Bab 1
Mahar Rp 288 Juta
Senja menikahkan dirinya sendiri dengan mahar Rp 288 juta.
Tiga hari setelah akad, uang itu sudah tidak tersisa sepeser pun di rekeningnya. Seluruhnya ia kirim kepada Bapak dan Emak sebagai pelunasan atas kalimat yang bertahun-tahun ditanamkan ke kepalanya: anak perempuan harus tahu membalas budi.
Kini ia berdiri di depan sebuah rumah di Pondok Indah dengan satu tas kanvas kusam di tangan.
Kaos putih, celana jeans, sandal datar. Hanya itu yang ia pakai ketika satpam kompleks mengantarnya sampai ke gerbang berlapis besi hitam. Di balik gerbang, halaman membentang begitu luas sampai Senja sempat menoleh ke belakang, memastikan ia tidak salah turun.
Tulisan kecil di dinding batu membuatnya berhenti.
Bintang Residence.
"Mbak Senja?" tanya satpam melalui interkom.
Senja mengangguk terlalu cepat. "Iya, Pak. Tapi... benar ini rumah Pak Damar?"
Gerbang terbuka tanpa suara.
Belum sempat ia melangkah, seorang anak perempuan bergaun kuning berlari keluar dari pintu utama. Rambutnya tergerai berantakan, sebelah kaus kakinya melorot.
"Kakak!"
Tubuh kecil itu menghantam kakinya dan memeluk erat.
"Kakak akhirnya datang!"
Tas kanvas Senja nyaris terlepas. Ia menunduk dan menemukan mata bulat yang pernah ia lihat penuh air dan ketakutan di tepi danau.
"Bintang?"
Anak itu mengangguk, lalu menyembunyikan wajah di perutnya. "Kakak lama banget. Bintang nunggu dari pagi."
Sesuatu yang dingin di dada Senja menghangat sedikit. Tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya mengusap rambut anak itu.
"Maaf. Kakak naik busnya kejauhan."
"Sekarang masuk. Ini rumah Bintang. Rumah Kakak juga."
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Senja tercekat.
Seorang perempuan paruh baya berkerudung keluar tergesa. "Astaga, Non Bintang, jangan lari-lari. Selamat datang, Bu Senja. Saya Inah. Panggil saja Bik Inah."
"Jangan panggil saya Bu," ujar Senja cepat. Sebutan itu terasa seperti baju mahal yang bukan miliknya. "Senja saja, Bik."
Bik Inah hendak mengambil tasnya, tetapi Senja menahan pegangan lusuh itu. Di balik mereka, lantai marmer mengilap memantulkan lampu gantung yang besarnya hampir menyamai ruang tamu rumah Emak di desa. Sofa krem tanpa noda, tangga melengkung, dan vas bunga setinggi pinggang membuat tasnya terlihat semakin buruk.
Semua milik Senja muat di dalamnya: tiga set seragam, dua kaos, satu jeans, mukena, ijazah, dan buku tabungan dengan saldo nyaris nol.
Tidak ada foto keluarga di dalam tas itu. Foto-foto lama tertinggal di rumah desa, sebagian karena terburu-buru, sebagian lagi karena Senja tidak tahu kenangan mana yang benar-benar ingin ia bawa. Satu-satunya benda pribadi yang disimpannya di saku depan hanyalah gelang kain buatan Wulan dan Hana.
"Biar saya bawa sendiri. Ringan, kok."
Bintang menggandeng tangan Senja. "Kamar Kakak dekat kamar Papa. Bintang yang pilih."
Tiga hari lalu, tangan kecil itu juga menggenggamnya. Namun saat itu jari-jarinya dingin dan bibirnya membiru.
Senja masih mengingat suara orang-orang berteriak di tepi danau. Seorang anak jatuh ke air. Tak ada yang berani melompat karena hujan membuat permukaan keruh dan licin.
Ia sedang duduk sendirian di bawah pohon, memandangi pesan dari Emak.
Pulang minggu ini. Calon yang dipilih Bapak sudah setuju. Jangan bikin malu keluarga.
Laki-laki itu berusia empat puluh enam tahun. Salah satu kakinya diamputasi setelah kecelakaan, tetapi ia punya sawah dan bersedia memberi uang muka besar kepada Bapak. Emak menyebutnya rezeki. Senja menyebutnya hukuman karena berani menolak ketika seluruh mahar lamaran pertama telah dijanjikan untuk uang muka rumah Bagas.
