Indonesia
NovelToon NovelToon

Pengasuh Manis Sang Direktur

Episode 1

Bab 1

Perempuan Desa di Rumah Besar

"Pegang tasmu baik-baik, Kar. Jangan sampai ada yang tahu kau datang ke Surabaya karena kabur."

Jari-jariku langsung mencengkeram tali tas kanvas lusuh di pangkuan. Hanya tas itu yang kubawa dari Desa Sukorejo. Dua potong baju, mukena tipis, KTP, uang seratus delapan puluh ribu rupiah, dan selembar foto almarhumah Ibu berdesakan di dalamnya.

Bus antarkota mengerem kasar. Bahuku membentur jendela, tetapi aku tidak berani mengeluh. Setiap kali ada motor melaju di belakang bus, dadaku berdebar karena takut pengendaranya adalah orang suruhan Bapak.

Semalam, seharusnya aku duduk manis menunggu lelaki yang akan menikahiku sebagai ganti utang Sukir. Sebaliknya, aku memanjat tembok belakang rumah dan berlari tanpa sandal sampai ke jalan raya.

Bu Tumi menyentuh lenganku. "Dengar. Di rumah keluarga Adiwijaya, jangan menonjol. Jangan sampai ketahuan. Kerja yang rajin, bicara seperlunya."

Aku mengangguk cepat. Dalam benakku, nasihat itu hanya berarti satu hal: jangan sampai mereka tahu aku anak perempuan pemabuk yang melarikan diri dari kawin paksa.

Aku belum tahu bahwa ada hal lain dalam diriku yang jauh lebih sulit disembunyikan.

***

Gerbang rumah di Graha Famili itu lebih tinggi daripada dinding balai desa. Satpam membuka pagar setelah Bu Tumi menyebut nama Bu Retno. Sebuah halaman luas terbentang di hadapanku, dengan pohon kamboja tertata rapi dan tiga mobil mengilap di bawah kanopi.

Aku menunduk melihat bajuku sendiri. Blus bermotif bunga kecil itu sudah pudar karena terlalu sering dicuci. Bagian depannya terasa sempit. Aku menarik ujung kainnya berkali-kali, seolah tarikan kecil itu bisa membuat tubuhku tidak terlalu tampak.

"Jangan ditarik terus," bisik Bu Tumi. "Nanti malah dilihat orang."

Wajahku memanas. Aku memeluk tas kanvas di depan dada dan mengikuti langkahnya masuk.

Lantai marmer di ruang depan memantulkan bayanganku seperti air. Aku takut sandal murahku meninggalkan noda. Ketika seorang pekerja rumah tangga menunjukkan arah dapur, aku berjalan di tepi karpet, berusaha mengecilkan langkah.

Dapur rumah itu hampir seluas rumahku di desa. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depan meja panjang. Tangannya cekatan memotong bawang merah.

"Ini Sekar, Bu Nah," kata Bu Tumi. "Yang pernah saya ceritakan."

Bu Nah menyapu pandangannya dari wajahku ke tas yang kupeluk. Tatapannya tidak jahat, tetapi aku tetap menahan napas.

"Katanya bisa masak?"

"Bisa sedikit, Bu."

"Sedikit itu seberapa? Coba bikin sayur lodeh, ayam bumbu rujak, sama sambal terasi. Bahan ada di kulkas."

Aku segera mencuci tangan. Pisau di rumah itu jauh lebih tajam daripada pisau berkarat milik kami. Dalam beberapa menit, talenan dipenuhi irisan bawang, cabai, dan lengkuas. Tanganku berhenti gemetar ketika aroma bumbu yang ditumis mulai memenuhi dapur. Memasak adalah satu-satunya pekerjaan yang membuatku lupa bahwa aku sedang berada di rumah orang kaya.

Bu Nah mencicipi kuah lodeh, lalu mengambil satu sendok lagi.

"Gulanya pas," katanya. "Ayamnya juga meresap."

Pujian sesederhana itu membuat tenggorokanku mengencang. Di rumah, masakan seenak apa pun tidak pernah mencegah piring terbang ketika Bapak pulang dalam keadaan mabuk.

