Indonesia
NovelToon NovelToon

THE LAZY GENIUS

BAB 1: Titik Awal Kematian

Hidup Yamada sebenarnya tidak buruk.

Kalimat itu kalau diucapkan orang lain mungkin terdengar seperti keluhan yang disamarkan. Tapi bagi Yamada, itu adalah kesimpulan jujur setelah 17 tahun hidup.

Justru bisa dibilang terlalu nyaman.

Ayahnya bukan konglomerat, tapi juga bukan orang yang harus menghitung koin receh di akhir bulan. Ibunya bukan tipe ibu yang menuntut anaknya harus jadi juara kelas, peringkat satu, masuk universitas ternama. Rumahnya tidak besar, tapi tidak bocor saat hujan. Kamarnya tidak luas seperti di drama-drama, tapi cukup untuk meletakkan kasur, meja belajar yang jarang dipakai untuk belajar, dan sebuah kipas angin tua yang suaranya sudah seperti teman tidur.

Tidak ada kemiskinan yang membuatnya kelaparan. Tidak ada penyakit berat yang membuatnya terbaring di rumah sakit dengan selang di mana-mana. Tidak ada musuh yang mengejarnya dengan dendam masa lalu. Tidak ada trauma besar yang menghantui setiap malam. Bahkan kehidupannya jauh lebih mudah dibandingkan kebanyakan orang yang dia lihat di sekelilingnya.

Teman-temannya mengeluh soal les tambahan sampai jam sembilan malam. Yamada tidak pernah ikut les.

Teman-temannya mengeluh soal orang tua yang memarahi mereka karena nilai turun dua poin. Orang tua Yamada hanya akan berkata, "Ya sudah, yang penting naik kelas."

Teman-temannya mengeluh soal cinta bertepuk sebelah tangan, soal persahabatan yang rumit, soal gengsi. Yamada tidak pernah masuk terlalu dalam ke hal-hal seperti itu.

Semuanya berjalan di jalur yang datar. Terlalu datar, bahkan.

Masalahnya hanya satu.

Yamada malas.

Sangat malas.

Bukan malas dalam artian dia tidak bisa melakukan apa-apa. Justru sebaliknya. Dia malas karena dia tahu, kalau dia mau, dia bisa melakukan hampir semuanya. Dan pemikiran bahwa dia harus melakukan sesuatu hanya karena dia bisa melakukannya, baginya adalah sebuah ketidakadilan kosmik.

"Yamada, kau sudah mengerjakan tugasnya?"

Suara seorang teman terdengar dari samping. Suara itu milik Sato. Sato adalah tipe murid yang hidupnya teratur. Buku catatannya selalu rapi, dengan stabilo warna-warni. Tugasnya selalu dikumpulkan tepat waktu. Rambutnya pun selalu disisir rapi, tidak seperti Yamada yang seolah-olah baru bangun tidur meski sudah jam dua siang.

Yamada yang sedang duduk di bangku baris ketiga dari jendela hanya mengangkat kepalanya sedikit. Kepalanya tadi terbenam di lipatan lengannya. Meja kayu itu terasa hangat karena sinar matahari sore yang masuk dari jendela. Debu-debu beterbangan di dalam cahaya itu, terlihat seperti bintang-bintang kecil yang malas bergerak.

"Belum," jawab Yamada. Suaranya serak dan pelan, suara khas orang yang baru saja tertidur.

"Besok dikumpulkan!" Sato setengah berbisik, setengah panik. Dia melirik ke arah guru yang sedang menulis di papan tulis. Kapur itu berdecit pelan.

"Masih ada waktu," jawab Yamada lagi, tanpa beban.

"Itu yang kau katakan tiga hari lalu." Sato mendesis.

Yamada kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Pipinya menempel di permukaan kayu yang sedikit dingin sekarang.

"Berarti aku masih konsisten," gumamnya.

Sato mendengus keras. "Dasar pemalas."

Yamada tersenyum tipis. Senyum yang hampir tidak terlihat karena sebagian wajahnya tertutup lengan.

Dia tidak membantah.

Memang benar.

Sejak kecil, Yamada selalu seperti itu.

Ketika anak-anak lain di taman kanak-kanak harus berjam-jam belajar menulis huruf 'A' dengan benar, Yamada hanya perlu melihat sekali. Tangannya yang kecil langsung bisa menirunya. Gurunya memujinya, "Wah, Yamada pintar!" Saat itu Yamada belajar satu hal penting: pujian itu merepotkan. Karena setelah dipuji pintar menulis 'A', dia disuruh menulis 'B' sampai 'Z' di depan semua anak sebagai contoh.

Ketika SD, saat pelajaran matematika, guru menjelaskan tentang pembagian panjang. Anak-anak lain mengernyitkan dahi, menggigit pensil, saling bertanya. Yamada mendengarkan selama tiga puluh detik, lalu mengerti polanya. Angka-angka itu seperti balok-balok yang bisa dia susun di kepalanya. Tapi dia tidak mengangkat tangan. Untuk apa? Kalau dia mengangkat tangan dan menjawab dengan benar, dia akan disuruh maju ke depan. Dan maju ke depan berarti berdiri. Berdiri itu melelahkan.

