Bab 1
Diusir dari Rumah yang Tak Pernah Jadi Rumahnya
"Pakai baju yang benar. Jangan cari perkara di depanku."
Suara lelaki itu akan menjadi kalimat pertama yang Arum dengar di rumah barunya. Namun, tiga jam sebelumnya, ketika matahari Malang masih menggantung panas di atas deretan rumah dinas, Arum bahkan belum tahu apakah malam nanti ia masih punya atap untuk berteduh.
"Bawa semuanya. Jangan ada barangmu yang tertinggal di rumah ini."
Bu Yatmi melempar tas kain kusam ke halaman. Debu tipis terangkat ketika tas itu jatuh di dekat sandal Arum.
Arum memandang tas tersebut. Dua potong baju lama, sebuah selendang peninggalan ibunya, dan kaleng kecil berisi uang receh yang ia kumpulkan bertahun-tahun. Seluruh hidupnya muat di dalam satu tas yang jahitannya sudah lepas di bagian pegangan.
"Ibu serius?" Suara Arum nyaris tak terdengar.
"Kamu masih perlu bertanya?" Bu Yatmi berkacak pinggang. "Reyhan kuliah di Jakarta. Teman-temannya anak orang berada, anak pejabat, anak pengusaha. Lalu kamu? Kamu pikir pantas berdiri di samping dia dengan pakaian seperti itu?"
Jari Arum mencengkeram ujung bajunya hingga kusut. Sejak berumur sepuluh tahun, ia bangun sebelum azan subuh untuk menanak nasi, mencuci seragam, menyapu rumah, dan menyiapkan bekal Reyhan. Delapan tahun ia memanggil perempuan di depannya Ibu. Delapan tahun pula ia percaya perjodohan lama itu membuatnya memiliki tempat di keluarga Prasetyo.
Ternyata tempat itu hanya ada selama tangannya masih dibutuhkan.
"Saya tidak pernah meminta Reyhan menikahi saya," ucap Arum pelan.
"Jangan sok punya harga diri!" Bu Yatmi mendengus. "Kalau bukan karena kami, kamu sudah jadi anak telantar sejak dulu. Kami memberimu makan. Kami memberimu tempat tidur."
Arum menahan pandangan pada lantai teras yang setiap pagi ia pel sendiri. Makanannya selalu sisa. Tempat tidurnya tikar tipis di samping dapur. Akan tetapi, tak satu pun kalimat itu keluar dari mulutnya.
Suara mesin jip terdengar dari depan rumah. Kapten Hartono turun dengan map tipis terselip di bawah lengan. Ia melihat tas di halaman, lalu istrinya, tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
"Sudah beres?" tanyanya.
"Dia masih berdiri seperti patung," sahut Bu Yatmi. "Bilang sendiri padanya."
Hartono mengembuskan napas, seolah Arum adalah urusan kantor yang mengganggu waktu istirahatnya. "Arum, satuan sedang membutuhkan pengurus rumah untuk seorang perwira yang baru pulang dari operasi. Gajimu dibayar melalui koperasi. Kamu akan bekerja pada Mayor Bara di Blok C-3."
Arum mengangkat wajah. "Mulai kapan, Pak?"
"Hari ini."
"Hari ini?"
"Kamu sudah dewasa. Jangan terus bergantung pada kami." Hartono menatapnya tajam. "Anggap ini kesempatan membalas kebaikan keluarga Prasetyo. Saya yang mengurus penempatanmu."
Kalimat itu terasa ganjil. Mereka mengusirnya, lalu menyebutnya kesempatan. Mereka menghapus delapan tahun tenaganya, lalu masih menagih balas budi.
Bu Yatmi menyilangkan tangan di dada. "Mayor itu orang keras. Jangan bikin malu kami. Kalau kamu diusir juga dari sana, jangan kembali ke sini."
Arum menunduk dan mengangkat tasnya. Pegangannya langsung putus.
Kaleng uang receh menggelinding keluar. Tutupnya terbuka. Koin-koin kecil berserakan di halaman yang panas, memantulkan cahaya seperti ejekan.
Bu Yatmi melirik, lalu tertawa pendek. "Itu tabunganmu? Pantas saja kamu selalu terlihat miskin."
Arum berjongkok. Satu per satu ia memungut uangnya. Telapak tangannya kotor oleh debu, tetapi gerakannya tetap tenang. Saat mengambil koin terakhir di bawah kursi bambu, ia mendengar Hartono berbisik kepada istrinya.
