Indonesia
NovelToon NovelToon

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Episode 1

Bab 1: Pengantin Pengganti

“Yang dijanjikan datang ke rumah ini Tiara. Bukan kamu.”

Perempuan di balik pagar besi itu tidak membuka gerendel. Tatapannya turun dari wajahku ke koper tua yang rodanya sudah miring, lalu berhenti pada sepatu yang tertutup debu merah. Seolah dari penampilanku saja, dia sudah bisa memastikan aku tidak layak menginjak halaman rumah ini.

“Kembalikan uang lamaran Pak Arya, lalu pergi,” lanjutnya. “Jangan bikin malu di depan tetangga.”

Suara mesin ojek yang membawaku dari jalan raya sudah lama lenyap. Aku berdiri sendirian di bawah matahari kemarau Desa Rejosari, dengan telapak tangan panas karena terlalu lama menggenggam gagang koper.

Tiga hari lalu, Papa Bimo menyebut keberangkatanku sebagai jalan keluar terbaik untuk semua orang.

Tiara tidak mau menikah dengan duda kampung yang memiliki tiga anak. Uang lamaran sudah diterima. Keluarga Santoso tidak mungkin menarik ucapan dan menanggung malu di lingkungan kompleks perwira. Jadi, aku yang harus pergi menggantikannya.

Aku, anak yang mereka besarkan hampir seumur hidup, mendadak menjadi orang yang paling mudah dipindahkan.

Tidak ada hubungan darah. Tidak ada hak untuk menolak.

Setidaknya, itulah yang mereka kira.

Aku mengangkat dagu. “Saya tidak menerima satu rupiah pun dari uang lamaran itu, Bik.”

Alis perempuan itu terangkat. Usianya mungkin mendekati lima puluh, tetapi suaranya nyaring dan tajam. Daster bermotif bunga membungkus tubuhnya, sementara seikat kunci tergantung di pinggangnya seperti tanda bahwa dialah pemilik rumah.

“Jangan panggil saya sembarangan. Saya Inah. Orang sini memanggil saya Bik Inah.”

“Baik, Bik Inah. Kalau ada uang yang harus dikembalikan, tagih orang yang menerimanya. Bukan saya.”

Dua perempuan yang tadinya berdiri di depan warung seberang jalan mulai mendekat. Seorang lelaki tua yang sedang menuntun sepeda ikut memperlambat langkah. Di desa, rupanya kabar bisa mencium pertengkaran lebih cepat daripada bau tanah mencium hujan.

Bik Inah melirik mereka, lalu meninggikan suara.

“Dengar sendiri, kan? Datang mengaku calon istri Pak Arya, tapi uang lamaran saja katanya tidak tahu. Yang dilamar itu Tiara Kusumawardhani. Anak keluarga perwira dari Jakarta. Bukan perempuan yang datang sendirian bawa koper begini.”

Bisik-bisik langsung pecah.

“Ini yang tertukar waktu bayi itu, bukan?”

“Katanya yang anak kandung sudah pulang.”

“Kasihan juga. Tapi Pak Arya duda beranak tiga masih pilih-pilih pengantin?”

Kata kasihan menusuk lebih dalam daripada hinaan.

Aku sudah mendengarnya berulang kali selama sebulan terakhir. Kasihan, karena tes DNA menghapus tempatku di rumah. Kasihan, karena Mama memindahkan pakaianku ke kamar tamu begitu Tiara datang. Kasihan, karena perempuan yang selama ini kupanggil Mama mampu membicarakan pernikahanku seperti sedang mengurus barang yang salah kirim.

Namun aku tidak datang sejauh ini untuk menangis di depan orang asing.

Kukencangkan jari pada gagang koper sampai buku-bukuku memutih.

“Saya Laras Ayuningtyas,” kataku, cukup keras agar semua orang mendengar. “Keluarga Bimo Santoso yang meminta saya datang menggantikan Tiara. Kalau Pak Arya menolak, saya akan mendengar langsung dari beliau. Bukan dari orang lain di balik pagar.”

Wajah Bik Inah menegang.

“Berani sekali mulutmu.”

“Saya hanya ingin semuanya jelas.”

