Indonesia
NovelToon NovelToon

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

BAB 1: Janji di Ujung Batas Waktu

​Suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca memenuhi ruang makan keluarga Ruella. Di meja kayu jati berbentuk oval itu, suasana makan malam yang semula tenang mendadak berubah tegang hanya karena satu pertanyaan sederhana dari kepala keluarga.

​"Nadira," panggil Doni, mengelap bibirnya dengan serbet kain sebelum menatap putri sulungnya. "Bulan depan kamu umur berapa?"

​Nadira yang baru saja hendak menyuapkan potongan daging sapi ke mulutnya mendadak membeku. Ia menghentikan sendoknya di udara, lalu menatap sang ayah dengan pandangan penuh kewaspadaan.

​"Kenapa Papa nanya-nanya umur? Kan tiap tahun juga Nadira ulang tahun," sahut Nadira pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil mengunyah lambat-lambat.

​Dinan, sang ibu, menghela napas panjang melihat tingkah putrinya. "Mama yang minta Papa tanya. Kamu sadar enggak, Nadira? Tiga puluh. Angka tiga di depan itu tinggal menghitung hari."

​"Dua puluh sembilan sebelas bulan, Ma," potong Nadira cepat. Matanya melotot menegaskan. "Masih ada waktu sebulan. Jangan dibulat-bulatin gitu, dong!"

​Dari sebelah kanan meja, Nadeo—adik laki-laki Nadira yang baru lulus kuliah—hanya menyeringai lebar sambil menyesap teh hangatnya.

​"Alah, sebulan lagi juga tetep aja tiga puluh, Mbak. Gaya bener pake nahan-nahan hari. Hilal jodoh lo aja kagak keliatan," celetuk Nadeo tanpa dosa.

​"Deo! Bisa diam enggak lo?" desis Nadira tajam, menatap adiknya dengan tatapan membunuh. "Gue lagi fokus sama karier ya! Jodoh itu urusan belakangan!"

​"Fokus karier apa fokus patah hati?" balas Nadeo santai. "Bulan lalu nangis-nangis gara-gara Mas Rian yang ternyata udah mau nikah sama cewek lain. Dua bulan sebelumnya nangis gara-gara cowok penyedia jasa mentoring yang ternyata penipu. Tiga bulan lalu—"

​"Nadeo, cukup," tegur Doni halus, meski sudut bibirnya sedikit terangkat melihat kelakuan kedua anaknya.

​"Bener kata adikmu, Nadira," timpal Dinan, menatap Nadira dengan tatapan penuh selidik. "Kamu itu terlalu ceroboh kalau milih cowok sendiri. Selalu aja dapet yang aneh-aneh. Padahal yang jelas-jelas ada di depan mata, yang udah terbukti baiknya, malah kamu cuekin."

​Nadira langsung menghempaskan sendoknya ke piring. Ctek!

​"Jangan mulai deh, Ma. Tolong banget, jangan bahas perjodohan sama Askara lagi. Nadira udah bilang berapa kali, Askara itu sahabat Nadira dari zaman masih main seluncuran di taman!"

​"Sahabat tapi dari dulu jagain kamu terus, kan?" sahut Dinan tak mau kalah. "Kamu pikir Tante Iliana sama Om Alan di sebelah enggak nungguin kamu jadi menantu mereka? Mereka itu dari dulu udah ngode ke Mama terus!"

​"Ya tapi Askara-nya sendiri aja enggak pernah ngomong apa-apa, Ma!" seru Nadira dengan nada gengsi yang meluap-luap. "Askara aja santai! Dia enggak pernah maksain kehendak! Kenapa malah Papa sama Mama yang heboh?"

​Nadeo menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang kakak. "Mbak... Mbak. Kasihan gue sama Mas Ka. Lo-nya aja yang kurang peka atau sengaja nutup mata."

​"Bisa diam enggak, Deo?!"

​Sementara itu, di rumah sebelah yang hanya terpisahkan oleh pagar tanaman hijau, suasana ruang makan keluarga Pradipta jauh lebih tenang.

...****************...

​Alan Pradipta sedang membaca koran digital di tabletnya saat istrinya, Iliana, meletakkan cangkir kopi panas di sampingnya. Di ujung meja yang lain, Askara Pradipta—pria berusia 30 tahun dengan kemeja kerja yang gulungan lengannya sudah disingkap hingga siku—sedang sibuk memeriksa dokumen di laptopnya.

