Malam ini. Tidak seperti biasanya, taman yang biasanya kosong dan sangat sepi di malam hari, malam ini kedatangan seorang pengunjung.
Dia seorang wanita yang masih muda dan terlihat cantik. Tapi apa yang terjadi? Wajah cantiknya terlihat sendu dan muram. Aku mengawasinya dari kejauhan.
Wanita itu berjalan di area taman dan berhenti di suatu tempat di sana. Dia kemudian duduk bersimpuh dan mencurahkan seluruh isi hatinya dalam kata-kata.
Jujur saja, sudah sangat lama sejak terakhir kali aku merasa prihatin terhadap sesuatu. Tapi cara bicara wanita ini sangat menyedihkan, suaranya terdengar gemetar, seolah-olah dia sangat menyesal akan sesuatu.
Ingin rasanya ku rengkuh dia dan mengatakan padanya kalau semua akan baik-baik saja, taoi ku urungkan niatku untuk saat ini.
Setelah beberapa saat, dia berlalu pergi dari taman, mendung di wajahnya sudah sedikit berkurang. Tapi aku melihat sorot mata yang sangat lemah darinya, seolah dia sudah sangat lelah dengan hidupnya.
Keesokan malamnya, dia kembali ke taman ini. Kali ini kondisinya sangat memprihatinkan. Dia menangis sejadi-jadinya setelah berlari ke tempat yang sama seperti kemarin.
Kali ini aku benar-benar ingin mendekatinya dan menghiburnya walaupun hanya dengan kata-kata.
Dia mengeluh, mengeluh atas takdir yang menimpa dirinya, takdir kejam yang diberikan Tuhan kepadanya. Air matanya mengalir deras seiring dengan raungan parau dari tenggorokannya.
Malam ini dia menetap lebih lama di tempat itu.
Keesokan harinya, dia datang lagi ke taman ini. Tapi dia tidak datang di malam hari seperti sebelum-sebelumnya, kali ini dia justru datang di siang hari yang sedikit gerimis.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kali ini dia tidak menangis meraung seperti saat kunjungan terakhirnya. Tapi sorot mata yang tadinya terasa lemah, saat ini benar-benar terlihat mati.
Kali ini aku memberanikan diri untuk lebih mendekat ke arahnya, dia lagi-lagi menuju ke tempat yang sama. Namun kali ini, dia hanya duduk diam dengan tatapan kosong dan ekspresi yang terlihat datar, namun aku bisa merasakan kepedihan yang sangat mendalam di balik wajah cantik itu.
Dia hanya duduk terdiam di tempat itu hingga langit mulai diselimuti malam. Saat itu, dia mulai mencurahkan isi hatinya, tidak dengan emosi sedih ataupun kesal seperti malam-malam sebelumnya. Dia hanya berbicara datar seolah tanpa emosi.
Saat itulah aku baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa sadar, gejolak amarah, kesedihan dan keputusasaan yang telah lama tak kurasakan kini menyelimuti perasaanku.
Aku menangis tanpa air mata, sungguh malang nasib wanita cantik ini.
Wanita itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, itu adalah botol air minum kemasan dan ... Serbuk putih apa itu? Dia menuangkan serbuk putih itu kedalam botol berisi air kemudian meminum isinya sekaligus.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya tiba-tiba mengejang, matanya membelalak, busa putih keluar dari mulutnya. Aku berteriak menyeru dirinya, tapi terlambat. Wanita itu sepenuhnya berhenti bergerak, air mata mengalir dari sudut matanya bercampur tetesan gerimis.
Akhirnya aku memberanikan diri merengkuh jasad yang membiru itu. Setidaknya untuk malam ini, agar dia tidak merasa kedinginan.
°°°°°°°°
Pagi ini aku sarapan bersama dengan orang tuaku, ibu yang sedang membaca berita tiba-tiba berseru.
"Dasar! laki-laki jaman sekarang memang tidak bertanggung jawab semua!"
"Ada apa sih bun?" Ayah terkejut karena ibu tiba-tiba berseru saat dia sedang menyeruput kopi.
"Ini loh yah, masa ada laki-laki yang bikin anak orang hamil tapi gak mau tanggung jawab? Akhirnya ceweknya bunuh diri! Duuh ... mana cantik banget lagi."
Aku mengintip smartphone ibu dan membaca headline berita yang di bagikan di grup whutssup.
"Diduga depresi karena dihamili dan dicampakkan. Seorang wanita bunuh diri di Taman Makam Pahlawan tempat sang ayah dikebumikan ... Wah, parah sih."
Sebenarnya banyak sekali kasus serupa, tapi kasus kali ini menarik perhatian publik karena pelaku adalah seseorang dengan status yang seharusnya tidak boleh melakukan hal seperti itu.
Yah, sebaiknya aku berhati-hati kalau berurusan dengan laki-laki, mungkin aku sebaiknya menjomblo saja. Apa sebaiknya aku cari pacar cewek saja?