Andai aku bisa tembus pandang, mungkin saja aku tidak akan mengalami nasib buruk seperti ini. Sudah di tinggal orang tua yang bercerai, belum lagi kekasih ku sendiri yang tega berkhianat dengan kakak kandung ku... kenapa nasib sialll tidak mau pergi jauh dari ku.
Jeger...
Suara petir membuyarkan Naya dari semua lamunannya.
"Kenapa tiba-tiba ada petir ya? Tidak ada hujan atau pun angin, cuaca pun sangat terik." gumam Naya yang memilih masuk ke dalam rumah kontrakannya.
Naya sangat mencintai kekasihnya namun rasa sayangnya terhadap kakanya lebih besar sehingga Naya lebih memilih mengalah dalam hal cinta dan hidup mandiri.
Saat Naya menatap langit, ia dapat melihat seseorang yang ia bayangkan dalam pikirannya.
"Apa ini kelebihan ku? Kenapa di saat aku memikirkan kaka dengan menatap langit, aku seperti di perlihatkan layar besar yang menampilkan sosok kaka, kaka ku sedang bahagia bersama dengan mantan kekasih ku..." bulir bening pun mengalir dari sudut mata Naya.
Sedalam apa pun kaka menyakiti hati ku, kay tetap lah saudara ku... aku merindukan mu.