Indonesia
NovelToon NovelToon

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

BAB 1

Rintik hujan mulai turun membasahi aspal di depan stasiun kota. Gibran Dirgantara berdiri kedinginan dengan jaket lusuh yang sudah memudar warnanya.

Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah kotak beludru kecil yang basah. Kotak itu berisi cincin emas murah yang ia beli dari hasil menabung berbulan-bulan sebagai kuli panggul di desa.

"Siska pasti senang, aku akhirnya menepati janji menyusulnya ke kota," gumam Gibran dengan bibir bergetar menahan dingin.

Ia menatap layar ponselnya yang retak, menunggu balasan pesan dari kekasihnya itu sejak dua jam yang lalu.

Brumm! Ciiit!

Sebuah mobil sedan sport berwarna merah mengilap tiba-tiba berhenti mendadak tepat di genangan air dekat kaki Gibran.

Byur!

Air kotor bercampur lumpur menyiprat deras, membasahi separuh celana dan sepatu kanvas Gibran yang sudah usang.

"Woi, kalau jalan pakai mata dong, gembel!" teriak suara bariton dari kursi kemudi yang kacanya mulai turun.

Gibran mengusap wajahnya yang kecipratan air kotor. Rahangnya mengeras seketika saat ia bersiap menegur pengemudi arogan tersebut.

Namun, kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya tertahan paksa di tenggorokan.

Mata Gibran terbelalak lebar melihat siapa yang duduk manis di kursi penumpang mobil mewah itu.

"Siska?" ucap Gibran dengan suara tercekat.

Wanita cantik dengan riasan tebal dan gaun mahal itu menoleh dengan ekspresi terkejut. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sebentar sebelum berubah menjadi tatapan jijik yang menusuk.

"Gibran? Sedang apa kamu di sini? Bukankah sudah kubilang jangan pernah menghubungiku lagi?" ucap Siska dengan nada dingin yang menyayat hati.

Gibran melangkah maju dengan tangan gemetar. Ia tidak peduli pada hujan yang semakin deras membasahi tubuhnya.

"Apa maksudmu, Siska? Aku datang ke sini untuk melamarmu, seperti janji kita tiga tahun lalu."

Pria necis di kursi kemudi tiba-tiba tertawa lepas. Tawanya terdengar sangat mengejek dan merendahkan di telinga Gibran.

"Hahaha, melamar? Pakai apa? Pakai lumpur di sepatumu itu, hah?" ejek pria tampan berkemeja sutra itu.

"Sayang, ini mantan pacarmu yang anak petani itu? Yang kamu bilang cuma bisa makan tempe tiap hari?" tanyanya lagi sambil menatap wajah Siska.

Siska memalingkan wajahnya seolah sangat malu mengakui masa lalunya.

"Iya, Rio. Tolong jangan pedulikan dia, aku sudah muak melihat wajah miskinnya," jawab Siska tanpa ragu sedikit pun.

Dada Gibran terasa seperti dihantam palu godam berukuran besar. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan berat.

"Miskin? Kau memanggilku miskin setelah semua uang hasil kerjaku kukirimkan untuk biaya kuliahmu di kota, Siska?!" teriak Gibran tidak tertahan.

Tangan Gibran mencengkeram erat pinggiran jendela pintu mobil Rio. Matanya memerah menahan amarah dan kekecewaan yang meluap-luap.

"Lepaskan tangan kotormu dari mobilku, gembel!" bentak Rio sambil mendorong keras bahu Gibran.

Brak!

Gibran terpental ke belakang dan jatuh terduduk di atas aspal yang berair. Kotak beludru di tangannya terlepas, bergulir, dan terbuka.

Cincin emas tipis seberat satu gram itu terlempar ke dekat ban mobil sport Rio.

Rio melongok ke bawah dan melihat cincin tersebut. Senyum licik langsung mengembang di wajah arogannya.

"Cincin sampah seperti ini kamu pakai untuk melamar Siska? Siska sekarang memakai perhiasan giok seharga puluhan juta dariku!"

Krak!