​"Ka," panggil Iliana lembut.

​"Iya, Ma?" sahut Askara tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

​"Tadi siang Mama ketemu Tante Dinan di minimarket depan kompleks."

​"Oh ya? Tante Dinan sehat?"

​"Sehat. Tapi pusing mikirin Nadira," kata Iliana, sengaja memancing reaksi anak tunggalnya itu.

​Jari-jari Askara yang sedang mengetik di atas kibor mendadak berhenti. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap ibunya dengan raut wajah yang tetap tenang, meski tatapan matanya berubah fokus.

​"Kenapa sama Nadira, Ma?"

​Iliana menghela napas, duduk di sebelah anaknya. "Apalagi kalau bukan urusan jodoh? Katanya Nadira kemarin habis nangis-nangis lagi gara-gara cowok yang dideketinnya bermasalah. Mama kasihan sama Tante Dinan. Kamu ini gimana sih, Ka? Saham perusahaan papa kamu yang lain bisa kamu urus, tapi urusan cewek di sebelah rumah kok macet total?"

​Alan terkekeh di balik tabletnya. "Kamu ini, Ma. Jangan mendesak Askara terus. Anak kita ini kan tipe pria penyabar."

​"Sabar sih sabar, Pa! Tapi kalau kelamaan, keburu diambil orang gimana?" seru Iliana gemas. "Kemarin juga pas acara kumpul kolega bisnis Papa, Pak Hendar nawarin anak gadisnya yang baru lulus dari Inggris buat dikenalin sama Askara. Anak Pak Hendar itu cantik, pinter, sopan... Tapi Papa sama Mama kan maunya Nadira!"

​Askara tersenyum kecil. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

​"Ma, Pa," suara Askara terdengar sangat tenang namun berwibawa. "Tawaran dari kolega Papa, tolong ditolak secara halus ya. Askara enggak tertarik."

​"Tuh kan, pasti enggak tertarik karena hatinya udah nyangkut di sebelah," cetus Iliana. "Kalau udah tahu nyangkut di Nadira, kenapa kamu diam aja dari dulu, Ka? Dari kalian SMA, kuliah, sampai sekarang udah sama-sama kerja. Kenapa enggak langsung kamu lamar aja? Orang tua Nadira itu pasti langsung ngerestuin!"

​"Nadira itu punya gengsi yang tinggi banget, Ma," jawab Askara pelan, matanya menerawang membayangkan wajah sahabatnya itu. "Nadira keras kepala. Kalau Askara maksain perjodohan lewat Papa dan Mama, Nadira bakal merasa terpojok. Dia malah bisa lari makin jauh dari Askara."

​"Jadi kamu mau nunggu sampai kapan?" tanya Alan, kini ikut menatap putra tunggalnya itu dengan serius.

​Askari melirik jam tangannya, lalu tersenyum tipis—senyuman misterius yang selalu disembunyikannya dari semua orang, terutama Nadira.

​"Enggak bakal lama lagi kok, Pa, Ma," ujar Askara penuh keyakinan. "Satu bulan lagi."

​Iliana mengernyitkan dahi. "Satu bulan lagi? Ada apa satu bulan lagi?"

​"Ulang tahun Nadira yang ke-30," jawab Askara singkat.

...****************...

​Pukul sepuluh malam. Nadira duduk di ayunan kayu yang ada di halaman samping rumahnya. Udara malam cukup dingin, tapi hatinya jauh lebih panas memikirkan obrolan di meja makan tadi.

​Suara langkah kaki yang sangat ia kenali mendekat dari arah pagar penghubung rumah mereka.

​"Belum tidur?"

​Nadira menoleh dan menemukan Askara berdiri di sana, mengenakan kaos oblong hitam dan celana santai. Pria itu membawa dua kaleng minuman cokelat hangat di tangannya. Askara berjalan mendekat, lalu menyerahkan satu kaleng pada Nadira sebelum duduk di kursi kayu tak jauh dari ayunan.

​"Enggak bisa tidur. Kesel," gerutu Nadira sambil menerima kaleng cokelat itu.

​"Kesel kenapa? Gara-gara nyokap lo bahas nikah lagi?" tanya Askara santai, mengusap puncak kepala Nadira sebentar sebelum membuka kaleng minumannya sendiri.

​"Siapa lagi kalau bukan gara-gara itu!" bentak Nadira pelan, menghentakkan kakinya ke tanah. "Gue sebel banget, Ka! Kenapa sih semua orang di rumah gue selalu ngerasa gue ini cewek malang yang kagak laku-laku? Deo juga ikut-ikutan lagi!"

