Bab 1
Aku Tidur sama Pelatih Gym-ku
Telapak tangan laki-laki itu masih terasa panas di pinggangku ketika aku sadar satu hal penting: aku baru saja tidur dengan pelatih gym pengganti yang bahkan belum kuketahui namanya.
Dan sekarang dia ada di ranjangku.
Tanpa baju.
Sementara sahabatku sedang menggedor pintu kamar dari luar.
"Kirana! Buka! Suami gue hilang!"
Aku menarik selimut sampai ke dagu. Di sampingku, laki-laki itu membuka mata. Bulu matanya yang lentik bergerak pelan, lalu sepasang mata bening menatapku tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Malah ada senyum di sudut bibirnya.
Sore tadi, senyum itu yang membuat otakku berhenti bekerja.
Tina, pelatih tetapku, mendadak izin karena demam. Pihak gym mengirim pengganti muda yang mengenakan kaus hitam ketat dan celana training abu-abu. Katanya, dia hanya menggantikan satu sesi.
Aku sempat ingin pulang. Besok ada presentasi penting, dan otot punggungku sudah terasa seperti kawat ditarik sejak seminggu lalu.
Namun laki-laki itu berdiri di belakangku dan berkata, "Kak, bahunya rileks. Jangan dilawan."
Tangannya menahan pinggangku ketika tubuhku dibungkukkan dalam peregangan. Napasnya menyentuh rambut di pelipisku. Aroma sabun bercampur keringat tipis membuat tengkukku meremang.
"Saya bisa sendiri," kataku.
"Bisa, tapi dari tadi Kakak gemetar."
"Karena otot saya kaku."
"Oh." Tatapannya turun ke bibirku. "Saya kira karena saya dekat sekali."
Kurang ajar.
Seharusnya kutegur. Seharusnya aku memanggil staf gym. Seharusnya aku ingat bahwa aku datang untuk olahraga, bukan membawa pulang anak muda bermata indah.
Sebaliknya, ketika dia bertanya pelan, "Boleh saya cium?" aku tidak mendorongnya.
Tubuhku sudah memberi jawaban sebelum pikiranku sempat menyusun alasan.
Satu ciuman berubah menjadi perjalanan tak masuk akal menuju apartemenku di Tangerang Selatan. Lampu kamar padam, kancing bajuku terlepas, dan malam menelan semua pertanyaan yang seharusnya kuajukan.
Sampai suara notifikasi WhatsApp membangunkanku beberapa menit lalu.
Reza: Kir, apa kabar? Aku mau pindah ke Jakarta.
Lima tahun setelah membuatku percaya bahwa jarak bisa dikalahkan, lalu membiarkan perempuan lain mengunggah foto bahagia bersamanya, dia muncul lagi dengan kalimat seolah kami baru tak saling berkabar seminggu.
Pesan itu membawa kembali suara pendingin ruangan kantor Surabaya, bau kopi sachet, dan punggung Reza yang dulu selalu berjalan setengah langkah di depanku. Kenangan itu belum sempat mengendap ketika lengan hangat Arya melingkar di pinggangku dari belakang. Masa lalu dan kesalahan malam ini bertabrakan di layar yang sama.
Aku begitu kesal sampai ponsel itu terlepas dan menghantam dahiku sendiri.
Lalu Nadia mulai menggedor pintu.
"Kira! Lo tidur, ya? Bangun! Ini darurat rumah tangga!"
Laki-laki di sampingku duduk. Selimut turun sampai ke pinggangnya, memperlihatkan bahu lebar yang tadi membuatku lupa umur dan harga diri.
"Rumah tangga siapa?" bisiknya.
"Diam." Aku menempelkan telunjuk ke bibirnya. "Kalau mau hidup panjang, jangan bersuara."
Matanya melengkung. "Galak banget setelah dapat yang diinginkan."
Pipiku terbakar.
"Kirana Maheswari!"
