Hembusan angin menerbangkan tirai putih yang tipis. Di luar jendela tampak sekumpulan orang-orang berdatangan. Pakaian yang rapi, dandanan yang menarik, seharusnya semua ini adalah sesuatu yang menyenangkan untuk di lihat.
Begitu ramai di luar sana, dan aku masih mengurung diri dalam ruangan ini, duduk menopang dagu. Ditemani rekaman lama yang berulang-ulang mengalun dari pemutar musik ponselku.
Alunan nada ini masih membekas dalam ingatan. Lagu yang begitu banyak membawa kenangan pahit, juga manis secara bersamaan. Lagu yang setiap kudengar selalu membuatku ingin menangis, tanpa pernah ku ketahui apa sebabnya.
Atau aku yang dengan sengaja melupakannya?
Entahlah, terkadang aku pun tak bisa memahami diriku sendiri. Apa yang ku inginkan, apa yang tidak ku inginkan ... Aku benar-benar tak tahu.
Entah sejak kapan aku berhenti menginginkan sesuatu, terlebih berharap untuk bisa mendapatkannya. Karena aku tahu, sekuat apapun aku berusaha, aku tak akan pernah mencapai apa yang aku inginkan.
Karena itulah, aku memutuskan untuk berhenti menginginkan sesuatu. Karena itu terlalu menyakitkan.
"Kau masih menyukai lagu ini, ya?" Suara seseorang yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang bangku, menyentakku dalam lamunan.
Sejak kapan dia ada disini? Aku bahkan tak mendengar suara derit pintu yang terbuka. Atau aku yang melamun terlalu keras?
Untuk sesaat, rasanya ada sesuatu yang memukul jantungku. Membuat satu detaknya begitu keras hingga dadaku nyeri. Aah ... aku selalu benci sesuatu yang mengejutkan. Namun orang ini, seolah tak tahu. Ia selalu melakukan hal ini, dari dulu. Padahal dia jelas yang paling tahu.
Atau dia hanya tidak peduli?
Helaan napas lirih lolos dariku. "Suka. Aku selalu menyukainya."
"Ini rekaman lama, 'kan? Tidak kusangka kau masih memilikinya," Katanya lagi.
Untuk sesaat, kami terjebak dalam keheningan yang menyesakkan. Dalam sudut pandangku, ku amati dirinya yang tampak rapi dalam balutan tuxedo berwarna putih. Berpikir bahwa ternyata benar, apapun yang di pakainya, ia tak akan pernah terlihat seperti seorang laki-laki dewasa. Membuat tanpa sadar tawa kecil lepas dariku.
"Kau harus berhenti terjebak di masa lalu ...," Ia tiba-tiba berkata lirih. "Kumohon, jangan lagi."
Dan tawaku terhenti. Kembali, hela napasku lolos tanpa ku sadari. Begitu mudah untuk dikatakan. Sungguh, mudah sekali untuk membangun keinginan untuk melupakan semua yang terjadi di masa lalu.
Namun, semudah aku membangunnya, semudah itu pula tekadku hancur tepat ketika sepasang mataku bertatap dengannya.
"Aku tahu," Namun pada akhirnya, jawaban itulah yang lolos dari mulutku yang sudah lama menyerah.
Ia mengulurkan tangannya padaku. Seulas senyum manis terulas di bibirnya. Tampak sendu dan menyakitkan, tetapi di saat yang sama ... begitu hangat. Senyum yang selalu aku sukai sejak dulu kita bersama.
Ia menarikku berdiri. "Ayo turun. Para tamu sudah berdatangan," Katanya. Sepintas ku rasakan genggaman tangannya mengerat, sebelum di lepas dengan enggan.
Lantas ia kembali tersenyum dan berkata, "Pernikahan akan kembali di mulai."
Apa kalian tahu, bagaimana rasanya jika seseorang yang saling mencintai harus saling melepaskan karena benang merah yang mulai terjalin di antara mereka? Rasanya sangkat menyakitkan.
Dan apa kalian tahu, seberapa menyakitkannya jika orang yang kita cintai itu yang mengantarkan kita altar pelaminan?
Seberapa kuat aku berusaha, seberapa kuat aku menyanggah, benang merah diantara kita tak akan pernah terputus. Karena kita adalah keluarga. Karena aku terlahir sebagai saudarnya bukan sebagai pasangannya.
Dan masa lalu, mengantarkanku ke arah yang salah. Kali ini, aku akan berusaha melepaskan perasaan itu dan membangun hidup yang baru.
Aku membalas senyumnya. Walau itu berat tapi aku akan berusaha sekuat mungkin.
"Aku berharap dalam kehidupan selanjutnya, aku bisa menjadi seseorang yang lain dalam hidupmu. Agar aku bisa mendampingimu," Ia berkata lirih.
Aku menghela napasku. "Dan aku berharap dalam kehidupan selanjutnya, aku bisa menjadi Ibumu. Agar aku bisa memberimu banyak cinta."
Ia terkekeh mendengar ucapanku yang melantur. "Apa kau siap?"
Dengan satu kali hembusan napas berat, aku menjawab, "Aku siap."