Bab 1
Tengah Malam
Rasa nyeri menyambar bahu Liana ketika jari-jari pria di atas ranjang itu mencengkeramnya lebih kuat.
Jam digital di meja samping menunjukkan pukul 00.07. Kamar itu hampir gelap, hanya disinari garis kuning dari lampu koridor yang lolos melalui celah pintu. Di hadapannya, seorang pria bertubuh tinggi duduk bersandar pada kepala ranjang. Kain sutra hitam menutup kedua matanya. Napasnya berat, kulitnya panas, dan urat di punggung tangannya menonjol seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Tujuh menit sebelumnya, Ci Karina masih berdiri bersamanya di koridor.
"Kamu sudah membaca batasnya?" tanya perempuan itu untuk ketiga kali.
Liana mengangguk. "Sudah. Saya bisa berhenti kapan saja, begitu juga pasien."
"Kalau dia terlalu kuat, ketuk dua kali. Security perempuan berjaga di ujung koridor, tapi tidak akan masuk kecuali kamu menekan tombol darurat." Karina menyerahkan sebuah gelang tipis dengan tombol merah di bagian dalam. Wajahnya tenang, namun kukunya menekan map sampai memutih. "Adik saya tidak akan sengaja menyakitimu. Namun malam ini obatnya gagal bekerja. Saya tidak mau kamu masuk tanpa mengetahui risikonya."
Liana memasang gelang itu sendiri. "Saya masuk karena memilihnya, Ci."
Karina menatapnya lama, seolah sedang menimbang apakah seorang asisten muda dari latar belakang biasa dapat dipercaya dengan rahasia keluarga Tan. Akhirnya ia membuka kunci pintu.
"Kalau begitu, jangan merasa harus menjadi pahlawan. Jaga dirimu juga."
Kalimat itu ikut masuk bersama Liana ke kamar. Menjadi satu-satunya pegangan saat pintu menutup dan kegelapan menelan punggungnya.
"Mulai," katanya serak.
Liana menelan ludah.
Ia sudah membaca kontraknya sampai hafal. Pasien akan memasang penutup mata sendiri. Terapis tidak boleh bersuara. Tidak ada hubungan seksual. Keduanya boleh menghentikan sesi kapan saja. Semua sentuhan berlangsung atas persetujuan dan berada di dalam batas yang telah ditandai sejak awal.
Di atas kertas, aturan itu tampak bersih.
Di kamar gelap pada tengah malam, tak ada satu pun yang terasa sederhana.
Liana menempelkan telapak tangannya ke lengan pria itu.
Tubuh di hadapannya langsung menegang.
Pria itu mengembuskan napas melalui gigi yang terkatup. Jemarinya meraba seprai, seolah sedang menahan dorongan untuk mencengkeram apa pun yang dapat dijangkau. Liana sempat hendak menarik tangan. Namun panas di bawah telapak tangannya menyentak ingatan yang tak pernah benar-benar pergi.
Sebuah lorong putih.
Bau antiseptik yang menempel di tenggorokan.
Pintu bangsal yang dikunci dari luar.
Suara Aldi yang berkata ia hanya perlu beristirahat, disusul senyum Nadia yang terlalu manis. Setelah itu, obat-obatan, malam tanpa akhir, dan sepasang sarung tangan milik seorang dokter bernama Darren Hartono.
Dalam kehidupan yang seharusnya menjadi satu-satunya miliknya, Liana pernah menolak kontrak ini.
Ia memilih mempercayai orang-orang yang katanya mencintainya.
Ia mati karenanya.
Sekarang, entah bagaimana, ia kembali ke usia dua puluh dua tahun. Kembali menjadi asisten baru di Tan Group. Kembali menerima pesan dari Ci Karina tentang pekerjaan rahasia senilai lima puluh miliar rupiah setahun.
Kali ini ia berkata ya.
"Jangan berhenti," ujar pria itu.
Permintaan itu mengembalikan Liana ke kamar.
Ia menggeser telapak tangannya perlahan dari lengan ke bahu pria tersebut. Hanya kulit bertemu kulit, gerakan panjang dan teratur seperti yang diajarkan dalam pengarahan medis. Namun pasien itu bereaksi seakan seseorang baru saja membuka pintu di ruangan yang kehabisan udara.
Napasnya melambat satu hitungan.
Lalu dua.