Teriakan itu menyobek pikirannya.
Senja melempar ponsel, menendang sandal, lalu terjun.
Ia tidak sempat takut. Latihan keperawatannya mengambil alih. Satu tangan menyangga dagu anak, satu lagi menarik tubuh kecil itu ke permukaan. Lututnya terluka oleh batu ketika merangkak ke darat, tetapi ia terus menekan dada Bintang sampai anak itu memuntahkan air dan menangis.
Keesokan harinya, seorang pria datang menemuinya di klinik.
Damar Adiwangsa.
Kemeja putihnya sederhana, tetapi arloji di pergelangan tangannya mungkin cukup untuk membeli seluruh rumah Bapak. Ia berusia tiga puluh dua tahun, sepuluh tahun lebih tua dari Senja. Wajahnya bersih dan tegas, suaranya tenang, matanya terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berterima kasih.
"Kamu menyelamatkan anak saya," katanya. "Sebutkan apa yang kamu mau."
Senja seharusnya meminta biaya perawatan Wulan atau pekerjaan tetap. Seharusnya ia meminta apa saja yang masuk akal.
Namun pesan Emak masuk lagi pada saat yang sama.
Kalau tidak pulang, jangan anggap kami orang tuamu. Uang membesarkanmu harus kembali.
Senja menatap angka yang pernah disebut Bapak, angka yang cukup untuk DP rumah Bagas dan menutup semua tuduhan bahwa ia anak tidak tahu diri.
"Nikahi aku saja," katanya.
Untuk pertama kali, wajah Damar berubah.
Senja menggenggam ujung seragamnya. "Tapi beri aku mahar Rp 288 juta."
Diam yang jatuh begitu panjang membuatnya ingin menarik kembali semua ucapan. Lalu Damar bertanya, "Kapan?"
Akad dilaksanakan keesokan harinya. Hanya ada penghulu, dua saksi, Bintang yang terus menempel di sisi Senja, serta Bapak dan Emak yang datang terutama untuk memastikan uang masuk. Pernikahan itu dicatat di KUA. Sah menurut agama dan negara, tetapi harus dirahasiakan dari lingkungan bisnis Damar.
Penghulu sempat bertanya apakah Senja menerima pernikahan itu tanpa paksaan. Ruangan kecil mendadak sunyi. Emak menatapnya dari balik bahu penghulu, sementara Damar duduk lurus tanpa berusaha memengaruhi jawabannya.
"Saya menerima," kata Senja.
Suara itu miliknya sendiri. Pilihannya buruk, terburu-buru, dan lahir dari jalan yang disempitkan orang lain, tetapi tetap ia ucapkan dengan sadar. Ketika ijab kabul selesai dalam satu tarikan napas, Bintang bertepuk tangan paling keras dan menyelipkan bunga melati dari meja ke telapak Senja.
"Buat Mama," bisiknya.
Senja menyimpan bunga itu di antara halaman buku tabungan. Sampai hari ini kelopaknya masih ada, terjepit bersama saldo kosong dan bukti transfer Rp 288 juta.
Sesudah akad, Emak tidak memeluk Senja. Ia hanya memeriksa notifikasi transfer, lalu tersenyum kepada Bagas melalui panggilan video.
Sekarang Senja berdiri di kamar yang ukurannya lebih luas daripada rumah masa kecilnya.
Tas kanvasnya diletakkan di atas bangku beludru. Bintang berputar sambil menunjuk lemari, kamar mandi, dan jendela yang menghadap taman.
"Papa pulang malam. Tapi nanti kita makan bareng." Bintang memiringkan kepala. "Kakak bakal pergi lagi?"
"Enggak."
"Janji?"
Senja menahan napas. Ia belum berani membuat janji terlalu jauh. "Kakak tinggal di sini dulu."
Jawaban itu cukup untuk membuat Bintang tersenyum.
Menjelang magrib, suara mobil masuk ke halaman. Bintang langsung berlari ke bawah. Senja menyusul dengan langkah lebih lambat dan berhenti di ujung tangga ketika Damar memasuki ruang tengah.