Suara langkah terdengar dari pintu samping. Seorang perempuan berkebaya modern masuk dengan punggung tegak. Wajahnya halus, rambutnya tersanggul rapi. Aku langsung tahu dialah Bu Retno.

"Sekar Ayu Lestari?"

"Iya, Bu."

"Bu Tumi bilang kau butuh pekerjaan."

"Iya, Bu. Saya bisa masak, mencuci, membersihkan rumah. Saya juga biasa menjaga bayi."

Bu Retno memandang tanganku yang masih basah, lalu blus bunga yang menegang di dadaku. Aku spontan merapatkan kedua lengan.

"Rumah ini punya aturan," ujarnya. "Jangan mengambil barang yang bukan milikmu. Jangan membawa orang luar masuk. Jangan membuat urusan pribadi mengganggu pekerjaan. Bisa?"

"Bisa, Bu. Insyaallah."

"Gajinya dua juta delapan ratus, makan dan kamar ditanggung. Kalau kau cocok menjaga Arka, nanti ada tambahan."

Dua juta delapan ratus.

Jumlah itu hampir membuatku lupa cara bernapas. Dengan uang sebanyak itu, aku bisa menyimpan sedikit demi sedikit, menyewa kamar sendiri, lalu hidup tanpa meminta apa pun kepada Bapak.

"Terima kasih, Bu." Aku membungkuk terlalu dalam. "Saya akan bekerja sungguh-sungguh."

"Buktikan lewat kerja. Bukan lewat janji."

Bu Retno pergi setelah mengatakan agar Bu Nah menunjukkan kamarku. Aku baru sempat mengembuskan napas ketika suara langkah lain terdengar dari arah tangga utama.

Seorang lelaki turun sambil menatap layar ponsel. Kemeja putihnya digulung sampai siku, jam berwarna gelap melingkari pergelangan tangannya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tetapi seluruh ruangan seperti merapat mengelilinginya.

Aku mundur satu langkah agar tidak menghalangi jalan.

Pada saat yang sama, dia mengangkat kepala.

Pandangan kami bertemu.

Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin hanya satu detik. Namun satu detik itu cukup untuk membuatku lupa menunduk.

Matanya turun sebentar ke blus bungaku yang sempit, lalu kembali ke wajahku. Rahangnya menegang. Ada gerakan kecil di tenggorokannya sebelum dia memalingkan muka.

"Nara, makan siangmu sudah saya siapkan," kata Bu Nah.

Jadi dia Den Nara, putra keluarga ini.

"Bawa ke mobil saja, Bu Nah. Saya terlambat."

Suaranya rendah dan datar. Dia melewatiku tanpa sapaan. Namun langkahnya, yang semula teratur, sempat salah setengah ketukan ketika bahunya sejajar dengan bahuku.

Aroma cologne yang bersih tertinggal. Aku berdiri kaku, memeluk tas kanvas semakin erat.

"Jangan bengong," bisik Bu Tumi. "Itu Den Nara. Orangnya dingin, tapi tidak suka cari masalah."

Aku mengangguk, meski jantungku belum kembali tenang.

***

Menjelang sore, Bu Tumi berpamitan. Aku mengantarnya sampai dekat gerbang.

"Kalau ada apa-apa, kirim pesan," katanya. "Tapi jangan pulang ke desa sebelum keadaan aman."

Aku menahan ujung jilbabnya seperti anak kecil. "Bu, kalau Bapak mencari saya?"

"Dia tidak tahu kau di sini." Bu Tumi menepuk tanganku. "Jaga dirimu. Ini kesempatanmu."

Aku melepaskannya pelan-pelan. Saat punggungnya menghilang di balik pagar, rumah besar itu mendadak terasa dua kali lebih luas dan sepuluh kali lebih sunyi.

Bu Nah memberiku kamar kecil di bagian belakang. Ada ranjang tunggal, lemari plastik, dan jendela yang menghadap tempat jemuran. Bagi keluarga Adiwijaya, kamar itu mungkin tidak berarti apa-apa. Bagiku, pintu yang bisa kukunci dari dalam sudah terasa seperti kemewahan.

Saat makan malam untuk pekerja rumah tangga dibagikan, aku mengambil nasi setengah centong. Bu Nah mengerutkan kening.

