💃Naura Sang Penakluk#CeritaDia
Author: Azura One
Kenapa kau heran jika orang terdekat menyakiti dirimu, justru kau harus tau yang memiliki peluang besar dan berpotensi menyakitimu adalah orang paling dekat dengan dirimu bahkan jika itu sedekat nadi dan darah
......
Teriakan penuh makian dan lemparan batu yang menggores tubuh Putri Naura tidak membuat gadis itu menunduk kepala. Ikatan ditangan, tubuh yang penuh luka dan rambut berantakan menghilangkan penampilan seorang putri kerajaan besar yang telah disandang Naura selama ini.
Naura terus berjalan bersama para algojo yang siap menghabisi dirinya. Sumpah serapah rakyat Kerajaan Amorelia menggema di telinga Naura, mata gadis itu mengkilat penuh amarah. Dia melihat langit yang gelap, kilatan petir sesekali terdengar tidak menyurut langkah para tetua kerajaan dan Masko sebagai Raja baru kerajaan Amorelia untuk melaksanakan eksekusi. Mereka tidak berniat menunda eksekusi Naura sebagai pewaris sah kerajaan Amorelia. Raja Masko, pria yang berkulit putih selaksa kapas itu adalah adik tiri mendiang Ayah Naura. Dia lah yang melakukan kudeta terhadap Raja Arsana, Ayah Naura.
Naura mulai mendekati tiang gantungan. Hukuman mati untuk keluarga Ayah Naura telah dijatuhkan. Raja Arsana telah meninggal terlebih dahulu ketika kudeta oleh Raja Masko dilakukan, dia terhunus pedang adiknya sendiri. Masko yang sekarang menjadi Raja baru kerajaan Amorelia. Ibunda Naura wafat dipenjara karena tekanan batin dan sakit akibat perlakuan Masko. Hanya Naura yang tersisa.
Hujan deras mengguyur lapangan eksekusi tetapi tidak ada yang enggan beranjak, algojo menyeret Naura ke tiang gantungan tepat ketika gadis itu sudah mendekati tali gantungan. kilatan petir besar menyambar lapangan membuat kumpulan rakyat menjadi kalang kabut. Mereka lari menyelamatkan diri.
Inilah kesempatan dengan tangan yang masih terikat. Naura berlari menembus kerumunan orang-orang yang berlari kalang kabut. Hujan deras mengaburkan pandangan Naura tetapi dia terus berlari. Naura adalah putri kerajaan Amorelia, dia terlahir di istana. Dia tahu di balik rerumputan di ujung lapangan ada terowongan kecil seukuran tubuh mungilnya yang akan membawa dia keluar dari lingkungan istana.
Hanya kesempatan ini yang bisa digunakan oleh Naura. Ketika menoleh dia melihat kelebatan berkilauan menembus rinai hujan, suara serupa siulan angin ini sejatinya adalah pedang yang siap menghunus Naura.
Gadis itu mundur cepat mengarahkan tali besi yang menyisakan sejengkal jarak antara tangan kanan dan kiri. Tepat perhitungan Naura justru pedang itu memutuskan ikatan besi yang menjerat tangannya. Dia bisa mendengar makian pengawal yang gagal.
Hujan semakin deras, kilatan petir dan gemuruh guntur seakan melindungi Naura, teriakan panik serta orang-orang yang berlari tak tentu arah telah membantu Gadis itu mencapai semak dan sekejap kemudian dia merayap keluar dari terowongan.
*************
"Jika kau selamat lari lah ke arah hutan pinus hijau, ikutin arah matahari tenggelam, lalu kau akan bertemu air terjun kecil yang memiliki dua batu bertumpuk. Pilihlah batu bertumpuk tiga, ikutin arah ke utara. Maju terus sampai mendekati gunung biru. Di gunung biru ada aliran sungai dan kau ikuti aliran sungai sampai bertemu sebuah pondok hijau. Sebutlah nama dia, Tuan Pedang Mata Hijau. Dia akan menolongmu".
Naura mengingat pesan Ibunya. Dia terus berlari, gadis yang tahun ini berusia 13 tahun ini dilatih dari kecil seni beladiri, seni tari, strategi pertahanan, sejarah dan banyak ilmu yang didapatnya. Sekarang dia beruntung tekun mengasah kemampuan bela dirinya. Fisiknya cukup kuat menembus hujan dan lebatnya hutan pinus.
