Bab 1
Ulang Tahun yang Sepi
Sebatang lilin merah berdiri miring di atas sepotong martabak manis yang sudah dingin.
Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada. Nyala kecil itu membuat gula dan margarin di permukaan martabak berkilau seperti krim kue ulang tahun. Kalau aku memicingkan mata, noda lembap di dinding dapur menghilang. Ember bocor di bawah wastafel juga tidak terlihat. Yang tersisa hanya cahaya lilin, wangi kacang yang tipis, dan aku yang genap berusia enam belas tahun malam ini.
Perutku berbunyi.
Aku belum makan sejak pagi, tetapi aku menahan diri untuk tidak menyentuh martabak itu. Sebelum meniup lilin, orang harus membuat permohonan. Begitulah yang pernah kulihat dari balik jendela rumah tetangga ketika anak mereka berulang tahun.
Aku memejamkan mata.
Semoga ada yang menyayangiku.
Permintaan itu terdengar serakah. Aku segera menggantinya dalam hati.
Tidak perlu sayang. Semoga besok Bu Win tidak marah.
Kunci beradu keras di pintu depan.
Mataku terbuka. Belum sempat aku meniup lilin, pintu kontrakan terbanting ke dinding. Langkah sandal berlari melewati ruang tengah. Bu Win muncul di ambang dapur dengan napas memburu. Kerudungnya miring, bedak di sekitar hidungnya luntur, dan tas hitam yang biasa dia bawa ke tempat arisan tidak ada di tangannya.
Tatapannya jatuh pada lilin.
“Kamu beli itu pakai uang siapa?”
“Uang kembalian dari warung, Bu. Cuma seribu. Martabaknya dikasih penjual karena sudah mau tutup.”
Aku buru-buru mematikan lilin dengan jari. Panasnya menyengat, tetapi aku tidak berani meniupnya. Bu Win tidak suka melihatku membuat keributan, bahkan keributan sekecil asap lilin.
Dia melangkah masuk dan mencengkeram pergelangan tanganku.
“Ikut Tante sekarang.”
“Ke mana?”
“Jangan banyak tanya.”
Jari-jarinya semakin kuat. Memar lama di lenganku berdenyut di bawah lengan baju.
“Tapi piringnya belum aku cuci.”
“Biar besok!” bentaknya. “Cepat pakai sandal.”
Nada suaranya berbeda dari biasanya. Bu Win sering marah, tetapi malam ini ada sesuatu yang lebih tajam di balik kemarahannya. Ketakutan.
Aku mengambil sandal jepit di dekat pintu. Tali sebelah kanan sudah dua kali kusambung dengan kawat tipis. Saat aku menunduk, Bu Win menarikku begitu keras hingga bahuku membentur kusen.
“Sakit, Bu.”
“Kalau kamu nurut, semua cepat selesai.”
Gang di depan kontrakan masih basah setelah hujan magrib. Air selokan mengalir hitam di bawah cahaya lampu warung. Televisi dari rumah-rumah yang berhimpitan saling bersahutan, bercampur suara motor dan orang menggoreng tempe.
Bu Win berjalan cepat tanpa melepaskan tanganku.
“Reno di mana?” tanyaku.
“Bukan urusanmu.”
“Bu, kita mau ke mana?”
Dia berhenti mendadak. Kukunya menekan kulitku.
“Sekar, Tante sudah memberimu tempat tinggal lima tahun. Tante kasih kamu makan. Tante sekolahkan kamu sebelum uangnya habis. Sekarang Tante cuma minta kamu bantu sekali. Masa nggak bisa?”
Dadaku terasa sempit.
Kalimat itu selalu muncul sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Sebelum dia menyuruhku berbohong kepada pemilik kontrakan. Sebelum dia mengambil uang peninggalan Ibu. Sebelum tangkai sapu mendarat di betisku karena nasi yang kutanak terlalu lembek.
“Bantu apa?”
Bu Win kembali berjalan.
“Nanti juga tahu.”
