Guntur hitam menyambar ganas membelah langit malam Kota Awan Merah, seolah-olah surga sendiri sedang murka. Hujan turun dengan deras, menghapus darah segar yang menggenang di halaman belakang Kediaman Keluarga Ye yang sepi.
Di tengah genangan lumpur yang dingin itu, seorang pemuda berusia lima belas tahun terbaring tak bernyawa. Pakaiannya robek, wajahnya lebam, dan darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Tulang rusuknya remuk, dan yang lebih parah, meridian di dalam tubuhnya telah dihancurkan secara paksa.
Di hadapan tubuh rapuh itu, seorang pria paruh baya mengenakan jubah sutra mewah menatap dengan tatapan jijik yang tak ditutupi. Ia mengibaskan selembar kertas perkamen yang bernoda cap jari berdarah.
"Dasar sampah tidak berguna. Beraninya seekor katak di dasar sumur bermimpi memakan daging angsa dari surga?" Pria itu, Lin Zhentian, mendengus dingin. "Putriku, Lin Xue'er, kini adalah murid jenius Bintang Lima dari Sekte Teratai Es. Masa depannya tidak terbatas. Sedangkan kau? Hanya seorang cacat yang tak bisa melewati Alam Kondensasi Qi tingkat pertama. Surat pembatalan pertunangan ini sudah ditandatangani. Urusan Keluarga Lin dan Keluarga Ye selesai sampai di sini!"
Lin Zhentian memasukkan perkamen itu ke dalam lengan bajunya, lalu menatap dua pengawal berbadan besar di sisinya. "Bereskan sampah ini. Buang mayatnya ke Hutan Binatang Buas di luar kota. Jangan sampai ada jejak yang tertinggal."
"Baik, Tuan Keluarga Lin!" jawab kedua pengawal itu serempak dengan seringai kejam.
Lin Zhentian berbalik dan berjalan menembus tirai hujan, meninggalkan halaman itu tanpa sedikit pun rasa bersalah. Baginya, membunuh seorang tuan muda buangan dari klan yang sedang merosot tidak lebih dari menginjak seekor semut.
Sepeninggal Lin Zhentian, salah satu pengawal yang berwajah bopeng meludah ke tanah. "Cih, Tuan Muda Ye yang menyedihkan. Dulu ibumu menyelamatkan nyawa Tuan Lin, dan sebagai balasannya pertunangan ini dibuat. Tapi di dunia bela diri ini, kebaikan tanpa kekuatan hanyalah omong kosong. Jangan salahkan kami, salahkan nasibmu yang terlahir sebagai sampah."
Pengawal itu mengulurkan tangannya yang kasar, berniat mencengkeram kerah baju pemuda yang tergeletak di lumpur tersebut.
Namun, tepat pada detik itu, sebuah anomali kosmis terjadi.
Lapis demi lapis awan badai di atas Kota Awan Merah tiba-tiba berputar membentuk pusaran raksasa. Sebuah petir berwarna merah darah, menyala dengan aura kuno yang mengerikan, menyambar langsung dari langit tertinggi, menembus atap halaman, dan menghantam tepat ke tubuh kaku sang pemuda.
Bumi bergetar hebat. Udara di halaman itu tiba-tiba menjadi sangat berat dan menyesakkan, seolah-olah seekor dewa naga purba baru saja membuka matanya dari tidur panjang. Kedua pengawal itu terlempar mundur beberapa langkah, menatap dengan mata terbelalak ngeri.
Jari tangan pemuda yang seharusnya sudah mati itu... berkedut.
Di dalam lautan kesadarannya yang gelap gulita, sebuah jiwa perkasa yang telah melintasi sungai waktu selama tiga ribu tahun meraung marah. Ingatan masa lalu membanjiri pikirannya seperti air bah.
Mo Yuan... Muridku yang paling kupercaya... Kau mengorbankan separuh Alam Dewa dan menggunakan Racun Pemakan Jiwa hanya untuk merebut Tahta Primordialku?
