Bab 1
Longgarkan, Kau Menjepit Tanganku
Pecahan kaca yang masih menancap di paha Amaya bergerak setiap kali ia melangkah.
Hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun. Gaun putih tipisnya melekat pada kulit, nyaris tembus pandang di bawah lampu UGD RS Amerta. Air menetes dari ujung rambutnya. Darah yang merembes di paha bagian dalam sudah bercampur air hujan, membentuk garis merah muda sampai ke lutut.
Amaya mencengkeram meja pendaftaran agar tidak jatuh.
"Saya mau Dokter Sebastian."
Perawat jaga menatap luka di kakinya, lalu wajahnya yang pucat. "Mbak, kami tangani dulu di triase. Dokter bedah yang berjaga akan dipanggil."
"Hubungi Dokter Sebastian." Napas Amaya bergetar, tetapi suaranya tetap lembut. "Bilang Amaya Halim ada di UGD."
Nama Halim membuat tangan perawat berhenti di atas papan ketik.
Lima menit kemudian, sebuah kursi roda datang. Amaya dibawa melewati pintu otomatis dan lorong yang berbau antiseptik. Suara roda beradu dengan lantai mengilap, bersaing dengan gemuruh hujan di balik dinding kaca.
Ia menunduk, melihat noda merah yang makin lebar di gaunnya.
Sakitnya nyata. Pendarahannya juga nyata.
Namun memilih rumah sakit ini, pada malam ketika Sebastian sedang bertugas, sama sekali bukan kebetulan.
Pintu ruang tindakan terbuka.
Pria berkacamata bingkai emas masuk sambil mengenakan sarung tangan. Masker medis menutupi sebagian besar wajahnya. Jas dokternya putih tanpa satu lipatan pun, seolah badai dan kekacauan di UGD tidak punya izin menyentuhnya.
Tatapan mata berwarna terang itu jatuh pada gaun basah Amaya, lalu berhenti di darah pada pahanya.
"Keluar," katanya kepada perawat.
Perawat itu ragu. "Dok, pasien belum selesai didata."
"Saya yang isi. Siapkan anestesi lokal dan set jahit."
Tidak keras. Tidak perlu.
Perawat segera bergerak. Setelah pintu tertutup, Sebastian menarik tirai pembatas sampai rapat dan berdiri di samping ranjang tindakan.
"Naikkan gaunnya sampai lukanya terlihat."
Amaya mengangkat wajah. "Koh sendiri yang periksa?"
"Di sini saya dokter."
"Baik, Dokter Sebastian."
Ujung bibirnya seperti ingin tersenyum. Sebastian melihatnya, lalu memilih memusatkan perhatian pada lukanya.
Ia membantu memotong bagian kain yang menempel pada darah kering. Luka itu memanjang di paha bagian dalam, cukup dalam di satu sisi. Beberapa serpihan kecil menempel pada kulit, sementara satu pecahan lebih besar masih tertancap miring.
Rahang Sebastian mengeras.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Tadi ada makan malam keluarga di Pondok Indah." Amaya mencengkeram seprai saat cairan pembersih menyentuh kulitnya. "Ci Selena tiba-tiba sesak napas karena alergi kacang. Semua orang panik. Ada yang mendorongku, aku jatuh ke meja kaca yang pecah."
"Siapa yang mendorongmu?"
"Nggak tahu. Ramai sekali."
"Lalu keluargamu?"
Amaya menatap lampu putih di atas kepala. Bulu matanya basah, entah oleh hujan atau air mata yang tidak sempat jatuh.
"Mereka membawa Ci Selena ke rumah sakit."
"Dan meninggalkanmu dalam keadaan begini?"
"Koh Nathan bilang kondisi Ci Selena lebih gawat. Katanya dia akan menghubungi Koh setelah sampai." Amaya menelan ludah. "Aku cari taksi sendiri. Sopirnya malah memutar lewat jalan yang macet. Mungkin dia kira aku terlalu kesakitan untuk memperhatikan rute."
Tangan Sebastian berhenti sepersekian detik.
