"Jika dalam sekejap aku punya uang 200 Miliar ..." gumam Richard sambil menyandarkan tubuh lelahnya dibawah pohon kersen, usai menjaja dagangannya.
Lelaki lusuh yang sebenarnya sangat tampan itu tertekan atas omongan mertua juga iparnya yang selalu menyudutkan kemiskinannya.
"Dasar, menantu tidak berguna!" kalimat singkat, sarat hinaan ibu mertuanya selalu terngiang di telinga Richard.
Hidup di ibukota bermodalkan ijazah sarjana hukum ternyata tidak mampu mengubah nasib dan membawanya pada kehidupan yang berkecukupan.
Mungkin ini salahnya telah jatuh cinta pada Aluna, perempuan teman sekelas waktu kuliah dulu yang adalah anak konglomerat. Tapi Richard bahagia memiliki pendamping hidup setegar Aluna.
Istri cantiknya itu tidak pernah membuatnya berkecil hati apalagi menuntut ini dan itu, berapa pun uang yang dibawa pulang oleh Richard setiap hari, selalu diterima dengan senyum. Aluna pintar mengelola uang, sehingga selalu ada makanan di rumah dan selalu bisa menyisihkan uang untuk bayar kontrakan dan keperluan rumah tangga lainnya. Itulah yang menjadi semangat Richard bekerja keras dan mengabaikan gengsi.
Aluna juga tidak peduli cemoohan keluarganya dan memilih tetap bersama Richard meski berulang kali keluarganya memisahkan mereka. "Aku mencintaimu apa adanya, Richard. Aku bahagia hidup denganmu," kata Aluna membesarkan hati Richard.
Selalu direndahkan oleh ibu mertua dan kakak iparnya, sebenarnya Richard juga ingin suatu saat nanti membelikan mobil mewah, rumah gedung, perhiasan dan baju-baju yang bagus untuk Aluna. Tapi mau gimana lagi? Nasib Richard tidak sesuai namanya yang mengandung kata 'Rich'.
Sudah banyak cara dicoba Richard demi meningkatkan taraf ekonomi keluarga kecilnya. Melamar kerja kemana-mana, ikut pelatihan pengembangan diri, mengamalkan doa untuk mendapatkan kekayaan, mendengarkan musik terapi pemanggil rezeki, menggunakan amulet yang sudah didoakan biksu, jual beli saham dan koin Crypto, sampai slot judi online pernah dijajal Richard disamping bertekun dengan profesinya saat ini; tukang sayur keliling komplek.
"Duh Gusti, sementara orang lain bisa kaya mendadak hanya karena menjual muntahan paus atau menggali tanah lalu mendapat peti harta karun di sawah, mendapatkan sebuah koper tak bertuan yangbisinya uang semua atau saldo rekening yang tiba-tiba membengkak drastis ... kapan giliranku dapat rezeki nomplok?" gumam Richard sambil berkipas.
"Jika dalam sekejap aku mendapat uang 200 Miliar maka aku langsung naik derajat, disegani oleh mertua dan ipar-iparku. Aku akan membeli apapun yang diinginkan istri dan anakku, beli berkilo-kilo emas untuk investasi, beli yacht dan jet pribadi untuk liburan mewah keliling dunia, beli mall beserta isinya, membiayai panti asuhan, membagikan uang pada fakir miskin jalanan, membuat mesjid, berangkat haji dengan ibu dan bapak dan ... tentu saja aku akan membeli perusahaan pinjol yang acap kali menerorku jika telat bayar, biar mereka tahu rasa. Wah, mata mertuaku pasti melotot jika melihat Lamborgini terparkir manis di halaman rumah mewahku," gumam Richard yang mulai mengantuk.
"Tapi ... tidak ada yang salah jika aku tetap menjadi penjual sayur keliling, aku tetap bersyukur atas keadaanku saat ini ya Allah. Aku yakin roda kehidupan terus berputar dan aku percaya kesusahan ini akan lewat selama aku giat berusaha. Amin," kata Richard sebelum terlelap.
Tiba-tiba ... Pruuuttt.
Richard terbangun dari tidur singkatnya saat benda cair hangat menimpa lengannya. Cairan bergumpal itu berasal dari saluran pembuangan burung kecil yang sedari tadi betengger di salah satu ranting pohon kersen.
"Hei, burung kecil kenapa kamu menggangguku yang sedang berangan-angan?" Dasar hewan gak ada akhlak!" Hardik Richard pada mahkluk kecil berbulu hitam keemasan yang tanpa merasa bersalah, terbang menjauhinya.
.
.
-TAMAT-