Rasa sakit dari pengkhianatan itu masih terasa segar, membakar jiwanya dengan amarah yang bisa mendidihkan samudra. Selama tiga ribu tahun, jiwanya melayang di pusaran kehampaan, menolak untuk padam, hingga akhirnya hukum reinkarnasi menariknya ke tubuh seorang pemuda fana yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Pemuda dengan nama yang sama dengannya: Ye Xuan.
Mata pemuda itu perlahan terbuka di tengah rintik hujan.
Bukan lagi tatapan ketakutan, keputusasaan, atau kepengecutan dari Ye Xuan yang asli. Sepasang mata itu kini sedingin es abadi, memancarkan keagungan absolut, arogansi seorang penguasa sejati, dan niat membunuh yang tak terbatas.
"Alam Kondensasi Qi tingkat pertama? Meridian hancur total? Dan Dantian yang sekering gurun?"
Ye Xuan bergumam pelan dengan suara seraknya. Ia memeriksa kondisi tubuh barunya dengan pandangan batin. Sungguh tragis. Pemuda ini dulunya memiliki sedikit bakat, tetapi entah siapa yang meracuninya sejak kecil hingga meridiannya tersumbat perlahan, dan malam ini, pukulan dari Lin Zhentian menghancurkannya secara permanen. Di mata dunia kultivasi, tubuh ini sudah benar-benar tamat.
Tapi bibir Ye Xuan justru melengkung membentuk seringai tipis.
"Meridian yang hancur... Bukankah ini wadah yang paling sempurna untuk mempraktikkan Seni Sembilan Reinkarnasi Naga? Dahulu, aku terlalu takut menghancurkan fondasi kultivasiku sendiri untuk mencoba teknik terlarang ini. Sekarang, surga memberiku kanvas yang kosong!"
Ye Xuan perlahan bangkit berdiri. Hal yang mengerikan terjadi; hujan lebat yang turun dari langit secara ajaib berbelok sekian milimeter sebelum menyentuh tubuhnya. Auranya, meski tanpa energi Qi sedikit pun, memiliki tekanan yang membengkokkan hukum alam di sekitarnya.
Ia menatap kedua pengawal yang masih mematung ketakutan.
"K-kau... kau belum mati?!" Pengawal berwajah bopeng mundur selangkah, bulu kuduknya berdiri. Bagaimana mungkin seorang bocah yang tulang rusuknya sudah remuk bisa berdiri setegak ini? Dan tatapan matanya... mengapa rasanya seperti ditatap oleh dewa kematian?
"Hanya ilusi! Dia cuma sampah yang sedang sekarat! Habisi dia sekarang sebelum Tuan Lin marah!" teriak pengawal kedua, mencoba mengusir rasa takutnya. Ia mencabut sebilah golok dari pinggangnya, memfokuskan energi Qi ke tangannya, dan menerjang ke arah Ye Xuan.
Pisau itu menebas di udara, mengarah langsung ke leher Ye Xuan. Serangan seorang kultivator Alam Kondensasi Qi tingkat ketiga. Di mata penduduk biasa, itu adalah tebasan yang sangat cepat.
Namun, di mata mantan Kaisar Dewa, gerakan itu lebih lambat dari siput yang sedang merangkak.
Ye Xuan tidak mundur. Ia hanya memiringkan lehernya satu inci ke kiri. Angin dari tebasan golok itu menyapu pipinya tanpa meninggalkan goresan sedikit pun. Di saat yang sama, tangan kanan Ye Xuan melesat seperti kilat yang menyambar.
Ia tidak memiliki energi Qi, tetapi ia memiliki pengalaman bertarung selama puluhan ribu tahun dan pengetahuan absolut tentang anatomi manusia. Dua jarinya menusuk tepat ke titik akupunktur kematian di pangkal leher sang pengawal.
Krek!