Matematika?

Mudah. Terlalu mudah sampai membosankan.

Bahasa?

Mudah. Dia hanya perlu membaca sekali, dan struktur kalimat, arti kata, semuanya tertinggal di otaknya seperti jejak di pasir basah.

Fisika?

Tidak terlalu sulit. Rumus-rumus itu hanyalah bahasa lain untuk menjelaskan hal-hal yang sudah dia lihat setiap hari. Apel jatuh, bola menggelinding, lampu menyala.

Olahraga?

Kalau dia mau berlatih, dia bisa mengejar orang yang sudah bertahun-tahun berlatih. Refleksnya bagus. Keseimbangan tubuhnya bagus. Di pelajaran lari 50 meter, dia sengaja lari dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat sampai mencolok, tidak terlalu lambat sampai dihukum lari lagi. Dia sudah menghitung kecepatan rata-rata kelas di kepalanya.

Bahkan ketika pertama kali mencoba sesuatu yang baru, Yamada biasanya bisa memahami dasar-dasarnya hanya dengan mengamati. Dia melihat cara kakak kelasnya bermain basket, cara melempar bola, tumpuan kaki, putaran pergelangan tangan. Dia mencobanya sekali di jam istirahat saat lapangan sepi, dan bola itu masuk. Dia langsung berhenti bermain, takut ada yang melihat.

Namun ada satu alasan mengapa hampir tidak ada orang yang menyadari kemampuannya.

Yamada tidak pernah merasa perlu menunjukkannya.

Menurutnya, menjadi hebat terdengar melelahkan. Menjadi hebat adalah sebuah kontrak sosial yang tidak pernah dia tanda tangani.

Jika mendapat nilai tertinggi, orang akan mulai memperhatikannya. Guru akan berkata, "Yamada, coba bantu temanmu yang kesulitan." Teman-teman akan datang, "Yamada, ajari aku dong." Dan dia harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah jelas. Itu buang-buang energi.

Jika memenangkan perlombaan, orang akan meminta bantuan. "Wah, kau jago lari, ikut lomba antar sekolah ya!" Lalu dia harus latihan pagi, latihan sore, mengorbankan waktu tidurnya yang berharga.

Jika menunjukkan bahwa dia mampu melakukan sesuatu, orang akan memberikan lebih banyak pekerjaan. Dunia ini aneh. Ketika kau menunjukkan bahwa kau bisa memikul 10 kilo, mereka tidak akan memujimu, mereka akan memberimu 20 kilo untuk dipikul. Yamada sudah menyadari hukum tidak tertulis itu sejak kecil.

Dan bagi Yamada...

Itu adalah hal yang paling ingin dia hindari.

Dia memiliki sebuah filosofi hidup yang dia pegang teguh, yang tidak pernah dia ceritakan pada siapa pun karena menjelaskan filosofi juga terdengar melelahkan.

Filosofi itu sederhana: Hidup adalah tentang meminimalkan pengeluaran energi untuk memaksimalkan kenyamanan.

Karena itu, dia memilih berada di tengah.

Tidak terlalu pintar. Nilai 70 sampai 75 sudah cukup. Aman. Tidak dipanggil orang tua, tidak disuruh ikut remedial.

Tidak terlalu bodoh. Nilai 40 itu merepotkan. Harus ikut kelas tambahan, harus berurusan dengan guru BP.

Tidak terlalu kuat. Kalau terlalu kuat, disuruh angkat-angkat barang saat festival sekolah.

Tidak terlalu lemah. Kalau terlalu lemah, jadi bahan bullying dan itu juga merepotkan.

Cukup untuk dianggap normal. Cukup untuk menjadi bayangan. Cukup untuk menjadi "oh, Yamada yang itu ya" dan kemudian dilupakan.

Sederhana.

Tenang.

Tidak merepotkan.

Itulah kehidupan ideal Yamada. Kehidupan yang sudah dia rancang dengan sangat hati-hati, dengan kemalasan yang sangat rajin.

Setidaknya sampai hari itu. Sampai hari di mana rancangan yang begitu sempurna itu retak hanya karena sebuah persimpangan jalan.

Sore menjelang malam.

Bel sekolah sudah berbunyi sekitar dua puluh menit yang lalu. Sebagian besar siswa sudah pulang, atau masih tertahan di klub masing-masing. Suara pantulan bola basket dari lapangan masih terdengar samar-samar, bercampur dengan suara cicada yang mulai pelan karena musim panas hampir berakhir.

Yamada berjalan sendirian menyusuri trotoar setelah meninggalkan sekolah. Tasnya disampirkan di satu bahu saja, dengan cara yang paling tidak menyeimbangkan tapi paling malas. Seragamnya sedikit kusut.

