Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di sekolah baru, aku memutuskan untuk pindah sekolah, aku membayangkan sekolah yang baru ini akan lebih menyenangkan dari sekolah lama ku dulu dan aku berharap jauh dari keapesan.
Aku menatap aneh pada semua siswa dan siswi yang aku temui, mereka seperti menatap ku ini adalah buruannya, sangat menyeramkan.
"Ini dia kelas baru ku." ucap ku saat berdiri di depan pintu yang tertutup bertuliskan kelas 3 IPA, ada rasa aneh kenapa pintu kelas sudah tertutup, padahal belum waktunya masuk jam pelajaran.
Kreeek.
Pintu kelas di buka oleh siswi cantik dengan rambut panjang yang tergerai indah.
"Apa mungkin aku salah masuk kelas?" gumam ku.
"Tembak tembak tembak." suara riuh dan tepuk tangan menggema dalam ruang kelas.
Ada apa lagi ini? Murid di sekolah ini tampak aneh, sepertinya aku salah dalam memilih sekolah. Gumam ku.
Siswi itu mengangkat tangan kanannya ke atas, semuanya seketika diam tanpa suara, ruang pun terasa sunyi.
Aku melewati gadis itu untuk duduk di bangku yang kosong.
Grep.
Gadis itu menahan pergerakan ku dengan menggenggam erat pergelangan tangan ku.
"Are you ok?" tanya ku menatap aneh siswi itu.
"Apa kau mau menjadi kekasih ku?" tanya siswi itu langsung pada intinya.
"Gila ini anak, belum kenal udah maen tembak aja." aku menatap tajam matanya.
Siswi itu mengedipkan matanya seolah memberi kode pada ku dan ia pun mendekatkan wajahnya di telingaku dan berbisik, "Untuk kali ini, menurut lah pada ku, maka aku akan menurut pada mu walau hanya sehari... ini demi nama baik mu."
Aku memundurkan badan ku, "Aneh."
"Wuuuuuuh.. payah, kalo kalah ngaku aja." ujar siswi yang duduk di barisan paling depan.
"Sepertinya aku mengerti." Dan saat itu juga aku menganggukkan kepala ku.
Tanpa bicara, siswi yang tadi berdiri di depan ku langsung memeluk tubuh ku sambil berkata, "Terima kasih karena sudah mau menerima ku, aku tau ini gila, aku Mimi.
"Kau hutang penjelasan pada ku." ujar ku yang mengendurkan pelukan Mimi.
Mimi pun menjelaskan apa yang terjadi di sela-sela pelajaran dan aku mengerti ia mendapat tekanan dari teman sekelasnya yang tidak suka padanya, dari saat itu aku dan Mimi tetap bersama dan serius dalam hubungan, tidak butuh waktu lama untuk aku bisa menerima mu dalam hati ku. Mimi yang aku pikir hanya gadis aneh yang tidak lain adalah primadona di sekolah baru ku kini menjadi pemilik hati ku.