"Jangan ribut. Yang penting dia jauh dari Reyhan sebelum anak itu pulang."
Arum berhenti sesaat. Hanya sesaat.
Ia memasukkan kaleng itu kembali, mengikat pegangan tas dengan ujung selendang ibunya, lalu berdiri. Matanya panas, tetapi ia menolak memberi mereka air mata yang mereka tunggu.
"Terima kasih untuk semuanya," katanya.
Bu Yatmi mengangkat dagu, puas mengira Arum masih tunduk.
Arum melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Pagar besi menutup di belakangnya. Suaranya pendek, keras, dan terasa seperti sebuah keputusan.
Di ujung gang asrama, aroma minyak goreng dan sambal keluar dari warung kecil Bu Inah. Perempuan tua itu sedang membungkus nasi ketika melihat Arum berjalan dengan tas yang diikat selendang.
"Nduk? Mau ke mana sore-sore begini?"
Arum mencoba tersenyum. "Saya dapat pekerjaan baru, Bu. Di Blok C-3."
Tangan Bu Inah yang memegang kertas nasi terdiam. "Rumah Mayor Bara?"
Arum mengangguk.
Bu Inah keluar dari warung, memandang ke arah rumah Prasetyo, lalu kembali menatap Arum. Kerutan di sudut matanya mendadak dalam. Ia mengenal gadis itu sejak kecil. Ia juga tahu siapa yang mencuci setumpuk pakaian keluarga Prasetyo saat tangan Arum masih terlalu mungil untuk memeras kain.
"Mereka mengusirmu?"
"Saya bekerja, Bu. Bukan diusir."
Bu Inah tidak membantah. Ia hanya menyelipkan sebungkus nasi hangat ke tangan Arum.
"Bawa ini. Ayamnya cuma sedikit, tapi sambalnya banyak."
"Saya tidak punya uang untuk membayar sekarang."
"Siapa minta dibayar?" Bu Inah berpura-pura kesal. Lalu suaranya turun. "Dengar, Mayor Bara baru pulang dari perbatasan. Katanya badannya penuh luka. Orang-orang di markas memanggilnya Sang Macan. Prajurit yang salah sedikit saja bisa gemetar hanya karena ditatap."
Jari Arum menghangat di sekitar nasi bungkus itu. "Apakah dia suka memukul orang?"
"Aku tidak tahu. Dia jarang bicara dengan warga. Tapi wajahnya..." Bu Inah merapatkan kedua telapak tangan, seolah sedang berdoa untuk keselamatan Arum. "Wajahnya seperti orang yang sudah lama lupa cara tersenyum."
Angin sore membawa bau tanah dan daun basah. Awan gelap berkumpul di atas atap asrama. Arum menatap jalan menuju Blok C.
Rumah Prasetyo hanya berjarak beberapa gang di belakangnya, tetapi terasa seperti tempat yang sudah sangat jauh.
"Kalau malam kamu takut, datang ke warung," kata Bu Inah. "Kamu boleh tidur di ruang belakang. Jangan merasa sendirian."
Kebaikan sederhana itu justru merobek pertahanan Arum. Ia menunduk cepat, memeluk nasi bungkus di depan dada agar Bu Inah tidak melihat dagunya gemetar.
"Terima kasih, Bu."
Ia berjalan lagi sebelum air matanya jatuh.
Blok C lebih sepi daripada deretan rumah dinas lain. Beberapa sepeda motor terparkir rapi. Di kejauhan terdengar aba-aba latihan dari lapangan, disusul hentakan sepatu lars yang serempak. Arum melewati nomor satu, lalu nomor dua.
Rumah Dinas Blok C-3 berdiri di ujung. Cat hijaunya pudar. Tirai semua jendela tertutup. Di teras, sepasang sepatu lars berlumpur diletakkan menghadap keluar. Ada noda cokelat kemerahan yang mengering di sisinya.
Arum berhenti di depan pintu.
Dari dalam rumah terdengar sesuatu jatuh, kemudian tarikan napas berat yang segera dibungkam. Bau obat dan cairan antiseptik menyusup melalui celah pintu.
Sang Macan ada di dalam.
Arum merapikan kerah baju lamanya. Satu kancing di bagian dada terasa longgar, tetapi ia tidak punya baju lain untuk dikenakan. Ia menggenggam selendang ibunya yang kini menjadi pengikat tas, lalu mengingat nasi hangat dari Bu Inah di tangannya.