Kami melewati warung tempat aku membeli lilin. Penjualnya sedang menurunkan pintu seng. Aku ingin memanggilnya, tetapi Bu Win menoleh seolah tahu apa yang kupikirkan.
“Jangan bikin malu Tante.”
Aku menutup mulut.
Di ujung gang, suara kartu dibanting terdengar dari sebuah rumah bercat hijau kusam. Beberapa motor terparkir rapat di depannya. Asap rokok keluar dari jendela yang ditutup koran. Aku pernah disuruh menjemput Bu Win di sini sekali. Saat itu dia pulang menjelang subuh tanpa anting-anting dan memukulku karena tidak ada kopi.
Kakiku berhenti.
“Aku tunggu di luar saja, Bu.”
“Masuk.”
“Aku takut.”
Bu Win menarikku melewati pintu.
Udara di dalam lebih panas daripada gang. Bau rokok, keringat, dan kopi basi melekat di tenggorokan. Empat laki-laki duduk mengelilingi meja yang dipenuhi kartu remi dan lembaran uang. Dua orang berdiri di dekat pintu belakang. Mereka menoleh bersamaan ketika kami masuk.
Laki-laki berkemeja hitam di ujung meja menyandarkan tubuhnya. Bekas luka melintang di alis kirinya. Aku mengenalnya dari bisik-bisik tetangga.
Bang Jagur.
“Akhirnya datang juga,” katanya.
Bu Win mendorongku selangkah ke depan.
“Aku bawa jaminannya.”
Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi. Bahkan kipas angin tua di langit-langit terdengar seperti sedang menggerus sesuatu.
Bang Jagur tertawa pendek. “Jaminan apa ini?”
“Keponakanku.” Bu Win menjilat bibirnya yang kering. “Dia bisa kerja. Masak, nyuci, bersih-bersih. Rajin. Nggak bakal kabur.”
Aku menatap wajahnya.
“Bu?”
Dia menghindari mataku.
Bang Jagur mengambil selembar kertas dari bawah asbak. “Utang lo dua puluh tiga juta, Win. Anak kurus begini mau lo hargai berapa?”
Dua puluh tiga juta.
Angka itu melayang di kepalaku, terlalu besar untuk kupahami. Aku hanya tahu martabak dingin tadi harganya delapan ribu sebelum penjual memberikannya kepadaku. Aku tahu satu bungkus nasi cukup untuk membuat perutku berhenti sakit. Aku tidak tahu berapa harga seorang manusia.
“Aku bisa bayar sisanya nanti,” kata Bu Win cepat. “Yang penting malam ini orang-orangmu jangan datang ke rumah lagi.”
“Bu, aku mau pulang.”
Tanganku mencari ujung bajunya. Bu Win menepisnya.
“Diam.”
“Aku janji akan kerja lebih banyak. Aku nggak akan minta uang sekolah. Aku bisa jual gorengan, aku bisa...”
“Kubilang diam!”
Telapak tangannya menghantam pipiku.
Kepalaku terlempar ke samping. Rasa asin memenuhi mulut. Saat aku kembali menatapnya, wajah Bu Win tampak kabur oleh air mata.
“Tante sudah nggak punya pilihan,” desisnya. “Anggap saja kamu balas budi.”
“Aku sudah kerja setiap hari.” Suaraku nyaris tidak terdengar. “Uang Ibu juga sudah Tante ambil.”
Wajahnya menegang.
Bang Jagur berdiri. Kursinya bergesek panjang di lantai.
“Urusan keluarga nanti saja.” Dia berjalan mengitariku, lalu menatap Bu Win. “Mulai malam ini utang lo gue tahan. Kalau anak ini bikin masalah, bunganya jalan lagi.”
“Iya, Bang. Dia penurut.”
“Bu, jangan.”
Aku memegang lengan Bu Win dengan kedua tangan. “Aku tidur di lantai juga nggak apa-apa. Aku makan sekali dua hari juga nggak apa-apa. Jangan tinggalin aku di sini.”
Untuk sesaat, matanya bertemu mataku.
