Indonesia
NovelToon NovelToon

The CEO'S Speed Limit

bab 1

Raelyn Elamora tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya yang bebas, berisik, dan penuh adrenalin akan berakhir mengenaskan di ruang tamu rumahnya sendiri.

Sebagai mahasiswa semester akhir jurusan Teknik Informatika yang cerdas, Raelyn dikenal sebagai kombinasi mematikan: otak encer, mulut tanpa filter, dan keras kepala tingkat dewa.

Kalau siang dia bisa meretas sistem keamanan kampus demi membantu temannya yang lupa kata sandi, maka kalau malam, dia adalah ratu jalanan yang gemar memacu adrenalin dengan balapan liar.

Namun malam ini, seluruh keberanian Raelyn mendadak membeku. Di depannya, sang papa duduk dengan wajah kuyu dan selembar surat perjanjian di atas meja kaca.

"Papa tidak bisa mengatur hidupku! Ini abad ke-21, Pa! Mana ada jodoh-jodohan!" protes Raelyn.

Ia berdiri tegak, melipat kedua tangan di dada, dan menatap papanya dengan pandangan menolak tunduk.

"Kamu terlalu liar, Raelyn. Pikirkan masa depanmu. Lagipula, pria ini bisa membantu keluarga kita," balas papanya, terdengar sangat lelah dan pasrah.

Raelyn mendengus sinis. "Membantu keluarga kita atau menebus kesalahan Papa? Ngaku aja, Pa. Papa terlilit utang judi lagi? Atau utang bisnis?"Papanya menghela napas panjang, tidak mampu menatap mata putrinya yang terlalu cerdas untuk dibohongi.

"Ini bukan cuma soal uang, Raelyn. Ini soal utang budi yang porsinya jauh lebih besar dari sekadar angka. Keluarga Danadiaksa yang sudah menyelamatkan perusahaan Papa dari kebangkrutan total. Dan sebagai gantinya, mereka menginginkanmu untuk mendampingi putra tunggal mereka."

Raelyn memutar bola matanya malas. "Keluarga Danadiaksa? Maksud Papa... Alvarez Arran Danadiaksa?"

Mendengar nama itu disebut, suasana ruangan seolah mendadak turun beberapa derajat. Siapa yang tidak kenal Alvarez?

Di dunia bisnis kota ini, nama Alvarez setara dengan hukum alam: tidak bisa dibantah, mutlak, dan ditakuti semua orang. Di usianya yang masih tergolong muda, pria dingin dan cuek itu sudah memegang kendali atas hampir seluruh gurita bisnis di kota.

Orang-orang bilang, Alvarez tidak punya darah di tubuhnya, melainkan cairan es dan angka-angka saham. Berkat kecerdasannya yang cekatan dan koneksi gurita keluarganya, dia bisa menghancurkan satu perusahaan hanya dengan satu jentikan jari.

"Aku harus nikah sama kulkas berjalan itu? Yang benar aja, Pa! Dia itu monster bisnis, bukan manusia!" seru Raelyn frustrasi.

"Keputusan Papa sudah bulat, Raelyn. Bulan depan kalian menikah. Besok, dia akan menghubungimu," ucap papanya final, lalu berjalan masuk ke dalam kamar, meninggalkan Raelyn yang mengepalkan tangan menahan amarah.

...****************...

Keesokan paginya di koridor kampus, atmosfer di sekitar Raelyn terasa sangat mendung. Wajahnya lesu, matanya berkantung, dan langkah kakinya diseret seperti zombi yang kehilangan arah. Kontras sekali dengan penampilannya yang biasanya energik dengan jaket jins kebesaran dan sepatu bot andalannya.

"Lo kenapa, Lyn? Kusut banget kayak baju belum disetrika tiga bulan. Ada masalah?" tanya Tisha, sahabat kentalnya, sambil menyodorkan segelas es kopi.

Raelyn menerima kopi itu, meminumnya brutal, lalu mendesah berat.

"Gue mau dijodohin, Tish."

Tisha yang baru saja hendak menggigit rotinya langsung tersedak. "Uhuk! Serius lo? Gak usah bercanda deh! Hari gini masih zaman Siti Nurbaya?"

