Bab 001
Sisa yang Cuma Lelah
“Suamiku semalam kayak banteng, Ras. Aku sampai nggak tidur.”
Suara Tiara mengalir santai dari ponsel, disusul tawa kecil dan bunyi es beradu dengan gelas. Mungkin sahabatnya itu sedang berbaring di sofa apartemen sambil minum jus dingin. Sementara Laras duduk kaku di dekat jendela kereta, memeluk tas di pangkuan agar tidak terlempar setiap roda menghantam sambungan rel.
“Kamu malah ketawa,” kata Laras.
“Habis mau gimana? Badanku remuk. Nanti kalau kamu sudah sampai, pijitin aku, ya.” Tiara menguap tanpa ditahan. “Kamar tamu sudah gue siapin. Tinggal aja selama yang lo mau. Apartemen segede ini bikin gue kesepian kalau suamiku lagi kerja.”
Laras tersenyum tipis meski Tiara tidak bisa melihatnya. Lima tahun menikah, ia tidak pernah mengeluh karena kurang tidur setelah dipeluk suami. Ia kurang tidur karena menghitung tagihan, menemani orang sakit, atau menunggu transfer gaji masuk hanya untuk melihat angkanya habis pada hari yang sama.
“Ras? Kok diam?”
“Sinyalnya putus-putus.”
Kebohongan itu keluar pelan. Sinyal di layar ponselnya penuh.
Tiara kembali bercerita tentang jadwal kerjanya di rumah sakit, paket perawatan wajah yang baru dibeli, lalu restoran yang ingin mereka datangi. Laras menyahut seperlunya. Jari-jarinya justru meraba sudut kertas yang tersembul dari dompet.
Foto sebuah rumah contoh.
Atap abu-abu, dua jendela lebar, halaman kecil dengan rumput yang terlalu hijau untuk menjadi nyata. Foto itu sudah terlipat empat. Bekas lipatannya memutih dan satu sudutnya hampir sobek.
Dulu Laras mengambilnya dari brosur perumahan di dekat pasar. Ia menyimpannya di laci paling bawah, di bawah ijazah dan dua helai pakaian yang masih bagus. Setiap kali keadaan rumah kontrakan terasa terlalu sempit, ia akan membuka foto itu sebentar dan membayangkan punya kunci sendiri.
Pagi tadi, foto itu nyaris tertinggal.
Wahyu sudah mengenakan jaket ketika telepon dari rumah sakit masuk. Wajahnya langsung pucat. Ibunya kembali sesak napas, dan dokter meminta keluarga datang.
“Aku harus ke rumah sakit sekarang.” Wahyu memasukkan ponsel ke saku dengan tangan gemetar. “Kamu berangkat sendiri nggak apa-apa, kan?”
Koper Laras sudah berdiri di dekat pintu. Tiket keretanya tidak bisa dibatalkan tanpa potongan besar. Lagi pula, Bu Ratna menunggu jawabannya soal pekerjaan terjemahan di Jakarta.
“Nggak apa-apa. Temani Ibu.”
Wahyu mengangguk, tetapi tidak langsung pergi. Tatapannya turun ke tas Laras.
“Kalau nanti ada obat yang nggak ditanggung BPJS, kamu masih punya uang?”
Pertanyaan itu membuat jemari Laras berhenti pada gagang koper.
“Kemarin aku sudah transfer.”
“Itu buat pemeriksaan sama naik kamar. Obatnya beda lagi.” Wahyu mendekat, suaranya melemah. “Aku minta tolong dulu, Dik. Nanti kalau gajian aku ganti.”
Nanti.
Selama lima tahun, kata itu selalu datang membawa janji dan pulang membawa uang Laras.
Ia kembali ke kamar, membuka laci paling bawah, lalu mengambil tiga lembar uang terakhir yang diselipkan di antara pakaian. Foto rumah contoh terseret keluar bersama uang itu dan jatuh di lantai.
Sepatu Wahyu hampir menginjaknya.
