9 Desember [DAY 17]
PERJALANAN LUAR ANGKASA
Ini satu perjalanan luar angkasa yang sangat mengagumkan. Dimana sebelumnya kita main-main dulu pasir di pantai yang jumlahnya kurang lebih sama dengan bintang-bintang di angkasa.
“Ayo cepat!“
“Sebentar lagi asik ini.“ Dibuatnya pasir-pasir itu membentuk gundukan bukit. Lalu dibiarkan saat ada gelombang pasang menghantamnya. Lalu membuat agi. Dengan berbagai bentuk. Ada rumah, istana, kastil, hingga sungai.
“Pasir begitu asik.“
“Kan banyak seperti bintang.“
“Makanya cepat, kita mau melihat bintang.“
“Seperti itu?“
“Iya.“
Keduanya lalu berlari-lari. Menuju ke pesawat yang akan terbang. Isinya hanya lima orang. Bisa sampai dua belas sih, tapi terlampau boros udara nanti. Makanya lima saja cukup.
“Nah duduk dulu ya kan.“
“Lalu pakai sabuk pengamannya. “
“Dan usahakan tidur.“
“Tidak masuk kapsul saja ini?“
“Tak. Nanti boros udara.“
“Kan tidur.“
Barulah naik ke pesawat ulang-alik. Yang di dorong dengan roket. Benda ini sangat besar. Kekuatannya juga gede. Diharapkan sampai lapian luar atmosfer bumi, masih tahan.
Begitulah. Mesin roket segera dinyalakan. Seperti menyalakan kompor. Keluar asap tebal, bagaikan letusan gunung kelihatannya. Yang menggumpal di bawah roket pendorong. Dengan kuat dan cepat, roket itu meluncur secara vertikal. Inilah bahayanya. Jika dilakukan dikeramaian, semisal tanah abang, maka orrang-orang bakalan batuk-batuk kena kepulan asapnya. Makanya dicari daerah yang luas dengan pemukiman sedikit. Supaya tak mengganggu dan diganggu.
Melewati lapisan Eksosver. Terus ke termosfer masih dengan roket pendorong dimana pesawat ulang alik yyang di duduki kami, terus menempel. Jadi astronot nih orang sudah 80 km.
“Benarkah?“
“Ini, tinggi ini.“
“Kalau iya....“
“Nanti kita bisa cerita sama rumput yang bergoyang. “
“Hus. “
Barulah tabung bahan bakar di buang agar tabung itu menjadi sampah luar angkasa yang awet serta dengan satelit-satelit rongsok menjadi sampah yang mengotori seputar bumi.
“Yuk kita jadi pemulung.“
“Kan apa gua bilang.“
“Bisa kaya ini. Banyak sekali rongsokannya.“
“Kan sudah banyak yang jadi debu.“
“Dikumpulkan kan bisa. “
Kami lalu menyalakan mesin pendorong pesawat itu. Sekarang pesawat meluncur menggunakan mesin sendiri.
“Wih gelap.“
“Ya gelap namanya angkasa.“
“Kan di langit yang biru.“
“Itu karena atmosfer kita.“
“Gelap gini.“
“Banyak bintang kan. Kelap-kelip juga awan nebula yang warna-warni.“
Barulah sampai di Bulan yang datang tiap bulan.
“Itu bulan?“
“Iya. “
“Kok nggak bersinar.“
“Namanya juga bulan, ya cuma memantulkan sinar matahari.“
“Nggak seperti cermin juga.“
“Kalau dibakar, terus batunya dibentuk, ya bisa jadi cermin. “
Terus perjalanan kita berlanjut hingga ke Mars. Sebuah planet yang mirip bumi. Berwarna merah. Lebih kecil tapi gunungnya gede.
“Awas hati-hati. Nyetirnya jangan meleng. “
“Banyak debu asteroid ini. “
“Maka itu. “
Lalu ke asteroid dan Jupiter. Dimana banyak debu-debu dan batu angkasa yang mengelilingi matahari. Dimana mesti hati-hati, sebab kalau sampai tertabrak maka batu itu akan hancur menjadi debu yang mengelilipi mata.
“Kita mampir dulu napa. Di Jupiter. “
“Buat apa. “
“Mau singgah ke Bintik Merah itu.“
“Biar muter lu di badai. “
“Memang nggak bisa?“
“Tak lah. “
“Paling kalau mau di planetnya itu, biar kamu bisa salaman sama cumi-cumi. “
Saturnus dengan puluhan satelit nya yang memiliki kandungan air di bawah lapisan permukaan dingin yang membeku. Sampai Uranus.
Baru Neptunus sebagai planet terakhir yang menggelinding seperti telur asin.
“Bagus ya telur asin nya menggelinding. “
“Iya uma nggak ada rel nya. “
Serta Pluto, Makemake dan kawan-kawan sebagai planet katai di sabuk Kuiper sebagai asalnya komet.
“Wah banyak batu lagi ini.“
“Iya kayak di asteroid. “
“Gawat, mesti hati-hati.“
Disini juga kita say hello dengan voyager yang terus menjauhi mentari untuk mengembara.
“Hai, helo...“
“Bisa nggak pinjam piringan hitam dan mendengarkan musiknya.“
Hingga lubang hitam Bimasakti. Tapi jangan dekat-dekat, nanti bisa di sedot hingga masuk dan tak bisa keluar lagi. Karena lubang hitam ini sangat besar sebagai pusat dari galaksi spiral Bimasakti yang mempunyai 400 milyar bintang kecil di langit yang biru. Dengan diameter 100000 tahun cahaya. Sebuah lubang hitam dengan gravitasi yang sangat besar. Sehingga cahaya juga tak bisa keluar dari tarikannya. Ini membuktikan kalau lubang ini suka menarik.
“Nah ini nih yang bakalan menabrak galaksi kita.“
“Iya sebentar lagi. “
“Jadi gede ya nanti galaksi kita. “
“Namun masih kalah sama yang raksasa di jauh sana. “
Barulah sampai Andromeda yang nantinya bakalan bertabrakan serta menggabung dengan Bimasakti.
“Sudah, kita balik dulu. “
“Iya persediaan semakin menipis. Takut tak sampai rumah nanti. “
“Nanti kita matikan mesin pesawat jika sudah masuk atmosfer bumi. Lalu melayang.“
“Tidak dari sini saja?“
“Hilang nanti kita. “
Dari situ mesti kembali. Sudah cengep - cengep ini nafas. Tak bisa melanjut hingga ujung gelembung semesta. Serta melihat galaksi-galaksi raksasa lain.