Aku mencari sedikit rasa kasihan di sana. Lima tahun aku mencuci pakaiannya, memasak untuk Reno, dan memijat kakinya ketika dia pulang berjudi. Pasti ada satu bagian kecil dalam dirinya yang masih menganggapku keluarga.
Bu Win melepaskan tanganku satu per satu.
“Jangan cari Tante.”
Dia berbalik.
“Bu!”
Aku mengejarnya, tetapi Bang Jagur mencengkeram lengan atasku. Nyeri menembus sampai bahu. Bu Win terus berjalan. Kerudung miringnya menghilang di balik pintu tanpa sekali pun menoleh.
Sesuatu di dalam dadaku ikut pergi bersamanya.
“Lepasin!”
Aku meronta. Bang Jagur menarikku ke arah lorong belakang.
“Tenang. Jangan bikin gue susah.”
“Aku bukan barang! Aku bukan punya dia!”
“Mulai malam ini, lo bayar utangnya.”
Kedua lelaki di dekat pintu tertawa. Salah seorang bergerak menutup jalan keluar.
Aku menendang tulang kering Bang Jagur. Cengkeramannya mengendur sesaat, lalu kembali lebih keras. Rasa sakit membuat pandanganku memutih.
“Pegang anak ini!” bentaknya.
Sebuah tangan terulur dari kanan.
Aku tidak berpikir. Aku menunduk dan menggigit punggung tangan Bang Jagur sekuat tenaga.
Dia mengumpat. Rasa darah menyentuh lidahku. Begitu tangannya terlepas, aku menyelip di antara meja dan dinding. Seseorang berhasil menangkap ujung bajuku, tetapi kain tipis itu robek di bahu.
“Tangkap dia!”
Aku menerjang pintu.
Sandal kananku putus di anak tangga. Aku meninggalkannya. Kerikil menusuk telapak kakiku saat berlari melewati gang, tetapi rasa sakit itu kalah oleh suara langkah di belakang.
“Sekar!”
Teriakan Bang Jagur memantul di antara tembok kontrakan.
Aku berlari tanpa tahu ke mana. Napasku mengoyak tenggorokan. Perut kosongku seperti diperas. Kaki kiriku menginjak pecahan genting dan sesuatu yang hangat mulai membasahi telapak, tetapi aku tidak berhenti.
Warung sudah tutup.
Pintu-pintu rumah ikut tertutup.
Gang yang kukenal seumur hidup mendadak tidak punya satu pun tempat untuk bersembunyi.
Di depan, cahaya lampu kendaraan mengalir di jalan besar. Klakson bersahutan. Aku mendengar Bang Jagur semakin dekat, disusul napas kasar dua orang lainnya.
Kalau mereka menangkapku di gang sempit, tidak akan ada yang berani membantu.
Aku berbelok ke jalan raya.
Sebuah motor nyaris menyerempetku. Pengendaranya memaki, tetapi suaranya tenggelam oleh deru mesin. Lampu-lampu membuat mataku silau. Aku mengangkat tangan kepada mobil pertama. Mobil itu menambah kecepatan. Mobil kedua membunyikan klakson dan melewatiku.
“Tolong!”
Suaraku pecah.
Jari Bang Jagur hampir menyentuh rambutku dari belakang.
Di jalur paling dekat, sepasang lampu putih melaju cepat. Mobil hitam itu terlalu mengilap untuk jalan di lingkungan kami. Aku tidak tahu mereknya. Aku hanya tahu orang di dalamnya mungkin satu-satunya yang belum sempat memilih untuk mengabaikanku.
Aku menerobos ke tengah jalan.
Klakson panjang menjerit.
Ban mencengkeram aspal basah. Cahaya putih menelan tubuhku. Aku mengangkat kedua tangan, tetapi kakiku tidak sanggup bergerak lagi.
Mobil itu berhenti begitu dekat hingga lututku membentur bagian depannya.
Aku jatuh menelungkup di atas kap mesin. Logamnya hangat di bawah telapak tanganku. Dari belakang, Bang Jagur meneriakkan namaku.
“Tolong aku!”
Aku memukul kap mobil sekali, dua kali, sekuat tenaga.
“Tolong! Mereka mau menjual aku!”
