Indonesia
NovelToon NovelToon

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Episode 1

BAB 1

DARAH DI MALAM HUJAN

"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"

Setetes darah jatuh dari bulu mata pemuda itu sebelum kapas di tangannya sempat menyentuh luka.

Lani berhenti di anak tangga terakhir.

Hujan memukul kaca-kaca tinggi vila Menteng itu seperti segenggam kerikil. Ruang tamu hanya diterangi lampu di atas meja konsol, cukup terang untuk memperlihatkan darah di pelipis Rey, sudut bibirnya yang pecah, dan memar gelap yang mulai naik ke tulang pipi.

Pemuda itu duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa seolah marmer dingin jauh lebih layak menampungnya daripada rumah milik ayahnya sendiri. Kotak P3K terbuka di depan lutut. Beberapa kapas bernoda merah berserakan di atas karpet putih.

Pemandangan itu seharusnya membuat Lani kembali ke kamar.

Apalagi cara Rey menatapnya. Tajam, penuh jijik, seolah bukan dia yang pulang membawa darah ke rumah ini, melainkan Lani yang tertangkap melakukan kejahatan.

Lani mengeratkan sabuk baju tidur sutranya. Kain warna sampanye itu terlalu tipis untuk udara dingin, tetapi tadi ia hanya berniat turun mengambil air. Mbak yang biasa menginap sudah pulang setelah makan malam. Gunawan tidur di lantai atas. Tak ada seorang pun yang akan membereskan darah Rey jika ia membiarkannya.

"Aku cuma mau ambil minum," kata Lani.

Rey membuang kapas yang sudah merah. "Dapur di sana. Mata lo kenapa malah ke gue?"

"Karena darahmu menetes ke karpet."

"Takut Papa marah karpet mahalnya kotor?"

Nada mengejek itu membuat jemari Lani mengencang di pagar tangga. Belum satu minggu Rey kembali ke Jakarta, tetapi rumah ini sudah terasa seperti ruangan yang kehabisan udara. Gunawan mengatakan putranya berkelahi di luar negeri, membuat masalah dengan kampus, lalu dipulangkan agar bisa diawasi. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang memukulnya malam ini.

Lani berjalan melewatinya menuju dapur.

"Tenang saja," katanya tanpa menoleh. "Aku tidak cukup peduli pada karpet ayahmu."

Pintu kulkas mengembuskan udara dingin ke wajahnya. Saat menuang air, bayangan beberapa menit lalu melintas begitu saja.

Gunawan berbaring membelakanginya dengan napas berat, lalu menarik selimut sampai bahu.

"Mei, matikan lampunya. Besok saya ada rapat pagi."

Tidak ada pertanyaan apakah Lani baik-baik saja. Tidak pernah ada.

Enam bulan tinggal di vila itu mengajarinya bahwa perhatian Gunawan selalu mempunyai bentuk yang bisa dihitung. Tagihan rumah sakit Papa Lie. Utang kedua kokonya. Apartemen yang dijanjikan jika Lani memberinya seorang anak perempuan. Uang tunai yang jumlahnya cukup besar untuk membeli kebebasan, asalkan tubuh Lani berhasil memberi apa yang laki-laki itu inginkan.

Malam ini tubuh Gunawan bahkan tidak mampu menyelesaikan keinginannya sendiri.

Lani menenggak air. Dingin menjalar sampai ke dada, tetapi rasa sesak itu tidak ikut turun.

Dari ruang tamu terdengar desis tertahan.

Ia memejamkan mata sebentar. Abaikan. Naik ke kamar. Tidur.

Desis kedua terdengar, diikuti bunyi botol antiseptik jatuh.

Lani meletakkan gelas lebih keras daripada yang ia maksudkan.

Rey sedang mencoba membersihkan luka di dekat matanya ketika ia kembali. Tangannya gemetar tipis. Bukan takut, mungkin karena menahan sakit atau amarah. Cairan antiseptik mengalir ke pipi bersama darah.

"Berikan," ujar Lani.

Rey mendongak. "Apa?"

"Kapasnya. Kalau caramu begini, antiseptiknya masuk mata."

"Bukan urusan lo."

"Benar. Tapi kalau matamu rusak, papamu akan membuat semua orang di rumah ini ikut repot."

Lani berjongkok sebelum ia sempat berubah pikiran. Aroma hujan melekat pada jaket hitam Rey, bercampur logam darah dan alkohol yang samar. Ada sobekan di buku-buku jarinya. Luka itu bukan luka seseorang yang hanya dipukul. Rey pasti memukul balik, mungkin lebih keras.