Suara patahan tulang terdengar renyah di tengah hujan. Mata pengawal kedua melotot lebar, tubuhnya kejang sejenak sebelum ambruk ke tanah seperti karung berisi daging busuk. Mati seketika.
Pengawal berwajah bopeng jatuh terduduk, kakinya lemas tak bertulang. Golok di tangannya terlepas bergemerincing ke bebatuan. Otaknya menolak memproses apa yang baru saja dilihatnya. Sang Tuan Muda Sampah... membunuh seorang kultivator tingkat tiga hanya dengan dua jari?
"K-kau... kau bukan Ye Xuan! Kau monster!" jeritnya histeris, berbalik dan mencoba merangkak kabur sambil mengais-ngais lumpur.
Ye Xuan melangkah perlahan mendekati pria itu. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya ketenangan yang mencekam.
"Dulu, ada miliaran orang yang berlutut dan memanggilku Dewa. Ada jutaan iblis yang menjerit memanggilku monster. Kau... bukan siapa-siapa untuk memberiku gelar."
Ye Xuan mengangkat kaki kanannya dan menginjak tengkuk pengawal itu dengan presisi sempurna. Terdengar bunyi retakan pelan, dan jeritan histeris itu terputus seketika. Halaman belakang Keluarga Ye kembali hening, hanya menyisakan suara hujan yang membasuh darah di tanah.
Berdiri di antara dua mayat, Ye Xuan mendongak menatap langit malam yang masih bergemuruh. Ia bisa merasakan dunia ini memiliki energi spiritual yang sangat tipis dan kotor dibandingkan dengan Alam Dewa, tetapi ini sudah cukup.
"Lin Zhentian... Keluarga Lin..." gumam Ye Xuan dingin, mengingat ingatan menyakitkan dari pemilik tubuh sebelumnya. Ia mengepalkan tangannya perlahan. "Karena aku telah mengambil alih karma tubuh ini, hutang darahmu akan kubayar lunas. Dan kau, Mo Yuan... nikmatilah tahtamu selagi kau bisa. Saat naga ini kembali menginjakkan kaki di semesta atas, aku akan memastikan jiwamu terbakar di dasar neraka selama keabadian."
Hujan perlahan mereda, menyisakan gerimis tipis yang membasuh Halaman Barat Kediaman Keluarga Ye. Area ini adalah bagian paling kumuh dari seluruh kompleks klan, tempat pembuangan bagi mereka yang tak lagi memiliki nilai.
Ye Xuan menatap kedua mayat pengawal Keluarga Lin tanpa ekspresi. Dengan sisa tenaga di tubuh fisiknya yang lemah, ia menyeret kedua jasad itu dan melemparkannya ke dalam sumur tua yang sudah lama mengering di sudut halaman. Suara benturan tumpul bergema dari dasar sumur. Ia lalu menendang tumpukan jerami dan dedaunan busuk untuk menutupi bibir sumur tersebut.
Bagi seorang mantan Kaisar Dewa, membereskan jejak pembunuhan adalah insting dasar.
Baru saja Ye Xuan membasuh tangannya di genangan air hujan, derit pintu kayu tua terdengar dari arah luar halaman. Seorang gadis kecil berusia sekitar tiga belas tahun berlari tertatih-tatih menembus gerimis. Pakaiannya yang terbuat dari kain kasar basah kuyup, dan wajahnya yang kurus pucat dipenuhi kepanikan. Di pelukannya, ia melindungi sebuah bungkusan kertas cokelat agar tidak terkena hujan.
"Tuan Muda!" jerit gadis itu saat melihat Ye Xuan berdiri dengan pakaian berlumuran darah. Ia menjatuhkan bungkusan itu dan menubruk kaki Ye Xuan, air matanya tumpah bercampur air hujan. "Tuan Muda, syukurlah Anda masih hidup! Pelayan rendahan ini mendengar Tuan Lin datang dan membawa pengawal... Saya berlari ke apotek mencari obat luka, saya pikir... saya pikir..."
