Indonesia
NovelToon NovelToon

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Episode 1

Bab 1

Bocah di Depan Warung Mbah Surti

"Turun. Tunggu Mbah kamu di sini."

Pintu Mercedes itu belum benar-benar terbuka ketika seorang bocah laki-laki didorong turun bersama ransel kecilnya. Sol sepatunya terpeleset di aspal berdebu. Tangannya sempat mencengkeram ujung gaun perempuan di dalam mobil, tetapi jemari berlapis cincin itu menepisnya.

"Ibu ikut turun, kan?"

"Jangan bikin susah, Rayhan. Ibu sudah terlambat."

Pintu menutup tepat di depan wajahnya.

Mercedes hitam itu mundur dengan susah payah di Gang Mawar yang sempit. Seorang tukang sayur buru-buru menarik gerobaknya. Pengemudi ojek online mengangkat kaki agar sepatunya tidak terserempet. Ban mobil menggilas kubangan kering, menyemburkan debu dan kerikil ke betis Rayhan.

Bocah itu tidak bergerak. Ia hanya menatap lampu belakang mobil yang makin kecil, lalu hilang di tikungan.

Bekasi sedang panas-panasnya. Aspal menyimpan hawa seperti wajan. Keringat membasahi pelipis Rayhan, tetapi kedua tangannya terasa dingin saat memeluk ransel ke dada.

Di depannya, pintu gulung warung Mbah Surti tertutup. Tulisan GORENGAN HANGAT di papan kayu sudah pudar dimakan hujan.

"Itu anaknya Yanti, ya?"

"Yang nikah sama bule itu? Kok ditinggal begitu saja?"

"Mungkin cuma dititipkan."

"Kalau cuma dititipkan, ibunya turun dulu, lah. Masa pintu warung saja nggak diketuk?"

Bisik-bisik para tetangga terdengar jelas. Rayhan mengangkat tangan ke pintu, lalu menurunkannya lagi. Tiga kali buku jarinya hampir menyentuh besi. Tiga kali pula keberaniannya hilang.

Ia takut tidak ada jawaban.

Lebih takut lagi kalau Mbah Surti menjawab dan menyuruhnya kembali kepada ibu yang sudah pergi.

Di seberang warung, seorang remaja berambut cepak duduk di atas motor tanpa jok. Kausnya kebesaran, lutut celananya sobek, dan sebuah kunci inggris menyembul dari saku belakang. Sejak tadi ia memperhatikan sambil menggigit batang rumput kering.

"Kasihan banget," gumam seorang ibu di dekatnya.

Remaja itu melirik. "Kalau kasihan, kasih minum. Jangan cuma ditontonin, Bu."

Ibu itu mendengus lalu masuk rumah.

Remaja itu bernama Laras. Di Gang Mawar, orang lebih sering melihatnya berkutat dengan rantai motor daripada menyisir rambut. Saat anak perempuan lain pulang sekolah dengan bedak tipis dan pita, Laras pulang dengan noda oli di pipi.

Ia turun dari motor, mengambil botol air dari meja bengkel, lalu menyeberang.

"Hei, bocah."

Rayhan mendongak. Matanya merah, tetapi tidak ada suara tangis yang keluar.

Laras menyodorkan botol. "Minum. Mukamu udah kayak kerupuk dijemur."

Rayhan menerima dengan ragu. "Makasih."

"Mbah-mu ke pengajian. Warungnya baru buka habis Magrib kalau nggak capek."

Wajah Rayhan langsung memucat. "Terus aku harus nunggu di sini?"

Laras hendak menjawab ketika bunyi mesin tua terdengar dari ujung gang. Sebuah pikap biru masuk perlahan dengan tulisan BENGKEL PAK DARTO di pintunya. Pengemudinya turun sambil menahan tubuh pada sisi pintu. Langkah kirinya sedikit menyeret.

"Lho, iki sopo?" Pak Darto memandang bocah di depan warung, lalu Mercedes yang sudah tidak tampak. "Anaknya Yanti?"