"Kau makan sedikit sekali. Tadi di bus belum makan, kan?"

"Saya memang tidak kuat makan banyak, Bu."

Itu kebohongan pertama yang kuucapkan di rumah ini.

Perutku sakit karena lapar. Aroma ayam bumbu rujak buatanku sendiri membuat air liur memenuhi mulut. Namun aku tetap hanya mengambil satu potong kecil tahu.

Seorang perempuan berusia akhir dua puluhan masuk untuk mengambil air dingin. Bajunya mahal, kukunya mengilap. Bu Nah menyapanya sebagai Mbak Ratih.

Tatapan Ratih berhenti padaku.

"Pembantu baru?"

"Iya, Mbak," jawabku.

"Dari desa mana?"

"Desa Sukorejo."

Matanya turun ke piringku, lalu ke blus bunga yang sudah kututupi celemek. Bibirnya melengkung tipis.

"Pantas."

Dia tidak menjelaskan apa yang pantas. Dia hanya mengambil botol air dan pergi, meninggalkan wangi parfum serta rasa kecil yang menusuk di dadaku.

Aku menghabiskan nasi tanpa menambah. Tidak apa-apa. Aku datang untuk bekerja, bukan untuk dihormati.

Setidaknya itulah yang kukatakan kepada diriku sendiri.

***

Lewat pukul sebelas malam, lampu di bagian utama rumah mulai padam. Semua pekerjaan sebenarnya sudah selesai, tetapi aku kembali ke belakang membawa ember pakaian yang belum sempat dicuci.

Aku tidak mau ada satu pun orang menyesal telah mempekerjakanku. Lebih dari itu, aku tidak mau tubuhku terlalu santai. Lapar membuatku lemas, tetapi lemas lebih aman daripada kenyang.

Air keran terasa dingin di jari. Aku mengucek kemeja, menjemurnya satu per satu, lalu menyeka keringat di leher dengan punggung tangan. Blus bungaku lembap dan menempel. Udara malam Surabaya masih menyimpan panas.

Sebuah mobil masuk dari gerbang samping.

Aku menoleh sekilas, lalu kembali menjepit pakaian di tali. Mungkin sopir keluarga. Mungkin Pak Suryo atau Mas Bagas yang tadi disebut sedang di luar.

Pintu mobil tertutup.

Langkah sepatu mendekat, kemudian berhenti.

Saat itulah aku mencium sesuatu yang manis.

Bukan dari bunga kamboja. Bukan pula dari deterjen.

Aroma itu keluar dari kulitku sendiri, tipis tetapi jelas. Campuran bunga yang hangat dan susu yang baru mendidih. Aroma yang selama bertahun-tahun kupaksa tenggelam dengan lapar, pakaian longgar, dan air dingin.

Panas merambat dari perut ke tengkukku. Aku terlalu lelah. Terlalu lama menahan lapar. Tubuhku mulai mengkhianatiku.

Jangan sampai ketahuan.

Nasihat Bu Tumi kembali berdentang di kepalaku.

Aku berbalik.

Den Nara berdiri beberapa langkah dariku, masih mengenakan kemeja putih yang sama, kini tanpa jas. Cahaya bulan jatuh di satu sisi wajahnya. Tatapannya menahan tubuhku di tempat.

Hidungnya bergerak nyaris tak terlihat, seolah sedang memastikan aroma yang dibawa angin. Alisnya menyatu. Rahangnya kembali mengeras seperti siang tadi.

Aku menunduk, tetapi tidak ada tempat untuk bersembunyi. Di belakangku hanya ada kain-kain basah. Di hadapanku berdiri lelaki yang tampaknya sudah mencium sesuatu yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun.

Tak satu pun dari kami berbicara.

Jari-jariku mencengkeram kain basah sampai buku-bukunya memutih.

Angin menggerakkan ujung pakaian di tali jemuran, dan aroma manis itu semakin jelas di antara kami.

Episode 2

Bab 2

Bau Manis di Malam Hari

Angin menggerakkan ujung pakaian di tali jemuran, dan aroma manis itu semakin jelas di antara kami.

"Kau sedang apa di luar selarut ini?"