Ia mengambil kapas baru, menuangkan antiseptik secukupnya, lalu mengangkat tangan.

Rey menangkap pergelangan tangannya.

Gerakannya begitu cepat hingga cairan dari kapas memercik ke karpet.

"Gue bilang jangan sentuh gue."

Cengkeramannya membuat tulang pergelangan Lani berdenyut. Dari jarak sedekat ini, Rey tampak lebih muda dan lebih berantakan. Usianya baru dua puluh tahun, tetapi sorot matanya seperti orang yang sudah lama tidur dengan pisau di bawah bantal.

Ada luka yang lebih buruk daripada yang terlihat di wajahnya. Lani mengenali cara seseorang menyembunyikannya dengan kemarahan.

Ia juga mengenali bahaya.

"Lepaskan."

Rey justru menarik tangannya lebih dekat. Pandangannya turun ke kerah baju tidur Lani, lalu kembali ke wajahnya. Kebencian di sana menebal.

"Pakai begini turun tengah malam," katanya. "Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"

Kalimat itu mengenai tempat yang sejak tadi berusaha Lani matikan.

Ia tidak malu pada pilihan yang dibuatnya. Saat rumah sakit meminta uang muka untuk operasi Papa, orang-orang yang paling lantang bicara soal harga diri tidak satu pun datang membawa bantuan. Gunawan datang. Gunawan membayar. Lani tahu persis harga yang kemudian diminta laki-laki itu.

Namun mengetahui harga dirinya sendiri berbeda dengan membiarkan seorang anak manja meludahinya.

"Lepaskan tanganku, Rey."

"Takut ketahuan?"

"Oleh siapa? Papamu sedang tidur."

Senyum Rey miring, dingin. "Justru itu. Dia tidur di atas, simpanannya sibuk jongkok di depan anaknya. Pemandangan bagus."

Lani menarik tangannya sekali. Rey tidak melepas.

"Kamu baru pulang dan tidak tahu apa-apa tentang aku."

"Gue tahu cukup banyak." Jempol Rey menekan nadinya. "Lo tidur sama Papa demi uang. Sekarang lo berkeliaran di rumah ini seolah pemiliknya. Perempuan kayak lo selalu tahu cara cari kesempatan."

Hujan bergemuruh di balik kaca. Lani mendengar napasnya sendiri, pelan tetapi berat. Ia bisa berteriak. Gunawan mungkin akan turun. Rey akan dimarahi, mungkin diusir lagi, dan Lani harus menjelaskan mengapa ia berjongkok di depan pemuda setengah telanjang dengan kapas di tangan.

Rumah itu akan tetap milik Gunawan. Rey akan tetap putranya.

Lani tetap orang yang bisa diganti kapan saja.

Ia menurunkan pandangan ke tangan Rey yang mencengkeramnya.

"Aku ingin menolong karena wajahmu penuh darah," katanya. "Bukan karena aku tertarik."

Rey tertawa pendek. "Yakin?"

"Sangat yakin."

"Jangan sok suci."

Kesabaran Lani putus tanpa bunyi.

Ia mengangkat wajah dan menatap tepat ke mata Rey. "Kamu belum pantas kulirik. Bulu saja mungkin belum tumbuh semua."

Cengkeraman itu mengendur.

Hanya setengah detik, tetapi cukup untuk membuat Lani mengira ia menang.

Lalu kotak P3K tersapu oleh lutut Rey.

Botol antiseptik menggelinding di marmer. Gunting kecil berdenting. Rey berdiri dan menarik Lani bersamanya sampai telapak kakinya kehilangan pijakan. Punggungnya menghantam sofa. Udara terlempar dari paru-parunya.

Sebelum sempat bangkit, tubuh tinggi Rey sudah menutup jalan.

"Ulangi," katanya.

Lani mendorong dadanya. Di balik kaus hitam yang basah, otot pemuda itu mengeras seperti dinding. "Minggir."

"Ulangi apa yang lo bilang."

"Kamu mendengarnya."

Rahang Rey bergerak. Setetes darah baru keluar dari luka di pelipis, meluncur ke ujung bulu mata, lalu jatuh di sisi leher Lani. Hangat. Bau besi memenuhi napasnya.

"Umur gue dua puluh," bisik Rey. "Jangan panggil gue anak kecil."