Gagang pintu bergerak. Untung aku menguncinya.
Aku mendorong laki-laki itu agar kembali berbaring, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "Jangan bergerak."
"Saya susah napas."
"Lebih baik susah napas daripada dibunuh Nadia."
Aku meraih kaus longgar di lantai dan memakainya dengan tangan gemetar. Baru dua langkah menuju pintu, Nadia sudah menggedor lagi.
"Suami gue nggak bisa dihubungi. Tadi online di Raja Nusantara, terus hilang. Padahal malam ini ada perang guild!"
Aku membeku.
Suami yang dimaksud Nadia bukan suami sungguhan. Dua minggu lalu dia memasang pengumuman di forum Raja Nusantara untuk mencari pasangan main. Seorang pemain muda menjawab, lalu mereka menggelar pernikahan virtual yang dihadiri satu guild.
Nadia begitu serius sampai mengusirku dari sofa setiap malam agar bisa bermain sambil video call.
"Terus kenapa nyarinya di kamar gue?" tanyaku dari balik pintu.
"Karena gue dengar suara cowok. Buka dulu!"
Aku menoleh ke ranjang. Selimut itu bergerak sedikit.
"Jangan," desisku.
"Gue telepon dia sekali lagi. Kalau nggak diangkat, gue lapor ketua guild."
Detik berikutnya, nada dering berbunyi dari bawah selimutku.
Lagu tema Raja Nusantara.
Dunia berhenti.
Nadia berhenti menggedor.
Aku menatap gundukan di ranjang dengan mata membelalak. Sebuah tangan keluar dari balik selimut, meraba lantai, lalu mengangkat celana yang tergeletak di sana. Ponsel menyala dari saku celana itu.
Nama penelepon di layar: Istri Game.
Aku ingin lompat dari balkon.
"Kira?" Suara Nadia berubah tipis. "Kenapa nada deringnya kedengaran dari kamar lo?"
Laki-laki itu menurunkan selimut. Tidak ada lagi senyum polos di wajahnya. Dia menatap layar, lalu menatapku.
"Ini bisa dijelaskan," bisiknya.
Aku mencengkeram bantal. "Lo bukan pelatih gym?"
"Bukan pelatih tetap."
"Dan lo suami game sahabat gue?"
"Secara teknis, cuma pasangan main."
Aku melempar bantal tepat ke wajahnya.
"Kirana, buka sekarang!"
Tak ada waktu untuk membunuhnya. Aku membuka pintu selebar tubuhku dan berdiri menghalangi pandangan Nadia. Rambut sahabatku berantakan. Satu tangannya memegang ponsel, tangan lain berkacak pinggang.
"Ada siapa?"
"Salah kamar," jawab laki-laki itu tiba-tiba.
Aku hampir tersedak.
Dia sudah mengenakan celana dan kemeja kusut. Entah bagaimana dia bergerak secepat itu. Sambil memasang satu kancing yang tersisa, dia berjalan mendekat dengan ekspresi sopan.
"Maaf, Mbak. Saya salah masuk. Saya sudah mau pergi."
Nadia memandangnya dari kepala sampai kaki. "Salah kamar sampai buka baju?"
"AC-nya panas."
Aku menutup mata. Alasan paling bodoh sedunia.
Anehnya, Nadia sedang terlalu mengantuk untuk menyusun bukti. Dia menguap, lalu menatap layar ponselnya yang sudah tak berdering.
"Mukanya mirip foto profil suami gue," gumamnya.
"Semua cowok gym mukanya mirip," sahutku cepat. "Tidur sana. Besok kita cari suami game lo."
Nadia mengangkat telunjuk mengancam kami berdua. "Kalau ada yang nyembunyiin sesuatu, gue sumpahin rank-nya turun sampai Bronze."
Setelah pintu ruang tamu tertutup, lututku hampir lemas.
Laki-laki itu mengambil tasnya. "Saya pergi dulu, Kak Kira."