Langit berwarna jingga. Bukan jingga biasa. Ini adalah jingga yang pekat, yang hanya muncul di antara pukul lima dan enam sore, saat matahari seolah-olah ragu-ragu untuk tenggelam. Awan-awan tipis tersapu angin, berubah warna dari putih menjadi oranye, lalu menjadi ungu pudar di ujungnya.

Angin sore bertiup pelan. Angin itu membawa bau rumput yang baru dipotong dari lapangan, bau knalpot yang samar dari jalan raya, dan bau manis dari toko roti di ujung jalan.

Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berjalan tanpa terburu-buru. Langkahnya pendek-pendek. Tidak ada tujuan untuk berjalan cepat. Lagi pula, rumahnya hanya berjarak lima belas menit jalan kaki. Tidak ada yang menunggunya di rumah dengan urgensi. Ibunya mungkin sedang menonton TV, ayahnya mungkin belum pulang.

"Akhirnya pulang," gumamnya pelan. Suaranya hampir hilang tertiup angin.

Pikirannya langsung membayangkan tempat tidur. Bukan tempat tidur yang rapi dengan selimut dilipat seperti di hotel. Tapi tempat tidurnya sendiri. Selimut yang sedikit kusut, bantal yang sudah membentuk lekukan persis sesuai bentuk kepalanya, guling yang sudah agak kempes karena terlalu sering dipeluk. Dia membayangkan betapa dinginnya lantai kayu saat kakinya menyentuhnya setelah melepas sepatu. Dia membayangkan suara kipas angin tua itu.

Tidak ada pekerjaan.

Tidak ada tugas. Ya, tugas yang ditanyakan Sato tadi memang belum dikerjakan, tapi itu adalah masalah Yamada di masa depan. Bukan masalah Yamada yang sekarang. Yamada yang sekarang hanya ingin tidur.

Tidak ada orang yang meminta sesuatu.

Hanya tidur. Tidur siang yang berubah menjadi tidur sore, yang kemudian berlanjut menjadi tidur malam. Sebuah siklus kemalasan yang sempurna.

bab 1,1

Sebuah kehidupan yang sempurna.

Yamada berhenti di depan sebuah toko kelontong kecil. Toko itu milik seorang nenek tua yang sudah dia kenal sejak SD. Di balik kaca etalase yang sedikit berdebu, berjejer makanan ringan. Ada yang berwarna kuning menyala, ada yang berwarna coklat, ada yang dibungkus dengan gambar karakter kartun yang sedang tersenyum lebar.

Matanya tertuju pada makanan ringan yang terpajang di balik kaca. Sebuah roti krim yang terlihat lembut. Krimnya sepertinya vanilla.

Perutnya, yang sejak tadi diam, tiba-tiba memberikan sinyal protes kecil.

Dia berpikir selama beberapa detik. Proses berpikir yang berat.

"Mau beli..." gumamnya. Tangannya bergerak menuju saku, menuju dompet yang ada di dalamnya. Dompetnya terasa ada. Uang recehnya pasti cukup.

Kemudian, tepat saat ujung jarinya menyentuh resleting dompet, sebuah rasa malas yang lebih besar datang.

Tangannya berhenti.

"...tapi malas."

Malas mengeluarkan dompet. Malas membuka resleting. Malas menghitung uang. Malas menunggu nenek itu mengambilkan roti, memasukkannya ke kantong plastik, dan memberikan kembalian. Malas membawa kantong plastik itu sambil berjalan. Terlalu banyak langkah. Terlalu banyak interaksi sosial yang tidak perlu untuk sebuah roti krim.

Dia menarik tangannya kembali dan memasukkannya lagi ke dalam saku.

Dia berjalan lagi. Meninggalkan toko itu dan roti krim vanilla yang malang itu.

Beberapa meter kemudian, seolah-olah sebagai balasan atas keputusannya yang malas, perutnya berbunyi. Bukan bunyi kecil. Bunyinya cukup keras. "Gruuuk."

Yamada terdiam di tengah trotoar. Seorang ibu-ibu yang lewat sambil membawa belanjaan meliriknya sekilas.

"...Aku benci diriku sendiri," desisnya pelan, dengan nada yang setengah serius, setengah pasrah.

Namun dia tetap tidak kembali. Prinsip adalah prinsip. Kalau sudah memutuskan malas, harus konsisten. Kembali ke toko sekarang akan membuat kemalasannya tadi menjadi sia-sia. Itu tidak efisien.

Begitulah Yamada.

Bahkan untuk membeli makanan pun rasa malasnya bisa menang melawan rasa laparnya sendiri. Dia adalah seorang profesional di bidang kemalasan.

Dia terus berjalan sambil memainkan ponselnya. Ponselnya tidak menampilkan apa pun yang penting. Hanya layar kunci yang dia nyalakan dan matikan berulang kali. Atau scrolling timeline tanpa benar-benar membaca. Kebiasaan kosong untuk membuat tangannya sibuk.

Tidak ada yang aneh.