Jas abu-abu gelap membingkai bahunya. Ia menerima pelukan Bintang, mengangkat anak itu tanpa kesulitan, lalu mencium keningnya. Kelembutan itu hilang ketika pandangannya beralih kepada Senja.
"Sudah datang?"
"Sudah, Pak."
Alis Damar bergerak tipis. Ia tidak mengoreksi, hanya menurunkan Bintang. "Makan dulu."
Di meja makan, Bintang bercerita tanpa henti. Senja duduk tegak, takut sendoknya berdenting terlalu keras. Bik Inah menyajikan sup buntut dan sayur, makanan yang aromanya membuat perut Senja perih karena sejak pagi ia hanya minum teh botolan.
Damar nyaris tidak menyentuh makanannya.
"Besok Bintang sekolah," katanya kepada Bik Inah. "Jangan tidur terlalu malam."
"Senja yang antar!" seru Bintang.
Damar menatap Senja sekilas. "Dia bekerja."
"Tapi sekarang dia Mama Bintang."
Sendok di tangan Senja berhenti. Bik Inah pura-pura sibuk menuang air.
Damar mengusap kepala anaknya. "Panggil Kakak dulu."
Ia bangkit sebelum makan malam selesai. Kursinya bergeser pelan, tetapi bunyinya terasa tajam di telinga Senja.
"Setelah Bintang tidur, datang ke ruang duduk kamar utama."
Pukul sembilan, Senja mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Damar berdiri di dekat meja rendah. Di depannya ada map hitam dan sebuah pena.
"Masuk."
Ia mendorong map itu ke arah Senja. "Perjanjian pranikah. Sudah dibuat notaris sebelum akad dan disesuaikan dengan kesepakatan kita. Ada klausul kerahasiaan. Baca."
Senja membuka halaman pertama. Huruf-huruf kecil berbaris rapat, membahas harta, kewajiban, dan denda jika pernikahan mereka terbongkar. Ia tidak punya pengacara. Bahkan untuk ongkos ke sini tadi, ia menghitung sisa saldo tiga kali.
"Ada masalah?" tanya Damar.
"Enggak."
"Kamu belum membacanya."
"Kalau saya baca sampai besok pun, hasilnya sama." Senja mengambil pena. "Saya tetap harus tanda tangan."
Ujung pena bergetar sedikit ketika menyentuh kertas. Ia menulis namanya, halaman demi halaman.
Damar bersandar, mengamatinya tanpa menyembunyikan curiga. "Mahar sudah diterima keluargamu. Rumah ini menyediakan semua kebutuhanmu. Jangan mencari perhatian di luar."
Senja menutup map. "Saya mengerti."
"Dan satu lagi." Tatapan Damar jatuh ke tas kecil murah yang masih menggantung di bahunya. "Jangan memakai Bintang untuk meminta lebih."
Jari Senja menegang di atas map. Sakitnya singkat, seperti ujung jarum. Ia lalu mendorong dokumen itu kembali dengan kedua tangan.
"Aku nggak akan biarkan siapa pun tahu aku istrimu," katanya, untuk pertama kali menatap mata Damar tanpa menunduk. "Dan aku nggak akan pakai uangmu sepeser pun."
Keheningan mengisi ruang itu.
Jam berdetak.
Damar tidak segera menjawab. Untuk sesaat, hanya ada tatapannya yang berubah, seolah perempuan yang sudah ia putuskan sebagai pemburu uang baru saja mengucapkan kalimat yang tidak tercantum dalam perhitungannya.
Bab 2
Gaji Dua Puluh Juta yang Ditolak
"Dua puluh juta sebulan."
Damar mengucapkannya setelah keheningan di ruang duduk menjadi terlalu lama.
Senja yang sudah berdiri untuk pergi kembali menoleh. "Apa?"
"Uang bulananmu." Damar menutup map perjanjian. "Aku akan mentransfer Rp 20 juta setiap awal bulan. Anggap gaji untuk menemani Bintang dan menjaga rahasia pernikahan ini."
Angka itu hampir enam kali gaji magangnya. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membayar kos Hana, kebutuhan Wulan, dan tetap menyimpan sebagian untuk mengembalikan mahar.
Keinginan menerima melompat begitu cepat sampai telapak tangannya berkeringat.