Ia masih punya dua baju. Ia masih punya sedikit uang. Ia masih punya kedua tangannya.
Itu cukup untuk bertahan satu hari lagi.
Arum menarik napas panjang, mengangkat tangan, dan mengetuk pintu Blok C-3.
Tiga ketukan pelan itu mengubah seluruh hidupnya.
Bab 2
Punggung Penuh Luka Sang Macan
Tiga ketukan pelan itu belum sempat diulang ketika kunci diputar dari dalam.
Pintu terbuka hanya selebar bahu.
Lelaki di baliknya jauh lebih tinggi daripada bayangan Arum. Rambutnya masih basah oleh keringat. Wajahnya keras, seperti dipahat dari batu yang tak pernah tersentuh matahari. Sebuah tongkat penyangga tersandar di dekat kaki kanannya, tetapi ia berdiri tanpa menggunakannya.
Tatapan gelapnya turun dari wajah Arum ke tas kusam yang diikat selendang.
"Siapa?"
"Sekar Arum Wijaya, Pak Mayor." Arum menahan tasnya dengan kedua tangan. "Kapten Hartono mengirim saya. Mulai hari ini saya ditugaskan membantu mengurus rumah dan merawat luka Mayor."
"Aku tidak meminta pengurus rumah."
"Saya tahu."
Alis lelaki itu terangkat sedikit. "Kalau tahu, kenapa masih berdiri di sini?"
Arum menelan ludah. Di belakang punggungnya, senja makin gelap. Nasi bungkus dari Bu Inah sudah mulai dingin di tangannya. Ia tak punya rumah lain untuk kembali.
"Karena ini perintah satuan, Pak. Gaji saya juga dari koperasi. Kalau Mayor tidak berkenan, saya akan menunggu sampai ada surat pembatalan tugas."
Untuk pertama kalinya, tatapan lelaki itu berhenti lebih lama di wajah Arum. Mungkin ia tidak menyangka gadis dengan tas nyaris putus berani menyebut aturan kepadanya.
"Masuk," katanya akhirnya.
Satu kata itu tidak terdengar seperti sambutan. Lebih mirip izin untuk melewati pos pemeriksaan.
Arum melangkah masuk. Ruang tengah gelap meskipun hari belum benar-benar malam. Semua tirai tertutup. Tak ada hiasan, foto keluarga, atau barang pribadi selain peta yang tergulung di atas meja. Udara dipenuhi bau antiseptik, minyak gosok, dan obat luka.
Sebuah baskom berisi air kemerahan terletak di lantai kamar.
Bara berjalan kembali ke ranjang dengan langkah timpang. Baru dua langkah, rahangnya mengeras. Tangan kirinya mencengkeram tepi lemari untuk menahan beban di kaki kanan.
"Mayor terluka lagi?"
"Bukan urusanmu."
Ia duduk membelakangi pintu. Saat itulah Arum melihat punggungnya.
Napasnya tertahan.
Tubuh lelaki itu penuh luka. Ada bekas sayatan panjang di dekat bahu, cekungan kecil bekas peluru, dan guratan pucat yang saling memotong. Di antara luka lama itu, perban baru melintang dari rusuk ke punggung. Ujungnya terlepas dan basah oleh darah.
Bara mencoba menarik perban dengan satu tangan. Jangkauannya tak sampai.
"Kotak obat ada di meja," ucapnya dingin. "Taruh di sini lalu keluar."
Arum meletakkan tas dan nasi bungkus di sudut. Ia mengambil kotak obat, lalu berdiri di belakangnya.
"Saya bantu mengganti perbannya."
"Tidak perlu."
"Lukanya terbuka."
"Aku bilang tidak perlu."
Arum memandang noda merah yang terus melebar. Ia teringat ayahnya dalam bayangan yang sudah kabur, pulang mengenakan seragam dan membiarkan Arum kecil menyentuh lencana di dadanya. Ia tak ingat banyak, tetapi ia ingat satu hal. Ayahnya selalu berkata luka prajurit bukan alasan untuk membiarkannya membusuk.
"Kalau infeksi, Mayor bisa kembali ke rumah sakit," katanya. "Saya hanya mengganti perban. Setelah itu saya pergi ke dapur."
Bara menoleh. Sorot matanya membuat udara kamar terasa lebih dingin.
Arum hampir mundur, tetapi darah di perban menahan kakinya.
Beberapa detik berlalu sebelum Bara menghadap ke depan lagi. "Cepat."
