabuhan mengecek kapal yang akan kami pakai besok..sampai bertemu besok pagi pak tua" ujar Draven sambil berjalan menuju pelabuhan.
Orang tua itu melihat Draven berjalan menuju pelabuhan pulau Wings
"dasar anak muda.." senyum orang tua itu.
Draven akhirnya sampai di pelabuhan dan melihat kapal nya yang sederhana tidak besar namun juga tidak terlalu kecil, dari kapal terlihat seseorang sedang mengecek kayu-kayu yang ada di kapal
"apa semua berjalan lancar?" tanya Draven pada orang itu yang merupakan seorang pengrajin kapal di pulau Wings.
Pengrajin kapal itu tidak menoleh ke Draven ,dia tetap fokus mengecek setiap sisi-sisi kayunya
"semua berjalan dengan baik, Draven" ujar pengrajin kapal itu, lalu dia berdiri dan menatap Draven yang berada di dermaga
"saya akan meyakinkan anda bahkan badai besar pun tidak akan bisa menenggelamkan kapal ini" jelas pengrajin kapal itu.
Draven tersenyum
"itu bagus..jika kami tenggelam karena badai besar,tentu aku akan kembali dan menuntutmu dengan tuntutan besar" canda Draven
Pengrajin kapal itu tertawa
"aku akan memberikan seluruh harta milikku jika kapal ini tenggelam karena badai" balas pengrajin kapal tersebut.
Setelah beberapa saat seorang laki-laki seumuran dengan Draven datang , laki-laki ini membawa pedang yang menempel di pinggang nya
"mengecek kapalmu lagi?" tanya laki-laki itu saat dia berdiri di sebelah Draven lalu menatap kapal itu
"kau tahu..hari ini kau sudah mengecek 5x kapalmu" cetus laki-laki itu yang adalah Axel teman Draven dari kecil.
Draven tetap melihat kapalnya
"hanya mengecek seluruh persiapan nya" jawab Draven
Axel lalu melihat pengrajin kapal itu
"jadi semua sudah sempurna, Pak?" tanya Axel ke pengrajin kapal itu
"tentu saja Axel..besok pagi kalian akan siap berlayar dengan aman" jawab pengrajin kapal tersebut.
Draven lalu menoleh ke Axel
"kau lihat Zorana?" tanya Draven ke Axel
Axel lalu menatap Draven
"kulihat tadi dia menuju makam di bukit belakang.." jawab Axel pada Draven.
Lalu Draven berbalik
"ayo kita temui dia.." ajak Draven kepada Axel yang lalu diikuti Axel tanpa berbicara apapun.
Draven dan Axel berjalan menuju ke bukit belakang di pulau Wings, saat mereka sampai keduanya melihat seorang wanita sedang menaburkan bunga di sebuah makam.. Draven dan Axel lalu mendekati nya
"berpamitan?" tanya Draven di belakang wanita itu melihat ke arah wanita itu lalu ke makam di depannya.
Wanita itu lalu menoleh ke belakang dan melihat Draven dan Axel lalu mengangguk dan kembali menabur bunga yang tersisa ke makam tersebut.
"aku harus memberitahu ayahku bahwa aku akan meninggalkan nya dalam waktu yang tidak menentu" kata wanita itu yang tidak lain adalah Zorana yang juga merupakan teman kecil dari Draven dan Axel.
Draven tersenyum menatap makam ayah Zorana
"kurasa..ayahmu tersenyum disana mengetahui anak perempuan nya akan pergi ke lautan" jelas Draven
Zorana ikut tersenyum menatap makam ayahnya
"benar ayah pasti senang.." ujar Zorana lalu tanpa sadar sebuah air mata mengalir perlahan dari matanya menuju pipinya dan menetes ke tanah makam ayahnya.
"dulu ayah sering bercerita kepadaku tentang lautan yang begitu luas dan indah..lalu dia berjanji suatu saat akan mengajakku mengarungi lautan" cerita dari Zorana
Draven dan Axel menatap Zorana
"tapi kekacauan dunia membuat ayahku harus pergi sebelum dia bisa menepati janji itu.." tambah Zorana lalu menangis.