Hutan pinus hijau banyak ditumbuhi pohon selain pinus, tumbuhan langka dan tua menghiasi hutan pinus hijau. Naura telah mempelajari dengan baik di kerajaan. Berapa kali dia mengikuti Ayahnya berburu di hutan pinus hijau. Hanya keluarga kerajaan inti yang bisa berburu di hutan pinus hijau.
Naura berhasil berapa kali mengelabui pengawal kerajaan yang memasuki hutan. Sepertinya kemampuan mereka menguasai area hutan ini masih dibawah Naura. Sampai lah dia di pondok hijau di aliran sungai gunung biru. Naura bertemu dengan seorang tua bertopi caping duduk di batang pohon hijau.
"Tuan pedang mata hijau". Naura menyapa dengan sebelah tangannya bersidekap di dada. Tubuhnya sedikit menunduk, ciri khas Ksatria tinggi kerajaan Amorelia.
"Apakah semua berakhir?". Ekspresi datar Tuan Mata hijau menyiratkan dia telah mengetahui kejadian terburuk untuk Raja Arsana, Ayah Naura.
"Hanya Aku yang tersisa tuan".
"Akhir ini hanya berlaku sepihak selagi ada yang tersisa maka ini belum berakhir. Masuklah Naura".
********
Tuan pedang mata hijau atau tuan Willo adalah teman satu perguruan Ayah Naura dan Masko di perguruan Ksatria kerajaan. Tuan mata hijau seorang ahli pedang yang piawai, dia telah mencium gelagat buruk Masko sejak dulu tetapi Ayah Naura tidak pernah memperdulikan kecurigaan tuan Willo.
Masko adalah putra selir kesayangan Kakek Naura. Sedangkan Ayah Naura putra seorang ratu yang menjadikan dirinya sebagai pewaris kerajaan Amorelia. Tuan Willo pernah bekerja sebagai Penasihat kerajaan Amorelia sampai usia Naura 3 tahun lalu dia mengundurkan diri, menyepi ke gunung biru. Hatinya geram mengetahui niat buruk Masko yang selalu dibela Raja Arsana.
Kecurigaan Tuan Willo atas sakit yang diderita Raja Arsana berapa tahun ini adalah ulah Masko karena sakit yang sering mendera menyebabkan Raja Arsana sering menempatkan Masko sebagai perwakilan dirinya untuk berunding dengan pejabat kerajaan.
Masko melakukan perebutan paksa kekuasaan kerajaan kecil yang semula bekerja sama dengan kerajaan Amorelia. Dia pun menentukan pajak besar kepada rakyat, bersama menteri keuangan mereka mengelabui lajak, membeli murah hasil pertanian para petani lalu menjual tinggi kepada Kerajaan lain.
Masko pun menyebarkan para pegosip yang mengatakan itu adalah titah Raja Arsana. Citra buruk Raja Arsana pun telah menjadi rahasia umum rakyat maka kudeta yang dilakukan Masko didukung oleh Rakyat.
Naura menggeram dengan penuh amarah. Tidak disangka dengan akal bulus Masko yang selalu membujuk dia dan Ibundanya untuk tetap di istana sebagai langkah menutup informasi terhadap dunia luar. ketika punggawa istana telah dipegang selanjutnya keluarga Raja Arsana ditahan untuk mendapat informasi sepak terjang Masko.
"Kau masih 13 tahun Naura. Berlatih bersama Ku, berapa tahun terakhir kita akan sering berpindah tempat karena mereka akan terus mencarimu. Aku memiliki kelompok setia yang siap membela mu tapi tidak cukup kuat saat ini".
"Jadi apa yang akan kita lakukan?".
"Berlatih bela diri lagi, sebarkan pegosip yang menyatakan melihat mu lari ke kerajaan lain, sekarang kita harus memikirkan cara lain untuk merebut kerajaan Amorelia kembali ke tanganmu".
"Bagaimana caranya?". Mata hitam gadis itu berkilatan cemerlang, tuan Willo tahu gadis dihadapannya tampak lebih cerdas dari usianya tapi masih terlalu dini untuk menyerang harimau besar seperti Masko.