Sore itu terasa seperti sore-sore lainnya. Jalanan tidak terlalu ramai. Beberapa anak SD berlarian dengan tas besar di punggung mereka. Seorang bapak-bapak mengendarai sepeda dengan pelan.

Tidak ada firasat buruk. Tidak ada bulu kuduk yang berdiri. Tidak ada firasat seperti di film-film di mana tokoh utama merasa hari itu adalah hari terakhirnya.

Tidak ada tanda bahwa hidupnya akan berakhir hari itu. Tidak ada tanda bahwa semua rencananya untuk tidur seharian akan dibatalkan secara permanen oleh alam semesta.

Sampai—

BRUUUUK!

Suara keras terdengar dari persimpangan di depan. Persimpangan yang hanya berjarak sekitar tiga puluh meter dari tempatnya berdiri.

Yamada mengangkat kepalanya. Gerakannya refleks.

Sebuah kendaraan. Sebuah truk pengangkut barang yang ukurannya cukup besar, kehilangan kendali. Mungkin remnya blong. Mungkin sopirnya mengantuk. Yamada tidak tahu. Dan pada detik itu, penyebabnya tidak penting.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Terlalu cepat bahkan untuk otak Yamada yang biasanya bisa memproses sesuatu dengan cepat.

Orang-orang berteriak. Bukan teriakan yang jelas, tapi teriakan kaget yang tertahan.

Rem menjerit. Suara decitan ban yang melengking, suara logam yang bergesekan dengan aspal. Bau karet terbakar tiba-tiba menyengat, mengalahkan bau roti manis tadi.

Ban bergesekan dengan aspal, meninggalkan jejak hitam panjang.

Yamada melihat kendaraan itu bergerak ke arahnya. Tidak lurus. Kendaraan itu berputar sedikit, meluncur miring, menyapu trotoar tempat dia berdiri.

Dalam situasi seperti itu, kebanyakan orang mungkin akan panik. Otak mereka akan kosong. Kaki mereka akan kaku. Mereka akan berteriak.

Namun pikiran Yamada justru menjadi sangat jernih. Mungkin ini adalah pertama kalinya dalam 17 tahun hidupnya, otaknya bekerja 100% tanpa dibatasi oleh rasa malas.

Waktu seolah melambat.

Jarak sekitar dua belas meter. Dia mengukurnya secara insting.

Kecepatan kendaraan... terlalu tinggi. Mungkin 60 atau 70 kilometer per jam. Tidak mungkin berhenti.

Waktu sebelum tabrakan mungkin kurang dari dua detik. Satu koma delapan detik, pikirnya.

Matanya bergerak cepat. Bukan karena panik, tapi karena kalkulasi.

Kiri. Ada tembok pembatas toko. Kalau menghindar ke kiri, dia akan terjepit di antara truk dan tembok. Tidak ada ruang.

Kanan. Ada selokan kecil dan tiang lampu. Kalau melompat ke kanan, kakinya mungkin tersangkut selokan. Dia akan jatuh, dan truk masih bisa menyeretnya.

Trotoar. Sempit.

Tiang lampu. Terlalu dekat.

Tidak ada jalan yang cukup aman. Tidak ada opsi yang memberikan kemungkinan selamat 100%. Semua opsi yang ada di kepalanya memiliki probabilitas cedera yang tinggi.

Tubuhnya sudah mulai bergerak. Otot-otot kakinya yang jarang dipakai untuk berlari, akhirnya dipaksa bekerja. Dia mencoba mendorong tubuhnya ke kanan, ke arah selokan, karena itu adalah opsi dengan probabilitas hidup paling tinggi, meski hanya 30%.

Namun terlambat.

Terlambat setengah detik. Setengah detik yang disebabkan oleh 17 tahun kebiasaan bermalas-malasan, yang membuat refleks tubuhnya sedikit lebih lambat dari kalkulasi otaknya.

DUAAAR!

Suara benturan itu tidak seperti di film. Tidak ada ledakan dramatis. Suaranya berat, tumpul, dan basah. Suara yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang mendengarnya di persimpangan itu.

Dunia berputar.

Langit jingga yang indah itu berputar, trotoar berputar, wajah-wajah orang yang berteriak berputar. Tubuh Yamada terlempar seperti boneka kain. Tasnya terlepas dan melayang di udara.

Suara orang-orang terdengar samar. Seperti mendengarkan dari dalam air.

Pandangan matanya mulai kabur. Bintik-bintik hitam bermunculan di tepi penglihatannya, perlahan-lahan merayap ke tengah.

Anehnya, dia tidak merasa takut. Rasa takut membutuhkan energi. Dan dia sudah tidak punya energi lagi.

Dia hanya menatap langit.

Langit sore yang beberapa detik lalu terlihat begitu indah, begitu sempurna untuk tidur, kini perlahan berubah gelap. Warna jingganya memudar, digantikan oleh abu-abu, lalu hitam.

Ah...

Sebuah pikiran melintas dengan sangat pelan.