Tanpa belas kasihan, Rio memajukan mobilnya sedikit dan melindas cincin emas murahan itu hingga pipih dan hancur tak berbentuk.

"Itu adalah tempat yang pantas untuk barang rongsokan dan orang miskin sepertimu," ucap Rio sambil tertawa sangat puas.

Siska menatap Gibran dari balik kaca jendela dengan pandangan angkuh tanpa dosa.

"Pulanglah ke desamu, Gibran. Dunia kita sudah berbeda, aku sekarang milik Rio."

Kaca mobil tertutup perlahan, memutuskan pandangan Gibran dari wanita yang selama ini menjadi satu-satunya alasan kerjakerasnya.

Brumm! Wusss!

Mobil sport merah itu melaju kencang membelah jalanan. Mereka meninggalkan Gibran yang duduk terpaku di tengah derasnya hujan ibu kota.

Tangan Gibran mengepal kuat meninju aspal hingga buku-buku jarinya berdarah. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan hancurnya hati dan harga dirinya saat ini.

"Aku bersumpah akan membuat kalian berdua menyesal dan merangkak memohon di bawah kakiku!" batin Gibran dengan tekad dendam yang membara.

Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menusuk kedua bola mata Gibran seolah ada jutaan jarum tajam yang ditusukkan secara bersamaan.

"Argh! Mataku! Kenapa rasanya panas sekali!"

Gibran mengerang kesakitan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Di tengah kegelapan dan rasa sakit itu, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi tiba-tiba menggema langsung di dalam otaknya.

[Kondisi keputusasaan dan tekad dendam mencapai batas maksimal.]

[Syarat aktivasi terpenuhi. Menginisiasi Sistem Mata Sakti Raja Giok.]

[Integrasi pada saraf optik Master dimulai. 10 persen... 50 persen... 100 persen. Selesai.]

Gibran tersentak hebat. Napasnya terengah-engah saat rasa sakit di matanya menghilang seketika, digantikan oleh sensasi sejuk yang aneh.

Ia perlahan membuka kelopak matanya. Pandangannya kini terasa jauh lebih tajam dan berbeda dari sebelumnya.

Bahkan di tengah hujan, ia bisa melihat butiran air jatuh ke tanah dalam gerakan yang sangat lambat.

[Selamat datang, Tuan Rumah. Kemampuan Deteksi Energi Material tingkat 1 telah aktif.]

"Suara apa itu? Siapa yang bicara?" Gibran menoleh ke kiri dan ke kanan dengan kebingungan, tapi jalanan terminal itu sangat sepi.

[Saya adalah Sistem Mata Sakti Raja Giok yang kini terikat secara permanen dengan saraf penglihatan Anda.]

[Anda kini bisa melihat fluktuasi energi murni dan nilai tersembunyi dari batu giok serta material berharga lainnya.]

Gibran menelan ludah yang terasa kering. Keterkejutannya perlahan berubah menjadi pemahaman, lalu berganti menjadi seringai tipis yang tajam.

"Melihat nilai tersembunyi dari giok? Bukankah si keparat Rio tadi menyombongkan tentang perhiasan giok?" gumam Gibran seraya bangkit berdiri.

Ia menepuk debu basah dari celananya. Hujan perlahan reda, seolah alam pun menyambut kebangkitannya dari keterpurukan.

"Siska, Rio, mari kita lihat apakah kekayaan yang kalian banggakan itu bisa menahan kemarahanku hari ini."

Gibran mulai berjalan menyusuri trotoar jalan raya. Ia mengikuti petunjuk dari papan reklame raksasa yang mengarah ke Pusat Pelelangan Giok Bintang Emas.

Dua puluh menit kemudian, ia tiba di sebuah kawasan pasar indoor yang sangat luas dan dipenuhi ribuan orang yang berlalu lalang.

Suara orang tawar menawar dan deru mesin pemotong batu terdengar bersahutan dari segala penjuru.

Wusss! Klatak!

Ini adalah tempat perjudian kelas atas di mana nasib seseorang bisa berubah dalam hitungan menit. Entah menjadi miliarder kaya raya atau jatuh miskin menanggung hutang.