Melihat gadis yang menangis tersedu-sedu di kakinya, sebuah emosi asing menyelinap ke dalam hati Ye Xuan yang sedingin es. Itu adalah sisa perasaan dari pemilik tubuh aslinya.
Gadis ini bernama Qing'er. Ia adalah anak yatim piatu yang dipungut oleh ibu Ye Xuan belasan tahun lalu. Ketika seluruh klan membuang dan mencemooh Ye Xuan karena meridiannya yang cacat, hanya Qing'er yang tetap setia melayaninya, bahkan sering kali rela kelaparan dan dipukuli oleh pelayan lain demi menyembunyikan jatah makanan untuk Ye Xuan.
Ye Xuan menghela napas pelan. Ia membungkuk dan menepuk puncak kepala gadis itu.
"Berhentilah menangis. Bukankah aku berdiri di sini dengan baik-baik saja?" suara Ye Xuan terdengar tenang, namun memiliki otoritas tak terlihat yang membuat tangisan Qing'er terhenti seketika.
Qing'er mendongak, menatap mata tuan mudanya dengan bingung. Tuan mudanya selalu penakut dan sering mengutuki nasib, tetapi pria yang berdiri di hadapannya saat ini memancarkan ketenangan yang menyerupai gunung karang di tengah badai.
"Tapi... darah ini... dan Tuan Lin..." Qing'er tergagap, menyeka air matanya.
"Lin Zhentian hanya datang untuk membatalkan pertunangan. Mulai malam ini, Keluarga Ye dan Keluarga Lin tidak memiliki hubungan apa-apa lagi," potong Ye Xuan datar. Ia membungkuk untuk memungut bungkusan obat yang dijatuhkan Qing'er. "Masuklah dan siapkan air panas. Aku butuh ketenangan untuk memulihkan diri. Jangan biarkan siapa pun mendekati kamarku."
"B-baik, Tuan Muda!" Qing'er mengangguk cepat, masih sedikit linglung dengan perubahan drastis sikap tuan mudanya, lalu bergegas menuju dapur kecil di samping rumah reot mereka.
Masuk ke dalam kamarnya yang redup dan lembap, Ye Xuan melepas pakaiannya yang robek dan duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras. Ia menutup matanya, mengarahkan kesadarannya ke dalam tubuh.
Pemandangan di dalam Dantiannya benar-benar mengenaskan. Sembilan meridian utamanya terputus di berbagai titik, layaknya jalan raya yang hancur lebur terkena gempa bumi. Dantiannya—pusat penyimpanan energi—kering kerontang dan penuh dengan kotoran bawaan. Di dunia kultivasi Benua Bawah, kondisi ini adalah vonis mati mutlak. Bahkan pil dewa tingkat sembilan pun akan kesulitan memperbaikinya jika fondasinya sudah serapuh ini.
Namun, di sudut bibir Ye Xuan justru terukir senyum arogan.
"Buku kuno itu tidak berbohong. Seni Sembilan Reinkarnasi Naga menuntut praktisinya untuk mati sebelum hidup, hancur sebelum utuh. Hanya Dantian yang benar-benar kosong dan meridian yang terputus total yang bisa menahan hegemoni Qi Naga Primordial."
Di kehidupan sebelumnya, Ye Xuan telah mencapai puncak Alam Dewa Sejati menggunakan teknik kultivasi ortodoks. Ketika ia menemukan Seni Sembilan Reinkarnasi Naga di sisa-sisa peninggalan era primordial, ia sudah terlalu kuat. Untuk mempraktikkannya, ia harus melumpuhkan kultivasinya sendiri, sebuah risiko yang terlalu besar saat ia sedang berada di tengah pusaran perang kekuasaan.
Kini, takdir telah memberinya lembaran baru yang sempurna.