Axel tertunduk mendengar cerita Zorana, Draven lalu memegang pundak Zorana.
"ayahmu masih ada di dalam dirimu, dia hadir di dalam dirimu menjadi tekadmu dan kekuatanmu.." ujar Draven kepada Zorana.
Lalu Draven berbalik dan menatap ke arah langit,
"kita akan mewujudkan apa yang belum bisa orang tua kita capai, perjalanan besok adalah awal kita untuk mewujudkan mimpi..bukan hanya mimpi kita tapi mimpi orang tua kita,mimpi warga pulau Wings dan mimpi kebanyakan orang di seluruh dunia" jelas Draven berbicara dengan tenang dan pasti.
Mendengar apa yang dikatakan Draven, Zorana mengusap air matanya dari pipinya lalu berbalik menghadap Draven dan mengangguk ,kali ini dengan anggukan keyakinan.. sementara Axel yang bersandar di pohon dengan tangan terlipat di dadanya menatap Draven lalu tersenyum dan mengangguk.
Besok nya di pelabuhan pulau Wings.
Draven, Zorana dan Axel berada di dermaga.. para warga pulau Wings mengantar mereka bertiga ke dermaga pulau
"hati-hati kalian bertiga..jangan lupa pulang kami selalu menunggu kalian kembali" ujar salah satu warga seorang wanita paruh baya sambil melambaikan tangannya.
Lalu seorang pria tua yang merupakan tetua di desa Wings juga berbicara kepada mereka bertiga
"kalian bertiga..lautan sangat kejam, saya harap kalian saling menjaga satu sama lain..jangan hanya berpikir untuk mendapatkan dan memenangkan tapi kalian juga harus bisa memiliki pemahaman saling melindungi" jelas tetua desa itu dengan bijak.
Draven, Zorana dan Axel yang mendengar itu pun mengangguk
"kami pasti akan melindungi punggung kami satu sama lain.." jelas Axel kepada tetua desa itu
Zorana tersenyum kepada tetua desa
"Kakek jaga kesehatan ya..kami berjanji akan kembali lagi nanti" kata Zorana
Lalu Draven menatap tetua desa itu
"jadi ,Pak tua.. terimakasih anda sudah mengantarkan kami berlayar..setelah ini serahkan semua yang ada di lautan kepada kami" jelas Draven lalu tersenyum kepada tetua desa itu lalu berbalik naik ke kapal yang diikuti oleh Zorana dan Axel yang juga naik ke kapal.
Setelah beberapa saat kapal mereka berlayar menjauhi dermaga pulau Wings
"jangan telat makan dan jangan tidur terlalu malam!!" teriak salah satu wanita
"kami menunggu berita pertama kalian di surat kabar!!" teriak lagi dari si pengrajin kapal.
Dari atas kapal Zorana melambaikan tangannya ke arah dermaga pulau Wings, sementara Axel menjalankan kemudi kapal, Draven melihat peta yang dimiliki nya.
Setelah beberapa lama pulau Wings sudah tidak terlihat dari pandangan mata mereka bertiga,
"jadi sekarang kemana arah kita?" tanya Axel sambil memegang kemudi kapalnya
"lurus saja..kita mungkin akan menemukan pulau" jelas Draven sambil melihat-lihat peta
Lalu Zorana mendekati Draven
"kamu tahu cara membaca peta?" tanya Zorana kepada Draven
Draven menatap Zorana
"tidak.." jawab Draven singkat.
Jawaban santai Draven membuat Axel refleks menoleh ke Draven
"kau berlayar tapi tidak tahu harus kemana!!??" tanya Axel sedikit kesal
"kau pikir di lautan akan ada penunjuk jalan seperti di jalan raya!!??" tambah Axel dengan sedikit panik.
Zorana menghela nafas dan mengusap alisnya lalu berjalan ke pagar kapal
"bodoh.. benar-benar bodoh" gumam Zorana lalu duduk di bangku dekat pagar kapal.
