Bab 1
Pelukan yang Salah Alamat
“Sayang, kucing liarmu pulang, nih.”
Suara Laras tenggelam dalam ruang tamu yang gelap. Di luar dinding kaca, lampu gedung-gedung SCBD berpendar setelah hujan, membentuk garis-garis basah di lantai marmer Apartemen Senopati Suites.
Pria di depannya tidak menjawab.
Laras tersenyum kecil. Galih memang suka berpura-pura dingin setiap kali sedang kesal. Mungkin karena ia datang tanpa memberi kabar. Mungkin karena jam sudah hampir sebelas malam.
Atau mungkin karena kejutan yang ia siapkan terlalu berani.
Setengah jam sebelumnya, Laras masih duduk di sudut lounge lobi. Trench coat krem menutupi slip dress hitam yang baru lunas dicicil minggu lalu. Kain tipis itu terlalu mahal untuk ukuran rekeningnya, tetapi di lingkaran Galih, penampilan bukan kebutuhan. Penampilan adalah tiket masuk.
Ponsel terjepit di antara telinga dan bahunya saat ia mengancingkan kembali mantel.
“Gue masih nggak ngerti kenapa lo mau repot begini,” omel Nadia dari seberang telepon. “Keluarganya Galih aja lihat lo kayak lagi nilai barang lelang.”
Laras melirik pantulan dirinya pada dinding kaca. Lipstiknya masih rapi.
“Namanya juga investasi, Nad.”
“Investasi apaan sampai beli baju tidur pakai cicilan?”
Laras tertawa pelan, sengaja merendahkan suara. Beberapa meter darinya, seorang pria berbaju gelap duduk sendirian di sofa. Wajahnya tertutup bayang-bayang. Segelas minuman ada di tangannya, tetapi sejak tadi tidak disentuh.
“Tahan sebentar lagi,” kata Laras. “Kalau gue bisa hamil anak Galih, masuk keluarga Prasetyo, semua yang gue tahan dua tahun ini nggak sia-sia. Orang bilang apa? Hamil dulu, naik kelas kemudian.”
“Ras!”
“Bercanda.”
“Bercanda lo selalu bikin umur gue pendek.”
Laras mengakhiri panggilan sambil terkekeh. Ia tidak melihat jempol pria di sofa menyentuh layar ponselnya. Ia juga tidak melihat ikon rekaman yang menyala, lalu mati.
Lift membawanya ke lantai teratas. Kartu akses cadangan pemberian Galih membuka pintu tanpa masalah. Di dalam apartemen, semua lampu padam. Laras sempat mengernyit, tetapi aroma parfum kayu yang familier membuatnya santai lagi.
“Mas Galih?” panggilnya sekali.
Tak ada jawaban.
Sosok tinggi berdiri membelakanginya di dekat jendela. Kemeja putih, celana gelap, bahu lebar. Persis siluet Galih bila dilihat tanpa cahaya.
Laras menaruh tas di konsol. Mantelnya melorot ke lantai. Dengan langkah tanpa suara, ia mendekat, menyelipkan kedua tangan ke pinggang pria itu, lalu menempelkan pipi pada punggungnya.
Tubuh di dalam pelukannya langsung menegang.
“Masih marah?” Laras berbisik. “Aku sudah datang sendiri, lho.”
Pria itu menarik napas pelan. Bukan napas terkejut, melainkan napas seseorang yang sedang menahan reaksi.
Laras menganggapnya permainan. Ia berjinjit, menyentuhkan bibir pada daun telinganya, lalu menggigit sangat pelan. Jemarinya bergerak ke simpul dasi.
“Atau perlu kubujuk dulu?”
Pergelangan tangannya mendadak tertangkap.
Genggaman itu keras, lebih keras daripada yang biasa Galih gunakan. Laras terdiam. Ada sesuatu yang berbeda pada telapak tangan pria itu, pada tinggi bahunya, juga pada aroma tembakau samar yang menempel di kerahnya.
“Mas?”
Tit. Tit.
Bunyi kunci digital datang dari pintu utama.
Laras tidak sempat melepaskan diri.
Pintu terbuka bersamaan dengan lampu foyer yang menyala. Cahaya putih menyapu lantai, sofa, mantel Laras yang tergeletak, lalu tubuh mereka yang masih saling menempel.