Nathan selalu pandai terlihat baik. Cukup baik untuk membuat orang sulit membencinya, tidak pernah cukup baik untuk memilih Amaya ketika Selena membutuhkan perhatian.
"Kamu seharusnya masuk UGD terdekat."
"Aku maunya Koh."
Jawaban itu terlalu cepat.
Sebastian mengangkat mata. Amaya sedang menatapnya dengan wajah pucat dan mata bulat yang tampak terlalu bersih untuk kalimat semacam itu.
Calon istri Nathan.
Tiga kata itu sudah ia pakai seperti garis merah sejak pertama kali melihat Amaya di sebuah jamuan keluarga. Perempuan itu berdiri di bawah lampu gantung dengan gaun warna persik dan senyum patuh. Semua orang menyebutnya anak manis.
Sebastian justru sempat membayangkan betapa mudahnya senyum itu berubah jika ia menahannya terlalu dekat dan membuatnya menangis.
Pikiran tersebut membuatnya menjaga jarak berbulan-bulan.
Malam ini, perempuan yang sama datang dalam keadaan basah kuyup, terluka, lalu meminta tangannya secara khusus.
"Berbaring yang benar," ucapnya datar. "Saya akan memberi anestesi."
Amaya menurut. Jarum menembus kulit di sekitar luka. Ia hanya mengerutkan hidung, tidak mengeluh. Sebastian membersihkan serpihan kecil satu per satu, membilas luka, lalu memeriksa kedalamannya.
Di balik wajah lemah itu, Amaya menghitung.
Cara pria itu bekerja tenang. Tangannya stabil. Tatapannya tidak berkeliaran meski posisi lukanya bisa membuat laki-laki lain salah tingkah. Bahkan ketika ujung gaun basah bergeser lebih tinggi, Sebastian hanya menarik kain penutup dan menaruhnya dengan rapi di atas pinggulnya.
Nilai profesionalisme: sempurna.
Nilai wajah masih tertutup masker.
Nilai reaksi terhadapnya belum selesai diuji.
"Pecahan besarnya harus dicabut sekarang," kata Sebastian. "Anestesinya sudah bekerja, tapi kamu mungkin masih merasakan tekanan. Jangan bergerak."
Amaya mengangguk.
Pinset bedah menjepit ujung kaca. Tangan Sebastian yang lain menahan sisi dalam pahanya agar jaringan tidak ikut tertarik.
Ia mencabutnya dalam satu gerakan terukur.
Rasa tajam meledak menembus kebas.
"Sakit!"
Kedua paha Amaya refleks merapat.
Tangan Sebastian terjepit di antaranya.
Udara di ruang tindakan mendadak terasa terlalu tipis.
Sebastian tidak bergerak. Sarung tangannya masih basah oleh cairan antiseptik dan setitik darah. Di balik masker, napasnya tertahan. Tekanan hangat dari paha Amaya menembus lapisan kain dan lateks, menjalar ke tempat yang tidak punya urusan dengan prosedur medis.
Amaya menatapnya, seolah baru menyadari apa yang terjadi. Namun ia tidak segera membuka kaki.
"Koh?"
Suara Sebastian turun satu tingkat.
"Longgarkan. Kau menjepit tanganku."
"Oh." Amaya merenggangkan paha perlahan. "Maaf, refleks."
Kebohongan kecil.
Mungkin hanya separuh kebohongan, tetapi Sebastian menangkap kilatan puas di matanya.
Gila.
Ia menarik tangannya, mengganti sarung tangan, lalu menjahit luka dengan ketelitian yang sedikit terlalu kaku. Amaya memperhatikan urat di punggung tangannya, garis rahangnya di atas masker, juga cara pria itu tidak lagi menatap matanya.
"Sudah." Sebastian menutup jahitan dengan kasa steril dan perban tahan geser. "Lukanya jangan kena air. Tiga hari lagi ganti perban. Tujuh hari lagi kontrol untuk lepas jahitan kalau penyembuhannya baik."
"Akan berbekas?"
"Mungkin ada garis tipis. Pakai gel silikon setelah lukanya menutup."
