Pagi itu, usai waktu Subuh, tak seperti biasanya Cynara yang selalu menunggu suaminya bangun. Ia justru langsung turun ke dapur.
Wajahnya terlihat dingin, seakan sudah terlalu lelah dengan segala hal yang terjadi selama tiga tahun menjadi istri dari pria bernama Anugrah Pratama.
Selama tiga tahun menikah, Cynara hanya menjadi istri di atas kertas.
Tidak ada satu pun orang di luar rumah ini yang tahu bahwa Cynara Rizkia Fitri adalah istri dari pria yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan ternama, JM Corporation.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia menyiapkan sarapan untuk semua orang yang tinggal di rumah itu.
Tidak hanya memasak.
Ia mencuci pakaian, membersihkan rumah, lalu mengurus Liam (putra Danisha, kakak Anugrah) ketika ibunya pergi bekerja.
Semuanya ia lakukan seolah-olah memang itulah kewajibannya.
Sebab di rumah ini, Cynara hanya dianggap sebagai perempuan yang menumpang. Tidak memberikan kontribusi materi. Tidak memiliki pekerjaan.
Dan karena itu, keberadaannya seolah harus dibayar dengan seluruh tenaga yang dimilikinya.
Ketika Anugrah turun, Cynara langsung menuangkan kopi ke dalam cangkir.
Pria itu duduk di kursi meja makan.
Cynara meletakkan sarapan tepat di hadapannya. “Mas.”
“Hm?”
“Ini sarapanmu.”
“Terima kasih.”
Cynara sedikit tertegun. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suaminya mengucapkan dua kata itu.
Tanpa Anugrah sadari, Cynara menatapnya dengan seribu bahasa yang tidak mampu ia ungkapkan.
Kemudian perempuan itu kembali ke dapur.
“Cynara.”
Langkahnya berhenti. Namun, ia tidak menoleh. “Ya?”
“Kamu marah?”
Cynara menggeleng. “Tidak.”
“Semalam kamu tidur lebih cepat.”
“Iya.”
Anugrah menatap punggung istrinya. Meski Cynara bisa merasakan tatapan itu, ia tidak berbalik.
“Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Tidak.” Cynara mengambil piring yang berada di dekatnya.
“Kalau begitu, makanlah sarapanmu sebelum dingin.”
Anugrah hanya diam. Ada sesuatu yang berbeda dari istrinya sejak semalam. Sesuatu yang tidak ia mengerti.
Namun, Anugrah tidak tahu bahwa perubahan sikap Cynara itu bermula dari percakapan yang didengarnya sendiri pada malam sebelumnya.
Malam sebelumnya.
Pintu ruang keluarga tidak tertutup sempurna. Cynara yang hendak mengambil minum berhenti ketika mendengar suara dari ruang tengah.
“Jadi bagaimana dengan Gadiza?”
Langkah Cynara seketika terhenti. Nama itu. Ia mengenalnya. Nama yang beberapa kali muncul di notifikasi ponsel Anugrah.
Gadiza.
Perempuan yang merupakan adik CEO tempat suaminya bekerja.
Terdengar suara Anugrah menjawab pelan. “Dia baik-baik saja.”
“Kalau begitu, jangan terlalu lama.”
Jantung Cynara seolah berhenti berdetak. Itu suara ibu mertuanya.
“Bu…”
“Anugrah, Ibu tidak ingin kau menyesal. Cynara bukan perempuan yang bisa membantumu berkembang.”
Cynara menggeleng pelan. Tangannya refleks menutup mulut. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia baru sadar, seburuk itu dirinya di mata keluarga sang suami.
“Kau lihat sendiri. Selama tiga tahun, apa yang berubah?”
“Bu, jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Cynara masih istriku.”
Ibu mertuanya tertawa kecil. “Istri yang bahkan tidak kau akui di kantor?”
Cynara membeku, kini tangannya mengepal dengan erat.
“Justru karena itu,” lanjut perempuan tersebut, “tidak ada seorang pun di sana yang tahu kamu itu sudah menikah.”