Galih berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di tangan.
Wajahnya tampak lelah setelah lembur. Dasi birunya sudah longgar, rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap Laras, lalu pria yang dipeluk Laras, dan berkedip dua kali seolah matanya baru saja membuat kesalahan.
“Ras?”
Darah di wajah Laras seperti berhenti mengalir.
Kalau Galih berada di pintu, lalu siapa yang sedang ia peluk?
Pria di hadapannya berbalik.
Cahaya memperlihatkan rahang yang lebih tegas, mata yang jauh lebih dingin, dan garis bibir tanpa keramahan. Laras pernah melihat wajah itu di halaman bisnis, di layar televisi hotel, bahkan di unggahan orang-orang yang gemar memamerkan undangan gala. Narendra Hardjanto. Orang yang mengendalikan Grup Wibisana tanpa pernah perlu meninggikan suara.
Orang yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.
Sampai malam ini.
Laras buru-buru menarik tangannya, tetapi Naren belum melepaskan pergelangannya. Ibu jarinya tepat menekan denyut nadi Laras yang berlari liar.
“Maaf.” Suara Laras keluar serak. “Saya kira…”
“Kamu kira dia gue?” Galih akhirnya tertawa, pendek dan bingung. Ia masuk lalu menutup pintu. “Gila. Pantes Naren mukanya kayak baru ditabrak.”
Naren tidak tertawa.
Tatapannya turun pada slip dress Laras, kembali ke bekas lipstik tipis di dekat telinganya, lalu berhenti pada wajah Laras. Bukan tatapan pria yang tersanjung. Tatapan itu terasa seperti sorot lampu di ruang pemeriksaan.
Laras memaksa bibirnya membentuk senyum. “Lampunya mati. Dari belakang kalian memang agak mirip.”
“Agak?” Galih menaruh tas kerjanya. “Tinggi gue kalah dua senti, Ras.”
“Kalau gelap, dua senti tidak kelihatan.”
Galih terkekeh lagi. Ia selalu menyukai Laras yang bisa menyelamatkan suasana. Bagi Galih, kekeliruan ini mungkin bahan candaan yang akan habis dalam dua hari.
Bagi Laras, ruangan itu mendadak kekurangan udara.
Ia tahu bagaimana orang-orang akan menamainya bila cerita ini keluar. Cewek matre. Simpanan tak tahu diri. Perempuan yang mencoba dua pria dalam satu lingkaran. Tak seorang pun akan peduli bahwa apartemen gelap atau bahwa ia benar-benar salah mengenali orang.
Mereka hanya akan mengingat gaunnya, pelukannya, dan bibirnya di telinga pria lain.
Galih berdiri di sebelah Naren dan menepuk bahunya. Gerakannya akrab, tanpa jarak sedikit pun.
“Oh iya, kalian belum pernah dikenalin resmi, kan?” Ia menunjuk Laras lebih dulu. “Naren, ini Laras, pacarku.”
Kata pacar meluncur mudah dari mulutnya, rapi menutupi transaksi dua tahun yang hanya mereka berdua pahami.
Kemudian Galih merangkul bahu Naren.
“Ras, ini Naren. Sahabat gue dari kecil. Keluarga kami juga sudah dekat dari zaman orang tua.” Senyumnya melebar. “Dia udah kayak saudara gue sendiri. Malah kalau pakai urutan umur, gue kakaknya.”
Saudara.
Satu kata itu lebih dingin daripada air hujan yang menempel di kaca.
Laras menatap tangan Galih di bahu Naren. Kepercayaan pada gerakan sederhana itu terasa telanjang. Galih membiarkan Naren berada di apartemennya sendirian. Galih menyerahkan punggung tanpa curiga. Dan beberapa detik lalu, Laras menggigit telinga pria yang dianggapnya saudara sendiri.
“Senang bertemu dengan Anda, Pak Naren,” katanya akhirnya.
Formal. Aman. Seolah mereka baru saja berjabat tangan di lobi kantor.
Mata Naren berubah tipis ketika mendengar suaranya.
Baru saat itulah Laras teringat pria di sofa lounge. Baju gelap. Segelas minuman. Wajah tertutup bayangan.