Namun kalimat Damar tentang memakai Bintang untuk meminta lebih masih terasa panas di telinga.
"Terima kasih, Pak, tapi enggak usah. Saya punya pekerjaan. Saya masih bisa cari uang sendiri."
Damar mengambil ponselnya. "Nomor rekening."
"Saya benar-benar enggak perlu."
"Tadi matamu berubah waktu dengar jumlahnya. Jangan pura-pura tidak tertarik."
Senja terdiam. Ia memang tertarik. Menyangkalnya hanya akan membuat penolakannya terdengar seperti permainan.
"Saya tertarik," akunya. "Sangat. Tapi kalau suatu hari saya harus pergi dari rumah ini, saya masih perlu pekerjaan dan penghasilan yang bukan pemberian Bapak."
"Bapak lagi."
"Maaf."
Damar menatapnya beberapa detik. Kejujuran itu tidak melembutkan wajahnya, tetapi ponsel di tangannya akhirnya diletakkan kembali.
"Pak?"
Senja mengira ia salah bicara. "Iya?"
"Aku bukan atasanmu di rumah. Dan umurku belum pantas dipanggil seperti orang tua."
Senja menatap wajahnya. Tidak ada senyum. Sulit mengetahui apakah lelaki itu bercanda atau sedang marah.
"Baik... Damar."
Rahang pria itu justru mengeras. "Terserah."
Ia berdiri, lalu berjalan mendekat. Tidak sampai menyentuh, tetapi jarak yang tersisa membuat Senja mencium aroma sabun dan kayu dari kemejanya.
"Kalau bukan uang bulanan, bagaimana dengan kewajiban istri?" tanyanya. "Aku bisa memberi tambahan di luar mahar."
Wajah Senja langsung panas. Ia memahami arah tatapannya meski Damar tidak menyebut ranjang.
Ia membungkuk dalam-dalam karena gugup. "Maaf. Saya belum bisa. Selamat malam."
Lalu ia berbalik terlalu cepat dan hampir menabrak daun pintu.
Damar melihatnya pergi dengan bibir mengatup. Penolakan itu tidak membuatnya percaya. Menurutnya, perempuan yang berani meminta mahar Rp 288 juta pasti tahu cara menaikkan harga.
Pagi berikutnya, Senja bangun sebelum azan subuh selesai. Ia salat, merapikan kamar, lalu turun ke dapur. Bik Inah sedang mengiris bawang ketika Senja menggulung lengan bajunya.
"Saya bantu, ya, Bik."
"Aduh, Bu Senja, jangan. Pak Damar bayar Bik buat kerja."
"Saya biasa masak. Lagipula cuma telur dadar."
Senja membuat nasi goreng sederhana, telur dadar tipis kesukaan anak, dan memotong buah. Bintang turun dengan rambut masih miring, lalu memeluk pinggangnya dari belakang.
"Wangi. Kakak masak buat Bintang?"
"Iya. Cuci muka dulu."
"Suapin satu."
Senja meniup sesendok kecil nasi. Saat itulah Damar masuk ke dapur.
Tatapannya singgah pada sendok di mulut Bintang, lalu pada celemek yang dipakai Senja.
"Bik Inah."
Perempuan itu buru-buru mendekat. "Iya, Pak?"
"Kalau pekerjaan rumah tidak becus, saya bisa cari orang lain."
Wajah Bik Inah pucat. Senja segera melepas celemek.
"Saya yang minta bantu, Pak Damar. Bik Inah sudah melarang."
"Aku tidak meminta penjelasan." Damar menarik kursi untuk Bintang. "Mulai besok, jangan masuk dapur. Kamu di sini bukan untuk pamer rajin."
Nasi goreng yang tadi terasa harum mendadak menyesakkan. Senja mengangguk, mencuci tangan, lalu mengambil tas kerja.
Bintang meraih ujung bajunya. "Kakak nggak sarapan?"
"Nanti di rumah sakit."
"Bawa ini." Anak itu memasukkan sepotong apel ke telapak tangannya.
Senja tersenyum. "Terima kasih."
Di perjalanan menuju RS Adiwangsa, ia memakan apel itu di dalam angkot sambil menahan perut yang kosong.
