Indonesia
NovelToon NovelToon

HUJAN DI BULAN APRIL

HDBA 1 •|April - Ramosdo|•

....•||•....

...HAPPY READING...

...#APRIL#...

....•||•....

Saat itu tepatnya di bawah teduhnya pohon rindang di samping fakultas ku, aku duduk memegang botol minum, sambil menatap seseorang menatap mataku dengan hangat, senyum lebarnya membuat ku terpikat.

Tak sadar, aku membalas senyumnya yang manis itu, senyum yang memperlihatkan lesung pipinya yang hanya ada sebelah.

Wajah tampannya itu terlihat bersinar, terik matahari seakan membakar semangatnya di sana, memantulkan bola basket ke lantai, dan dengan tatapan masih mengarah kepadaku.

Dia, laki-laki itu adalah senior ku, atau sering di sebut kating di sini. Dia menjabat sebagai ketua organisasi olahraga di fakultas ku, dan jangan lupa dia adalah komting di kelasnya.

Oleh karena itu, ketampanannya semakin bertambah, wajahnya yang putih bersih itu menjadi salah satu magnet kuat.

Tanpa sadar aku menatap setiap gerakannya, yang sedang asik memantul-mantulkan bola basket ke lantai. Dia bermain bola seorang diri, sedangkan aku hanya duduk diam di bawah pohon yang teduh ini.

Aku tak sadar, saat dia perlahan mendekat dan bersimpuh di depan ku. Tangan kananku di genggam tangan kanannya. Tangan kirinya, masih asik memegang bola.

Matanya terlihat menunjukkan binar, entah binar seperti apa itu. Mata coklat madunya menatap lekat mata ku yang masih menatapnya. Rambut perpaduan abu-abu dan coklat itu terlihat bergoyang akibat kencangnya angin, yang menunjukkan waktu sudah semakin sore.

"Mau gak jadi pacar ku?" tanyanya kala itu, dia mengatakannya bukan sambil memegang buket bunga, bukan juga sekotak coklat, tapi sebuah bola, bola basket yang terus dia genggam di tangan kirinya.

Aku gugup, ini terasa asing bagi ku. Aku belum pernah mendapatkan pernyataan cinta sebelumnya. Yah kalian bisa mengatakan aku berbohong, atau bisa juga kalian mengatakan 'mungkin kau jelek' terserah pada kalian saja, intinya ini adalah pengalaman pertama ku.

"April, kamu mau gak jadi pacar ku?" teriaknya lantang, membuat pepohonan seakan ikut bergetar dalam imajinasiku.

Memang, saat ini hanya ada aku, dia dan pepohonan di sekitar, saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat sore, dan tentunya para mahasiswa sudah pulang, dikarenakan ini hari Jumat, yang membuat para mahasiswa pulang cepat, karena Sabtu Minggu juga libur.

"April?" Suaranya terdengar bergetar, matanya menatap iris mataku.

"Kamu nol-" Aku menutup mata dan langsung mencium pipinya singkat. Aku mematung, tak mengerti kenapa bisa aku seperti itu.

Wajah pria di depanku ini juga terlihat memerah, tangannya yang menggenggam tanganku semakin mengerat.

Aku kembali menunduk, laki-laki itu mengangkat dagu ku dengan tangan kirinya. Bola basket itu sudah menggelinding, pergi tak tau kemana.

"Kamu?" Dia menatapku dengan mata berbinar.

"Aku mau... kak!" aku memilin jari-jariku. Gugup, sangat gugup!!!

"Makasih, aku cinta banget sama kamu" dia memelukku, mencium puncak kepalaku sayang. Aku merasa nyaman, dan membalas pelukannya. Keringatnya yang bercampur dengan parfumnya, menjadi seperti candu ku, sangat menenangkan.

"YEY, APRIL UDAH JADI PACAR GLEND, APRIL MILIK KU SELAMANYA" Teriaknya lantang, membuat ku semakin terharu, aku tak menyangka dia se senang itu.

Pria itu tersenyum hangat kepada ku. Kembali menarik tangan ku, membawa ku ke dekat motornya yang terparkir di parkiran dekat dengan lapangan basket.

...><...

Sedikit flashback, tentang aku, dia dan pertemuan kami, hingga sekarang kami pacaran. Aku akan menceritakan secara singkat, supaya kalian lebih paham.