"Jangan panggil gue begitu." Aku menahan lengannya. "Nama lo siapa?"
"Cari sendiri. Bukannya Kakak jago menyelidiki?"
Dia melepaskan peganganku dengan halus, menyelipkan sesuatu ke saku celana, lalu pergi sambil menahan tawa.
Pintu apartemen menutup.
Aku baru sadar ada satu kartu jatuh di sisi ranjang.
KTP.
Foto di kartu itu milik laki-laki yang baru keluar dari kamar. Namanya Arya Wardhana. Usianya dua puluh dua tahun, tujuh tahun lebih muda dariku.
Aku membaca alamatnya sekali.
Dua kali.
Cluster Cendrawasih, Pondok Indah.
Jari-jariku mendadak dingin. Aku pernah mengantar Pak Handoko pulang ke alamat itu. Istrinya bernama Retno Wardhana. Pak Handoko adalah direktur yang memegang keputusan promosi wakil manajer di divisi kami.
Wardhana.
Arya Wardhana.
Aku baru tidur dengan anak semata wayang bosku.
Ponselku berbunyi. Nomor baru mengirim pesan.
Arya: KTP-ku ketinggalan. Simpan dulu, ya, Rara. Senin aku ambil di kantor.
Di kantor?
Aku menatap tiga kata terakhir sampai huruf-hurufnya berbayang.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar ingin mati saja.
Bab 2
Ternyata Anak Bos
"Pagi, Kak Kira. KTP saya dibawa, kan?"
Suara itu menyambutku bahkan sebelum satu telapak kakiku melewati pintu kantor Fizzo.
Arya berdiri di sebelah Pak Handoko dengan kemeja putih, celana bahan hitam, dan kartu tamu tergantung di leher. Rambutnya disisir rapi. Tidak ada jejak laki-laki yang dua malam lalu bersembunyi telanjang di balik selimutku.
Di sisi lain Pak Handoko berdiri seorang laki-laki yang tak perlu diperkenalkan lagi.
Reza Aditya.
Mantan kekasihku menatapku dengan senyum profesional. "Lama nggak ketemu, Kirana."
Aku menggenggam tali tas sampai buku jariku memutih.
"Kebetulan sekali kalian sudah datang," kata Pak Handoko. "Kirana, ini Arya. Anak magang baru. Tolong kamu bimbing."
Kebetulan apanya?
Arya mengulurkan tangan. "Mohon bimbingannya, Kak Kira."
Aku menjabatnya sesingkat mungkin. Ibu jarinya sempat mengusap sisi telunjukku, ringan sekali, tetapi cukup membuat panas menjalar ke telinga.
"Dan kamu pasti masih ingat Mas Reza," lanjut Pak Handoko. "Dia dipindah dari cabang Surabaya untuk bantu pekerjaan Amelia."
Nama Amelia menarik kami kembali ke urusan kantor. Wakil manajer marketing itu mengundurkan diri saat kandungannya masuk tujuh bulan. Setelah perselisihan keras dengan tim sales membuatnya hampir keguguran, suaminya meminta dia fokus menjaga kesehatan.
Selama dua bulan terakhir, aku mengambil hampir semua pekerjaannya.
Semua orang mengira kursi itu akan diberikan kepadaku.
Lalu Reza datang.
"Saya siap kerja bareng siapa pun," kataku.
"Bagus." Pak Handoko menepuk bahuku. "Siang ini ada townhall. Kalian bertiga ikut. Kita cari konsep kampanye produk baru."
Arya menoleh saat Pak Handoko berjalan lebih dulu. Tatapan kami bertemu.
Anak bos. Benar-benar anak bos.
Dia mengambil ponsel dan mengetik sesuatu. Ponselku bergetar di dalam tas.
Arya: Jangan tegang, Rara. Nanti kelihatan kalau kita punya rahasia.
Aku membalas tanpa menatapnya.
