"Maaf, kita sudahi hubungan kita ini." ucap seorang bernama Rayhan Wiguna.
"Kenapa, Ray? Apa aku ada salah sama kamu?" tanya seorang perempuan dihadapannya.
"Aku sudah mendapatkan yang sepadan dan selevel denganku." Perempuan itu hanya terkejut ketika mendengar penuturan Rayhan.
"Maksud kamu?" Perempuan bernama Raena Wijaya itu tidak mengerti.
"Aku malu memiliki kekasih, hanya seorang mahasiswa kutu buku, dan bekerja sebagai cleaning servis sepertimu. Aku ingin memiliki kekasih yang sepada denganku dan..." perkataan Rayhan langsung di potong oleh Raena
"Dan kau ingin tiduri sesuka hati begitu?" Rayhan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Aku sudah pernah bilang kepadamu, kita bisa melakukan itu kalau kita sudah sah menikah, Rayhan." Raena memberi pengertian kepada Rayhan.
"Maaf, Raena. Pemikiranku dan pemikiranmu sangat berbeda. Aku ingin bersenang-senang sebelum menikah. Aku ingin bebas seperti yang lain...," pernyataan itu membuat Raena hatinya terluka.
"Kau memang manusia tidak punya adab, Rayhan. Kalau itu maumu baiklah kita akhiri semuanya. Semoga kau bahagia dengan jalan hidupmu," ucap Raena menahan tangisnya.
"Baiklah Raena, terimakasih atas semua cinta yang kau berikan saat kita pacaran. Dan maafkan aku, kita akhiri semua." ucap Rayhan dan meniggalkan Raena sendirian.
***
Enam tahun berlalu, sejak Raena di tinggalkan Rayhan. Tidak ada kabar tentang pria itu, dan terakhir ketika wisuda kuliahnya perusahaan Ayah Rayhan bangkrut. Karena kecerobohan Ayah Rayhan sendiri yang percaya saja dengan investor penipu. Padahal pada waktu itu Ayah Raena mencoba membantu perusahaan itu. Namun di tolak mentah-mentah oleh Ayah Rayhan, dan menganggap perusahaan ayah Raena ada di bawahnya.
"Maaf, Bu Presedir. Saat mendapatkan laporan dari kantor cabang kalau ada salah satu manajer prilakunya sangat sombong." ucap sekretaris membuat Raena sedikit kaget.
"Berikan laporannya, Bayu." ucap Raena datar.
Sekretaris bernama Bayu, memberikan sebuah Map berisi laporan dari kantor cabang. Raena membacanya denga seksama, dan karena laporan itu kurang jelas Raena langsung menghubungi direktur kantor cabang.
Inilah Raena sekarang, menjadi Presedir atau CEO sekaligus pemilik perusahaan Desain Grafis ternama di seluruh Asia. Sebenarnya Raena ingin menolak perusahaan ini, namun Kakeknya yang langsung menyerah semua kepada cucu perempuan satu - satunya di keluarga besar itu. Karena semua cucunya sebagian besar laki-laki, dan Raena ada cucu perempuan satu - satunya juga paling bungsu. Sang Kakek menyerahkan semua perusahaanya itu kepada Raena. Karena semua cucu laki-lakinya, sudan memiliki perusahaan sendiri, dan tidak mau mengurusi perusahaan Kakeknya karena itu perusahaan di bidang Desain. Lalu semua cucu laki-lakinya termasuk kakak kandung Raena, menunjuk Raena mengurus itu semua.
Raena tidak sendiri mengurusi perusahaan itu. Ada 2 kembar sepupunya, yang mau membantu Raena. Raena pikir mereka mau membantunya di kantor pusat. Ternyata mereka membatunya di Kantor cabang. Karena jaraknya dekat dengan cafe yang mereka kelola.
"Halo, Mas Ardan. Aku ingin tanya soal manajer yang bermasalah itu. Kenapa kau tidak mencantumkan namanya?" tanya Raena menghubungi direktur kantor cabang.
"Itu yang buat laporan, si Ardi. Dia lupa mencantumkan namanya, dan kau datang sendiri untuk mengeceknya." ucap seseorang di seberang sana.
"Lho, Mas Ardan kan Direkturnya. Jadi, Mas Ardan bisa menanganinya." ucap Raena sedikit kesal.
"Kalau masalah ini, kau saja yang turun tangan. Aku dan Ardi sudah angkat tangan. Dia benar-benar gila, Raena." balas Ardan membuat Raena sedikit kesal.
Memang, sih. Untuk menangani masalah karyawan yang bermasalah. Raena harus langsung terlibat karena dia pemilik perusahaan. Sementara sepupunya itu, hanya memimpin dan memberikan perintah apa yang di Programkan oleh Raena.
"Ya, sudah. Besok aku ke sana setelah meeting direksi." ucap Raena lesu mengakhiri panggilannya.
