Indonesia
NovelToon NovelToon

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Episode 1

Bab 1: Tiga Aturan

1. Perjodohan keluarga kita tidak pernah aku akui.

2. Selama tinggal di rumah Adiwangsa, jangan naik ke lantai tiga.

3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila menatap tiga pesan di layar ponselnya sampai cahaya biru memantul pada koper yang terbuka di lantai. Gaun, buku kuliah, dan sepasang sepatu masih bertumpuk berantakan. Ia bahkan belum selesai mengemas hidupnya, tetapi seseorang sudah lebih dulu menentukan tempat mana yang boleh ia pijak dan siapa yang tidak boleh ia dekati.

Nama kontak itu hanya satu huruf: R.

Foto profilnya berupa laut biru gelap dengan garis cahaya kehijauan di permukaan. Tidak ada wajah. Tidak ada sapaan. Hanya tiga aturan yang dikirim beberapa detik setelah Naila menerima permintaan pertemanannya.

Naila kembali membuka grup WhatsApp keluarga yang baru dibuat sore tadi. Di antara pesan Mama, Tante Laras, Om Wirya, dan Papa, akun bernama Radhika memakai foto laut yang sama.

Jadi, benar. Ini Radhika Arya Adiwangsa.

Mas menyebalkan yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya.

Jempol Naila bergerak di atas papan ketik.

Oke.

Balasan dari Radhika datang secepat orang yang memang sedang menunggu.

Besok aku ada urusan. Aku suruh orang jemput. Udah ya, urusan selesai.

Naila mengerutkan hidung. Ia sempat mengetik, Aku juga tidak tertarik sama perjodohan itu, sebelum menghapusnya lagi. Untuk apa menjelaskan diri pada orang yang bahkan tidak punya sopan santun untuk menyapa?

Ia memilih mengirim stiker jempol.

Gagal.

Sebuah pemberitahuan kecil muncul di bawah layar. Ia tidak lagi dapat mengirim pesan kepada akun tersebut.

Radhika menghapusnya.

"Kurang ajar."

Naila melempar ponsel ke kasur. Sebuah kaus putih ikut terangkat, lalu jatuh menutupi bingkai foto lama di meja samping tempat tidur. Dalam foto itu, seorang anak perempuan berumur empat tahun berdiri di depan rumah lama mereka di Dago, Bandung. Matanya sembap. Tangan kecilnya menggenggam sesuatu di luar bingkai.

Wajah orang di sampingnya terpotong.

Naila tidak ingat siapa yang memegang tangannya hari itu. Ingatannya tentang Bandung tinggal serpihan: aroma tanah setelah hujan, rasa asam lemon, dan seorang anak laki-laki yang sangat pandai membuatnya menangis.

Radhika pasti anak laki-laki itu.

Enam tahun lebih tua, suka merebut mainannya, lalu memasang wajah tidak bersalah ketika ia mengadu. Sekarang, setelah empat belas tahun, sifatnya rupanya tidak berubah. Baru muncul sudah memberi tiga larangan, seolah Naila akan mengejarnya sampai ke lantai tiga.

Pintu kamar terbuka. Wulan masuk sambil membawa dua kantong penyimpanan pakaian.

"Belum selesai juga? Besok kita harus berangkat sebelum pukul tujuh."

"Mama yakin aku harus tinggal di rumah Tante Laras? Aku bisa tinggal di kos dekat kampus."

Wulan menggantungkan pakaian di sisi koper. "Kamu baru delapan belas tahun, Nai. Papa dan Mama akan lebih tenang kalau kamu bersama keluarga yang kami percaya. Lagipula, Tante Laras sudah senang sekali mendengar kamu akan tinggal di sana."

"Aku sudah empat belas tahun tinggal dengan orang yang berbeda-beda. Harusnya Mama tahu aku bisa menjaga diri."

Tangan Wulan berhenti sesaat pada ritsleting koper.

Hanya sesaat.

"Justru karena itu kamu pasti cepat menyesuaikan diri."