Laras cepat-cepat memungut foto tersebut. Ia membersihkan debu yang tidak ada dengan ujung jilbab, kemudian memasukkannya ke dompet.
“Ini,” katanya sambil menyerahkan uang. “Cuma ada segini.”
Wahyu menerimanya tanpa menghitung. Wajah laki-laki itu terlihat lega.
“Makasih, Dik. Hati-hati di jalan.”
Pintu menutup. Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan apakah Laras membawa cukup uang untuk makan selama perjalanan. Hanya bunyi motor Wahyu menjauh menuju rumah sakit.
Laras menyeret koper keluar rumah sendirian.
Di warung depan gang, ia sempat mengambil air mineral dari lemari pendingin.
“Yang ini berapa, Bu?”
“Tujuh ribu.”
Tangannya langsung mengembalikan botol itu. Ia memilih botol kecil dari kardus dekat pintu yang tidak sedingin tadi.
“Kalau ini?”
“Empat ribu.”
Baru yang itu ia bayar.
Sekarang botol kecil tersebut tinggal separuh di meja lipat kereta. Airnya sudah tidak dingin, tetapi Laras meneguknya sedikit-sedikit. Di seberang lorong, seorang ibu menyuapi anaknya roti. Di kursi depan, pasangan muda berbagi satu earphone sambil tertawa menonton sesuatu di layar ponsel.
Laras memalingkan wajah ke jendela.
Sawah berlari mundur. Pohon-pohon pisang mengecil, atap rumah menghilang, lalu berganti bangunan yang makin rapat. Bayangannya sendiri muncul di kaca, pucat dan lelah. Ada bekas air mata yang telah mengering di bawah mata kiri.
“Pokoknya jangan sok sungkan di rumah gue,” suara Tiara kembali terdengar. “Anggap aja rumah sendiri.”
Rumah sendiri.
Dua kata itu menekan tepat di tempat yang paling sakit.
“Iya,” jawab Laras. “Terima kasih, Tiara.”
“Eh, nanti pas sampai jangan naik taksi biasa. Pesan mobil yang bagus. Kirim nomor rekening, gue transfer.”
“Nggak usah. Aku masih punya uang.”
Padahal setelah membeli air dan membayar ojek menuju stasiun, uang tunai di dompetnya tidak sampai seratus ribu.
“Lo tuh dari dulu susah banget dibantu.”
Laras tertawa kecil, suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. “Aku sudah mau sampai. Nanti aku kabari lagi.”
Setelah panggilan berakhir, pengumuman kedatangan terdengar dari pengeras suara. Penumpang mulai berdiri dan menurunkan barang. Laras menyimpan foto rumah contoh lebih dalam ke sela dompet, lalu menarik kopernya menuju pintu.
Udara Jakarta menyambut seperti uap panas ketika ia keluar dari stasiun. Klakson bersahutan. Orang-orang berjalan cepat seolah setiap menit punya harga. Laras sempat terpaku sebelum sopir mobil daring menelepon dan menyebut titik penjemputan.
Di dalam mobil, ia merapatkan tas ke dada. Jalan layang, papan iklan raksasa, dan gedung kaca melintas di balik jendela. Semakin dekat ke alamat Tiara, semakin tinggi bangunan di sekelilingnya.
“Pertama kali ke daerah sini, Mbak?” tanya sopir.
Laras mengangguk. “Pertama kali menginap.”
Sopir itu menunjuk menara kaca yang berkilau diterpa matahari sore. “Apartemennya di gedung depan, Mbak.”
Laras mendongak sampai lehernya terasa tegang. Di salah satu lantai gedung itu, Tiara hidup di rumah luas yang kadang membuatnya kesepian. Di Kebumen, Laras hidup di rumah sempit yang bahkan tidak pernah terasa menjadi miliknya.
Ia menekan dompet di dalam tas. Ujung foto rumah impian menusuk telapak tangannya.
Untuk pertama kalinya, Laras berharap perjalanan ini tidak hanya membawanya ke Jakarta.
Ia berharap perjalanan ini membawanya cukup jauh hingga ia tak perlu kembali menjadi perempuan yang sama.