BAB 2

Gibran menatap tumpukan batu alam mentah yang digelar bebas di atas meja-meja pedagang kaki lima. Matanya tiba-tiba menangkap pendaran cahaya merah redup dari beberapa batu.

[Kualitas: Batu Kapur Biasa. Energi Giok: 0 persen. Nilai: Sampah yang tidak berharga.]

Gibran tersenyum lebar. Kemampuan supranatural dari sistem ini benar-benar berfungsi sempurna.

"Hei, pemuda gembel! Jangan menghalangi jalan masuk toko bosku!" bentak seorang penjaga bertubuh besar di depan sebuah kios batu mewah.

Gibran menyingkir perlahan. Namun langkahnya terhenti secara tiba-tiba saat matanya menangkap dua sosok yang sangat ia benci di dalam kios tersebut.

Rio dan Siska sedang berdiri berdekatan di depan sebuah meja panjang yang memajang batu-batu lelang kelas premium.

"Sayang, batu hijau sebesar melon ini kelihatannya sangat cantik. Harganya cuma sepuluh juta," ucap Siska bermanja-manja sambil menunjuk sebuah batu bersisik rapi.

Rio membusungkan dadanya dengan sangat sombong.

"Sepuluh juta terlalu murah untuk seleramu, Sayang. Bos, ambilkan batu kulit naga seharga seratus juta di rak atas itu untuk pacarku!" perintah Rio dengan lantang.

Bos toko yang perutnya buncit langsung berlari melayani Rio dengan senyum menjilat yang lebar.

"Pilihan yang sangat luar biasa, Tuan Rio Muda! Intuisi Tuan dalam memilih batu berkualitas memang tidak ada duanya di kota ini!" puji bos toko berlebihan.

Tanpa sengaja, Siska menoleh ke arah pintu masuk toko. Ia melihat Gibran sedang berdiri diam di sana.

Wajah Siska langsung menegang tidak suka, diikuti oleh senyum miring yang merendahkan.

"Rio, coba kamu lihat siapa yang mengikuti kita sampai ke sini seperti anjing jalanan yang kelaparan," tunjuk Siska ke arah Gibran.

Rio ikut menoleh. Tawanya kembali meledak keras saat melihat pakaian basah dan sepatu kotor yang dipakai Gibran.

"Wah, wah. Rupanya gembel dari terminal tadi belum kapok mempermalukan dirinya sendiri. Mau mencari sisa-sisa debu batu buangan di sini, hah?" ejek Rio dari dalam toko.

Gibran membalas tatapan itu lalu melangkah masuk ke dalam kios dengan sangat tenang. Tidak ada lagi raut keputusasaan di wajahnya seperti tadi.

"Aku datang ke sini murni untuk membeli batu. Tempat pelelangan umum ini kan terbuka untuk siapa saja," balas Gibran datar.

Bos toko menatap Gibran dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sangat jijik.

"Keluar dari tokoku sekarang juga! Jangan kotori lantaiku yang mahal ini! Orang gembel sepertimu bahkan tidak bisa membeli debu dari batuku!" usir bos toko sambil mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat.

Gibran sama sekali tidak mempedulikan usiran kasar itu. Matanya justru sibuk menyapu seluruh isi toko, memindai satu per satu batu lelang yang ada di sana.

Batu seharga seratus juta yang baru saja dipilih Rio memancarkan cahaya hijau yang sangat pudar dan menyedihkan.

[Kualitas: Giok Putih Kualitas Rendah dengan banyak retakan dalam. Nilai taksiran mentah: Tiga juta rupiah.]

Gibran harus menggigit bibir bagian dalamnya untuk menahan tawa agar tidak meledak melihat kebodohan pria arogan itu.

Namun, pandangan Gibran tiba-tiba terpaku kuat pada sudut bawah meja display milik bos toko.

Sebuah batu hitam pekat berbentuk tidak beraturan tergeletak begitu saja. Batu itu digunakan sebagai pengganjal salah satu kaki meja kayu yang goyah dan tidak rata.