Namaku adalah 'Asyelia April', aku adalah mahasiswa perantau. Sejak lahir hingga SMA, aku tinggal di desa, bersama keluarga besar ku. Hidup kamu sederhana, tak kekurangan, tapi tidak juga hidup mewah. Bisa dikatakan, kami ada pada tingkatan menengah kasta dunia ini.

Aku bisa kuliah di kota ini, karena prestasi ku yang lumayan baik. Aku menjadi salah satu anak yang bisa kuliah dari desa, untungnya orangtuaku tidak terlalu terbebani, mereka hanya membayar uang kost, dan uang bulanan ku. Sedangkan uang kuliah, dan keperluan kuliah sudah tersedia dari kampus.

Aku tinggal di kost-kostan dekat dengan universitas. Aku juga hidup seorang diri disini. Kesepian? Ya benar, aku sangat kesepian.

Tapi, demi membanggakan orangtuaku, aku harus berjuang, pantang menyerah. Aku mengikuti *PKKMB, hari pertama dengan baik, tentunya seorang diri juga, karena aku kurang baik dalam bergaul, jadi aku belum memiliki teman.

Hari kedua, setiap fakultas sudah di pisah. Dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Fakultas ku, dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok. Mahasiswanya di campur dari beberapa *prodi, aku menjadi seorang diri di kelompok ini dari prodi ku.

Kami melanjutkan kegiatan yang bernama 'Pencarian nama-nama dosen fakultas'. Kami, harus menemukan minimal 30 dosen, kelompok ku di bimbing oleh seorang senior laki-laki dan seorang perempuan.

Aku yang asik mencari nama dosen di handphone, di kagetkan oleh laki-laki yang tiba-tiba duduk di samping ku. Aku menoleh ke samping, menatap wajah nya yang bersih, putih, mulus tak berjerawat.

Aku tertegun, baru kali ini aku melihat wajah tampan bak dewa Yunani secara langsung seperti ini. Aku sedikit gugup, tak pernah terbayang akan pernah duduk bersama cowok ganteng.

Aku menggeser duduk ku, mengambil jarak mungkin lebih baik untuk jantung. Aku berusaha fokus pada handphone, mengabaikan pria berwajah dewa itu yang asik entah melakukan apa.

"Kenapa menjauh? Gue bau ya?" tanyanya dengan deep voice nya.

Aku menggeleng, meringis juga, saat dia bertanya seperti itu. Akhirnya, dengan susah payah aku mengangkat kepala dan menatap wajah tampan itu. Seketika aku teringat sebuah lagu, 'Dari depan ku tampan, dari samping aku tampan, dari mana-mana aku tetap tampan' Aku menyanyikannya dalam hati. Tercengang melihat wajahnya yang sangat tampan saat sedang asik menatapku.

Dia menipiskan bibir, membuat garis lurus disana.

"Em hai" Dia menyapaku kikuk. Aku diam, kembali mengingat bahwa dia adalah senior pembimbing kelompok ku bukan?

Aku mengangguk hormat tanpa bicara. Karena aku tak tau harus menjawab apa.

"Kenapa gak di jawab" dia mendekat ke arah ku. Dan menarik handphone yang tadi asik ku sentuh.

"Memang, handphone lo lebih penting daripada gue?" Aku diam, tak tau harus bereaksi bagaimana, sungguh ini di luar kendali ku.

"Ma-af kak" aku gugup, sungguh jantung ku malah asik bergelut, entah karena apa.

"Asyelia April" Dia mengeja nama ku, sambil menatap name tag yang terjahit di depan baju ku.

"Gue Glen, Glendale Ramosdo" Dia menyodorkan tangannya, berniat menjabat tangan ku sebagai perkenalan. Aku mengangguk kikuk, menyambut tangannya dengan gugup.

"Lo cantik" Dia tersenyum, setelah selesai berjabat tangan.

Aku diam, seperti patung. Sungguh, wajah ku kenapa bisa panas begini?

"Makasih kak" aku menganggukkan kepalaku. Kenapa rasanya, seperti suasana aneh begini ya?

"Mungkin, kita akan sering ketemu. Gue senior lo, masih semester tiga sih. Tapi, pasti sering ketemu" Dia tersenyum hangat, dan mulai beranjak setelah menyelipkan gulungan kertas ke tangan kanan ku.

Aku menatap tangan ku bingung. Beralih menatap tubuh tinggi yang semakin menjauh itu. Aku tebak, pasti tingginya 180-an. Maybe??