Bab 002
Suami Sahabatku
Mobil berhenti di bawah kanopi menara kaca yang tadi membuat Laras mendongak sampai lehernya tegang.
Seorang petugas berseragam membukakan pintu. Laras buru-buru turun dan menarik koper sendiri sebelum ada yang menyentuhnya. Udara lobi dingin, wangi, dan begitu senyap hingga bunyi roda kopernya terdengar memalukan di atas lantai marmer.
“Laras!”
Tiara melambai dari depan lift. Rambutnya tersanggul rapi, bibirnya merah mengilap, seragam rumah sakit yang dikenakannya jatuh pas di tubuh. Ia memeluk Laras, lalu mundur untuk menatapnya dari kepala sampai kaki.
“Ya ampun, lo makin kurus. Wahyu ngasih lo makan nggak, sih?”
Laras tertawa kecil. “Kamu masih sama saja.”
“Masih cantik, maksudnya?”
Tiara menekan tombol lift sambil terkekeh. Di pergelangan tangannya melingkar jam yang Laras pernah lihat di etalase pusat perbelanjaan. Harganya cukup untuk membayar kontrakan Laras hampir setahun.
Pintu apartemen terbuka pada ruang tamu yang jauh lebih luas daripada seluruh rumah kontrakan Laras. Dinding kaca memperlihatkan gedung-gedung SCBD. Sofa berwarna krem menghadap televisi sebesar jendela rumahnya. Sepasang sepatu bermerek tergeletak di bawah meja, berdampingan dengan bungkus keripik dan dua gelas bekas.
“Jangan lihat berantakannya.” Tiara menendang satu bantal sofa ke sudut. “Gue seminggu ini shift terus. Bram juga kalau pulang cuma tahu mandi, makan, tidur.”
Itulah pertama kali nama suami Tiara terdengar jelas di telinga Laras.
“Bram?”
“Iya. Bramantyo. Lo belum pernah ketemu, kan?” Tiara membuka pintu sebuah kamar. “Ini kamar lo. Handuk ada di lemari. Kalau mau pakai apa pun, pakai aja.”
Kasur di kamar tamu tampak lebih empuk daripada kasur utama di rumah Laras. Sebotol air mineral impor menunggu di meja samping ranjang. Laras membaca label harganya yang masih menempel, lalu teringat botol empat ribu yang ia pilih di warung pagi tadi.
“Aku mandi sebentar, ya.”
“Santai. Gue harus balik ke rumah sakit.” Tiara mengeluarkan kotak bedak dan memperbaiki riasan di depan cermin. “Nanti malam kita ngobrol. Kangen banget gosip sama lo.”
Setelah Tiara pergi, apartemen itu mendadak sunyi.
Laras duduk di ujung kasur. Dari celah tasnya, dompet yang menyimpan foto rumah contoh terlihat. Ia mendorongnya lebih dalam, lalu bangkit. Rumah milik orang lain tidak seharusnya ia bandingkan dengan mimpi sendiri.
Namun setelah mandi dan berganti pakaian, Laras tidak tahan melihat ruang tamu yang berantakan.
Ia mengikat rambut, membuka gorden agar cahaya masuk, lalu mulai bekerja. Bungkus makanan masuk tempat sampah. Gelas kotor dibawa ke dapur. Remah keripik yang menempel di sofa dibersihkan dengan penyedot debu. Ia bahkan menemukan kaus kaki pria terselip di bawah kursi pijat elektrik.
Satu jam kemudian, keringat membasahi tengkuknya meski pendingin ruangan menyala.
Laras baru selesai mengepel dekat lorong ketika pintu utama berbunyi.
Seorang laki-laki masuk sambil membawa tas olahraga. Tank top hitam melekat pada dada dan bahunya yang lebar. Kulitnya lebih gelap daripada Tiara, rambutnya basah oleh keringat, dan tubuhnya begitu tinggi hingga lorong apartemen terasa menyempit.
Mata mereka bertemu.
Laki-laki itu berhenti. “Kamu siapa?”