Amaya mengusap tepi perban. "Kalau nanti ada orang yang mau lihat, bagaimana?"
Sebastian menatapnya tajam. "Orang mana yang perlu melihat paha bagian dalammu?"
"Belum tahu." Mata Amaya melengkung. "Makanya aku tanya dokternya dulu."
Sebastian membuang sarung tangan ke tempat sampah medis. Ia seharusnya pergi, memanggil perawat, dan menyelesaikan malam ini sebagai satu prosedur biasa.
Sebaliknya, ia berdiri di sana dan melepas masker.
Amaya akhirnya melihat wajahnya secara utuh.
Hidung tegas. Bibir tipis. Kulit bersih dan tatapan dingin di balik kacamata emas. Wajah seorang pria yang tidak perlu bersikap ramah agar orang lain menurut.
Jauh lebih berbahaya daripada yang ia harapkan.
Juga jauh lebih layak.
Sebastian menangkap perubahan kecil dalam sorot matanya. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Amaya tersenyum manis. "Baru tahu dokterku ternyata tampan."
"Tengah malam, basah kuyup, terluka, lalu berbaring di ranjang tindakan seorang laki-laki." Sebastian menumpukan satu tangan di sisi tubuhnya. Jarak mereka menyusut. "Kamu tahu artinya?"
Amaya mencium aroma sabun bersih bercampur antiseptik dari kerahnya. Tidak ada parfum. Tidak ada kehangatan palsu.
"Tahu, Koh."
Langkah kaki terdengar di luar.
"Koh?" Suara Nathan menembus pintu. "Papa Robert menyuruhku mencari Koh. Selena sudah dipindahkan ke kamar VIP."
Tangan Sebastian langsung terangkat dari ranjang.
Gagang pintu bergerak.
Amaya mengaitkan kedua lengannya ke leher Sebastian dan menariknya turun. Ia berhenti hanya sejengkal dari wajah pria itu, cukup lama untuk memberinya kesempatan menjauh.
Sebastian tidak melakukannya.
Pintu terbuka selebar dua jari.
Bibir Amaya menempel pada bibirnya.
Bab 2
Di Luar Tirai Adik, di Dalam Tirai Terlarang
Bibir Amaya masih menempel pada bibir Sebastian ketika pintu terbuka sedikit lebih lebar.
Sebastian mengangkat tangan untuk mendorong bahunya. Amaya sudah menduga gerakan itu. Ia menyelipkan ujung lidah ke celah bibir pria tersebut, sebuah sentuhan singkat yang membuat tangan Sebastian berhenti di udara.
Langkah Nathan terdengar mendekat.
"Koh?"
Sebastian meraih tirai dengan satu tangan dan menariknya sampai tertutup rapat.
"Tunggu di luar," katanya, suaranya tetap datar meski napasnya tidak. "Tidak sopan menonton tindakan pasien."
Langkah di balik tirai berhenti.
"Aku cuma mau bilang Papa Robert mencari Koh."
"Sudah dengar. Tunggu."
Amaya tersenyum di depan mulut Sebastian. Ia sudah mendapatkan jawabannya. Pria ini punya reaksi, punya keinginan, dan garis moralnya ternyata bisa digeser.
Ia hendak melepaskan pelukan.
Terlambat.
Telapak tangan Sebastian menutup di pinggangnya. Dalam satu tarikan, tubuh Amaya terangkat dari ranjang tindakan dan menempel pada dada pria itu. Gaun basah yang sudah dipotong di bagian paha bergesekan dengan kemeja putihnya.
"Kamu pikir bisa mulai lalu berhenti sesukamu?" bisik Sebastian.
Sebelum Amaya menjawab, bibir pria itu kembali turun.
Kali ini tidak ada keraguan.
Ciumannya menuntut, dalam, dan sama sekali tidak menyerupai dokter dingin yang beberapa menit lalu menjelaskan jadwal penggantian perban. Sebastian menahan tengkuk Amaya, memiringkan wajahnya agar bisa mencium lebih leluasa. Setiap tarikan napas terdengar terlalu keras di ruang sempit itu.