Naren.
Jantungnya jatuh satu tingkat.
Apakah dia mendengar percakapannya dengan Nadia?
“Pak Naren?” Galih mengulang sambil tertawa. “Jangan resmi amat. Panggil Naren aja. Kalau jadi sama gue, dia juga bakal jadi keluarga lo.”
Laras tidak mampu menjawab.
Naren akhirnya mengangkat sudut bibir. Senyum itu tipis, tanpa hangat, seakan ia baru menemukan potongan terakhir dari teka-teki yang tidak terlalu sulit.
“Senang bertemu denganmu juga, Laras,” ucapnya.
Ia menunduk. Tatapannya berhenti pada jemari Laras yang masih menyentuh lengan bajunya.
Laras hendak menarik tangan.
Jari Naren justru mengencang sedikit pada pergelangannya.
Bab 2
Rekaman yang Tak Bisa Kau Tarik Kembali
Jari Naren justru mengencang sedikit pada pergelangannya.
Hanya satu detik. Sesudah itu ia melepaskan Laras seolah tidak pernah menyentuhnya.
Galih tidak memperhatikan. Ponselnya berdering sebelum Laras sempat memungut mantel. Ia mengangkat panggilan sambil berjalan menuju balkon, lalu kembali dengan sumpah serapah pelan.
“Server proyek Makassar bermasalah. Gue harus balik ke kantor.” Galih mengambil kembali tas kerjanya. “Ras, lo tunggu di sini atau pulang sama Naren aja. Mi, kan, ada di bawah?”
Naren memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Ada.”
“Tolong anterin dia. Gue mungkin baru selesai pagi.”
Kepercayaan Galih datang begitu mudah sampai Laras ingin tertawa. Ia baru saja salah memeluk saudara angkatnya, tetapi Galih tetap menyerahkannya kepada pria yang sama tanpa satu keraguan pun.
“Aku bisa pesan mobil sendiri,” Laras buru-buru berkata.
“Jangan. Udah malam.” Galih mencium pelipisnya sekilas. “Naren, gue titip.”
“Tenang.”
Pintu menutup. Bunyi kunci digital terdengar sekali.
Apartemen langsung sunyi.
Laras membungkuk mengambil mantel, mengenakannya tanpa peduli tali pinggangnya terbalik. Ia meraih tas dari konsol.
“Terima kasih sudah tidak memperpanjang kejadian tadi, Pak Naren. Saya pulang sendiri.”
“Duduk.”
Satu kata itu membuat langkah Laras berhenti.
“Saya bilang, saya bisa pulang sendiri.”
“Dan aku bilang duduk.”
Laras berbalik. Naren berdiri di dekat meja makan, menatapnya tanpa tergesa. Wajahnya kini jauh lebih jelas daripada saat mereka berhadapan di kegelapan. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja digigit telinganya oleh perempuan asing.
“Kalau mau menertawakan saya, silakan sekarang,” ucap Laras. “Sesudah itu kita anggap tidak pernah terjadi.”
“Yang mana?”
“Apa?”
“Yang tidak pernah terjadi. Tanganmu di tubuhku atau rencana untuk hamil anak Galih?”
Laras membeku.
Naren mengeluarkan ponsel. Ibu jarinya menyentuh layar.
Suara Laras memenuhi ruang makan.
“Kalau gue bisa hamil anak Galih, masuk keluarga Prasetyo, semua yang gue tahan dua tahun ini nggak sia-sia.”
Setiap kata terdengar lebih buruk ketika diputar ulang. Tawa kecilnya terdengar licin. Kalimat yang ia lempar sebagai olok-olok pahit berubah menjadi pengakuan yang sangat meyakinkan.
Laras meletakkan tas perlahan. Darah menghilang dari pipinya.
“Anda merekam percakapan pribadi saya?”
“Kamu membicarakannya di lounge umum.”
“Itu bukan izin untuk merekam.”
“Bukan. Tapi cukup untuk menunjukkan siapa kamu sebenarnya.”
Laras mendengus kecil meski tenggorokannya kering. “Saya sedang bercanda. Rekaman itu tidak membuktikan apa-apa.”
