Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT, sang pencipta alam semesta ini beserta isinya. Aku rasa kata sempurna itu untuk manusia hanyalah sebatas pandangan pribadi kita sendiri terhadap makhluk Allah yang satu ini.
Namanya Johan. Kakak kelasku. Wajahnya biasa saja, banyak yang lebih tampan. Tapi entah mengapa ada sesuatu di dirinya yang membuatku tertarik.
Banyak diam dan lebih senang menatap ke satu arah. Tak ada yang memperhatikannya. Bahkan teman-temanku menganggapnya membosankan.
Sampai pada suatu hari, aku menerima sebuah surat, lebih tepatnya surat cinta. Kalau dipikir-pikir di zaman seperti ini apakah tidak terlalu kuno memberikan surat untuk mengungkapkan sebuah perasaan cinta.
Aku membacanya, ternyata yang menyatakan cinta kepadaku adalah Kak Johan. Ada rasa bahagia dalam hatiku, sudah lama aku memperhatikannya, dan sekarang dia mengatakan bahwa dia menyukaiku.
Teman-temanku menentang ku, mereka bilang apa sih bagusnya cowok itu, ganteng nggak, populer juga nggak , tidak berprestasi pula. Aku hanya tersenyum.
Mereka tidak tahu, aku pernah melihat Kak Johan menyelamatkan seekor kucing yang sekarat dipinggir jalan, kucing itu terluka sepertinya habis kena tabrak.
Ia perlahan-lahan membawa kucing itu pulang.
Aku kalau pulang sekolah selalu melewati depan rumahnya. Kami memang sesekali berpapasan, tapi seperti yang kukatakan dia hanya menatap satu arah. Tidak pernah sekalipun ia melihatku. Oh ya, rumahku dan rumah Kak Johan hanya berjarak 500 M dari sekolah.
Sewaktu ia mengambil kucing itu, kupikir ia hanya ingin mencari simpati orang lain. Beberapa Minggu kemudian ketika aku lewat depan rumahnya, kucing itu sedang duduk didepan rumah, terlihat baik-baik saja.
Aku tersenyum. Satu nilai plus untuknya. Singkat kata, akhirnya aku menerima Kak Johan menjadi pacarku. Teman-temanku geger, mereka tidak percaya kalau pada akhirnya aku memilih Kak Johan menjadi pacarku.
Hari-hari ku lalui dengan bahagia, setiap pulang sekolah ia selalu menungguku untuk pulang bersama, seperti biasa, ia tidak banyak bicara, tapi ia suka sekali memberikan ku kejutan, seperti halnya membelikan ku jajanan kesukaanku walaupun aku tidak memintanya.
Pernah suatu hari udara sangat panas, Kak Johan menutupi atas kepalaku dengan bukunya, ketika kukatakan tidak usah, karena aku kasihan pasti pegal sekali sepanjang jalan memegang buku hanya untuk melindungi wajahku dari sengatan matahari. Ia hanya tersenyum dan menjawab bahwa ia ikhlas melakukannya.
Ia tidak pernah sekalipun berkata kasar, melirik cewek lain apalagi. Hubungan kami terus berlanjut, sampai akhirnya ia masuk kuliah sementara aku naik kelas XI. Dia tetap menemui ku.
Satu ketika aku sakit dan harus masuk ruang rawat inap. Kak Johan selalu menemaniku di sela-sela kuliahnya. Keluargaku menyukainya. Ya, mereka sangat menyukainya.
Keluarga Kak Johan juga sangat menyukaiku, mereka tidak menyangka bahwa Kak Johan bisa mendapatkan pacar seperti aku. Kak Johan sangat sabar mendengarkan celotehan ku dan juga curhat ku.
Aku mencintainya, di mataku kak Johan adalah kekasih sempurnaku, hatinya, kebaikannya, matanya yang hanya tertuju padaku, dan telinganya yang tak pernah bosan mendengar ceritaku. Bagiku dia yang terbaik untukku. Oh ya namaku Kanaya.
Tamat
Hmm, penulis juga ingin pacar seperti itu, tapi ada dimana ya dia sekarang? di Mars kah, di Saturnus kah, atau di belahan bumi lainnya? Kalau ada tolong hadapkan ia padaku. hehehe.