Di luar tirai berdiri Nathan, adiknya.
Di dalam, calon istri Nathan sedang dicium sampai jari-jarinya mencengkeram kerah sang kakak.
Seharusnya Sebastian jijik pada dirinya sendiri.
Yang ia rasakan justru keinginan untuk menarik tirai lebih rapat.
Amaya membiarkannya selama beberapa detik. Cukup lama untuk merasakan bahwa ketenangan pria itu hanya lapisan luar. Cukup lama untuk memastikan investasi yang hendak dipilihnya tidak kosong.
Sebab Amaya Halim yang berdiri di rumah sakit malam ini bukan Amaya yang dikenal keluarga Halim selama delapan tahun terakhir.
Di kehidupan sebelumnya, namanya juga Amaya. Ia putri tunggal sebuah keluarga konglomerat, dibesarkan dengan kasih sayang tanpa syarat selama dua puluh tiga tahun. Papanya tidak pernah membiarkannya pulang sendirian. Mamanya bisa membatalkan rapat hanya karena Amaya demam ringan.
Lalu sebuah kecelakaan merenggut semuanya.
Ketika membuka mata, ia sudah berada dalam tubuh perempuan bernama sama, dengan wajah yang nyaris sama, tetapi hidup yang seperti ditulis oleh seseorang yang membenci tokoh utamanya sendiri.
Ia mengenal dunia ini.
Pernah membacanya dalam sebuah novel siksaan murahan.
Tokoh Amaya yang asli hilang saat berusia lima tahun dan baru ditemukan sepuluh tahun kemudian. Ketika pulang, tempatnya sudah ditempati Selena, anak mendiang bibinya yang diangkat keluarga Halim. Semua orang merasa Selena lebih lembut, lebih peka, dan lebih pantas dilindungi. Sementara anak kandung yang kembali dari kehidupan keras dianggap kaku, iri, dan tidak tahu berterima kasih.
Setiap pertemuan keluarga menjadi pengadilan kecil. Jika Amaya asli diam, para tante berbisik bahwa anak itu tidak punya sopan santun. Jika ia membela diri, grup WhatsApp keluarga ramai menyebutnya sulit menyesuaikan diri. Bahkan kamar masa kecilnya sudah dihias ulang untuk Selena, lalu ia diminta mengalah karena `Ci Selena gampang cemas kalau pindah kamar`.
Sepuluh tahun hilang dari rumah, tetapi justru ia yang diwajibkan memahami semua orang.
Selena mengambil kamar terbaik, perhatian keluarga, kesempatan kerja, lalu perlahan-lahan masa depannya.
Nathan menjadi satu-satunya cahaya bagi Amaya asli. Namun cahaya itu selalu padam setiap Selena meneteskan air mata.
Dalam cerita lama, Nathan berjanji akan menikahi Amaya jika ia bersedia mendonorkan satu ginjal untuk Selena. Setelah pengorbanan itu, janji tidak pernah ditepati. Nama baik Amaya kemudian dirusak lewat sebuah jebakan. Semua orang baru mengetahui kebenaran setelah perempuan malang itu mengakhiri hidupnya.
Sesudah ia tiada, barulah keluarga menangis.
Hadiah-hadiah yang seharusnya diterima saat hidup berubah menjadi persembahan terlambat bagi orang yang tidak bisa lagi merasakannya.
Amaya yang sekarang tidak tertarik mengikuti alur sebodoh itu.
Pada hari pertama bangun di tubuh ini, ia membaca pesan-pesan yang belum dihapus, memeriksa rekening, jadwal keluarga, dan seluruh foto lama. Kesimpulannya sederhana: Amaya asli tidak kalah karena bodoh. Ia kalah karena masih berharap orang-orang yang menyakitinya akan sadar sendiri.
Harapan semacam itu terlalu mahal.
Ia tidak butuh cinta yang datang setelah kematian. Tidak akan menyerahkan organ tubuh, saham, atau masa depannya demi mendapatkan janji seorang laki-laki. Yang menjadi miliknya akan tetap menjadi miliknya.
Kalau dunia ini permainan, ia akan duduk sebagai bandar.