“Jelas apa? Pak Arya itu bukan lelaki yang bisa kamu tipu. Dia punya tiga anak yang harus diurus. Kamu pikir wajah cantik dan ijazah dari kota cukup untuk jadi ibu?”

Aku belum sempat menjawab ketika gonggongan keras meledak dari dalam halaman.

Seekor anjing besar berwarna cokelat gelap menerjang sampai rantainya menegang. Debu beterbangan dari bawah kakinya. Tubuhku refleks mundur setapak, dan koperku hampir terguling ke selokan.

“Jagoan! Diam!” bentak Bik Inah.

Anjing itu tidak diam. Matanya terpaku kepadaku, giginya terlihat di sela gonggongan berat.

Baru saat itu aku sempat melihat rumah di belakangnya dengan utuh.

Di antara rumah-rumah berdinding kusam dan halaman yang dipagari bambu, bangunan dua lantai itu tampak seperti salah alamat. Cat kremnya bersih. Jendelanya lebar dengan bingkai hitam. Ada antena parabola di atap, unit pendingin udara di lantai atas, dan sebuah mobil bak tertutup terparkir di samping teras. Halamannya luas, sebagian dipaving rapi, sebagian ditanami pohon mangga yang terawat.

Ini bukan rumah sederhana milik peternak miskin seperti yang diceritakan Mama.

Aku menatap gagang pagar yang mengilap, lalu seikat kunci di pinggang Bik Inah.

Rumah ini menyimpan sesuatu. Entah uang, entah rahasia pemiliknya.

Gonggongan Jagoan tiba-tiba berubah arah. Dari balik pohon mangga muncul sosok kecil dengan gaun kuning pudar. Anak itu berjalan tanpa sandal, satu tangannya menempel pada batang pohon seolah takut kehilangan keseimbangan.

Rambutnya kusut dan menempel di dahi. Ada noda hitam di pipinya. Kedua lututnya berdebu, sementara ujung gaunnya kaku oleh bekas makanan yang mengering.

Usianya belum genap dua tahun, kurasa.

“Sasa!” Bik Inah menoleh tajam. “Masuk! Jangan dekat-dekat pagar!”

Anak itu tidak bergerak.

“Kamu dengar, tidak? Masuk!”

Bahu kecilnya tersentak. Dia mundur, tetapi matanya tetap menempel padaku.

Bik Inah berdecak. “Bocah susah sekali diatur. Sudah besar, bicara saja belum bisa.”

Kalimat itu dilontarkan seperti keluhan tentang barang rusak.

Panas di tengkukku berubah menjadi sesuatu yang lain.

Aku melepaskan gagang koper dan berjongkok di luar pagar. Gerakanku membuat Jagoan kembali menggeram, tetapi aku tidak menatap anjing itu. Aku membuka resleting depan tas selempangku dan meraba isinya.

Ada dua bungkus tisu, tiket bus yang sudah lecek, dompet, dan tiga permen susu yang kubeli di terminal.

Kuambil satu.

“Sasa,” panggilku pelan.

Anak itu berkedip.

“Mau ini?”

Aku mengangkat permen agar terlihat jelas. Bungkus putih birunya memantulkan cahaya matahari.

Sasa memandangi Bik Inah lebih dulu.

Gerakan kecil itu membuat dadaku sesak. Anak seusianya seharusnya melihat makanan dengan gembira, bukan mencari izin di wajah orang dewasa dengan ketakutan.

“Jangan diberi!” seru Bik Inah. “Nanti sakit, saya yang repot.”

“Permen susu, bukan racun.”

“Kamu tahu apa soal anak kecil?”

“Cukup tahu bahwa membentaknya tidak akan membuat dia belajar bicara.”

Suara berbisik di belakangku berhenti sesaat.

Bik Inah meraih lengan Sasa, tetapi anak itu mendadak mengelak. Kaki telanjangnya berlari kecil melintasi halaman. Jagoan berhenti menggonggong ketika dia lewat, bahkan mundur memberi jalan.

Sasa menyelipkan tubuh mungilnya melalui celah pagar yang cukup lebar untuknya.

Sebelum aku sempat bangkit, jari-jarinya sudah mencengkeram ujung blus panjangku.

Semua orang terdiam.