"Lebih dekat."
Liana ragu. Ia menekan dua kali punggung tangannya, kode yang telah mereka sepakati untuk meminta penegasan.
Pria itu mengangguk. "Aku setuju. Lebih dekat, tolong."
Baru setelah mendengar kata itu, Liana duduk di tepi ranjang.
Kasur turun oleh berat tubuhnya. Lutut mereka bersentuhan. Pria itu tersentak, tetapi bukan dengan jijik. Jemarinya bergerak ke arah Liana, berhenti beberapa sentimeter dari pinggangnya.
"Boleh?"
Liana menuntun tangannya ke sisi pinggang yang masih tertutup kain tipis jubah terapi.
Sentuhan pertama itu membuat keduanya diam.
Pria itu memiliki tangan besar dan dingin di ujung jari, tetapi telapak tangannya panas. Ia tidak meremas. Ia hanya menahannya di sana, seolah perlu memastikan Liana benar-benar ada. Kemudian bahunya yang keras turun sedikit demi sedikit.
Liana memperhatikan perubahan itu dengan dada sesak.
Menurut berkas yang ia baca, Renard Tan menderita kombinasi yang nyaris kejam. Tubuhnya kelaparan akan sentuhan, sementara mysophobia berat membuat sentuhan siapa pun memicu mual. Obat penekan yang selama ini menolongnya hampir tak lagi bekerja.
Malam ini adalah percobaan terakhir sebelum dokter mengganti seluruh rencana perawatan.
Dan Liana, perempuan yang bahkan belum genap dua bulan mengenal dunia konglomerat, menjadi variabel yang tak dapat dijelaskan.
Pria itu menariknya lebih dekat.
Gerakannya terlalu cepat. Liana kehilangan keseimbangan dan telapak tangannya jatuh di dada telanjang pria tersebut. Otot di bawah kulitnya mengeras. Degup jantungnya menghantam tangan Liana dengan ritme kasar.
Liana membeku.
"Maaf." Suaranya rendah, namun ia tidak melepaskan Liana. "Aku tidak akan melewati batas."
Ia tak mungkin tahu bahwa kata-kata itu lebih menenangkan daripada angka lima puluh miliar di dalam kontrak.
Liana mengembuskan napas. Dengan satu jari, ia menulis di bahunya.
P-e-l-a-n.
Sudut bibir pria itu bergerak tipis. "Baik, Nona Terapis. Pelan."
Menit demi menit melebur. Liana mengusap lengan, bahu, dan punggungnya dalam pola yang sama. Kadang pria itu menahan pergelangan tangannya di atas dadanya, kadang menyandarkan kening di pundaknya. Setiap kali gerakan menjadi terlalu kuat, Liana mengetuk dua kali. Ia selalu berhenti.
Pada satu titik, gelang darurat di pergelangan Liana terjepit di antara tubuh mereka. Renard langsung menjauh, kedua tangannya terangkat.
"Apa aku menekan tombolnya?"
Liana meraba gelang, memastikan lampunya tetap mati. Ia menulis `tidak` di punggung tangan Renard.
"Tetap pakai," katanya. "Aku perlu tahu kamu punya jalan keluar."
Alih-alih tersinggung oleh pengaman itu, ia sendiri yang membetulkan letak gelang agar mudah dijangkau. Gerakan kecil tersebut mengendurkan simpul terakhir dalam perut Liana. Pria ini sedang kehilangan kendali atas tubuhnya, tetapi masih berusaha menjaga kendali atas pilihannya.
Jam satu lewat.
Lalu jam dua.
Di luar, Menteng tenggelam dalam sunyi. Sesekali suara kendaraan melintas di jalan basah. Di dalam kamar, yang terdengar hanya napas mereka dan desir kain ketika tubuh bergeser.
Pada jam ketiga, Renard mulai gemetar.
Bukan karena memburuk. Ketegangan bertahun-tahun seolah dilepas sekaligus. Ia menunduk, hidungnya nyaris menyentuh lekuk leher Liana, lalu berhenti.
"Aroma apa ini?"
Liana menahan napas.
Ia mengenal perubahan tubuhnya sendiri. Sejak remaja, kulitnya mengeluarkan aroma manis saat emosi memuncak. Bukan parfum, bukan sabun. Campuran melati dan kamboja yang bahkan tak bisa ia tiru ketika mencoba meraciknya.