Suara Den Nara rendah, tetapi terasa seperti kawat yang ditarik terlalu kencang. Aku buru-buru meletakkan kain basah ke dalam ember.

"Menyelesaikan cucian, Den. Besok pagi banyak pekerjaan lain."

"Jam segini?"

Aku menelan ludah. "Saya tidak mau Bu Retno menyesal menerima saya."

Alisnya semakin rapat. Dia memandang jemuran penuh, lalu piring makan pekerja yang tadi lupa kubawa masuk. Setengah potong tahu masih tertinggal di sana.

"Kau belum makan?"

"Sudah."

Jawabanku terlalu cepat.

Dia melangkah mendekat. Aku mundur refleks, tumitku menginjak genangan sabun. Tanah seperti terlepas dari bawah kaki. Aku sempat melihat ember terguling sebelum tubuhku jatuh ke depan.

Sebuah lengan menahan pinggangku. Tangan lainnya mencengkeram pergelangan tanganku.

Dadaku membentur sesuatu yang keras dan hangat.

Aku membeku dalam pelukannya.

Aroma cologne Den Nara bercampur dengan aroma manis yang keluar dari kulitku. Wajah kami terlalu dekat. Napasnya tertahan. Jari di pergelangan tanganku mengencang, lalu cepat-cepat terlepas seolah sentuhan itu membakar kulitnya.

Aku mundur sampai punggungku menyentuh tali jemuran.

"Maaf, Den."

Dia memalingkan muka. "Lantainya licin."

"Iya."

"Masuk. Sisanya kerjakan besok."

"Tapi..."

"Itu perintah."

Aku tidak membantah lagi. Kuangkat ember yang terguling dengan tangan gemetar. Ketika melewatinya, aku bisa merasakan pandangannya mengikuti punggungku.

Aku berjalan cepat, lalu berlari begitu mencapai lorong belakang.

***

Pintu kamar kututup pelan agar tidak membangunkan siapa pun. Setelah kuncinya terpasang, kakiku langsung kehilangan tenaga. Aku merosot ke lantai dengan punggung menempel pada daun pintu.

Pergelangan tanganku masih menyimpan panas telapak tangannya.

Namun yang membuatku sulit bernapas bukanlah sentuhan itu. Den Nara sudah mencium aroma yang kusembunyikan.

Aku memejamkan mata dan kembali melihat dapur reyot Mbah Sari di ujung desa.

Waktu kecil, tubuhku kurus dan mudah demam. Ibu sudah meninggal, sementara Bapak hanya tahu marah jika aku tak sanggup membawa rumput untuk kambing. Mbah Sari kasihan melihatku pingsan di pematang. Dia meracik jamu dari akar, madu, bunga kenanga, dan bahan lain yang tak pernah diberitahukannya.

Ramuan itu menyelamatkanku. Aku jarang sakit lagi. Tubuhku tumbuh lebih sehat dan berisi.

Lalu datang akibat yang tidak pernah kami duga.

Setiap kali kenyang, tenang, atau merasa aman, kulitku mengeluarkan aroma manis. Tidak tajam, tetapi cukup untuk membuat orang menoleh. Tubuhku juga cepat melunak dan tampak penuh, seolah pakaian yang kemarin longgar mendadak mengecil.

Pada umur empat belas tahun, beberapa ibu di warung membicarakanku tanpa merasa perlu mengecilkan suara.

"Anak Sukir itu baru besar sudah cari perhatian."

"Lihat bentuk badannya. Bau pula, seperti pakai minyak pemikat."

Aku pulang sambil menutupi dada dengan karung beras kosong. Sejak hari itu, aku belajar bahwa tubuh perempuan miskin bisa dituduh hanya karena terlihat.

Aku mulai mengurangi makan. Kupilih baju kusam dan terlalu besar bila punya pilihan. Jika aroma itu muncul, aku mengguyur tubuh dengan air dingin sampai menggigil.

Semua itu berhasil, sampai malam ini.

Aku membuka tas kanvas dan mengeluarkan baju terlonggar yang kupunya. Jahitan di sisi kirinya sudah dua kali kutambal. Di dasar tas tersimpan sapu tangan Ibu yang membungkus tiga keping obat ramuan kering dari Mbah Sari. Persediaan itu harus cukup sampai aku berani menghubunginya lagi.