Mesin masih menyala. Kaca depannya gelap. Selama satu detik yang panjang, tidak ada siapa pun yang bergerak di dalam.
Lalu terdengar bunyi kunci terbuka.
Pintu mobil itu perlahan terbuka.
Bab 2
Pria di Balik Kemudi
Pintu mobil terbuka, lalu sepasang sepatu hitam menginjak aspal.
Seorang pria tinggi turun dari balik kemudi. Kemeja putihnya masih rapi meski lengan bajunya digulung sampai siku. Cahaya lampu jalan memantul pada jam di pergelangan tangannya.
“Kamu mau mati?” suaranya keras. “Kenapa berdiri di tengah jalan?”
Aku mundur satu langkah. Lututku gemetar begitu hebat hingga hampir terjatuh.
“Maaf.”
Hanya kata itu yang keluar. Kata yang selalu keluar setiap kali orang dewasa marah kepadaku.
Tatapan pria itu turun ke kakiku yang telanjang. Darah bercampur air hujan di telapak kiri. Lalu dia melihat bahu bajuku yang robek, pipiku yang panas setelah ditampar, dan bekas jari di lengan.
Kemarahan di wajahnya menghilang.
“Siapa yang melakukan ini?”
Suara langkah mendekat dari gang.
Aku segera bergerak ke belakang pria itu. Tanganku mencengkeram ujung kemejanya sebelum sempat berpikir. Dia menoleh sebentar, tetapi tidak menyuruhku melepaskan pegangan.
Bang Jagur berhenti beberapa meter dari kami. Dua anak buahnya berdiri di belakangnya sambil terengah-engah.
“Maaf, Pak. Anak itu bikin masalah.” Bang Jagur menyeka darah di punggung tangannya. “Dia ikut saya.”
Pria di depanku tidak bergeser. “Atas dasar apa?”
“Tantenya punya utang.”
“Saya tanya atas dasar apa anak ini harus ikut Anda.”
Bang Jagur tersenyum miring. “Urusan keluarga, Pak. Nggak perlu ikut campur.”
Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia mengangkat kamera dan memotret wajah Bang Jagur, kedua anak buahnya, serta ujung gang tempat kami berasal.
“Apa-apaan?”
“Bukti.” Dia menekan nomor di layar. “Anda mengejar anak di bawah umur dalam keadaan terluka. Coba sentuh dia sekali lagi. Saya telepon polisi sekarang.”
Bang Jagur menatap mobil hitam itu, lalu kembali menatap pria tersebut. Wajahnya berubah ketika melihat pelat nomor dan mungkin menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
“Pak Bram,” gumam salah satu anak buahnya.
Bang Jagur menyikut lelaki itu agar diam.
Pria bernama Bram tidak meninggikan suara. “Saya beri kalian tiga detik untuk pergi.”
“Dia punya utang sama saya.”
“Anak ini tidak punya utang kepada Anda.”
Bang Jagur mengatupkan rahang.
“Satu.”
“Pak, sebaiknya kita bicarakan...”
“Dua.”
Bang Jagur meludah ke tepi jalan. “Ayo.”
Mereka mundur, lalu masuk kembali ke gang. Sebelum menghilang, Bang Jagur menoleh kepadaku dan menggerakkan telunjuk di depan lehernya.
Tubuhku membeku.
“Jangan lihat mereka.”
Suara pria itu membuatku mendongak.
Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu membuka pintu penumpang. “Masuk.”
Aku tidak bergerak.
“Saya tidak akan menyerahkanmu kepada mereka.”
“Bapak mau bawa aku ke mana?”
Dia diam sejenak. Mungkin baru menyadari bahwa aku tidak punya alasan untuk memercayainya hanya karena dia memakai kemeja bersih dan memiliki mobil mahal.
“Ke rumah saya. Lukamu harus dibersihkan.” Dia menunjuk ponselnya. “Kalau kamu tidak nyaman, kamu boleh menelepon polisi dari dalam mobil. Kamu juga boleh turun di kantor polisi terdekat.”