"Gunakan tangan yang lain untuk menyelesaikan masalah. Dibalik gunung biru ada kerajaan Tasko, mereka lah yang selama ini membantu Masko melakukan kudeta terhadap Raja Arsana. Raja Tasko adalah sepupu jauh Masko. Jika mereka bersatu maka kita akan kalah tetapi jika mereka berperang maka kita akan menang ketika mereka telah lemah kita akan menyerang keduanya".
***********
Tahun demi tahun dilewati Naura dengan berlatih pedang bersama tuan Willo. Di lain waktu bersama tuan Willo dia menyamar sebagai lelaki putra petani tua Willo. Di daerah perdagangan, mereka menyebarkan gosip bahwa kerajaan Amorelia sering menjual hasil pertanian busuk pada kerajaan Tasko.
Gosip cepat beredar dari mulut ke mulut menciptakan kecurigaan yang mengakar saat itu diam-diam pasukan kecil Willo mencampur hasil pertanian busuk pada gerobak besar kerajaan Amorelia. Menciptakan kemarahan para pedagang kerajaan Tasko pada kerajaan Amorelia.
Di kerajaan Amorelia mereka pun bergerak. Keserakahan Raja Masko telah terasa bagi rakyat mereka baru menyadari kudeta Raja Arsana adalah taktik busuk Masko tapi terlambat.
Diam-diam Naura menyamar sebagai wanita penyanyi di perkumpulan seni terkenal kerajaan Amorelia. Menggunakan cadar tipis dengan suara indah dan tarian dia menghibur para tamu penting kerajaan Amorelia.
Polesan makeup tebal, cadar tipis, menutup raut Naura mengaburkan indentitas diri sebagai putri Naura yang terus dicari. Tentu saja tidak ada yang menyangka jika penyanyi itu adalah Naura karena siapa berpikir seorang buronan berani tampil dimuka umum.
Naura menyebarkan berita akan ada penyerangan Kerajaan Tasko. Pasukan tuan Willo dimalam gelap menyamar sebagai tentara pasukan kerajaan Tasko. Mereka menyerang pengawal kerajaan Amorelia lalu berlari ke arah kerajaan Tasko.
Penyerangan itu adalah penyerangan kecil hanya luka sedikit di alami pengawal Amorelia tapi kecurigaan serta harga diri membuat Raja Masko murka. Kebusukan hatinya dan prasangka buruk terhadap sepupunya sendiri telah membuatnya berang begitupula Raja Tasko.
Di usia Naura 17 tahun terjadi peperangan kerajaan Amorelia dan kerajaan Tasko. Peperangan yang berlangsung lambat laun melumpuhkan ekonomi, rakyat lah paling banyak terkena imbas. Saat itulah Naura masuk membuka identitas diri sebagai Naura pewaris sah kerajaan Amorelia, putri kerajaan yang tersingkirkan karena fitnah terhadap keluarganya.
Kemiskinan akibat perang,kebencian atas kepimpinan Raja Masko dan Raja Tasko membuat Naura dan Tuan Willo berhasil mengumpulkan rakyat yang siap memberontak. Naura sang putri kerajaan telah menjelma menjadi Ksatria wanita yang tangguh. Segala taktik untuk merebut kembali tahta telah dia siapkan bertahun sebelumnya.
Mereka menyelundupkan orang-orang yang menyamar sebagai prajurit. Kehilangan banyak prajurit ketika berperang membuat perekrutan prajurit tidak begitu ketat sehingga 'orang-orang' Naura dan tuan Willo berhasil masuk.
Mereka merebut gudang senjata Kerajaan Amorelia dan Kerajaan Tasko. Semakin hari jumlah para pemberontak yang ingin bergabung semakin banyak.
*******
Hari ini Naura berusia 19 tahun dengan pakaian zirah lengkap di tubuhnya dia siap memimpin para pemberontak merebut kembali tahta yang diambil oleh Raja Masko dari Ayahandanya.
Langit mendung gelap seperti enam tahun lalu memayungi rombongan berkuda milik Naura. Kuda hitam Naura berlari cepat seiring dengan tatapan dingin dan kemarahan yang mengendap lama penunggangnya. Naura mengendalikan amarah di hatinya dia telah memasuki mata-mata di banteng pertahanan kerajaan Amorelia.
Penyerangan Kerajaan Tasko dipimpin oleh tuan Willo. Mereka selama berapa tahun terakhir telah memasuki orang kepercayaan dalam kerajaan yang akan melemahkan kekuatan dari dalam istana.
