Aku Anggara Pradipto, panggil saja Gara. Saat ini usiaku 15 tahun, sebentar lagi lulus sekolah SMP.
Aku memiliki adik perempuan berumur 5 tahun. Namanya Serly Moanaley.
Hari itu, ibu berpesan agar aku membeli beberapa buah-buahan kesukaan ku dan Sherly. Katanya akan dijadikan makanan dan minuman.
Dengan senang hati aku pun pergi ke pasar. Tak lupa juga mengajak Sherly, karena aku kan tidak tahu buah apa yang dia suka.
Setelah selesai membeli buah, aku dan Sherly ingin segera pulang. Namun, saat dijalan aku melihat ada penjual es lemon di pinggir jalan.
Ku pinggirkan motor ke tepi jalan dan mematikan mesinnya. Tanpa beranjak turun dari motor, aku berteriak pada penjual es lemon itu, Mang Sueb.
"Es lemon nya 1, ya, Mang! Sama lemon nya aja 10 biji, ya," pintaku.
Mang Sueb mengangguk dan segera membuatkan 1 es lemon.
Setelah selesai, Mang Sueb mengantarkan 1 es dan 10 buah lemon kepadaku.
"Terimakasih, Mang," jawabku sambil memberikan 1 lembar uang 20 ribuan.
Ditengah teriknya matahari yang sudah berada di atas kepala, aku langsung saja menyeruput es lemon itu.
"Aahhh, segarnyaa!"
"Es lemon nya enak, ya, Kak?"
Saat pendapat pertanyaan seperti itu, terlintas lah ide jail dipikirannya.
"Enak kok, Ser! Kamu mau?"
"Mau dong, Kak!" ucapnya dengan berbinar.
Es yang tinggal setengah itu kuberikan kepada Serly. Setahuku dia tidak suka dengan rasa asam.
Setelah Serly menyeruput es nya sedikit, raut wajahnya mulai berubah.
"Ihh! Kok asam sih, Kak?!"
"Iya, memang asam."
"Kenapa tidak bilang??"
"Kamu kan tidak bertanya, Ser."
"Huhh!"
Serly mendengus kesal lalu mengembalikan es lemon ditangannya kepadaku.
Setelah itu, ku lajukan motorku dengan sedikit cepat. Takut dimarahi ibu karena kelamaan.
Sampai di rumah aku langsung saja disambut oleh ibu. Dengan mengucapkan salam dan mencium tangannya, ku berikan plastik berisi buah kesukaan ku dan Sherly.
"Bu, tadi Gara juga beli lemon. Nanti bikin jus lemon sama kue, ya," pintuku memohon.
"Iya, Gara. Sana masuk. Ajak adikmu itu."
Aku masuk ke dalam bersama Serly.
"Serly main boneka aja ya di ruang keluarga," titah ku.
"Gak mau! Serly mau main di kamar Kakak, sambil liat kakak-kakak cantik joget!" ucapnya dengan antusias.
Terpaksa lah aku menurutinya. 1 jam handphone ku dikuasainya tanpa memberi kesempatan untukku membalas pesan teman.
5 menit kemudian...
Ide jahil muncul lagi dalam pikiran ku. Gegas aku menuju dapur untuk mengambil buah lemon yang masih utuh.
Setelah itu, aku menuju kamar lagi dengan membawa sebuah lemon.
"Ser. Ini jeruk buat kamu," ucapku seraya memberinya lemon.
"Kok kuning, Kak? Manis ga nih? Atau masam lagi kaya tadi??" tanyanya penuh selidik.
"Ma-manis kok!"
Setelah mendengar ucapan ku, dia langsung membuka kulit lemon. Di tatapnya warna kuning itu, terlihat masam. Tapi dia percaya dengan ucapan ku, jadi dia memakannya.
Dia diam. Tidak seperti tadi saat meminum es lemon.
Detik kemudian dia menatap ku tajam. Dan tanpa bisa dicegah, air matanya luruh.
Dia menangis. Sepertinya dia kecewa padaku?
"Ser? Kamu gapapa kan?"
Tak ada sahutan. Dia terus saja menangis. Semakin kencang, sampai-sampai ibu datang dengan tergopoh-gopoh.
"Kenapa Serly, Gar?"
"Dia makan lemon, Bu," ucap ku takut.
Ibuku menggeleng saja dan mulai menenangkan Serly. Dia membisikkan sesuatu kepada Serly. Aku hanya menatap mereka heran.
Keesokan harinya, Serly hanya diam saat ku tanya. Sebenarnya sejak kemarin sih. Namun sekarang lebih parah lagi.
Saat aku pulang sekolah, terlihat dia sedang mesem-mesem sendiri di teras rumah.
"Aku menyiapkan kejutan buat Kakak di kamar," ucapnya dengan senyuman lebar.
Tanpa menaruh curiga sedikitpun, aku memasuki kamar dengan seulas senyum.
Saat membuka pintu, ku lihat kamarku berantakan dengan banyak kulit jeruk di atas ranjangku.