Laras menggenggam gagang pel lebih erat. “Laras. Temannya Tiara.”
Tatapan laki-laki itu berpindah ke lantai mengilap, sofa yang sudah rapi, lalu kembali kepadanya.
“Oh.” Suaranya rendah. “Aku Bram.”
Suami Tiara.
Laras mengangguk cepat. “Tiara bilang dia harus kembali ke rumah sakit.”
“Aku tahu.” Bram meletakkan tasnya. “Dia kirim pesan.”
Tanpa bicara lagi, lelaki itu berjalan ke kamar utama. Aroma sabun, keringat, dan udara luar tertinggal sesaat di lorong. Laras menunduk pada pel di tangannya, kesal karena jantungnya sempat berdetak lebih cepat hanya akibat terkejut.
Ia membawa alat kebersihan ke area servis, lalu teringat pakaian kotornya masih tertinggal di kamar mandi tamu.
Pintu kamar mandi tidak terkunci.
Laras baru saja melepas blus ketika daun pintu terbuka.
Ia tersentak dan meraih handuk. Bram berdiri di ambang pintu, satu tangannya masih pada gagang. Mata lelaki itu jatuh sepersekian detik ke bahunya yang terbuka sebelum segera beralih ke lantai.
“Maaf.” Ia menarik pintu kembali. “Kukira Tiara.”
Pintu menutup.
Laras menempelkan telapak tangan pada dadanya. Jantungnya memukul begitu keras sampai ia takut bunyinya menembus pintu. Wajahnya panas, sementara alasan Bram terasa ganjil. Mengapa laki-laki itu mengira Tiara ada di kamar mandi tamu jika istrinya sudah mengirim pesan dari rumah sakit?
Ia mandi lebih cepat daripada biasanya.
Ketika keluar, Bram sudah tidak berada di ruang tamu. Laras mengenakan celana panjang dan kemeja longgar, kemudian menuju dapur. Tiara pasti pulang lapar. Di lemari hanya ada mi instan, biskuit, dan kopi kapsul.
Laras menanak beras yang ditemukannya di rak paling bawah. Untuk lauk, ia perlu turun membeli sayur dan telur dari minimarket gedung.
Baru di depan pintu, ia sadar lift penghuni memerlukan kartu akses.
Ia ragu beberapa detik sebelum mengetuk pintu kamar utama.
Tidak ada jawaban.
Ketukan kedua terdengar lebih keras. “Bram?”
Pintu kamar mandi di dalam terbuka. Langkah kaki mendekat, lalu pintu kamar utama hanya terkuak selebar satu telapak tangan.
Bram berdiri di baliknya dengan rambut menetes dan tubuh telanjang dari pinggang ke atas. Hanya sehelai celana pendek ketat menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia mengulurkan kartu akses melalui celah pintu, sementara tatapannya menahan Laras di tempat.
“Cari ini?” tanyanya.
Bab 003
Semangkuk Nasi untuk Orang Asing
Laras menatap kartu akses di tangan Bram, lalu memaksa jarinya bergerak.
“Iya. Terima kasih.”
Ujung jari mereka bersentuhan saat kartu berpindah tangan. Hanya sebentar, tetapi Laras langsung menarik tangannya seperti terkena panas. Pintu di depannya menutup pelan.
Ia berdiri dua detik lebih lama sebelum sadar dirinya masih menghadap daun pintu.
“Astaga, Laras,” gumamnya, lalu berbalik cepat.
Minimarket di lantai dasar menjual bahan makanan dengan harga hampir dua kali lipat dari pasar Kebumen. Laras memasukkan telur, sawi, tomat, dan sedikit ayam ke keranjang. Ia sempat mengambil dua bungkus mi, menghitung totalnya dalam kepala, lalu mengembalikan satu.
Saat kembali, Bram sudah duduk di ruang tamu dengan kaus abu-abu dan celana olahraga. Rambutnya masih lembap. Tatapannya mengikuti kantong belanja di tangan Laras.
“Kamu mau masak?”
“Iya. Tiara pasti lapar kalau pulang.”
