Tema: Setelah ditinggalkan pacarku, aku menjadi bosnya.
-oOo-
Setelah ditinggalkan pacarku, aku menjadi bosnya. Oke, agak berlebihan saat aku mengatakan ‘pacarku’, karena lebih tepatnya, hanya sekedar cinta monyet. Aku menyukai Kevin sejak masih SMA. Tapi, dia tidak. Maksudku, aku yang hanya menganggapnya seperti itu. Nyatanya, dia malah menolak pengakuanku dan justru menjadi awal sari sumber rasa sakitku selama bertahun-tahun.
“Kamu... menyukaiku? Apa kau sadar? Kawan-kawan... kalian dengar yang gadis gendut ini katakan? Dia... menyukaiku. Dan, mengatakan jika kita sudah berpakaian sejak setahun yang lalu. Dia menulis ini, di buku diary!” ujar Kevin dengan nada penuh penghinaan.
-oOo-
“Kamu... adalah fotografer yang baru?” tanyaku dengan nada tak percaya.
Setelah enam tahun berlalu, setelah penghinaan akan ‘pacar’ bertepuk sebelah tanganku, kami dipertemukan kembali. Dia adalah seorang fotografer yang dipilih oleh HRDku minggu lalu. Ya, aku adalah CEO sekaligus perancang busana dari butik ternama buatanku, Femme Fatale.
Aku tertawa kecil mendapati takdir yang begitu lucu seperti ini. Dari sekian banyak orang dengan profesi fotografer, harus dia yang terpilih bekerja di butikku.
“Kamu... nona Yuri?”
“Aku memakai nama Jepang dari nenekku. Kamazaki Yuri. Dan, aku masih memakai nama itu. Aku.. menghapus nama Arneta dalam hidupku. Sejak seseorang, menghinaku.” Ujarku dengan penekanan nada penuh sakartis pada kalimat terakhirku dibarengi napas berat yang terhembus. Aku yakin, tatapanku sudah setahun ultramen ke arah laki-laki yang belum sepenuhnya berubah. Tampan tapi menyakitkan. Sial. Dia memang masih tampan. Terlebih dia kini memakai kacamata yang membingkai wajahnya semakin mempesona.
“Aku... aku tidak tahu harus berkata apapun.”
“No Mercy. Tapi aku tidak mengharapkan apapun darimu.”
Kevin menggedik bahu sekilas, “Setidaknya kamu dan aku. Kita. Bisa bekerja seprofesional mungkin. Aku fotografer yang handal terlepas dari dendam kita di masalalu.”
“Dendamku. Aku yang menyimpan dendam itu. Bukan kamu.” Aku menyandarkan punggung di kursi tingginya dan menatap berkas biografi dan hasil jepretan Kevin yang sekilas memang bagus. Sangat. Dia memang sudah berbakat fotografi sejak SMA dan sering memenangkan banyak lomba. Aku membencinya, tapi sulit menampik bakatnya.
Aku mendesah panjang, mengetuk berkas milik Kevin dan menelan saliva sekuat tenaga sebelum mengucapkan sebuah kalimat, “Kita lihat seprofesional apa kamu. Dan... aku mengajukan satu syarat.” Aku menatap lekat ke dalam manik mata Kevin yang menyembunyikan senyum lega, “Let’s not fall in love.”
Kevin meraih kamera yang tergeletak di atas meja sejak tadi sambil tersenyum kecil. Dia mengangguk mantap lalu mengisyaratkan ‘permisi’ sebelum melangkah pergi meninggalkan meja kerjaku. Dia terhenti saat hendak membuka pintu lalu melempar sebuah senyum ke arahku, “Kamu yakin dengan aturan terakhirmu?”tanyanya sambil mengedipkan mata seraya meninggalkan ruanganku tanpa menunggu jawaban dariku.
Tunggu. Dia seolah sedang menantang, ya? Sial. Kedipan matanya sungguh membuat dadaku berdebar tidak biasa. Apa aku sungguh bisa menghindari pesonanya?
Let’s not fall in love, p*nt*tku!
-FIN-
Selamat membaca. Jangan lupa berikan like dan komentar kalian. Dan, jangan sungkan untuk mampir ke novel-novelku, ya?
Regards Me
Far Choinice ^^