Rayhan menunduk. Ranselnya kembali dipeluk kuat-kuat.

Pak Darto tidak bertanya mengapa ia ditinggalkan. Tidak menanyakan ayahnya, tidak pula ikut mengomentari Yanti seperti para tetangga. Lelaki itu hanya mengendus pelan, seolah baru menyadari sesuatu.

"Sudah makan, Le?"

Perut Rayhan menjawab lebih dulu. Bunyinya kecil, tetapi cukup membuat telinganya merah.

Pak Darto mengangguk ke rumahnya. "Mangan dulu. Urusan lain belakangan."

Meja makan di rumah Pak Darto kecil dan salah satu kakinya diganjal kardus. Di atasnya ada sepiring nasi hangat, tumis kangkung, tempe goreng, dan telur kecap sisa makan siang. Pak Darto memanaskannya kembali tanpa banyak bicara.

Rayhan duduk di ujung kursi. Ia tidak langsung mengambil sendok.

"Kenapa? Nggak suka?" tanya Laras dari ambang pintu.

Rayhan menggeleng cepat. "Boleh aku makan semuanya?"

Tangan Pak Darto yang sedang menuang teh berhenti sesaat.

"Itu memang buat kamu." Ia menggeser piring lebih dekat. "Kalau kurang, bilang."

Rayhan menunduk lebih dalam. Suapan pertamanya terlalu besar. Ia mengunyah cepat, seperti takut piring itu akan diambil. Pada suapan ketiga, air matanya jatuh ke nasi.

Laras pura-pura tidak melihat. Ia mengambil kunci inggris dari sakunya dan memutar-mutarnya di jari.

Pak Darto juga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menaruh satu telur lagi di piring Rayhan.

Setelah makan, Rayhan duduk diam di teras. Senja mulai turun, tetapi pintu warung Mbah Surti masih tertutup. Setiap ada suara motor di ujung gang, kepalanya langsung terangkat. Setiap kali bukan Mercedes ibunya yang muncul, bahunya kembali turun.

Pak Darto menyenggol lengan Laras. "Ajak main. Jangan dibiarkan melamun terus."

"Main apa sama anak SD?"

"Kamu juga kelakuannya masih anak SD. Cocok."

"Bapak, nih."

Meski menggerutu, Laras memanggil Rayhan dengan gerakan dagu. "Ayo."

Mereka berjalan ke ujung Gang Mawar, tempat selokan besar mengalir di samping lahan kosong. Sehabis hujan dua hari lalu, pinggirannya masih penuh lumpur. Anak-anak biasa berlomba melempar tutup botol ke arus kecil di sana.

Laras menemukan dua tutup botol dan memberikan satu kepada Rayhan. "Yang sampai jembatan duluan menang."

"Menang apa?"

"Menang, ya menang. Kebanyakan tanya."

Mereka berjongkok. Saat hitungan ketiga, Laras mendorong tutup botolnya dengan ranting. Rayhan ikut melakukannya, awalnya ragu, lalu makin bersemangat ketika tutup botolnya tersangkut batu.

"Curang! Punyamu didorong terus!"

"Namanya juga strategi."

Rayhan mencoba mengambil tutup botolnya. Ujung sandalnya selip. Tubuhnya oleng, tangannya meraih apa saja, dan yang tertangkap justru lengan Laras.

Keduanya jatuh ke lumpur.

Sesaat mereka hanya saling menatap. Kaus Laras terciprat sampai dada. Wajah Rayhan belepotan cokelat dari pipi sampai dagu.

Laras menyeka lumpur dari hidungnya, lalu mengoleskannya ke dahi Rayhan.

"Sekarang sekalian aja."

Rayhan membelalak. Laras sudah bersiap menerima tangis, tetapi bocah itu malah mengambil segenggam lumpur dan membalas.

"Hei! Berani juga, ya!"

Rayhan berlari. Laras mengejar. Tawa bocah itu pecah untuk pertama kali sejak Mercedes pergi, tipis pada awalnya, lalu lepas begitu saja sampai tubuhnya terbungkuk kehabisan napas.