Ye Xuan mengubah segel tangannya. Jari-jarinya membentuk postur cakar naga yang rumit, dan bibirnya mulai merapalkan mantra kuno yang bahasanya telah punah dari semesta jutaan tahun lalu.
Boom!
Udara di dalam kamar reot itu bergetar hebat. Energi spiritual langit dan bumi yang sangat tipis di Kota Awan Merah tiba-tiba tersedot dengan brutal, membentuk pusaran angin kecil yang berpusat di atas kepala Ye Xuan.
Saat helai pertama energi spiritual memasuki tubuhnya melalui pori-pori, rasa sakit yang luar biasa meledak. Rasanya seperti jutaan semut api sedang memakan daging dan menggerogoti tulangnya dari dalam. Otot-otot Ye Xuan menegang hingga urat-urat kebiruan menonjol di lehernya.
"Hancurkan yang fana, bentuk tubuh naga!" geram Ye Xuan melalui gigi yang terkatup rapat. Mantan Kaisar Dewa ini bahkan tidak mengerang sedikit pun. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pengkhianatan yang membakar jiwanya.
Energi yang masuk tidak diarahkan untuk memperbaiki meridian yang putus, melainkan digunakan sebagai godam untuk menghancurkan sisa-sisa sumbatan kotoran di dalamnya.
Krek! Krek!
Suara retakan pelan terdengar dari dalam tubuhnya. Cairan kental berwarna hitam legam dengan bau busuk yang menyengat mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Itu adalah kotoran fana dan sisa racun yang selama bertahun-tahun mengendap di tubuh Ye Xuan asli.
Satu jam berlalu, lalu dua jam.
Tiba-tiba, dari dalam Dantiannya yang kosong, sebuah raungan naga ilusi yang sangat samar terdengar bergema di lautan kesadarannya. Setitik cahaya keemasan seukuran biji beras terbentuk di tengah-tengah Dantian tersebut.
Cahaya itu menyebar, mengalir melewati jalur meridian yang hancur, namun bukannya bocor, energi emas itu justru membentuk jembatan cahaya yang menyambungkan kembali jalur-jalur yang terputus dengan kekuatan yang sepuluh kali lipat lebih tangguh dari meridian manusia normal.
Ye Xuan membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya sempat berkilat dengan cahaya keemasan vertikal layaknya mata naga, sebelum kembali normal.
"Alam Kondensasi Qi Bintang Satu," gumam Ye Xuan sambil mengepalkan tinjunya. Ia bisa merasakan tenaga liar mengalir di bawah kulitnya.
Meskipun baru Bintang Satu, Qi yang mengalir di tubuhnya bukan lagi Qi spiritual biasa, melainkan Qi Naga Primordial. Kepadatan dan daya hancurnya jauh melampaui kultivator Alam Kondensasi Qi Bintang Tiga atau Empat pada umumnya. Dengan tubuh ini, mengalahkan pengawal Lin Zhentian tidak lagi membutuhkan titik akupunktur, melainkan cukup dengan adu tinju mentah.
Namun, bau busuk yang menyengat segera menyadarkannya. Seluruh tubuhnya tertutup lumpur hitam yang merupakan kotoran dari proses pembersihan sumsum.
Ye Xuan bangkit dan berjalan keluar. Qing'er rupanya sudah menyiapkan bak kayu berisi air hangat di dapur dan tertidur sambil duduk bersandar di dinding.
Tanpa membangunkan gadis itu, Ye Xuan membersihkan tubuhnya. Setelah membilas seluruh kotoran, kulitnya yang dulunya pucat dan memar kini terlihat lebih cerah, sehalus batu giok, namun otot-otot di baliknya sekeras baja.
Ia mengenakan jubah bersih yang sudah disiapkan Qing'er, lalu menatap ke arah pusat Kota Awan Merah yang mulai disinari cahaya fajar. Proses pembersihan tubuhnya belum selesai. Untuk memperkuat meridian naga yang baru terbentuk dan menembus Bintang Dua, ia membutuhkan pil obat.