Serangan panah dari pasukan Naura ke banteng kerajaan mengejutkan para prajurit di banteng. Mereka tidak menyangka akan ada serangan di sore mendung yang begitu gelap.
Tali-tali cakram telah 'menghiasi' tembok pertahanan Kerajaan Amorelia mengantarkan para pemberontak memanjat ke banteng. Dari dalam banteng mereka melumpukan prajurit tersisa membuka gerbang bagi pasukan pemberontak berkuda yang dipimpin Naura.
Jumlah prajurit dalam istana telah diprediksi oleh kekuatan pasukan Naura berkat informasi mata-mata Naura dalam istana. Mereka melindungi Naura sampai di aula kerajaan.
Naura berhadapan dengan Raja Masko. Pria putih selaksa kapas yang selalu bertutur kata lembut dan membantu Naura bolos saat mendapat pendidikan. Untung saja Ibunda Naura selalu mengingatkan Naura akan takdir yang mengiringi kehidupan Naura.
"Kau adalah seorang anak manusia yang diberkahi kemuliaan menjadi putri dengan tanggung jawab besar sebagai calon Ratu Negeri ini. Belajar lah dengan tekun, berlatih lah dengan giat karena jika kau bodoh maka dengan mudah tipu daya mempengaruhi mu". Suara Ibunda Naura kembali tergiang. Mata Naura menatap tajam dengan pandangan membunuh kearah pamannya.
"Gadis kecil yang sekarang beranjak dewasa kau pikir bisa mengalahkan Ku".
Saat ini Naura dan Masko berhadapan langsung. kedua pasukan pengawal mereka saling bertempur membela pimpinan masing-masing.
"Kau hanya berpikir tapi Aku lebih suka bertindak". Naura mengarahkan pedangnya kearah Masko. Naura bukan gadis kecil lagi, Tuan pedang mata hijau atau tuan Willo telah menurunkan ilmunya ke Naura. Bertahun-tahun lamanya gadis itu berlatih sehingga bisa menjadi ahli pedang.
Perkelahian sengit terjadi diantara mereka. Pedang Masko mengenai pipi Naura, gadis itu meliukkan tubuhnya menghindar serangan,hanya tercipta segaris luka. Naura menghunuskan pedang ke arah kanan Masko.
Masko mundur cepat tapi dia tidak melihat gerakan tangan kiri Naura melempar beberapa kelereng kearah dirinya. Fokus serangan di pedang Naura membuat Masko tidak memperhatikan kelereng yang menggelinding di kakinya. Dia pun terjatuh.
"Sama seperti yang kau lakukan pada Ayah Ku, Hari ini Ku berikan kau hadiah yang sama sekarang menyerah lah. Pengadilan akan menghukum mati kamu, Paman"
"Kau pengecut menyerang dengan membawa para pemberontak". Masko menghunus pedang ke arah dada Naura tetapi gadis itu menepisnya. Masko kembali menyerang, Naura membalas dan pedangnya menghunus tubuh Masko.
"Pengecut untuk orang yang tega menyerang orang yang telah baik dan menjaganya selama ini. Merebut apa yang bukan menjadi haknya. Kau bahkan tidak memberi Ku pilihan, paman". Pedang Naura mengakhiri kehidupan Raja Masko.
Naura berkata dingin dengan kekalahan Masko maka semua pendukungnya menyerah. Naura pun mendapat berita kemenangan Tuan Willo di kerajaan Tasko.
Gegap gempita kemenangan Naura membuat julukan Naura sang penakluk menggema di setiap sudut kerajaan.
Sekarang kerajaan Amorelia dan kerajaan Tasko dipimpin oleh Ratu Naura dan Raja Willo. Ketika Willo wafat dia menyerahkan kerajaan Tasko pada Ratu Naura sehingga kerajaan Amorelia bertambah besar.
Ratu Naura pun menikah dengan keponakan Raja Willo mereka memimpin kerajaan Amorelia dengan bijaksana. Memberikan kemakmuran dan hidup sejahtera kepada rakyatnya. Ratu Naura sang penakluk menjadi ratu yang paling dicintai dalam sejarah kerajaan Amorelia karena keberanian dan kecerdasan yang dimilikinya.
end _