"Gue serius. Sebulan lagi gue nikah," jawab Raelyn datar, menatap kosong ke arah lapangan basket kampus.

"Kenapa secepat itu? Lo aja belum lulus, Lyn! Skripsi kita baru sampai bab tiga!" Tisha histeris, membuat beberapa mahasiswa yang lewat menoleh ke arah mereka.

"Arghh! Tau deh, pusing gue! Bokap gue punya utang budi sama keluarga konglomerat. Dan tebak siapa calonnya? Alvarez Arran Danadiaksa."

Tisha membeku. Mulutnya menganga lebar sampai sebutir lalat rasanya bisa masuk dengan bebas.

"Alvarez? Pria paling ditakuti di majalah Forbes itu? Yang mukanya kayak pahatan dewa Yunani tapi hatinya sedingin Antartika?"

"Heh, jangankan Antartika, pluto aja kalah dingin sama dia," gerutu Raelyn.

Tiba-tiba, ponsel di saku jaket Raelyn berdering nyaring. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar. Raelyn mendengus kesal.

"Siapa sih, berisik banget!" gerutunya sambil menggeser tombol hijau ke arah atas.

"Halo," ucap Raelyn ketus, sama sekali tidak berniat bersikap sopan.

"Halo. Aku Alvarez. Pulang jam berapa? Biar aku jemput," terdengar suara berat, bariton, dan teramat tenang di ujung telepon.

Suara itu begitu jernih, seolah-olah pemiliknya sedang berada di ruangan senyap tanpa beban hidup.Raelyn mengerutkan kening. Nada bicara 'aku-kamu' yang formal dan dingin itu langsung membuat bulu kuduknya berdiri.

Jiwa membangkangnya langsung bergejolak.

"Gak perlu!" ketus Raelyn.

Klik.

Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Raelyn langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Dia bahkan mencopot baterai ponselnya (kalau saja ponsel zaman sekarang bisa dicopot baterainya, namun karena tidak bisa, dia memilih mengaktifkan mode pesawat dengan kasar).

Tisha menonton drama itu dengan mata membelalak.

"Siapa, Lyn?" tanya Tisha penasaran.

"Orang gila!" jawab Raelyn asal sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku dengan sentakan kasar.

bab 2

Tentu saja, seorang Alvarez Arran Danadiaksa tidak akan membiarkan sebuah penolakan menghentikan langkahnya. Pria itu tidak pernah kalah dalam negosiasi bisnis, dan dia jelas tidak akan kalah oleh seorang mahasiswi yang hobi balapan liar.

Sore harinya, saat Raelyn baru saja keluar dari gerbang kampus, sebuah mobil sedan hitam mewah yang harganya setara dengan tiga rumah mewah di kawasan elit sudah terparkir manis di depannya.

Seorang pria dengan setelan jas rapi tanpa dasi, berambut hitam legam yang ditata rapi, bersandar di pintu mobil. Wajahnya tampan, namun tatapan matanya setajam elang dan sedingin es.

"Ikut aku. Kita perlu bicara," ucap Alvarez langsung pada intinya begitu Raelyn berdiri di hadapannya.

Raelyn melipat tangannya, mendongak menantang pria yang tingginya hampir 185 cm itu.

"Gue sibuk. Mau kerja kelompok."

"Aku sudah meminta sekretarisku memeriksa jadwalmu, dan aku juga sudah tahu jadwal kuliahmu hari ini. Kamu bebas sampai malam," balas Alvarez dengan suara datar tanpa riak.

"Masuk ke mobil, Raelyn. Jangan membuatku menggunakan cara paksa."

"Lo ngancem gue?" tanya Raelyn, matanya menyipit tajam.

"Ini namanya efisiensi waktu," jawab Alvarez santai sambil membukakan pintu mobil untuk Raelyn.

Karena tidak mau menjadi tontonan gratis anak-anak kampus yang mulai berbisik-bisik, Raelyn akhirnya masuk ke dalam mobil dengan menghentakkan kakinya kesal.