Aku membuka gulungan itu, yang ternyata adalah nama-nama dosen, lebih dari 50 dosen. Tulisan tangannya sangat bagus, aku diam, entah kenapa seperti ada yang terbang di perut ku.

-PKKMB \= Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru.

-Prodi \= Program Studi.

....•||•....

...Like, Vote, Komen...

....•||•....

HDBA 2 •|Jadian|•

...•||•...

...HAPPY READING...

...#APRIL#...

...•||•...

Setelah pertemuan itu, kami mulai sering bertemu, entah itu sengaja atau tidak. Pria tampan itu, selalu melemparkan senyum pada ku, walau pun banyak orang yang menatap aneh kepadanya.

Glen bahkan pernah dengan sengaja mengikuti kelas ku. Aku berusaha menyangkal, mungkin saja dia mengulangi matkul ini, karena nilainya tidak bagus.

"April" Dia berlari, mendekatiku yang sedang berjalan hendak pulang. Karena kelas sudah selesai.

Inilah salah satu keistimewaan nya, jika aku mendengar nama April, pasti aku sudah tau kalau dia yang memanggil. Sebab, disini hanya dia yang memanggil ku dengan nama itu, sedangkan yang lain hanya menggunakan nama Lia.

"Kenapa kak?" Aku berusaha menormalkan suara ku, supaya tidak terlihat gugup.

"K-kamu, mau pulang? Mau aku antar?" Aku diam, apa telinga ku salah, disini aku terkejut akan dua hal. Pertama, dia menggunakan kata 'aku-kamu' bukan 'lo-gue' kayak biasanya , yang kedua dia mengajak ku pulang? Oh my God...

"Mmm, gak usah kak. Aku bisa naik angkot ke kost, kalau ke pintu universitas, aku bisa naik bus kampus" Memang, universitas kami sangat luas, jadi di sediakan bus bagi yang tidak berkendaraan ke kampus.

"Ribet elah, mending sama a-ku aja" Dia masih terlihat aneh saat menggunakan'aku-kamu', sangat lucu.

"Kalau gak ngerepotin, ya boleh kak. Makasih sebelumnya" Senyum langsung terbit di bibir tipis merahnya. Membuat aku ikut-ikutan tersenyum.

...*...

...*...

Kami sampai di depan kost, dan aku lihat raut wajahnya yang terlihat berubah.

"Kenapa kak?" Aku bertanya, sebab bingung saat melihat wajahnya yang menatap lekat bangunan kost bertingkat itu.

"Ka-kamu, tinggal disini?" Dia menaikkan alis, sembari menatap ku, penuh dengan tanya.

"Iya, kenapa" Dia hanya menggeleng, dan tersenyum.

"Ya udah, aku pulang dulu. Kamu baik-baik di kost" setelah itu, dia pergi dengan motor hitamnya. Membuat aku menatapnya heran, penasaran dengan apa yang dia pikirkan.

'Apa dia jijik dengan kost ku?' batin ku, aku sungguh sangat heran.

...*...

...*...

Sejak saat itu, aku dan kak Glend menjadi sangat dekat. Dia sering mengajakku jalan-jalan, meski sering menolak, tetapi dengan segala bujuk rayuannya, aku luluh, dan mau-mau saja ikut dengannya.

Kak Glend itu baik, sangat baik, kata teman-teman sekelas ku, dia itu terlihat cuek dan bodi amat dengan sekitar, tapi berbeda dengan pendapat ku. Menurut ku, kak Glend itu humoris, dan sangat care ke pada ku, atau sekitarnya.

Satu bulan lebih kami dekat, dia pernah mengajakku menonton, dia selalu menemaniku saat mengerjakan tugas, dia bahkan pernah membawakan makanan ke kost ku.

Pernah sekali, aku sakit. Dia terlihat sedih, dan setiap satu kali satu jam, dia menelepon ku, mengirimkan pesan, dan banyak lagi. Aku bahkan berpikir, kami sudah seperti orang yang berpacaran.

Dua bulan kami dekat, dia sudah bercerita tentang keluarganya. Sebenarnya namanya adalah Glendale Ramosdo Wairde. Ayahnya, berasal dari California, Giedo Wairde. Ibunya, Annie Gultom, orang Indonesia, tepatnya Batak. Pantesan aku merasa familiar dengan nama Ramosdo.

Aku terkejut, ternyata benar dia blasteran. Pantesan dia tinggi seperti itu, Glend bilang dia 181 cm.