Dari dalam batu yang tampak seperti batu selokan biasa itu, memancar cahaya hijau kaisar yang sangat menyilaukan mata Gibran.

[Peringatan! Deteksi fluktuasi energi material ekstrem!]

[Batu Pengganjal Kaki Meja. Kualitas: Giok Sutra Es Kelas Premium Tanpa Cacat. Nilai taksiran dasar: Tiga miliar rupiah!]

Jantung Gibran berdetak kencang hingga rasanya ingin melompat menembus dadanya.

Ia melangkah maju mengabaikan tatapan sinis Rio dan Siska, langsung menuju ke sudut meja kayu tersebut.

"Bos, meja kayumu ini sepertinya tidak seimbang. Berapa harga batu hitam kotor yang kau pakai untuk mengganjalnya ini?" tanya Gibran sambil menunjuk santai ke bawah meja.

Suasana toko mendadak hening selama dua detik. Setelah itu, tawa pecah meledak dari semua orang yang ada di sana.

"Hahahaha! Dia benar-benar berniat mau membeli batu pengganjal kaki meja!" Rio tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya.

"Gibran, kamu benar-benar sudah gila karena putus asa dan terlalu miskin. Ini sangat memalukan untuk dilihat," Siska menggelengkan kepalanya dengan tatapan iba yang palsu.

Bos toko mengusap air mata tawanya dan menatap Gibran dengan pandangan remeh yang maksimal.

"Itu batu kali sisa buangan yang dipungut pekerjaku dari selokan depan jalan. Kamu mau beli batu sampah kotor itu?" tanyanya mengejek telak.

"Aku tanya berapa harganya. Kau cukup jawab saja," ucap Gibran dengan nada menekan yang membuat bos toko itu sedikit tersentak kaget.

"Bawa saja dengan uang lima puluh ribu rupiah kalau kamu mau, gembel! Anggap saja aku sedang membuang sial dan bersedekah kepadamu hari ini!" jawab bos toko sambil mendengus kasar.

Gibran merogoh saku celananya yang masih lembab akibat hujan. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu terakhir miliknya yang sudah lecek terlipat.

Ia meletakkan uang bergambar pahlawan itu ke atas meja etalase kaca dengan gerakan sangat mantap.

"Aku ambil batu ini. Dan aku ingin batu pengganjal meja ini dipotong di depan semua orang sekarang juga."

Rio kembali tertawa keras kegirangan. Pria itu sengaja berteriak untuk menarik perhatian para pengunjung pasar yang berlalu lalang di depan toko.

"Semuanya, merapat dan lihat ke sini! Ada gembel gila yang memaksa memotong batu pengganjal meja! Mari kita saksikan bersama keajaiban apa yang akan keluar dari selokan!" teriak Rio memprovokasi massa.

Puluhan orang langsung berkerumun penasaran menutupi pintu toko. Mereka menyiapkan kamera ponsel dan bersiap untuk menertawakan kebodohan Gibran.

Siska melipat tangannya di dada dengan sangat angkuh.

"Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh dari ini, Gibran. Sampah di mana pun tempatnya akan tetap menjadi sampah."

Gibran mengambil batu hitam kotor itu dari bawah meja tanpa ragu. Ia menyerahkannya ke tangan petugas pemotong mesin toko.

Senyum tipis perlahan terbentuk di sudut bibir Gibran.

"Kita lihat saja nanti, siapa yang sebenarnya sedang menggenggam sampah kotor," batin Gibran dengan dada dipenuhi rasa percaya diri mutlak.

Petugas pemotong mesin mengambil batu hitam itu dengan gerakan lambat dan malas. Ia bahkan tidak repot-repot menggunakan sarung tangan pelindung kerjanya.

"Mau dipotong langsung dari tengah atau dikupas pinggir kulitnya dulu, Tuan Gembel?" tanya petugas itu sambil tersenyum sinis memancing tawa penonton.

"Kupas kulit sebelah kanannya pelan-pelan sekitar dua sentimeter," instruksi Gibran dengan nada berwibawa.