Malam ini aromanya menghangat di antara mereka.
Renard menarik napas dalam.
Telapak tangannya di pinggang Liana mengencang, lalu segera melonggar lagi. "Aku tidak mual."
Liana menoleh meski tahu ia tak dapat melihatnya.
"Biasanya, sekadar mencium parfum orang lain dari jarak satu meter sudah membuatku ingin muntah." Suaranya terdengar tak percaya. "Tapi kamu..."
Ia berhenti. Wajahnya mendekat ke rambut Liana, masih menyisakan jarak yang sopan.
"Kamu tidak membuatku ingin lari."
Kalimat itu semestinya hanya laporan gejala. Namun di kamar gelap, dengan kain hitam menutupi matanya dan tubuhnya mempercayakan seluruh kelemahan kepada orang asing, kalimat itu terasa jauh lebih pribadi.
Liana menaruh tangan di dadanya lagi.
Degup yang tadi liar kini mulai teratur.
Renard menangkup telapak tangan itu dengan kedua tangannya. Ia mengusap pangkal ibu jarinya, pelan, hampir hati-hati. Perbedaan ukuran membuat tangan Liana seakan lenyap di dalam genggamannya.
"Lima menit lagi," katanya.
Liana melirik jam. Pukul lima kurang sepuluh.
Sesi yang dijadwalkan dua jam telah berlangsung hampir lima jam.
Ia seharusnya kelelahan, dan memang demikian. Punggungnya kaku. Kakinya kebas. Kulit di bahunya masih menyimpan jejak tekanan jemari. Namun untuk pertama kalinya sejak terbangun dalam kehidupan kedua, ia merasa telah memilih jalan sendiri.
Bukan Aldi.
Bukan Nadia.
Bukan ketakutan akan masa depan.
Dirinya sendiri.
Ketika lima menit habis, Liana mengetuk tangan Renard tiga kali. Tanda sesi selesai.
Pria itu tidak langsung melepaskannya.
"Sabtu depan?"
Liana menulis di telapak tangannya.
Y-a.
"Jam yang sama?"
Y-a.
Ia hendak bangkit, tetapi Renard menangkap ujung jarinya. Gerakan itu tidak kasar. Justru terlalu enggan.
"Apa aku boleh tahu namamu?"
Liana diam.
Itu juga bagian dari kontrak. Renard tidak boleh mengetahui siapa terapisnya. Liana, secara resmi, bahkan tidak seharusnya mengetahui siapa pasiennya. Karina membuat pemisahan itu demi melindungi kedua pihak.
Hanya saja Liana telah mengenali Renard dari suaranya pada detik pertama.
Bos yang pada siang hari nyaris tak pernah menatap orang lebih dari dua detik kini duduk di hadapannya dengan mata tertutup, meminta namanya seperti seorang pria yang takut kehilangan satu-satunya tempat aman.
Liana membalik telapak tangannya.
Ia menulis perlahan di kulit Renard.
S-a-m-p-a-i S-a-b-t-u.
Renard mengulang setiap huruf dalam diam. Genggamannya terlepas.
Liana berdiri. Kakinya hampir menyerah ketika menapak lantai, tetapi ia memaksa berjalan tanpa suara. Di ambang pintu, ia sempat menoleh.
Kain sutra hitam masih menutupi wajah Renard. Kepala pria itu sedikit miring ke arah pintu, seolah telinganya mengikuti setiap langkah Liana.
Ia menutup pintu.
Baru setelah bunyi kunci elektronik terdengar, Renard mengangkat tangan dan melepaskan simpul di belakang kepalanya.
Kain hitam jatuh ke seprai.
Matanya yang gelap terbuka dalam kamar kosong. Ia menatap pintu selama beberapa detik, lalu mengangkat telapak tangan tempat Liana menulis salam perpisahan.
Sisa aroma melati dan kamboja masih tertinggal di sana.
Renard menempelkan telapak itu ke hidungnya. Menarik napas pelan.
"Aroma yang sangat istimewa."
Bab 2
Aroma yang Sama
Senin pagi, Liana datang tiga puluh menit lebih awal dan langsung menuju pantry lantai dua puluh delapan.