Anak itu berdiri menempel di lututku. Dari dekat, aku bisa mencium bau keringat, tanah, dan minyak jelantah pada rambutnya. Pipinya lebih cekung daripada yang seharusnya. Matanya besar, hitam, dan terlalu waspada untuk balita seusianya.

Aku membuka bungkus permen, lalu menahan permen itu di telapak tangan.

“Pelan-pelan. Jangan langsung ditelan.”

Sasa tidak menjawab. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tak ada suara keluar.

Dia mengambil permen dengan dua jari. Sangat hati-hati. Seolah benda sekecil itu bisa direbut kapan saja.

Ketika rasa manis menyentuh lidahnya, matanya membulat. Jemarinya mencengkeram bajuku makin erat.

Salah satu perempuan di dekat warung menghela napas. “Ya Allah, lihat anak itu. Biasanya Sasa lari kalau ada orang baru.”

“Mungkin dia lapar,” sahut yang lain.

Bik Inah segera menyela. “Lapar bagaimana? Makan tiga kali sehari. Saya yang mengurus semuanya sejak Pak Arya sibuk di peternakan.”

“Kalau begitu, kenapa badannya sekurus ini?” tanyaku.

Tatapannya menyambar wajahku. “Memang dari lahir kecil. Jangan datang-datang menuduh saya.”

“Saya belum menuduh siapa pun.” Aku menyapu noda kering di dagu Sasa dengan tisu basah. Anak itu diam, membiarkanku. “Bik Inah sendiri yang merasa sedang dituduh.”

Terdengar cekikikan tertahan dari arah jalan.

Wajah Bik Inah memerah. Dia mendorong pagar sampai bergetar, tetapi gerendel tetap terkunci.

“Sudah, pergi saja! Pak Arya tidak butuh perempuan yang baru datang sudah mengadu domba orang kampung. Anak-anak itu sudah ada yang mengurus. Kamu juga bukan ibu mereka.”

Kalimat terakhirnya membuat jemari Sasa membeku pada kain bajuku.

Aku menunduk. Permen masih menggembung di salah satu pipinya. Matanya berpindah dari wajahku ke koper tua di belakangku, seakan mengerti bahwa aku bisa pergi kapan saja.

Aku tahu rasanya menunggu seseorang memutuskan apakah kita boleh tinggal.

Karena itu aku berdiri tanpa melepaskan tangan kecil yang mencengkeram bajuku.

“Benar,” kataku. “Saya belum menjadi ibu mereka. Saya juga belum menjadi istri Pak Arya karena akad belum dilakukan. Tapi saya datang atas permintaan keluarga yang menerima lamarannya. Jadi, buka pagar ini dan biarkan saya menunggu pemilik rumah pulang.”

“Tidak!”

“Atau telepon Pak Arya sekarang. Katakan di depan semua orang bahwa Bik Inah menolak orang yang dikirim keluarga calon pengantinnya.”

Bik Inah meraba saku dasternya, lalu berhenti. Tidak ada telepon yang dikeluarkan. Tidak ada panggilan yang dilakukan.

Hanya matanya yang bergerak cepat ke kiri dan kanan.

Aku melihatnya. Para tetangga juga melihatnya.

Perempuan di belakangku mulai berbisik lagi, kali ini bukan tentangku.

“Kenapa tidak telepon saja?”

“Iya, biar Pak Arya yang putuskan.”

“Bik Inah memang keluarga Pak Arya?”

Rahang Bik Inah mengeras. “Kalian tidak usah ikut campur. Saya dipercaya menjaga rumah ini.”

“Dipercaya bukan berarti boleh mengusir siapa saja,” jawabku.

“Diam kamu!”

Suara motor roda tiga terdengar dari tikungan. Kendaraan itu membawa beberapa karung pakan ternak dengan logo Peternakan Sapi Rejo Makmur. Pengemudinya seorang pemuda berkaus lengan panjang, wajahnya basah oleh keringat dan debu.

Dia memperlambat kendaraan ketika melihat kerumunan.

“Ada apa?”

Bik Inah buru-buru melangkah mendekat. “Gino, pas sekali. Tolong bilang pada perempuan ini supaya pergi. Dia mengaku calon istri Pak Arya, padahal yang kami tunggu Tiara.”