Selena boleh memainkan korban. Nathan boleh terus bimbang. Keluarga Halim boleh memihak siapa saja.
Amaya hanya perlu mengubah posisi setiap bidak.
Termasuk Sebastian.
Dalam novel, Nathan berkali-kali mencoba mendorong Amaya kepada kakaknya sendiri. Ia mengira Sebastian yang dingin akan menolak, lalu Amaya akan kehilangan harga diri dan kembali memohon kepadanya.
Amaya tidak melihat alasan untuk menolak jalur yang sudah disediakan.
Sebastian punya wajah yang membuat perempuan waras sulit berkedip, tangan yang memegang kendali Amerta Medika, dan posisi yang cukup tinggi untuk membuat dua keluarga berpikir dua kali sebelum menyentuhnya. Lebih penting lagi, pria itu bereaksi terhadapnya.
Malam ini semula hanya pemeriksaan kelayakan.
Setelah maskernya dilepas, Amaya memutuskan untuk membeli sahamnya.
Sebastian memutus ciuman hanya untuk mengambil napas. Kacamata emasnya sedikit bergeser. Tatapannya tidak lagi sebening ketika memegang pinset bedah.
Amaya menyentuh sudut bibirnya sendiri. "Koh, sudah cukup. Koh Nathan masih di luar."
Tubuh Sebastian menegang.
Perempuan ini sengaja.
Ia mencium lebih dulu, membakar kendalinya, lalu menyebut nama Nathan seolah sedang mengingatkan siapa pemilik sah posisinya.
"Kamu memang selalu seperti ini?" tanyanya.
"Seperti apa?"
"Menyalakan api, lalu berdiri paling dekat sambil pura-pura kedinginan."
Amaya memiringkan kepala. "Aku benar-benar kedinginan. Gaunku masih basah."
Tatapan Sebastian turun sesaat. Kain penutup yang tadi ia pasang sudah bergeser, memperlihatkan bahu basah dan sebagian paha yang dibalut perban.
Ia segera mundur.
Jarak di antara mereka kembali ada, tetapi udara tidak ikut mendingin.
Sebastian merapikan kacamata, menarik simpul dasinya, lalu membantu Amaya duduk tanpa menyentuh kulit lebih lama dari yang diperlukan.
"Pakai selimut. Saya panggil perawat untuk membawakan baju pasien."
Amaya mengangkat alis. `Saya` sudah kembali. Dokter Sebastian berhasil mengenakan wajah sucinya lagi.
"Koh?" Nathan mengetuk sisi rangka tirai. "Lama sekali. Lukanya separah itu?"
Sebastian menarik napas perlahan. "Lokasi luka pasien sensitif. Butuh privasi."
"Jangan-jangan pasiennya calon adik iparku."
Tangan Nathan muncul di ujung tirai.
Sebelum kain itu ditarik, Amaya meraih sisinya dan membukanya lebih dulu. Ia duduk di ranjang dengan selimut menutupi gaun berdarah. Rambut basah menempel di pipi, sedangkan bibirnya tampak lebih merah daripada beberapa menit lalu.
"Koh Nathan," sapanya lembut. "Ini aku."
Mata Nathan melebar.
"Maya? Kok kamu di sini?"
Bab 3
Alergi yang Terlalu Pas Ditakar
"Maya? Kok kamu di sini?"
Tatapan Nathan berpindah dari selimut di paha Amaya ke baki instrumen yang masih ternoda darah. Lalu matanya berhenti pada Sebastian. Kacamata sang kakak sedikit miring, dasinya tidak lagi serapi biasanya.
"Aku terluka," jawab Amaya.
"Kenapa nggak bilang?"
Amaya menatapnya seolah pertanyaan itu aneh. "Koh sendiri yang bilang urusan Ci Selena lebih penting. Aku nggak mau mengganggu."
Kalimatnya lembut. Justru karena itu, rasa bersalah muncul jelas di wajah Nathan.
"Aku kira kamu cuma jatuh biasa. Waktu Selena sulit bernapas, semua orang panik."