"Kalau tidak mau dianggap anak kecil, jangan bertingkah seperti anak kecil."

Mata Rey menggelap.

Tangannya meraih dagu Lani. Jari-jarinya menekan sampai bibir Lani terbuka oleh rasa sakit. Tangan yang lain menahan pergelangan Lani di atas bantalan sofa.

"Satu foto," ucapnya. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh hujan. "Cuma perlu satu foto lo sama gue dalam posisi begini."

Lani berhenti meronta.

"Satpam depan bakal lihat. Mbak yang kerja di sini bakal dengar. Besok ibu-ibu satu jalan ini punya bahan baru buat grup WhatsApp mereka." Rey mendekat sampai napasnya menyentuh pipi Lani. "Lusa, orang-orang di bisnis Papa juga tahu. Simpanan Gunawan Tio menggoda anak majikannya sendiri."

Dada Lani naik turun. "Kamu tidak akan melakukan itu."

"Lo bahkan nggak kenal gue."

"Aku kenal papamu. Dia akan menghancurkanmu kalau kamu mempermalukan nama keluarga."

Alih-alih mundur, Rey tersenyum. Tidak ada kehangatan sedikit pun di sana.

"Papa mungkin marah sama gue. Tapi lo?" Tatapannya menyapu baju tidur sutra Lani yang tersingkap di lutut. "Lo bakal pergi ke mana setelah semua orang percaya lo menggoda gue? Balik ke keluarga yang utangnya dibayar Papa? Ketemu mantan yang mamanya pernah mengusir lo?"

Darah di wajah Lani seperti berhenti mengalir.

Rey tahu tentang Leo. Tentang Tante Lanny. Entah dari siapa, tetapi ia sengaja memilih luka yang paling dalam.

"Tutup mulutmu," desis Lani.

"Kenapa? Sakit?"

"Aku bilang, tutup mulutmu."

Suara Lani naik satu tingkat. Dari lantai atas terdengar bunyi ranjang berderit.

Keduanya membeku.

Kemudian suara berat Gunawan terdengar samar dari arah kamar.

"Mei?"

Lani membuka mulut, tetapi telapak Rey menutupnya lebih dulu.

Panik menyambar seluruh tubuhnya. Ia menggeliat, menendang sisi sofa, berusaha menggigit telapak itu. Rey menahan lebih kuat. Lututnya menekan bantalan di antara kedua kaki Lani tanpa menyentuh lebih jauh, tetapi cukup untuk mengurungnya.

"Diam," bisiknya di dekat telinga Lani. "Kalau Papa turun dan lihat kita, gue nggak perlu ambil foto. Lo bakal keluar dari rumah ini malam ini juga."

Langkah terdengar di lantai atas.

Lani mencengkeram lengan Rey. Kukunya menembus kulit, tetapi pemuda itu hanya menatapnya, menantang, seolah menunggu ia pecah lebih dulu.

Lalu Lani merasakan sesuatu yang ganjil.

Di antara ancaman Rey, tubuh yang menindihnya, dan baju tidur yang sengaja dipermalukan oleh tatapannya, tidak ada satu pun tanda bahwa pemuda itu benar-benar menginginkannya.

Semua ini hanya amarah. Panggung murahan untuk menutupi luka dan harga diri yang retak.

Pandangan Lani turun sepersekian detik.

Saat menatap Rey kembali, rasa takutnya belum hilang. Namun di balik telapak tangan yang membungkam mulutnya, bahunya mulai bergetar.

Ia tertawa.

Episode 2

BAB 2

BARA PENGKHIANATAN

Tawa itu bergetar di telapak tangan Rey.

Pemuda itu tidak langsung memahami. Alisnya mengerut, lalu mengikuti arah pandangan Lani yang baru saja naik dari bagian bawah tubuhnya.

Wajahnya berubah.

"Lo ngetawain gue?"

Lani tidak bisa menjawab karena mulutnya masih dibungkam. Namun matanya sudah mengatakannya dengan sangat jelas.

Semua ancaman itu. Semua gaya sok berbahaya itu. Tubuh Rey sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan kepadanya.

Yang ada hanya kemarahan seorang pemuda terluka yang putus asa ingin membuat orang lain ikut berdarah.

Jari Rey berpindah dari dagu ke leher Lani. Tekanannya tidak cukup untuk menghentikan napas, tetapi cukup keras untuk menghapus sisa tawanya.

"Gue bisa bikin lo berhenti ketawa."