Cynara mundur satu langkah. Dadanya terasa semakin sesak.
“Kalau kau benar-benar ingin bersama Gadiza, apa sulitnya?”
Hening. Anugrah tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lirih.
“Aku tidak tahu.”
Kepala Cynara tertunduk. Air matanya akhirnya semakin deras membasahi pipi. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Cynara berbalik dan berjalan menuju kamar.
Pelan. Sangat pelan. Ia takut seseorang mengetahui bahwa dirinya mendengar semuanya.
Begitu sampai di kamar, Cynara menutup pintu. Kemudian bersandar di belakangnya. Tubuhnya bergetar. Selama ini ia selalu takut jika Anugrah meninggalkannya.
Ternyata ketakutannya bukan tanpa alasan. Cynara berjalan menuju cermin. Menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah seorang perempuan yang sudah tiga tahun menjadi istri seorang pria yang bahkan tidak berani mengakuinya di hadapan dunia.
Tangannya menyentuh cincin pernikahan.
“Kalau memang kau sudah tidak menginginkanku lagi…”
Suaranya bergetar.
“Kenapa kau masih membiarkanku berharap?”
Hari-hari selanjutnya berjalan dingin.
Cynara tidak lagi bertanya kapan Anugrah pulang.
Tidak lagi mengirim pesan ketika suaminya lembur.
Tidak lagi bertanya dengan siapa Anugrah makan siang.
Bahkan ketika pria itu pulang larut malam, Cynara tetap tidur.
Ia pikir dengan begitu hatinya akan lebih tenang.
Ternyata ia salah.
Sebab semakin berhenti bertanya, semakin ia menyadari bahwa selama ini hanya dirinya yang menjaga agar hubungan mereka tetap hidup.
Anugrah hanya mengikutinya.
Sampai suatu malam, Anugrah pulang membawa aroma parfum yang asing.
Cynara sedang melipat pakaian.
Anugrah meletakkan jasnya di sandaran kursi. Aroma itu kembali tercium.
Cynara menahan napas. Ia tidak mampu lagi mengabaikannya. “Mas.”
“Hm?”
“Kamu habis bertemu dengan Gadiza?”
Anugrah menatapnya. “Iya.”
Hanya satu kata. Cynara mengangguk pelan. Tidak bertanya lebih jauh.
Namun, Anugrah justru terlihat gelisah. “Kami hanya makan malam.”
Cynara menatapnya. “Aku tidak bertanya.”
Anugrah terbungkam. Seolah baru menyadari bahwa dialah yang tanpa sengaja mengakui pertemuan tersebut.
Cynara kembali melipat pakaian. Namun, hatinya terasa semakin beku.
“Cynara.”
“Ya?”
“Gadiza tahu aku lajang.”
Tangan Cynara berhenti. Perlahan, ia mengangkat wajah. “Lalu?”
“Aku tidak pernah memberitahunya tentang pernikahan kita.”
Cynara tersenyum getir. “Aku tahu.”
“Dia tidak tahu.”
“Aku tahu.”
Anugrah tampak ingin mengatakan sesuatu.
Namun, Cynara lebih dahulu bertanya. “Masih akan terus begitu?”
Anugrah diam.
“Menjadi pria lajang di luar rumah?”
Anugrah mengusap wajah. “Aku belum bisa mengubah semuanya dengan mendadak.”
Cynara tertawa kecil. Tawa tanpa kebahagiaan. “Tidak perlu.”
Anugrah menatapnya dengan tanda tanya. “Aku tidak akan memaksamu.”
“Cynara…”
“Karena aku sudah mengerti.”
Cynara memasukkan pakaian terakhir ke dalam lemari. Kemudian menutup pintunya. Ia berbalik dan menatap suaminya.
“Pernikahan ini mungkin hanya penting bagiku.” Tatapan Cynara mulai berkaca-kaca.
“Tapi tidak bagimu.”