Senyum Mama lembut, seperti biasa. Jawabannya juga rapi, seperti jadwal penerbangan dan dokumen bisnis di meja kerja. Selalu ada alasan yang masuk akal setiap kali Naila dititipkan. Dulu karena sekolah. Lalu karena perjalanan bisnis. Kemudian karena rumah yang terlalu jauh dari kampus.

Kali ini karena New York.

"Iya, Ma."

Naila menunduk dan melipat kaus yang tadi jatuh. Tidak ada gunanya membuat Mama merasa bersalah pada malam sebelum keberangkatan. Toh ia sudah tahu cara menjadi tamu yang mudah disukai: jangan banyak meminta, jangan pulang terlambat, dan jangan membuat pemilik rumah mengingat bahwa ia sedang menumpang.

Sekarang ada satu tambahan.

Jangan naik ke lantai tiga.

Ia memasukkan kaus itu ke koper, lalu menutupnya keras-keras.

Pagi berikutnya, halaman rumah Prasetya dipenuhi koper dan suara roda yang bergesekan dengan batu alam. Udara Pondok Indah masih lembap. Bi Yani mondar-mandir dari teras ke mobil sambil memastikan tidak ada dokumen Bagas yang tertinggal.

"Sini dulu. Foto keluarga sebelum berangkat," kata Wulan.

Naila baru turun dengan sweter rajut putih dan celana panjang warna krem. Rambut cokelatnya yang sedikit bergelombang dibiarkan jatuh di bahu. Ia belum benar-benar sadar ketika Mama menariknya berdiri di antara kedua orang tuanya.

Tiga kali bunyi kamera terdengar.

"Sekarang Naila sendiri."

"Ma, buat apa?"

"Satu saja. Senyum."

Naila menahan napas, lalu tersenyum tipis. Matahari pagi membuat tahi lalat kecil berwarna cokelat muda di bawah mata kanannya terlihat lebih jelas.

Wulan memeriksa hasil foto dengan puas. Sebelum Naila sempat merebut ponsel itu, fotonya sudah terkirim ke grup keluarga.

Mama: Biar keluarga Adiwangsa kenal yang mau dijemput pagi ini.

Tante Laras: Masya Allah, cantik sekali! Tante sudah menunggu, Naila.

Om Wirya: Hati-hati di jalan. Rumah kami rumah Naila juga.

Naila menutup wajah dengan telapak tangan. "Mama, hapus. Aku malu."

"Kenapa malu? Memang cantik, kok."

"Semua orang di grup itu sudah tahu aku."

"Radhika belum tentu ingat wajahmu. Terakhir ketemu kamu masih kecil."

Nama itu membuat Naila teringat tiga pesan semalam. Ia melirik grup. Tidak ada balasan dari Radhika, tetapi tanda baca pada foto menunjukkan pesan itu sudah dilihat.

Bagas mendekat dan memasukkan sebuah kartu ke tas tangan Naila.

"Kartu Bank Mentari. PIN-nya tanggal lahirmu," katanya. "Kamu sudah delapan belas. Beli pakaian atau apa pun yang kamu butuhkan. Jangan sungkan bilang kalau uangnya kurang."

Plastik kartu yang dingin menyentuh jari Naila. Ia ingin bertanya apakah Papa tahu jadwal kuliahnya semester ini. Pertanyaan itu berhenti di tenggorokan ketika ponsel Bagas kembali berdering dan layar menampilkan nama rekan bisnis dari Amerika.

"Terima kasih, Pa."

Bagas mengusap puncak kepalanya sekali sebelum menerima telepon.

Keberangkatan berlangsung cepat. Pelukan Mama beraroma parfum melati. Papa berpesan agar ia tidak merepotkan Om Wirya dan Tante Laras. Pintu mobil tertutup, kaca dinaikkan, lalu kendaraan itu bergerak keluar dari halaman dengan dua koper besar di bagasi.

Naila berdiri di bawah kanopi sampai mobil mereka hilang di tikungan.

Bi Yani menyentuh lengannya. "Non Naila tunggu di dalam saja. Nanti kalau jemputannya datang, Bi panggil."

"Nggak apa-apa, Bi. Katanya sebentar lagi."