Langkah kaki di lantai atas semakin dekat.

Lani menghentakkan lutut ke sisi paha Rey. Saat tubuh tinggi itu goyah, ia mendorong sekuat tenaga, menyelinap dari bawah lengannya, lalu berlari ke kamar mandi tamu di ujung lorong.

Pintu hampir tertutup ketika telapak Rey menahannya.

"Keluar."

"Pergi!"

Lani mendorong daun pintu dengan bahu. Rey melawan dari luar. Celah di antara mereka mengecil dan melebar, memperlihatkan satu mata pemuda itu yang masih dikelilingi darah kering.

Lampu ruang tamu menyala lebih terang.

"Lani?" Suara Gunawan terdengar dari dekat tangga. "Rey?"

Rey berhenti mendorong.

Lani memanfaatkan jeda itu untuk menarik pintu, tetapi ujung sepatu Rey sudah terselip di ambang. Pemuda itu mengangkat telunjuk ke bibir. Tatapannya menjanjikan sesuatu yang lebih buruk jika Lani bersuara.

"Kenapa kotak obat berantakan begini?" tanya Gunawan.

Bayangan laki-laki itu melintas di lantai marmer. Hanya beberapa langkah lagi sebelum ia melihat mereka.

"Aku di kamar mandi, Ko," jawab Lani. Suaranya pecah. Ia berdeham cepat. "Gelas airku jatuh. Rey membantu membereskannya."

Hening sesaat.

"Kamu sakit?"

"Cuma kedinginan. Ko Gunawan tidur saja. Besok rapat pagi, kan?"

Gunawan menghela napas. "Jangan lama-lama di bawah. Rey, setelah selesai, temui Papa."

"Besok aja," sahut Rey datar.

"Papa bilang setelah selesai."

Langkah itu akhirnya menjauh, menaiki tangga satu per satu. Lani menunggu sampai suara pintu kamar tertutup di atas. Baru kemudian ia membuka pintu dan menghantamkan telapak tangannya ke pipi Rey.

Plak!

Kepala Rey terlempar ke samping.

Bekas merah segera muncul di kulit yang belum memar. Darah di sudut bibirnya pecah lagi.

"Itu untuk tanganmu di leherku," kata Lani. Napasnya masih tersengal. "Kalau kamu menyentuhku lagi, aku akan bilang semuanya kepada papamu."

Rey menjilat darah di bibirnya. "Tadi kesempatan lo. Kenapa bohong?"

Pertanyaan itu membuat Lani terdiam.

Karena Gunawan pernah menyelamatkan keluarganya. Karena rumah ini adalah rumah seorang ayah dan putranya, sedangkan ia hanya sebuah kesepakatan yang bisa berakhir kapan saja. Karena jika semuanya meledak malam ini, orang pertama yang tetap akan ditanya kesalahannya adalah dirinya.

Namun Rey membaca diamnya sebagai kelemahan.

"Lo nggak akan bilang," gumamnya.

Lani berbalik. "Jangan terlalu yakin."

Baru dua langkah, lengannya ditarik. Dunia berputar. Rey mengangkat tubuhnya ke bahu seolah berat Lani tidak berarti apa-apa.

"Turunkan aku!"

Tinju Lani menghantam punggungnya. Rey terus berjalan menuju kamar di lantai satu yang sejak kepulangannya dipakai sebagai kamar tidur. Ia menendang pintu hingga terbuka, membawa Lani masuk, lalu memutar kunci.

"Rey!"

Ia menjatuhkan Lani ke tepi tempat tidur. Tidak cukup keras untuk melukai, tetapi cukup membuat baju tidur sutranya tersingkap di paha.

Lani buru-buru menarik kain itu. "Apa sebenarnya masalahmu?"

"Perempuan kayak lo."

"Bukan." Lani berdiri, meski lututnya gemetar. "Kamu bahkan baru mengenalku. Jadi, siapa yang sebenarnya membuatmu marah malam ini?"

Tatapan Rey membeku.

Ponsel di atas meja bergetar.

Sekali. Dua kali. Lalu berulang tanpa jeda.

Nama Lynn memenuhi layar bersama deretan notifikasi WhatsApp.

Rey meraihnya dan membalik ponsel itu. Terlambat. Lani sudah melihat satu pesan yang muncul paling atas.

`Rey, please jawab. Kamu suka aku, kan?`

"Keluar," kata Rey.

"Buka pintunya."