Pemuda bernama Gino itu memandangku. Matanya turun ke koper, lalu ke Sasa yang masih melekat di sisiku.

“Mbak dari keluarga Bimo Santoso?” tanyanya.

“Nama saya Laras. Saya diminta datang menggantikan Tiara.”

Dia mengangguk perlahan, seperti baru menyambungkan dua kabar yang sudah didengarnya.

Bik Inah tersenyum puas. “Nah, dengar sendiri. Pengganti. Mana bisa urusan pernikahan diganti seenaknya? Suruh dia pulang sebelum Pak Arya marah.”

Bang Gino mematikan mesin. Dengung kendaraan lenyap dan menyisakan suara napas orang-orang di depan pagar.

Dia turun, menepuk debu dari celananya, lalu menatap Bik Inah tanpa tersenyum.

“Bik Inah cuma pengasuh yang digaji di sini. Mau mengusir tamu Pak Arya?”

Pemuda itu menunjuk seikat kunci di pinggangnya.

“Memangnya Bik Inah siapa?”

Halaman rumah mendadak sunyi.

Jemari Bik Inah masih menggantung di atas gerendel. Senyum puasnya lenyap, dan di depan mata semua orang, wajahnya memucat sedikit demi sedikit.

Episode 2

Bab 2: Rumah Termewah di Desa

“Buka pagarnya, Bik.”

Bang Gino tidak meninggikan suara. Namun kalimat itu membuat jemari Bik Inah yang menggantung di atas gerendel bergerak juga.

Besi bergesekan dengan bunyi kasar. Pagar terbuka hanya setengah badan, seolah perempuan itu masih berharap bisa menahanku dengan bahunya.

“Kalau nanti Pak Arya marah, jangan bawa-bawa saya,” gerutunya.

Aku menarik koper melewati ambang pagar. “Saya justru menunggu beliau pulang supaya semuanya jelas.”

Sasa berjalan menempel di kakiku, masih memegang ujung blusku. Jagoan berhenti menggeram ketika anak itu ikut masuk. Anjing besar itu mengendus udara di sekitarku, lalu duduk dekat rantainya sambil tetap mengawasi.

Para tetangga belum beranjak. Tatapan mereka mengikuti roda koperku yang tersendat di sela paving.

Aku berhenti dan menoleh pada Bik Inah.

“Biar tidak ada cerita yang berubah besok pagi, saya ulangi di depan semua orang. Saya dikirim keluarga Pak Bimo Santoso untuk menggantikan Tiara dalam perjodohan ini. Kalau Pak Arya tidak menerima, saya akan pergi setelah mendengar langsung dari beliau.”

Salah satu perempuan di luar pagar mengangguk. “Itu adil.”

Bik Inah mendengus, tetapi tidak berani menutup pagar di depan tubuhku lagi.

Bang Gino mengangkat salah satu karung pakan dari kendaraan roda tiga. “Saya antar Mbak Laras masuk dulu.”

“Tidak perlu!” Bik Inah cepat menyela. “Rumah ini saya yang urus.”

“Tadi juga katanya begitu.”

Terdengar tawa kecil dari jalan. Wajah Bik Inah kembali merah.

Bang Gino membantuku menaikkan koper ke teras. Setelah memastikan aku benar-benar berada di dalam, dia menurunkan karung-karung pakan di gudang samping dan kembali ke kendaraannya.

“Pak Arya biasanya pulang menjelang Magrib,” katanya sebelum menyalakan mesin. “Kalau ada apa-apa, peternakannya di ujung jalan sawah. Tanya saja Rejo Makmur, semua orang tahu.”

“Terima kasih, Bang.”

Dia mengangguk, lalu pergi. Para tetangga ikut bubar sedikit demi sedikit, meski beberapa kepala masih menoleh sampai tikungan.

Begitu pintu depan terbuka, hawa sejuk menyentuh kulitku.

Lantai ruang tamu dilapisi granit warna gading, bukan tegel murah seperti rumah-rumah lain yang kulewati. Sofa abu-abu tersusun di depan televisi layar datar yang lebarnya hampir memenuhi dinding. Di sudut ruangan berdiri lemari kayu jati dengan pintu kaca. Sebuah pendingin udara berdengung pelan di atas jendela.

Rumah ini tidak sekadar tampak bagus dari luar.