Anugrah terdiam. Cynara menarik napas panjang.
Kemudian, untuk pertama kalinya selama tiga tahun pernikahan mereka, ia mengucapkan kalimat yang bahkan menghancurkan hatinya sendiri.
“Bagaimana kalau kita akhiri saja?”
*bersambung*
“Bagaimana kalau kita akhiri saja?”
Kalimat itu masih menggantung di udara. Anugrah tidak bisa langsung menjawabnya.
Raut wajahnya pun berubah. Ia bisa melihat sendiri, Cynara bukan sedang mengancamnya.
Perempuan itu benar-benar ingin pergi.
“Cynara…”
“Aku sudah memikirkannya.” Suara Cynara tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meminta perceraian.
Anugrah menatap istrinya. “Karena Gadiza?”
“Bukan.” Cynara menggeleng.
“Karena selama tiga tahun ini, aku tidak pernah benar-benar kamu anggap sebagai istrimu.”
Anugrah membeku. Ia hanya bisa menatap Cynara, seakan kehabisan kata-kata yang harus diucapkan.
Cynara berjalan melewatinya. “Kamu sibuk kan? Biar aku yang mengurus perceraian ini.”
“Cynara, tunggu.”
Namun, perempuan itu tidak menjawab lagi, menuju kamar mandi dan berwudhu.
.
.
Malam itu juga, Anugrah memanggil seluruh anggota keluarganya berkumpul di ruang tengah.
Danisha, kakaknya datang sambil menggendong Liam, diikuti Rio, suaminya. Ibu Anugrah duduk di sofa paling depan.
Sementara Cynara, turun lebih lambat menyelesaikan kewajiban Isyanya. Saat berdoa, wajahnya berurai air mata, tetapi tak satu pun kata terucap dalam doa itu. Setelah selesai, ia bergerak turun menuju ruang keluarga, mendapati semua mata menatap tajam padanya. Ia memilih berdiri agak jauh di dekat jendela.
Anugrah berdiri di tengah ruangan. “Seperti yang sudah aku katakan tadi, bagaimana menurut kalian semua?”
Danisha menatap datar pada Cynara.
Anugrah menarik napas. "Cynara ingin bercerai denganku.”
Suasana hening menyelimuti ruangan itu.
Danisha tertawa tipis. “Cerai?”
Anugrah mengangguk.
“Yakin?” sindir Danisha kembali
Cynara memilih diam, tetapi kepalanya masih tegak. Bukan dirinya yang salah di sini.
Danisha justru menatapnya tajam. “Berani kau meminta cerai?”
Cynara mengangguk. “Ya.” Ia membalas tatapan kakak iparnya itu.
“Karena apa?”
Cynara masih diam.
Danisha mendengus. “Memangnya kau pikir hidup setelah keluar dari rumah ini akan lebih mudah?”
Wajah Cynara masih tegak. “Tidak.”
“Kalau begitu, karena apa?” Danisha bangkit dari duduknya. “Kalau kau keluar dari rumah ini, siapa yang akan mengurus Liam?”
Cynara menatap anak kecil yang masih berada dalam gendongan Danisha.
Danisha melanjutkan dengan nada kesal. “Kalau kamu pergi, tentu aku harus menyewa pengasuh? Kan mahal!”
Cynara tidak menjawab.
“Belum lagi pekerjaan rumah.” Danisha semakin emosi. “Kau pikir Ibu mau memasak setiap hari? Mencuci? Membersihkan rumah?”
Ibu Anugrah langsung menatap putrinya. “Danisha!”
“Apa, Bu?” Danisha menunjuk Cynara. “Dia yang mau pergi!”
Cynara tersenyum tipis. Akhirnya ia mengerti. Bukan perceraiannya yang membuat mereka panik.
Akan tetapi, kepergiannya yang mereka takutkan. Selama ini mereka membutuhkan dirinya. Bukan sebagai istri. Bukan sebagai anggota keluarga. Tetapi sebagai seseorang yang mengerjakan semua pekerjaan yang tidak ingin mereka lakukan.