Ketika mereka kembali, azan Magrib terdengar dari musala. Pak Darto berdiri di teras dengan tangan berkacak pinggang.

"Kusuruh ajak main, bukan diajak jadi kerbau!"

Laras menunjuk Rayhan. "Dia duluan, Pak."

"Bohong," protes Rayhan pelan, masih tersenyum.

"Nah, sudah bisa bantah. Berarti sehat."

Pak Darto menyuruh mereka membilas kaki di keran. Rayhan memandangi kausnya yang basah dan ransel kecilnya yang hanya berisi dua potong pakaian. Ia memegang ujung kain itu, bingung.

Laras masuk ke rumah, mengobrak-abrik lemari, lalu kembali dengan sebuah kaus hitam yang sudah pudar keabu-abuan. Ia melemparkannya.

Rayhan menangkap kaus itu dengan kedua tangan.

"Pakai. Daripada masuk angin terus nangis lagi."

"Aku nggak nangis."

"Iya, iya. Matamu tadi kemasukan satu warung."

Rayhan tidak membalas. Jemarinya mengerat pada kaus lama itu. Ia menatap Laras, lalu rumah kecil di belakangnya, seakan sedang menunggu seseorang berkata bahwa ia boleh tinggal.

Tak ada yang mengucapkan kalimat itu.

Namun ketika Laras melihat cara bocah itu memeluk kaus bekasnya, satu pikiran muncul tanpa izin.

Anak ini sepertinya benar-benar akan menetap di sini.

Episode 2

Bab 2

Panggil Aku Mbak

Anak ini sepertinya benar-benar akan menetap di sini.

Pikiran itu belum hilang ketika Rayhan menurunkan kaus lama dari dadanya.

"Aku boleh pakai kamar mandi?"

"Tanya Bapak, jangan gue."

Pak Darto menunjuk pintu belakang. "Handuknya ambil yang biru. Habis itu sholat Magrib dulu, Le."

Malam turun bersama bau tanah basah dan suara minyak mendesis dari warung yang akhirnya dibuka. Lampu di rumah Mbah Surti menyala, tetapi perempuan tua itu belum juga datang mencari cucunya.

Pak Darto menghidangkan nasi lagi. Baru dua suap, ponsel tuanya berdering. Sebuah mobil mogok di tanjakan arah Cibubur dan harus ditarik malam itu juga.

"Laras, jaga rumah. Bapak mungkin pulang tengah malam."

"Rayhan diapain?"

"Masa digoreng? Ya ditemani. Nanti antar ke Mbah kalau warung sudah tutup."

Pak Darto pergi membawa jaket lusuhnya. Suara pikap menjauh, menyisakan Laras dan Rayhan di meja makan.

Rayhan menghabiskan nasi tanpa suara. Setelah Laras menaruh piring di bak cuci, ia ikut berdiri.

"Aku cuci."

"Bisa?"

"Bisa belajar."

Ia menggulung lengan kaus pudar yang kebesaran. Busa sabun sampai ke siku. Satu piring hampir terlepas, membuat Laras refleks menangkapnya.

"Pelan-pelan. Kalau pecah, ganti."

"Aku nggak punya uang."

Jawaban itu membuat Laras diam sesaat.

"Ya udah, jangan dipecahin."

Rayhan menyusun piring di rak, miring dan tidak beraturan, lalu mengelap meja sampai tiga kali. Ketika selesai, ia menatap Laras seperti menunggu nilai.

"Lumayan," kata Laras.

Hanya satu kata. Namun dada kecil Rayhan terangkat bangga.

Menjelang pukul delapan, Laras mengantarnya ke warung. Pintu gulung sudah ditutup separuh. Lampu ruang belakang terang. Dari dalam terdengar batuk Mbah Surti dan suara televisi.

Rayhan mengetuk pelan.

"Mbah? Ini Ray."

Televisi mendadak mengecil. Tidak ada langkah mendekat.