​"Ya kan emang lo belum ketemu yang pas, Nad," sahut Askara tenang. "Enggak usah dipikirin banget."

​"Tapi harga diri gue terinjak-injak, Ka!" Nadira cemberut, meminum cokelatnya seraya menatap langit malam. "Masa nyokap gue masih aja berusaha jodoh-jodohin gue sama lo? Emang mereka kira kita apaan? Kita kan sahabat!"

​Askara menatap profil wajah Nadira dari samping. Di balik kegelapan malam, tatapan matanya begitu hangat, dalam, dan penuh rasa kerinduan yang ditahannya bertahun-tahun.

​"Sahabat, ya?" gumam Askara pelan.

​"Iya lah! Lagian lo juga pasti ogah kan dinikahin sama cewek kaya gue? Lo kan bisa dapet cewek mana aja yang lo mau. Tante Iliana cerita lo sering dijodohin sama anak kolega Om Alan!"

​Askara terkekeh kecil. "Gue tolak semuanya kok."

​"Tuh kan! Lo aja milih-milih! Masa gue enggak boleh milih?!" seru Nadira bangga.

​Askara menghembuskan napas pelan, lalu menatap Nadira lurus-lurus.

​"Nadira."

​"Apa?"

​"Lo inget janji kita lima tahun lalu di balkon pas lo baru putus dari mantan lo yang pesepak bola itu?"

​Nadira mendadak terdiam. Wajahnya perlahan memerah di dalam kegelapan. "J-janji apaan? Gue lupa."

​"Jangan pura-pura lupa," bisik Askara. Suaranya terdengar makin dalam dan intim, membuat dada Nadira mendadak berdebar aneh. "Waktu itu lo nangis-nangis, terus lo bilang: 'Ka, kalau umur gue 30 tahun belum ada cowok yang nikahin gue, lo wajib nikahin gue! Awas kalau enggak!'"

​"I-itu kan cuma omongan bercandaan orang frustrasi!" sanggah Nadira cepat, berusaha menutupi kegugupannya dengan suara keras. "Gue asal ngomong doang waktu itu!"

​"Tapi gue enggak pernah nganggap itu becandaan, Nad," potong Askara tenang.

​Kata-kata Askara menggantung di udara malam. Nadira menahan napasnya, menatap Askara dengan mata membelalak.

​"M-maksud lo apa?"

​Askara tersenyum tipis, berdiri dari kursinya lalu melangkah mendekati ayunan Nadira. Ia menunduk sedikit, menyejajarkan posisinya dengan wajah Nadira yang membeku.

​"Satu bulan lagi umur lo 30 tahun, Nadira Ruella," tegas Askara tepat di depan wajah Nadira. "Waktu lo buat nyari cowok lain udah habis. Dan gue... udah cukup sabar nunggu lima tahun ini."

BAB 2: Mitos Janji Konyol dan Kopi Favorit

​Nadira melempar tubuhnya ke atas kasur berukuran king size di kamarnya. Wajahnya ditekuk dalam-dalam ke balik bantal empuk, membiarkan suara teriakannya teredam sempurna.

​"Argh! Gila! Gila! Kenapa gue bisa ngomong kaya gitu lima tahun lalu?!" jeritnya frustrasi.

​Ia berbalik menatap langit-langit kamar. Bayangan wajah Askara yang tadi malam menunduk rapat di depan wajahnya—dengan tatapan mata tajam, napas hangat, dan suara berat yang membisikkan kata-kata itu—terus berputar seperti kaset rusak di otaknya.

​“Gue udah cukup sabar nunggu lima tahun ini.”

​"Gila! Askara pasti bercanda! Dia pasti cuma mau nakut-nakutin gue biar gue enggak cerewet lagi!" guman Nadira berusaha menenangkan dirinya sendiri.

​Ia memiringkan badan, mengusap dadanya yang masih berdegup kencang. Secara objektif, Nadira tidak bisa memungkiri kenyataan. Askara Pradipta itu tampan. Sangat tampan. Badannya tegap, tinggi, bahunya lebar, dan perutnya yang terbentuk rapi itu adalah hasil rutin gym yang selalu dipamerkan tanpa sengaja saat pria itu mencuci mobil di akhir pekan. Sikapnya? Jangan ditanya. Askara tidak pernah sekalipun mengecewakan atau menyakiti hatinya selama belasan tahun mereka bersahabat.