"Gue bilang keluar dari urusan gue."

Ia menyambar gelas di meja dan melemparkannya ke dinding. Pecahannya jatuh di lantai seperti hujan kecil.

Beberapa jam sebelumnya, gelas lain juga pecah di depan Rey.

Di sebuah bar kawasan Senopati, Lynn sedang tertawa dengan wajah dekat ke bahu Ivan. Terlalu dekat. Tangan sahabat yang sejak sekolah selalu berdiri di sisi Rey itu berada di pinggang Lynn, tersembunyi dari meja lain tetapi tidak dari pintu tempat Rey berdiri.

Lynn melihatnya lebih dulu.

Senyumnya lenyap.

"Rey..."

Ivan segera bangkit. "Gue bisa jelasin."

Rey tidak ingat siapa yang memukul lebih dulu. Ia hanya ingat kerah Ivan di tangannya, suara kursi jatuh, dan Lynn berteriak agar mereka berhenti. Ia ingat tinju sahabatnya menghantam pelipis. Ia ingat membalas sampai petugas keamanan menyeret mereka ke arah berbeda.

"Kami nggak pernah resmi pacaran," teriak Lynn sambil menangis. "Kamu sendiri nggak pernah bilang suka sama aku!"

Enam tahun. Rey mengenal Lynn sejak usia enam tahun. Gunawan pernah menertawakan mereka dan berkata suatu hari keluarga Tio dan Tan mungkin benar-benar menjadi besan. Tidak ada cincin, tidak ada lamaran, tidak pernah ada pertunangan. Hanya sebuah kalimat orang dewasa yang oleh Rey disimpan terlalu serius.

Setelah mamanya pergi dan rumah mereka pecah, Lynn serta Ivan adalah dua orang yang tidak pernah ia ragukan.

Malam ini keduanya mengajarkan bahwa kebodohan Rey bukan memercayai janji. Kebodohannya adalah memercayai manusia.

Getaran ponsel membawa Rey kembali ke kamar.

Lani berdiri di dekat pintu, satu tangan memegang kerah baju tidurnya. Tatapannya tidak lagi hanya marah. Ada belas kasihan di sana.

Rey membencinya.

"Jangan menatapku seperti itu," ujar Lani pelan.

"Seperti apa?"

"Seolah aku musuhmu. Aku bukan perempuan di ponsel itu."

"Semua perempuan sama."

"Kalau begitu, kamu belum cukup dewasa untuk mengenal perempuan."

Rey melangkah maju. Lani mundur sampai punggungnya menyentuh pintu.

"Jangan," katanya.

"Tadi lo berani ketawa."

"Dan aku masih bisa melakukannya."

"Coba."

Rey menahan kedua tangan Lani di sisi tubuhnya. Wajahnya mendekat. Lani memalingkan kepala, tetapi jari Rey mencengkeram dagunya dan memaksanya kembali.

Bibir mereka bertemu dalam benturan kasar.

Tidak ada kelembutan. Tidak ada rayuan. Hanya rasa darah dari luka Rey, napas yang kacau, dan kemarahan yang ia paksa masuk ke ruang paling pribadi milik orang lain.

Lani menggigit bibirnya.

Rey tersentak mundur. Darah segar muncul lagi.

"Aku bilang jangan." Suara Lani bergetar, tetapi matanya tidak lari. "Kamu dikhianati mereka, lalu kamu ingin menjadi lebih buruk daripada mereka?"

Untuk satu detik, cengkeraman Rey melemah.

Lani mendorongnya. "Buka pintu."

Ponsel kembali bergetar.

`Aku salah.`

`Tapi kamu nggak pernah memilih aku.`

`Rey, please.`

Mata Rey tertuju pada pesan-pesan itu. Sesuatu yang kosong membuka diri di wajahnya. Kemudian ia memandang Lani dan keputusan buruk terbentuk begitu saja.

"Dia mau tahu apa gue suka sama dia," katanya.

"Itu bukan urusanku."

"Sekarang jadi urusan lo."

Rey meraih ponsel. Lani mencoba menjauh, tetapi pemuda itu menarik sabuk baju tidurnya. Simpulnya lepas. Kain sutra bergeser dari satu bahu.

"Rey, hentikan!"

Ia menahan Lani menghadap pintu. Tangan Lani mencengkeram kain di depan dada, sementara punggung dan bahunya terbuka dalam cahaya lampu. Tidak ada wajah di bingkai kamera. Hanya kulit pucat, tali tipis yang jatuh, dan tangan Rey di sisi pinggangnya.