Rayhan mengetuk sekali lagi. "Mbah, boleh buka?"

Seseorang berdeham di dalam, lalu sunyi kembali.

Laras menekan bibir. "Mbah, saya Laras. Rayhan saya antar."

Tetap tidak ada jawaban.

Rayhan berdiri dengan kepala tertunduk. Tangan yang tadi bangga karena bisa mencuci piring kini meremas ujung kaus pinjaman.

"Mungkin Mbah tidur," katanya pelan.

"Tidur sambil nonton sinetron? Hebat juga."

Laras sengaja mengeraskan suara, tetapi pintu tetap tertutup. Ia akhirnya menarik ransel Rayhan.

"Udah. Balik."

"Kalau Pak Darto marah?"

"Rumah gue, Bapak gue. Biar gue yang dimarahin."

Di balik pintu warung, sebuah bayangan bergerak. Laras melihatnya dari celah bawah, tetapi tidak membongkar kepura-puraan Mbah Surti. Harga diri orang tua kadang lebih keras daripada pintu besi.

Malam itu Rayhan tidur di kasur tipis dekat ruang tengah. Sebelum lampu dimatikan, ia memanggil Laras yang hendak masuk kamar.

"Bang Laras."

Laras berbalik. "Apa?"

"Ceritain sesuatu. Aku nggak bisa tidur."

"Gue bukan pendongeng."

"Cerita apa aja."

Laras duduk bersila di ambang pintu. Ia bercerita tentang pelanggan bengkel yang salah memasang bensin ke motor diesel, meskipun cerita itu jelas bohong karena tidak ada motor diesel di gang mereka. Rayhan tetap mendengarkan sampai matanya berat.

"Kamu kayak kakak laki-laki," gumamnya.

Laras tertawa pendek. "Bagus. Jangan panggil Kakak, terlalu lembek. Panggil Bang Laras aja."

"Tapi kamu perempuan."

"Terus kenapa?"

Rayhan memikirkan itu, lalu tersenyum kecil. "Bang Laras."

"Nah. Pinter. Tidur."

Pagi-pagi sekali, Laras mendapati sebungkus lontong sayur dan dua telur rebus tergantung di pagar. Tidak ada nama. Dari seberang jalan, tirai warung Mbah Surti bergerak cepat.

Laras membawa bungkusan itu masuk tanpa komentar. Rayhan makan satu telur. Satu lagi disimpannya di piring untuk Pak Darto yang baru pulang.

"Itu buat kamu," kata Laras.

"Pak Darto kerja semalaman."

Laras menatapnya, lalu mengacak rambutnya sekali. "Sok dewasa."

Selepas sarapan, Laras berangkat ke SMP 12 Bekasi. Rayhan pulang ke warung setelah Mbah Surti akhirnya membuka pintu dan memarahinya karena membuat orang sekampung ribut.

"Lain kali ketuk yang keras! Kamu punya tangan buat apa?"

"Mbah kemarin dengar?"

"Nggak! Mbah tidur!"

Rayhan tidak berani tersenyum, tetapi saat menoleh ke Laras, sudut bibirnya naik sedikit.

Mbah Surti menyambar ranselnya lalu memeriksa isinya. Hanya dua kaus, satu celana pendek, buku pelajaran, dan sikat gigi.

"Ibumu bilang berapa lama kamu tinggal?"

Rayhan menggeleng.

Rahang Mbah Surti mengeras. "Nomornya nanti kasih ke Mbah. Sekolahmu juga harus diurus. Jangan karena orang dewasa nggak becus, kamu ikut telantar."

Nada suaranya tetap tajam, tetapi ia menarik Rayhan masuk dan menyuruhnya mandi lagi karena masih ada lumpur di belakang telinga.

Laras hendak pergi ketika Rayhan mengejarnya sampai teras.

"Bang Laras."

"Sekarang apa lagi?"

Rayhan mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku. Di sana ada nomor telepon yang ditulis Yanti, sebagian tintanya luntur oleh air selokan.