“Bagus.” Naren membuka ruang obrolan Galih. “Kita tanyakan pendapat dia.”
Jempolnya menggantung di ikon kirim.
“Jangan.”
Kata itu keluar lebih cepat daripada harga dirinya sempat menahan.
Naren mengangkat mata. “Kenapa? Katanya cuma bercanda.”
“Mas Galih sedang ada masalah di kantor. Tidak perlu menambah urusan.”
“Kamu peduli pada urusannya?”
“Saya peduli pada hidup saya sendiri.”
Kejujuran itu membuat udara di antara mereka berubah. Laras tidak memohon. Ia hanya berdiri sangat tegak, seolah tulang punggungnya satu-satunya barang yang belum bisa dibeli siapa pun.
Naren berjalan mendekat. “Dua tahun jadi perempuan Galih. Berapa harga yang kamu incar?”
“Bukan urusan Anda.”
“Rumah? Mobil? Nama keluarga?”
“Kalau saya bilang semuanya, memangnya apa bedanya?”
“Aku ingin tahu seberapa mahal kamu menilai dirimu.”
“Lebih mahal daripada pendapat Anda.”
Ada kilat tipis di mata Naren. Bukan marah. Hampir seperti tertantang.
Ia berhenti satu langkah di depan Laras. Tubuhnya menutup jalan menuju pintu, tetapi Laras tidak mundur. Hanya jemari di sisi tubuhnya yang mengepal.
“Tadi malam kamu terlihat sangat yakin dengan kemampuanmu,” kata Naren rendah. “Ternyata rayuanmu murahan sekali. Dengan cara begitu, kamu berani menempel pada saudara gue?”
“Saya salah orang.”
“Salah alamat tidak mengubah niat.”
“Dan status Anda sebagai saudaranya tidak memberi Anda hak mengadili saya.”
“Benar.” Naren mencondongkan tubuh. “Tapi rekaman ini memberi aku pilihan.”
Laras bisa mencium aroma tembakau dari kerahnya. Bisa merasakan panas tubuhnya meski tak ada lagi sentuhan. Malu menjalar dari leher sampai telinga, lalu mengeras menjadi marah.
“Apa maumu?”
“Buktikan bahwa kamu memang pantas dibayar semahal itu.”
Laras tertawa sekali. Bunyi itu kering dan pendek. “Jadi ini soal harga diri saudara Anda? Anda mendengar perempuan Galih bicara soal uang, lalu merasa harus memberinya pelajaran?”
“Aku tidak pernah mengaku sedang mengajarimu moral.”
“Bagus. Karena orang bermoral tidak merekam pembicaraan orang asing, mengancamkannya, lalu meminta bayaran dengan tubuh.”
Naren menurunkan ponsel. Kalimat itu mengenai sasaran, terlihat dari otot rahangnya yang bergerak. Ia bisa saja marah, tetapi yang muncul justru tatapan dingin kepada pantulan dirinya sendiri di kaca lemari.
“Berapa?” tanyanya.
“Apa?”
“Jumlah yang membuatmu bertahan bersama Galih selama dua tahun.”
“Anda tidak akan paham.”
“Coba aku.”
Laras mengingat buku catatan di kontrakan. Angka Rp420 juta di halaman paling belakang. Tiga ratus tiga puluh juta sudah terkumpul, tetapi bukan satu rupiah pun boleh dikaitkan dengan Rumah Puspa. Selama orang mengira uang itu untuk tas dan apartemen, anak-anak di sana aman dari rasa ingin tahu keluarga kaya.
“Sembilan puluh juta,” jawabnya akhirnya, sengaja menyebut kekurangan, bukan tujuan. “Bisa bayar?”
Mata Naren menyempit tipis. “Itu saja?”
“Untuk malam ini.”
“Dan setelah itu?”
“Setelah itu kita negosiasi ulang. Kalau Anda ingin menganggap saya barang, setidaknya barang ini menentukan harga sendiri.”
Naren mengeluarkan ponsel kedua dari saku dalam jasnya, membuka aplikasi perbankan, lalu mengetik sesuatu. Layar tidak diperlihatkan kepadanya.
“Besok masuk,” katanya.