Kilatan putih menyambar.

Lani membalikkan tubuh dan merampas ponsel, tetapi Rey mengangkatnya tinggi.

"Hapus."

"Kenapa? Wajah lo nggak kelihatan."

"Hapus sekarang!"

"Kalau lo bicara soal malam ini ke Papa, foto ini bakal lebih dulu bicara."

"Kamu sakit."

"Mungkin."

Rey membuka Instagram. Jempolnya bergerak cepat ke akun Lynn, memilih foto itu, lalu mengetik satu kalimat.

`Aku juga udah punya.`

Lani menerjang. Terlambat.

Tulisan `Terkirim` muncul di bawah foto.

"Kamu nggak tahu apa yang baru saja kamu lakukan." Mata Lani panas, tetapi ia menolak menangis di depan pemuda itu. "Kalau foto itu tersebar, aku akan lapor. Kepada papamu, kepada polisi, kepada siapa pun yang perlu tahu."

Rey menatap layar tanpa ekspresi. "Silakan."

"Buka pintunya."

Ia tidak bergerak.

Lani memukul dadanya sekali. "Buka!"

Amarah di wajah Rey sudah padam. Yang tersisa jauh lebih mengganggu, kehampaan seorang anak yang baru membakar rumah hanya agar tidak sendirian dalam gelap.

Ia akhirnya memutar kunci.

Lani merapatkan baju tidurnya dan keluar tanpa menoleh. Di lorong, kakinya hampir kehilangan tenaga. Ia menahan dinding sampai bisa bernapas lagi, lalu berjalan cepat menuju kamar di lantai atas.

Ia tidak tidur. Sebelum azan Subuh terdengar samar dari kejauhan, sebuah tas kecil sudah terisi pakaian, dompet, dan dua kartu bank miliknya.

***

Pukul tujuh pagi, kursi Lani di meja makan kosong.

Rey duduk dengan kacamata hitam menutupi mata lebam. Gunawan berdiri di dekat jendela sambil menelepon.

"Rumah sakit mana?" tanyanya.

Suara Lani terdengar kecil dari pengeras suara. "Rumah sakit swasta dekat apartemen Wiwid. Dia sakit sejak semalam, lalu aku ikut demam karena kehujanan. Aku akan menemaninya beberapa hari."

"Kenapa tidak bilang sebelum pergi?"

"Ko masih tidur. Aku tidak mau mengganggu."

Gunawan melirik Rey. "Kirim lokasi. Saya suruh sopir mengantar kebutuhanmu."

"Nggak usah. Wiwid sudah mengurus semuanya. Aku tutup dulu, Ko. Dokternya datang."

Sambungan terputus.

"Kamu tahu dia pergi jam berapa?" tanya Gunawan.

Rey menyendok nasi goreng tanpa selera. "Mana gue tahu."

Ponselnya menyala di samping piring.

Percakapan Instagram dengan Lynn masih terbuka. Foto bahu Lani berada tepat di atas kalimat yang ia kirimkan semalam.

Di bawahnya, tanda pesan itu telah berubah.

Dilihat pukul 02.19.

Episode 3

BAB 3

TEMPAT BERLINDUNG

Cairan infus menetes perlahan, tetapi tangan Lani tetap sedingin malam ketika ia meninggalkan vila.

"Jadi, ceritanya lo demam karena kehujanan?"

Wiwid berdiri di samping ranjang rumah sakit dengan kedua tangan terlipat. Kacamata berbingkai hitam bertengger di atas kepalanya. Kamera masih tergantung di leher, tanda ia datang langsung dari Studio Widuri begitu menerima lokasi yang dikirim Lani.

Lani menarik selimut lebih tinggi. "Memangnya aku kelihatan sehat?"

"Lo kelihatan kayak orang yang habis dikejar setan, bukan kehujanan."

Lani tersenyum tipis. Otot lehernya langsung terasa nyeri.

Dokter Rina sudah memeriksa memar di pergelangan, lecet ringan di bahu, demam, serta tubuhnya yang kekurangan cairan. Lani mengatakan ia terpeleset di kamar mandi. Dokter itu menatapnya cukup lama, seolah tahu ada bagian cerita yang sengaja dibuang, tetapi tidak memaksa.

Ia hanya meminta Lani menjalani observasi selama dua hari di rumah sakit swasta Jakarta Selatan itu.