Di sisi tangga, aku bisa melihat lorong menuju dapur dan pintu lain ke halaman belakang. Lantai dua memiliki balkon dalam dengan pagar besi hitam. Semuanya kokoh, bersih, dan dirancang oleh orang yang tahu persis apa yang ingin dibangunnya.

Seorang peternak sapi di desa bisa saja kaya. Namun orang kaya biasanya suka menunjukkan kekayaan atau mengeluh ketika ditanya. Pemilik rumah ini justru membiarkan kabar tentang dirinya menjadi duda tua miskin menyebar sampai Jakarta.

Mas Arya pasti bukan lelaki sederhana.

Aku belum tahu apakah itu kabar baik.

“Jangan pegang apa-apa,” kata Bik Inah dari belakangku. “Barang di sini mahal.”

“Saya bisa membedakan barang mahal dan barang rapuh.”

“Orang kota memang pintar bicara.”

Aku tidak membalas. Tenggorokanku kering sejak turun dari ojek. Aku menunggu beberapa saat, tetapi Bik Inah malah membawa seikat kuncinya ke dapur tanpa menawarkan air ataupun tempat duduk.

Sasa masih berdiri di sisiku. Permen di mulutnya sudah habis. Ketika aku memandangnya, dia menyentuh tas selempangku dengan satu jari.

“Mau lagi?”

Matanya bergerak ke arah dapur. Lalu kembali kepadaku.

Aku mengambil permen kedua, tetapi tidak langsung memberikannya. “Kita minum dulu, ya. Haus?”

Dia tidak bersuara. Tangannya hanya naik, kedua telapak kecilnya terbuka ke arahku.

Butuh satu detik bagiku untuk mengerti.

“Mau digendong?”

Sasa menggerakkan jarinya, memintaku mendekat.

Aku berjongkok dan mengangkatnya. Tubuhnya lebih ringan daripada dugaanku. Tulang rusuknya terasa melalui kain tipis, sementara kedua lengannya langsung melingkari leherku. Wajahnya menempel di bahuku tanpa ragu.

Hangat napasnya menembus blusku.

“Baru diberi permen sudah nempel,” sindir Bik Inah yang muncul dari lorong. “Anak kecil memang gampang dibodohi.”

“Atau dia hanya tahu siapa yang tidak membentaknya.”

Tatapan Bik Inah menajam. “Mau minum, ambil sendiri di dapur. Saya banyak kerjaan.”

“Kamar untuk saya di mana?”

“Tidak ada kamar kosong.”

Aku melirik tangga dan lorong yang memiliki setidaknya empat pintu. “Rumah sebesar ini tidak punya satu kamar kosong?”

“Ada kamar, tapi bukan berarti boleh dipakai orang yang belum jelas statusnya.”

Sasa merapatkan pelukannya ketika suara Bik Inah meninggi.

Aku mengusap punggungnya. “Baik. Saya menunggu di ruang tamu sampai Pak Arya pulang.”

Aku membawa Sasa ke dapur. Sebuah dispenser berdiri di sudut, tetapi galonnya kosong. Di rak ada teko air matang. Aku mengambil gelas sendiri, membilasnya, lalu minum. Untuk Sasa, aku menuangkan sedikit air ke cangkir plastik bergambar bunga yang kutemukan di rak bawah.

Anak itu minum terburu-buru. Air menetes dari dagunya.

“Pelan,” bisikku sambil menyeka mulutnya. “Tidak ada yang akan mengambilnya.”

Dari halaman belakang terdengar suara kaki. Dua anak laki-laki berdiri dekat pintu, satu lebih tinggi dan kurus, satu lagi lebih kecil dengan rambut acak-acakan. Mereka menatapku tanpa menyapa.

Anak yang lebih tinggi segera menarik adiknya mundur begitu tatapan kami bertemu.

“Itu Raka dan Bayu,” kata Bik Inah. “Jangan harap mereka semudah Sasa.”

Pintu belakang tertutup. Kedua anak itu menghilang.

Aku tidak mengejar. Kepercayaan bukan ayam yang bisa ditangkap dengan berlari.

