Rania menatap undangan reuni sekolah. Sudah tujuh tahun lalu dia lulus dari high school Xaverius. Sebenarnya dia enggan untuk datang, namun Desy menginginkan harus datang kali ini. Ingatan di masa sekolah tak dilupakan.
Go .. Go.... Go .... Rania berteriak lantang dalam hati memberikan semangat pada dirinya sendiri berlari menghindari kejaran anak-anak perempuan di sekolah. Entah sudah berapa kali dia diserang gerombolan itu. Apa salahku ? Batinnya pusing kepalanya jika memikirkan apa yang terjadi. Sudah semester akhir sebentar lagi dia akan lulus dari high school Xaverius. Bukan pergi dengan ketenangan malah sebaliknya dia sekarang menjadi pusat pembullyan gadis-gadis tidak dikenalnya. Perasaan dia ini lebih mirip gadis kasat mata. Secara dia malas bersosialisasi juga tak ada waktu. Karena dia kerja part time di Cafe sepulang sekolah. Karena ibunya hanya seorang janda.
Semua berawal dari kebersamaannya dengan Marco Simoncelli yang tak disengaja. Menolong dirinya yang terluka di jalanan ditas gadis itu ada p3k juga alat-alat jahit untuk keadaan darurat. Kemudian mereka berdua bertemu lagi di belakang gedung sekolah yang kosong. Di sana ada bangku yang disusun, Rania sering membaca buku di sana dengan bekalnya. Bahkan Marco tanpa malu ikut makan makanannya.
Hari ini terlambat bangun karena kelelahan tugasnya kemaren dan ekskulnya juga tugas sekolah yang terlewati karena lupa, dan sialnya ia juga melupakan ban sepedanya yang kempes. Hingga akhirnya ada sepeda motor berhenti di depannya. " Naiklah !" Perintahnya. Marco Simoncelli, gumamnya lirih dengan menghentikan langkahnya. Dia melihat jam tangan kurang 10 menit waktu masuk. Dengan sigab dia naik di belakangnya dengan mencengkeram pinggangnya. Motornya melaju ke jalanan dengan kencangnya bahkan hingga masuk parkiran high school Xaverius. "Makasih." Ucap Rania. Marco hanyalah tersenyum.
"Sudah dapat ?" seru salah satu sekelompok remaja mendekati Marco Simoncelli, namun cowok itu hanya menatap ke punggungnya Rania.
Di kelasnya Rania mendapatkan perlakuan berbeda. Ada kasak kusuk dari teman-temannya dan memandangi dia.
"Kamu bareng Marco Rania ?" Tanya Desy
"Iya. Terpaksa." Jawabnya asal.
"Mulai kapan ?" Tanyanya lagi.
"Barusan." Jawab Rania sambil mengecek isi tasnya. Rania tidak memperhatikan ekspresi orang sekitarnya dan hanya sibuk dengan kegiatan dia. Tak lama guru datang bertepatan bel mulai pelajaran.
Semenjak itu menjadi hari buruk bagi Rania. Dia mendapatkan surat ancaman berulangkali di lokernya. Ada telur busuk di seragam olahraga nya. Sehingga dia harus ijin absen pelajaran. Buku-buku berakhir di tempat sampah. Dia bingung jadinya. Saat ini di kantin dia berjalan sendirian karena Desy tidak ada, begitu bel istirahat gadis itu langsung pergi begitu saja. Ada keanehan banyak pasang mata mencuri perhatian melihatnya. Atau hanya sekedar perasaannya saja pikirnya.
Plaak. Telur busuk mendarat di bajunya. Disusul yang lainnya. Dia terdiam sejenak melihat sekeliling. Linglung. Belum pernah dia mendapatkan serangan seperti ini. Ada apa ?
Sebuah jaket menutupi tubuhnya dan menarik tubuhnya pergi dari sana.
Di pintu toilet wanita orang itu mengulurkan baju olahraga dan tas kecil berisi perlengkapan mandi kepadanya. " Ambillah aku berjaga disini." Marco Simoncelli. " Dan maaf." Katanya. Rania menatapnya mata birunya tak berkedip.
Gadis itu menuruti perintah Marco. Tak lama Rania muncul di hadapan Marco dan mereka hanya terdiam berjalan menyusuri koridor kelas. Itulah terakhir mereka bertemu. Sejak itu dia sudah tidak di bully lagi. Dan cita-cita lulus aman terkabulkan.
Walaupun itu hanya beberapa Minggu sebelum ujian sekolah bagi Rania itu mimpi buruk yang selalu diingat sepanjang malam.