Danisha kembali menatapnya. “Ceraikan adikku kalau memang itu maumu.”
Cynara diam.
“Tapi ingat satu hal.” Danisha melipat tangan di dada. “Kau hanya anak desa.”
Cynara perlahan mengangkat alis.
“Kau pikir kau bisa bertahan hidup di kota ini sendirian?”
Cynara tidak menjawab.
“Selama ini kau tinggal di rumah kami. Makan dari uang adikku, Anugrah. Menggunakan semua fasilitas yang ada di sini.”
Danisha tertawa sinis. “Begitu keluar, kau mau tinggal di mana?”
Cynara menatapnya. “Di mana pun.”
“Dengan uang apa?”
“Dengan uangku sendiri.”
Danisha mendengus. “Memangnya kau punya?”
Cynara terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban. Tetapi karena dia tidak ingin membuang tenaganya untuk menjelaskan.
Tiga tahun terakhir, dirinya memang tidak memiliki penghasilan sendiri. Anugrah meminta dirinya berhenti bekerja setelah menikah.
Katanya, mereka akan baik-baik saja. Katanya, dia akan menanggung semuanya.
Sekarang, kalimat itu justru menjadi alasan mengapa keluarganya menganggap Cynara tidak mampu hidup tanpa mereka.
Ibu mertuanya akhirnya ikut berbicara. “Cynara…”
Suaranya terdengar jauh lebih lembut. “Kenapa tiba-tiba ingin berpisah?”
Cynara menoleh. “Tiba-tiba?”
Ibu mertuanya terdiam.
Cynara tersenyum kecil. “Bukan kah Ibu sendiri yang menginginkan Mas Anugrah bersama Gadiza?”
Wajah perempuan itu berubah.
Anugrah langsung menatap istrinya. “Cynara…”
“Kalau memang iya, aku persilakan.” Cynara menunjuk Anugrah. “Bukankah itu yang kalian inginkan?”
Tidak ada yang menjawab.
“Bukankah Gadiza lebih cocok?” Cynara tertawa lirih.
“Dia punya keluarga terpandang. Dia punya kehidupan sendiri. Dia juga tidak akan menjadi beban bagi Mas Anugrah.”
Ibu mertuanya langsung menyahut. “Tapi kamu tetap bisa menjadi menantu Ibu.”
Cynara mengerutkan kening. “Maksud Ibu?”
“Kamu tidak perlu pergi.” Perempuan itu tersenyum.
“Kau tetap bisa menjadi istri pertama bagi Anugrah.”
Cynara menatapnya tanpa berkedip. “Dan Gadiza?”
“Dia bisa menjadi istri kedua.”
Suasana mendadak sunyi. Cynara menatap ibu mertuanya beberapa detik.
Beralih pada Danisha, terus Rio, suami Danisha. Kemudian tertawa. Bukan tawa bahagia. Melainkan tawa seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang begitu menyakitkan hingga tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Istri pertama?”
“Iya.”
Cynara mengangguk pelan. “Seperti apa istri pertama yang Ibu maksud?”
Ibu mertuanya terdiam.
Cynara melanjutkan. “Apakah istri pertama yang tidak pernah diperkenalkan kepada siapa pun?”
Tatapannya beralih kepada Anugrah. “Apakah istri pertama yang suaminya berpura-pura masih lajang di tempat kerja?”
Anugrah menunduk.
Cynara kembali menatap ibu mertuanya. “Atau istri pertama yang hanya tinggal di rumah untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengurus anak orang lain?”
Danisha langsung membalas, “Jangan membawa-bawa Liam!”
“Kenapa?” Cynara menatapnya. “Bukankah aku yang memang selalu mengurus Liam selama ini?”
Danisha terdiam.
Cynara menghela napas. Kemudian kalimat terakhirnya meluncur dengan tenang. “Istri pertama seperti apa, Bu?”