"Aku mengerti, kok." Amaya menarik selimut lebih tinggi. "Ci Selena memang selalu lebih perlu dijaga."
Nathan membuka mulut, tetapi seorang perawat masuk membawa baju pasien dan kantong plastik untuk pakaian basah.
Sebastian mengambil pakaian itu lebih dulu. "Ganti. Setelah itu istirahat di kamar observasi."
"Aku mau lihat Ci Selena."
"Kamu baru dijahit."
"Makanya aku harus lihat." Amaya tersenyum tipis. "Kalau kondisinya benar-benar parah, aku perlu minta maaf karena tadi malah sibuk berdarah."
Nathan mengernyit. Ia tidak yakin sedang disindir atau tidak.
Sebastian jelas tahu.
"Lima menit," katanya sambil menyerahkan baju pasien. "Jangan injak kaki kanan terlalu kuat."
Kedua laki-laki itu keluar dari balik tirai. Amaya mengganti pakaiannya dengan bantuan perawat, lalu menyimpan gaun putih yang rusak ke dalam kantong bening. Noda darah melebar di kain seperti bukti yang tidak bisa diajak berbohong.
Nathan menunggu di koridor. Begitu Amaya muncul dengan kursi roda, ia segera mendekat.
"Aku dorong."
"Aku bisa jalan pelan."
"Jangan keras kepala."
Nada itu sempat membuat sesuatu yang bukan milik Amaya bergerak di dalam dadanya.
Sisa emosi pemilik tubuh ini.
Saat Amaya asli ditemukan dan pulang ke keluarga Halim pada usia lima belas tahun, Nathan beberapa kali berdiri di antara dirinya dan anak-anak sekolah yang mengejek latar belakangnya. Ia pernah meminjamkan jaket ketika seragam Amaya disiram minuman. Pernah pula memaksa seorang anak meminta maaf di depan kelas.
Untuk gadis yang tak memiliki siapa-siapa, kebaikan kecil itu cukup untuk disalahartikan sebagai keselamatan.
Masalahnya, Nathan selalu pergi begitu Selena mengerutkan kening.
Yang menyelamatkan Amaya adalah dia. Yang berkali-kali mendorongnya kembali ke kegelapan juga dia.
Tidak sepenuhnya jahat. Tidak pernah cukup berani untuk menjadi baik.
Amaya duduk di kursi roda tanpa membantah lagi. Ia perlu menyimpan tenaga untuk pertunjukan utama.
Pintu lift terbuka. Sebastian ikut masuk sambil membaca catatan di tablet. Nathan berdiri di belakang kursi roda, kedua tangannya pada pegangan.
"Lukanya di paha, ya?" Nathan bertanya. "Agak ke atas?"
Jari Sebastian berhenti menggulir layar.
"Kalau sebegitu peduli," katanya tanpa mengangkat kepala, "waktu dia berdarah kamu di mana?"
Wajah Nathan menegang. "Aku nggak tahu separah itu."
"Sekarang sudah tahu."
Pintu lift terbuka di lantai VIP sebelum Nathan sempat membalas.
Karpet tebal meredam suara roda. Di ujung lorong, dua petugas keamanan berdiri di depan kamar Selena. Keluarga Halim memang tahu cara menjaga privasi ketika anak kesayangan mereka sedang sakit.
Begitu pintu kamar dibuka, aroma bunga dari rangkaian kiriman memenuhi udara. Selena terbaring di ranjang dengan infus terpasang. Wajahnya pucat, rambutnya tersisir rapi, dan selimutnya dinaikkan sampai dada.
Robert berdiri di dekat jendela sambil menelepon seseorang. Karina duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Selena.
Mereka semua menoleh saat kursi roda Amaya masuk.
Alis Robert langsung bertaut. "Kenapa kamu pakai baju pasien?"
Pertanyaan pertama.
Bukan `kamu terluka di mana`, bukan `seberapa parah`.
Amaya menunduk sejenak, lalu menumpukan tangan pada sandaran kursi untuk berdiri.
"Maya, jangan," Nathan memperingatkan.