Ia menakar kopi tubruk, sedikit kayu manis, dan sejumput kapulaga. Campuran itu harus tepat. Terlalu banyak kapulaga akan meninggalkan rasa getir, sementara Pak Renard tidak pernah menyisakan kopi yang dibuat dengan benar.
"Anak baru rajin sekali."
Dua perempuan dari divisi legal masuk sambil membawa tumbler. Mereka tidak menyadari Liana dapat mendengar suara mereka dari balik mesin kopi.
"Rajin atau cari muka? Lulusan kampus biasa bisa langsung jadi asisten pribadi CEO. Aneh, kan?"
"Mungkin koneksi."
Liana memasang tutup cangkir tanpa menoleh.
Sebulan bekerja di Tan Group cukup untuk mengajarinya satu hal. Di gedung berkaca biru ini, orang menilai sepatu, universitas, nama keluarga, bahkan kartu kredit yang dipakai saat makan siang. Seorang perempuan dari panti asuhan tanpa nama besar selalu menjadi bahan pertanyaan.
Ia membawa kopi itu keluar tepat ketika pintu lift privat terbuka.
Renard melangkah masuk ke area eksekutif dengan setelan abu-abu gelap. Wajahnya kembali dingin dan rapi, sama sekali tak menyisakan bayangan pria yang semalam menggenggam tangannya selama berjam-jam.
Jantung Liana berdegup satu kali terlalu keras.
"Selamat pagi, Pak Renard."
"Pagi."
Tatapannya singgah di wajah Liana, turun ke cangkir di tangannya, lalu kembali ke matanya. "Rapat pertama?"
"Pukul delapan tiga puluh dengan tim regional. Berkas sudah ada di meja Bapak. Panggilan Singapura dimajukan lima belas menit."
Renard menerima kopi itu. Ujung jari mereka nyaris bersentuhan.
Liana refleks menarik tangannya.
Gerakan kecil itu membuat Renard berhenti. Namun ia tak berkata apa-apa. Ia masuk ke kantornya, dan pintu kayu gelap menutup di belakangnya.
Liana baru mengembuskan napas ketika Rizal muncul dari lorong.
"Mbak Liana, kok mukanya tegang? Kopinya salah?"
"Belum diminum."
"Kalau begitu kita berdoa bersama."
Bayu yang menyusul dari belakang menepuk bahu Rizal. "Kamu saja. Dosamu paling banyak."
Liana hampir tersenyum. "Rapat delapan tiga puluh. Berkas kalian sudah siap?"
Kedua pria itu langsung pergi sambil pura-pura sibuk.
Liana ikut masuk ke ruang rapat lima menit kemudian. Renard duduk di ujung meja, sementara enam kepala divisi memenuhi kedua sisi. Ia baru sempat membuka presentasi ketika direktur regional meminta angka yang tidak tercantum di layar.
"Pertumbuhan bersih setelah biaya distribusi?" tanya Renard tanpa menoleh.
Liana sudah membuka lembar yang tepat. "Delapan koma dua persen, Pak. Proyeksi kuartal berikutnya sembilan koma satu jika kontrak Surabaya ditandatangani minggu ini."
Satu angka, lalu dua dokumen yang ia geser ke samping tangan Renard. Rapat bergerak kembali tanpa jeda.
Di seberang meja, salah satu perempuan dari pantry tadi menutup mulutnya. Liana tidak membalas tatapannya. Ia hanya mencatat keputusan dan mengirim tindak lanjut sebelum semua orang meninggalkan ruangan.
"Data yang kamu minta sudah benar," kata Bayu saat mereka berjalan keluar. "Pantas Pak Renard tidak pernah mengulang instruksi ke Mbak."
Rizal merendahkan suara. "Itu pujian versi Bayu. Sangat langka. Simpan baik-baik."
"Saya kira tadi kalian sibuk berdoa."
"Doanya terkabul. Bos tidak marah."
Liana tersenyum tipis. Bisik-bisik tentang kampus dan koneksi belum tentu berhenti hari ini. Namun ia tidak perlu berdebat. Meja rapat telah memberinya cara yang lebih bersih untuk menjawab.
***
Pukul sembilan lewat sepuluh, Renard memanggil Liana ke kantornya.
Cangkir kopi sudah kosong. Di layar besar, grafik penjualan memenuhi separuh dinding. Liana berdiri di sisi meja sambil menjelaskan revisi jadwal ketika Renard tiba-tiba berkata, "Tanganmu."