Arum mencuci tangan, mengenakan sarung tangan dari kotak obat, lalu melepas simpul perban dengan hati-hati. Kulit di sekitar luka terasa panas. Ketika kapas berantiseptik menyentuh tepinya, otot punggung Bara menegang keras.
"Sakit?"
"Lanjutkan."
Arum mendekat agar bisa melihat luka di bawah cahaya lampu meja. Rambut yang lepas dari ikatannya menyentuh bahu. Wangi melati yang lembut ikut terbawa bersama napasnya.
Punggung Bara mendadak kaku.
Jari Arum berhenti. "Saya terlalu keras?"
"Jangan mendekat."
"Saya tidak bisa menjangkau kalau terlalu jauh."
"Kamu selalu membantah atasan?"
"Kalau atasannya meminta saya membiarkan lukanya terbuka, mungkin iya."
Sunyi jatuh di antara mereka.
Arum baru sadar apa yang ia katakan. Pipinya memanas. Namun, lelaki itu tidak mengusirnya. Bahunya justru turun sedikit, seolah untuk pertama kali sejak pulang dari operasi ia menyerahkan beban tubuhnya kepada orang lain.
Arum membersihkan luka, mengoleskan salep tipis, lalu melilitkan perban baru. Ketika tangannya melewati sisi tubuh Bara, wangi melati kembali menguar.
Jari lelaki itu mencengkeram seprai.
"Sudah," kata Arum cepat.
Bara segera mengenakan kaus longgar. "Kamarmu di belakang dapur. Siang hari kamu bekerja di sini. Malam, kalau tugas selesai, pulanglah ke Bu Inah atau rumah keluarga Persit yang ditunjuk."
Arum mengangguk. Rupanya aturan itu telah dibicarakan satuan agar ia tidak menetap berdua dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya.
"Baik, Pak Mayor."
"Dan jangan menyentuh barang di ruang kerjaku."
"Baik."
"Jangan membuka tirai kamar."
"Baik."
"Jangan memasak terlalu banyak."
Arum menatap nasi bungkus di sudut, lalu dapur yang kosong. "Mayor sudah makan?"
Bara diam.
Jawaban itu cukup.
Di dapur, Arum menemukan beras, garam, dan sebungkus kaldu. Tak banyak, tetapi cukup untuk membuat bubur. Ia menyimpan setengah nasi bungkus Bu Inah untuk sarapan, lalu memasukkan ayamnya ke dalam bubur agar lebih bergizi.
Sementara bubur mendidih, ia melipat dua bajunya di kamar kecil. Selendang ibunya diletakkan di bawah bantal. Kaleng uang receh disimpan di sudut lemari.
Tak ada satu pun barang di sana yang benar-benar miliknya selain benda-benda itu.
Arum membawa semangkuk bubur ke kamar Bara. Lelaki itu sedang memeriksa map, seolah luka di punggungnya tak pernah terbuka.
"Saya sudah bilang jangan memasak banyak."
"Hanya satu mangkuk."
"Aku tidak lapar."
"Obatnya diminum setelah makan."
Bara mengangkat kepala perlahan. "Kamu datang satu jam lalu dan sudah mengaturku?"
"Saya menjalankan tugas."
Arum membungkuk untuk meletakkan mangkuk di meja samping ranjang. Pada saat itu, terdengar bunyi kecil.
Kancing baju lamanya terlepas.
Kain di bagian dada terbuka lebih lebar daripada seharusnya. Arum tersentak, segera menutupinya dengan satu tangan. Mangkuk di tangan lain hampir jatuh.
Bara menangkap mangkuk itu lebih dulu.
Jarak mereka mendadak sangat dekat.
Aroma bubur hangat bercampur dengan wangi melati dari kulit Arum. Tatapan Bara jatuh tanpa sengaja ke kerah yang terbuka, lalu beralih tajam ke wajahnya. Ujung telinganya memerah, kontras dengan ekspresinya yang makin dingin.
"Pakai baju yang benar," katanya, suaranya lebih berat. "Jangan cari perkara di depanku."
Wajah Arum terbakar malu. "Saya tidak sengaja. Kancingnya memang longgar."
"Keluar."
"Tapi buburnya..."
"Keluar, Arum."
Itu pertama kalinya namanya keluar dari mulut Sang Macan. Bukan sebagai sapaan, melainkan seperti perintah yang sengaja dibuat tajam untuk menutupi sesuatu.
Arum mundur ke luar kamar sambil menahan kerahnya. Pintu ditutup di depan wajahnya.