Ia tetap bangkit. Satu langkah. Lalu satu lagi, dengan pincang yang tidak perlu dibuat-buat.
"Mama."
Karina baru sempat berdiri ketika Amaya memeluknya.
Tubuh perempuan itu membeku.
Delapan tahun. Sejak kembali ke rumah Halim, Amaya asli tidak pernah lebih dulu memeluk ibunya. Ia terlalu takut ditolak, terlalu canggung, lalu terlalu terluka untuk mencoba.
Kini dua lengan kurus melingkari pinggang Karina. Dahi Amaya menempel di bahunya.
"Aku sakit, Ma."
Tiga kata itu mematahkan kebekuan Karina. Tangannya naik perlahan, menyentuh rambut Amaya yang masih lembap, kemudian memeluknya lebih erat.
Baru saat itu Karina merasakan betapa dingin tubuh putrinya. Ujung rambut Amaya membasahi blusnya. Ada bau hujan dan antiseptik yang menempel pada baju pasien, juga getaran kecil yang tidak bisa dilihat dari jauh.
Karina teringat bagaimana ia tadi berlari mengikuti brankar Selena tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Dalam kepanikan, ia bahkan menyerahkan tas Amaya kepada sopir karena mengira putrinya pasti pulang bersama kendaraan lain.
Ternyata Amaya datang sendirian sambil menahan pecahan kaca di paha.
Rasa bersalah itu belum menjadi penyesalan utuh, tetapi cukup untuk membuat pelukannya mengencang.
"Sakit di mana? Kenapa Mama nggak diberi tahu?"
"Paha Maya kena pecahan kaca. Sudah dijahit Dokter Sebastian."
Karina menjauh sedikit untuk melihat wajahnya. "Dijahit? Berapa jahitan?"
"Cukup banyak," jawab Sebastian. "Ada satu pecahan besar dan beberapa serpihan. Dia juga kehilangan darah, tapi kondisinya stabil."
Robert menutup telepon. Tatapannya jatuh pada kantong gaun berdarah yang dibawa perawat. Wajahnya berubah.
"Kamu ikut jatuh waktu Selena sesak?"
"Iya, Pa. Nggak apa-apa. Yang penting Ci Selena selamat."
Selena mengamati pelukan itu dari ranjang. Jemarinya yang dipasangi infus bergerak di bawah selimut.
"Maya," katanya lemah. "Maaf semua orang panik sampai nggak melihat kamu."
Amaya menoleh dengan mata jernih. "Ci Selena nggak perlu minta maaf. Alerginya parah, kan?"
Sebastian mengambil rekam medis di ujung ranjang. Ia membaca hasil pemeriksaan tanpa meminta izin siapa pun.
"Reaksi alerginya memang ada," katanya.
Nathan meliriknya. "Tadi tenggorokannya bengkak."
"Edema laringnya sudah reda. Saturasi stabil, tekanan darah stabil, dan tidak ada penurunan kesadaran." Sebastian membalik satu halaman. "Pemicu memang kacang. Namun jumlah yang tertelan sangat sedikit."
Selena menelan ludah.
Sebastian melanjutkan, "Seolah ditakar pas supaya cukup memicu gejala, tapi tidak sampai membahayakan nyawa. Terlambat setengah jam pun kemungkinan besar dia masih bisa pulang sendiri setelah terapi awal."
"Koh," tegur Nathan. "Selena benar-benar alergi. Jangan bicara seakan dia pura-pura."
"Saya bilang reaksinya nyata. Saya juga bilang dosis pemicunya sangat kecil. Kebenaran gratis." Sebastian menutup rekam medis. "Nilai emosinya dihitung terpisah."
Wajah Selena yang semula pucat mendapat warna tipis.
Karina perlahan melepaskan tangannya dari sisi ranjang, masih memegang bahu Amaya. Robert memandang gelas jus jeruk di meja, lalu Selena.
Selena membasahi bibir. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku juga nggak tahu kenapa ada kacang," ucapnya lirih. "Jus jeruk itu tadi Maya yang kasih ke aku."
Semua tatapan beralih kepada Amaya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!