Ia menarik gagang koper ke tepi jalan. Rumah di belakangnya tiba-tiba terasa terlalu besar untuk seseorang yang ditinggalkan. Di lantai atas, tirai kamarnya masih terbuka. Di balik kaca itu ada meja belajar, rak penuh piala, dan semua benda yang membuktikan ia pernah tinggal di sini.

Namun kunci rumah sudah ia titipkan kepada Bi Yani.

Suara mesin halus memotong kesunyian pagi.

Sebuah Rolls-Royce Cullinan hitam melambat di depan pagar, catnya memantulkan pepohonan seperti kaca gelap. Naila spontan merapikan rambut. Ia tidak menyangka keluarga Adiwangsa akan mengirim mobil semewah ini hanya untuk menjemput orang yang menumpang.

Kaca pengemudi turun.

Seorang pria muda mengenakan jaket hitam duduk di balik kemudi. Garis rahangnya tegas, rambutnya sedikit berantakan, dan sorot matanya terlalu tenang untuk seorang sopir yang sedang dikejar waktu. Wajah itu terasa samar-samar akrab, tetapi Naila tidak berhasil menghubungkannya dengan siapa pun.

"Naila?" Suaranya rendah.

"Iya. Dari rumah Tante Laras, kan?"

Pria itu menatapnya dua detik lebih lama dari yang diperlukan. "Masuk."

Tidak ramah, tetapi setidaknya tidak memberi tiga larangan.

Naila mengangguk sopan, lalu menunjuk dua kopernya.

"Pak, tolong buka bagasinya."

Tidak ada gerakan.

Ia mengira suaranya kurang terdengar. Naila mendekat sedikit ke jendela yang terbuka dan mengulang dengan lebih jelas, "Pak, bagasinya boleh dibuka?"

Pria itu mengangkat sebelah alis. Ujung matanya menyipit, seolah satu kata yang baru keluar dari mulut Naila telah menyinggung harga dirinya.

Episode 2

Bab 2: Nona Lemon

"Ganti panggilan dulu."

Naila berkedip. "Apa?"

Pria itu mengetuk kemudi dengan telunjuk. Wajahnya tetap datar, tetapi alis yang terangkat tadi belum turun.

"Aku kelihatan setua itu sampai dipanggil Pak?"

Oh, rupanya dia tersinggung karena itu.

Naila menaksir usianya. Paling-paling dua puluh empat atau dua puluh lima. Memang terlalu muda untuk dipanggil Pak, meski sorot matanya membuatnya tampak seperti atasan yang gemar memotong gaji orang.

Ia tersenyum manis. "Mas sopir, tolong buka bagasinya, ya."

Bibir pria itu bergerak tipis. Entah hendak tersenyum atau mengumpat.

Klik.

Pintu bagasi akhirnya terbuka.

Bi Yani keluar untuk membantu, tetapi pria itu sudah turun lebih dulu. Tingginya membuat Naila harus mendongak. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat dua koper besar ke bagasi seolah benda-benda itu tidak memiliki berat.

"Non, kabari Bi kalau sudah sampai," pesan Bi Yani.

"Iya, Bi."

Naila memeluk perempuan yang sudah menjaga rumah mereka selama bertahun-tahun itu. Ketika ia masuk ke mobil, Bi Yani masih berdiri di depan pagar dan melambaikan tangan. Pemandangan itu mengecil di kaca spion sampai mobil berbelok keluar dari jalan rumahnya.

Barulah Naila sadar, pagi ini ia sudah mengucapkan selamat tinggal tiga kali.

Ia memasang sabuk pengaman dan menaruh tas di pangkuan. Kabin mobil beraroma kulit baru bercampur wangi kayu yang sejuk. Tidak ada parfum mobil menyengat yang biasanya membuat perutnya bergejolak.

Pria di sampingnya melirik. "Mabuk perjalanan?"

"Sedikit. Kok tahu?"

"Kelihatan. Wajahmu pucat."

Padahal Naila merasa baik-baik saja. Mobil bergerak dengan kecepatan stabil, setiap pengereman begitu halus hingga air dalam botol di cup holder nyaris tidak bergoyang.

"Kalau mual, bilang."

"Iya, Mas sopir."

Jari pria itu mengencang pada kemudi.

Naila pura-pura tidak melihat.