Kirana: Panggil Rara sekali lagi di kantor, KTP kamu aku gunting.
Balasannya datang bersama bunyi tawa kecil dari belakangku.
Di meja kerja, aku menyerahkan kartu identitasnya di dalam amplop cokelat agar tak ada yang melihat. Arya membukanya, lalu mencondongkan tubuh ke sisi monitorku.
"Jadi semalam Kakak sudah tahu saya anak Pak Handoko?"
"Tahu setelah kamu pergi. Kalau tahu dari awal, kamu bahkan nggak akan melewati pintu apartemenku."
"Kenapa? Anak direktur menular?"
"Anak direktur bisa menghancurkan karier orang."
Senyumnya menghilang. "Saya nggak akan pakai Bapak buat menyentuh karier Kakak. Saya juga nggak mau Bapak tahu urusan kita dari orang lain."
Nada suaranya membuatku menoleh. Untuk beberapa detik, dia tidak terdengar seperti anak magang yang gemar menggoda. Dia terdengar seperti seseorang yang paham persis betapa keras aku membangun tempatku di kantor ini.
Lalu dia mengedip.
"Tapi kalau Kakak mau menyentuh saya lagi, itu urusan berbeda."
Aku menutup laptop tepat sebelum keinginan memukulnya menang.
Townhall siang itu dihadiri kepala tim marketing, sales, distribusi, dan beberapa staf produk. Di tengah meja panjang berdiri dua dus kaleng Fizzo varian rosella, minuman soda tanpa alkohol yang baru lolos uji pasar terbatas.
Pak Handoko baru menjelaskan target musim wisuda ketika Reza mengangkat tangan.
"Dengan hormat, Pak, strategi seperti ini terlalu aman. Produk kita kehilangan pangsa anak muda karena keputusan sebelumnya lambat. Kalau cuma mengandalkan promo harga, hasilnya akan sama."
Ruangan hening.
Pak Handoko mengusap dada pelan, kebiasaan yang muncul saat lelah. "Karena itu saya minta ide, bukan penilaian umum."
Reza tersenyum. "Saya cuma ingin kita berani mengakui ada masalah di level pengambilan keputusan."
Berani.
Kata itu tersangkut di kepalaku.
Reza selalu begitu. Dia membuat serangan terdengar seperti kepedulian. Lima tahun lalu, aku pernah menganggap kecerdikannya menawan. Hari ini, melihat dia menyudutkan Pak Handoko di depan satu divisi, telapak tanganku justru gatal.
Aku membuka satu kaleng Fizzo rosella. Bunyi desisnya memecah diam.
"Kalau targetnya anak muda, kita jangan menyuruh mereka percaya iklan," kataku. "Kita tantang mereka mencoba."
Aku menenggak setengah kaleng, lalu membuka kaleng kedua. Gelembung asam-manis menggelitik tenggorokan.
"Dua kaleng sekaligus, Kir?" Reza menyandarkan punggung. "Masih suka nekat."
"Saya percaya produk kita." Aku mendorong satu kaleng ke arahnya. "Mas Reza berani nggak?"
Senyumnya membeku.
Hanya kami berdua yang tahu tubuhnya sensitif terhadap ekstrak rosella. Seteguk tak akan membunuhnya, tetapi cukup membuat biduran bermunculan di leher dan lengan.
Beberapa staf menoleh. Setelah pidato panjang soal keberanian, menolak satu kaleng produk sendiri akan terlihat lucu.
Reza mengambilnya.
"Tentu."
Dia minum dua teguk. Lima menit kemudian, warna merah merambat dari balik kerahnya. Tangannya ingin menggaruk, tetapi dia menahannya sambil tetap tersenyum.
Aku berdiri di depan layar.
"Berani Nggak?" tulisku sebagai judul. "Kita bukan jual minuman. Kita jual satu momen saat orang berhenti ragu. Tantangan sidang skripsi, daftar kerja pertama, nyatakan perasaan, atau mencoba rasa baru. Konsumen unggah video mereka, lalu tantang tiga teman."