Dia tersenyum getir. “Bahkan Gadiza tidak akan menyadari bahwa dirinya adalah wanita kedua Mas Anugrah.”
Ibu mertuanya langsung terdiam. Danisha pun tidak mampu membalas. Anugrah hanya berdiri mematung.
Cynara mengusap sudut matanya. “Aku tidak mau menjadi istri seperti itu.”
Dia menatap Anugrah. “Aku tidak mau berbagi suami.”
“Cynara…”
“Aku juga tidak mau mempertahankan laki-laki yang malu mengakui bahwa aku istrinya.”
Anugrah mengepalkan tangan.
Cynara kemudian menatap seluruh keluarga itu. “Jadi, kalau kalian memang menginginkan Gadiza…”
Dia menarik napas. “Silakan, aku tidak akan menghalangi. Tapi aku memilih mundur.”
Suaranya bergetar.
“Dan jangan meminta aku tetap tinggal hanya karena kalian membutuhkan seseorang untuk mengurus rumah ini. Aku ini bukan pembantu gratisan kalian.” Cynara berbalik.
Langkahnya baru mencapai dua langkah ketika suara ibu mertuanya menghentikannya.
“Kalau kau pergi, jangan berharap bisa kembali!”
Cynara berhenti. Untuk beberapa detik, dia memejamkan mata. Kemudian menoleh kembali.
“Tenang! Aku tidak akan kembali.”
*bersambung*
Pagi itu, Cynara bangun lebih awal. Bukan untuk menyiapkan sarapan. Bukan untuk mencuci pakaian keluarga ini. Bukan pula untuk memastikan Liam sudah makan atau belum.
Hari ini, ia memilih untuk pergi. Cynara membuka lemari dan mengambil koper yang selama tiga tahun hampir tidak pernah digunakannya.
Satu per satu pakaian dimasukkan. Tidak banyak. Hanya pakaian miliknya dan beberapa buku, dan laptop miliknya semenjak kuliah dulu. Yang terakhir, dokumen pribadi.
Dan sebuah kotak kecil berisi barang-barang yang memiliki kenangan dengan Anugrah. Kotak itu sempat dibuka. Di dalamnya ada foto pernikahan mereka.
Cynara menatap foto tersebut cukup lama. Dulu, ia berdiri di samping Anugrah dengan senyum paling bahagia yang pernah dimilikinya.
Sekarang, melihat foto itu justru membuat dadanya terasa sesak. Ia mengambil foto tersebut. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak. Bukan karena ingin menyimpannya sebagai kenangan. Melainkan karena ia belum cukup kuat untuk membuangnya.
Cynara menutup koper. Selesai. Ia memandang kamar itu untuk terakhir kalinya.
Tiga tahun.
Ternyata selama itu ia tinggal di tempat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai keluarga.
.
.
Ketika Cynara keluar membawa koper, Danisha sedang memberikan sarapan kepada Liam.
Perempuan itu langsung menoleh. “Kau mau pergi?”
Cynara hanya menjawab dengan datar. “Iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Danisha melihat koper besar di tangan Cynara.
Kemudian tersenyum tipis. “Jangan menyesal nanti.”
Cynara tidak menjawab.
Ibu mertuanya keluar dari dapur. “Kau benar-benar akan pergi?”
“Iya, Bu.”
“Setelah itu jangan kembali meminta bantuan keluarga ini.”
Cynara kembali memasang wajah datarnya. “Tidak akan.”
Ibu mertuanya tampak sedikit terkejut. Mungkin ia berharap Cynara akan memohon. Meminta agar diizinkan tetap tinggal. Tetapi Cynara sudah tidak memiliki alasan untuk melakukan itu.
Liam tiba-tiba turun dari kursinya. “Tante!”
Bocah itu berlari mendekat. Cynara langsung berlutut.
Liam memeluk lehernya.“Tante mau pergi?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Cynara tersenyum sedih. “Karena Tante harus pulang ke rumah Tante.”
“Liam ikut.”
