Aku adalah gadis remaja 17 tahun yang tinggal di panti asuhan selama 5 tahun. Sewaktu ketika aku berjalan melewati terowongan gelap yang berjarak sekitar 2 kilometer dari panti asuhan. Pada waktu itu, aku disuruh untuk pergi ke toserba guna membeli peralatan untuk dekorasi panti. Aku memberanikan diri untuk melewati terowongan itu dengan berjalan pelan-pelan langkah demi langkah ku berdoa agar Tuhan melindungiku. Tiba-tiba terdengar suara laki-laki berteriak "tolong..jangan bunuh saya, saya janji saya ngga akan bilang siapa-siapa". Aku menghentikan langkah dan segera bersembunyi dibalik pintu yang berada disamping dalam terowongan tersebut. Aku mengeluarkan handphone dan segera merekam suara mereka. Aku mengintip, disana terlihat ada sekitar 5 pria berseragam polisi dan 1 pria memakai pakaian biasa layaknya warga sipil. Salah satu pria berseragam tersebut terlihat sebagai pemimpin diantara polisi yang lain. Ia memberikan aba-aba seperti menggoreskan leher dengan jari-jari tangannya dan diarahkan kepada warga sipil itu. "Gimana gua bisa percaya, lu aja barusan mau ke kantor polisi, syukurnya anak buah gua langsung nangkep lu" ucap pemimpin tersebut. "Saya mohon..saya akan tutup mulut tentang bapak menjadi bandar narkoba.. Saya janji, saya ngga akan bilang siapapun". Aku shocked dan takut, antara ingin mematikan rekaman tersebut dan pergi atau terus merekamnya dan bersembunyi. Aku memutuskan untuk terus merekamnya demi ditegakannya keadilan. Tiba-tiba terdengar suara kencang seperti tembakan "dooorrrrr..." Saat itulah pertama kalinya aku melihat langsung bagaimana orang ditembak dikepala. Aku memang suka menonton film action seperti Mission Impossible, James Bond, bahkan John Wick. Tapi kali ini aku kaku dibuatnya, seperti jiwaku meninggalkan ragaku. Ku lihat darah berceceran dijalan, pria itu tidak bergerak sama sekali. Sewaktu mereka pergi, handphoneku bergetar. Karena didalam terowongan sangat hening, mereka bisa mendengar kehadiranku. Aku segera berlari zigzag, karena yang kutahu sewaktu penjahat menembaki jagoan dengan senjata, sebaiknya jangan lari pada lintasan yang mudah ditebak. Aku lolos.. jantungku berdetak cepat sekali bahkan ini yang tercepat selama hidupku. Aku bersembunyi di dalam warnet, kebetulan disana buka 24 jam dan syukurnya banyak pengunjung. Terdengar suara pria-pria tersebut teriak "Razia Polisi". Langsung saja pengunjung warnet berlarian, dan aku hanya bisa panik saat itu. Aku minta tolong penjaga warnet untuk menyembunyikanku. Aku mengatakan bahwa aku saksi pembunuhan dan dia harus membuatku tetap hidup. Lalu dia mengarahkanku ke ruang bawah tanah seperti gudang. Gelap.. bau.. dan terdengar banyak suara tikus. Terpaksa aku menahan semua ketakutanku di saat seperti ini sampai-sampai aku bangun dari tidurku karena terdengar getaran handphone. Aku bersyukur ternyata ini mimpi tapi ternyata aku masih ditempat yang sama. orang-orang panti menanyakanku bagaimana bisa aku tidak pulang semalam. Lalu aku menjelaskan semuanya dan mereka menyuruhku untuk mundur. Mereka takut aku akan dibunuh seperti pria sipil itu. Aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku segera keluar dari ruang itu dan menghampiri penjaga warnet itu. Aku mengatakan kalau saja aku boleh meminjam bajunya. Ia berbaik hati meminjamkan baju laki-laki. Setelah itu, aku meminta ia untuk meminjamkan gunting. Ia membantuku untuk memotong rambutku hingga seperti pria. Pria itu berkata "pergi ke alamat ini, ini adalah rumah jenderal polisi namanya Pak Sudirman jaraknya sekitar 1 km dari sini". Lalu aku meresponnya dengan mengatakan "sebelum saya jalan kesana saya ingin menyebarkan rekaman ini di media sosial". Pria itu meminjamkanku sepeda motornya dan aku ngebut sengebut-ngebutnya. Sewaktu dipersimpangan, perasaanku tidak enak. Aku melihat spion, ada 2 mobil sedan mewah berwarna hitam mengikutiku. Aku yakit itu mereka semua. Aku memutuskan untuk mengambil jalan yang lebih ramai agar mereka terjebak macet. Mereka segera menyalakan lampu sirine agar diberikan jalan, aku bersyukur kali ini tidak ada yang memberikan jalan karena orang-orang terlihat seperti ingin menuju kantornya di saat itulah mereka semua egois untuk tidak mengalah. Aku melihat gerbang rumah Pak Sudirman, tapi aku dihadang oleh polisi-polisi dan mereka memborgolku. Tak lama kemudian, gerombolan polisi-polisi yang memakai sedan hitam datang. Aku memutuskan untuk berteriak bahwa aku saksi pembunuhan. Lalu Pak Sudirman mengijinkanku untuk masuk. Disaat itulah aku memohon padanya untuk menolongku. Ia mengijinkanku untuk tinggal dirumahnya hingga proses hukum untuk mereka selesai.
10 tahun kemudian..
Saat ini usiaku 27 tahun, dan hari inilah aku menikah bersama pria idamanku. Aku pergi ke ruang ganti untuk memakai gaun putih dengan brukat yang indah. Sewaktu aku melihat cermin tiba-tiba dadaku sesak seperti terhembus timah panas dan aku melihat gaun dibagian dadaku penuh dengan darah. Aku mulai kabur melihat semuanya. Aku tak kuat..mataku seperti ingin tertutup namun hatiku menginginkan mataku terbuka.
Hingga akhirnya semua terlihat gelap hitam pekat...