Sementara di pulau Wings, kepergian tiga anak muda yang ada di pulau Wings itu menyisakan kesedihan bagi para penduduk desa.. Draven, Zorana, Axel adalah anak-anak yang sering membantu para warga desa Wings saat mereka kesusahan, karena itu saat ketiganya memutuskan untuk berlayar sebagian besar warga desa bersedih.
"ibu ..apa kakak Zorana akan kembali?" tanya seorang anak kecil yang digendong ibunya.
Ibu dari anak kecil itu melihat ke arah lautan dimana kapal ketiga anak muda itu hilang
"pasti..mereka pasti kembali.. hanya saja ibu tidak tahu kapan mereka akan kembali" ujar ibu dari anak tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
Kembali ke lautan.
Draven, Zorana dan Axel mulai merencanakan langkah pertama mereka
"baiklah.. sekarang kita harus menentukan tujuan awal kita" jelas Axel
Lalu Zorana ikut berbicara
"kru..kita butuh kru yang memiliki kemampuan dalam menjalankan kapal" tambah Zorana tegas
Draven mengangguk
"kalau begitu kita butuh navigator dan seorang yang tahu segala sesuatu tentang kapal ,karena kapal butuh perawatan setiap kita mencapai pulau" jelas Draven
Axel sambil bersandar
"aku setuju.. navigator penting dan teknisi kapal juga perlu untuk menjalankan kapal kita" jelas Axel
Zorana lalu berpikir sesaat
"lalu dokter dan koki kapal.." terang Zorana.
Ketiganya lalu membentuk sebuah rencana dengan matang ketika mereka nanti sampai di pulau berikutnya, tujuan pertama nya adalah navigator kapal.
Setelah satu hari berlayar akhirnya Draven, Zorana dan Axel menemukan sebuah pulau, dari kejauhan mereka melihat sebuah pulau dengan beberapa kapal bajak laut yang ada di dermaga pulau tersebut.
"lihat sebuah pulau..kita bisa mengisi persediaan kita" ujar Zorana sambil melihat ke arah pulau menggunakan teropong nya.
Axel mengarahkan kapal ke pulau itu
"jika perlu kita mencari seorang navigator juga di pulau itu" tambah Axel
Zorana lalu menoleh ke Axel
"itu ide bagus..dari yang kulihat ada beberapa kapal bajak laut disana, itu artinya pulau tersebut cukup ramai" jelas Zorana lalu melihat ke arah Draven
Draven melihat pulau itu
"kita akan bersandar dan berjalan ke dalam pulau sambil mencari seseorang yang mungkin cocok bergabung dengan kita" jelas Draven
"jika tidak ada kita akan pergi dari pulau itu" tambah Draven menutup penjelasan nya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka berlabuh di pelabuhan dermaga pulau itu, Draven, Zorana dan Axel lalu turun dari kapal dan menatap pulau itu yang ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang.
Draven tersenyum
"pijakan pertama perjalanan kita.." lalu Draven berjalan ke dalam arah pulau yang diikuti Zorana dan Axel.
Sesampainya mereka di pulau bernama Paz , Draven, Zorana dan Axel mulai membeli setiap kebutuhan mereka.
Untuk pertama kalinya mereka bertiga melihat bagaimana penampilan para bajak laut di lautan,baik itu bajak laut pemula atau bajak laut yang sudah memiliki bounty
"lihat lah mereka, sangat bersemangat" kata Zorana berbisik ke Draven , kemudian Draven memperhatikan para bajak laut itu.
Setelah selesai membeli kebutuhan untuk bahan makanan ,ketiga nya memutuskan untuk membeli log pose dari salah satu toko di pulau Paz
"sekarang kurasa kita setidaknya membutuhkan log pose untuk berlayar" jelas Zorana sambil berjalan ke toko perlengkapan kapal
"benar..aku tidak ingin kita berlayar tanpa tujuan" tambah Axel yang mengikuti Zorana di belakang nya ,lalu Draven juga ikut masuk ke toko itu.