Cynara menggeleng.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
Cynara mengusap rambutnya. “Liam harus bersama Mama.”
Liam mulai cemberut. “Tante jangan pergi.”
Hati Cynara mencelos. Bagaimanapun, Liam bukan penyebab semua ini. Bocah itu justru salah satu alasan mengapa selama ini Cynara bertahan di rumah bagaikan neraka ini.
Ia memeluk Liam untuk terakhir kalinya. “Tante sayang Liam.”
“Aku juga sayang Tante.”
Cynara tersenyum. Kemudian ia bangkit kembali.
Pada saat yang sama, Anugrah turun dari tangga. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Cynara menggenggam gagang kopernya. “Mas.”
Anugrah menatapnya. “Kau benar-benar pergi?”
Cynara mengangguk. “Iya.”
“Kau mau tinggal di mana?”
“Sudah ada tempat.”
Anugrah mengerutkan kening.
“Kau sudah menyiapkannya?”
“Sudah.” Dia sendiri sebenarnya tidak ingin menjelaskan lebih jauh.
Tiga tahun terakhir, Anugrah selalu mengira Cynara tidak memiliki apa-apa selain dirinya. Hari ini, biarlah dia tetap berpikir seperti itu. Cynara berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia berhenti.
“Mas, aku pergi.”
Anugrah masih menatapnya.
“Sampai jumpa saat di pengadilan nanti.” Setelah itu, Cynara menarik kopernya. Tidak menunggu jawaban. Tidak menoleh lagi.
Pintu rumah tertutup di belakangnya. Sebuah taksi membawanya menjauh dari rumah yang selama tiga tahun disebutnya sebagai rumah.
Cynara duduk di kursi belakang. Untuk beberapa menit, ia hanya memandangi jalan dari balik jendela. Kemudian ponselnya bergetar.
Bukan pesan dari Anugrah. Bukan dari keluarga mertuanya. Melainkan notifikasi dari aplikasi perdagangan saham.
Cynara membukanya. Beberapa angka bergerak di layar. Ia menghela napas.
Sejak tiga tahun lalu, ketika Anugrah memintanya berhenti bekerja setelah menikah, Cynara memang tidak benar-benar berhenti melakukan apa pun.
Ia hanya tidak pernah memberitahukan satu hal kepada suaminya. Cynara adalah seorang trader. Awalnya, ia hanya menggunakan sebagian kecil uang tabungannya.
Ia belajar sendiri. Membaca laporan perusahaan. Mempelajari pergerakan pasar. Mengikuti perkembangan ekonomi.
Tidak selalu berhasil. Ada keuntungan. Ada pula kerugian. Namun, selama tiga tahun itu, ia terus belajar.
Dan sedikit demi sedikit, portofolionya berkembang. Bahkan ada satu perusahaan yang sahamnya menjadi salah satu kepemilikan terbesarnya.
JM Corporation.
Perusahaan besar yang namanya hampir setiap hari muncul dalam berita bisnis. Perusahaan tempat suaminya bekerja.
Cynara membuka laporan portofolionya. Angka yang tertera di sana membuatnya tersenyum tipis. Tidak fantastis. Tetapi cukup.
Cukup untuk membayar tempat tinggal. Cukup untuk memulai hidup baru. Dan cukup untuk membuktikan bahwa dirinya tidak benar-benar tidak punya apa-apa.
Cynara mengunci layar ponsel. Ia menyandarkan kepala ke kursi. Selama ini keluarganya menganggap dirinya hanya perempuan yang menumpang.
Anugrah menganggap dirinya tidak mampu hidup tanpa dirinya. Mereka semua salah. Cynara memang pernah berhenti bekerja. Tetapi ia tidak pernah berhenti membangun kehidupannya sendiri. Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.
“Mulai hari ini…” Ia menarik napas. “…aku hanya akan bertanggung jawab atas hidupku sendiri.”
Tanpa Cynara sadari, keputusan untuk meninggalkan rumah itu akan menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali berbeda.
*bersambung*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!