Jadi begini rasanya mati?

Tidak seperti yang dia bayangkan. Tidak ada rasa sakit yang menusuk seperti ditusuk pisau. Tidak ada drama. Hanya rasa berat yang luar biasa, dan kemudian ringan.

Napasnya semakin berat. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca.

Jari-jarinya bergerak sedikit. Dia ingin menyentuh sesuatu, tapi dia tidak tahu apa.

Tidak ada rasa sakit yang terlalu jelas lagi. Sistem sarafnya sudah mulai menyerah.

Hanya dingin.

Sangat dingin. Dingin yang merayap dari ujung kaki hingga ke dada. Padahal tadi angin sore terasa hangat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yamada menyadari sesuatu. Sebuah penyesalan yang bukan penyesalan yang dramatis, tapi penyesalan yang sangat Yamada.

Ada begitu banyak hal yang belum dia lakukan.

Bukan karena dia tidak mampu. Dia tahu dia mampu melakukan banyak hal jika dia mau.

Tetapi karena dia selalu berpikir masih ada hari esok. Selalu ada besok untuk mengerjakan tugas. Selalu ada besok untuk membeli roti krim itu. Selalu ada besok untuk menjadi sedikit lebih rajin.

Sepertinya... aku terlalu malas hidup.

Pikiran itu membuatnya tertawa kecil. Atau setidaknya, dia merasa seperti tertawa. Bibirnya bergerak sedikit, mengeluarkan suara napas yang hampir tidak terdengar.

"Kalau ada kehidupan kedua..."

Dia berhenti untuk menarik napas. Napas yang terasa sangat panjang dan sulit.

"...aku ingin hidup lebih santai."

Ironis. Bahkan di detik terakhir kematiannya, keinginannya masih tentang bersantai. Tapi kali ini, bersantai yang dia maksud berbeda. Bukan bersantai karena malas, tapi bersantai yang benar-benar menikmati hidup, tanpa menunda-nunda.

Kesadarannya perlahan menghilang. Seperti lampu yang dimatikan dengan dimmer, perlahan-lahan meredup.

Suara dunia semakin jauh. Suara teriakan orang, suara sirene yang mulai terdengar dari kejauhan, semuanya menjadi dengungan yang samar.

Kemudian semuanya menjadi gelap.

Gelap total.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada tubuh.

Tidak ada rasa sakit.

Tidak ada rasa dingin lagi.

Yamada tidak tahu berapa lama dia berada dalam kegelapan. Di sini, waktu tidak ada artinya.

Satu detik?

Satu jam?

Atau bertahun-tahun? Mungkin ribuan tahun? Di dalam kekosongan ini, satu detik dan satu milenium terasa sama.

Dia tidak tahu.

Yang dia tahu hanyalah satu hal. Satu hal yang membuatnya sadar bahwa dia masih ada.

Dia masih berpikir.

Pikiran itu masih ada. Kesadaran itu masih ada, melayang-layang di dalam ketiadaan.

Bukankah aku sudah mati?

Yamada mencoba membuka matanya. Dia memberi perintah pada kelopak matanya, tapi tidak ada kelopak mata untuk dibuka.

Mencoba menggerakkan tangannya. Tidak ada respons. Tidak ada tangan.

Mencoba berbicara. Tidak ada suara yang keluar. Tidak ada mulut, tidak ada pita suara, tidak ada udara untuk membawa gelombang suara.

Apa aku benar-benar sudah mati? Atau ini adalah mimpi aneh sebelum kematian yang sebenarnya? Atau aku koma?

Untuk pertama kalinya, Yamada merasa sedikit penasaran. Rasa penasaran yang sudah lama tidak dia rasakan. Sejak kecil, rasa penasaran adalah musuh kemalasan. Karena penasaran berarti harus mencari tahu, dan mencari tahu itu melelahkan. Tapi sekarang, di dalam kekosongan ini, tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain penasaran.

Lalu—

[........]

Sebuah suara terdengar.

Bukan suara manusia. Bukan suara laki-laki atau perempuan. Bukan pula suara dari luar.

Suara itu tidak memiliki gema. Tidak memiliki aksen. Terasa datar, mekanis, namun jelas.

Suara itu terdengar langsung di dalam pikirannya. Seolah-olah seseorang menulis langsung di dalam otaknya.

Yamada terdiam. Atau lebih tepatnya, kesadarannya berhenti bergumam.

[Soul detected.]

Apa? Jiwa? Terdeteksi?

[Analyzing...]

Siapa kau? Yamada mencoba bertanya di dalam pikirannya. Dia tidak tahu apakah entitas itu bisa mendengar pikirannya.

Tidak ada jawaban. Hanya suara mekanis yang kembali terdengar, melanjutkan tugasnya seolah-olah Yamada hanyalah sebuah file yang sedang dipindai.

Hanya suara mekanis yang kembali terdengar.

[Analysis complete.]

[Soul integrity: 98%.]

