jauh,. mungkin begitu aku harus mengartikan ini semua pada dia, sosok yang tak bisa lagi ku genggam, ke peluk atau ku sebuti di muka umum.
"selamat tinggal"
tidak sempat kata itu terucap dari bibir yang kemaren sudah membiru, pun memutih seperti entah apa. ia pergi dengan luka dalam dari tubuhku.
"nak, jangan lah menangis lagi, ibu sudah lebih tenang disana"
begitu papat ayah yang saat ini memilih untuk menikah dengan seorang wanita berumur 35 tahun yang berdedikasi tinggi terhadap keluarga kami
"aku akan tetap memanggil nya bibi" ucap bibir ini dingin dengan tatapan membeku yang sulit untuk di cari arti
"beri lah dia kesempatan, jangan panggil dia dengan kata bibi, adik mu akan mengikut" jawab ayah nya sedih menatap ke kedua mata Ian, anak lelaki, di keluarga kecil itu
"sasa dan salma bisa memanggil nya mama atau ibu, tetapi aku tidak. ibu ku tetap satu, dan sudah pergi" ucap Ian menegarkan hati untuk tidak menangis
"baiklah son, kembali lah ke kamar, bibi akan memanggil mu untuk makan malam nanti" ucap ayah nya sambil memegangi bahu anak lelaki antara dia dan mendiang istrinya
** ** **
dia lah Ian, sejak kecil sudah hidup dalam belaian kasih sayang mama nya, karena ayah yang bekerja lebih sering di luar kota.
bukan berarti ayah nya bermain kotor dengan wanita lain, dia murni hanya cinta pada Ratna... ibu Ian
berumur 17 tahun, Ian kini sudah piatu. adik nya yang berumur 14 tahun saat ini hanya bisa menangis sedih di depan tubuh wanita yang terbujur kaku di tutupi kain putih,
"dia memang sudah tidak tertolong sejak kali pertama masuk ke rumah sakit, kasihan" begitu kata orang yang menatap kepergian ibu
"dia kanker darah, kasihan sekali" ucap yg lain sambil menutup mulut tanda entah apa
di pemakaman, tak ada air mata, tak ada rasa suka yang membara karena semua nya sudah membeku sampai sulit untuk di cairkan.
ayah, adik Ian hanya bisa pasrah dan tanah atas apa yang mereka lalui,
"akan ku cari seorang pengganti... "
ucap ayah Ian menuai kritik dalam hati nya tetapi tak sanggup juga melihat adik kbar nya besar tanpa kasih sayang seorang ibu
"menikah lah, tetapi jangan harap aku akan memanggilnya ibu" begitu kata dingin yang keluar dibibir Ian
ia masuk dalam kamar, diam dan hanya bisa menatap rembulan yang kini sedikit redup di halangi awan
"ma, Ian kangen.... " begitu ucap nya sembari menghapus air mata yang jatuh sedikit
ia tarik selimut dan bantal dari ranjang, kmudian tidur menatap langit berharap angin malam ini adalah bukti sosok mama yang selalu ada untuk nya