​Nadira memejamkan mata rapat-rapat. "Enggak, enggak. Dia itu Askara! Cowok yang pernah gue jejelin cabai rawit pas SMP!"

​Namun, saat matanya terpejam dan kantuk akhirnya menguasai, otak Nadira justru memainkan lelucon yang jauh lebih liar.

​Dalam tidurnya malam itu, Nadira bermimpi. Bukan mimpi dikejar hantu atau jatuh dari jurang, melainkan mimpi yang membuat tubuhnya terbangun dengan napas memburu dan peluh membasahi dahi pada pukul empat pagi. Di dalam mimpi itu, tidak ada batasan 'sahabat'. Ada Askara yang menatapnya penuh gairah, jemari besar pria itu yang mengelus pinggangnya, dan sentuhan-sentuhan intim yang terasa sangat nyata hingga membakar kulitnya.

​"Astaga, Nadira Ruella! Lo beneran udah gila!" pekik Nadira melompat bangun dari tempat tidur. Wajahnya merah padam hingga ke ujung telinga. "Bisa-bisanya gue mikirin Askara ampe kayak gitu?!"

​Pukul tujuh pagi. Seperti biasa, mobil Askara sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Nadira untuk berangkat kantor bersama. Namun pagi ini, begitu mendengar suara klakson mobil Askara, Nadira justru panik setengah mati.

​"Mba Nad! Mas Ka udah nungguin tuh di depan!" teriak Nadeo dari arah dapur sambil mengunyah roti tawar.

​Nadira yang baru turun tangga dengan pakaian kantor rapi langsung menghentikan langkahnya. "Deo! Bilang ke Askara, gue... gue udah berangkat duluan pake taksi online!"

​Nadeo mengernyitkan dahi. "Lah? Taksi online darimana? Orang lo baru turun tangga—"

​"Bilang aja gitu! Susah amat sih lo!" potong Nadira setengah berbisik tajam. Ia langsung balik kanan dan berlari kecil lewat pintu samping rumah menuju garasi motor, menyelinap keluar sebelum Askara menyadarinya.

​Nadeo yang berjalan ke depan pagar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Di luar, Askara sedang bersandar di pintu mobilnya, mengenakan kemeja biru gelap yang digulung rapi hingga siku.

​"Pagi, Deo. Kakak lo mana?" tanya Askara tenang.

​Nadeo menjawab dengan polos. "Udah kabur lewat pintu samping, Mas. Katanya naik taksi online."

​Askara tidak terkejut. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman tipis yang sudah bisa ditebak. "Kabur lagi, ya?"

​"Biasa, Mas. Gengsi setinggi langit. Lagian Mas Ka ngomong apa semalam sampai Mbak Nad mukanya panik gitu pas turun tangga?"

​"Cuma mengingatkan janji lama," jawab Askara santai. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel. "Ya udah, gue berangkat dulu."

​"Siap, Calon Kakak Ipar!" seru Nadeo sambil tertawa.

...****************...

​Di kantor Ruella Creative, suasana pagi itu terasa sangat canggung—setidaknya bagi Nadira. Ia duduk di kursi kerjanya dengan pandangan kosong menatap layar monitor. Pekerjaannya terbengkalai. Draf desain untuk proyek rebranding klien terbesarnya minggu ini bahkan belum tersentuh sama sekali.

​"Fokus, Nadira, fokus!" bisiknya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. "Cuma mimpi! Itu cuma bunga tidur konyol gara-gara lo ketakutan semalem!"

​Tok! Tok!

​Pintu ruang kerjanya terbuka. Odelia—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang super ceplas-ceplos—masuk membawa sebuah kantong kertas dari kedai kopi ternama dan satu porsi croissant hangat.

​"Pagi, Ibu Direktur yang mukanya kayak belum dimaafkan dosanya," sapa Odelia santai sambil meletakkan minuman dan makanan itu di atas meja Nadira.

​Nadira mengernyit. "Apaan nih? Gue kan belum pesen kopi."

​Odelia menyilangkan dada, menatap Nadira dengan pandangan geli. "Bukan dari gue. Dari 'Pengawal Setia' lo tuh. Tadi kurir ojek online nganterin ke depan. Ada catatannya nih."

​Odelia menyodorkan selembar kertas sticky note berwarna kuning yang menempel di cup kopi. Nadira mengambilnya dengan tangan sedikit gemetar.