Integritas jiwa 98%? Apa artinya? Apa yang 2% yang hilang? Apakah karena kemalasannya?

[Destination confirmed.]

Yamada mulai merasakan sesuatu. Untuk pertama kalinya setelah kegelapan yang tak berujung, dia merasakan sebuah sensasi selain kekosongan.

Seolah-olah dirinya sedang ditarik. Bukan ditarik secara fisik, karena dia tidak punya fisik. Tapi kesadarannya, jiwanya, sedang ditarik menuju tempat yang sangat jauh.

Jauh lebih jauh daripada yang bisa dibayangkan manusia. Melewati konsep jarak itu sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ketenangan Yamada yang abadi itu mulai menghilang, digantikan oleh sedikit kepanikan. Kepanikan yang murni.

Hei.

Sebentar.

Destination? Tujuan? Ke mana aku akan pergi? Bukankah aku sudah mati? Bukankah seharusnya aku menghilang saja? Atau setidaknya, bukankah seharusnya ada cahaya putih dan terowongan seperti yang diceritakan orang-orang?

Ke mana aku akan pergi?

Suara itu akhirnya menjawab. Jawaban yang tidak menjawab pertanyaannya sama sekali, tapi justru memberikan jawaban yang jauh lebih besar.

[Beginning reincarnation process.]

Mata Yamada yang bahkan tidak memiliki tubuh untuk dibuka seolah terbuka lebar. Jika dia punya jantung, jantungnya pasti sudah berhenti berdetak untuk kedua kalinya.

...Apa?

Reinkarnasi? Proses reinkarnasi? Seperti di manga-manga dan novel-novel yang pernah dia baca sekilas saat bosan?

Kemudian cahaya putih memenuhi seluruh kesadarannya.

Bukan cahaya yang lembut. Cahaya yang terang, murni, yang menghapus kegelapan total tadi dalam sekejap. Cahaya yang terasa hangat, tidak seperti dinginnya kematian.

Dan sebelum Yamada sempat memahami apa yang sedang terjadi sebelum dia sempat memprotes bahwa dia belum siap, bahwa dia masih ingin bermalas-malasan sedikit lagi di dalam kegelapan

[Goodbye, Yamada.]

[Your first life has ended.]

[Your second life is about to begin.]

Suara itu menghilang bersamaan dengan kesadarannya yang kembali ditarik, kali ini lebih kuat, lebih cepat, menuju cahaya.

BAB 2: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun

Gelap.

Itulah hal pertama yang Yamada rasakan.

Bukan gelap seperti saat dia memejamkan mata di kelas karena malas. Bukan gelap seperti kamar yang lampunya dimatikan untuk tidur siang. Ini adalah gelap yang total. Gelap yang tidak memiliki kedalaman.

Tidak ada suara. Bahkan suara denging di telinga yang biasanya muncul saat ruangan terlalu sunyi pun tidak ada.

Tidak ada cahaya. Bahkan cahaya samar di balik kelopak mata pun tidak ada.

Tidak ada rasa sakit. Rasa dingin yang menusuk saat truk itu menabraknya sudah hilang sepenuhnya.

Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda dari kegelapan pertama setelah kecelakaan.

Saat dia mati pertama kali, kegelapan itu terasa seperti kekosongan. Seperti dia adalah pikiran yang mengambang tanpa wadah.

Tapi sekarang...

Dia bisa merasakan sesuatu. Sebuah beban. Sebuah batas.

Tubuh.

...Aku punya tubuh?

Pikiran itu muncul dengan sangat pelan, seperti gelembung udara yang naik dari dasar kolam yang dalam.

Dia mencoba merasakannya. Dia memusatkan kesadarannya, yang masih terasa kabur, ke ujung-ujung eksistensinya.

Jari-jarinya bergerak.

Perlahan. Sangat perlahan. Seperti seseorang yang mencoba menggerakkan jari setelah tangannya tertidur terlalu lama dan kesemutan.

Ada sensasi gesekan. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang lembut. Kain. Selimut.

Itu bukan imajinasi. Itu nyata.

Yamada membuka matanya.

Cahaya menyilaukan langsung memenuhi pandangannya, menusuk retina yang belum siap. Cahaya putih kekuningan yang tajam.

"Ugh..."

Suaranya terdengar asing. Suaranya sendiri membuat tenggorokannya bergetar.

Bukan karena suara itu benar-benar berbeda, dengan nada yang jauh lebih tinggi atau lebih rendah. Tidak.

Tetapi karena sudah terlalu lama dia tidak mendengar suaranya sendiri. Di dalam kekosongan setelah kematian, tidak ada suara. Hanya pikiran. Mendengar suaranya sendiri sekarang terasa seperti mendengar rekaman lama yang sudah berdebu.

Yamada berkedip beberapa kali. Kelopak matanya terasa berat. Air mata refleks keluar karena silau, membuat pandangannya semakin buram sebelum akhirnya perlahan-lahan fokus.

Langit-langit kayu terlihat di atas kepalanya.