Di desa, Mbah Sari pernah menyuruhku berhenti menyiksa diri dengan lapar. Katanya, aroma itu bukan dosa dan tubuhku bukan aib. Aku ingin mempercayainya. Namun nasihat seorang nenek tua kalah keras dari tawa lelaki di warung, bisik-bisik ibu tetangga, dan tangan Bapak yang pernah mencengkeram rambutku sambil menuduhku sengaja memancing perhatian calon suami orang.

Karena itu, ketika Bu Retno menawarkan pekerjaan menjaga bayi, yang kupikirkan bukan hanya gaji. Rumah dengan gerbang tinggi ini bisa menjadi tempat persembunyian. Tidak seorang pun di Desa Sukorejo akan menduga aku berada di antara mobil mewah dan lantai marmer.

Sekarang tempat persembunyian itu terancam oleh satu tarikan napas Den Nara.

Aku menekan kedua telapak tangan ke pipi. Kehangatan Den Nara tadi masih ada. Anehnya, di balik ketakutanku, ada satu rasa lain yang tidak ingin kuakui. Untuk sepersekian detik ketika dia menahanku, tubuhku merasa aman.

Perasaan aman justru membuat aroma itu makin kuat.

"Bodoh," bisikku kepada diri sendiri.

Aku bangkit, mengambil kain panjang dari lemari plastik, lalu mengikatnya di balik blus agar bentuk tubuhku lebih tersamarkan. Simpulnya menekan tulang rusuk sampai sakit. Biarlah. Rasa sakit akan mengingatkanku agar tidak lengah.

Mulai besok aku harus makan lebih sedikit. Aku tidak boleh beristirahat terlalu lama. Dan sebisa mungkin, aku harus menjauh dari Den Nara.

Terutama dari matanya yang tadi tampak seperti sedang menahan sesuatu.

***

Aku tidak bisa tidur. Menjelang pukul tiga, aku kembali keluar dan menyelesaikan sisa pekerjaan dengan gerakan seringan mungkin. Lantai sudah kukeringkan. Piring kubawa ke dapur. Pakaian terakhir kujepit di tali.

Ketika melewati tangga utama, lampu di lantai atas masih menyala.

***

Nara

Aku berbaring dengan satu lengan menutupi mata. Aku sudah mengganti baju, sudah mandi, bahkan membuka jendela lebar-lebar. Tetap saja aroma manis itu seakan menempel di hidungku.

Aku membalikkan tubuh untuk kesekian kali.

Gadis itu ketakutan. Bukan menggoda. Bukan mencari perhatian.

Namun ingatan tentang tubuhnya yang nyaris jatuh ke pelukanku membuat rahangku mengeras lagi.

"Tidak masuk akal," gumamku kepada kamar kosong.

Aku mencoba mengingat wajahnya sebelum jatuh. Bukan wajah perempuan yang sedang mengatur siasat, melainkan wajah seseorang yang siap dihukum karena sekadar berada di tempat yang salah. Pergelangan tangannya juga terlalu ringan. Piring dengan sisa tahu di dekat jemuran kembali terbayang.

Mengapa dia sengaja membuat dirinya lapar?

Pertanyaan itu seharusnya tidak menjadi urusanku. Ada proyek di Sidoarjo yang harus kutinjau pagi nanti, dua kontrak menunggu tanda tangan, dan Bapak sudah mengingatkan rapat direksi pukul delapan. Aku biasanya mampu menutup semua gangguan begitu pintu kamar tertutup.

Malam ini, untuk pertama kalinya, pikiranku menolak diperintah.

Aku menarik selimut sampai dada, lalu membuangnya beberapa detik kemudian. Di luar, bunyi jepitan pakaian beradu ditiup angin. Aku menoleh ke jendela, sadar bahwa Sekar mungkin kembali bekerja meski sudah kuperintah masuk.

Keesokan pagi kami akan bertemu lagi. Dia akan berdiri di dekat meja makan, sedangkan aku akan duduk sebagai putra keluarga yang menggajinya.