Menjelang sore, aku membersihkan debu di wajah Sasa dengan tisu basah dan menyisir rambutnya memakai jari. Dia duduk di pangkuanku, memainkan ujung resleting tas. Bik Inah tetap tidak menyiapkan kamar. Dia beberapa kali lewat sambil membanting pintu lemari, memastikan aku mendengar ketidaksukaannya.

Azan Magrib belum selesai ketika Jagoan mendadak bangkit.

Kali ini dia tidak menggonggong marah. Ekornya menghantam tanah berulang kali. Rantai di lehernya berdering ketika dia menarik tubuh ke arah pagar.

Suara mesin motor berhenti di halaman.

Bik Inah yang sejak tadi malas-malasan langsung berlari ke teras. “Pak Arya pulang.”

Sasa mengangkat kepala dari dadaku.

Aku berdiri sambil menggendongnya. Telapak tanganku mendadak lembap.

Seorang lelaki memasuki ruang tamu dengan langkah tenang. Kemeja kerja warna gelapnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot yang terkena debu. Celananya kusam di bagian lutut. Ada bau matahari, rumput kering, dan samar-samar kandang sapi pada tubuhnya.

Namun dia sama sekali tidak tampak tua.

Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan. Tubuhnya tinggi dan padat, wajahnya tegas dengan rahang yang seperti jarang dipakai untuk tersenyum. Tatapannya berpindah dari koper di dekat sofa, ke wajahku, lalu ke Sasa yang melingkarkan tangan di leherku.

Mata itu diam, tetapi berat.

Ini lelaki yang katanya tua, buruk rupa, dan hanya butuh perempuan untuk mengurus tiga anak?

Bik Inah membuka mulut lebih dulu. “Pak Arya, perempuan ini datang mengaku sebagai pengganti Tiara. Saya sudah bilang pulang, tapi dia memaksa masuk dan membuat keributan di depan tetangga.”

Arya tidak langsung menjawabnya.

Dia menatapku. “Laras?”

Dia tahu namaku.

“Iya. Saya Laras Ayuningtyas.” Aku menurunkan Sasa perlahan, tetapi anak itu menolak melepaskan leherku. Akhirnya aku tetap menggendongnya. “Keluarga Pak Bimo mengirim saya menggantikan Tiara. Saya tidak mau berpura-pura seolah keputusan itu adil. Tapi saya sudah datang, jadi saya ingin bicara langsung dengan Mas Arya.”

Tatapannya tidak berubah. “Bicara.”

“Saya bisa merawat tiga anak ini dengan baik. Saya bisa bekerja, mengurus rumah, dan menjalani hidup sederhana. Kalau pernikahan ini tetap dilanjutkan, saya akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.”

Aku berhenti sebentar. Detak jantungku terdengar sampai telinga.

“Tapi kalau Mas Arya hanya mencari pembantu yang tidak perlu digaji, saya akan pergi sekarang juga. Anak-anak akan saya perlakukan sebagai keluarga, dan saya juga ingin diperlakukan sebagai manusia. Bukan pengganti yang bisa dipindahkan sesuka hati.”

Sasa menyandarkan kepala di bahuku. Ruang tamu begitu sunyi sampai dengung pendingin udara terdengar keras.

Arya memandangku lama.

Dia tidak mengatakan iya. Tidak juga mengatakan tidak.

Hanya menatapku, begitu lama sampai aku mengira lelaki itu tidak akan membuka mulut sama sekali.

Episode 3

Bab 3: Aku Akan Jadi Ibu yang Baik

“Kalau kamu sudah datang, kamu tinggal di sini.”

Itulah jawaban Arya setelah diam begitu lama.

Tidak ada kalimat manis. Tidak ada tatapan penuh rasa iba. Dia hanya mengambil koperku, mengangkatnya dengan satu tangan, lalu menoleh pada Bik Inah.

“Siapkan kamar depan di lantai dua.”

Bik Inah terkesiap. “Tapi, Pak, kamar itu untuk tamu penting.”

“Laras bukan tamu.”

Tiga kata itu membuat perempuan tersebut kehilangan jawaban.

Arya membawa koperku ke tangga. Sasa masih berada dalam gendonganku dan mengikuti gerakannya dengan mata lebar.

“Soal akad,” lanjut Arya tanpa menoleh, “kamu tentukan kapan siap. Aku tidak akan memaksa.”