Aku menatap gang yang gelap. Bang Jagur bisa kembali kapan saja.
“Siapa nama Bapak?”
“Bramantyo.”
“Aku Sekar.”
“Baik, Sekar. Sekarang masuk sebelum kakimu semakin banyak kehilangan darah.”
Aku duduk di kursi penumpang. Jok kulit yang lembut membuatku takut mengotorinya. Aku mengangkat kaki, berusaha agar darah tidak menyentuh alas mobil.
Bramantyo melihat gerakanku. Dia mengambil saputangan putih dari kompartemen dan meletakkannya di bawah telapak kakiku.
“Nanti kotor,” kataku.
“Bisa dicuci.”
“Kalau nggak bisa?”
Dia menyalakan mesin. “Bisa dibeli lagi.”
Jawabannya begitu sederhana hingga aku tidak tahu harus berkata apa.
Sepanjang perjalanan, aku menempelkan tubuh ke pintu. Gedung-gedung tinggi menggantikan gang sempit. Lampu kota memantul di kaca, terlalu terang untuk mataku yang mulai berat.
Bramantyo menelepon seseorang melalui pengeras suara.
“Mbok Nah, tolong bangun. Siapkan air hangat, antiseptik, pakaian perempuan, dan bubur.”
Suara perempuan tua menjawab dengan terkejut, “Ada apa, Den Bram?”
“Saya membawa seorang anak. Kakinya terluka.”
Dia melirikku. “Dan dia belum makan.”
Tanganku meremas ujung celana. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku lapar.
Mobil memasuki jalan yang semakin sepi. Rumah-rumah di balik pagar tinggi tampak seperti hotel. Ketika gerbang besar terbuka, seorang petugas keamanan mengangguk hormat. Kami berhenti di depan rumah bercat putih dengan jendela-jendela tinggi.
Seorang perempuan berkerudung cokelat menunggu di teras.
“Ya Allah, Den.” Dia segera mendekat ketika aku turun. “Neng, pelan-pelan. Pegang Mbok.”
Aku mundur refleks saat tangannya terulur.
Perempuan itu langsung berhenti. “Nggih, tidak apa-apa. Mbok tidak akan memaksa. Namamu siapa?”
“Sekar.”
“Non Sekar mau berjalan sendiri atau dibantu?”
Tidak ada orang yang pernah menanyakan itu kepadaku.
“Dibantu boleh?”
“Tentu boleh, Non.”
Mbok Nah menyelipkan lengannya di bawah sikuku. Sentuhannya ringan, cukup untuk menahan berat tubuhku tanpa mencengkeram.
Di kamar mandi tamu, dia membasuh kakiku dengan air hangat. Perihnya membuat gigiku bergemeletuk. Mbok Nah tidak bertanya mengapa ada memar lama di punggung dan lenganku. Dia hanya menarik napas panjang, lalu mengoleskan antiseptik dengan tangan yang hati-hati.
“Kalau sakit, bilang.”
“Aku tahan.”
“Di rumah ini tidak perlu tahan semuanya sendirian.”
Aku menunduk agar dia tidak melihat air mataku.
Setelah berganti piyama longgar milik entah siapa, aku duduk di meja makan. Semangkuk bubur ayam mengepulkan aroma kaldu. Aku mengambil satu sendok kecil, lalu berhenti.
“Makanlah,” kata Bramantyo dari seberang meja.
“Ini untuk aku?”
Mbok Nah mengusap punggungku. “Iya, Non.”
Aku memasukkan bubur ke mulut. Hangatnya turun sampai perut dan membuat rasa sakit di sana semakin terasa. Aku ingin makan cepat, tetapi takut mereka mengira aku rakus.
Bramantyo memalingkan wajah seolah sengaja tidak memperhatikanku. “Mbok Nah, tambah satu mangkuk lagi.”
Aku menghabiskan dua mangkuk.
Baru setelah tanganku tidak terlalu gemetar, Bramantyo bertanya, “Orang tuamu di mana?”
Sendokku berhenti.
“Sudah meninggal.”
“Sejak kapan?”