Liana berhenti. "Maaf, Pak?"
"Ulurkan tanganmu."
Nada suaranya datar, seolah ia meminta dokumen. Liana tidak menemukan alasan untuk menolak. Ia mengulurkan tangan kanan.
Renard menangkap pergelangan tangannya.
Panas dari telapak pria itu menembus kulitnya. Liana menahan napas ketika Renard mengangkat tangannya lebih dekat ke wajah. Hidungnya nyaris menyentuh pangkal ibu jari Liana.
Ia sedang mencari aroma semalam.
Kesadaran itu membuat denyut di pergelangan Liana melompat liar tepat di bawah jari Renard.
Mata gelap pria itu terangkat. "Gugup?"
"Bapak tiba-tiba memegang saya."
"Kulitmu dingin."
"Pendingin ruangannya enam belas derajat."
Renard melirik panel suhu, lalu tanpa berkata apa-apa menaikkannya menjadi dua puluh satu. Perubahan itu begitu kecil sehingga Liana nyaris mengira ia salah melihat. Pria yang membuat seluruh lantai bekerja dengan jaket karena menyukai udara dingin baru saja mengubah suhu ruangannya hanya karena pergelangan tangannya terasa dingin.
"Aku hanya..."
Renard berhenti. Ia menarik napas sekali lagi, lebih pelan. Yang tercium hanya kopi pahit, sabun ringan, dan kertas yang sejak pagi disentuh Liana. Tidak ada melati. Tidak ada kamboja. Tidak ada aroma manis yang menghantui tidurnya.
Mustahil asistennya adalah perempuan di kamar gelap itu.
Karina memilih terapis melalui jalur tertutup. Liana baru bekerja sebulan. Dua dunia itu tidak mungkin bertemu.
Renard melepaskan pergelangannya. "Tidak apa-apa."
Bekas tekanan tipis tertinggal di kulit Liana. Ia menyembunyikan tangannya di belakang map.
Di meja Renard, ponsel khusus terapi menyala satu kali karena notifikasi jadwal dari sistem Karina. Liana mengenali warna casing hitamnya. Ponsel kembarannya tersimpan mati di laci meja luar.
Keduanya menoleh ke benda itu pada saat bersamaan.
Renard membalik ponsel hingga layarnya menghadap meja. "Bukan urusan kantor."
"Saya tidak bertanya, Pak."
Namun tenggorokan Liana sudah kering. Hanya satu dinding dan satu laci memisahkan dua percakapan yang seharusnya tak pernah bertemu.
"Apakah ada yang lain, Pak?"
"Lanjutkan jadwalnya."
Liana memaksa suaranya tetap stabil. Ia menjelaskan tiga pertemuan berikutnya, menandai dokumen yang harus ditandatangani, lalu mundur satu langkah.
"Kalau begitu saya kembali ke meja."
Renard mengangguk.
"Satu lagi," katanya sebelum Liana mencapai pintu.
Ia menoleh.
"Kopi pagi ini. Gunakan takaran yang sama besok."
Sebuah permintaan biasa, namun itu pertama kalinya Renard mengakui sesuatu yang dibuat Liana cocok dengan seleranya. "Baik, Pak."
Begitu keluar, Liana menutup pintu perlahan. Lututnya terasa lebih lemah dibanding setelah lima jam terapi. Ia berjalan ke mejanya tanpa menoleh dan menaruh map di samping laptop.
Nyaris.
Jika emosinya naik sedikit saja, aroma itu mungkin sudah keluar.
Ia menyentuh pergelangan tangannya, mencoba menenangkan denyut di sana.
Dari balik dinding kaca, Renard masih memperhatikannya.
Liana menunduk untuk membuka surel. Rambut yang semula menutupi tengkuknya bergeser ke satu sisi.
Sebuah noda merah kecil tampak di tengah kulitnya yang cerah.
Renard tak langsung mengenali bentuknya. Lalu ingatan dari kamar gelap muncul, tentang saat ia kehilangan kendali dan menundukkan wajah terlalu dekat ke bahu Nona Terapis.
Rahangnya mengeras.
Tatapannya terkunci pada bekas merah di tengkuk Liana.
Bab 3
Bekas di Leher
"Masuk."
Suara Renard dari interkom terdengar lebih dingin daripada pendingin ruangan.
