"Pergi, siapa kamu sebenarnya!!!"
Aku mengusir dan memintanya agar berhenti mengejarku, aku tak tahu siapa pria itu sebenarnya, sungguh pria aneh yang menyeramkan.
Apa-apaan dia, memakai jubah hitam dengan membawa sabit besar di tangannya...Dasar pria aneh.
Aku terus menghindarinya tetapi pria itu terus mengejarku, sepertinya dia orang hilang akal. Lagipula ini dimana? mengapa aku bisa berada di sini? hanya ada pepohonan di sekelilingku, bukankah tadi aku sedang berada di sekolah?
Aku terus berlari, mencari arah ke mana aku harus pulang. Aku meneruskan langkahku dan sesekali menoleh ke belakang, syukurlah pria aneh itu kini sudah tak mengikutiku.
Kini aku berjalan perlahan, berjalan walau tak tahu arah tujuan. Ah sial, pantas saja ketika berlari tadi langkahku terasa tak nyaman, ternyata tali sepatuku terlepas.
Lebih baik aku berhenti sejenak untuk mengikat kembali tali sepatu ini, karena jika saja pria aneh itu mengejarku kembali, bisa saja aku terjatuh karena sepatu ini.
Aku membungkukan tubuhku untuk mengikat tali sepatu yang terlepas tadi, baru saja aku mencoba mengikatnya tiba-tiba aku merasa ada sesuatu di hadapanku. Apa ini? Kain hitam? Darimana datangnya kain ini? aku berdiri dengan menutup kedua mataku, kemudian kubuka perlahan karena takut pria aneh itu tiba-tiba berdiri di hadapanku.
Syukurlah ketika aku membuka mata dia tidak ada di hadapanku, baru saja kucoba meneruskan langkah, aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku dari arah belakang.
"Dewiiiiiiiiiii......"
Sontak aku menoleh ke arah suara itu tapi tak ada siapapun di belakangku, mungkin itu hanya perasaanku saja, aku pun mengarahkan pandanganku ke arah depan dan alangkah terkejutnya aku melihat pria aneh itu sudah berada di hadapanku.
Wajahnya sungguh menakutkan, matanya merah, senyumnya menyeringai panjang, dia bersiap menikamku dengan sabit itu, sabit tajam itu dengan cepat mengarah ke wajahku hingga tiba-tiba.
"Wi...Bangun Nak, kamu kenapa tidur sambil berteriak seperti itu."
Untung saja Ayah membangunkanku dari mimpi buruk itu, ternyata aku ketiduran di kelas yang sudah sepi karena menunggu Ayah menjemputku, aku memeluk dan berterimakasih padanya.
Ayah memang setiap hari menjemputku ke sekolah, walau sudah duduk di bangku SMA tapi aku tak malu setiap hari selalu di antar-jemput oleh Ayah, karena aku sangat menyayanginya.
Bahkan jika Ibu sedang bekerja Ayah selalu menemaniku di dalam kamar, dia selalu mendudukanku dalam pangkuannya, aku ini gadis kecilnya, kata Ayah...Dia sangat sayang kepadaku, dia selalu menciumku dengan penuh kehangatan, bahkan kami selalu tidur siang bersama di kamarku.
Hari itu Ayah mengajakku pulang seperti biasa, kami bergandengan tangan, Ayah selalu tersenyum padaku, Beliau Ayah yang sangat baik, aku beruntung mempunyai Ayah seperti Beliau.
Ketika sedang menyebrang jalan hari itu tiba-tiba saja ada sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi ke arah kami, truk itu semakin mendekat, hingga bagian depannya dapat kulihat dengan jelas dengan mataku, sedikit lagi saja kami berdua tertabrak tapi kemudian kami berdua berpindah tempat ke dalam hutan.
"Ayah ini di mana?" Tanyaku.
"Ayah nggak tau Nak, ayo kita cari jalan pulang." Kata Ayah.
Baru saja kami hendak melangkah tiba-tiba ada sebuah sabit besar yang menusuk dada Ayah, Ayah meninggal seketika, melihat itu membuatku berlari ketakutan.
Aku menoleh, kulihat di belakangku seorang Pria aneh berjubah hitam mengejarku.
"Pergi, siapa kamu sebenarnya!!!"
Aku mengusir dan memintanya agar berhenti mengejarku, aku tak tahu siapa pria itu sebenarnya, sungguh pria aneh yang menyeramkan.
Sementara itu di lain tempat tampak seorang Ibu sedang menangis di depan tubuh anak perempuannya yang sedang koma karena kecelakaan, karena sebelumnya telah terjadi kejadian mengerikan di mana sebuah truk menabrak dua pejalan kaki yang sedang menyebrang jalan, Lelaki itu meninggal di tempat sedangkan Anak perempuannya di larikan ke Rumah Sakit karena luka yang sangat parah.
"Dewiiiiiiiii...." Teriak Ibu itu memanggil nama anaknya.
-fin-