Bukan langit-langit gypsum putih seperti di kamarnya di kehidupan sebelumnya. Ini adalah papan-papan kayu berwarna coklat muda, dengan serat kayu yang terlihat jelas. Ada sambungan di antara papan-papan itu. Ada lampu gantung sederhana yang terbuat dari anyaman bambu, menggantung dengan kabel yang agak usang.

Sebuah ruangan.

Tempat tidur. Tempat tidur yang sedang dia tiduri sekarang. Kasurnya tidak terlalu empuk, tapi tidak keras juga. Spreinya berwarna biru pudar, dengan aroma deterjen dan sedikit aroma kayu.

Meja kecil. Di atasnya ada sebuah lampu minyak kecil, beberapa buku yang tertumpuk tidak rapi, dan sebuah gelas air yang sudah kosong.

Lemari. Lemari kayu tua dengan cat yang sedikit terkelupas di sudutnya.

Dan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Jendela kayu yang terbuka sedikit, membuat tirai tipis berwarna putih berkibar pelan tertiup angin. Debu-debu beterbangan di dalam cahaya itu, sama seperti di kelasnya dulu.

Yamada terdiam. Otaknya menolak untuk memproses informasi ini dengan cepat.

Di mana ini?

Ini jelas bukan rumah sakit. Tidak ada bau antiseptik. Tidak ada suara mesin monitor jantung. Tidak ada selang infus.

Ini juga bukan rumahnya. Rumahnya tidak pernah memiliki langit-langit kayu seperti ini.

Dia mencoba bangun. Dia menekan kedua tangannya ke kasur dan mengangkat tubuhnya.

Tubuhnya terasa ringan.

Terlalu ringan.

Di kehidupan sebelumnya, tubuh Yamada terasa... berat. Berat karena malas. Berat karena semua ototnya seolah-olah berkata, "untuk apa bergerak?". Setiap kali bangun tidur, dia harus berjuang melawan gravitasi yang terasa dua kali lipat lebih kuat.

Tapi tubuh ini... tubuh ini terasa seperti bulu. Ringan, lincah, penuh dengan energi yang belum terpakai. Sendi-sendinya tidak berbunyi. Punggungnya tidak pegal.

Yamada duduk di tepi tempat tidur dan melihat kedua tangannya. Dia mengangkatnya ke depan wajahnya, ke dalam cahaya matahari.

Tangannya terlihat jauh lebih muda.

Jari-jarinya lebih ramping, lebih pendek. Kukunya bersih dan terpotong rapi. Tidak ada kapalan di ujung jari karena terlalu sering bermain ponsel. Kulitnya lebih cerah, lebih halus. Pembuluh darahnya tidak terlalu menonjol.

Tidak ada luka.

Tidak ada darah.

Tidak ada bekas kecelakaan. Tidak ada memar, tidak ada perban, tidak ada jahitan.

Dia meraba wajahnya dengan kedua tangan itu. Pipinya masih memiliki sedikit lemak bayi, tidak setirus wajahnya yang dulu. Rahangnya belum terlalu tegas.

Kemudian rambutnya. Rambutnya terasa lebih tebal, sedikit berantakan karena baru bangun tidur, tapi lembut.

...Apa-apaan ini?

Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena panik, tapi karena kebingungan yang logis.

Dia turun dari tempat tidur.

Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Sensasi dingin itu menjalar dari telapak kakinya hingga ke tulang keringnya. Nyata. Sangat nyata.

Kakinya hampir kehilangan keseimbangan. Proporsi tubuh ini berbeda. Titik beratnya berbeda. Kakinya lebih pendek. Dia seperti seseorang yang tiba-tiba memakai sepatu orang lain.

"Tunggu."

Yamada memegang meja kecil di samping tempat tidur untuk menstabilkan tubuhnya. Kayu meja itu terasa kasar di bawah telapak tangannya yang baru.

Tubuhnya terasa aneh.

Bukan tubuh yang dia kenal selama 17 tahun. Otot-ototnya terasa belum terbiasa dengan kesadarannya. Seolah-olah dia adalah seorang pengemudi veteran yang tiba-tiba disuruh menyetir mobil yang sama sekali berbeda.

Dia berjalan menuju sebuah cermin yang berada di sudut ruangan. Cermin itu tidak besar, hanya cermin persegi panjang yang digantung di dinding, dengan bingkai kayu yang sederhana. Di bawahnya ada wastafel kecil.

Langkah demi langkah. Setiap langkah terasa canggung. Kakinya terasa terlalu ringan sehingga dia hampir melayang, tapi juga terasa asing.

Kemudian dia berdiri di depan cermin.

Dan membeku.

Seorang anak laki-laki menatapnya dari dalam cermin.