Beberapa kepala mengangguk. Tim digital mulai mencatat.
"Bagus," kata Pak Handoko. "Tapi musim wisuda cuma sebentar. Distribusinya bagaimana?"
Arya mengangkat tangan. "Masuk lewat kampus. Gandeng BEM dan komunitas game. Raja Nusantara lagi menyiapkan turnamen nasional. Kalau Fizzo jadi sponsor utama, tagar kampanye bisa hidup dari penonton turnamen, bukan dari iklan kita saja."
Tatapan Pak Handoko berubah bangga sebelum cepat-cepat disembunyikan. "Kamu tahu orang di sana?"
"Saya kenal ekosistemnya. Saya bisa siapkan daftar kontak dan proyeksi jangkauan."
Reza menggaruk lehernya diam-diam. "Ide game terlalu sempit."
"Pengguna aktifnya dua belas juta," jawab Arya ringan. "Kalau itu sempit, saya ingin tahu definisi luas versi Mas Reza."
Tawa tertahan terdengar di ujung meja.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku ingin tersenyum kepada Arya.
Pak Handoko mengetuk meja. "Kirana dan Reza pimpin proyek. Arya bantu riset audiens dan kerja sama game. Tiga hari lagi saya mau lihat proposal."
Saat rapat bubar, Reza menahanku di lorong.
"Lo sengaja kasih rosella."
"Lo sengaja minum."
"Masih marah soal dulu?"
Aku melihat bentol merah yang mulai naik ke rahangnya. "Minum antihistamin. Jangan sok kuat kalau tubuh lo sendiri bilang tidak."
Arya muncul sambil membawa botol air. Dia menyerahkannya kepada Reza dengan wajah paling polos.
"Mas, wajahnya merah. Malu atau alergi?"
Reza merebut botol itu dan pergi.
Ponselku bergetar lagi.
Arya: Aku lebih cocok jadi partner Kakak.
Kirana: Kamu suami sahabatku, tapi tetap kutiduri juga. Jangan bangga.
Arya: Berarti posisi partner masih kosong. Aku daftar.
Aku menekan layar terlalu keras, lalu membuka Instagram hanya untuk mengalihkan perhatian. Unggahan terbaru Vania muncul di urutan pertama. Foto jendela pesawat dengan pemandangan awan.
Caption-nya pendek.
Takut dia datang ke Jakarta untuk cinta lamanya.
Ponselku terlepas dan jatuh ke meja.
Aku buru-buru memblokir akun Vania, tetapi kalimat itu sudah telanjur menancap. Ternyata mantan memang punya bakat menjadi luka yang bangun pada saat paling tidak diinginkan.
Bab 3
Proyek "Berani Nggak?"
Lima tahun lalu, Surabaya mengajariku bahwa cinta bisa terasa seperti rumah sekaligus ruang tunggu.
Saat itu aku masih management trainee yang selalu datang paling pagi dan pulang setelah petugas kebersihan mematikan separuh lampu kantor. Reza adalah atasanku. Dia mengajariku membaca laporan distribusi, menghadapi klien yang meremehkan perempuan muda, dan memesan rawon terenak saat lembur.
Pada satu jamuan klien, seorang tamu terus mendorong gelas ke arahku. Reza menukarnya dengan gelas miliknya.
"Dia masih harus presentasi besok," katanya. "Saya yang temani Bapak."
Malam itu lehernya memerah karena makanan yang mengandung rosella. Dia tetap tersenyum sampai klien pulang, lalu duduk di trotoar sambil menelan antihistamin.
Aku jatuh cinta pada laki-laki yang kukira selalu akan berdiri di depanku.
Setahun kemudian masa rotasiku selesai. Reza memintaku menetap di Surabaya. Pada hari yang sama, kantor pusat Jakarta menawarkan jalur percepatan karier.
