"Setelah ditinggalkan pacarku, aku menjadi bosnya.."
Langit begitu temaram dan hatiku pun begitu. Ikatan benang merah yang sudah kita rajut harus berakhir seperti ini. Air mataku terus mengalir deras tanpa ada jeda. Aku yang berharap kau kembali harus tertampar realita. Kau memilih orang yang lebih dari diriku. Aku sudah berusaha sebaik mungkin menjadi apa yang kau suka, penampilan, sikap, bahkan ucapan. Aku selalu saja menuruti kemauanmu agar rajutan ini tak putus, tak ku sangka usahaku selama ini sia-sia.
"Kenapa dit? Apa salahku? Kenapa kau begini?" ucapku dengan penuh kesedihan.
"Sudahlah, kau tak bisa menjadi apa yang kuharapkan, teman-temanku memiliki pasangan yang cantik, cerdas, dan sopan. Tidak seperti dirimu yang serampangan."
Hatiku begitu tercabik mendengar ucapannya yang keluar tanpa ragu. Kakiku melemas, aku jatuh terduduk di tanah. Dan dia pun dengan teganya pergi meninggalkan aku.
"Bukan, bukan, bukan begini seharusnya." Akhirnya tangisku pecah menjadi tangis yang sebenarnya. Persetan dengan orang sekitar yang melihatku dengan tatapan iba. Hatiku benar benar remuk. Usahaku menjadi pacar yang baik hanya dinilai remeh oleh dirinya.
Tanpa kusangka, ada seseorang yang memelukku. Pelukannya begitu hangat, pelukannya begitu menenangkan.
"Dia hanya menjadikan dirimu boneka, kau hanya jadi budaknya. Sudahlah, lupakan saja manusia tak berperasaan seperti dirinya. Seberapa keras kau berusaha, tidak akan pernah memuaskannya." ucapnya sambil terus menepuk punggungku pelan.
Hujan pun turun, entah mengapa ucapannya tadi didukung oleh Tuhan. Air hujan yang dingin seperti menyadarkanku dari apa yang selama ini aku lakukan. Seketika itu ingatan tentang hal-hal yang kulakukan selama berpacaran dengannya berputar cepat, dan saat itu juga aku menyadari betapa bodohnya aku yang menuruti permintaannya yang tak ada habisnya.
Perempuan yang memeluk tubuhku pun membawaku ke suatu tempat untuk berteduh. Aku melihat perempuan itu dengan lebih jelas, ternyata dia memakai cadar yang menutup seluruh tubuhnya kecuali matanya yang terlihat indah.
Dia begitu baik, membelikanku minuman hangat dan mendengarkan ceritaku. Dia hanya diam saja mendengarkanku bercerita hingga selesai. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang, tapi yang pasti dari sorot matanya terlihat jelas dia juga merasakan kesedihanku.
"Apa saat itu kamu merasa dengan menuruti keinginannya, kamu bisa bahagia dengan dirinya?" tanyanya lembut.
Aku hanya bisa mengangguk, dulu kupikir dengan begitu dia akan selamanya bersamaku. Dan tak akan merasa kecewa dengan diriku. Meskipun aku merasa berat dan tak bahagia menjadi sosok yang dia inginkan, tetapi aku merasa dengan begitu aku menjadi pantas di sampingnya.
"Jujur, kamu tidak menjadi dirimu sendiri saat itu."
Aku mengerutkan dahiku, setelah ku ingat ternyata aku banyak berubah sebelum dan setelah bersamanya. Aku kira itu perubahan yang lebih baik, tak kusangka aku malah menjadi orang lain.
"Sekarang kamu sudah bebas. Kamu sudah lepas dari genggamannya. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu bukan salahmu, itu salah dirinya yang tak bersyukur dan tak mau melihatmu apa adanya. Dia menjadi bos dari dirimu dulu dan selalu mengaturmu. Sekarang dia sudah pergi dan kamu bisa menjadi bos untuk dirimu sendiri. Lakukanlah hal yang kamu suka, jadilah dirimu sendiri." ucapnya dengan sorot mata yang begitu teduh.
Mendengar ucapannya aku mulai berkaca-kaca. Ternyata aku sudah tidak menjadi diriku sendiri. Aku terlalu takut hubungan kami menjauh, hingga tanpa ku sadari aku malah menjauhkan diri dari kehidupan yang kuinginkan.
Mata perempuan itu menyipit, sepertinya dia sedang tersenyum tulus. Dia memelukku lagi, dalam pelukan itu aku mengucapkan kata terima kasih dengan lirih, entah dia mendengarnya atau tidak, yang pasti aku sangat berterima kasih atas ucapannya yang begitu menyadarkanku.
Kini perempuan itu sudah pergi, aku pun pulang dengan keadaan yang lebih baik. Di dalam taksi aku melihat keluar jendela, langit sekarang sudah cerah, bahkan pelangi ikut mewarnainya. Aku tersenyum, sepertinya langit juga berharap aku bisa kembali seperti sedia kala. Menjadi diri sendiri dan menjadi bos bagi tubuhku sendiri.