"Dantianku masih terlalu lemah untuk menahan api alkimia, jadi aku tidak bisa meracik pil sendiri untuk saat ini. Aku butuh Ramuan Pengumpul Roh dan Rumput Tulang Besi," batin Ye Xuan sambil menghitung kepingan koin tembaga di kantongnya yang sangat menyedihkan.
Ia tersenyum dingin. "Sepertinya sudah saatnya mengunjungi Paviliun Obat Keluarga Ye. Sebagai Tuan Muda dari garis keturunan utama, mengambil sedikit rumput liar dari klan sendiri bukanlah sebuah kejahatan, bukan?"
Sinar mentari pagi membelah kabut tipis yang menyelimuti Kota Awan Merah, membawa kehangatan yang mengusir hawa dingin sisa hujan semalam.
Ye Xuan melangkah keluar dari Halaman Barat dengan langkah tenang. Pakaian kasarnya yang bersih berkibar tertiup angin pagi. Saat ia berjalan melintasi area utama Kediaman Keluarga Ye, perbedaan mencolok sangat terasa. Jika Halaman Barat adalah gubuk kumuh, maka area utama ini dipenuhi paviliun berukir, taman batu giok, dan kolam teratai yang memancarkan energi spiritual ringan.
Sepanjang jalan, para pelayan dan murid pinggiran Keluarga Ye menatapnya dengan pandangan aneh. Bisik-bisik ejekan segera merayap layaknya serangga di telinganya.
"Hei, bukankah itu si sampah Ye Xuan? Kudengar semalam Tuan Lin datang dan menghajarnya hingga sekarat untuk membatalkan pertunangan!"
"Benarkah? Ckck, pantas saja Tuan Lin marah. Jenius seperti Nona Lin Xue'er mana sudi disandingkan dengan katak cacat."
"Tapi lihatlah dia, dia bisa berjalan tegak? Bukankah kabarnya tulang rusuknya remuk?"
Ye Xuan sama sekali tidak mempedulikan bisikan lalat-lalat itu. Di matanya, mereka hanyalah debu fana yang umurnya tak lebih dari sekejap mata. Langkahnya mantap menuju sebuah bangunan berlantai tiga di pusat kediaman—Paviliun Obat Keluarga Ye.
Paviliun Obat adalah urat nadi perekonomian dan kultivasi klan. Tempat ini dijaga ketat dan selalu ramai oleh anggota klan yang menukarkan poin kontribusi atau mengambil jatah bulanan mereka.
Begitu Ye Xuan melangkah melewati ambang pintu kayu cendana yang tebal, aroma berbagai macam herbal langsung menyergap penciumannya. Mata tajamnya menyapu rak-rak obat. Sebagai mantan Kaisar Dewa, pengetahuan alkimianya adalah yang tertinggi di alam semesta. Hanya dengan sekali cium, ia bisa mengetahui bahwa sebagian besar herbal di sini hanyalah rumput liar berkualitas rendah.
Namun, untuk tubuh fananya saat ini, rumput liar itu adalah batu loncatan yang esensial.
Ye Xuan berjalan mendekati konter penukaran. Di balik meja giok tersebut, seorang pria paruh baya bertubuh tambun sedang menyeruput teh dengan santai. Pria itu adalah Diaken Ye Ba, pengurus lantai pertama Paviliun Obat dan juga anjing penjilat faksi Tetua Pertama.
Ye Xuan mengetuk meja giok itu dua kali. "Diaken Ye Ba. Berikan jatah bulananku selama tiga bulan terakhir yang kau tahan. Aku menginginkan sepuluh tangkai Ramuan Pengumpul Roh dan lima akar Rumput Tulang Besi."