Ia sempat membuka aplikasi ojek online, lalu menutupnya ketika melihat tarif. Dari halte terakhir ia memilih berjalan kaki. Seragamnya mulai lembap ketika sampai, tetapi ongkos yang dihemat cukup untuk satu kali makan siang. Perhitungan kecil seperti itu sudah menjadi kebiasaan, bahkan setelah ia menikahi lelaki kaya.
Rumah sakit swasta tersebut memiliki lobi seperti hotel. Senja berganti seragam, memasang name tag, lalu menerima pembagian tugas dari kepala perawat. Dua bulan lagi masa magangnya selesai. Ia tidak boleh membuat kesalahan jika ingin diangkat menjadi perawat tetap.
"Senja, VIP lantai delapan. Kamar delapan belas perlu infus lanjutan," kata kepala perawat.
"Baik, Bu."
Senja membawa troli kecil ke kamar 18. Ia mengetuk, menyebut nama, kemudian masuk.
Pria muda di atas ranjang sedang bermain gim di ponsel. Satu kakinya dibebat ringan dan siku kirinya lecet.
Ketika melihat Senja, matanya langsung membesar.
"Senja?"
Senja berhenti mendorong troli. Wajah itu pernah beberapa kali muncul di sekitar kampus bersama Reza.
"Rayhan?"
"Wah, beneran kamu." Rayhan menurunkan ponselnya. "Aku kira salah lihat. Kamu kerja di sini?"
"Masih magang." Senja memeriksa label cairan infus agar tangannya tetap sibuk. "Kamu kenapa?"
"Jatuh dari motor. Cuma lecet, tapi keluarga lebay. Aku dikurung di VIP." Ia menyeringai. "Terakhir lihat kamu waktu masih sama Reza. Kalian gimana?"
Jarum plastik di tangan Senja terasa dingin. "Sudah putus."
"Serius? Dia nggak pernah cerita."
"Sudah lama. Tolong tangannya diluruskan."
Rayhan mengikuti instruksi. Senja bekerja cepat, mengecek aliran infus, tekanan darah, dan catatan obat. Ketika selesai, ia menarik selimut sampai batas pinggang pasien.
"Kalau ada nyeri atau pusing, tekan bel."
Rayhan memperhatikan name tag di dada Senja. "Kamu kelihatan kurusan. Reza dulu pelit, ya?"
"Hubungan kami bukan urusan pasien."
"Oke, oke." Rayhan mengangkat kedua tangan, lalu meringis karena infus tertarik. "Cuma heran. Dulu kamu selalu nunggu dia selesai latihan sambil bawa makanan. Sekarang malah ketemu di sini."
Senja merapikan selang yang tertarik. Kenangan menunggu di tangga kampus muncul bersama rasa lapar yang dulu selalu ia anggap biasa. Ia menggeser tiang infus lebih dekat agar Rayhan tidak menariknya lagi.
"Kalau mau lekas pulang, jangan banyak bergerak. Luka kecil tetap bisa infeksi."
"Nah, begini. Cerewetnya masih sama." Rayhan tersenyum, tetapi tidak lagi menyebut Reza.
"Tunggu." Rayhan memandang kotak makan kosong di meja. "Kamu biasanya istirahat jam berapa?"
"Tergantung bangsal."
"Besok beliin aku makan, dong. Makanan rumah sakit hambar banget. Nanti aku kasih tip."
Senja hampir langsung menolak. Namun kata tip membuat pikirannya menghitung ongkos, makan, dan sisa saldo.
Rayhan mengangkat ponsel. "Tambah WhatsApp dulu. Biar gampang."
Layar berisi kode QR itu diarahkan kepadanya. Senja berdiri diam dengan satu tangan masih menggenggam pena, sadar bahwa tawaran uang yang lebih kecil justru terasa lebih aman karena datang sebagai bayaran pekerjaan.
Setidaknya, pekerjaan bisa ia pertanggungjawabkan.
Dengan tenaganya sendiri.
Bab 3
Keponakan Sang Mantan
Senja memindai kode WhatsApp Rayhan.
"Bukan buat aneh-aneh," katanya sebelum menyimpan ponsel. "Kalau saya sempat, saya bantu belikan makan."
Rayhan tersenyum lebar. "Siap, Sus Senja."
"Dan jangan panggil saya malam-malam."
"Galak juga sekarang."