Jarak itu seharusnya cukup lebar untuk membuat malam ini tidak berarti apa-apa.

Namun menjelang azan Subuh, aku masih belum berhasil memejamkan mata.

Episode 3

Bab 3

Setengah Piring Nasi

Hari kelimaku di rumah Adiwijaya dimulai dengan setengah piring nasi.

Bu Nah menambah telur balado ke piringku, tetapi aku mengembalikannya ke mangkuk saji ketika dia berpaling. Perutku sudah melilit sejak malam. Aku tetap mengunyah perlahan, menghitung suapan agar tubuhku tidak sempat merasa kenyang.

"Mbak Sekar, nasinya kok sedikit terus?" tanya salah seorang pekerja.

"Kalau banyak, saya mengantuk."

Alasan itu sudah kupakai tiga pagi berturut-turut.

Langkah terdengar dari tangga. Aku langsung menunduk. Den Nara masuk dengan kemeja biru gelap, ponsel di satu tangan. Sejak malam di belakang rumah, kami belum pernah bicara lagi. Namun setiap kali berada di ruangan yang sama, aku bisa merasakan ketegangan tipis yang tidak terlihat orang lain.

Dia mengambil kopi dari Bu Nah. Saat hendak pergi, pandangannya jatuh ke piringku.

"Itu sarapanmu?"

Aku merapatkan jari pada sendok. "Iya, Den."

"Setengah piring?"

"Saya sudah cukup."

Matanya menyipit, seakan tahu aku berbohong. Sebelum dia sempat berkata lagi, tangis bayi pecah dari lantai atas.

Den Nara belum bergerak. "Bu Nah, mulai besok siapkan sarapan pekerja dengan lauk lengkap."

"Sudah lengkap, Den," jawab Bu Nah heran.

Pandangan Den Nara tetap pada piringku. Aku merasa seluruh meja ikut melihat setengah telur dan nasi yang tersisa.

"Kalau begitu, pastikan dimakan."

Aku membuka mulut, tetapi dia sudah berbalik. Beberapa pekerja tersenyum kecil, mengira dia hanya sedang memeriksa aturan rumah. Hanya aku yang tahu pertanyaannya terhubung dengan piring berisi sisa tahu di belakang rumah malam itu.

Jantungku berdetak aneh. Dia memperhatikan.

Kesadaran itu seharusnya membuatku takut. Entah mengapa, di bagian kecil yang paling sepi dalam diriku, ada rasa hangat yang muncul sebelum buru-buru kutekan.

Bu Nah menepuk dahinya. "Arka bangun lagi. Ya Allah, semalam baru tidur dua jam."

Tangis itu semakin keras. Aku segera berdiri, lega karena punya alasan meninggalkan meja dan tatapan Den Nara.

***

Arka berusia delapan bulan, dengan pipi bulat dan rambut halus yang berdiri di atas kepala. Saat aku masuk ke kamar bayi, wajahnya merah karena menangis. Kedua kakinya menendang kasur, sementara tangannya meraih-raih udara.

Bu Nah mengangkatnya. Arka justru melengking lebih keras.

"Mbak Ratih giliran pagi di rumah sakit," katanya panik. "Mas Bagas juga keluar kota. Dari kemarin Arka rewel. Susu ditolak, digendong menolak."

"Biar saya coba, Bu."

Bu Nah ragu. "Kau yakin?"

Aku mengulurkan tangan. "Dulu saya sering menjaga anak tetangga."

Arka berpindah ke pelukanku dengan tubuh tegang. Aku menyangga leher dan punggungnya, lalu menepuk pantatnya pelan. Tangisnya tidak langsung berhenti, tetapi kepalanya mulai berputar mencari sumber aroma di dekat bahuku.

Aku tahu apa yang dia cari.

"Bu, boleh ambilkan air hangat? Sedikit saja."

Ketika Bu Nah keluar, aku memunggungi pintu dan mengambil bungkusan kecil dari saku dalam. Serpihan ramuan Mbah Sari sudah kularutkan pagi tadi ke dalam botol minum biasa. Aku membasahi ujung jariku, lalu mengusapkannya tipis pada kain gendong, tidak ke mulut Arka.

Aroma kenanga yang lembut menguar.