"Gunawan tahu lo di sini?" tanya Wiwid.

"Dia tahu aku di rumah sakit."

"Tahu kenapa?"

"Wiwid."

"Nah, nada itu." Wiwid menarik kursi dan duduk. "Kalau lo sudah panggil nama lengkap gue dengan suara begitu, artinya ada masalah besar dan lo nggak mau cerita."

Lani memandang selang bening yang menempel di punggung tangannya.

Ia ingin bercerita. Ingin menunjukkan pergelangan yang masih menyimpan bekas jari Rey, lalu meminta Wiwid memaki sampai seluruh rasa kotor di tubuhnya hilang. Namun ia mengenal sahabatnya. Wiwid akan datang ke Menteng, mendobrak pintu, dan mungkin memukul Rey dengan tripod.

Gunawan akan tahu. Foto itu bisa tersebar. Semua akan membesar sebelum Lani sempat berpikir.

"Aku cuma sedang capek," katanya.

Wiwid mendecakkan lidah. "Jawaban paling menyebalkan sedunia."

Namun ia tidak bertanya lagi. Ia melepas kamera, mengambil kapas basah, lalu menyeka sisa perekat bekas pemeriksaan dari lengan Lani.

"Tidur," ujarnya. "Gue jaga di sini sampai malam. Kalau ada yang datang dari rumah itu, biar ketemu gue dulu."

Sederhana, kasar, dan tepat mengenai tempat yang membuat dada Lani sesak.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, Lani memejamkan mata tanpa takut seseorang akan mengunci pintu.

***

Wulan datang setelah Magrib dengan kotak bubur ayam yang dibungkus kain agar tetap hangat.

Kerudungnya sedikit miring. Ada bekas tepung di lengan gamis, dan napasnya terengah seperti ia harus berlari dari halte menuju lobi rumah sakit.

"Maaf baru bisa datang," katanya. "Aku harus masak untuk Bapak, Ibu, Dimas, sama Dika dulu."

Wiwid mengambil kotak makanan dari tangannya. "Lo datang jenguk orang sakit atau buka katering? Berat banget."

"Ada bubur buat kalian juga."

"Nah, ini baru sahabat berguna."

Wulan tertawa kecil, lalu memegang tangan Lani yang tidak dipasangi infus. "Kamu bikin kami takut. Tadi siang masih sempat balas pesan, malamnya masuk rumah sakit."

"Cuma demam. Besok juga pulang."

"Dua hari observasi," potong Wiwid. "Dan dia masih bohong."

Lani melotot.

"Aku nggak bilang bohong soal apa," balas Wiwid santai.

Wulan tidak ikut mendesak. Ia membuka bubur, mengaduknya agar uap panas keluar, lalu menyodorkan sendok kepada Lani.

"Makan dulu. Cerita belakangan kalau kamu siap."

Kalimat itu membuat pertahanan Lani justru runtuh sedikit.

Ia tidak menceritakan Rey. Namun malam itu, di antara bunyi monitor dan aroma bubur ayam, Lani membuka luka yang jauh lebih lama.

Ia bercerita tentang operasi lambung Papa Lie beberapa tahun lalu. Tentang uang muka yang tidak sanggup dikumpulkan keluarganya. Tentang Leo, kekasihnya selama delapan tahun, yang menemani di rumah sakit dan membayar separuh biaya awal.

"Waktu itu aku pikir dia akan jadi keluargaku," ujar Lani.

"Lalu mamanya datang," kata Wiwid dengan wajah masam.

Lani mengangguk.

Tante Lanny berdiri di koridor rumah sakit dengan tas bermerek di lengan. Suaranya cukup keras untuk didengar keluarga pasien lain.

`Anakku bukan sopir dan perawat gratis keluargamu. Hari ini operasi bapakmu, besok utang kokonya, nanti apa lagi? Penyakit keluarga kalian jangan ikut dibawa ke rumah kami.`

Leo berdiri di samping ibunya. Diam.

Lani tidak menangis saat itu. Ia mengembalikan sisa uang Leo melalui transfer selama beberapa bulan, lalu memutuskan hubungan mereka tanpa meminta laki-laki itu memilih.

"Syukurlah aku tidak jadi masuk Keluarga Ang," katanya. "Kalau delapan tahun saja tidak membuat Leo berani bicara, pernikahan juga tidak akan mengubahnya."

Wulan menggenggam tangannya lebih erat. "Tapi setelah itu kamu menerima Ko Gunawan."