“Dia biasanya pesan makanan.”
Laras berhenti di ambang dapur. “Terus beras di lemari buat apa?”
Sudut bibir Bram terangkat. “Dekorasi, mungkin.”
Laras menahan senyum dan masuk ke dapur. Ia mencuci beras, mengiris bumbu, lalu membagi ayam menjadi potongan kecil agar cukup untuk makan malam dan bekal Tiara besok. Tak lama, suara minyak mendesis memenuhi apartemen. Aroma bawang putih dan cabai menggantikan wangi pengharum ruangan.
Bram beberapa kali melintas dengan alasan mengambil air. Pada lintasan ketiga, ia berhenti di depan panci.
“Masih lama?”
“Lapar?”
“Banget.”
“Tunggu sepuluh menit.”
“Lima.”
Laras menoleh. “Ayamnya belum matang.”
“Kalau begitu tujuh.”
Nada serius Bram membuat Laras terkekeh. “Duduk saja. Nanti aku panggil.”
Ketika makanan siap, Laras menata tiga piring. Satu ia tutup untuk Tiara, satu diletakkan di depan Bram, dan satu lagi di seberangnya. Nasi di piring Bram ia buat lebih banyak setelah melihat ukuran tubuh laki-laki itu.
Bram menatap semangkuk sayur bening, ayam kecap, dan nasi yang mengepul. “Ini buat aku?”
“Memangnya di sini ada orang lain?”
Ia mencicipi ayam, lalu diam.
Laras ikut berhenti makan. “Keasinan?”
Bram menggeleng. Ia mengambil suapan kedua, lebih besar dari yang pertama. “Enak.”
Hanya satu kata, tetapi cara laki-laki itu mengatakannya membuat Laras merasa baru saja menyerahkan sesuatu yang lebih berharga daripada sepiring nasi.
“Tiara nggak pernah masak?” Laras bertanya, lebih untuk memecah keheningan.
Bram menyandarkan punggung. “Pernah.”
“Apa?”
“Air.”
Laras menatapnya bingung.
“Dia pernah merebus air sampai pancinya gosong.”
Tawa Laras lolos sebelum sempat ditahan. Bram ikut tersenyum, bukan senyum sopan yang tadi ia berikan di lorong. Wajah kerasnya mendadak terlihat lebih muda.
“Jangan bilang Tiara aku menertawakannya.”
“Berarti aku punya rahasia pertama tentang kamu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi senyum Laras langsung lenyap. Rahasia seharusnya tidak terdengar berbahaya. Namun dari mulut suami sahabatnya, kata tersebut membuat udara dapur terasa lebih sempit.
Bram mengambil air. “Kamu ke Jakarta cuma buat ketemu Tiara?”
“Ada pekerjaan dari dosenku dulu. Beliau minta bantuan menerjemahkan beberapa dokumen.”
“Kamu penerjemah?”
“Dulu kuliah Sastra Inggris. Sekarang kerja apa saja yang bisa dikerjakan dari Kebumen.”
Tatapan Bram turun pada tangan Laras yang kulitnya memerah karena sabun dan pekerjaan rumah. “Sayang.”
Laras mengangkat wajah.
“Maksudku, sayang kalau kemampuanmu cuma dipakai apa saja.” Bram menahan matanya sesaat, lalu mengetuk piring dengan sendok. “Masakan seenak ini juga sayang kalau cuma Tiara yang makan.”
Laras tidak tahu mana dari dua kalimat itu yang membuat dadanya terasa hangat.
Mereka makan dalam diam beberapa saat. Bram menghabiskan nasi dengan cepat, tetapi tidak langsung meminta tambah. Ia hanya melihat rice cooker di belakang Laras.
“Mau tambah?” tanya Laras.
“Boleh?”
“Tentu.”
Ia bangkit dan mengisi piring Bram sampai penuh. Saat hendak mengambil piring bersih dari rak atas, ujung jarinya tidak sampai. Laras berjinjit.
Tubuh besar Bram tiba-tiba berada di belakangnya.