​Iced Caramel Macchiato, extra shot, less sugar. Jangan lupa dimakan croissant-nya. Jangan kabur-kabur lagi, nanti kaki lo capek.

- A

​Nadira menahan napasnya. Kopi favoritnya. Dan Askara tahu persis bahwa hari ini Nadira sedang menghindarinya, jadi pria itu memilih tidak mengantarkannya secara langsung agar Nadira tidak makin tertekan.

​"Kenapa tuh muka? Merah amat kayak udang rebus," ledek Odelia, mengambil kursi di depan meja Nadira dan duduk di sana.

​"Gak ada apa-apa," sahut Nadira cepat, menyembunyikan kertas kecil itu ke dalam laci mejanya.

​"Halah, halah! Bohong banget," Odelia memajukan badannya. "Lo ada masalah apa lagi sama Pak Bos Askara Pradipta? Tadi pagi gue dengar lo berangkat naik taksi, padahal biasanya nebeng mobil mewahnya Pak Askara."

​Nadira menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri di atas meja. Rasa frustrasi yang tertahan sejak semalam akhirnya tidak sanggup ia simpan sendiri.

​"Del... gue mau cerita, tapi lo janji jangan ketawa dan jangan ember ya?"

​"Iya, demi Tuhan! Cepetan cerita, gue udah kepo dari tadi!"

​Nadira menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan pintu ruangannya tertutup rapat. "Lo inget kan... cerita gue soal janji konyol umur 30 tahun yang pernah gue omongin ke Askara?"

​"Inget banget! Yang lo bilang kalau lo belum nikah umur 30, Askara wajib nikahin lo itu kan?"

​"Nah! Semalem... semalem Askara ngungkit itu lagi, Del!" bisik Nadira histeris. "Dia ngomongnya serius banget! Katanya waktu gue udah habis, dan dia udah cukup sabar nunggu lima tahun!"

​Mata Odelia membelalak, lalu detik berikutnya wanita itu justru menepuk tangannya girang. "DEMI APA?! Pak Askara ngomong gitu?!"

​"Ssstt! Pelan-pelan suara lo!" tegur Nadira panik. "Gue serius, Del! Gue pusing banget! Terus... terus semalem gue malah bermimpi aneh lagi tentang dia!"

​Odelia menyeringai nakal. "Mimpi aneh gimana? Mimpi basah ya lo?"

​"ODELIA!"

​"Hahaha! Muka lo ketahuan banget, Nad!" Odelia tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya. "Aduh, kasihan banget sahabat gue. Makanya, jangan sok gengsi! Lagian kurang apa coba Askara?"

​"Ya tapi kan kita sahabat, Del! Dari zaman bau kencur!" sanggah Nadira defensif. "Gue gengsi lah kalau tiba-tiba harus nikah sama dia cuma gara-gara janji umur 30! Kesannya gue gak laku banget!"

​"Dengar ya, Nadira Ruella yang otaknya agak geser," ujar Odelia serius, menatap matanya dalam-dalam. "Lo itu emang gak laku kalau nyari cowok sendiri! Dapetnya yang red flag, yang udah punya tunangan, yang penipu... Lo itu butuh diselamatkan dari kriteria cowok aneh lo sendiri!"

​"Kok lo malah ngebela Askara sih?!"

​"Bukan ngebela, tapi fakta!" seru Odelia. "Askara itu idaman semua wanita se-Indonesia Raya, Nad! Ganteng, kaya, mapan, pinter, dan yang paling penting... dia itu cuma sabar sama lo! Lo pikir ada cowok lain yang mau nampung drama lo selama lima tahun terakhir?"

​Nadira bungkam. Kata-kata Odelia menyentuh bagian paling jujur di hatinya, meski gengsinya masih berusaha menolak.

​"Lagian ya," lanjut Odelia sambil menyandarkan punggungnya. "Lo tahu gak proyek rebranding PT Megah Nusantara yang lagi kita pegang ini?"

​Nadira mengernyit. "Tahu lah. Kenapa? Tadi pagi pihak sana tiba-tiba telepon, katanya berkas kerja samanya langsung disetujui tanpa revisi berbelit-belit. Tumben banget, padahal kemarin-kemarin mereka agak alot."

​Odelia tersenyum bermakna. "Lo pikir kenapa mereka mendadak manis begitu?"

​"Ya... mungkin karena konsep gue bagus?"