Beberapa menit berlalu dalam suara pendingin udara yang lembut. Jalanan Jakarta mulai padat, tetapi pengemudi muda itu tidak sekali pun menekan klakson. Ia tenang, terlalu tenang, seolah kemacetan di depannya yang harus menyingkir.

"Kamu nggak merasa aku mirip seseorang?" tanyanya tiba-tiba.

Naila menoleh. "Siapa?"

"Makanya lihat baik-baik."

Permintaan itu aneh. Namun karena penasaran, Naila memiringkan tubuh dan mengamati profilnya. Hidung lurus. Garis rahang tegas. Ada bayangan lelah tipis di bawah mata, tetapi tidak mengurangi ketampanannya. Malah membuatnya tampak seperti aktor yang baru selesai syuting semalaman.

Pria itu berdeham. "Udah ketemu?"

"Kayaknya iya."

Ia menoleh sekilas, menunggu.

"Kamu mirip aktor film lama waktu masih muda. Aku lupa namanya. Mama suka nonton filmnya."

Sunyi.

Naila menahan tawa ketika melihat rahang pria itu mengeras.

"Bukan?"

"Bukan."

"Ya sudah. Berarti wajahmu pasaran."

Pria itu menarik napas melalui hidung. "Nggak punya hati."

"Kok malah marah? Mas sendiri yang tanya."

Ia tidak menjawab lagi.

Namun di balik tatapannya yang lurus ke jalan, ingatan Radhika sudah melompat jauh ke Dago. Seorang anak perempuan berumur dua tahun pernah memanjat sofa dengan kaki pendek, lalu menangkup wajahnya memakai dua tangan lengket.

Mas Aka, main sama Lemon.

Waktu itu Radhika baru delapan tahun. Ia sedang menyelesaikan tugas sekolah, tetapi Naila menarik pipinya sampai mulutnya tidak bisa menolak. Beberapa menit kemudian, buku tugasnya penuh coretan krayon kuning dan Naila tertawa paling keras.

Sekarang gadis itu duduk di sebelahnya, menganggap wajahnya pasaran.

Pagi tadi Radhika sebenarnya sudah berada setengah jalan menuju kantor. Lalu foto Naila dalam sweter putih muncul di grup keluarga. Wajah mungil yang dulu selalu mencarinya sudah berubah, tetapi tahi lalat kecil di bawah mata kanan itu masih sama.

Ia menyuruh sopir berbalik, mengambil mobilnya sendiri, dan mengabaikan rapat pagi.

Alasannya sederhana. Naila mudah mabuk perjalanan. Pak Slamet suka menginjak rem mendadak.

Hanya itu.

Radhika menurunkan suhu pendingin udara satu tingkat ketika melihat Naila mengusap tengkuk.

"Dingin?"

"Pas."

"Kalau mau tidur, tidur saja."

"Nggak. Nanti Mas sopir bawa aku kabur."

"Kalau mau kubawa kabur, dari tadi kita sudah lewat jalan tol."

Naila buru-buru melihat peta di ponselnya. Titik biru bergerak ke arah Menteng dengan benar. Dari samping terdengar tawa rendah, sangat singkat, tetapi cukup membuat telinganya panas.

"Ngeselin," gumamnya.

"Baru tahu?"

Tidak sampai dua puluh menit kemudian, gerbang hitam tinggi terbuka. Mobil masuk ke halaman luas dengan deretan pohon palem rapi. Rumah utama berdiri di balik taman, bergaya kolonial modern dengan jendela-jendela tinggi dan teras putih.

Wirya dan Larasati sudah menunggu di anak tangga depan.

Begitu mobil berhenti, Naila segera turun. "Assalamualaikum, Tante Laras. Om Wirya."

"Waalaikumsalam. Ya Allah, akhirnya sampai juga!"

Larasati memeluknya erat, seolah mereka baru berpisah seminggu, bukan bertahun-tahun. Wangi melati dari bajunya mengingatkan Naila pada pelukan Mama pagi tadi. Bedanya, pelukan Tante Laras tidak terburu-buru lepas.

Wirya tersenyum hangat. "Selamat datang, Nak. Anggap saja rumah sendiri."