Laras menahan napas. Ia tidak menyangka pria itu akan benar-benar menyetujui angka yang ia lemparkan. Sekarang ancaman punya nominal. Sekarang dosa mereka punya bukti transfer.
“Dan kalau tidak masuk?”
“Kamu bebas pergi dan tidak perlu mengangkat teleponku lagi.”
“Rekaman?”
“Tetap diam.”
“Saya mau itu jadi bagian kesepakatan.”
“Baik.”
Jawaban tenang itu lebih menakutkan daripada bentakan. Naren bukan sedang menggertak. Ia sedang membuat aturan pertama.
Laras memahami maksudnya. Jantungnya menghantam tulang rusuk satu kali, keras.
Naren menunggu. Ia tidak menyentuh Laras, tetapi ponsel di tangannya jauh lebih kuat daripada genggaman mana pun.
“Kalau saya menolak?”
“Kamu keluar dari pintu itu. Besok Galih mendengar suaramu sendiri.”
Laras melirik pintu. Ia bisa pergi. Ia seharusnya pergi.
Namun angka-angka datang tanpa diminta. Biaya pemeriksaan Eyang Sri bulan depan. Cicilan tanah Rumah Puspa. Atap ruang sementara yang bocor. Dua tahun yang ia habiskan tersenyum di depan orang-orang yang tak pernah menganggapnya setara.
Semua itu bisa runtuh dengan satu ketukan jempol.
Laras membuka tali mantel. Bukan dengan tangan gemetar, melainkan sangat pelan, seperti orang yang sedang menandatangani kontrak yang sudah dibaca sampai kalimat terkecil.
“Satu hal,” katanya.
Naren tidak mengalihkan pandangan dari wajahnya. “Apa?”
“Jangan sentuh saya kalau saya bilang berhenti.”
Rahang Naren mengeras.
“Dan jangan pernah menganggap saya lupa kenapa ini terjadi.” Laras menjatuhkan mantel ke kursi. “Saya memilih karena saya butuh waktu. Bukan karena Anda menang.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Naren retak. Keinginannya beradu dengan rasa jijik pada dirinya sendiri, terlihat jelas selama satu tarikan napas.
“Kalau kamu bilang berhenti, aku berhenti,” ucapnya.
“Ulangi.”
“Aku berhenti.”
Barulah Laras mendekat.
Ciuman pertama itu tidak manis. Tidak lembut. Laras melakukannya seperti menutup kesepakatan, bibirnya dingin meski napasnya kacau. Naren sempat diam, barangkali tidak menyangka perempuan yang baru saja terpojok masih ingin menentukan awalnya sendiri.
Ketika tangannya naik ke pinggang Laras, ia berhenti sejenak, menunggu. Laras tidak menjauh.
Jarak runtuh setelah itu. Dasi yang tadi hendak dilepas Laras di kegelapan kini benar-benar longgar di jemarinya. Naren mencium rahangnya, lalu berhenti lagi ketika bahu Laras menegang.
“Berhenti?” tanyanya.
Laras menelan ludah. “Tidak.”
Jawaban itu terasa pahit, tetapi ia mengucapkannya dengan sadar.
Malam bergerak dalam potongan-potongan napas, kain yang bergesek, dan lampu kota yang memantul di kaca. Tak ada kata sayang. Tak ada kebohongan tentang cinta. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama tahu keputusan ini kotor, lalu tetap melangkah melewati batas yang tak bisa dihapus.
Saat fajar tipis muncul di balik gedung, Laras berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia membasuh lipstik yang tersisa sampai bibirnya pucat. Naren menunggu di luar dengan kemeja sudah rapi, seolah beberapa jam terakhir tidak pernah ada.
Ponsel Laras tergeletak di meja. Ada tiga pesan dari Galih yang menanyakan apakah ia sudah sampai rumah.
“Mulai hari ini,” kata Naren, “di depan orang, kamu tetap bersama Galih.”
Laras menoleh. “Lalu di belakangnya?”
“Kamu dengar kalau aku memanggil.”
“Anda pikir satu rekaman membuat saya jadi milik Anda?”
“Bukan milik.” Naren mendekat, lalu merapikan kerah mantelnya tanpa kelembutan. “Komplotan.”