​"Konsep lo emang bagus. Tapi yang bikin Komisaris PT Megah Nusantara langsung tanda tangan tadi pagi itu karena ada investor baru yang masukin dana suntikan segar sebesar lima miliar khusus buat mendanai proyek yang dipegang sama perusahaan lo!"

​Nadira melotot kaget. "Lima miliar?! Siapa investornya?!"

​Odelia menunjuk ke arah cup kopi Caramel Macchiato di atas meja Nadira. "Siapa lagi kalau bukan Pradipta Group? Perusahaannya Askara."

​Nadira tertegun. Tangannya yang memegang cangkir kopi membeku seketika. "Askara... suntik dana buat proyek gue?"

​"Iya, Sayangku!" sahut Odelia gemas. "Dia tahu proyek ini penting banget buat karier lo, dan dia tahu lo lagi stres gara-gara kliennya kemarin alot. Dia bantu lo dari belakang tanpa minta dipuji-puji atau dipamerin. Masih kurang bukti apa lagi kalau Askara itu tulus banget sama lo?"

​Nadira menatap cup kopi dingin di tangannya. Rasa hangat mendadak menjalar ke dadanya, bercampur dengan rasa bersalah yang teramat sangat karena sudah melarikan diri tadi pagi.

​Di saat yang sama, telepon genggam Nadira bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor Askara.

​Kopinya diminum, Nad. Jangan lupa makan siang. Kalau proyeknya udah beres, sore ini gue jemput. Jangan kabur lagi ya, kasihan kaki lo nanti pegal naik angkutan umum.

​Nadira memegangi dadanya yang berdegup makin kencang. Dinding gengsi yang selama ini dibangung rapat-rapat, perlahan tapi pasti, mulai goyah di tembak perhatian-perhatian kecil pria itu.

BAB 3: Hujan, Sandal Pink, dan Senyum yang Tertahan

​Langit di atas Jakarta menggelap hanya dalam hitungan menit. Angin kencang berembus menyapu kaca-kaca gedung Ruella Creative, disusul gemuruh guruh yang menandakan hujan deras akan segera mengguyur.

​Nadira melangkah keluar dari lif lobby bersama Odelia. Begitu sampai di pintu kaca utama, air hujan sudah tercurah bagai ditumpahkan dari langit. Suara gemericik air memantul keras di atas aspal.

​"Waduh, deras banget, Nad," kata Odelia sambil merapatkan blazernya. "Untung gue udah pesen taksi online dari lima menit lalu."

​Nadira menghela napas, matanya liar menyapu area parkir luar. "Iya nih..."

​"Mata lo nyari siapa sih? Nyari 'bapak investor' ya?" ledek Odelia, menyenggol bahu Nadira.

​"Apaan sih! Siapa juga yang nyari Askara," sahut Nadira defensif, meski matanya tetap bergerak ke arah deretan mobil di halaman depan.

​Tak sampai satu menit, sebuah SUV hitam yang sangat familiar berhenti tepat di depan tangga lobby. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi keluar membawa payung hitam besar.

​Askara. Pria itu melangkah tenang membelah rintik hujan yang mulai membasahi bahunya.

​"Tuh kan, baru aja diomongin," bisik Odelia sambil tersenyum penuh arti. "Gue duluan ya, Nad! Taksi gue udah sampai belakang mobil calon suami lo tuh. Bye!"

​"Odelia, tunggu dulu—"

​"Dahhh! Semangat menjalin hubungan sahabat jadi cinta!" potong Odelia cepat, berlari kecil menerobos hujan menuju mobilnya tanpa membiarkan Nadira membalas.

​Nadira berdiri mematung di tempatnya. Jantungnya mendadak berdegup tak beraturan saat Askara kian mendekat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Askara melepas mantel jas hitam yang melingkupi bahunya, lalu menyampirkannya ke bahu Nadira yang hanya mengenakan blus tipis. Aroma parfum maskulin bercampur kayu manis khas Askara langsung menyeruak, membuat saraf-saraf Nadira menegang seketika.

​"Pakai mantelnya. Udaranya dingin," ujar Askara pelan. Suaranya berat namun lembut.

​"K-kenapa lepas mantel? Nanti baju lo basah, Ka," cicit Nadira pelan. Suaranya menghilang entah ke mana, kehilangan nada galak yang biasanya selalu mengudara.