Aku tidak menyangka lelaki yang digambarkan keluargaku sebagai duda kampung kasar justru memberiku pilihan pertama sejak sebulan terakhir.

“Kita jalani pelan-pelan saja,” kataku. “Saya ingin mengenal anak-anak dan cara hidup di rumah ini dulu. Soal saya dan Mas Arya, kita bisa belajar nanti.”

Dia berhenti di anak tangga pertama, lalu mengangguk sekali. “Baik.”

Kesepakatan kami tidak romantis. Tetapi setelah diperlakukan seperti barang pengganti, keputusan kecil yang kubuat sendiri terasa lebih berharga daripada janji cinta.

Bik Inah akhirnya membuka kamar depan dengan wajah masam. Kamar itu memiliki ranjang kayu, lemari pakaian, meja kecil, dan jendela menghadap pohon mangga. Debunya tipis, jelas bukan kamar yang sering dipakai.

“Seprai nanti saya ganti,” katanya, tanpa niat segera melakukannya.

“Biar saya saja.”

Aku menurunkan Sasa ke ranjang. Anak itu duduk sambil memegang permen kedua yang masih terbungkus. Ketika aku membuka koper, dia memperhatikan setiap gerakanku seperti takut aku akan memasukkan kembali semua barang dan pergi.

Arya berdiri di pintu.

“Sasa anak paling kecil?” tanyaku.

“Iya.”

“Dua anak laki-laki tadi Raka dan Bayu?”

“Iya.”

“Ibu mereka?”

Tatapannya turun sebentar. “Almira, kakakku. Sudah meninggal. Ayah mereka juga sudah tidak ada. Aku wali mereka.”

Jawabannya singkat, tetapi cukup untuk menegaskan satu hal. Tiga anak itu bukan anak kandung Arya. Dia adalah paman sekaligus wali yang mereka panggil Ayah karena telah membesarkan mereka.

“Saya mengerti.”

Sasa mengulurkan permen kepadaku. Aku membukanya, lalu membiarkan dia memegangnya sendiri.

Arya melihat tangan kecil itu, kemudian beralih pada Bik Inah. “Anak-anak sudah makan?”

“Sebentar lagi. Nasi sedang ditanak.”

Dia mengangguk dan turun untuk membersihkan diri. Namun ada sesuatu pada cara Bik Inah mencengkeram seikat kuncinya yang membuatku kembali waspada.

Malam itu, aku resmi duduk di meja makan bersama mereka.

Raka memilih kursi paling jauh dariku. Tubuhnya kurus, tetapi punggungnya tegak. Wajahnya tidak banyak bergerak. Tatapannya mengingatkanku pada anak kucing liar yang sudah terlalu sering ditendang untuk percaya pada tangan terbuka.

Bayu duduk di sebelahnya. Anak itu lebih sulit menyembunyikan apa pun. Matanya terus mengikuti mangkuk nasi yang dibawa Bik Inah dari dapur.

“Ayah, dia akan tinggal di sini?” tanyanya.

“Iya.”

“Jadi dia siapa?”

Raka menyikut adiknya pelan. “Jangan banyak tanya.”

“Aku cuma tanya.” Bayu menatapku lagi. “Mbak bisa masak?”

“Bisa.”

“Masak ayam?”

“Bisa.”

“Rendang?”

“Kalau bahannya ada.”

Bayu hendak bertanya lagi, tetapi Bik Inah menaruh mangkuk sayur di meja dengan bunyi keras.

“Banyak sekali maunya. Makan yang ada.”

Yang ada hanyalah sayur bening berisi potongan labu, empat tempe goreng setipis kertas, dan sambal untuk orang dewasa. Tidak ada telur, daging, ataupun susu. Nasinya juga hanya cukup untuk satu porsi kecil bagi setiap orang.

Aku melirik Arya. Dia makan tanpa komentar, seperti lelaki yang terlalu sering pulang larut dan menerima apa saja yang disajikan. Mungkin dia tidak pernah melihat apa yang terjadi pada siang hari.

Begitu Bik Inah selesai membagikan nasi, Bayu langsung menyuap tiga sendok besar. Dia hampir tidak mengunyah. Raka makan lebih lambat, tetapi setiap butir yang jatuh ke piring diambil lagi dengan ujung jari.