"Hhh~, masalah apalagi ini...," ucapnya sambil menghela nafas.
Menjadi CEO di perusahaan, memiliki berbagai banyak perusahaan cabang tidak muda. Banyangkan dalam satu hari, Raena harus ke kantor cabang satu dengan yang lain. Belum lagi meeting bersama direksi dan meeting investor. Karena Perusahaan Raena pimpin adalah Investor terbesar, dan banyak perusahaan ingin bekerjasama dengannya. Terkadang weekend, mau tidak mau Raena harus keluar negeri untuk meeting dengan para petinggi perusahaan luar.
"Belum tua lama - lama rambutku bisa memutih." ucap Raena kesal.
***
Keesokan harinya, dengan mengendarai motor sport miliknya. Raena datang ke kantor cabang untuk menyelesaikan Manajer yang bermasalah.
Sesampainya di parkiran, Raena menitipkan motornya kepada satpam yang bertugas.
"Itu bukannya adik sepupunya Pak Ardan?" tanya salah satu satpam baru.
"Mbak itu tadi, itu Bos besarnya pak Ardan. Alias pemilik perusahaan ini, Yohan. Kau saja jarang pernah bertemu beliau. Sementara aku, sudah sering melihatnya keluar masuk kantor ini." jelas satpam senior.
Sementara itu, di lobby kantor langkah Raena terhenti ketika ada seseorang mencegahnya di lobby.
"Sudah lama tidak bertemu, semakin cantik saja kau." ucap seseorang Pria yang sangat ingin Raena hindari.
"Mau apa kau?" tanya Raena datar.
"Dari penampilanmu sepertinya kau ingin melamar kerja. Tapi sayang, posisi yang sedang kosong cleaning servis." jawabnya sambil mengejek Raena.
"Rayhan, jaga mulutmu itu. Siapa tahu mulutmu yang kurang sopan itu bisa menjadi boomerang buat dirimu." balas Raena dingin.
"Kau tahu siapa aku, kan? Aku ini manajer di kantor ini, dan siapa tahu kalau CEO-nya berbaik hati. Aku bisa kerja di kantor pusat menjadi wakil direktur. Mungkin..., " ucapnya dengan nada sombongnya.
"Jangan pernah bermimpi kau, Rayhan." ucap Raena tajam dan meninggalkan Rayhan.
"Hai, Raena. Aku tidak menyesal meninggalkan dirimu. Walaupun keluargaku sudah bangkrut, posisiku tetap di atas dirimu!" teriak Rayhan tapi Raena tidak menggubrisnya.
Sesampainya di ruangannya, Raena di sambut asistennya bernama Mihwan dan kedua sepupunya yang sudah menunggu Raena dari tadi.
"Aku mau tanya kepada Mas Ardan, apakah manajer yang bermasalah itu bernama Rayhan?" tanya Raena langsung dan duduk di kursi kebesarannya.
"Itu dia yang lupa aku cantumkan di laporanku kemarin, Rae." ucap Ardi.
"Ya, begitulah. Aku sudah memberikan SP kepadanya. Namun surat itu di robek olehnya di depanku. Katanya apa yang dia lakukan itu benar. " jelas Ardan.
"Dan ini beberapa laporan soal Rayhan, Presedir." tambah Mihwan memberikan berkas laporan soal Rayhan.
"Menampar OB, gara-gara tidak sengaja menyenggol minumannya. Memecat karyawan biasa karena masalah sepele. Menyiram seorang cleaning servis dengan kopi panas sampai menimbulkan luka. Karena cleaning servis tidak sengaja tongkat kain pel mengenai perutnya. Merobek hasil karya staf lain karena di nilai kurang bermutu." baca Raena sambil membelalakkan matanya.
"Siapa yang merekrut orang gila ini?" tanya Raena sambil menutup laporannya.
"Staf Personalia yang lama sebelum pensiun. Sejak aku dan Mas Ardan juga Mihwan di sini. Rayhan sudah ada di kantor ini. Awalnya dia baik - baik saja di depanku. Namun semakin lama, dia semakin menjadi setelah di angkat menjadi manajer baru." jelas Ardi.
Raena memejamkan matanya dan menghela nafasnya mendengar penjelasan saudaranya itu.
"Pasti direktur lama yang mengangkat dia sebagai manajer sebelum pensiun." ucap Raena sedikit kesal dengan direktur lama yang sudah dia kasih surat pensiun beberapa waktu lalu karena usianya sudah sepuh.
"Maklumlah, Rae. Kakek - kakek sudah tua dan matanya sudah tidak jeli menilai orang." balas Ardi.
"Tapi, untuk masalah pekerjaan, dia sangat baik dan sangat berkompeten. Banyak pihak direksi cabang, menyuruhnya dia bekerja di kantor pusat." jelas Mihwan kepada Raena.