"Sok tahu sekali, gaya bicaranya membelah batu sudah seperti master ahli tua saja," cibir Rio dari kejauhan sambil memeluk pinggang Siska.

Petugas itu menyalakan mesin pemotong batu listrik raksasa yang menggunakan mata pisau berlian tajam.

Ngiiiiing!

Suara nyaring pisau pemotong yang berputar sangat cepat langsung memekakkan telinga seluruh ruangan.

Petugas itu menekan pelan sisi kanan batu hitam milik Gibran ke arah pisau besi yang berputar kencang.

Bzzzt! Crak!

Debu batu putih langsung beterbangan menebar ke udara. Proses pengelupasan kulit luar batu itu hanya memakan waktu sepuluh detik saja.

"Nah, sudah kupotong kan. Lihat semuanya, isinya cuma pasir dan kapur pu..." ucapan sombong petugas itu terhenti tiba-tiba seolah ada batu yang menyumbat tenggorokannya.

Petugas itu buru-buru mengambil sebotol air mineral botolan. Ia menyiramkan air tersebut ke permukaan batu yang baru saja dipotong untuk membersihkan sisa debu kapurnya.

Byur.

Begitu debu putih itu luruh membasahi nampan bersama air, sebuah pantulan cahaya hijau bening yang sangat pekat dan menyilaukan memancar kuat dari dalam sayatan batu tersebut.

Suasana toko yang tadinya riuh dipenuhi tawa ejekan dan hinaan mendadak senyap seketika. Tidak ada satu pun orang yang berani bernapas.

Mata bos toko membelalak horor hingga rasanya bola matanya mau copot. Rahang berlipatnya jatuh lemas menghadap lantai.

"H-hijau... Hijau kaisar tanpa cacat? T-tidak mungkin! Batu selokan itu..." Bos toko itu tergagap hebat dengan tubuh gemetar ketakutan menyadari kerugian mutlaknya.

Wajah arogan Rio memucat pasi seperti mayat kehabisan darah. Matanya menatap tak percaya pada kilauan mematikan dari hijau sutra es yang menembus keheningan toko.

Siska menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Kaki wanita itu terasa sangat lemas nyaris ambruk melihat pemandangan ajaib di depannya.

Gibran berdiri tegak dan tersenyum sangat dingin. Ia menatap lurus ke arah mata Rio yang kini dipenuhi kepanikan dan ketidakpercayaan yang menyiksa.

Pertunjukan tamparan wajah baru saja dimulai.

BAB 3

Keheningan di dalam toko itu langsung pecah berkeping-keping digantikan oleh teriakan histeris para pengunjung pasar.

Cahaya hijau bening dari dalam batu kotor itu memantul jelas di wajah semua orang yang berkerumun.

Glek.

Suara orang menelan ludah terdengar jelas dari berbagai sudut ruangan yang mendadak terasa panas ini.

"Itu Giok Sutra Es Hijau Kaisar! Ya Tuhan, aku baru pertama kali melihat warna sepekat itu seumur hidupku!" teriak seorang pria tua berpakaian antik dari kerumunan.

Pria tua itu langsung menerobos maju sambil mengeluarkan kaca pembesar kecil dari saku kemejanya.

Ia menempelkan wajahnya nyaris menyentuh batu yang baru terbelah sebagian itu dengan napas memburu.

"Tanpa cacat! Tidak ada retakan sama sekali di bagian dalamnya!" seru pria tua itu dengan suara bergetar hebat.

Penonton yang memadati pintu toko langsung berdesakan maju hingga membuat etalase kaca bergetar.

Brak!

Petugas pemotong batu mundur beberapa langkah hingga menabrak rak di belakangnya saking terkejutnya.

Tangannya yang memegang pisau pemotong masih gemetar hebat menyadari ia baru saja membelah harta karun.

[Analisis material lanjutan selesai.]

[Tingkat kejernihan air pada giok mencapai 99 persen. Kepadatan warna sempurna.]

