"Shiro apa kamu sudah bangun? Kemarilah dan sarapan bersama sayang"
"Aku sudah bangun, segera kesana"
Aku berumur 17 tahun kelas 2 SMA walaupun begitu ibuku tetap saja memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tau ibu sayang padaku tetapi ini cukup memalukan jika teman sekolah mendapati ibuku memanggilku seperti itu soalnya sudah sedari lahir ibu seperti itu dan bertingkah aneh.
Aku pun segera pergi menghampiri dan makan bersama dengannya. Memakan sebuah daging panggang yang cukup menggoda selera.
"Bu, bisakah hentikan itu aku sudah dewasa rasanya cukup memalukan" Ucap Shiro yang sedang memotong daging panggang buatan ibunya.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu wajar seorang ibu memanggil sayang pada anaknya? He. He. He" Ibu Shiro tersenyum sambil menutupi mulutnya dengan jari.
Aku tidak menyalahkannya, karena aku juga cukup menyayangi ibuku dia baik dalam mengurus rumah tangga apalagi soal memasak emang jagonya dia di dapur. Namun sebuah kejadian yang tidak disangka-sangka terjadi ketika aku bermain dengan temanku di kamar hanya insiden kecil padahal.
Aku sedang bermain game bersama teman lamaku sangat antusias dan senang sekali. Tetapi sesuatu terjadi temanku tidak sengaja menyenggol lemari TV yang membuatnya jatuh menimpaku. Ibuku tiba-tiba datang dan membantu mengangkat.
"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" Dia bergegas naik padahal kamarku ada di lantai dua.
"Ha. Ha. Ha. Apa kau anak kecil Shiro? Tak kusangka kau sangat manja"
Itu cukup memalukan bagiku teman-temanku berpikir bahwa aku anak mamih.
Untuk membuktikan bahwa aku tidak perlu di kasihani, aku membawa seorang gadis yang kusukai dengan penuh keberanian dan keringat dingin mencoba untuk membawa masuk ke rumah. Namun respon tidak terduga kembali di lancarkan ibuku.
"Shiro siapa gadis itu?" Tatapan wajah ibu sangat kejam dan mendalam seolah siap akan melakukan apapun.
"A-anu dia teman sekelasku, ki-kita akan melaksakan kerja kelompok" Aku pun terbata-bata menjawab dan tak sanggup melihat matanya.
Ibuku menyuruhku untuk masuk kedalam lebih cepat dan menyiapkan segera makanan dan camilan ke atas kamarku. Setelah aku lakukan lalu aku mendengar pembicaraan ibuku dengan gadis yang kusuka.
"Aku harap jangan dekat-dekat dengan Shiro paham, dia orang yang sangat rapuh sedikit saja hatinya kamu lukai aku tidak akan memaafkanmu"
"Ya bu" Gadis itu tampak menjawab dengan sangat putus asa.
Setelah masuk gadis itu kedalam kamar dan kita memang melaksanakan kerja kelompok tugas sekolah ibuku mengintip di sela-sela pintu yang terbuka menatap tajam yang sangat menakutkan sekali dan yang membuat suasana mencekam kenapa ibuku membawa sebuah palu?
***