"Kalau Ibu telepon rumah Pak Darto, bilang aku di Mbah, ya. Takutnya Ibu nyari."

Laras menerima kertas itu. Ia tidak tega mengatakan bahwa orang yang benar-benar mencari tidak akan meninggalkan anak tanpa mengetuk pintu.

"Iya," jawabnya. "Nanti gue bilang."

Baru setelah Rayhan masuk, Laras melipat kertas itu dan menyimpannya di balik casing ponselnya agar tidak makin rusak.

Di sekolah, Laras datang terlambat lima menit. Ia menjatuhkan tas ke kursi di samping Nadia, gadis bertubuh besar yang selalu membawa bekal bertingkat.

"Kenapa kusut begitu?" tanya Nadia.

"Semalam ngurus bocah."

"Kamu punya adik?"

"Bukan. Titipan kiamat."

Nadia terkikik. Tawanya berhenti ketika tiga siswi dari bangku belakang mendekat. Salah seorang mengambil kotak bekalnya tanpa izin.

"Wah, makanannya banyak lagi. Pantes kursinya bunyi terus."

Teman-temannya tertawa.

Nadia mengulurkan tangan. "Balikin. Itu buatan ibu aku."

"Kalau mau, ambil."

Kotak itu diangkat tinggi. Nadia mencoba meraih, tetapi sebuah botol air dilempar dari belakang. Botol itu meleset dan menghantam pelipis Laras.

Kelas langsung sunyi.

Laras menyentuh sisi kepalanya. Basah. Air menetes ke kerah seragamnya.

"Nggak sengaja," kata si pelempar, tanpa sedikit pun terdengar menyesal.

Laras membuka tas. Bukan buku yang ia keluarkan, melainkan kunci inggris pendek yang biasa ia bawa untuk membantu Pak Darto sepulang sekolah.

Brak!

Besi itu menghantam meja pemimpin kelompok sampai tempat pensilnya melompat.

"Kotaknya balikin."

Gadis itu tersentak, lalu melempar kotak bekal ke meja Nadia. "Sok jago banget."

"Nggak sok. Emang bisa."

"Berani kalau sendirian?"

"Coba aja."

Gadis itu mendekat sampai wajah mereka hanya berjarak sejengkal. "Pulang sekolah. Belakang gang. Jangan kabur."

Bel masuk berbunyi. Guru belum datang, tetapi semua orang sudah kembali ke kursi, pura-pura sibuk.

Nadia memegang lengan Laras. "Jangan datang. Mereka berenam."

Laras mengelap kunci inggrisnya dengan ujung rok seragam. "Bagus. Biar cepat selesai."

Waktu merayap sampai siang. Saat bel pulang akhirnya berdering, kursi-kursi bergeser serempak. Di luar jendela, enam siswi sudah menunggu.

Laras berdiri.

Jemarinya menutup rapat pada gagang kunci inggris.

Episode 3

Bab 3

Satu-Satu atau Rame-Rame?

Jemarinya menutup rapat pada gagang kunci inggris.

"Laras, jangan," bisik Nadia sekali lagi.

Laras menyampirkan tas ke bahu. "Pulang aja."

"Terus ninggalin kamu?"

"Kalau kamu ikut, gue malah harus jagain dua orang."

"Dua?"

Laras mengangguk ke luar pagar. Di bawah pohon mangga, Rayhan berdiri dengan seragam SD dan ransel di punggung. Entah sejak kapan ia menunggu. Kedua tangannya masuk ke saku celana, tetapi wajahnya jelas tegang melihat kelompok siswi yang mengikuti Laras.

"Bang Laras!"

"Ngapain ke sini?"

"Mbah suruh jemput."

"Mbah nyuruh anak SD jemput anak SMP? Bohongnya kurang pinter."

Rayhan menunduk, ketahuan. Laras mendorong bahunya ke sisi warung dekat pagar.

"Tunggu di sini. Jangan ikut."

Enam siswi itu berjalan ke lahan kosong di belakang sekolah. Beberapa murid lain ikut dari jauh, haus tontonan. Pemimpin kelompok melempar tasnya ke tanah.