[Nilai jual terendah di pasar gelap: Tiga miliar rupiah. Nilai lelang resmi: Bisa mencapai empat miliar rupiah.]

Gibran hanya tersenyum tipis mendengar notifikasi sistem yang berdengung nyaman di dalam kepalanya.

Ia menatap lurus ke arah bos toko yang kini sedang meremas rambut tipisnya sendiri dengan wajah pucat pasi.

Bos toko buncit itu tiba-tiba melompat maju dan berusaha merampas batu giok tersebut dari meja mesin potong.

Tap!

Tangan Gibran bergerak jauh lebih cepat menahan pergelangan tangan bos toko itu dengan cengkeraman keras.

"Mau apa kau, Bos? Batu ini sudah sah menjadi milikku setelah aku membayarnya," ucap Gibran dengan nada sangat dingin.

Bos toko itu memaksakan tawa sumbang dengan keringat dingin yang mengucur deras membasahi kerahnya.

"Adik Gibran, ini pasti ada kesalahpahaman. Batu ini sebenarnya belum aku jual kepadamu," kilah bos toko itu dengan suara panik.

"Uang lima puluh ribu yang kamu berikan tadi belum aku masukkan ke dalam laci kasir."

"Jadi secara teknis batu ini masih milik tokoku, tolong kembalikan sekarang juga!" paksa pria buncit itu sambil mencoba menarik tangannya.

Kerumunan penonton langsung menyoraki bos toko itu dengan suara cemoohan yang sangat keras.

"Huuu! Bos macam apa kau ini? Berani berjudi tapi tidak berani menanggung kerugian lelang!" teriak salah satu pengunjung pasar.

"Benar sekali, tadi kau sendiri yang bilang menyuruh dia mengambil batu sisa selokan itu!" sahut penonton lainnya tidak terima.

Gibran melepaskan cengkeraman tangannya lalu menunjuk uang lima puluh ribu miliknya yang tergeletak di atas etalase.

"Kau sendiri yang menyuruhku mengambilnya seharga lima puluh ribu, dan transaksi jual beli lisan di pasar giok ini adalah hukum mutlak."

"Jika kau berani merampasnya kembali, aku akan memanggil keamanan pasar dan menghancurkan reputasi tokomu hari ini juga," ancam Gibran tanpa berkedip.

Bos toko itu langsung lemas dan jatuh terduduk di lantai tokonya sendiri.

Kerugian melepas giok senilai miliaran rupiah dengan harga lima puluh ribu membuat jantungnya serasa mau copot.

Gibran lalu memalingkan wajahnya menatap Rio dan Siska yang sedari tadi hanya mematung seperti orang bodoh.

"Bagaimana, Tuan Muda Rio? Apakah batu pengganjal mejaku ini cukup memuaskan matamu?" sindir Gibran dengan suara lantang.

Wajah Rio langsung memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa hingga urat lehernya menonjol keluar.

Ia baru saja memamerkan batu seharga seratus juta di depan Gibran.

Namun mantan pacar miskin kekasihnya ini malah mendapatkan giok hijau kaisar yang nilainya puluhan kali lipat lebih mahal.

"Jangan sombong dulu kau, gembel! Itu cuma kebetulan murni karena kau sedang beruntung saja!" balas Rio dengan suara berteriak untuk menutupi rasa malunya.

"Kau pikir kau bisa keluar dari pasar ini dengan aman membawa barang semahal itu, hah?" ancam Rio sambil melangkah maju mendekati Gibran.

Siska buru-buru menarik lengan kemeja Rio dengan wajah panik bercampur rakus.

Mata wanita materialistis itu tidak bisa lepas dari kilauan hijau memikat yang memancar dari atas meja potong.

"Rio, giok itu sangat langka. Ayahmu pasti akan sangat bangga jika kamu bisa membawa giok hijau kaisar itu pulang," bisik Siska pelan namun masih bisa terdengar oleh Gibran.

Mendengar bisikan pacarnya, senyum licik dan arogan kembali menghiasi wajah Rio.

Pria berpenampilan necis itu merapikan kerah kemejanya lalu menatap Gibran dengan dagu terangkat tinggi.

