Pagi ini, jendela rumahku penuh titik titik embun hujan yang turun membasahi setiap sudut sudut kotaku. Tak banyak yang aku bisa temukan, kecuali hanya setumpuk rasa rasa rindu yang masih bergumam di dalam jiwaku.
Rindu selalu mengingatkanku, bahwa ketika hujan turun, tentangmu pun juga ikut turun membasahi seluk beluk hatiku. Aku tak menampik, bahwa kehadiranmu masih bisa ku rasakan di setiap tetesan air yang hujan bawa turun ke bumi.
Terkadang aku berfikir, di duniamu saat ini, apakah hujan masih jadi alarm pengingatmu tentang diriku? Terkadang aku ingin tau, apa yang kau lakukan selepas keputusan pergimu yang membuatku jatuh tersungkur ke dalam lubang penuh luka? Kau mungkin tak pernah tau, betapa remuk redamnya diriku di hari itu, di hari dimana kau putuskan untuk pergi tanpa sebab.
Alasan terbesarku masih mengingatmu adalah karena hatiku masih dengan sangat baik menyimpanmu dalam ruangnya. Dan setiap kali hujan turun membasahi apa yang ada di sekitarnya, hatiku seolah bergetar hebat, menandakan ada kau disini, masih ada kau di sela sela rintikannya.
Kau bilang hujan ini adalah KITA. Awal pertemuan yang akhirnya menciptakan KITA. Kau bilang kala hujan turun, yang bisa kau ingat hanyalah aku, karena aku adalah manusia yang membuatmu mengerti, bahwa ternyata hujan turun tak hanya membawa air, namun juga cinta di dalamnya.
Kau katakan banyak hal padaku yang membuatku sulit lupa. Ketika ada dingin yang turun membuatmu lemah, kau bilang aku lah si hangat yang membuatmu damai. Kau suka tertidur di diriku, kau bilang bebanmu seolah hilang saat kau sandarkan tubuhmu di pelukku.
Hujan kala itu memang berbeda, ada dirimu yang menciptakan begitu banyak kenang. Kau seperti anak kecil, bermain riang gembira dibawah guyuran hujan yang deras. Kau tak peduli sakit, yang kau tau hujan turun membawa kebahagiaan di hatimu. Dan aku, sebagai penikmat senyummu hari itu, menyadari bahwa hujan memanglah pembawa cinta, seperti yang selalu kau katakan padaku.
Kau nyatakan perasaanmu, di kala hujan sedang turun dengan deras derasnya. Kau berteriak sangat kencang, biar orang orang tau bahwa kau mencintaiku. Kita menari, berdansa bagaikan hujan adalah musik yang mengiringinya. Mendadak musim yang membawa dingin ini berubah menjadi musim favoritku. Aku beruntung, lelaki sepertimu bisa datang dalam kehidupanku.
Sampai suatu ketika, hari yang tak pernah aku bayangkan, ntah mengapa hari itu terjadi. Hujan yang biasanya begitu aku cintai, mendadak berubah menjadi hujan yang memang hanya membawa kelabu.
" Aku tak bisa, aku harus pergi. Ada banyak hal yang tak bisa aku ceritakan padamu. Kelak kau akan mengerti, bahwa cinta saja tak cukup untuk membuatmu bahagia "
Kau berlalu, selepas kata kata yang tak mampu untuk aku pahami itu keluar dari mulutmu. Kau mengoyak ngoyak hatiku, dengan jabaranmu yang tak bisa aku mengerti. Andai kau tau, aku tak butuh apapun untuk mencintaimu, aku hanya butuh kau, hanya kau saja.
Hujan kala itu berbeda. Ia kembali pada kodrat sejatinya. Membawa kelabu yang menghitamkan cintaku. Yang tersisa hanya rindu yang masih saja dengan bodohnya berharap suatu saat kau kembali. Berulang kali ku yakinkan hatiku, tapi ia masih dengan keras tetap mempertahankanmu
Kau melangkah jauh, dan pandanganku di tengah hujan mulai memudar. Kabur, kau menjadi abu abu. Membuatku hanya bisa menutupi air mata yang turun terselamatkan oleh hujan yang juga membasahi pipiku.
Nyatanya semua hari berlalu membahagiakan sejak senyummu menjadi bayang bayang di jiwaku. Aku tak mengerti tangis lagi, yang ku tau, bersamamu apapun lukanya akan mengering tanpa meninggalkan bekas. Kau menciptakan banyak kenangan yang tak pernah ku sangka pada akhirnya hanya akan menjadi kenang.
Dunia kita kini memang terpisah tanpa arah yang jelas. Aku tak tau dimana jiwa dan tubuhmu saat ini bersandar. Namun yang ku yakini, kau mungkin telah berbahagia dengan jalan yang kau pilih tanpa aku.
Terimakasih untuk setiap kenangan yang telah kau berikan pada hari dan diriku. Sayang, kisah cinta yang aku fikir terindah ini, hanya berakhir sebatas sebuah kenang saja. Semoga, seberat apapun harimu berlalu. Hujan akan menjadi obat bahagiamu, seperti yang pernah kau ucapkan padaku dulu.
Pagi ini, aku hanya kembali mengenangmu. Aku pun tak tau, ntah sampai kapan aku akan menganggap hujan sebagai dirimu yang datang menyapaku. Semoga saja rinduku lekas sembuh, dari harapan ingin bertatap wajah denganmu.