“Lima tahun lalu. Kecelakaan.” Aku menatap sisa daun bawang di dasar mangkuk. “Setelah itu aku tinggal sama Bu Win. Dia adik Ibu.”
“Dia yang memukulmu?”
Aku mengangguk.
Pertanyaan berikutnya keluar pelan. “Sudah berapa lama?”
Aku menghitung tahun, tetapi semuanya terasa seperti satu malam yang sangat panjang.
“Sejak aku tinggal di sana.”
Mbok Nah menutup mulutnya. Bramantyo tidak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, tetapi tatapannya kepadaku tetap tenang.
“Malam ini dia membawa aku ke Bang Jagur,” lanjutku. “Katanya aku harus balas budi.”
“Tidak.”
Satu kata itu membuatku menatapnya.
“Kamu tidak berutang hidupmu kepada siapa pun.”
POV Bram
Sekar menceritakan lima tahun penyiksaan seperti sedang membacakan daftar belanja. Tidak ada tangisan keras. Tidak ada tuntutan. Anak itu bahkan meminta maaf karena menghabiskan dua mangkuk bubur.
Aku pernah kehilangan ayah dan ibu saat belum cukup dewasa untuk memahami arti kematian. Aku tahu rasanya pulang dan mendapati tak ada lagi tempat untuk menyebut rumah. Namun aku tidak pernah dipaksa membayar kehilangan itu dengan tubuh penuh lebam.
Anak ini, siapa yang tega?
“Sekar.”
Dia menegakkan punggung, bersiap dimarahi.
“Kalau kamu tidak mau kembali ke rumah Bu Win, kamu boleh tinggal di sini.”
Matanya membesar.
“Untuk berapa hari?”
“Selama yang kamu butuhkan.” Aku berhenti sejenak. “Kalau kamu bersedia, saya akan mengurus agar kamu menjadi anak angkat saya. Semuanya melalui prosedur yang benar. Kamu tetap boleh menolak.”
Jarinya mencengkeram ujung piyama.
“Kenapa?”
Sebelum aku menjawab, pintu ruang makan terbuka. Deni masuk dengan napas terburu dan ponsel di tangan.
“Pak Bram, maaf saya datang selarut ini.” Wajahnya tegang. “Ada masalah. Bang Jagur sudah lebih dulu membuat laporan.”
Aku berdiri. “Laporan apa?”
Deni menatap Sekar, lalu menurunkan suaranya.
“Mereka bilang Bapak menculik anak di bawah umur.”
Bab 3
Anak Angkat
Aku tidak tidur sampai azan subuh terdengar dari kejauhan.
Setiap kali memejamkan mata, aku melihat Bang Jagur berdiri di depan pagar. Kadang dia membawa polisi. Kadang Bu Win menunjukku sambil berkata bahwa aku pembohong.
Namun yang datang ke kamarku hanya Mbok Nah.
Dia mengetuk pelan, lalu masuk membawa segelas susu hangat. “Non Sekar belum tidur, ya?”
Aku menggeleng.
“Pak Bram akan ditangkap?”
Mbok Nah meletakkan gelas di meja samping tempat tidur. “Den Bram tidak melakukan kesalahan.”
“Tapi aku ikut mobilnya.”
“Karena Non minta tolong.”
“Kalau polisi percaya Bang Jagur?”
“Karena itu pagi ini kita akan menunjukkan yang sebenarnya.”
Pukul tujuh, Bramantyo sudah menunggu di ruang tengah. Dia masih memakai kemeja semalam, tetapi jas abu-abu tersampir di lengannya. Deni berdiri di samping sofa bersama seorang pria berkacamata yang membawa map tebal.
“Sekar, ini Fikri,” kata Bramantyo. “Dia akan membantu urusan hukumnya.”
Fikri mengangguk kepadaku. “Selamat pagi. Saya perlu menanyakan beberapa hal, tetapi kamu boleh berhenti kapan saja kalau merasa tidak nyaman.”
Aku duduk di tepi kursi. “Polisi mau menangkap Om?”
Kata itu keluar begitu saja. Bramantyo menoleh, lalu ekspresinya melunak sedikit.