"Katanya jago?"

Laras mengeluarkan kunci inggris, menimbangnya di telapak tangan. Ia tidak mengayun. Cukup membiarkan matahari sore memantul pada besinya.

"Mau satu-satu atau rame-rame?"

Kerumunan langsung ribut.

Salah seorang gadis maju setengah langkah, lalu berhenti. Mereka mungkin sudah membayangkan Laras akan takut karena kalah jumlah. Tidak ada yang memperhitungkan ketenangannya.

"Jangan sok preman," kata pemimpin mereka.

"Kalian yang ngajak. Gue cuma datang."

"Kalau gue maju duluan?"

Suara laki-laki terdengar dari belakang. Bima berjalan menembus kerumunan bersama dua temannya. Seragamnya tidak dimasukkan, dasinya dililit ke pergelangan tangan.

Nadia langsung mundur. Wajahnya pucat. Bima sering ikut menertawakannya di sekolah.

Pemimpin kelompok itu tersenyum lega. "Nah, Bim. Bantuin, dong. Anak bengkel ini banyak gaya."

Bima berhenti di samping Laras. Ia melihat kunci inggris, lalu enam siswi di depan mereka.

"Gue paling males lihat orang keroyokan," katanya. "Kalau enam lawan satu, gue berdiri di sini. Biar seimbang dikit."

"Lo bela dia?"

"Gue bela tontonan yang adil."

Tawa pecah. Wajah kelompok itu memerah. Laras melirik Bima.

"Gue nggak minta bantuan."

"Santai. Gue juga nggak gratis. Nanti traktir es."

Nadia yang berdiri di belakang Laras menatap Bima dengan bingung. Anak laki-laki yang beberapa minggu lalu ikut menertawakan kotak makannya kini justru memasang badan. Bima menangkap tatapan itu dan mengangkat dagu.

"Apa? Gue masih punya batas, kali."

Nadia tidak menjawab. Ia hanya bergeser lebih dekat ke Laras, tetapi ketakutan di wajahnya sedikit berkurang.

Belum ada yang sempat bergerak ketika peluit panjang menyayat udara.

"Kalian! Berhenti!"

Pak BK datang bersama guru olahraga. Para penonton lari ke segala arah. Enam siswi yang tadi berani mulai saling menyalahkan.

Laras memasukkan kunci inggris ke tas sebelum dirampas.

"Siapa yang mulai?" bentak Pak BK.

"Saya cuma kebetulan lewat, Pak," kata Bima dengan wajah paling polos.

"Kebetulan lewat beramai-ramai? Ke ruang BK semua!"

Di balik bahu guru, Laras melihat Galih berdiri dekat kantor. Ketua kelas itu merapikan kacamatanya, lalu pura-pura membaca papan pengumuman.

Setelah satu jam ceramah, surat peringatan, dan ancaman memanggil orang tua, mereka akhirnya dilepas. Enam siswi itu mendapat hukuman piket bersama dan harus meminta maaf kepada Nadia. Pertarungan bahkan tidak sempat dimulai, tetapi meja yang dihantam Laras membuatnya ikut dihukum membersihkan gudang olahraga selama seminggu.

Di gerbang, Galih menunggu sambil membawa dua buku.

"Kebetulan lewat juga?" tanya Laras.

"Iya."

"Kantor guru bukan jalan pulang lo."

Galih mengangkat bahu. "Kalau gue nggak panggil Pak BK, besok sekolah bisa kekurangan murid."

"Takut gue babak belur?"

"Takut mereka masuk rumah sakit. Bapak mereka bisa nuntut sekolah."

Laras mendecakkan lidah, tetapi sudut mulutnya hampir tersenyum. Galih menyerahkan satu buku catatan.

"PR matematika. Jangan lupa."

"Nanti gue salin punya lo."

"Itu bukan mengerjakan."

"Yang penting selesai."

Galih pergi sambil menggeleng. Nadia mengamati punggungnya, lalu berbisik, "Dia khawatir sama kamu."

