"Itu tandanya, elo pengen punya pacar." Ucap Desti, sahabatku yang super bawel.
"Heh, sembarangan." Wajahku memanas mendengar perkataannya. "Cowok yang sesuai kriteriaku nggak ada di dunia ini."
Yah, perkataan Desti tadi membuat perasaanku terasa aneh. Aku rasa, wajahku merona. Aku memang berhasil mendapatkan gelar sebagai satu-satunya cewek single sejak lahir di sekolah ini.
"Kalo enggak gitu, terus apa arti mimpi anehmu itu? Bilang aja pengen ngelepasin gelar." Kata Desti, kemudian dia menyuapkan bakso ke mulutnya.
"Lagian kalo bukan pengen pacar, buat apa kamu ngoleksi banyak cogan? Yang Oppa Korea lah, Ikemen Jepang lah, husbu anime lah," Desti kembali berucap setelah menelan bakso yang dia makan.
"Ehehehe ...." Aku hanya terkekeh pelan. Memang benar yang dia bilang. Aku gemar mengoleksi cogan. Setelah dapat gambar dan tahu namanya, langsung aku masukin ke sorotan di akun Instagram-ku.
Mimpiku semalam benar-benar aneh. Bisa-bisa aku mimpi dicium oleh seseorang secara terang-terangan di sekolah. Tapi, di dalam mimpi itu, aku menutup mataku. Aku pun jadi tidak bisa mengetahui siapa dia. Dan juga, begitu aku bangun, bibirku sariawan. Ini hanya dalam mimpi kan?
Kriteria kekasih yang aku cari memang sulit didapat. Pertama, aku ingin dia menjadikan aku sebagai pacar pertama. Dia tidak boleh sampai punya mantan.
Kedua, dia selalu ranking di kelas. Untuk mengimbangi diriku tentunya. Kalau bisa, dia harus lebih pintar lagi.
Ketiga, dia harus punya bakat. Keempat, dia tidak boleh merokok maupun main malam-malam. Kelima, dia good looking. Keenam, dia good rekening. Ketujuh, dia good attitude. Apakah ada? Mungkin sangat sulit mencari orang yang seperti itu di zaman yang seperti sekarang.
"Woy, ngapain ngelamun?" Tanya Desti yang membuatku sedikit tersentak. Aku menggeleng pelan, kemudian menyeruput air putih yang diberi es batu supaya dingin.
Sepulangnya dari sekolah, aku merasa tubuhku lelah sekali. Entah mengapa, perkataan Desti tadi selalu terngiang-ngiang di kepalaku.
Setelah mandi sore, aku duduk di atas ranjangku sambil mengetik naskah novel dengan ponselku. Saking asyiknya, aku sampai lupa kalau sekarang sudah jam enam.
Klek!
"Eh?" Aku terkejut. Baru saja jam menunjukkan pukul enam sore, aku sudah berada di tempat lain dalam satu kedipan mata.
Aku berada di sebuah ruangan, dan di depanku, ada seorang laki-laki good looking yang tersenyum memandangku. Siapa dia? Apa yang dia lakukan padaku?
"Ayang, makan dong. Jangan dilihatin terus makanannya." Tanpa mengalihkan pandangannya dariku, dia berucap sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.
Tunggu, apa dia bilang? Ayang?
"I-iya ...." Jawabku agak terbata. Kuakui dia memang sangat good looking. Bagaimana bisa dia memanggilku seperti itu?
Aku cepat-cepat menyelesaikan makan malamku. Tak peduli apakah laki-laki itu berkali-kali bilang supaya aku makan dengan perlahan. Selesai makan, aku pergi ke kamar mandi dengan alasan aku sakit perut.
Aku langsung mengunci pintu kamar mandi itu, kemudian menatap pantulan wajahku di depan cermin.
"Ini ... Ini muka siapa? Ini badan siapa?" Gumamku setelah menyadari kalau ini bukan tubuhku. Wajah ini tirus, tidak seperti wajahku yang ada pipi chubby. Dan tubuh ini, 'itu'-nya sudah tidak rata lagi.
Lamunanku buyar setelah aku mendengar laki-laki itu mengetuk pintu.
"Yank, kamu kenapa? Diare kah?" Tanyanya setelah aku membukakan pintu. Aku menggeleng pelan.
"Hah syukurlah kalo kamu nggak apa-apa. Aku khawatir gara-gara kamu tiba-tiba ke kamar mandi habis makan." Sambil memegang kedua bahuku, dia berucap disertai helaan napas lega.
"Eh?" Lagi-lagi aku dibuat terkejut. Tubuh ini tiba-tiba terangkat. Laki-laki itu menggendongku dan mengajakku ke suatu ruangan.