"Terima kasih, Om. Maaf merepotkan."

"Nggak ada yang direpotkan."

Bi Rohmah dan dua pegawai rumah tangga mengambil koper dari bagasi. Naila menoleh hendak berterima kasih kepada pengemudi muda tadi, tetapi Rolls-Royce sudah bergerak lagi.

"Eh, Mas sopirnya belum aku bilang terima kasih."

Larasati menatap mobil yang menjauh, lalu menahan senyum. "Biarkan. Anak nakal memang begitu."

Naila tidak mengerti mengapa seorang majikan menyebut sopirnya anak nakal. Ia hendak bertanya, tetapi Larasati sudah menggandeng tangannya masuk.

Rumah Adiwangsa memiliki tiga lantai. Larasati menjelaskan lantai pertama ditempati dirinya dan Wirya. Lantai dua milik putra sulung mereka, Damar, yang lebih sering menginap dekat kantor. Lantai tiga seluruhnya digunakan Radhika.

"Kamar di lantai satu dan dua sama-sama siap. Naila mau yang mana?" tanya Larasati.

Pesan semalam muncul lagi di kepala Naila.

Jangan naik ke lantai tiga.

"Lantai satu saja, Tante. Biar dekat Tante."

"Nggak mau di lantai dua? Lebih dekat ke lantai tiga, lho. Dulu kamu selalu cari Mas Radhika."

"Sekarang sudah nggak."

Jawabannya terlalu cepat. Larasati berkedip, sementara Naila pura-pura sibuk melihat lukisan di dinding.

Bi Rohmah mengantarnya ke kamar di sisi taman. Seprai baru sudah terpasang, meja belajar menghadap jendela, bahkan ada stopkontak tambahan di dekat kepala tempat tidur untuk mengisi daya ponsel.

"Bajunya biar Bi rapikan, Non."

Naila buru-buru menahan koper yang hendak dibuka perempuan itu. "Aku sendiri saja, Bi. Nanti Bi kasih tahu tempat mesin cuci, ya. Aku biasa urus pakaian sendiri."

Bi Rohmah tersenyum kecil. "Di rumah ini Non Naila bukan tamu. Nggak perlu sungkan."

Kalimat serupa sudah dua kali ia dengar hari ini. Naila tetap mengangguk dan membuka koper sendiri. Menjadi bukan tamu ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mendengarnya.

Setelah makan siang dan tidur sebentar, Naila diajak berkeliling taman. Larasati menunjukkan rumah kaca kecil milik Wirya, deretan anggrek, dan rumpun mawar merah muda yang sedang mekar penuh.

"Cantik banget," kata Naila sambil membungkuk mendekati satu bunga.

Cahaya sore jatuh pada sisi wajahnya. Ujung rambutnya bergerak disentuh angin, dan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya terlihat jelas ketika ia menutup mata untuk menghirup aroma mawar.

Klik.

Naila menoleh. "Tante motret aku?"

"Bunganya," jawab Larasati tanpa rasa bersalah.

Ia mengunggah foto itu ke status, lalu mengirimkannya ke satu kontak secara pribadi.

Larasati: Cakep nggak, Dhika?

Episode 3

Bab 3: Radhika Itu Galak

Pesan itu muncul di layar ponsel Radhika saat seseorang sedang mempresentasikan laporan bulanan.

Ia hanya berniat melirik.

Namun jarinya berhenti di atas foto.

Naila berdiri di antara mawar merah muda dengan mata terpejam. Cahaya sore menempel pada bulu matanya, sementara sehelai rambut melintang di pipi. Ia tampak jauh lebih tenang dibanding gadis yang pagi tadi sengaja memanggilnya Mas sopir berkali-kali.

"Pak Radhika?"

Suara di seberang meja membuat Radhika mengangkat kepala. Tiga orang menunggunya memberi tanggapan.

Ia membalik ponsel hingga layarnya menghadap meja. "Angka retensi pengguna bulan ini turun dua persen. Perbaiki sebelum Jumat. Lanjut."

Presentasi kembali berjalan. Sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar lagi.

Bunda: Dibaca doang?

Bunda: Yang ditanya cakep atau nggak.