"Dia khawatir nilai kelas turun."

Rayhan masih menunggu di warung. Tangannya menggenggam beberapa lembar uang yang kusut.

"Kamu kenapa lama banget?"

"Diceramahin. Ayo pulang."

Rayhan menarik ujung tasnya. "Makan dulu. Aku traktir."

"Pakai uang siapa?"

"Uangku. Aku kumpulin."

Jumlahnya tidak banyak. Cukup untuk sepiring gorengan, dua telur rebus, dan teh manis plastik. Rayhan menghitung uang dua kali sebelum membayar. Wajahnya sangat serius sampai penjual warung memberi satu bakwan tambahan.

Mereka duduk jongkok di tepi trotoar. Laras mendorong salah satu telur ke arah Rayhan.

"Buat kamu."

"Aku yang traktir. Berarti kamu yang makan."

"Gue nggak suka telur."

Rayhan menatapnya. Pagi tadi ia melihat Laras mengambil telur dari lontong sayur Pak Darto.

"Bohong."

"Banyak omong. Makan."

Rayhan membelah telur itu menjadi dua dan mengembalikan separuhnya. "Kalau gitu bagi dua."

Laras menerima. Telur itu tidak istimewa, tetapi cara Rayhan menghitung receh dan menungguinya membuat rasa asin menempel lebih lama di lidah.

"Tadi kamu takut?" tanya Laras.

Rayhan mengangguk jujur. "Takut kamu kena pukul."

"Gue nggak gampang dipukul."

"Kalau mereka rame-rame?"

"Makanya lo jangan ikut. Kalau gue sibuk jagain lo, baru gue kalah."

Rayhan menatap separuh telur di tangannya. "Nanti kalau aku udah gede, aku yang jagain kamu."

Laras tertawa sampai hampir tersedak teh. "Tinggi lo aja baru sedada gue."

Rayhan tidak ikut tertawa. Ia menyimpan kalimat itu baik-baik.

Malamnya, Mbah Surti datang ke rumah Pak Darto sambil membawa pisang goreng satu tampah. Ia mengucapkan terima kasih karena sudah menampung Rayhan, lalu langsung berubah galak saat tahu Laras hampir berkelahi.

"Kamu ngajarin cucuku jadi apa nanti?"

"Saya nggak ngajarin apa-apa, Mbah."

"Baru dua hari dia sudah panggil kamu Bang!"

Pak Darto pulang tepat ketika omelan mencapai puncak. Setelah mendengar cerita sekolah, ia menyuruh Laras duduk di meja makan.

"Kerjakan PR."

"Besok aja, Pak."

"Sekarang."

"Capek."

Pak Darto mengambil kunci inggris dari tas Laras dan menaruhnya di atas lemari. "Kalau PR belum selesai, ini Bapak tahan."

Laras memelototinya, lalu membuka buku Galih. Lima menit kemudian, ia mulai menyalin jawaban.

Rayhan duduk di seberang, mengerjakan soal sendiri. Sesekali ia melirik lembar Laras.

"Nomor tiga salah."

"Lo anak SD, tahu apa?"

Rayhan memutar buku dan menunjukkan hitungannya. Jawabannya berbeda dengan milik Galih, tetapi setelah diperiksa, justru jawaban Rayhan yang benar.

Laras menyipitkan mata. "Lo manusia apa kalkulator?"

Rayhan akhirnya tertawa. Dari dapur, Pak Darto dan Mbah Surti saling pandang.

Di tengah rumah kecil yang berisik itu, bocah yang dua hari lalu tidak berani mengetuk pintu mulai terdengar seperti anak yang memang tinggal di Gang Mawar.

Sebelum pulang, Galih mengirim pesan ke ponsel Laras.

Jangan cuma salin. Besok gue periksa.

Laras menatap pesan itu, lalu Rayhan yang masih membetulkan hitungannya.

Entah kenapa ia merasa hidupnya baru saja kedatangan dua orang yang sama-sama suka mengatur.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!