Senja mendorong troli keluar sebelum percakapan mereka terdengar perawat lain. Baru beberapa langkah di lorong, ponselnya bergetar. Nama Wulan muncul.
Ia menjawab di sudut dekat tangga darurat.
"Halo, Wulan?"
Suara di seberang sangat pelan. "Kak, lagi sibuk?"
"Enggak. Kenapa?"
Wulan menarik napas. Uang kiriman Bapak belum datang. Ia butuh biaya pendaftaran kegiatan kampus dan laptop bekas untuk menulis tugas. Beberapa temannya sudah menawarkan cicilan, tetapi uang muka tetap terlalu besar.
"Aku bisa batal ikut," katanya cepat. "Laptop juga nanti saja."
Senja membuka aplikasi bank. Saldo yang tersisa cukup untuk hidup beberapa hari jika ia menghemat ongkos dan makan.
"Kirim nomor rekening penjualnya."
"Kak, jangan. Kamu juga baru menikah."
"Kirim saja. Laptopnya dipakai kuliah, kan?"
"Iya. Aku juga mau lanjut nulis."
"Berarti bukan pemborosan."
Setelah sambungan berakhir, Senja mentransfer hampir seluruh uangnya. Ia memandangi saldo baru, lalu memasukkan ponsel ke saku sebelum sempat menyesal.
Siang hari, pesan dari Rayhan masuk.
Tante, nasi rumah sakit ini kayak kapas. Tolongin pasien malang.
Senja mengernyit pada panggilan itu.
Belum jadi Tante siapa-siapa, balasnya.
Rayhan mengirim emoji tertawa, alamat kedai, lalu mentransfer Rp 1 juta. Jumlahnya terlalu banyak untuk satu porsi.
Senja mengembalikan selisih, tetapi transfer balik gagal karena rekening tujuan dibatasi. Akhirnya ia membeli bahan di minimarket rumah sakit dan meminta izin memakai dapur staf. Ia membuat bubur ayam tanpa banyak minyak, menambahkan sayur lembut, lalu membawanya ke kamar 18.
Pintu kamar terbuka.
"Makanannya datang," ujar Senja sambil masuk.
Kalimat itu berhenti di tenggorokan.
Damar berdiri di sisi ranjang Rayhan.
Jasnya tersampir di lengan. Ia baru saja menanyakan hasil pemeriksaan ketika tatapannya jatuh pada kotak makan di tangan Senja.
Tidak ada seorang pun bergerak selama satu detik.
"Pak Damar." Senja menunduk cepat.
Rayhan tertawa. "Kalian kenal?"
"Pemegang saham rumah sakit," jawab Senja terlalu cepat. "Semua pegawai kenal. Saya taruh makanannya, ya."
Ia meletakkan kotak itu dan keluar hampir berlari.
Damar mengikuti punggungnya sampai pintu tertutup. "Kamu dekat dengan perawat itu?"
"Senja? Kenal dari kampus. Mantannya teman aku." Rayhan membuka kotak makan dan mencium aromanya. "Kasihan. Demi uang mau bantu apa aja. Masakin juga."
Tatapan Damar menjadi dingin. "Jaga bicaramu."
"Lho, aku muji." Rayhan menyuap bubur. "Cantik, rajin, masak enak. Ditipu sedikit juga nggak apa-apa."
"Jauhi dia."
Rayhan mengangkat alis. "Kenapa Om Damar peduli?"
"Karena kamu masuk rumah sakit akibat kebodohanmu sendiri. Jangan tambah masalah."
"Om ini lebih cerewet dari Papa."
Senja yang masih berdiri di balik dinding mendengar panggilan itu. Om.
Ia menutup mulut dengan tangan. Mantan kekasihnya berteman dengan Rayhan. Rayhan ternyata keponakan Damar. Lingkaran yang ia kira luas mendadak menciut begitu rapat sampai ia sulit bernapas.
Ponselnya bergetar lagi. Rayhan mengirim foto bubur yang tinggal setengah, diikuti pesan singkat.
Enak. Besok bikin lagi, Tante.
Senja menatap kata terakhir itu. Rupanya Rayhan hanya menggoda karena Damar adalah pamannya, bukan karena mengetahui pernikahan mereka. Ia membalas bahwa besok belum tentu sempat, lalu mencatat Rp 1 juta itu di aplikasi catatan: uang muka makan Rayhan, wajib dihitung dan dikembalikan jika ada sisa.