"Aku heran dengan orangtuaku, mereka sudah tua tapi masih sok muda, sok tebar-tebar romantis lah" Aku tertawa saat dia menceritakan tentang orangtuanya. Saat ini, kami duduk di kursi pasar malam, padahal sekarang sudah sangat malam.

Dia memakan permen, sedangkan aku sedang memakan roti.

"Nanti, kalau kita nikah. Kita juga boleh tebar-tebar romantis di depan mereka" Aku tersipu, jujur aku sangat malu, dan senang.

Tapi, pacaran saja kami belum. Kenapa langsung menikah?

"Yuk, kita pulang. Ini udah malem" Dia mengulurkan tangan, hendak menggandeng tangan ku. Aku mengangguk dan menerima uluran tangannya.

Setelah dua bulan, aku semakin mengenalnya. Aku mulai menyukai sikapnya yang humoris itu, dia selalu membuat ku senyum.

Dia sudah menjadi penyemangat ku, aku memang tidak punya sahabat, hanya sebatas teman untuk saat ini. Karena, aku memang kurang sering berinteraksi dengan mereka. Sebab, setiap istirahat aku bersama kak Glend, pulang bersama kak Glend, semuanya kak Glend.

...*...

...*...

Hingga saat itu, dia meminta ku menemaninya latihan basket, karena akhir-akhir ini dia jarang latihan. Dan, aku menyimpulkan itu semua karena dia asik lengket dengan ku.

Dan yah, kami jadian. Aku sangat bahagia, akhirnya aku tidak di gantung. Untung aku tidak di goshting kayak anak-anak tik-tok itu. Bukannya aku sering main tik-tok, tapi aku tau karena di kelas bahasan itu sudah menjadi makanan sehari-hari.

Setelah jadian, kami lebih sering bersama. Kami sudah sangat dekat, dia bahkan sudah pernah mengenalkan ku kepada teman-temannya.

Kami memilih pacaran yang terkontrol, hanya pegangan tangan, pelukan, ciuman saja. Meski, aku agak risih dengan ciuman, tapi jika kak Glend mencium ku, aku merasa suka dan tenang.

Teman-teman kak Glend pernah juga menanyakan, kami sudah pernah melakukan 'itu', atau tidak. Dan kami hanya tersenyum, tak menanggapi.

...*...

...*...

"Nanti, kamu mau gak aku bawa ke rumah?" Kak Glend membuka pembicaraan saat kami perjalanan pulang ke kost.

"Em, buat apa kak?" Aku mengencangkan pelukan, karena angin terasa kencang saat ini.

"Mama mau ketemu sama kamu" Aku diam, mendengar teriakannya.

"Ya udah, tapi aku mandi dulu ya kak, sekalian ganti baju" Akhirnya, kak Glend menungguku mandi dan berganti baju.

Setelah itu, kami pergi ke ke rumah kak Glend. Aku sangat gugup, aku belum pernah ketemu dengan orangtua kak Glen, aku juga belum pernah pergi ke rumah kak Glend.

Tak sampai 30 menit, kami sampai. Ada seorang wanita paruh baya yang menyambut kami di pintu utama.

"Cie anak mama" Glend menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sambil mencium pipi mamanya. Aku menjabat tangan mama kak Glend dengan sopan.

"Oh, ini namanya April?" mama kak Glen tersenyum, dan menggandeng tangan ku masuk ke dalam rumah. Aku celingak-celinguk mencari ayah kak Glen.

"Papa Glend lagi gak di rumah sayang, dia sibuk kerja" Mama kak Glend seakan tau apa yang kucari. Akhirnya kami masuk ke dalam rumah.

Ternyata mama Annie sangat baik dan ramah, sebelas dua belas dengan anaknya. Sepanjang berbincang dengan mama Annie, aku sering mendapati kak Glend menatap ku, dan setelah tertangkap basah menatap ku, dia akan mengalihkan pandangan dengan wajah memerah, tak lupa tangannya menggaruk tengkuknya.

Aku tersenyum melihat tingkat menggemaskan kak Glend. Dia seperti tokoh kartun kesukaan ku.

"Glend sering banget loh cerita tentang kamu, bahkan Glend pernah mengigau, manggil nama kamu" Aku tersenyum kikuk dengan wajah panas.

