ALIEN XX FILE
“Eh Cahyono,” ujar si Gembrot tahu-tahu sudah ada di depan muka saja. Entah ada kepentingan apa dia tiba-tiba mak bedunduk ada di situ.
”Lo Gembrot ada apa?” tanyaku.
”Katanya si Alin menyembunyikan Alien,” ujarnya setengah berbisik, takut kalau suket godong pada tahu.
”Ah masa ?” tanyaku antara tak percaya dan tak percaya banget.
”Hooh.”
”Terus?”
”Bagaimana kalau kita menyelidiki,” ujarnya usul.
”Ih nanti otak kita yang bakal dimakan,” kataku masih merasa ngeri. Jika, ini jika lo ya, mahluk itu demikian mengerikan, sehingga bakalan masuk ke tubuh manusia bumi, lalu menggerogoti otaknya menjadikan zombie serta menjadi zimbiote yang emudian mengamuk di jalan atau di took-toko guna meminta coklat dan es krim rasa coklat, kan payah nanti. Sehingga nanti kalau kita betulan yang dating mau mengutang coklat tak akan di percaya sama si pemilik nanti.
”Kagak suka! Alien tak suka sama otak kita.”
”Ah masa?”
”Masa terus! Ini nantinya kalau kita ketemu kamu bisa minta jadi pintar kalau menemui kasus. Dan aku ingin langsing.”
”Ya ayo, kita ke sana,” ujarku menyetujui apa yang diinginkannya.
”Nah gitu donk.”
Segera kita pergi dengan mengendarai piring terbang dan membawa piring buat meminta makanan nanti.
#
”Nah kan betul.”
”Iya betul, itu Alin.”
Knok knok!
”Buka pintu ini!” ujar kami dengan suara keras. Dan ketukan yang lumayan juga agar si empunya rumah segera membuka kan pintu dan membiarkan kami menggeledah apa-apa yang ada dalam rumah misterius itu.
”Ada apa sih ramai amat?”
”Katanya kau menyembunyikan Alien ya?” tanya kami setelah melihat si Alin yang cantik dengan gemulainya membukakan pintu rumahnya yang juga antik.
”Ah siapa bilang?” ujarnya.
”Yah masih ngeles aja lu!”
”Ayo langsung saja kita periksa keburu kabur dia nanti,” ujar Gembrot, sudah tak tahan ingin bertemu dengan yang namanya Alien jahat itu.
Kami berdua menerobos masuk. Apalagi si gembrot yang ukuran badannya lumayan itu, tentu saja tak mudah menerobos masuk rumah si Alin yang biasa untuk keluar masuk cewek cantik saja.
”Eh… eh.” ALin hanya diam dengan keheranan. Mau berusaha menjaga pintu, sudah keburu kita dobrak. Makanya dia hanya bisa tercengang sahaja.
Di kamar kosong. Kami langsung membuka pintu kamarnya yang bersih dan langsung melongok ke dalam. Tak ada apapun, selain kamar bersih dengan diselingi boneka-boneka cantik gurita yang aneh namun indah sekali. Kami segera beralih ke ruang lain.
Mungkin di dapur. Juga kosong. Sama sekali tak ada apa-apa. Bahkan sisa daging gurita panggang yang tengah di masak juga tidak ada. Makanya kami bertambah tercengang.
Seluruh rumah tak ada.
”Kali di dalam botol dia.”
”Sembarangan!” ujar Alin.
”Atau di ladang belakang. Disana biasanya dia menyembunyikan piring terbang. ”
”Lo?”
Kami segera menuju ke ladang kosong namun luas sekali. Hanya ditanami tanaman kebun biasa, yang cukup untuk mendarat pesawat andai terbang vertical.
#
”Ah ternyata kau si Alien itu ya?”
”Lo….”
”Apa-apa tidak tahu. Berarti dia bukan Alin kan?” ujar ku curiga kalau wanita cantik di depan kami ini ternyata tidak cantik.
”Hayo kau sembunyikan dimana si Alin. Jangan - jangan sudah kau bunuh, terus mayatnya kau masukkan ke spiteng ya?”
”Sembarangan. Dia lagi di kamar om nya sedang main game dengan HP,” jawabnya marah kala kami menuduh kalau dia yang telah membuat onar dan berlaku kejahatan terencana dengan melenyapkan wanita paling cantik si kawan kami itu.
”Huh. Ya sudah kita pamit. ”
Tapi sebelum pamit kami makan-makan dulu segala apa yang ada di rumah Alin. Biar tidak letih, lesu saat perjalanan pulang.
#