Radhika membuka foto itu sekali lagi. Jempolnya sempat menyentuh layar, memperbesar bagian wajah Naila, lalu cepat-cepat mengembalikannya.

Radhika: Cakep. Mawar jenis apa?

Balasan datang nyaris seketika.

Bunda: BUNDA TANYA NAILA.

Radhika menekan sudut bibir agar tidak naik.

Radhika: Jelek.

Seorang staf mengetuk pintu ruangannya setelah rapat selesai. Radhika langsung mengunci ponsel, lalu menerima berkas yang disodorkan tanpa perubahan ekspresi.

"Jadwal pukul empat dengan investor tetap, Pak?"

"Mundurkan tiga puluh menit."

"Ada keperluan lain?"

"Aku pulang ke Menteng."

Staf itu tampak heran, tetapi cukup bijak untuk tidak bertanya. Radhika hampir tidak pernah pulang sebelum malam.

Begitu pintu tertutup, ia membuka percakapan dengan Bunda lagi. Foto Naila disimpan ke galeri, lalu ponsel dimasukkan ke saku jas. Gerakannya cepat, seolah menyimpan foto seorang gadis yang baru disebutnya jelek adalah bagian biasa dari pekerjaan.

Di taman Menteng, Larasati mematikan layar ponselnya dengan kesal.

"Anak itu memang perlu diajari cara bicara sama perempuan," gerutunya.

"Siapa, Tante?" Naila yang sedang menyentuh kelopak mawar menoleh.

"Mas Radhika-mu."

Naila langsung menarik tangannya. "Kenapa dia?"

Larasati menangkap perubahan kecil itu. "Tante jadi penasaran. Menurut Naila, Radhika itu bagaimana?"

Bagaimana?

Naila bisa menyusun daftar dalam lima detik. Sombong. Tidak sopan. Suka memerintah. Hobi menghapus orang dari WhatsApp. Sewaktu kecil juga gemar membuatnya menangis.

Sayangnya, perempuan yang bertanya adalah ibu Radhika dan pemilik rumah yang kini ditumpanginya.

"Mas Radhika... baik," jawabnya hati-hati.

"Baik bagaimana?"

Naila tersenyum kaku. "Ganteng. Sopan. Gentleman. Perhatian juga."

Setiap kata membuat lidahnya terasa berdosa.

Larasati menahan tawa. "Kamu suka laki-laki seperti dia?"

"Bukan begitu maksudku, Tante. Tapi kayaknya nggak ada cewek yang nggak suka sama dia."

Kecuali aku, sambung Naila dalam hati.

"Syukurlah."

"Syukurlah?"

"Maksud Tante, syukurlah kamu masih ingat kebaikannya." Larasati merangkul bahu Naila dan mengajaknya kembali ke rumah. "Dari kecil Mas Radhika-mu paling sayang sama kamu. Begitu dengar kamu akan tinggal di sini, dia senang sekali."

Naila tersenyum tanpa menjawab.

Senang sekali sampai mengirim tiga larangan, lalu menghapusnya dari daftar teman. Kalau itu tanda sayang, Naila tidak mau tahu bagaimana Radhika memperlakukan orang yang dibencinya.

Menjelang pukul lima, suara mesin mobil memasuki halaman. Naila sedang duduk di ruang keluarga ketika Rolls-Royce hitam yang menjemputnya pagi tadi berhenti di bawah kanopi.

Mas sopir pulang.

Ia sempat ingin keluar dan menanyakan namanya. Namun pria itu tidak masuk lewat pintu utama. Beberapa menit kemudian, Larasati muncul dari arah dapur dengan celemek masih terpasang.

"Naila, bantu Tante panggil Radhika makan, ya. Dia pasti langsung masuk ke ruang kerja."

Naila menegakkan tubuh. "Aku?"

"Tante lagi lihat sup. Kalau ditinggal, nanti meluap. Ruang kerjanya di lantai tiga, paling ujung."

Aturan nomor dua langsung berbunyi di kepala Naila.

Jangan naik ke lantai tiga.

"Tapi, Tante..."

"Tolong, ya, Ndhuk. Om Wirya sudah menunggu di ruang makan."