"Kalian ini jangan terlalu kaku gitu, udah pacaran juga. Padahal kemarin-kemarin, Glend sampai ngambek karena mama sama papa mesra-mesraan di depan dia, akhirnya dia bilang bakal balas dendam ke mama. Katanya, kalian juga akan buat mama itu karena romantis-romantis an trus"

Glend mendelik, sambil terus memakan keripik kentang dari toples.

"Tapi, satu harapan mama. Kalau ada masalah, bicarain baik-baik. Jangan langsung berantem, hubungan kalian harus sampai jadi kakek-nenek"

.......

...-0o0-...

...Like, Vote, Komen...

...-0o0-...

.......

HDBA 3 •|Berkunjung|•

...•||•...

...HAPPY READING...

...#GLEN#...

...•||•...

Aku sangat menyukai senyumannya. Setiap dia tersenyum, hati ku terasa tenang. Pertama kali bertemu, otak ku langsung memerintah tubuh ku untuk bereaksi, sebelum ada orang lain yang mendekatinya.

Aku langsung tertarik padanya, saat pandangan pertama. Wajahnya yang terlihat cantik, tubuhnya juga berisi, tak kurus dan tak gemuk.

Tingginya kira-kira 160 cm. Saat aku memeluknya, aku dapat merasakan dadanya yang empuk, mungkin akan pas di genggaman ku, pikir ku kala itu. Tapi, jangan salah, jangan berpikir aku menyukainya karena kemolekan tubuhnya, bukan karena itu. Aku memang menyukainya pada pandangan pertama, entahlah karena apa.

Intinya, aku sangat bangga pada diri sendiri, baru kali ini aku melakukan pendekatan pada perempuan dan langsung gol. Ternyata, ketampanan ku, berguna juga.

Aku tak pernah bosan menatap wajahnya, bahkan aku tak memperdulikan lagi orang-orang yang mengatakan ku bodoh dalam memilih pasangan. Menurut ku, April adalah segalanya. Aku sangat menyukainya, aku sangat mencintainya. SANGAT.

Aku sedikit tak suka, saat tau dia tinggal di kost sempit itu. Aku yakin, kost itu tak aman, tapi aku emang bisa melarang? Kurasa aku tidak bisa apa-apa?

...*...

...*...

Hubungan kami berjalan dengan baik, dia terbuka kepada ku. Begitu juga sebaliknya. Sebenarnya alasan aku tak pernah berpacaran dan tidak pernah dekat dengan perempuan adalah patah hati. Ya, meski aku laki-laki, aku takut patah hati.

Bukannya cemen atau apa, tapi aku takut akan kedua kata itu. Aku sering melihat teman-teman ku malah lari jalur saat sedang patah hati. Minum alkohol, merokok, berjudi dan bahkan s e k s bebas. Aku tidak mau seperti itu, meski kadang kala aku pernah tergoda dengan salah satunya. Yaitu s e k s.

Tapi, demi masa depan ku, aku harus bisa mengontrol n a f s u bukan? Jika ada yang bertanya, apa aku sudah pernah merokok, minum alkohol? Ya, aku sudah pernah, tapi itu pas SMA, dan hanya sekali. Itu semua atas dorongan dan paksaan teman-teman ku saat itu.

Tapi, setelah hari itu. Aku memutuskan sedikit membatasi pertemanan, dan lebih memilah teman yang mendekatiku. Karena jujur, aku orangnya mudah tergoda, iman ku belum kuat.

Aku sudah mulai gila lagi, setiap berboncengan dengan April, aku merasakan keempukan benda kenyal itu. Dan itu membuat n a f s u bi ra hi ku memuncak. Sungguh, aku sangat ingin memukul *GJ. Kenapa dia sulit sekali terkontrol.

Aku bersyukur, saat aku dapat mengatasi hal itu. Aku, hanya bisa bermain solo di kamar mandi kamar ku, menutup pintu rapat supaya mama dan papa tak curiga. Dengan bermodalkan bayang-bayang tubuh molek April, aku selalu bisa menuntaskan hasrat.

Apakah itu dosa? Aku hanya selalu merapalkan kata maaf dalam setiap doa ku, berharap itu bisa sedikit mengurangi dosa ku.

...*...

...*...

Terhitung empat bulan hubungan kami, semuanya lancar, aku semakin bersikap manja padanya. Aku sering memintanya datang ke kelas. Berharap dia membuat penat di otakku berkurang, dan yups, setelah dia sering mampir ke kelas ku, beban pikiran ku sedikit terangkat.