"Hei gembel, dengarkan baik-baik. Aku akui kau sedang beruntung hari ini mendapat batu bagus."

"Tapi orang miskin sepertimu tidak akan punya koneksi untuk menjual batu mentah ini dengan harga pantas di luar sana."

Rio mengeluarkan buku cek dari saku jasnya dengan gerakan lambat dan sengaja dilebih-lebihkan.

"Aku akan membelinya darimu seharga seratus juta rupiah. Itu uang yang tidak akan pernah bisa kau kumpulkan seumur hidupmu mencangkul di desa."

"Anggap saja aku sedang beramal kepada orang miskin yang baru saja dibuang oleh pacarnya," ucap Rio sambil menyeringai penuh kemenangan.

Kerumunan penonton kembali terdiam mendengar penawaran yang sangat tidak masuk akal itu.

Seratus juta untuk giok hijau kaisar seukuran kepalan tangan orang dewasa adalah perampokan di siang bolong.

Siska ikut melangkah maju dan menatap Gibran dengan tatapan membujuk yang terlihat sangat menjijikkan di mata Gibran.

"Gibran, terima saja uangnya. Seratus juta itu sangat banyak untukmu."

"Dengan uang itu kamu bisa memperbaiki rumah tuamu di desa dan hidup tenang. Jangan serakah dan mencoba melawan orang kaya seperti Rio," bujuk Siska dengan suara sok lembut.

Gibran menatap sepasang kekasih di depannya itu dengan pandangan seolah melihat dua ekor kecoak kotor.

Ia tidak marah, ia justru tertawa lepas hingga bahunya berguncang pelan.

Hahahaha!

Tawa Gibran menggema di dalam toko, membuat wajah Rio kembali menegang karena merasa diremehkan.

"Seratus juta? Kau mau menipu anak kecil atau kau memang benar-benar sebodoh itu dalam menilai batu, Tuan Muda Rio?" ejek Gibran telak.

Gibran mengambil batu gioknya dari meja potong dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah lampu toko.

"Pria tua di sana tadi sudah mengatakannya dengan jelas. Ini adalah hijau kaisar tanpa cacat."

"Bahkan orang buta pun tahu bahwa batu ini bernilai setidaknya tiga miliar rupiah di pasar loak batu!" teriak Gibran ke arah wajah Rio.

Mata Siska terbelalak sangat lebar hingga bola matanya nyaris keluar dari kelopaknya.

"Tiga... Tiga miliar? Tidak mungkin batu kotor itu bernilai tiga miliar!" teriak Siska histeris memegangi kepalanya sendiri.

Bayangan bahwa mantan pacar miskin yang baru saja ia buang beberapa jam lalu kini menjadi miliarder dadakan membuat kewarasan Siska nyaris putus.

Wajah Rio kini benar-benar menjadi sangat gelap dan menakutkan.

Harga dirinya sebagai tuan muda kaya raya baru saja diinjak-injak sampai rata dengan tanah oleh seorang kuli panggul terminal.

"Jaga ucapanmu, kampungan! Aku memberimu jalan keluar yang baik tapi kau menolaknya dengan kasar!" bentak Rio sambil menunjuk tepat ke depan hidung Gibran.

"Bos! Tutup pintu rolling door tokomu sekarang juga!" perintah Rio tiba-tiba dengan suara menggelegar.

Bos toko buncit yang tadinya sedang lemas di lantai langsung melompat bangun mendengar perintah Rio.

Pria buncit itu melihat peluang emas untuk merampas kembali batu itu jika ia bekerja sama dengan tuan muda Rio.

"Kalian berdua penjaga, cepat tutup pintu besi depan! Jangan biarkan gembel ini kabur membawa properti milik tokoku!" teriak bos toko kepada dua anak buahnya yang bertubuh kekar.

Srek srek srek. Brak!

Pintu rolling door besi di bagian depan toko diturunkan dengan cepat dan dikunci dari dalam, mengurung Gibran bersama Rio, Siska, bos toko, dan dua penjaga kekar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!