Ia berdiri di lorong, memeluk dirinya sendiri, dengan pipi dan telinga sama merahnya.
Di balik pintu, tak ada suara mangkuk diletakkan.
Yang terdengar justru tarikan napas Bara, kasar dan tidak setenang sebelumnya.
Bab 3
Nyaris
Tarikan napas kasar itu masih terdengar ketika Arum memasang peniti pada kerah bajunya dengan jari gemetar.
Ia tidak mengetuk lagi. Bubur sudah berada di dalam, obat Bara terletak di meja, dan tugas malamnya selesai. Sesuai aturan satuan, Arum meninggalkan Blok C-3 untuk tidur di ruang belakang warung Bu Inah.
Namun, sepanjang malam, kalimat dingin Sang Macan terus terulang di kepalanya.
Jangan cari perkara di depanku.
Arum ingin marah karena dituduh sengaja. Anehnya, yang lebih melekat justru warna merah di ujung telinga lelaki itu.
Keesokan harinya, menjelang siang, ia kembali ke Blok C-3 dengan kancing baju yang diperkuat benang. Pintu tidak dikunci. Di dapur, mangkuk bubur semalam telah kosong dan dicuci bersih.
Sudut bibir Arum hampir terangkat.
"Kenapa tersenyum sendiri?"
Suara itu membuatnya berbalik. Bara berdiri di ambang ruang tengah dengan kaus hitam dan celana lapangan. Wajahnya masih pucat. Tongkat penyangga berada dua langkah di belakang, sengaja ditinggalkan.
"Tidak ada apa-apa, Pak Mayor."
"Buburnya terlalu asin."
Arum melirik mangkuk yang bersih. "Tapi habis."
"Aku lapar."
"Katanya tidak lapar."
Tatapan Bara menyipit.
Arum segera menunduk pada talenan. "Saya akan mengurangi garam hari ini."
Di samping mangkuk itu, dua tablet yang seharusnya diminum malam tadi masih utuh. Arum mengambil blister obat dan menunjukkannya.
"Mayor belum minum obat."
"Aku tertidur."
"Sekarang harus diminum setelah makan. Saya buatkan sup dulu."
"Berikan airnya."
"Supnya sebentar lagi matang."
"Arum, aku tidak perlu disuapi seperti anak kecil."
"Saya juga tidak bilang akan menyuapi Mayor."
Bara menatapnya cukup lama hingga Arum sibuk merapikan blister obat yang sebenarnya sudah rapi. Lelaki itu lalu mengambil tablet dari telapak tangannya, tetapi gelas di meja kosong. Arum hendak menuangkan air. Bara lebih cepat berbalik menuju teko, seolah menerima bantuan kecil pun dapat melukai harga dirinya.
Ia mulai memotong wortel untuk sup. Dari ekor matanya, ia melihat Bara berjalan menuju meja kecil tempat teko air diletakkan. Langkah pertama masih mantap. Pada langkah kedua, bahu lelaki itu turun sedikit. Langkah ketiga membuat tangan kanannya mencari sandaran yang tidak ada.
"Tongkatnya dipakai, Pak Mayor."
"Tidak perlu."
"Dokter memberi tongkat pasti ada gunanya."
"Arum."
Hanya namanya. Pendek dan berat. Peringatan agar ia berhenti.
Arum menahan kata-kata berikutnya dan kembali memotong wortel. Pisau baru menyentuh talenan ketika terdengar gelas bergeser keras.
Ia menoleh.
Kaki kanan Bara kehilangan tenaga.
Tubuh tinggi itu limbung ke depan. Tangannya meraih meja, tetapi hanya mengenai ujung kain penutup. Teko air ikut terseret. Tanpa sempat berpikir, Arum meletakkan pisau dan berlari dua langkah.
"Mayor!"
Ia memeluk pinggang Bara dari samping.
Berat tubuh lelaki itu menekan bahunya. Arum terhuyung mundur, tetapi kedua lengannya mengencang. Dada Bara membentur pelipisnya. Satu tangannya secara refleks mencengkeram bahu Arum, sementara tangan lain bertumpu pada meja.
Teko jatuh. Air membasahi lantai.
Mereka tidak ikut jatuh.
Untuk sesaat, tak ada suara selain air yang menetes dari tepi meja dan napas mereka yang saling bertabrakan.
"Lepaskan," kata Bara.
"Kalau saya lepaskan, Mayor jatuh."
"Aku bisa berdiri."