"Dan itu membuat aku bingung ingin memecatnya, Raena." ujar Ardan.
"Seharusnya bila dia seperti ini, di bekukan dari pekerjaannya yang sekarang atau di turunkan jabatannya, Mas Ardan." jawab Raena kepada Ardan.
"Kalau itu urusanmu, Rae. Karena aku sudah angkat tangan mengurusi manajer gila jabatan itu." ucap Ardan frustasi.
"Oke, baiklah kalau begitu. Mihwan, tolong panggilkan dia ke sini." pinta Raena kepada Mihwan.
"Baik, Presedir." balasnya melaksanakan perintah.
***
Beberapa saat kemudian, Mihwan melaksanakan perintah Raena untuk memanggil Rayhan. Saat di panggil pun, Rayhan dengan angkuhnya bicara tidak sopan kepada Mihwan.
"Silahkan duduk, Rayhan." Mihwan mempersilahkan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kursi pemimpin.
Sementara Raena membelakangi Rayhan, dan akan memberikan kejutan kepada pria itu.
"Rayhan, bekerja sebagai Manajer di kantor cabang perusahaan ini." Rayhan sempat terkejut mendengar suara yang pernah dia kenal. Namun suara itu dingin dan tegas.
"Kerjamu bagus, dan sangat berkompeten sampai para direksi merekomendasikan dirimu ke kantor pusat." ucap Raena dingin.
"Namun sayang..., " Raena membalikkan kursinya, dan membuat Rayhan terkejut.
"Perilakumu sangat membuatku ragu untuk menerimamu di kantor pusat." lanjut Raena tegas dengan tatapan tajam.
"Raena, apa - apaan ini? Kenapa kau duduk di bangku CEO?" tanya Rayhan dengan penuh terkejutan.
"Aku duduk di sini, karena aku CEO perusahaan ini sekaligus pemilik perusahaan kau bekerja. Otomatis aku adalah Bos besarmu." jawab Raena tegas.
"Kau ingin balas dendam denganku karena aku meninggalkanmu dulu?" tanya Rayhan mengalihkan topik.
"Jangan mengalihkan topik, Rayhan. Ini masalah pekerjaan, bukan masalah pribadi." Raena menggebrak mejanya karena emosi.
Suasana di ruangan itu, semakin tegang ketika Raena sudah menggebrak mejanya.
"Singa di lawan, Rayhan." gumam Ardan pelan.
"Perilakumu yang semena - mena itu, seharusnya tidak ada di perusahaan ini. Namun aku masih berbaik hati tidak memecatmu." lanjut Raena penuh intimidasi.
Rayhan terdiam, tidak berkutik melihat wajah menyeramkan Raena di hadapannya.
"Mulai besok, kau menjadi staf biasa di bawah pimpinan Tim Editor. Posisimu saat ini, aku bekukan dan aku gantikan dengan orang yang lebih baik dari dirimu." putus Raena dan membuat Rayhan tidak terima.
"Tidak bisa begitu, Rae. Pendidikanku terlalu tinggi untuk menjadi staf biasa. Apalagi masuk di Tim Editor," protes Rayhan.
"Kau pilih mana? Menjadi staf di bawah pimpinan Tim Editor atau bekerja di kantor pusat menjadi cleaning servis?" Raena memberikan pilihan sama-sama tidak enak untuk seorang Rayhan.
"Sudahlah Rayhan, terima saja keputusan CEO. Masih untung kau tidak di pecat." ujar Ardi.
"Kau memang dendam kepadaku, Raena? Kau sengaja menurunkan jabatanku karena aku pernah meninggalkan dirimu, kan?" Rayhan berusaha membujuk kepada Raena.
"Dendam atau tidaknya. Kau itu sudah masa laluku, Ray. Sekarang aku di sini sebagai CEO perusahaan ini. Bukan sebagai mantanmu yang pernah kau tinggalkan dulu. Ingat, posisimu sekarang ini siapa, dan aku siapa. Semua keputusanku tidak bisa di ganggu gugat. Karena itu kewenangan diriku sebagai CEO perusahaan ini." jelas Raena panjang lebar kepada Rayhan.
Rayhan tidak mampu berkata banyak lagi. Karena Raena di hadapannya bukanlah Raena yang dulu. Perempuan yang dia tinggalkan karena prinsip hidupnya. Kini semua berbanding terbalik terhadapnya. Dia dulu bisa hidup bebas, bisa melakukan semaunya. Kini dia hidup dengan penuh penekanan. Raena yang dulu yang dia pandanh selalu di bawahnya. Namun ternyata sekarang, Raena ada di atasnya bahkan tingkatnya lebih tinggi dari pada dia dulu.
- Tamat -
jangan lupa komentar, like, kalau bis di share di medsos.
makasih....