Dia sering ditatap sinis beberapa perempuan yang pernah mendekati ku, membuat ku menjadi OVER POSSESSIVE.

Aku tak masalah, intinya setelah aku terlalu posesif, dia juga semakin menunjukkan sikap manjanya, dan aku suka itu.

Setelah di akhir semester, kami mulai sibuk dengan ujian akhir semester, dan hanya sedikit waktu kami bertemu. Aku yang lumayan fokus pada UAS dan beberapa keperluan eskul olahraga, membuat ku lupa kalau aku punya pacar. Bodoh emang.

Akhirnya, hal itu membuat April merajuk, dan mendiami ku selama seminggu. Sungguh, aku sangat sedih, dan rindu dengannya. Dan dengan sejuta bujuk rayu dan pelet maniak ku, dia luluh dan kami kembali baikan.

...*...

...*...

Setelah siap UAS, dan kami akan melangkah ke semester genap. Kami berdua memilih liburan ke kampungnya. Ya, kami berdua. Awalnya dia menolak, tapi seperti bujuk rayu tadi, dia memperbolehkan ku ikut.

Kami liburan ke kampung, orangtuaku juga mengijinkan. Orang tua April sedikit terkejut saat April membawa ku ke rumahnya di kampung. Apalagi ayahnya, dia terlihat marah, tapi masih bisa menutupi ekspresi.

Akhirnya, aku bisa tinggal di rumahnya. Rumahnya luas, tapi tak seluas rumah ku. Aku tidur bersama adik laki-lakinya yang masih kelas satu SMA. Kamar mereka tak ada kamar mandinya. Kamar mandi ada di dapur, itu membuat ku sedikit tak nyaman. Aku melihat sekitar yang terlihat tak ada AC atau kipas angin. OMG, bagaimana bisa aku tidur dengan tenang nanti.

Setelah malam, aku naik ke atas kasur. Menatap adik April yang masih asik bermain game. Dia tak memperdulikan aku. Aku mengedikkan bahu, dan mulai berbaring.

Hawa dingin merasuki tubuh ku. Ya ampun, kenapa bisa sedingin ini. Aku kira, hawa di sini sama dengan di kota, ternyata tidak, ini jauh lebih dingin dari pada di kota walaupun dengan AC menyala.

Aku bergerak gusar, sambil menarik selimut tebal itu. Menutup diri sampai ke leher. Aku mencium aroma April di dalam selimut ini, sangat wangi.

"Kak April sering beli parfum, pewangi pakaian dan pewangi ruangan. Jadi, kami pakai itu sampai sekarang. Meski kak April gak di rumah"

Dasar bocah sialan, dari mana dia tahu aku sedang menghirup wangi selimut ini coba. Aku menetralkan mimik wajah, dan terduduk.

"Lo, punya jaket gak? Gue boleh pinjem?" Akhirnya aku buka suara, entah kenapa aku kesal melihat adik April ini.

Dia bergerak, dan mendekati lemari yang terletak di sudut ruangan. Dan mengambil Hoodie berwarna putih dari dalam.

"Ini punya kak April, aku sering make kalau tidur. Jadi pake aja" Dia melemparkan Hoodie tadi, membuat ku segera menangkapnya.

Aku tak suka, saat ada orang lain memakai barang-barang April seperti adiknya ini, padahal aku juga adalah orang lain.

Aku akhirnya memakai jaket itu. Pas sekali, membuat aku nyaman dan mulai tertidur.

...*...

...*...

Singkat cerita, aku dan April sudah menempuh perjalanan cinta selama setahun. Aku sangat senang, di dalam hubungan kami selalu lancar, dan meski ada masalah kecil, selalu terselesaikan dengan kepala dingin.

Tapi, semua itu sirna. Saat masalah besar itu datang. Aku yang saat itu masih semester lima, dan dia semester tiga, melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan, yaitu s e k s. Aku sangat menikmati waktu itu, begitupun April. Meski awalnya dia menolak, tapi karena bujukan ku, dia mau.

Aku menjadi yang pertama begitupun sebaliknya. Kami mulai sering melakukannya. Setelah beberapa kali, aku mulai membatasi diri. Karena kami masih kuliah, dan belum sepantasnya.

Aku akan tetap menceritakan hari itu. Secara singkat. Aku harap kalian tidak mengikuti apa yang kulakukan dan ku perbuat ini.

.......

...•||•...

...Like, Vote, Komen...

...•||•...

.......

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!