Hanya ada sekumpulan sapi dan lapangan luas, aku mengedarkan pandanganku. Lalu adegan ganti pada sekumpulan emak yang lagi ketawa kesenengan, menghias tangannya menggunakan hena.
Mereka narik tangan ku ikut dihiasinya. Lalu adegan pindah jadi Babeh yang duduk didepanku, tersenyum senang. Babeh mengenggam tangan seseorang dan teriakkan SAH memenuhi ruangan masjid. Lalu Babeh loncat kegirangan.
Aku melihat sepupuku, si Jupri, menari dan loncat-loncat macem si lontong kesenangan sambil ngomong Sah pakai toa dengan senyuman sumringah.
Aku nengok, kesisi kanan, ada muadzin muda, si Sanip, rapi pakai peci, kokoh dan sarung megang mik mesjid mengucap "Sah sah sah..." disebelahnya ada si Rojak yang perutnya agak buncit, mengendong toa masjid ikut bergoyang. Dengan team hadroh kampung Dukuh.
Aku menengok lebih kesamping ada orgen tunggal dengan biduannya Mpok Lela, berpakaian penuh bling bling yang menjuntai. Berdandan menor. Mereka bernyanyi lagu "Sah... sah... sah..." terus mengeolkan pinggangnya.
Adegan berpindah, aku bersalaman dengan banyak orang, dan Gendis dan Menik, sahabatku, datang kearahku. Mereka menarik tanganku lalu meberiku kotak berwarna hitam bertuliskan 'Tissue Super Magic Man'
Gendis dan Menik berbisik "Maklum udah tuir" sambil melirik kesamping kananku.
Aku dibuat syok dengan penampakan Engkong-engkong, kulit keriput, pipi kempot dengan gigi depan ompong, melihatku dengan tampang genit juga cengiran lebarnya.
"TIDAAAAAAKKKK..." teriakku.
Aku terduduk di ranjangku. Dengan nafas yang memburu. Kuusap mukaku. Panik.
Gile. What a nightmare!
"Haya lu malah belon dandan, pegimane" Babeh Sadelih, dengan tangan dipinggang. Matanya melotot padaku.
"Itu Pak Gibran mau soan kemari, lha ini mandi lu belon kan" si Babeh menarik tanganku.
"Gibran sape beh?" Tanyaku mengusap mataku yang masih ngantuk.
"Sape lagi, ya calon laki lu" Aku mematung ini mimpi belom kelar apa gimana?
"Beh, Babeh mau jodohin Haya" Tanyaku tak terima.
"Beh?" Teriakku melihat Babeh hanya ngeloyor keluar dari kamarku tanpa penjelasan detail.
"Pak Gibran?" Kenapa Babeh nyebutnya Pak?! Jangan-jangan udah aki-aki.
AAAAAAARGH!!!
Babeh kebangetan! Batinku. Dengan rambut acak-acakan aku melompat dari jendela kamarku.
BRUK!
"WADOH!" teriak Jupri. Aku menindihnya.
"Heh! Haya mau kabur lu" Melihat Somad, sepupuku yang lain menghadangku. Saat aku hendak kabur. Aku menyengir.
"Gile badan lu berat bener! Diet lu mau kawin! Sakit pinggang gue" omel Jupri.
"Minggir lu" sewotku
"Beeehhh, Haya mau Kabur Behhh" teriak Jupri. "Heh Haya, Mau kabur kemane lu" Babeh Sadelih tergopoh mendekat padaku.
"Jupri, Somad tahan die, bawa masuk"
"Beeehhh Haya gak mau di jodohin sama engkong engkong beeehh" Rengekku
"Babeeehhhhh..."
"Haya anak kesayangaaaannn babeh ini" Jupri dan Somad memutar matanya malas mendengar rengeanku. Bodo amat!
"Lu tega lu bedua lu" aku terus meronta.
"Lepasin gue! Sepupu ape lu bedua" dramaku, mereka menyeretku. Aku melihat ada mobil hitam berhenti di luar pagar. Seorang turun dari mobil itu. Berjalan mendekat.
"Assalamualaikum, Sadeli, mantu dateng enih!" Suara teriakan dari depan.
Si engkong dalem mimpiku... Enggakk! Tolong enih mimpi...Plis... plis... Haya bangun! Bangun right now!... lo ini lagi tidur!!! Pliiiissss, rapalku dalam hati.
Kucubit kecil lengan Jupri.
"Madirodok! Nak cetan!!!"
Maki Jupri melengking, melepaskan tautan tangannya padaku. kesakitan. Berarti ini bukan mimpi.
"BABEEEEHH TEGAAAAAA" teriakku histeris sebelum semua menjadi gelap.
*****