Di dalam mobil, keheningan terasa begitu mencekam. Alvarez fokus menyetir dengan kecepatan stabil, sementara Raelyn membuang muka ke luar jendela.

Mereka akhirnya sampai di sebuah kafe privat yang sangat sepi. Alvarez memesankan secangkir kopi hitam untuk dirinya sendiri dan matcha latte untuk Raelyn tanpa bertanya terlebih dahulu.

"Gue gak suka matcha," ketus Raelyn begitu minuman itu datang.

"Tapi itu bagus untuk menenangkan sarafmu yang sedang tegang," sahut Alvarez tenang, menyesap kopi hitamnya yang pekat.

"Jadi, mari kita bicarakan pernikahan ini."

"Pernikahan apa? Gue gak sudi nikah sama lo! Kita gak saling kenal, dan gue bukan barang jaminan buat melunasi utang bokap gue!" cerocos Raelyn berapi-api.

"Gue pintar, gue bisa cari uang sendiri buat bayar utang itu. Kasih gue waktu!"

Alvarez menatap Raelyn lekat-lekat. Matanya yang hitam pekat seolah bisa membaca seluruh isi kepala gadis di depannya.

"Utang ayahmu pada keluargaku berjumlah lima puluh miliar rupiah. Ditambah utang budi karena keluargaku merahasiakan kesalahan fatal penyelewengan dana yang dilakukan manajer kepercayaannya. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menghasilkan uang sebanyak itu sebagai mahasiswa tingkat akhir?"

Raelyn bungkam. Otaknya yang cerdas langsung menghitung secara matematis. Bahkan jika dia menjadi hacker bayaran paling mahal sekalipun, butuh bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu secara instan.

"Pernikahan ini adalah jalan pintas terbaik untuk kita berdua," lanjut Alvarez.

"Orang tuaku menuntutku segera menikah agar saham perusahaan bisa dialihkan sepenuhnya kepadaku. Dan ayahmu butuh perlindungan finansial serta hukum. Kita saling menguntungkan."

"Menguntungkan buat lo, merugikan buat gue!" balas Raelyn sengit.

"Gue bakal kehilangan kebebasan gue! Gue gak bisa balapan, gue gak bisa nongkrong sampai pagi, dan gue harus melayani cowok kaku kayak lo!"

Alvarez sedikit menaikkan sebelah alisnya.

"Aku tidak butuh dilayani. Aku punya pelayan di rumah. Dan mengenai kebebasanmu... selama kamu tidak mencoreng nama baik keluargaku di media, aku tidak akan peduli apa yang kamu lakukan di luar rumah."

Raelyn tertegun.

"Serius lo? Gue bebas ngapain aja?"

"Ya. Tapi ada syaratnya." Alvarez memajukan tubuhnya, menatap Raelyn dengan intensitas yang membuat jantung Raelyn mendadak berdegup aneh.

"Kamu harus tinggal satu rumah denganku, menghadiri acara keluarga bersamaku, dan bersikap sebagai istri yang baik di depan publik. Di luar itu, kita adalah orang asing yang berbagi atap."

Raelyn terdiam sejenak. Otak cerdiknya mulai menyusun rencana. Jika Alvarez secuek itu, maka ini tidak akan sesulit yang dia bayangkan.

Dia bisa memanfaatkan fasilitas Alvarez untuk menyelesaikan skripsinya, tetap balapan sembunyi-sembunyi, dan setelah beberapa tahun, dia bisa meminta cerai.

"Oke. Gue setuju," ucap Raelyn dengan senyum licik yang terukir di bibirnya.

"Tapi jangan harap gue bakal jadi istri penurut. Lo jual, gue beli."

Alvarez menyunggingkan senyum tipis sangat tipis hingga hampir tidak terlihat. "Aku menantikannya, Raelyn."

bab 3

Satu bulan berlalu seperti kedipan mata. Pernikahan megah yang tertutup dari awak media itu akhirnya digelar.

Raelyn resmi menyandang status sebagai nyonya Danadiaksa. Dan malam harinya, dia sudah resmi diboyong ke griya tawang (penthouse) mewah milik Alvarez yang terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat kota.