Arka terisak dua kali. Jemarinya menggenggam kerah bajuku, kemudian tubuh kecilnya melunak. Aku mengayun perlahan sambil melantunkan tembang Jawa yang dulu dinyanyikan Ibu.

"Lelo, lelo, anakku..."

Kelopak mata Arka turun. Dalam waktu kurang dari lima menit, tangisnya berubah menjadi napas panjang teratur.

Aku menunggu lebih lama sebelum duduk. Bayi yang terlalu lelah bisa terbangun bila posisi berubah mendadak. Satu tanganku tetap menyangga tengkuknya, tangan lain mengusap punggung dari atas ke bawah. Ketika napasnya benar-benar dalam, barulah aku memindahkannya ke ranjang dengan kaki lebih dulu, lalu punggung dan kepala. Jemarinya masih mencengkeram bajuku, jadi kulepaskan satu per satu tanpa menarik.

Arka mendesah, memiringkan wajah, kemudian tidur lagi.

Bu Nah kembali membawa air dan berhenti di ambang pintu.

"Lho? Sudah tidur?"

Aku menempelkan telunjuk ke bibir. Arka bergerak sedikit, lalu menyusupkan wajah ke dadaku tanpa terbangun.

"Kau ini punya bakat, Mbak Sekar." Bu Nah mendekat dengan langkah berjinjit. "Dari semalam kami bergantian sampai punggung saya mau patah."

Aku tersenyum kecil. Pujian itu menghangatkan dada, tetapi juga membuatku takut. Semakin berguna aroma ini, semakin sering aku harus memakainya. Semakin sering dipakai, semakin besar risiko rahasiaku diketahui.

Bu Retno masuk beberapa menit kemudian. Dia memeriksa suhu dahi Arka, botol susunya, lalu posisi kepalanya di lenganku.

"Kau yang membuatnya tidur?"

"Iya, Bu. Mungkin dia hanya kembung dan terlalu lelah."

"Caranya?"

"Saya gendong sambil bersenandung. Kainnya saya beri sedikit air ramuan untuk aroma. Bukan obat, Bu, dan tidak diminumkan."

Aku memilih berkata setengah jujur. Menyembunyikan seluruhnya justru akan terlihat mencurigakan.

Bu Retno mengendus kain gendong. "Seperti kenanga."

"Ramuan kampung untuk menenangkan. Kalau Ibu tidak berkenan, tidak akan saya pakai lagi."

"Selama tidak masuk ke tubuh bayi dan tidak membuat iritasi, boleh. Cuci kainnya setelah dipakai."

Dia melihat Arka yang tidur pulas, lalu menatapku dengan sorot yang tidak setajam hari pertama.

"Mulai hari ini kau pegang jadwal Arka pada siang hari. Gajimu kutambah lima ratus ribu."

Aku hampir salah menyangga bayi.

"Lima ratus ribu, Bu?"

"Tanggung jawabnya juga bertambah. Catat jam minum susu, makan, tidur, dan popoknya. Kalau demam atau muntah, lapor. Jangan merasa bisa mengobati sendiri."

"Iya, Bu. Saya mengerti. Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu. Buktikan kau konsisten."

Bu Retno menyerahkan buku kecil yang disimpan di meja bayi. Halamannya berisi kolom jam, susu, makanan pendamping, tidur, popok, dan catatan kondisi kulit. Aku membaca semua petunjuk dua kali.

"Kalau Mbak Ratih pulang dari rumah sakit, laporkan catatannya kepadanya," ujar Bu Retno. "Dia ibunya. Jangan merasa karena Arka tenang padamu lalu kau bisa mengambil keputusan sendiri."

"Tidak, Bu. Saya hanya membantu. Semua keputusan tetap keluarga."

Jawabanku membuat sorotnya sedikit melunak. Aku paham arti batas. Di rumah ini, keahlian bisa memberiku tempat, tetapi bukan hak untuk melupakan siapa aku.

Setelah Bu Retno pergi, Bu Nah menyenggol lenganku pelan. "Nah, rezeki anak saleh. Baru lima hari sudah naik gaji."