Diaken Ye Ba perlahan menurunkan cangkir tehnya, menatap Ye Xuan dari atas ke bawah, lalu meledak dalam tawa meremehkan. "Hahaha! Telingaku tidak salah dengar? Si sampah ini meminta jatah bulanan? Tuan Muda Ye Xuan, apakah pukulan Tuan Lin semalam merusak otakmu?"
Suara tawa Ye Ba menarik perhatian belasan pemuda Keluarga Ye di dalam paviliun. Mereka segera berkerumun dengan tatapan mencemooh.
Ye Ba mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Ye Xuan dengan sinis. "Keluarga Ye tidak memelihara pemalas. Berdasarkan aturan klan yang baru disahkan oleh Tetua Pertama, siapa pun yang tidak bisa menembus Alam Kondensasi Qi Bintang Tiga pada usia lima belas tahun, jatah sumber dayanya akan dicabut dan dialihkan kepada murid yang lebih berbakat. Kau ini bahkan bukan Bintang Satu! Untuk apa kau butuh Ramuan Pengumpul Roh? Untuk memberi makan babi peliharaan pelayanmu?"
Tawa ejekan dari kerumunan semakin keras.
Di tengah gelak tawa itu, seorang pemuda jangkung berpakaian sutra biru melangkah maju dari kerumunan. Auranya memancarkan fluktuasi Alam Kondensasi Qi Bintang Tiga. Ia adalah Ye Ming, sepupu jauh Ye Xuan sekaligus pengikut setia Ye Tian, cucu kebanggaan Tetua Pertama.
"Diaken Ye benar," ucap Ye Ming sambil melipat tangan di dada, memandang Ye Xuan dari sudut matanya. "Sumber daya klan sangat berharga. Memberikannya pada Dantianmu yang bocor itu sama saja membuang emas ke dalam selokan. Ye Xuan, lebih baik kau berlutut dan memohon padaku. Jika suasana hatiku sedang bagus, aku mungkin akan memberimu sepotong sisa akar ginseng peliharaanku."
Mata Ye Xuan yang sedingin danau es perlahan menatap Ye Ming. "Aturan bahwa jatahku dicabut tidak pernah disetujui oleh Kepala Keluarga. Selama ayahku masih bergelar Kepala Keluarga, Tetua Pertama tidak berhak mengubah aturan sepihak. Aku tidak akan mengulanginya. Berikan jatahku."
Wajah Ye Ming menggelap. Fakta bahwa ayah Ye Xuan, Ye Zhan, menghilang tiga tahun lalu saat menjalankan misi klan adalah topik sensitif. Ketidakhadiran ayahnya itulah yang membuat posisi Ye Xuan anjlok dari Tuan Muda Jenius menjadi sampah yang diinjak-injak.
"Dasar sampah tidak tahu diri! Beraninya kau membawa-bawa nama Kepala Keluarga yang sudah mati entah di mana?!" Ye Ming membentak marah. "Karena kau sangat ingin dipukul, biarkan aku, sepupumu, memberimu pelajaran tentang rasa hormat!"
Tanpa peringatan, Ye Ming menerjang maju. Tangan kanannya terkepal, dilapisi oleh cahaya Qi berwarna putih pucat. Itu adalah teknik bela diri tingkat fana, Tinju Pemecah Batu. Angin kencang berhembus mengiringi tinju itu, mengarah langsung ke dada Ye Xuan. Di mata murid-murid lain, serangan penuh dari kultivator Bintang Tiga ini pasti akan membuat Ye Xuan muntah darah dan terbaring di ranjang selama sebulan.
Namun, di mata Ye Xuan, gerakan itu sungguh menggelikan.
Terlalu banyak celah. Postur kuda-kudanya goyah. Aliran Qi-nya tersumbat di bahu.
Ye Xuan tidak repot-repot menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang terlihat ramping dan lemah, menyongsong tinju yang datang itu dengan telapak tangan terbuka.
Bam!
Suara benturan tumpul bergema di paviliun. Kerumunan yang tadinya bersorak mengejek tiba-tiba terdiam seperti dicekik. Mata mereka melotot nyaris keluar dari kelopaknya.