Begitu pintu tawang terbuka, Raelyn langsung melempar sepatu hak tingginya ke sembarang tempat dan menjatuhkan diri ke atas sofa beludru yang empuk.

"Ah! Akhirnya terbebas dari gaun sialan itu!" seru Raelyn lega.

Dia memakai kaos kebesaran dan celana pendek yang tadi sempat dia ganti di mobil. Alvarez yang berjalan di belakangnya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya.

Pria itu masih terlihat rapi dengan kemeja putih yang kancing atasnya sudah dibuka dua buah.

"Rapikan sepatumu, Raelyn. Aku tidak suka rumahku berantakan," ucap Alvarez dingin sambil berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil air minum.

Raelyn menjulurkan lidahnya ke arah punggung Alvarez.

"Suka-suka gue dong. Sekarang kan ini rumah gue juga!" balasnya ngeyel.

Alvarez kembali dari dapur dengan segelas air dingin. Dia berdiri di depan Raelyn yang sedang telentang di sofa.

"Rumah ini memiliki aturan. Dan sebagai pemilik sah sebelum kamu datang, kamu harus mematuhinya."

Raelyn langsung duduk tegak, menatap Alvarez menantang.

"Aturan apa? Perasaan di perjanjian kemarin gak ada aturan aneh-aneh!"

Alvarez mengeluarkan sebuah iPad dari tas kerjanya, mengetuk layarnya beberapa kali, lalu menyodorkannya ke depan wajah Raelyn.

"Ini aturan tambahan. Pertama, dilarang menyentuh barang-barang di ruang kerjaku. Kedua, jam malam maksimal pukul sebelas malam jika kamu pergi keluar tanpa aku. Ketiga, tidak boleh ada suara bising di atas jam sepuluh malam karena aku butuh fokus untuk bekerja."

Raelyn membaca poin-poin itu dengan mata melotot.

"Wah, lo bener-bener diktator ya! Jam sebelas malam? Lo pikir gue anak SMA yang dicariin emaknya? Gak bisa! Jam malam gue minimal jam dua pagi!"

"Tidak," jawab Alvarez mutlak.

"Pukul sebelas. Jika lewat dari itu, gerbang digital tawang ini akan terkunci otomatis dan kamu harus tidur di koridor."

"Lo kejam banget sih jadi cowok! Tega lo ya sama cewek secantik gue?" Raelyn mulai menggunakan taktik dramatis, memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.

Alvarez menatap wajah Raelyn datar, tanpa ekspresi sedikit pun.

"Taktik air mata tidak akan berhasil padaku, Raelyn. Sekarang, masuk ke kamarmu. Kamarmu ada di sebelah kiri, dan kamarku di sebelah kanan. Kita pisah kamar."

Raelyn langsung tersenyum lebar mendengar kalimat terakhir.

"Nah! Poin itu gue setuju seratus persen! Bagus deh, gue juga males liat muka kaku lo tiap bangun tidur."

Dengan riang gembira, Raelyn menyeret koper besarnya menuju kamar sebelah kiri. Begitu masuk, dia langsung mengunci pintu. Namun, baru dua menit berada di dalam kamar, Raelyn menyadari satu hal yang mengerikan.

Kamar itu... tidak ada televisinya, dan yang paling parah, sinyal Wi-Fi di sudut itu sangat lemah!Sebagai anak teknik yang hidupnya bergantung pada internet cepat, ini adalah penindasan.

Raelyn langsung membuka pintunya kembali dan berteriak, "Alvarez! Kok Wi-Fi di kamar gue lemot banget sih? Lo sengaja ya?!"

Alvarez yang sedang membaca berkas di meja makan bahkan tidak menoleh.

"Kamarmu terjauh dari router. Kalau kamu mau internet cepat, silakan duduk di ruang tengah."Raelyn mendengus.

"Ogah! Nanti gue keganggu sama aura es lo!"

Brak! Raelyn menutup pintunya lagi dengan keras, membuat Alvarez hanya bisa menghela napas pendek dan bergumam, "Benar-benar gadis yang merepotkan."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!