"Kalau lo pulang, kita mau bagaimana?" tanyanya.
"Kita bisa jarak jauh."
"Karier selalu nomor satu buat lo."
Aku tetap naik pesawat ke Jakarta.
Dua tahun setelahnya, Vania mengunggah foto bersama Reza dengan caption: Sama kamu, aku selalu bahagia.
Tak ada penjelasan. Aku menghapus nomor Reza dan memblokir Vania. Namun rupanya menghapus kontak tidak sama dengan membuang kenangan.
Sekarang, lelaki yang dulu melindungiku justru berdiri di sisi lain meja proyek dan mengambil setiap ide seolah muncul dari kepalanya sendiri.
Untung Arya tak memberiku waktu untuk terlalu lama menatap masa lalu.
"Kak Kira, proposal kampus sudah masuk. Tiga puluh dua BEM mau ikut challenge."
Dia menjatuhkan diri di kursi sebelahku. Grafik jangkauan Raja Nusantara memenuhi tabletnya.
"Bagus. Kirim ke tim digital sebelum jam empat."
"Malam ini kita rayakan?"
"Belum selesai."
"Kalau menunggu Kakak merasa selesai, kita rayakan saat pensiun."
Benar juga.
Tiga minggu berikutnya berjalan seperti mesin panas. Kaleng Fizzo rosella masuk ke kampus-kampus melalui booth wisuda dan komunitas mahasiswa. Para pemain Raja Nusantara mengunggah tantangan mereka. Ada yang menembak gebetan di depan perpustakaan, ada yang mengirim lamaran kerja pertama, ada yang mencicipi rosella sambil menahan wajah masam.
Tagar BeraniNggak naik di TikTok. Penjualan bertambah dua puluh persen.
Di kampus terakhir, seorang mahasiswi membawa kaleng Fizzo ke panggung wisuda lalu menantang ibunya ikut kursus menjahit yang selama ini ditunda. Videonya ditonton jutaan kali. Komentar tak lagi membicarakan rasa minuman, melainkan keberanian kecil yang bisa mengubah hidup. Saat tim digital bersorak, aku melihat Reza berdiri di belakang mereka dan menerima ucapan selamat dari direktur lain. Arya justru menyelipkan catatan di bawah laptopku.
Konsep dari Kak Kira. Eksekusi juga dari Kak Kira. Jangan biarkan orang lain menulis ulang ceritanya.
Kusimpan kertas itu di dalam agenda.
Malam saat angka final masuk, aku mengirim pesan kepada Arya.
Kirana: Hotel Aveston. Satu jam lagi.
Arya: Ini undangan rapat atau hadiah performa?
Kirana: Datang kalau berani.
Dia tiba empat puluh menit kemudian dengan rambut masih basah dan senyum yang membuat kamar hotel terasa lebih sempit.
"Rara akhirnya mengakui kerja kerasku?"
"Aku cuma nggak mau pulang. Nadia masih tinggal di apartemenku."
"Berarti aku hotel darurat?"
Aku menarik kerah kemejanya. "Banyak tanya."
Ciumannya menelan jawabanku. Beberapa saat kemudian punggungku menyentuh seprai dan dunia di luar kamar menghilang.
Sampai ponselku berdering.
Nama Reza menyala di layar.
Aku hendak mematikannya, tetapi Arya lebih cepat. Dia mengangkat panggilan dan menyalakan pengeras suara.
"Kirana?" Suara Reza terdengar di antara dengung mesin lift. "Gue di depan apartemen lo."
Aku bangkit. "Arya, tutup."
Arya menahan pinggangku. "Malam ini dia milikku, Mas. Jangan tunggu."
"Siapa lo?"
"Orang yang kasih alamat itu ke Mas Reza. Biar jelas sekalian."
Aku menutup panggilan dan memukul dadanya. "Kamu kasih alamatku?"