Sasa duduk di pangkuanku. Bik Inah memberinya semangkuk bubur encer yang sudah dingin.

“Ini makan malamnya?” tanyaku.

“Balita memang makannya bubur.”

“Bubur tanpa lauk?”

“Siang tadi sudah makan.”

Sasa membuka mulut begitu sendok mendekat. Dia menelan cepat, lalu membuka mulut lagi sebelum sendokku kembali ke mangkuk.

Anak yang kenyang tidak makan seperti itu.

Aku mencampurkan sedikit sayur ke buburnya dan meniup setiap sendok. Dalam beberapa menit, mangkuk itu kosong. Sasa masih menatapnya.

Bayu juga sudah menghabiskan nasi.

“Bik, boleh tambah?”

“Tidak ada lagi.”

“Sedikit saja.”

“Kamu mau jadi kerbau? Makan terus.”

Tangan Bayu yang memegang sendok perlahan turun. Arya mengangkat wajah, tetapi sebelum dia bicara, Raka memindahkan satu potong tempenya ke piring adiknya.

“Aku sudah kenyang,” kata Raka.

Perutku mengencang. Piringnya bahkan belum setengah kosong.

Aku membagi sisa nasiku untuk Bayu dan memindahkan tempeku kepada Raka. Anak sulung itu menolak dengan tatapan.

“Saya tidak lapar,” kataku.

“Aku juga tidak.”

“Kalau begitu simpan. Nanti kalau lapar, makan.”

Dia tidak menyentuh tempe itu. Namun dia juga tidak mengembalikannya.

Bayu mendekatkan wajahnya kepadaku. “Besok Mbak benar-benar mau masak ayam?”

“Kalau ada ayam, saya masak.”

“Jangan percaya,” potong Raka. “Orang baru selalu baik di awal.”

Bayu langsung diam. Aku menatap Raka, tetapi tidak mencoba membantah ketakutan yang jelas bukan lahir hari ini.

“Kamu tidak perlu percaya sekarang,” kataku. “Lihat saja apa yang saya lakukan besok, lusa, dan seterusnya. Kamu juga tidak harus memanggil saya Ibu sebelum kamu sendiri menginginkannya.”

Raka menunduk. Jemarinya menutup di atas tempe pemberianku.

Arya memperhatikan kami dalam diam.

Keesokan paginya, dia berangkat ke peternakan sebelum matahari tinggi. Di meja, Bik Inah hanya menaruh teh encer dan singkong rebus untuk anak-anak. Sasa menempel di kakiku ke mana pun aku bergerak.

Saat membantu membereskan piring, aku melihat Bik Inah mengambil sebuah kantong plastik berisi telur dari lemari dapur. Dia menutupinya dengan kain, lalu membawanya ke pintu belakang.

“Itu untuk siapa?”

Dia tersentak. “Urusan dapur bukan urusanmu.”

Di belakang dapur ada pintu kayu kecil dengan gembok baru. Bau beras dan bawang samar-samar keluar dari celahnya.

“Kuncinya di mana?” tanyaku.

“Gudang itu milik saya.”

“Gudang di dalam rumah Pak Arya milik Bik Inah?”

Dia tidak menjawab. Kantong telur di tangannya dibawa cepat-cepat keluar.

Malamnya, aku terbangun karena suara kaki kecil di lorong. Bayu berdiri di pintu dapur sambil membawa mangkuk kosong.

“Bik,” bisiknya, “aku masih lapar. Boleh nasi setengah mangkuk?”

“Tidak ada!” bentak Bik Inah dari kamarnya. “Tidur! Jangan jadi anak rakus!”

Bayu membeku. Dia menoleh dan melihatku di ujung lorong. Malu-malu, dia menyembunyikan mangkuk di belakang punggung lalu berlari ke kamar.

Aku berdiri lama dalam gelap.

Rumah ini paling megah di seluruh Desa Rejosari. Uang jelas bukan masalah. Namun ketiga anak di dalamnya makan seperti sudah kelaparan berhari-hari.

Pandanganku jatuh pada gembok di belakang dapur.

Apa sebenarnya yang disembunyikan Bik Inah di balik pintu itu?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!