Larasati kembali ke dapur sebelum Naila sempat mencari alasan.

Bagus. Hari pertama tinggal di sini dan ia sudah akan melanggar aturan. Kalau Radhika marah, ia tinggal mengatakan bahwa ibunya sendiri yang menyuruh.

Naila masuk ke lift kecil di dekat tangga. Pintu terbuka langsung ke lorong lantai tiga yang jauh lebih sunyi. Dindingnya abu-abu gelap, tanpa foto keluarga. Hanya ada tiga pintu dan aroma kayu dingin yang membuatnya teringat kabin mobil pagi tadi.

Ia berhenti di pintu paling ujung, mengetuk dua kali, lalu mendorongnya setelah tidak mendapat jawaban.

Ruangan itu remang. Tirai belum dibuka seluruhnya. Di balik meja besar dekat jendela, seseorang duduk di kursi dengan kepala bersandar, kedua mata terpejam, dan satu kaki terulur santai.

Jaket hitam yang sama tergantung di sandaran kursi.

Naila membelalak.

"Mas sopir?"

Pria itu membuka mata perlahan. Tidak tampak terkejut melihatnya.

Naila segera masuk dan menutup pintu setengah. "Kamu ngapain di sini?"

"Istirahat."

"Ini ruang kerja Radhika!"

"Terus?"

"Terus kamu harus pergi sebelum dia datang." Naila menurunkan suara, seolah pemilik lantai tiga bisa muncul dari balik rak buku. "Kata Tante Laras, Radhika itu dari kecil galak. Nanti kamu dipecat."

Mata pria itu menyipit geli. "Siapa yang bilang dia galak?"

Naila teringat semua pujian palsunya di taman. "Aku tahu sendiri."

"Kenal dekat?"

"Nggak perlu dekat untuk tahu orang menyebalkan. Ayo, cepat."

Ia meraih ujung lengan kemeja pria itu. Otot di balik kain terasa kaku ketika ditarik, tetapi pria itu akhirnya berdiri. Tingginya membuat Naila kembali mendongak.

"Kalau Radhika datang sekarang gimana?" tanyanya.

"Kita bilang kamu cuma mengantar dokumen."

"Kalau dia nggak percaya?"

"Aku yang jelasin."

"Kamu nggak takut?"

"Takut apa? Aku disuruh Tante Laras panggil dia makan. Dia nggak mungkin pecat aku."

Radhika menatap tangan kecil yang masih mencengkeram lengan bajunya. Pagi tadi gadis ini tidak mengenal wajahnya. Sekarang ia malah berusaha menyelamatkannya dari dirinya sendiri.

"Berani juga," gumamnya.

"Jangan banyak ngomong. Jalan."

Naila mengintip lorong lebih dulu. Setelah memastikan kosong, ia menarik Radhika keluar sambil sedikit membungkuk, seperti dua pencuri yang kabur membawa barang bukti.

"Kenapa jalannya begitu?" bisik Radhika.

"Biar nggak kelihatan."

"Sama siapa? Lantainya kosong."

"Kalau kamu mau tertangkap, terserah."

"Katanya mau jelasin."

Naila mendelik, lalu menekan tombol lift. Begitu pintu terbuka, ia mendorong Radhika masuk dan ikut berdiri di sampingnya. Baru setelah pintu tertutup ia melepaskan lengan pria itu.

Di dinding logam lift, pantulan mereka berdiri terlalu dekat. Naila bergeser setengah langkah. Pria itu melihat gerakannya, lalu memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Kenapa kamu ada di lantai tiga?" tanya Naila.

"Aku boleh ke sana."

"Sopir boleh masuk ruang pribadi majikan?"

"Majikanku baik."

"Radhika baik?"

"Katanya tadi ganteng, sopan, gentleman, perhatian."

Naila menoleh tajam. "Kamu dengar dari mana?"

Sebelum pria itu menjawab, lift berbunyi.

Pintu terbuka di lantai satu. Bi Rohmah berdiri di depan mereka sambil membawa serbet makan. Senyumnya langsung melebar.

"Mas Radhika, Non Naila, makan malamnya sudah siap."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!