Lengannya terulur melewati bahu Laras. Dada laki-laki itu hampir menyentuh punggungnya, cukup dekat untuk membuat Laras mencium aroma sabun dari kulitnya. Bram mengambil piring dengan mudah, tetapi tidak segera mundur.
“Yang ini?” Suaranya terdengar tepat di atas telinga Laras.
Laras mengangguk tanpa berani menoleh. “Iya.”
Piring itu berpindah ke tangannya. Baru setelah Laras bergeser, Bram kembali ke kursi seolah tidak terjadi apa-apa.
Jantung Laras belum juga kembali normal ketika ponselnya bergetar di meja.
Nama Mas Wahyu memenuhi layar.
Ia membawa ponsel ke kamar tamu sebelum menjawab. “Halo?”
“Kamu sudah sampai?”
“Sudah.”
“Ibu masih dirawat. Dokter minta pemeriksaan tambahan besok.” Suara Wahyu berat oleh lelah. “Uang yang tadi sudah kepakai buat deposit. Kamu bisa kirim lagi?”
Laras menutup mata. “Mas, aku baru sampai Jakarta.”
“Aku tahu. Tapi ini buat Ibu. Aku harus minta ke siapa lagi?”
“Aku sudah kasih semua uang tunai yang aku punya.”
“Coba pakai tabunganmu dulu. Atau pinjam Tiara. Dia kaya, kan?”
Sesuatu yang selama bertahun-tahun Laras tekan mendadak bergerak naik dari perut ke tenggorokan.
“Itu uangku, Mas.” Suaranya bergetar. “Tabunganku, gajiku, semuanya selalu habis buat keluargamu.”
Di ujung sana Wahyu terdiam.
“Aku juga keluarga kamu, Dik.”
“Tapi siapa yang menganggap aku keluarga?” Air mata mengaburkan pandangan Laras. “Lima tahun aku kerja. Lima tahun aku bayar kontrakan, listrik, belanja, rumah sakit. Aku sudah diperas habis sama keluargamu.”
“Jangan ngomong begitu soal orang tuaku.”
“Aku bicara soal hidupku!”
Suara Laras pecah. Ia menekan tombol akhir panggilan sebelum Wahyu menjawab, lalu mematikan ponsel. Tangannya gemetar hebat.
Ia menjatuhkan diri ke kasur dan membenamkan wajah pada bantal. Wangi parfum mahal menusuk hidungnya. Tiara pernah menyebut harga parfum itu enam juta rupiah, lebih besar daripada gaji bulanan Laras.
Bahkan air matanya sekarang jatuh di atas barang yang tak sanggup ia beli.
Laras menggigit bibir agar tangisnya tidak terdengar. Bahunya tetap berguncang.
Ketukan pelan muncul dari balik pintu.
“Laras?” suara Bram terdengar. “Kamu nggak apa-apa?”
Ia menyeka wajah dengan kedua tangan. “Nggak apa-apa.”
“Kamu nangis.”
“Aku bilang aku nggak apa-apa.”
Hening beberapa detik. Bram tidak membuka pintu, tidak pula pergi.
“Aku mau turun jalan sebentar,” katanya kemudian. “Kalau kamu butuh udara, ikut.”
Laras menatap ponsel yang sudah mati. Jika tetap di kamar, ia akan menyalakannya lagi, membaca pesan Wahyu, lalu melakukan hal yang selalu ia lakukan: meminta maaf dan mengirim uang.
Tidak malam ini.
Ia membasuh wajah, mengambil beberapa lembar uang, lalu meninggalkan ponselnya di atas kasur. Bram menunggu di ruang tamu dengan sepatu olahraga sudah terpasang. Tatapannya berhenti pada mata Laras yang merah, tetapi ia tidak bertanya.
Pintu lift terbuka.
Laras masuk lebih dulu. Permukaan logam memantulkan wajahnya yang pucat dan kelopak matanya yang bengkak. Bram berdiri di sampingnya, besar, diam, dan asing.
Malam ini, Laras ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah berani ia lakukan seumur hidupnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!