Ia tidak mau satu rupiah pun berubah menjadi alasan orang menyebutnya murahan.
Sore hari, Senja pulang tepat pukul empat. Bik Inah menunggunya di ruang tengah bersama Bintang yang sudah berganti pakaian rumah.
"Kakak Senja!"
Bintang berlari memeluknya. Senja membungkuk, mencium rambutnya, dan untuk pertama kali sejak keluar dari kamar 18 merasa pundaknya turun.
"Hari sekolahnya gimana?"
"Bintang gambar rumah. Ada Papa, ada Kakak, ada Bintang."
Anak itu menarik Senja ke taman belakang untuk menunjukkan gambar krayon. Rumah dengan atap merah memenuhi kertas. Tiga orang berdiri di depannya, tangan mereka disambung garis hitam.
"Yang tinggi Papa," jelas Bintang. "Yang rambut panjang Kakak."
"Kenapa nama rumah ini Bintang Residence?"
"Karena Bintang punya." Anak itu menepuk dada. "Papa bikin buat Bintang."
Bik Inah yang membawa teh tersenyum. "Pak Damar sayang sekali sama Non. Apa pun buat Bintang."
Senja menatap gambar itu lebih lama. Mungkin benar, selama ia menjaga anak ini dengan baik, Damar tidak akan mengusirnya.
"Kak, beli es krim, yuk."
"Habis makan sore dulu."
"Satu aja. Kecil." Bintang menyatukan telunjuk dan ibu jari. "Minimarket dekat. Jalan kaki."
Senja memandang Bik Inah. Perempuan itu sedang dipanggil dari dapur dan hanya sempat berkata agar mereka tidak lama.
Mereka berjalan ke minimarket di dalam kompleks. Bintang memilih es krim stroberi, sedangkan Senja membeli yang paling murah. Di bangku depan toko, anak itu menggoyangkan kaki dengan senang.
"Habisin di luar, ya," bisiknya. "Jangan sampai Papa lihat."
"Kenapa?"
"Papa suka bilang enggak."
Senja tertawa kecil. "Kalau memang enggak boleh, kita seharusnya enggak beli."
"Tapi enak."
Alasan khas anak lima tahun itu membuat Senja mengalah. Mereka menghabiskan es krim, membersihkan tangan, lalu pulang sambil bergandengan.
Di tengah jalan, Bintang berhenti untuk menunjukkan seekor kucing yang tidur di bawah mobil. Senja menahannya agar tidak merangkak ke kolong.
"Pelan-pelan. Nanti dicakar."
"Kalau Bintang punya kucing, namanya Bulan. Biar Bintang sama Bulan teman."
"Minta izin Papa dulu."
Anak itu langsung menggeleng. "Papa bilang rumah sudah ramai karena Bintang."
Senja tertawa, lalu membersihkan noda es krim yang tertinggal di ujung hidungnya dengan tisu. Bintang memeluk lengannya tanpa diminta. Kedekatan kecil itu membuat Senja lengah pada satu hal penting: anak ini belum pernah memberitahunya bahwa makanan dingin dilarang bukan sekadar karena Damar terlalu tegas.
Sebuah mobil hitam sudah terparkir di depan rumah.
Damar berdiri di dekat pintu, baru menyerahkan kunci kepada petugas keamanan. Tatapannya turun pada Bintang yang menjilat sisa stroberi di sudut bibir.
Senja merasakan tangan kecil dalam genggamannya mendadak kaku.
Bintang berusaha menyembunyikan wajah di belakang pinggang Senja. Jari-jarinya yang lengket mencengkeram kaos Senja, sementara matanya mencuri pandang kepada ayahnya. Senja baru ingin menjelaskan bahwa dialah orang dewasa yang mengizinkan ketika perut anak itu berbunyi pelan dan wajah cerianya mendadak mengerut.
"Pak Damar," sapanya hati-hati. "Sudah pulang?"
Damar tidak menjawab. Ia hanya memandang wajah putrinya, lalu bungkus es krim yang masih menyembul dari tempat sampah kecil di tangan Senja. Bintang merapat ke kaki Senja, seolah tubuh perempuan itu dapat menjadi dinding yang melindunginya dari teguran Papa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!