“Tidak,” jawab Fikri. “Pihak kepolisian meminta klarifikasi. Kita akan datang membawa bukti.”
Dia membuka map. Di dalamnya ada cetakan foto yang diambil Bramantyo semalam, tangkapan kamera jalan dekat gang, dan salinan dokumen kematian orang tuaku yang entah bagaimana sudah ditemukan Deni.
“Sebelum ke kantor polisi, kita perlu ke rumah sakit,” lanjut Fikri. “Dokter akan memeriksa lukamu dan membuat visum. Tidak ada pemeriksaan yang dilakukan tanpa penjelasan dan persetujuanmu.”
Kata rumah sakit membuat telapak tanganku dingin.
Bramantyo berjongkok di depanku agar pandangan kami sejajar. “Mbok Nah akan ikut. Saya juga tidak akan meninggalkanmu.”
“Kalau aku bilang semuanya, Bu Win masuk penjara?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
“Yang menentukan proses hukumnya adalah polisi dan pengadilan,” kata Fikri akhirnya. “Tugasmu hanya mengatakan yang benar. Apa yang Bu Win lakukan bukan salahmu.”
Aku menatap Bramantyo. “Kalau aku jujur, Om masih mau aku tinggal di sini?”
“Justru karena kamu jujur, saya akan lebih mudah melindungimu.”
Aku mengangguk.
RS Pondok Indah jauh lebih besar daripada puskesmas yang pernah kudatangi. Lantainya mengilap dan udara di dalamnya berbau antiseptik. Seorang dokter perempuan memeriksaku ditemani Mbok Nah. Dia menjelaskan sebelum menyentuh setiap luka, lalu meminta perawat memotret memar dan bekas luka untuk catatan medis.
Aku memalingkan wajah saat lengan bajuku dinaikkan.
“Bekas ini sudah lama?” tanyanya.
“Yang cokelat sekitar setahun. Yang di dekat siku minggu lalu.”
“Penyebabnya?”
“Tangkai sapu.”
Pena dokter berhenti sepersekian detik.
Pemeriksaan darah menunjukkan tubuhku kekurangan zat besi dan mengalami kurang gizi dalam waktu lama. Luka di telapak kaki tidak perlu dijahit, tetapi harus dibersihkan setiap hari. Semua itu dimasukkan ke visum et repertum.
Saat keluar dari ruang pemeriksaan, Bramantyo berdiri dari kursinya. Matanya melihat plester di lenganku, lalu wajahnya menegang.
“Sakit?”
“Sedikit.”
Dia tidak bertanya apa saja yang ditemukan dokter. Dia hanya memberikan sebotol air dan berjalan di sisiku sampai mobil.
Di kantor polisi, aku harus menceritakan semuanya sekali lagi. Tentang uang peninggalan Ibu. Tentang sekolah yang terputus. Tentang pukulan, lapar, dan pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Tentang Bu Win yang menyerahkanku untuk utang judi dua puluh tiga juta.
Seorang polisi perempuan mendampingiku selama pemeriksaan. Fikri duduk di sisi lain meja. Bramantyo menunggu di luar karena keteranganku harus diberikan tanpa diarahkan olehnya.
Ketika pintu akhirnya terbuka, aku langsung mencari wajahnya.
Dia masih ada.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Aku mengangguk dan berdiri di sampingnya. Untuk pertama kali, aku tidak takut orang lain melihat bahwa aku memilih berlindung di dekatnya.
Deni datang membawa kabar menjelang sore. Rekaman kamera sebuah warung memperlihatkan Bu Win menyeretku menuju rumah Bang Jagur. Polisi juga menemukan meja judi, catatan pinjaman, dan beberapa orang lain yang ditahan di lokasi itu.
“Bang Jagur ditahan,” kata Deni. “Laporannya terhadap Bapak tidak terbukti. Penyidik beralih menangani perjudian ilegal dan dugaan eksploitasi anak.”
“Bu Win?” tanyaku.
Deni menunduk sedikit. “Rumahnya kosong. Dia pergi sebelum polisi datang.”