Liana merapikan kerah blusnya sebelum membawa tablet ke dalam kantor. Renard berdiri di depan jendela dengan kedua tangan di saku celana. Di bawah sana, kendaraan memenuhi Jalan Sudirman seperti aliran logam yang nyaris tak bergerak.
"Tutup pintunya."
Liana menurut. "Bapak ingin membahas revisi kontrak regional?"
"Bukan."
Renard berbalik. Tatapannya langsung jatuh ke leher Liana.
Ia refleks menyentuh kerahnya.
"Ada apa dengan lehermu?"
Pertanyaan itu datang begitu lugas hingga Liana kehilangan jawaban selama dua detik.
"Leher saya?"
"Bekas merah di belakangnya."
Panas menjalar dari dada ke telinga Liana. Ia ingat persis kapan bekas itu muncul. Menjelang akhir terapi, pasien yang sedang demam karena gejalanya sempat membenamkan wajah di bahunya. Bibir pria itu menyentuh tengkuknya terlalu lama sebelum ia sadar dan meminta maaf.
Pria yang sama kini menatapnya seperti hendak menemukan pelaku kejahatan.
"Itu bukan urusan pekerjaan, Pak."
Alis Renard terangkat sedikit. "Jadi memang ada seseorang?"
Liana nyaris tertawa karena gugup. Bosnya sedang cemburu pada dirinya sendiri, lalu memarahinya atas sesuatu yang dilakukan sendiri.
"Saya tidak bilang begitu."
"Mbak Liana." Nada Renard berubah menjadi nada seorang CEO yang sedang menolak proposal buruk. "Kamu baru tinggal sendiri di Jakarta. Jangan mudah percaya kepada laki-laki yang asal-usulnya tidak jelas. Orang yang meninggalkan bekas seperti itu tidak sedang menghormatimu."
Liana menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum.
"Baik, Pak. Saya akan mengingat nasihat Bapak."
"Aku serius."
"Saya juga serius."
Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, Liana melihat kebingungan di wajah Renard. Mungkin karena ia terdengar terlalu patuh. Mungkin karena ada kilatan geli yang gagal disembunyikan di matanya.
Ponsel di saku blazer Liana bergetar.
Ia melirik layar.
Aldi: Lia, kita perlu bicara. Aku tahu kamu masih marah.
Pesan kedua masuk sebelum ia sempat mematikan layar.
Nadia: Jangan keras kepala, Lia. Aldi benar-benar menyesal. Aku cuma mau kalian baikan.
Senyum kecil di wajah Liana lenyap.
Lorong rumah sakit kembali berkelebat di kepalanya. Nadia memegang tangannya sambil mengatakan semua orang meninggalkannya karena ia terlalu sulit dicintai. Aldi mengambil kartu banknya dengan alasan membayar pengobatan. Keduanya berdiri di balik pintu kaca ketika petugas membawa Liana ke bangsal tertutup.
Dahulu, ia mengira mereka satu-satunya keluarga yang ia punya.
Ternyata mereka hanya memastikan tak ada orang lain yang dapat menolongnya.
"Ada masalah?" tanya Renard.
Liana mengangkat kepala. "Tidak ada."
Ia membuka percakapan Aldi. Tidak membaca riwayat pesan. Tidak mengetik penjelasan. Jarum detik pada jam dinding bergerak sekali ketika ibu jarinya menekan pilihan blokir.
Satu nama lenyap dari layar.
Ia melakukan hal yang sama kepada Nadia.
"Sudah selesai," katanya.
Sebelum layar padam, Liana mengambil tangkapan layar kedua pesan. Ia mengirim salinannya ke alamat surel pribadi dan memasukkannya ke folder dengan tanggal hari itu. Memblokir mereka adalah perlindungan. Menyimpan jejak mereka adalah persiapan.
Renard melihat perubahan pada wajahnya, dari pucat dan kosong menjadi tenang dengan cara yang tajam. "Siapa mereka?"
"Orang dari masa lalu."
"Laki-laki yang meninggalkan bekas itu?"
Kali ini Liana benar-benar harus menunduk untuk menyembunyikan senyum. "Bukan."
"Apa yang lucu?"
"Tidak ada, Pak."
Renard mendekat satu langkah. Selisih tinggi mereka membuat Liana harus mendongak. Aroma cedar dingin dan kopi samar mengisi jarak sempit itu. Aroma yang sama seperti di kamar terapi, hanya kini pria tersebut dapat melihat setiap perubahan wajahnya.