Mataku panas. Lima ratus ribu bukan sekadar tambahan uang. Itu satu langkah menjauh dari Desa Sukorejo. Satu langkah menjauh dari tangan Bapak yang menganggap hidupku bisa dipakai membayar utang.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah ini, aku merasa mungkin aku tidak hanya bersembunyi. Mungkin aku sedang membangun jalan keluar.

***

Menjelang siang, Arka bangun dalam suasana lebih baik. Dia meminum susu, memukul-mukul botol dengan telapak tangan, lalu tertawa kecil ketika aku mengajaknya ke taman belakang.

Matahari tersaring daun palem. Aku memasang kain penutup pada kereta bayi dan berjalan di jalur batu dekat tembok samping. Den Nara sudah berangkat. Bu Retno menerima tamu di depan. Taman terasa aman.

Sampai suara siulan terdengar dari balik tembok.

"Hei, pembantu baru."

Aku berhenti.

Seorang lelaki bertengger di bagian tembok yang lebih rendah dekat rumah sebelah. Rambutnya dicat cokelat terang, kausnya tanpa lengan. Aku pernah melihatnya dari jendela dapur, duduk berjam-jam di warung sambil merokok. Bu Nah menyebut namanya Roy, keponakan pemilik rumah tetangga yang lebih sering membuat masalah daripada bekerja.

"Saya sedang menjaga bayi," kataku. "Tolong turun dari sana."

Roy tertawa. "Galak juga. Namamu siapa?"

Aku mendorong kereta bayi untuk pergi.

Dia melompati tembok.

Sepatuku berhenti di atas batu. "Ini rumah orang. Anda tidak boleh masuk sembarangan."

"Cuma mau kenalan." Dia berjalan mendekat, menghalangi jalan. "Dari desa, ya? Pantas manis."

Arka mengeluarkan suara tidak nyaman. Aku memutar kereta, tetapi Roy ikut bergeser.

"Minggir."

"Kasih nomor WA dulu."

"Tidak."

Senyumnya hilang. "Jangan sok mahal. Kau cuma pembantu."

Kalimat itu menampar lebih keras daripada yang seharusnya. Bukan karena aku malu menjadi pekerja rumah tangga, tetapi karena dari mulutnya, pekerjaanku terdengar seperti izin untuk memperlakukanku sesuka hati.

Aku meraih pegangan kereta lebih erat. "Kalau tidak pergi, saya panggil satpam."

"Panggil saja." Roy mencondongkan tubuh. Bau rokok basi menyerbu hidungku. "Sebelum satpam datang, kita bisa ngobrol baik-baik."

Aku menekan tombol panggilan pada ponsel tanpa mengalihkan mata darinya. Layar menampilkan nama Bu Nah, tetapi sebelum sambungan masuk, Roy merebut ponsel itu dan melemparkannya ke rumput.

"Saya bilang minggir!"

"Suaramu bagus kalau marah." Matanya bergerak ke kereta bayi. "Tenang saja, aku tidak akan ganggu anak orang kaya itu. Aku cuma tertarik sama pengasuhnya."

Aku mendorong kereta ke belakang tubuhku, menempatkan diri di antara Roy dan Arka. Lututku gemetar, tetapi aku tidak boleh jatuh. Bayi itu dipercayakan kepadaku. Kalau harus berteriak sampai seluruh kompleks mendengar, aku akan melakukannya.

"Tolong! Satpam!"

Roy mengumpat dan menoleh ke arah rumah. Tak ada orang yang segera muncul. Ketika dia kembali menatapku, wajahnya lebih keras.

Tangannya terangkat menuju wajahku.

Aku mundur. Roda kereta bayi membentur pinggir jalur. Arka terkejut dan mulai menangis.

"Jangan sentuh saya!"

Roy malah tersenyum, seolah ketakutanku memberinya keberanian. Ujung jarinya tinggal sejengkal dari pipiku. Aku mendorong kereta menjauh, tetapi tumitku terjepit di antara dua batu.

Tubuhku oleng ke belakang.

Arka menangis semakin keras. Peganganku terlepas dari kereta. Dalam satu kilatan panik, aku melihat tangan Roy terus mendekat dan bayangan seseorang memanjang dari belakangnya.

Seseorang bergerak cepat.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!