Di dalam toko Zorana lalu melihat-lihat log pose yang ada dijual di toko tersebut.. saat Zorana sedang melihat log pose yang menurut nya cocok , dua orang tiba-tiba masuk dengan terburu-buru ke dalam toko tersebut, seorang laki-laki dan seorang perempuan muda,
"apa yang sudah kau lakukan bodoh!!" kata laki-laki itu
Perempuan itu terlihat ketakutan
"aku tidak tahu, kupikir itu hanya buah biasa" jelas perempuan itu
Melihat kedua orang itu terlihat ketakutan Draven menghampiri mereka
"ada apa?" tanya Draven kepada mereka
Laki-laki itu melihat ke arah Draven dengan sinis,lalu Draven melihat ke arah gadis itu yang menunduk
"kau terlihat bingung, butuh bantuan?" tanya Draven ke gadis itu
Gadis itu sempat diam sebentar,lalu menatap Draven
"aku telah melakukan kesalahan besar.." jawab gadis itu sedikit gemetar
Laki-laki yang bersamanya pun berbicara
"itu bukan hanya kesalahan besar Luna, itu adalah kebodohan.." ujar laki-laki itu.
Draven kembali menatap Luna
"kesalahan seperti apa?" tanya Draven lagi
Kemudian dengan ragu-ragu Luna menjawab
"aku memakan sesuatu yang tidak seharusnya ku makan.." jawab Luna gemetar
"kau tidak bisa membayar makanan?" tanya Zorana yang selesai membeli log pose nya kemudian akhirnya mendekati Luna.
Luna menggelengkan kepala nya
"aku sudah memakan buah iblis" jelas Luna
Mendengar itu Draven dan Zorana terkejut,bahkan Axel yang awalnya tidak tertarik mulai menatap ke arah Luna
"buah iblis?" tanya Axel mulai tertarik
Laki-laki yang bersama Luna lalu menjelaskan
"dia telah memakan buah iblis yang seharusnya menjadi transaksi kami dengan kelompok bajak laut yang cukup terkenal di lautan Blue ini" terang laki-laki itu menjelaskan sambil terlihat ketakutan
Draven menatap Luna
"begitu ya.."
Luna pun menjelaskan
"aku lapar..kupikir itu hanya buah biasa jadi aku memakan nya, aku tidak tahu itu sebuah buah iblis" jelas Luna lagi
Zorana lalu memegang pundak Luna menenangkan nya
"kita hanya perlu berbicara saja kepada bajak laut itu bahwa terjadi kecelakaan" ucap Zorana mencoba membuat tenang Luna
Laki-laki itu melihat ke arah Zorana
"kau ini bodoh atau apa..mereka bajak laut dan mereka tidak akan mentoleransi apapun!!" jelas laki-laki itu
"memang..buah iblis apa yang di makannya?" tanya Axel penasaran
Laki-laki itu menjawab
"itu adalah buah iblis Uki-Uki no Mi..buah yang bisa membuat pemilik nya melayang dan bisa meringankan benda lain disekitarnya lalu melayang kan nya" jelas laki-laki itu
Lalu Draven berbalik dan berjalan keluar dari toko itu
"kalau begitu kita hadapi saja bajak laut itu" jelas Draven lalu membuka pintu toko dan keluar.
Zorana yang melihat itu lalu mengajak Luna untuk pergi, sementara Axel mengikuti tanpa berbicara banyak.
Saat mereka sampai di pelabuhan terlihat bagaimana sekelompok bajak laut terlihat cemas, mereka adalah kelompok bajak laut pemula yang merupakan teman-teman Luna dan laki-laki itu..lalu teman Luna yang berbadan besar melihat Luna berjalan bersama tiga orang asing yang tak mereka kenal,
"lihat si bodoh itu , sekarang dia bersama 3 orang asing.." jelas laki-laki bertubuh besar itu, kemudian laki-laki yang bersama Luna mendekat ke kelompok nya
"kami tidak butuh kru yang hanya menjadi beban di kapal ini.." kata seorang lainnya
Mendengar itu Luna menggigit bibir nya sendiri menahan perasaan sakitnya , Zorana yang melihat itu lalu menggenggam erat tangan Luna.