"Kalau seseorang mengganggumu, laporkan ke keamanan gedung. Jangan menanganinya sendiri."
"Bapak selalu mengurus kehidupan pribadi semua asisten?"
Pertanyaan itu lolos sebelum Liana sempat menahannya.
Renard terdiam.
Wajahnya tetap tenang, tetapi jari di sisi tubuhnya menegang. "Aku bertanggung jawab atas keamanan orang yang bekerja langsung denganku."
Jawaban yang sangat masuk akal.
Entah mengapa, Liana justru merasa sedikit kecewa.
Ia menggeser tablet ke depan. "Kalau begitu, mengenai kontrak regional..."
Percakapan kembali ke angka dan jadwal. Liana mencatat instruksi, memindahkan dua agenda, dan menghubungi tim legal. Sepanjang itu, Renard beberapa kali menatap tengkuknya seakan bekas merah tersebut merupakan persoalan yang belum selesai.
Ketukan terdengar. Rizal masuk membawa map biru dan langsung menangkap udara tegang di antara mereka.
"Dokumen vendor, Pak. Sudah diperiksa legal."
Renard menerima map itu tanpa menyentuh tangan Rizal. Asistennya sudah paham dan meletakkannya di meja terlebih dahulu.
Liana memperhatikan perbedaan kecil tersebut. Pagi tadi Renard menggenggam pergelangan tangannya tanpa ragu. Kepada Rizal yang sudah lama bekerja dengannya, ia masih menjaga jarak beberapa sentimeter.
"Ada lagi?" tanya Renard.
"Tidak, Pak." Rizal melirik Liana, lalu bekas kemerahan samar di pergelangan tangannya. Wajahnya menyusun seribu teori sekaligus. "Saya keluar dulu."
Pintu baru tertutup ketika pesan pribadi masuk ke komputer Liana.
Rizal: Mbak, aman?
Liana: Aman. Tolong kirim notulen rapat, bukan gosip.
Tiga detik kemudian sebuah berkas masuk, disertai emoji mulut terkunci. Ketegangan di bahu Liana turun sedikit. Setidaknya ada orang di kantor ini yang cukup ingin tahu untuk memperhatikannya, tetapi masih bisa diingatkan batas.
Saat Liana akhirnya keluar, jam makan siang sudah dekat.
Di mejanya, layar ponsel kembali menyala. Nomor tak dikenal mengirim satu pesan.
Kamu pikir memblokir kami akan mengubah semuanya?
Liana membaca kalimat itu tanpa berkedip.
Jari-jarinya sempat dingin. Di kehidupan pertama, satu pesan seperti itu cukup membuatnya meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia lakukan. Ia akan menelepon Aldi, mendengar suaranya, lalu membiarkan dirinya ditarik kembali.
Sekarang ia mengambil tangkapan layar, menyimpannya ke folder bukti, kemudian memblokir nomor tersebut.
Tak ada jawaban.
Tak ada kesempatan kedua untuk mereka.
Sebuah voice note masuk sepersekian detik sebelum blokir aktif. Liana tidak memutarnya. Nama berkas dan waktunya ikut tersimpan. Di kehidupan pertama, suara Aldi selalu menjadi tali yang menariknya kembali. Kali ini suara itu hanya akan menjadi bukti jika ancamannya meningkat.
Liana menyandarkan punggung ke kursi dan menarik napas pelan. Bayangan bangsal putih masih mencoba merayap dari sudut ingatan. Ia menancapkan kuku ke telapak tangan sampai rasa sakit kecil itu mengembalikannya ke ruangan terang, ke suara papan ketik, ke kopi yang sudah dingin di mejanya.
Ia masih di sini.
Ia tidak sendirian di balik pintu terkunci.
Interkom berdering.
Liana menekan tombol jawab.
"Ya, Pak?"
Suara Renard terdengar singkat dari seberang. "Masuk."
Liana melepaskan telapak tangannya. Bekas kukunya memudar perlahan ketika ia berdiri, mengambil tablet, dan kembali mengenakan wajah profesionalnya.
Masa lalu boleh mengetuk berkali-kali.
Kali ini, ia yang memutuskan pintu mana yang akan dibuka.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!