Jantungku jatuh ke perut.
“Berarti dia bisa kembali?”
“Polisi sedang mencarinya,” kata Bramantyo. “Pagar rumah ini dijaga. Kamu tidak akan dibawa siapa pun.”
Dua hari berikutnya dipenuhi tanda tangan, pertanyaan, dan orang-orang dewasa yang berbicara tentang perlindungan sementara. Aku tidak memahami semua istilah itu. Yang kupahami hanya satu: aku tidak perlu kembali ke kontrakan.
Fikri menjelaskan bahwa laporan terhadap Bu Win tidak bisa dihapus begitu saja hanya karena dia keluargaku. Polisi mencatat dugaan perdagangan orang dan kekerasan terhadap anak sebagai perkara yang harus tetap diselidiki. Aku sempat ingin meminta mereka berhenti mencarinya. Bukan karena memaafkan, melainkan karena takut dia akan semakin marah jika tertangkap.
“Kalau kamu diam, apa ketakutanmu hilang?” tanya Fikri.
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, biarkan kami yang menghadapi prosesnya.”
Deni juga membawakan sandal putus yang tertinggal di depan rumah Bang Jagur. Benda itu dimasukkan ke kantong bukti bersama rekaman kamera warung. Melihat kawat tipis yang dulu kupasang sendiri, aku baru sadar betapa jauh kakiku sudah membawaku malam itu.
“Sandal ini nanti kembali ke aku?”
“Kalau pemeriksaan selesai dan kamu masih menginginkannya,” jawab Fikri.
Aku tidak yakin ingin memakainya lagi. Namun untuk pertama kalinya, sesuatu yang pernah dibuang bersamaku dianggap cukup penting untuk disimpan sebagai bukti.
Malam ketiga, Bramantyo memanggilku ke ruang tengah. Sebuah kotak kecil terletak di meja.
“Untukmu.”
Aku membukanya perlahan. Di dalamnya ada ponsel baru berwarna putih.
“Aku nggak bisa terima.”
“Kenapa?”
“Mahal.”
“Ini alat komunikasi, bukan hadiah untuk membuatmu berutang.” Dia duduk di sofa seberang. “Nomor saya, Mbok Nah, Deni, dan Fikri sudah disimpan. Kalau ada apa-apa, telepon.”
Aku mengusap layar yang masih bening. Tidak pernah ada barang baru yang sepenuhnya menjadi milikku. Bahkan seragam sekolah dulu dipakai bergantian dengan sepupu.
“Kalau aku menelepon malam-malam?”
“Saya angkat.”
“Kalau Om sedang kerja?”
“Saya tetap angkat.”
“Kalau aku cuma takut?”
Bramantyo menatapku tanpa tertawa.
“Selama ada Om, kamu aman.”
Sesuatu yang selama ini menekan dadaku perlahan melonggar. Aku menggenggam ponsel itu dengan kedua tangan.
“Tentang pertanyaan Om kemarin...”
Dia menunggu.
“Aku mau tinggal di sini.” Suaraku bergetar. “Kalau Om masih mau menjadikan aku anak angkat.”
Mbok Nah yang berdiri di dekat pintu menyeka matanya dengan ujung kerudung.
Bramantyo mengangguk pelan. “Baik. Kita urus semuanya dengan benar.”
Malam itu aku meletakkan ponsel baru di bawah bantal. Untuk pertama kalinya sejak tinggal bersama Bu Win, aku tidur tanpa memimpikan pintu dikunci dari luar atau tangkai sapu yang menghantam lantai.
Keesokan paginya, Fikri datang membawa map baru. Dia tidak ikut tersenyum ketika melihatku duduk bersama Bramantyo dan Mbok Nah.
“Ada satu hal yang harus Sekar pahami,” katanya. “Penetapan pengadilan untuk pengangkatan anak bisa memerlukan waktu berbulan-bulan. Sampai proses itu selesai, status Sekar masih penempatan perlindungan sementara.”
Tanganku mengencang di sekitar ponsel.
“Jadi aku masih bisa diambil dari sini?”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!