​Askara mengamati wajah Nadira. Perempuan yang biasanya galak bak kucing liar itu tiba-tiba berubah menunduk malu, mengusap bahunya sendiri di dalam mantel besarnya. Sudut bibir Askara terangkat sedikit. Gemas sekali. Kucing liarnya ini mendadak berubah menjadi anak kucing yang imut saat gugup.

​"Ayo masuk mobil," bisik Askara seraya membuka payung lebar-lebar di atas kepala Nadira, merangkul bahu wanita itu erat agar tidak terkena tetesan air hujan.

​Di dalam mobil, suasana mendadak senyap. Hanya ada suara hujan yang memukul atap mobil dengan keras dan deru pendingin udara yang berhembus pelan. Nadira duduk kaku di kursi penumpang, tangannya meremas ujung mantel Askara yang masih melekat di tubuhnya.

​Askara menyalakan mesin mobil, namun ia tidak langsung menginjak pedal gas. Ia berbalik menjangkau dashboard belakang, mengambil sebuah botol kecil berlabel hijau dan satu cangkir termos.

​"Nih," Askara menyodorkan botol kecil itu.

​Nadira mengernyit, menatap botol minyak kayu putih di tangan Askara. "Apaan?"

​"Minyak kayu putih. Lo kalau kena dingin dikit kan langsung kembung sama masuk angin," kata Askara datar. "Usap di perut sama dada lo."

​"Gue gak papa kok! Gak usah sok perhatian deh," tolak Nadira pelan, mencoba menyembunyikan rasa bahagianya di balik gengsi tinggi. "Gue bukan anak kecil lagi, Ka."

​Askara tidak membalas penolakan itu. Ia justru menghela napas panjang, merengkuh pergelangan kaki kanan Nadira tanpa permisi, dan mengangkatnya perlahan ke atas pangkuannya.

​"Eh! Ka! Mau ngapain?!" seru Nadira kaget, wajahnya memerah padam. "Lepasin kaki gue!"

​"Jangan rewel, Nadira," tegur Askara tegas namun lembut. Tangannya bergerak terampil melepas high heels hitam sembilan sentimeter yang membungkus kaki mulus sahabatnya itu. "Nih kan. Bener dugaan gue. Kaki lo lecet lagi."

​Nadira meringis kecil saat jari Askara menyentuh tumit belakangnya yang memerah dan terkelupas akibat gesekan sepatu.

​"Udah tahu heels ini bikin lecet, kenapa masih dipakai sih?" omel Askara pelan. Ia mengambil kain kasa tipis dari kotak P3K di bawah kursi, lalu menuangkan sedikit minyak kayu putih di telapak kakinya yang dingin, mengoleskannya sangat perlahan agar tidak kena pada bagian tumit yang terluka.

​"Ya kan tuntutan kerjaan, Ka... Biar kelihatan profesional," gumam Nadira membela diri, matanya tak bisa berpaling dari jemari Askara yang dengan telaten memijat lembut telapak kakinya.

​"Profesional gak harus menyiksa diri sendiri, Nad," balas Askara. Setelah membalut luka lecetnya dengan plester transparan, Askara meraih sebuah kantong kain di bawah kursi belakang. Ia mengeluarkan sepasang sandal karet empuk berwarna pink cerah.

​Nadira melotot saat melihat sandal itu. "Sandal pink lagi?!"

​Askara terkekeh kecil, memasangkan sandal pink itu ke kaki Nadira dengan hati-hati. "Kenapa? Sandal pink yang kemarin di mobil rusak ya? Ini sandal keseratus yang gue beliin buat lo. karena lo selalu lecet karena heels."

​"Warna lain kan ada, Ka! Kenapa harus pink neon begini terus? Norak tahu!" protest Nadira, meski kakinya terasa jauh lebih nyaman dan hangat di dalam sandal itu.

​"Biar matching sama muka lo kalau lagi ngambek," sahut Askara santai. Ia kemudian menyodorkan cangkir termos yang tadi disiapkannya. "Minum nih. Cokelat panas. Gula-nya cuma satu sendok, sesuai selera lo."

​Nadira menerima cangkir hangat itu dengan perasaan yang campur aduk. Dinding gengsinya rasanya makin hancur lebur. Perhatian-perhatian kecil ini... Askara selalu melakukannya tanpa pernah absen selama belasan tahun. Kenapa selama ini ia begitu buta sampai tidak menyadarinya?

​"Makasih, Ka..." bisik Nadira pelan.

​"Sama-sama," jawab Askara lembut, tangannya terulur mengusap puncak kepala Nadira sebentar sebelum kembali memegang kemudi.