Kata itu membuat Laras mual. Komplotan berarti mereka berdiri di sisi yang sama. Padahal malam ini ia merasa ditarik paksa ke permainan Naren.
“Kalau saya patuh, rekamannya hilang?”
“Kalau kamu patuh, rekaman itu tidak pernah sampai ke Galih.”
“Hapus di depan saya.”
Naren menyerahkan ponselnya. File audio masih terbuka. Laras menekan hapus, lalu membuka folder sampah dan mengosongkannya. Baru setelah itu napasnya terasa sedikit longgar.
“Puas?” tanya Naren.
“Belum.” Laras mengambil ponselnya sendiri. “Saya pulang.”
Di depan pintu, Naren menyentuh layar panel untuk membukakan jalan. Laras melangkah ke koridor tanpa menoleh. Pintu hampir tertutup ketika suaranya terdengar lagi.
“Laras.”
Ia berhenti.
Naren berdiri di balik celah pintu, wajahnya kembali dingin. Namun tangan yang memegang gagang pintu tampak terlalu kaku.
“File yang tadi kamu hapus cuma salinan.”
Laras menoleh perlahan.
“Aku menyimpan cadangannya.”
Bab 3
Aturan Sang Pemenang
Notifikasi bank berbunyi tiga hari kemudian.
Laras sedang duduk bersila di lantai kontrakannya ketika angka itu muncul di layar.
Rp90.000.000.
Nominalnya tepat seperti yang ia sebutkan pada Naren. Tidak kurang seribu rupiah pun, tidak lebih satu rupiah pun.
Di hadapannya terbuka buku catatan bersampul cokelat. Kertasnya sudah berlipat di sudut-sudut, penuh angka yang ditulis tangan. Laras selalu menyalin transaksi penting ke sana. Saldo di layar bisa berubah atau hilang, tetapi tinta membuat uang terasa nyata.
Harga tanah untuk Rumah Puspa beserta biaya notaris: Rp420 juta.
Tabungan dua tahun dari uang bulanan Galih, hasil menjual kembali tas dan sepatu pemberiannya lewat akun preloved kecil, juga sisa gaji serabutan: Rp330 juta.
Kekurangan yang dilingkari dua kali dengan tinta merah: Rp90 juta.
Kini kekurangan itu ada di rekeningnya.
Pesan dari nomor asing masuk sesudahnya.
Mulai hari ini, aturan aku yang buat. Di depan orang kamu tetap perempuan Galih. Diam-diam kamu punya aku. Jangan sampai aku ngomong dua kali.
Laras membaca kalimat itu tanpa berkedip. Kata punya terasa seperti tali yang diselipkan ke lehernya.
Ponsel lain yang sudah tua berdering. Nama Eyang muncul.
Laras buru-buru mengangkat. “Assalamu’alaikum, Yang.”
“Wa’alaikum salam, Nduk. Lagi sibuk?”
“Nggak. Lagi hitung uang.”
Eyang Sri terkekeh kecil. “Uang kok dihitung terus. Jangan lupa makan.”
Suara tua itu membuat dada Laras menghangat sekaligus nyeri. Ia bertanya soal obat, menu makan, dan apakah kamar di panti wreda bocor setelah hujan. Eyang menjawab semuanya baik-baik saja, bahkan terlalu cepat. Kebiasaan orang yang tak mau membuat cucunya cemas.
“Tanahnya sebentar lagi lunas,” kata Laras.
“Alhamdulillah. Tapi jangan maksa diri, Rara.”
“Aku nggak maksa.”
Kebohongan itu terdengar halus.
Setelah panggilan berakhir, Laras membuka aplikasi bank. Ia salah mengetik PIN dua kali. Pada percobaan ketiga, transfer berhasil masuk ke rekening khusus pembayaran tanah.
Di kolom keterangan ia menulis: cicilan tanah.
Ia menyimpan tangkapan layar, lalu memberi garis pada angka Rp90 juta di buku. Tinta merah merobek serat kertas tipis. Lunas, tulisnya di samping angka.
Sebuah pesan dari kantor notaris masuk beberapa menit kemudian. Pembayaran tahap akhir telah diterima. Laras diminta datang pekan depan untuk memeriksa akta jual beli sebelum penandatanganan. Ia membaca pesan itu tiga kali, memastikan tidak ada biaya tersembunyi yang terlewat.