Rambut hitam sedikit berantakan, dengan poni yang agak panjang dan jatuh ke dahi. Wajah yang masih muda, mungkin sekitar 14 atau 15 tahun. Mata yang berwarna hitam, dengan tatapan yang masih polos, belum tercemar oleh rasa malas kronis selama bertahun-tahun. Pipinya sedikit memerah karena cahaya matahari. Tubuh yang jelas belum sepenuhnya dewasa, lebih kurus dan lebih pendek dari tubuhnya yang dulu. Dia mengenakan piyama sederhana berwarna putih gading yang kebesaran.

Yamada menyentuh pipinya. Jarinya menekan kulit pipi yang lembut itu.

Bayangan di cermin melakukan hal yang sama. Dengan sinkronisasi yang sempurna, tanpa jeda.

Dia menarik rambutnya, sedikit keras.

Bayangan itu ikut menarik rambutnya, dengan ekspresi meringis yang sama persis.

"Ini..."

Suaranya tercekat di tenggorokan. Tenggorokan barunya yang lebih kecil.

Yamada menatap dirinya sendiri. Menatap mata anak laki-laki di dalam cermin itu. Dia mencari sisa-sisa dirinya yang lama di sana, dan dia menemukannya. Di balik mata muda itu, ada kelelahan yang sama. Tatapan malas yang sama.

"Mustahil."

Kata itu keluar sebagai bisikan.

Dia mencoba mengingat kejadian terakhir. Otaknya memutar ulang rekaman yang tidak ingin dia putar ulang.

Kecelakaan.

Kendaraan.

Benturan.

Rasa dingin.

Kegelapan.

Suara aneh yang berbicara langsung di dalam pikirannya.

[Beginning reincarnation process.]

Sebuah kalimat yang tidak mungkin dia lupakan. Kalimat yang terukir di dalam jiwanya, bukan di dalam otaknya.

Yamada perlahan menyadari sesuatu. Sebuah kesadaran yang begitu absurd sehingga otaknya yang malas pun menolak untuk memprosesnya dengan cepat, karena memproses hal absurd membutuhkan energi yang besar.

"...Aku bereinkarnasi?"

Dia mengucapkan kata itu dengan suara pelan, seolah-olah takut didengar oleh seseorang. Kata yang selama ini hanya dia lihat di dalam novel-novel ringan yang dibaca teman-temannya di kelas. Kata yang selalu dia anggap sebagai pelarian konyol bagi orang-orang yang tidak puas dengan hidupnya.

Padahal hidupnya sendiri sudah cukup puas. Terlalu puas, bahkan.

Dia terdiam beberapa saat. Berdiri di depan cermin, menatap pantulan anak laki-laki asing yang kini adalah dirinya.

Kemudian menghela napas. Napas panjang yang khas Yamada. Napas yang mengandung 90% kelelahan dan 10% kepasrahan.

"Serius?"

Tidak ada rasa takut. Rasa takut sudah habis terpakai saat truk itu datang ke arahnya.

Tidak ada kegembiraan berlebihan seperti tokoh-tokoh utama di cerita reinkarnasi yang berteriak "YEAY AKU DAPAT KEHIDUPAN KEDUA! AKU AKAN JADI OVERPOWER!". Yamada tidak pernah bercita-cita menjadi overpower. Menjadi overpower itu melelahkan. Harus menyelamatkan dunia, harus mengalahkan raja iblis, harus berurusan dengan politik kerajaan.

Hanya satu hal yang muncul dalam pikirannya. Satu hal yang sangat, sangat Yamada.

Repot.

Kata itu bergema di dalam kepalanya.

Yamada kembali duduk di tempat tidur. Kasur itu berderit pelan saat dia menjatuhkan tubuh ringannya. Dia menatap langit-langit kayu lagi.

Kalau ini benar-benar kehidupan kedua, berarti dia harus memulai semuanya dari awal.

Belajar. Dari awal. Alfabet, berhitung, sejarah dunia baru yang mungkin sama sekali berbeda.

Bekerja. Mencari uang lagi.

Membangun kehidupan. Mencari tempat tinggal, beradaptasi dengan budaya baru, mungkin belajar bahasa baru.

Mengenal orang-orang baru. Menghafal nama, wajah, hubungan. Hal yang paling dia benci.

Dan berbagai hal lainnya yang bahkan belum terpikirkan olehnya. Pajak. Identitas. Sekolah baru.

Yamada memijat pelipisnya dengan jari-jari barunya yang ramping. Sebuah kebiasaan lama yang terbawa ke tubuh baru.

"Padahal aku baru saja mati."

Dia menatap langit-langit, dengan tatapan kosong.

"Aku bahkan belum sempat menikmati tidur setelah mati. Harusnya ada masa istirahat dulu. Masa transisi. Seperti cuti setelah resign dari kehidupan. Kenapa langsung disuruh kerja lagi jadi manusia?"

Dia menggerutu pelan. Keluhannya begitu tulus.

Dia baru saja ingin menikmati kegelapan yang tenang itu sedikit lebih lama. Kegelapan tanpa tugas, tanpa sekolah, tanpa harus membeli roti krim. Tapi semesta sepertinya tidak mengizinkan Yamada untuk beristirahat bahkan setelah mati.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!