"Dia membayar seluruh utang keluargaku."

"Dan meminta hidupmu sebagai gantinya," sahut Wiwid.

Lani menatap bubur yang mulai dingin. "Aku tahu perjanjiannya sejak awal. Dengan uang itu, Papa dan Mama punya rumah di perumahan. Kedua kokoku berhenti dikejar penagih. Aku menyimpan dua kartu, satu untuk orang tuaku dan satu atas namaku sendiri. Setidaknya kalau semua ini selesai, aku tidak pulang dengan tangan kosong."

"Lo selalu bicara seolah tubuh dan hati lo barang paling murah dalam transaksi itu," kata Wiwid. "Padahal bukan."

Lani tidak mampu menjawab.

Wulan menunduk. Ujung kerudungnya sudah kusut karena diremas. "Kadang perempuan memang memilih yang sama-sama menyakitkan. Tinggal mencari mana yang membuat anak dan orang tua kita tetap bisa makan."

Wiwid langsung menoleh. "Dimas bikin masalah lagi?"

"Nggak ada." Jawaban Wulan terlalu cepat. "Dia cuma sering pulang malam. Katanya proyek kantor banyak."

"Uang belanja cukup?"

Wulan tersenyum, tetapi matanya tidak. "Cukup."

Lani dan Wiwid saling pandang. Mereka mengenal senyum itu.

Kali ini mereka tidak membongkar kebohongannya. Belum.

***

Setelah keluar dari rumah sakit, Lani tinggal di apartemen Wiwid selama hampir satu minggu.

Pagi hari ia membantu memilih foto di sudut Studio Widuri. Siang hari Wiwid memotret model untuk katalog pakaian dan produk kecantikan. Malamnya mereka makan nasi bungkus sambil mendengar Wulan mengeluh melalui panggilan video tentang cucian yang tidak pernah habis.

Bekas jari di pergelangan Lani perlahan memudar.

Rasa takutnya tidak.

Pada hari ulang tahun Wulan, Lani mengirim sejumlah uang dengan keterangan `buat beli kue`. Saat Wulan memprotes di grup WhatsApp, Lani hanya membalas foto dua kartu belanja.

`Aku sudah beli ini dari bulan lalu. Kalau kamu menolak, aku kasih Wiwid.`

`Jangan gue. Gue maunya lensa,` balas Wiwid.

Wulan akhirnya datang sore itu. Begitu Lani menyelipkan kedua kartu ke dalam tasnya, matanya langsung merah.

"Aku belum bisa balas apa-apa," bisiknya.

"Kamu sudah bawa bubur waktu aku sakit. Impas."

"Nilainya beda jauh."

"Persahabatan kita bukan nota belanja, Wulan."

Wiwid merangkul keduanya dari belakang. "Kalau mau nangis, cepat. Lima menit lagi gue ada klien. Jangan bikin studio gue banjir."

Wulan tertawa di sela air mata. Lani ikut tersenyum.

Mereka bertiga tidak bisa menyelesaikan hidup satu sama lain. Namun untuk beberapa menit, beban itu bisa dibagi hingga tidak menghancurkan satu orang sendirian.

***

Seminggu setelah malam hujan, Lani kembali ke vila Menteng.

Rumah itu terlalu sunyi. Kotak P3K sudah tidak ada, karpet putih telah dibersihkan, dan tidak ada jejak darah di lantai. Seolah malam itu hanya hidup di kulit Lani.

Ia baru meletakkan tas di meja dapur ketika ponselnya berdering.

"Ko?"

Suara Gunawan terdengar letih. "Kamu sudah pulang?"

"Baru saja. Ko di kantor?"

"Iya." Ada jeda panjang. "Mei, kalau Rey menghubungimu, langsung kabari saya."

Jari Lani membeku di atas meja.

"Kenapa dia menghubungiku?"

"Pagi setelah kamu masuk rumah sakit, saya memarahinya. Saya bilang akan mengirimnya kembali ke luar negeri supaya dia belajar disiplin." Gunawan menarik napas berat. "Dia menendang kursi, lalu bilang kalau saya selalu menganggapnya pengganggu, seharusnya dulu saya tidak usah melahirkannya."

Lani menatap kursi kosong di ujung meja makan.

"Setelah itu?"

"Dia pergi. Tidak membawa sopir, tidak mengambil kartu tambahan. Sudah satu minggu, Mei. Rey belum pulang."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!