Tinju pemecah batu milik Ye Ming yang menggelegar itu tertahan sepenuhnya oleh satu telapak tangan Ye Xuan. Tidak ada getaran, tidak ada darah. Ye Xuan berdiri tegak tanpa bergeser setengah inci pun, wajahnya setenang air sumur kuno.
"B-bagaimana mungkin?!" Ye Ming memucat. Ia merasa tinjunya seperti menabrak dinding baja yang tak tertembus. Energi Qi yang ia kumpulkan hancur berantakan dalam sekejap.
"Teknik bela diri yang penuh kelemahan, digunakan oleh sampah sepertimu. Benar-benar memalukan," suara Ye Xuan terdengar datar.
Sebelum Ye Ming bisa menarik tangannya, jari-jari Ye Xuan mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu dengan kekuatan yang mengerikan. Aliran Qi Naga Primordial berwarna emas samar berkedip di bawah kulit Ye Xuan.
Krek!
"ARGGGH!" Ye Ming menjerit melengking saat tulang pergelangan tangannya remuk berkeping-keping.
Ye Xuan tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang mengalir alami bagai awan, tangan kirinya terayun dan mendarat keras di wajah Ye Ming.
PLAK!
Tamparan itu terdengar seringan tepukan, namun memiliki tenaga ribuan kati. Tubuh Ye Ming terlempar ke udara bagai layang-layang putus, berputar dua kali sebelum menabrak pilar kayu keras di sudut paviliun. Ia memuntahkan seteguk darah segar beserta beberapa gigi yang rontok, lalu jatuh pingsan di lantai.
Kesunyian mematikan menyelimuti lantai pertama Paviliun Obat. Jarum yang jatuh pun akan terdengar.
Para murid pinggiran menelan ludah dengan susah payah. Diaken Ye Ba, yang tehnya tumpah membasahi celananya, menatap Ye Xuan dengan wajah seputih kertas. Apakah ini sampah yang dikabarkan cacat itu? Mengalahkan kultivator Bintang Tiga hanya dengan satu tamparan?!
Ye Xuan menurunkan tangannya, mengeluarkan sehelai saputangan dari sakunya, dan mengelap telapak tangannya seolah baru saja menyentuh kotoran yang menjijikkan. Ia lalu menatap tajam ke arah Diaken Ye Ba yang gemetar.
"Aku akan mengatakannya untuk yang terakhir kali," ucap Ye Xuan dengan nada yang membawa kedinginan absolut, membuat suhu di ruangan itu seolah turun belasan derajat. "Ramuan Pengumpul Roh. Rumput Tulang Besi. Serahkan sekarang, atau kau akan berakhir menemani keponakan kesayanganmu di lantai."
Diaken Ye Ba tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Sambil gemetar hebat, ia buru-buru membuka lemari giok di belakangnya, mengambil kotak kayu berisi herbal yang diminta, dan menaruhnya di atas meja dengan kedua tangan yang bergetar.
Ye Xuan mengambil kotak itu, memasukkannya ke dalam saku jubahnya, dan berbalik pergi meninggalkan paviliun tanpa menoleh lagi. Punggungnya memancarkan arogansi yang tak terbantahkan, meninggalkan kerumunan yang masih membeku dalam ketakutan.
Begitu siluet Ye Xuan menghilang di balik pintu, barulah Diaken Ye Ba berani menarik napas panjang. Wajahnya yang gemuk berkerut penuh kebencian dan ketakutan.
"Sialan! Monster apa yang merasukinya?!" desis Ye Ba sambil menyeka keringat dingin. "Aku harus segera melaporkan hal ini pada Tetua Pertama! Jika sampah ini benar-benar bisa berkultivasi lagi, rencana Tuan Muda Ye Tian untuk mengambil alih posisi Pewaris Klan bisa terancam!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!