Di dalam laci, ia mengambil gambar denah bangunan sederhana. Empat kamar tidur, satu ruang belajar, dapur, kamar mandi yang mudah dijangkau anak kecil. Atap ruang sementara masih bocor, tetapi sebentar lagi mereka akan punya tanah yang tidak bisa diusir pemilik kontrakan.
Laras menempelkan bukti transfer di halaman denah dengan selotip. Uang Naren kini berada tepat di samping gambar rumah bagi anak-anak yang bahkan tidak tahu nama pria itu.
Seharusnya ia lega.
Namun telapak tangannya basah.
Ponsel bergetar lagi. Nomor yang sama mengirim sebuah alamat di kawasan tenang Jakarta Selatan, disusul waktu: 21.00.
Tak ada sapaan. Tak ada pertanyaan apakah Laras bisa datang.
Ia menatap alamat itu selama satu menit, lalu berdiri.
Di depan cermin kecil yang retak pada satu sudut, Laras memilih gaun biru tua yang paling sederhana. Tidak ada lipstik merah. Tidak ada mantel mahal. Ia mengikat rambut, memasukkan ponsel ke tas, dan memesan ojek online seperti sedang pergi bertemu klien.
Rumah yang dituju tersembunyi di balik pagar tinggi tanpa papan nama. Naren sendiri yang membukakan pintu. Kemeja hitamnya tergulung sampai siku.
Ia tidak menyapa.
Laras juga tidak.
Naren meletakkan segelas air di meja samping, lalu menunjuk sebuah baki kayu dekat sofa. “Taruh HP di situ.”
“Takut saya merekam balik?”
“Aku tidak suka kejutan.”
“Lucu. Saya juga.”
Mata mereka bertemu. Naren seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi memilih diam.
Laras menaruh ponselnya di baki. “Uangnya masuk.”
“Aku tahu.”
“Mulai malam ini utang saya berkurang satu kali.”
“Aku tidak pernah menyebutnya utang.”
“Saya yang menyebutnya begitu.”
Ia mendekat atas kemauannya sendiri. Tangan Naren terangkat, berhenti sebelum menyentuh wajahnya. Laras mengangguk kecil.
Barulah jari-jari itu menelusuri rahangnya.
Tak ada rayuan. Naren tidak menanyakan apakah ia takut, dan Laras tidak menawarkan kelembutan. Mereka bergerak mengikuti aturan yang terlalu baru, berhenti setiap kali tubuh Laras menegang, lalu melanjutkan setelah ia mengatakan iya.
Kedekatan itu dingin seperti proses pembayaran. Kancing yang terlepas, napas yang dipendam, kain gaun yang kusut di bawah telapak tangan. Laras menjaga wajahnya tetap tenang bahkan ketika tubuhnya mengkhianati ketenangan itu. Ia menolak memberi Naren kemenangan berupa rengekan atau permohonan.
Sesudahnya, Naren langsung mengenakan kembali kemeja. Ia berdiri di dekat jendela dan menyalakan rokok. Tidak menatap Laras. Tidak bertanya apakah ia ingin tinggal.
“Kamu ngerti aturannya, kan?”
Laras merapikan gaunnya. “Di depan orang, saya perempuan Mas Galih. Di belakangnya, saya datang kalau Anda memanggil.”
“Bagus.”
“Jangan terlihat senang dulu. Setiap aturan punya tanggal kedaluwarsa.”
Naren mengembuskan asap ke arah jendela. “Nanti kita lihat.”
Laras mengambil ponsel dari baki, memesan mobil, lalu pergi tanpa pamit.
Di sepanjang perjalanan pulang, ia menekan kedua tangan di atas lutut. Baru saat lampu jalan menyapu masuk melalui kaca, Laras menyadari jari-jarinya gemetar.
Kontrakan menyambutnya dengan gelap dan bunyi kipas tua. Ia duduk di lantai, masih mengenakan gaun yang sama. Buku catatan cokelat tergeletak terbuka pada kata lunas.
Laras tidak menyalakan lampu.
Ia juga tidak melihat ponselnya lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!