​Mobil melaju membelah kemacetan Jakarta di tengah guyuran hujan lebat. Kehangatan cokelat panas dan hembusan AC yang pas perlahan-lahan membuat kelopak mata Nadira terasa amat berat. Semalam ia hampir tidak tidur memikirkan janji dan mimpinya tentang Askara, ditambah rasa lelah bekerja seharian.

​Hanya dalam waktu sepuluh menit, kepala Nadira terkulai lemah ke samping, bersandar pada kaca jendela mobil. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur halus.

​Di lampu merah, Askara menghentikan laju mobilnya. Ia menoleh ke samping kiri, menatap wajah polos wanita yang telah menyita seluruh isi hatinya selama bertahun-tahun.

​Lampu jalanan yang remang memantulkan bayangan indah di wajah Nadira. Hidungnya sedikit memerah karena udara dingin, dan kedua pipinya merona alami. Askara mengulurkan tangannya, dengan lembut mengelus hidung merah itu menggunakan ibu jarinya, lalu berpindah menyapu pipi mulusnya.

​Pandangan Askara kemudian turun, terkunci pada bibir merah muda Nadira yang sedikit terbuka. Bibir yang selalu mengomelinya, bibir yang selalu mengucakan kata-kata gengsi, namun kini terlihat begitu menggiurkan dan manis.

​Tahan, Ka... Sedikit lagi, bisik batin Askara, menelan ludahnya kasar. Rasanya ia ingin sekali memajukan wajahnya dan menyesap bibir itu sepuasnya, menagih hak yang sudah ia tunggu selama lima tahun. Namun ia tahu, ia harus bersabar sampai ikatan suci itu benar-benar mengikat mereka.

​"Sebentar lagi lo bakal jadi milik gue seutuhnya, Nad," bisik Askara lirih, mengusap lembut sudut bibir Nadira sebelum menarik tangannya kembali.

​Satu jam kemudian, SUV hitam Askara berhenti di garasi rumah keluarga Ruella. Hujan sudah mereda menjadi gerimis tipis.

​Askara mematikan mesin mobil, lalu keluar dan memutar ke pintu penumpang. Ia melihat Nadira yang masih tertidur sangat lelap, sama sekali tidak terganggu oleh suara mesin mobil yang mati.

​Tanpa berniat membangunkan, Askara merengkuh tubuh molek Nadira dengan perlahan. Satu tangannya menopang punggung Nadira, dan tangan lainnya menyangga bagian belakang lutut wanita itu. Dengan mudah, Askara menggendong Nadira dalam pelukannya.

​Pintu depan rumah Ruella terbuka bahkan sebelum Askara mengetuknya. Dinan dan Doni berdiri di sana dengan senyum lebar, sementara Nadeo bersandar di pintu sambil menyilangkan tangan.

​"Aduh, anak gadis Mama tidur lagi?" bisik Dinan geleng-geleng kepala melihat putrinya digendong bak putri raja.

​"Kebiasaan, Tante. Kena hujan dikit langsung ketiduran di mobil," sahut Askara pelan, berusaha tidak membuat pergerakannya memicu bangunnya Nadira.

​"Bawa ke kamarnya aja langsung, Ka," kata Doni tersenyum hangat. "Gantian kamu yang capek gara-gara anak ini."

​"Enggak capek kok, Om. Askara permisi ke atas dulu ya."

​Askara melangkah menaiki tangga rumah yang sudah sangat ia hafal luar kepala. Nadeo mengikutinya dari belakang untuk membukakan pintu kamar Nadira.

​"Gila ya si Mbak, udah umur mau tiga puluh masih aja di papah-dipeluk kayak bayi," bisik Nadeo terkekeh pelan di depan pintu kamar. "Mas Ka emang calon suami tersabar se-alam semesta."

​Askara hanya tersenyum tipis. Ia melangkah masuk ke kamar bernuansa krem itu, membaringkan tubuh Nadira di atas kasur dengan amat sangat hati-hati. Ia melepas sandal pink dari kaki Nadira, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi dada wanita itu.

​Sebelum berbalik pergi, Askara menunduk perlahan. Di bawah remang lampu kamar, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut yang hangat di dahi Nadira—sebuah kecupan yang menyimpan seluruh rasa cinta, kesabaran, dan janji masa depan mereka.

​"Selamat tidur, Calon Istri," bisik Askara lembut di telinga Nadira, sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!