"Tadi juga Mayor bilang tidak perlu tongkat."
Rahang Bara mengeras. Namun, saat ia mencoba memindahkan beban ke kaki kanan, tubuhnya kembali goyah. Arum spontan merapatkan pelukan.
Wajahnya kini tepat di bawah dagu Bara.
Panas tubuh lelaki itu menembus kain. Arum dapat merasakan detak jantung di balik dada keras yang menempel pada bahunya. Karena panik, pelipisnya berkeringat. Wangi melati yang biasanya lembut menguar lebih pekat di ruang yang tertutup.
Tubuh Bara membeku.
Tangannya yang semula mencengkeram bahu Arum perlahan bergeser ke pinggang, menahan tubuh gadis itu agar tidak tergelincir di lantai basah. Telapak tangannya terasa terlalu besar. Hanya satu lapis kain memisahkan sentuhan itu dari kulit.
Arum mendongak.
Tatapan mereka bertemu.
Mata Bara tidak sedingin kemarin. Ada sesuatu yang gelap dan panas di sana, sesuatu yang membuat jantung Arum memukul lebih keras. Lelaki itu menatap wajahnya seolah lupa pada luka, air yang tumpah, dan perintah yang selalu ia banggakan.
Pandangan Bara turun ke bibir Arum.
Napas Arum tersangkut.
Ia seharusnya mundur. Ia tahu jarak ini tidak pantas dipertahankan lebih lama. Namun, jika ia melepaskan pelukan, Bara bisa jatuh. Alasan itu membuat kakinya tetap di tempat, meski ujung jarinya telah dingin.
Bara menunduk sedikit.
Wangi melati memenuhi napasnya. Otot di rahangnya bergerak. Ujung hidung mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Mayor!"
Teriakan dari halaman memecah udara.
Bara tersentak seolah baru sadar dari sesuatu yang memalukan. Tatapan panas itu lenyap, digantikan kemarahan yang lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri.
Ia mendorong Arum.
"Jauh dariku."
Dorongan itu tidak terlalu keras, tetapi Arum berdiri di lantai basah. Tumitnya tergelincir. Tubuhnya terlempar ke belakang dan pinggangnya membentur tepi ranjang lipat di ruang tengah.
"Ah!"
Peniti di kerah bajunya tersangkut kain. Jahitan yang baru ia perkuat justru tertarik. Dua kancing terlepas sekaligus.
Arum jatuh setengah duduk di sisi ranjang dengan kerah terbuka. Ia segera menutup dada menggunakan kedua tangan. Wajahnya pucat oleh kaget, lalu memerah sampai ke leher.
Bara menatapnya.
Kemarahan di wajah lelaki itu retak. Matanya turun pada tangan Arum yang gemetar, lalu pada pinggangnya yang baru membentur ranjang.
"Kamu terluka?"
"Tidak."
Jawaban Arum terlalu cepat. Ia menggigit bibir, menahan rasa nyeri.
Bara melupakan kakinya sendiri dan bergerak mendekat. Langkahnya timpang, tetapi tangannya sudah terulur hendak memeriksa sisi pinggang Arum.
Arum mundur di atas ranjang. "Jangan."
Tangan Bara berhenti di udara.
Satu kata itu membuat sesuatu di wajahnya berubah. Ia memandang tangannya sendiri, seolah baru menyadari tangan yang sama tadi hampir menarik Arum lebih dekat lalu mendorongnya pergi.
"Aku tidak berniat..." Ia berhenti.
Sang Macan yang ditakuti satu batalyon ternyata juga bisa kehabisan kata.
Arum menarik bagian depan bajunya serapat mungkin. "Saya hanya tidak ingin Mayor jatuh."
"Aku tahu."
"Saya tidak mencoba mencari perkara."
Rahang Bara bergerak, tetapi tak ada bantahan keluar.
Di luar, langkah sepatu mendekati teras.
Bara meraih tongkat yang tadi ia tinggalkan. Tatapannya kembali tajam ketika bayangan seseorang jatuh di bawah pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Mayor Bara?" Suara Kapten Hartono terdengar dari luar, manis dan penuh hormat. "Saya datang untuk melihat apakah Arum bekerja dengan baik."
Arum menegang di sisi ranjang.
Kancing bajunya berserakan di lantai. Bara berdiri di depannya dengan napas belum teratur. Air masih mengalir di bawah kaki mereka, dan jarak yang hampir terlewati tadi belum benar-benar hilang dari udara.
Gagang pintu bergerak dari luar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!