Lalu tak berhenti lama dari kejauhan terlihat sebuah kapal Bajak Laut besar mendekati pulau Paz,
"itu mereka datang!!" kata laki-laki bertubuh besar itu, membuat semua orang termasuk Draven, Zorana dan Axel melihat ke arah kapal tersebut.
Tak lama kapal itu bersandar di pelabuhan pulau Paz, seorang bertubuh besar dengan membawa pedang besar turun dari kapal bersama dengan para anak buahnya kemudian berjalan menuju kelompok teman-teman Luna berada,
"dimana buah itu?" tanya kapten Bajak Laut itu
Semua teman Luna terlihat ketakutan untuk menjawab, sampai akhirnya Draven menjawab
"buah itu sudah di makan.." jawab Draven yang membuat kapten bajak laut itu menoleh ke arah Draven,begitu juga para kru anak buahnya.
"kau bilang sudah dimakan?" tanya kapten itu kembali memastikan
"kami berjalan jauh untuk buah iblis itu dan kau bilang memakannya?" tambah kapten itu yang sekarang sepenuhnya menghadap ke Draven, tangan Axel sudah bersiap di gagang pedangnya terhadap kemungkinan apapun yang terjadi, sementara Zorana tetap berada di samping Luna untuk melindungi nya.
Draven mengangguk
"jadi kami minta maaf atas ketidak tahuan ini.."ujar Draven,yang membuat kapten itu tertawa
"ada harga untuk hal itu bocah!! serang mereka!!" teriak kapten bajak laut itu,kemudian para anak buah kapten itu menyerang ke arah Draven dan beberapa menuju ke Zorana dan Luna.
Saat mereka mendekat ke Draven, Axel dengan cepat berada di depan Draven dan mengayunkan pedangnya kemudian mengenai para anak buah itu hingga terhempas.. sementara Zorana mengeluarkan rantai nya untuk mengikat anak buah kapten itu yang menyerang ke arahnya.
Draven lalu berjalan maju menuju kapten itu
"sudah kubilang..kami meminta maaf" jelas Draven berbicara dengan tenang, kapten itu yang masih terkejut melihat para anak buahnya langsung mengayunkan pedangnya ke arah Draven,
Seketika sebuah bayangan menyerupai tentakel melilit tangan kapten itu dan menahannya..sebuah tentakel bayangan lain muncul melilit kakinya lalu mengangkat nya dan melempar kapten itu ke laut.
Melihat itu mata Luna dan teman-temannya melebar dengan mulut terbuka melihat sesuatu yang masih mereka tidak percayai
"mereka mengalahkannya semudah itu?" kagum salah satu teman Luna yang melihat Draven.
Lalu Draven berjalan ke arah kapal nya,
"kita berangkat.. Zorana, Axel" ucap Draven yang lalu kemudian menatap ke arah Luna
"dan..siapa namamu?" tanya Draven
Luna tersentak sempat terdiam sebelum akhir bisa menjawab
"Luna.." jawabnya pelan
Draven lalu melanjutkan langkah nya menuju kapal
"ikut lah dengan kami..akan banyak yang akan mengincarmu dengan kekuasaan yang sekarang kau miliki" jelas Draven lalu naik ke kapal.
Axel tanpa berbicara mengikuti Draven naik ke kapal, lalu Zorana menatap Luna
"selamat datang di kapal kami.." senyum Zorana kepada Luna lalu berjalan menuju kapal.
Luna melihat ketiga orang itu naik ke kapal mereka, kemudian melihat teman-teman nya yang berada di sisi lain.. kata-kata 'beban' yang diucapkan teman-teman Luna kepada dirinya terngiang di telinganya.
Luna menghela nafasnya kemudian melayang dari tanah menuju kapal Draven dan memutuskan untuk mengikuti perjalanan baru menuju lautan bersama Draven, Axel dan Zorana menjadi bagian dari Bajak Laut Aether.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!