"K-kita ... Kita mau ke mana?" Tanyaku dengan ragu tanpa mencoba untuk turun.
"Yuk, aku temani kamu ngerjain tugas." Ucapnya sambil membuka pintu sebuah ruangan. Kami berdua pun masuk ke ruangan itu. Luasnya sekitar 4×4 meter, dengan terdapat meja kerja, rak buku, dan sofa di ruangan itu.
"Aku nggak tahu apa yang harus aku kerjain. Yaudah lah, pura-pura aja." Ucapku dalam hati setelah dia mendudukkan tubuh ini di kursi yang berada tepat di depan meja kerja.
Aku melihat-lihat isi meja. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah foto. Dalam foto itu, ada dua orang, laki-laki dan perempuan. Di bawahnya, ada tulisan 'Seoul, 16 Maret 2021'. Sepertinya itu tanggal jadian dari laki-laki itu dengan pemilik tubuh ini, sudah setahun yang lalu.
"Ehm, andaikan waktu bisa terulang lagi ya? Aku pengen ngerasain gimana rasanya ditembak sama kamu." Ucapku dengan hati-hati. Dan aku baru menyadari kalau laki-laki itu bernama Park Jeong Hee dan nama pemilik tubuh ini adalah Anara.
"Siapa yang nembak kamu? Aku langsung lamar kamu kok. Kamu lupa?" Dia balik bertanya setelah beberapa saat yang lalu dia mendudukkan dirinya di atas kursi sofa.
"O-oh ...." Aku mengangguk pelan sambil tersenyum kikuk. Ternyata dia dan pemilik tubuh ini sudah menikah. Dan aku? Bagaimana bisa aku berada satu rumah dengan suami orang? Aku tidak ingin dibilang pelakor.
Setelah itu, aku pura-pura menulis di buku saat dia membaca berita di ponselnya. Setelah kurasa aku cukup lama berakting, aku pura-pura tertidur dengan menundukkan kepalaku di atas meja.
Jantungku berdebar saat Jeong Hee membopongku ke kamar.
"Bagaimana ini? Aku akan tidur dengan laki-laki ...." Ucapku dalam hati sesaat setelah dia membaringkan tubuh ini di atas ranjang di kamar. Hah. Aku harus menenangkan diriku. Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan.
Keesokan harinya, pagi yang dingin menyambut hari. Aku benar-benar tidak bisa tenang semalam. Aku selalu waspada kalau-kalau dia sampai melakukan apapun pada tubuh ini yang jiwanya adalah aku, bukan Anara.
Tepat jam enam pagi, jiwaku kembali ke ragaku seperti semula. Di sini masih jam empat pagi. Dengan segera, aku mengecek tugas sekolah yang belum aku kerjakan.
Namun, semuanya sudah beres. Aku juga menemukan secarik surat di atas meja belajarku.
"Hai, aku Anara. Maaf ya, aku melibatkan kamu tanpa minta persetujuan. Aku melakukan ini untuk penelitianku. Aku benar-benar minta maaf, aku tahu kamu terkejut karena tiba-tiba di rumah sama suamiku.
Aku jelaskan sedikit tentangnya. Tapi kalau kamu nggak mau, skip aja nggak apa-apa. Dia itu namanya Park Jeong Hee. Seperti yang kamu tahu, dia orang Korea. Sekarang, dia pekerjaannya jadi pilot, kebetulan dia lagi cuti.
Dia tidak akan apa-apakan kamu kok, aku tahu itu. Aku memang tidak mau dia melakukan itu pada aku maupun kamu, aku masih melarangnya sampai aku lulus. Dan sekarang eksperimen-ku berhasil. Aku membuat alat pemindah jiwa. Tapi sekarang, aku sudah berada di tubuhku semula.
Sekali lagi, aku minta maaf. Aku juga berterima kasih padamu. Atas bantuanmu, percobaanku berhasil. Terima kasih banyak."
~ Anara
"Ternyata.. Kukira aku beneran bakalan tinggal sama dia. Rupanya aku cuma dijadiin bahan percobaan. Park Jeong Hee, cowok yang menurutku sempurna, rupanya udah ada yang punya." Ucapku pelan sambil meremas surat itu. Mataku berkaca-kaca. Tapi, aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya meski hanya semalam. Terima kasih juga. Aku senang, meskipun hanya pinjam suami orang.
-Tamat-
Mohon maaf kalo ceritanya ngga jelas. Btw, terima kasih buat kalian yang sudah menyempatkan untuk mampir dan menekan tombol love ^^