"Aku mau tahu Kakak bakal pilih siapa."
"Itu manipulatif."
Wajahnya menegang. "Aku lihat cara Kakak memandang dia. Aku nggak mau jadi tempat singgah sementara Kakak menunggu mantan."
Sebelum aku menjawab, voice note Nadia masuk beruntun.
"Kira, ada om-om nungguin lo di bawah! Jangan bilang ini Arya!"
Voice note kedua lebih keras.
"Berani banget lo tidur sama suami gue, terus seleranya setua ini!"
Aku menutup wajah dengan bantal. Arya tertawa sampai bahunya berguncang. Kemarahanku belum hilang, tetapi suara tawa itu meretakkan simpul di dadaku.
Nadia kemudian mengirim foto Reza dari kejauhan. Di bawahnya ada tulisan: Kalau ini suami game gue, gue ikhlas cerai sebelum login.
Aku membalas bahwa laki-laki itu mantanku. Tiga titik muncul lama sekali sebelum voice note berikutnya datang.
"Jadi yang lo tiduri memang Arya? Kirana, besok kita sidang persahabatan. Tapi tenang, pernikahan gue sama dia cuma virtual. Yang gue marahin itu lo bohong, bukan rebutan cowok."
Dadaku sedikit longgar. Setidaknya satu dari tiga bom malam pertamaku ternyata tidak akan meledak.
"Besok jelaskan ke Nadia," kataku. "Dan jangan pernah pakai alamatku untuk menguji aku lagi."
Arya berhenti tertawa. "Iya. Maaf."
Dia tidak mencari alasan. Itu membuatku lebih mudah memaafkannya.
Dua hari kemudian, rapat evaluasi proyek diadakan. Pak Handoko memuji peningkatan penjualan, tetapi surat keputusan yang dibacakan HR membuat tepuk tangan terdengar seperti ejekan.
Reza resmi menjadi wakil manajer marketing.
Aku mendapat kenaikan gaji sepuluh persen.
"Terima kasih atas kerja keras semuanya," kata Reza di depan tim. "Ke depan, saya akan memastikan strategi kita lebih terarah."
Strategi kita.
Di layar masih ada konsep yang kutulis, jaringan kampus yang dikerjakan Arya, dan video pendek yang kurancang bersama tim digital. Namun nama Reza berada di surat keputusan.
Setelah rapat, dia menyusulku ke lorong tangga darurat.
"Jangan pasang muka begitu. Lo tetap dapat kenaikan."
"Selamat, Mas Reza."
"Lo kira tidur sama anak Pak Handoko bisa bikin lo naik jabatan?"
Aku berhenti.
Lima tahun kenangan berdiri di antara kami. Trotoar Surabaya. Rawon tengah malam. Gelas yang dia ambil dari tanganku. Semua itu runtuh oleh satu kalimat.
"Yang mencuri kerja orang lain ternyata masih sempat mengurus ranjang orang," kataku.
Reza mencibir. "Gue cuma bilang kenyataan."
Tanganku bergerak lebih dulu.
PLAK!
Kepalanya menoleh karena tamparanku. Bekas merah muncul di pipinya, jauh lebih jelas daripada biduran rosella waktu itu.
"Ini juga kenyataan," ucapku. "Kenangan indah kita hancur detik ini. Jangan pernah bawa tubuhku untuk merendahkan pekerjaanku lagi."
Aku meninggalkannya di tangga darurat.
Di balik pintu, Arya berdiri sambil memegang dua kaleng Fizzo. Entah sudah berapa lama dia mendengar.
Dia tidak bertanya. Dia hanya membuka satu kaleng dan menyerahkannya kepadaku.
"Buat merayakan apa?" tanyaku.
"Kakak akhirnya berani berhenti menoleh ke belakang."
Aku menerima kaleng itu. Untuk pertama kali, ketika Arya memanggilku Kakak, aku tidak merasa sedang berdiri di samping anak kecil.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!